Cilember PKLH

Isu-isu Kritis dalam Pendidikan

Kuwait AirwaysAda 4 pilar  yang menjadi standar pendidikan yang  ideal diantaranya:

1. Kebijakan

2. Pendidikan

3. ICT

4. Inovasi

PKLH

5 karakteristik untuk mendefinisikan sustainable dan 4 hal yang membawahi sustainable.

Pembangunan berkelanjutan atau sustainable adalah proses pembangunan (lahan, kota, bisnis, masyarakat, dsb) yang merupakan suatu proses pembangunan yang secara berkelanjutan mengoptimalkan manfaat dari sumber alam dan sumberdaya dengan cara menyerasikan aktivitas manusia sesuai dengan kemampuan  sumber alam yang tersedia. Sumberdaya alam yang tersedia ada yang bisa diperbaharui (renewablity) dan ada yang tidak dapat diperbaharui (stock resource), yang secara implicit pengertian diatas mengandung makna beberapa aspek yaitu: proses pembangunan berlangsung secara berlanjut dan didukung oleh sumber alam dengan kualitaas lingkungan dan manusia semakin berkembang, sumber alam terutama udara, air dan tanah, memiliki ambang batas dimana pemanfaatan yang berlebihan akan menyebabkan berkurangnya kuantitas dan kualitas sumber daya alam sehingga mengurangi  kemampuannya mendukung kehidupan umat manusia. Makna berikutnya adalah kualitas lingkungan berkolerasi langsung dengan kualitas hidup, sehingga semakin baik mutu kualitas lingkungan semakin positif pengaruhnya pada kualitas hidup, yang antara lain tercermin pada meningkatnya usia harapan hidup, turunnya tingkat kematian, dan lain-lain.. makna yang terakhir adalah pembangunan berkelanjutan memungkinkan generasi sekarang meningkatkan kesejahteraannya tanpa mengurangi kemungkinan lagi generasi masa depan juga dapat meningkat kesejahteraannya.

Pembangunan berkelanjutan yang berprinsip “memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan” (menurut Brundtland Report dari PBB, 1987. Pembangunan berkelanjutan adalah terjemahan dari Bahasa Inggris, sustainable development. Salah satu faktor yang harus dihadapi untuk mencapai pembangunan berkelanjutan adalah bagaimana memperbaiki kehancuran lingkungan tanpa mengorbankan kebutuhan pembangunan ekonomi dan keadilan sosial.

“Pembangunan yang memenuhi kebutuhan sekarang tanpa mengkompromikan kemampuan generasi mendatang untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri.”

Banyak laporan PBB, yang terakhir adalah laporan dari KTT Dunia 2005, yang menjabarkan pembangunan berkelanjutan sebagai terdiri dari tiga tiang utama (ekonomi, sosial, dan lingkungan) yang saling bergantung dan memperkuat.

Untuk sebagian orang, pembangunan berkelanjutan berkaitan erat dengan pertumbuhan ekonomi dan bagaimana mencari jalan untuk memajukan ekonomi dalam jangka panjang, tanpa menghabiskan modal alam. Namun untuk sebagian orang lain, konsep “pertumbuhan ekonomi” itu sendiri bermasalah, karena sumber daya bumi itu sendiri terbatas.

Skema pembangunan berkelanjutan: pada titik temu tiga pilar tersebut, Deklarasi Universal Keberagaman Budaya (UNESCO, 2001) lebih jauh menggali konsep pembangunan berkelanjutan dengan menyebutkan bahwa “keragaman budaya penting bagi manusia sebagaimana pentingnya keragaman hayati bagi alam”. Dengan demikian “pembangunan tidak hanya dipahami sebagai pembangunan ekonomi, namun juga sebagai alat untuk mencapai kepuasan intelektual, emosional, moral, dan spiritual”. dalam pandangan ini, keragaman budaya merupakan kebijakan keempat dari lingkup kebijakan pembangunan berkelanjutan.

Pembangunan berkelanjutan tidak saja berkonsentrasi pada isu-isu lingkungan. Lebih luas dari itu, pembangunan berkelanjutan mencakup tiga lingkup kebijakan: pembangunan ekonomi, pembangunan sosial dan perlindungan lingkungan (selanjutnya disebut 3 Pilar Pembangunan berkelanjutan).

Indikator / Kriteria Pembangunan Berkelanjutan

Berdasarkan konsep pembangunan berkelanjutan tersebut, maka indikator pembangunan berkelanjutan tidak akan terlepas dari aspek-aspek tersebut diatas, yaitu aspek ekonomi, ekologi/lingkungan, sosial, politik, dan budaya. Sejalan dengan pemikiran tersebut, Djajadiningrat (2005) dalam buku Suistanable Future: Menggagas Warisan peradaban bagi Anak Cucu, Seputar Pemikiran Surna Tjahja Djajadiningrat, menyatakan bahwa dalam pembangunan yang berkelanjutan terdapat 5 aspek keberlanjutan yang perlu diperhatikan, yaitu:

1. Keberlanjutan Ekologis

2. Keberlanjutan di Bidang Ekonomi

3. Keberlanjutan Sosial dan Budaya

4. Keberlanjutan Politik

5. Keberlanjutan Pertahanan Keamanan

Soemarwoto dalam Sutisna (2006), mengajukan enam tolok ukur pembangunan berkelanjutan secara sederhana yang dapat digunakan baik untuk pemerintah pusat maupun di daerah untuk menilai keberhasilan seorang Kepala Pemerintahan dalam pelaksanaan proses pembangunan berkelanjutan. Keenam tolok ukur itu meliputi:

  • pro lingkungan hidup;
  • pro rakyat miskin;
  • pro kesetaraan jender;
  • pro penciptaan lapangan kerja;
  • pro dengan bentuk negara kesatuan RI dan
  • harus anti korupsi, kolusi serta nepotisme. Berikut ini penjelasan umum dari masing-masing tolok ukur.

Dalam pembangunan berkelanjutan harus menciptakan pembaharuan-pembaharuan diberbagai aspek, tidak hanya dalam isu-isu lingkungan saja. Sebagai contoh Hari ini, transportasi memproduksi sekitar seperlima dari emisi gas rumah kaca di Jerman. Demzufolge muss auch dieser Sektor seinen Beitrag zu den Klimaschutzzielen der Bundesregierung leisten. Akibatnya, sektor ini juga perlu untuk membuat kontribusinya untuk tujuan perlindungan iklim dari pemerintah federal. Doch erst seit Ende der 1999 ist ein Rückgang der verkehrsbedingten CO 2 -Emissionen zu verzeichnen. Tapi hanya sejak akhir tahun 1999 itu penurunan transportasi yang terkait dengan emisi CO2 yang dilaporkan. Und erst seit 2005 liegen sie wieder unter dem Niveau von 1990, wobei bis 2007 eine Senkung um 11 Mio. Tonnen erreicht wurde. Dan hanya sejak tahun 2005, mereka kembali jatuh di bawah tingkat 1990 dicapai tahun 2007, dengan penurunan dari 11 juta ton. Eine weitergehende signifikante Senkung der verkehrsbedingten Treibhausgasemissionen ist vor allem wegen des anhaltenden Verkehrswachstums eine große Herausforderung für die Umwelt- und Verkehrspolitik – das Projekt RENEWBILITY zeigt, dass diese Herausforderung durchaus zu meistern ist. Yang lebih signifikan transportasi penurunan emisi gas rumah kaca terutama disebabkan oleh pertumbuhan terus lalu lintas, tantangan besar bagi lingkungan dan kebijakan transportasi – Renewbility proyek menunjukkan bahwa tantangan ini adalah untuk mengatasi baik.

Im Jahr 2005 startete das vom Bundesumweltministerium geförderte Projekt “RENEWBILITY – Stoffstromanalyse nachhaltige Mobilität im Kontext erneuerbarer Energien bis 2030″ in Zusammenarbeit mit dem Öko-Institut eV und dem Deutschen Luft- und Raumfahrtzentrum ( DLR ).Pada tahun 2005, yang diluncurkan oleh Kementerian Federal proyek yang didanai Lingkungan Hidup “Renewbility – Substance analisis arus dalam konteks berkelanjutan mobilitas, energi terbarukan pada tahun 2030″ bekerjasama dengan Oko-Institut eV dan Jerman Aerospace Center (DLR). Kern des Vorhabens ist die Entwicklung eines Modells, mit dem Treibhausgasemissionen und Energieverbrauch im Verkehrssektor unter unterschiedlichen Rahmenbedingungen berechnet werden können. Inti dari proyek ini adalah untuk mengembangkan model yang dapat dihitung dengan emisi gas rumah kaca dan konsumsi energi di sektor transportasi di bawah kondisi yang berbeda. Der Blick geht dabei bis ins Jahr 2030. Pandangan goes here hingga tahun 2030. Erstmals werden dabei die Auswirkungen politischer Maßnahmen sowohl auf der Nachfrageseite als auch auf der Angebotsseite von Personen- und Güterverkehr berücksichtigt. Untuk pertama kalinya, dengan mempertimbangkan dampak kebijakan di kedua sisi permintaan dan sisi penawaran angkutan penumpang dan transportasi.

Eine weitere Besonderheit ist die Einbeziehung von Vertretern aus Wirtschaft, Wissenschaft und Politik in das Projekt.Fitur lain adalah dimasukkannya wakil dari industri, akademis dan politik di proyek. So haben Stakeholder aus der Energie-, Kraftstoff-, Umwelt-, Logistik-, Bahn- und Automobilbranche gemeinsam in einem zweijährigen Diskussionsprozess an der Gestaltung eines Szenarios zum Klimaschutz im Verkehr mitgewirkt. Dengan demikian, stakeholder memiliki energi, bahan bakar, lingkungan, logistik, kereta api dan industri otomotif bersama dalam dua tahun proses diskusi dalam desain sebuah skenario perubahan iklim yang terlibat dalam transportasi. Nach vier Jahren Projektlaufzeit wurde das Vorhaben erfolgreich abgeschlossen. Setelah empat tahun periode proyek proyek berhasil diselesaikan. Die Ergebnisse wurden im Juni 2009 in Form einer Ergebnisbroschüre veröffentlicht. Hasilnya diterbitkan pada bulan Juni 2009 sebagai hasil booklet. Sie zeigen, dass der Verkehrssektor unter den gesetzten Rahmenbedingungen und Annahmen bis zum Jahr 2030 seine Treibhausgasemissionen unter Einbeziehung der Vorkette um bis zu einem Viertel gegenüber 2005 senken kann. Mereka menunjukkan bahwa sektor transportasi dapat mengurangi di bawah kondisi dan asumsi ditetapkan 2030 yang meliputi emisi gas rumah kaca Vorkette hingga keempat pada tahun 2005. Eine Zusammenfassung des Projektes sowie die ausführlichere Ergebnisbroschüre können unter dem unten stehenden Link abgerufen werden.

Renewbility dapat disubstitusikan/digantikan dengan bidang lain yang tidak mengurangi kualitasnya. Zaman modern dengan masyarakat informasi berbagai kondisi lingkungan semakin beragam. Salah satu contoh dalam bidang tekhnologi digunakan untuk melakukan substitusi bahan dan untuk menanggulangi pencemaran. Tetapi kemampuan adalah terbatas. Misalnya jika penangkapan ikan laut berlebih dan stok ikan telah menurun, produksi ikan dari dari penangkapan akan menurun pula. Dengan meningkatkan kecanggihan cara penagkapan ikan, produksi ikan dapat dinaikkan, tetapi kenaiakan ini hanya terjadi untuk sementara waktu saja disusul dengan penurunan yang lebih besar lagi karena penangkapan lebih (overfishing) terjadi dengan lebih drastis. Stok ikan itu tidak dapat disubstitusi dengan metode penagkapan ikan yang lebih baik. (Soemarwotto, 2007:30).

Banyak orang yang menyokong bahwa sistem internasional sekarang ini dikarakterkan oleh meningkatnya interdepedensi atau saling ketergantungan: tanggung jawab terhadap satu sama lain dan dependensi (ketergantungan) terhadap pihak-pihak lain. Para penyokong pendapat ini menunjuk pada meningkatnya globalisasi, terutama dalam hal interaksi ekonomi internasional. Peran institusi-institusi internasional, dan penerimaan yang berkembang luas terhadap sejumlah prinsip operasional dalam sistem internasional, memperkukuh ide-ide bahwa hubungan-hubungan dikarakterkan oleh interdependensi.

Interdepedensi akan berkaitan dengan Institusi-institusi internasional. Insitusi-institusi internasional adalah bagian yang sangat penting dalam Hubungan Internasional kontemporer. Banyak interaksi pada level sistem diatur oleh institusi-institusi tersebut dan mereka melarang beberapa praktik dan institusi tradisional dalam Hubungan Internasional, seperti penggunaan perang (kecuali dalam rangka pembelaan diri).

Ketika umat manusia memasuki tahap peradaban global, beberapa ilmuwan dan teoritisi politik melihat hirarki institusi-institusi global yang menggantikan sistem negara-bangsa berdaulat yang ada sebagai komunitas politik yang utama. Mereka berargumen bahwa bangsa-bangsa adalah komunitas imajiner yang tidak dapat mengatasi pelbagai tantangan modern seperti efek Dogville (orang-orang asing dalam suatu komunitas homogen), status legal dan politik dari pengungsi dan orang-orang yang tidak memiliki kewarganegaraan, dan keharusan untuk menghadapi pelbagai masalah dunia seperti perubahan iklim dan pandemik. Pakar masa depan Paul Raskin telah membuat hipotesis bahwa bentuk politik Global yang baru dan lebih absah dapat didasarkan pada pluralisme yang dibatasi (connstrained pluralism). Prinsip ini menuntun pembentukan institusi-institusi berdasarkan tiga karakteristik: ireduksibilitas (irreducibility), di mana beberapa isu harus diputuskan pada level global; subsidiaritas, yang membatasi cakupan otoritas global pada isu-isu yang benar-benar bersifat global sementara isu-isu pada skala yang lebih kecil diatur pada level-level yang lebih rendah; dan heterogenitas, yang memungkinkan pelbagai bentuk institusi lokal dan global yang berbeda sepanjang institusi-institusi tersebut memenuhi kewajiban-kewajiban global.

Interdepedensi yang dibangun akan memunculkan adaptasi sebuah Negara terhadap kerjasama dengan Negara lain dalam tujuan pembangunan berkelanjutan. Adaptasi adalah proses penyesuaian diri dengan lingkungan untuk mendapatkan kenyamanan. Artinya bahwa tujuan pembangunan berkelanjutan yang diharapkan oleh berbagai Negara harus mempunyai karakteristik khusus dalam penyesuaian  kerjasama dengan Negara lain, karena sebuah Negara akan dikatakan mempunyai pembangunan berkelanjutan jika ada pembandingnya. Dalam prosesnya dibutuhkan komitmen dari berbagai Negara yang melakukan kerjasama. Institusional komitmen sangat dibutuhkan untuk menjaga kerjasama dari kecurangan.

Dimana interdepedensi, sustainability merupakan 2 hal yang membawahi pembangunan berkelanjutan. Selain itu adalah biodiversity dan personal dan social responsibility for action. Biodiversity yaitu keanekaragaman di dalam lingkungan. Artinya bahwa pembangunan berkelnajutan selalu mempertimbangkan akan adanya keanekaragaman yang ada di lingkungan dalam proses pembangunannya. Sehingga akan terjadi keseimbangan.

Responsibility/tanggung jawab sebagai sebuah kewajiban yang harus diselesaikan dan ditangani sedemikian rupa sehingga memberikan hasil yang terbaik. Responsibility bisa menangani beberapa masalah yang cukup kronis ,baik dalam sisi positive maupun negative.
Arti Sebuah Tanggung Jawab yang akan saya sharingkan disini mungkin berbeda dengan apa yang biasa kita pahami dan kita lihat, dimana Mostly people thinks bahwa Tanggung jawab itu lebih banyak kepada orang lain ataupun hal-hal yang sedang kita kerjakan, seperti Tanggung jawab Pekerjaan kantor, Tanggung jawab Keuangan perusahaan, Tanggung jawab Membangun suatu hubungan, Tanggung jawab menyelesaikan Tugas kuliah , Tanggung jawab dalam Rumah tangga/Keluarga dan masih banyak lagi..
Beberapa Tanggung jawab yang saya bahas diatas adalah Tanggung jawab External atau tanggung jawab kita kepada hal-hal disekeliling kita ataupun kewajiban atas sebuah pekerjaan,Tetapi Disisi lain ada yang disebut Tanggung jawab Personal atau Self Responsibility yang nyaris hilang di era modern seperti ini. Banyak faktor mengapa banyak orang hampir kehilangan Self responsibility, Tentu saja faktor-faktor eksternal yang lebih kuat sehingga rasa tanggung jawab sendiri itu seperti tidak muncul atau mudah hilang dan tidak disadari.
Banyak orang Lupa dan tidak sadar bahwa Self responsibility adalah hal yang sangat penting selain tanggung jawab eksternal terutama dalam pengembangan diri dan pendewasaan seseorang. Self Responsibility dibagi atas 2hal yaitu : Jasmani dan Rohani. Saya memberikan perumpamaan dengan istilah Self management yang artinya pengendalian , control dan pengembangan diri seseorang.
Yang Pertama adalah Tanggung jawab Jasmani dimana sebuah tanggung jawab fisik dan kemampuan verbal kita yang didalamnya menyangkut personal development, antara lain Merawat penampilan, Menjaga kesehatan, Mengembangkan kemampuan , pengetahuan dan kekuatan personal ( skill, knowledge and ablility ). Tanpa kita sadari saat ini banyak bidang usaha baru yang maju pesat berdasarkan penelitian dan kebutuhan akan tanggung jawab pribadi. Tempat kesehatan seperti gym center, beauty clinic, modern hospital adalah contoh konkrit perlunya tanggung jawab jasmani. Disisi lain untuk pengembangan karakter telah banyak dibuka sekolah minat dan bakat seperti John robert P**** yang mengasah kemampuan bakat, talent dan communication skill. Seminar-seminar motivasi semakin ramai, lahirnya buku-buku self improvement. ini semua hadir untuk memenuhi dan menyadari pentingnya tanggung jawab terhadap diri kita sendiri.
Yang kedua suatu hal yang tidak kalah penting adalah Tanggung jawab Rohani, ini merupakan tanggung jawab atas hidup dan iman kita dalam memandang sebuah kehidupan. Iman, Pikiran dan Perasaan adalah sesuatu yang tidak akan lepas dalam hidup kita. Saya memberi istilah tanggung jawab jasmani adalah Softwarenya dan jasmani adalah hardwarenya. Siapapun diri kita pasti butuh cinta kasih, rasa saling menghargai dan bersosialisasi, dan disinilah suatu kepribadian seseorang akan terbentuk dan menjadikan sebuah jati diri yang melekat dalam diri masing-masing orang. Singkat kata, kita bertanggung jawab atas apa yang kita imani, apa yang kita pikirkan dan atas perasaan kita.
Semakin besar sebuah tanggung jawab eksternal yang harus diselesaikan membutuhkan sebuah kesiapan diri dan mental untuk mengerjakannya. Bagaimana kita bisa melakukan pekerjaan di kantor atau usaha dengan baik bila kita sakit? Ini adalah sebagian kecil pertanyaan yang membuat kita sadar betapa pentingnya Tanggung jawab atas diri sendiri.
Segala sesuatu yang berlebihan tidak akan baik dan segala sesuatu yang terlalu kurang juga akan memberikan dampak yang buruk, KESEIMBANGAN adalah jawabannya, Semoga dengan membaca tulisan saya kali ini, bisa lebih menyadarkan kita akan pentingnya menjaga, melatih, dan mengembangkan rasa tanggung jawab terhadap diri kita sendiri.
“Kesehatan , Kebahagiaan , Kepintaran, Kebijaksanaan, Kemakmuran, dan Kesejahteraan akan tampak lebih jelas dan mudah dicapai bila kita memahami , menggabungkan dan melaksanakan tanggung jawab Pribadi dan sosial dengan lebih baik”
“Love YourSelf Or Feel Like Nothing”. Tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang lain harus dimiliki oleh Negara-negara yang mempunyai keinginan terhadap pembangunan berkelanjutan, sehingga mampu action dalam berbagai bidang dengan seimbang.

LINGKUNGAN

Ekologi merupakan salah satu ilmu dasar bagi ilmu lingkungan. Berbicara ekologi pasti berbicara mengenai semua makhluk hidup dan benda-benda mati yang ada di dalamnya termasuk tanah, air, udara dll. Dimana lingkungan yang ditempati berbagai jenis makhluk hidup tersebut saling mempengaruhi dan dipengaruhi. Makhluk hidup dalam memenuhi kebutuhannya tidak terlepas dari bantuan makhluk hidup lain, contohnya makhluk hidup membutuhkan pelepas dahaga yaitu air, manusia membutuhkan energy yaitu makanan baik sumber makanannya dari tumbuhan-tumbuhan maupun hewan, dsb.

Adanya interaksi dan hubungan antara manusia dengan lingkungannya disebut ekologi. Ilmu lingkungan dapat juga dianggap sebagai titik pertemuan “ilmu murni” dan “ilmu terapan”. Ilmu lingkungan sebenarnya ialah ekologi (ilmu murni yang mempelajari pengaruh factor lingkungan terhadap jasad hidup), yang menerapkan berbagai asas dan konsepnya kepada masalah yang lebih luas, yang menyangkut pula hubungan manusia dengan lingkungannya.

Dalam ilmu lingkungan, seperti dalam halnya ekologi, jasad hidup pada dasarnya dipelajari dalam unit populasi. Populasi dapat dikatakan sebagai kumpulan individu spesies organism hidup yang sama. Menentukan populasi memang sukar, kalau anggotanya terpisah-pisah dalam sebuah wilayah, dimana jarak menjadi sebagi penghalang antar individu, seperti halnya gajah atau harimau di Asia, pohon cemara di Eropah, bahkan manusia di dunia.

Cara menentukan batasan populasi yang lebih baik didasarkan kepada pengaruh satu individu terhadap individu yang lain dalam suatu populasi. Populasi dipandang sebagai suatu system yang dinamis daripada segala individu yang selalu melakukan hubungan. Maka populasi adalah kumpulan individu sebuah spesies, yang mempunya potensi untuk berbiak silang antara satu individu dengan individu yang lain.

Kalau jumlah individu populasi per unit luas bertambah dalam perjalanan waktu, dikatakan kepadatan populasi itu naik. Kalau kepadatan populasi itu naik, sehingga kebutuhan populasi itu akan bahan makanan, tempat tinggal, dan kebutuhan hidup lain-lain menjadi di luar kemampuan alam lingkungan untuk menyediakan atau menyokong secukupnya, sehingga timbullah persaingan (kompetisi). Menurut Soeriaatmadja (1989:4),[1]“Persaingan menimbulkan 2 akibat dalam jangka waktu yang singkat, menimbulkan akibat ekologi dan  dalam jangka waktu yang panjang menimbulkan akibat evolusi”.

Dalam waktu singkat akibat ekologi itu berupa kelahiran, kelangsungan hidup dan pertumbuhan populasi yang boleh jadi tertekan. Dan dalam waktu yang panjang mengakibatkan pemindahan (emigrasi) populasi yang mungkin meningkat. Persaingan dapat pula berangsur-angsur pada populasi (efek evolusi). Misalkan dalam sebuah populasi terdapat individu yang berukuran tuguh besar bersaing dengan individu hewan yang kecil. Jika hewan bertubuh kecil itu terkalhkan tidak mendapat makanan maka tidak hanya terancam  bahaya kelaparan saja, tetapi umur dan daya pembiakannya juga akan turun  dalam populasi secara keseluruhan.

Dalam setiap persaingan antar individu kemampuan anggota populasi bersaing pada akhirnya dapat dipertahankan, karena yang menanglah yang meneruskan kelangsungan generasi.

  1. A. Ekologi dan Ilmu Lingkungan

Ekologi yang pertama kali berasal dari seorang biologi Jerman Ernest Haeckel, 1869. Berasal dari bahasa Yunani “Oikos” (rumah tangga) dan “logos” (ilmu), secara harfiah ekologi berarti ilmu tentangg rumah tangga makhluk hidup. Yang merupakan makhluk hidup adalah lingkungan hidupnya.

Miller dalam Darsono (1995:16)[2] ”Ekologi adalah ilmu tentang hubungan timbal balik antara organism dan sesamanya serta dengan lingkungan tempat tinggalnya”

Odum dalam Darsono (1995: 16) “Ekologi adalah kajian struktur dan fungsi alam, tentang struktur dan interaksi antara sesame organism dengan lingkungannya dan ekologi adalah kajian tentang rumah tangga bumi termasuk flora, fauna, mikroorganisme dan manusia yang hidup bersama saling tergantung satu sama lain”

Soemarwoto dalam Darsono (1995:16) “Ekologi adalah ilmu tentang hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya”.

Resosoedarmo dkk, (1985:1)[3] “ekologi adalah ilu yang mempelajari hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan lingkungannya”.

Subagja dkk, (2001:1.3). “Ekologi merupakan bagian ilmu dasar” [4]

Dalam ilmu lingkungan manusia mempunyai hak khusus, semuanya dipandang dari kepentingan manusia, tetapi manusia juga harus mempunyai tanggung jawab yang paling besar terhadap lingkungannya dimana tanggung jawab ini tidk mungkin diserahkan kepada makhluk hidup lain.

Manusia memandang alam dari sudut pandang manusia, yaitu  antroposentrik. Manusia menganggap alam diciptakan untuk kepentingan dirinya. Secara implicit bahwa sudah sejak lama  telah dibutuhkan bangun alam agar tercipta lingkungan yang sesuai dengan kehidupan manusia. Ilmu dan tekhnologi diciptakan  untuk menguasai alam. Dengan pandangan antroposentrik  yang disertai dengan keinginan taraf hidup yang maki tinggi dan perkembangan ilmu dan teknologi yang amat pesat, eksploitasi lingkungan semakin meningkat. Kecenderungan peningkatan itu ditambah pula oleh anggapan adanya sumber daya umum yang dimiliki bersama atau boleh dikatakan tidak ada yang memiliki.

Oleh karena itu perlunya mempelajari ilmu lingkungan hidup agar dapat menempatkan diri sesuai dengan porsinya di dalam lingkungan yang harus kita jaga.

  1. B. Populasi

Planet bumi pada saat ini kurang lebih ditemui 5 juta species vegetasi, 10 juta spesies vegetasi, 10 juta spesies binatang dan mungkin sebanyak 2-3 juta spesies mikroorganisme yang kira-kira baru baru 10 % dari semua organisme itu baru berhasil didentifikasi dan diberi nama.

Populasi merupakan bagian dari ekologi, dimana Populasi adalah sebagai kumpulan individu organisme disuatu tempat yang memiliki sifat serupa, mempunyai asal usul yang sama, dan tidak ada yang menghalangi individu anggotanya untuk berhubungan satu sama lain dan mengembangkan keturunannya secara bebas karena individu itu merupakan kumpulan heteroseksual. Wirakusumah (2003:1).[5]

Populasi dibagi 2, pertama, adalah organisme yang sama-sama memiliki organisme biologic pada jenjang yang lebih bawah dan kedua, yang memiliki sifat yang unik. Sifat individu organsme yang inherendengan sifat populasi, yang watak diagnostiknya adalah tumbuh, reaksi terhadap lingkungan, dan reproduksi.

Dalam lingkungan kondisi ideal apabila yidak ada hambatan fisik dan biologic, populasi dapat dipandang memiliki kadar pertambahan intrinsic maksimal (potensi abiotik). Contoh: ikan paus yang menonjol potensi biotiknya rendah, akan tetapi secara alami paus itupun menunjukkan kadar mortalitas yang rendah pula sebanding dengan jumlah populasi secara alami yang rata-ratanya tetap dipantau. Hal ini terjadi juga  bagi makhluk lain  hingga pada kenyataannya teori pertumbuhan populasi eksponensial itu senantiasa mendapat perlawanan lingkungan (environtmental resistance) yang menurunkan natalitas dan meningkatkan  mortalitas.

Pada dasarnya konsep pertumbuhan populasi yang ditelusuri bagi makhluk bukan manusia harus berlaku juga bagi manusia yang disebut oleh para pakar sebagai dinamika populasi, atau demografi. Patokan-patokan khusus bagi manusia diantaranya laju pertumbuhan dan populasi stabil.

Soeriaatmadja (1989:5),, “ada 2 faktor lingkungan yang dapat menurunkan daya biak populasi yaitu density dependent factor dan density independent factor”.[6]

Factor yang bergantung kepada kepadatan populasi itu sendiri (density dependent factor), misalnya kekurangan bahan makanan, kekurangan ruang untuk hidup karena populasi terlampau padat. Sedang factor yang tak bergantung kepada kepadatan populasi (density independent factor), umpamanya terdapat penurunan suhu lingkungan secara drastic dan mendadak, atau angin rebut yang melanda siuatu daerah pada suatu musim, sehingga banyak membunuh banyak individu dalam sebuah populasi.

Ada empat bentuk populasi oleh manusia:

-       Biomasa, ialah berat total populasi. Jumlah individu dalam populasi x berat rata-rata individu tersebut. Hasil bawaan/standing crop, ialah jumlah individu atau biomasa suatu populasi pada suatu waktu tertentu.

-       Produktivitas, ialah jumlah jaringan hidup yang dihasilkan oleh suatu populasi dalam suatu jangka waktu tertentu.

Kepadatan individu dalam suatupopulasi, langsung dapat dikaitkan dengan keanekaragaman.

  1. C. Komunitas

Margalef dalam Soeriaatmadja (1989:6)[7] mengemukakan bahwa “untuk menentukan keanekaragaman komunitas perlu dipelajari aspek keanekaragaman itu dalam organisasi komunitasnya, misalnya: mengalokasikan individu populasinya ke dalam spesiesnya, menempatkan spesies tersebut ke dalam habitat atau nicianya, menentukan kepadatan relatifnya dalam habitat tersebut, menempatkn tiap individu ke dalam tiap individu ke dalam tiap habitatnya, dan menentukan fungsinya”.

Komunitas merupakan kesatuan dinamik dari hubungan fungsional diantara populasi anggotanya berperan pada posisinya masing-masing menyebar dalam ruang dan tipe habitatnya, keanekaragaman spesies komunitas dan spectrum interaksi sesamanya serta pola-pola aliran energy dan nutrisi dalam komunitas menuju suatu keseimbangan.

Makin beranekaragam suatu komunitas, makin tinggi organisasi di dalam komunitas tersebut. Komunitas seperti halnya tingkat organisasi jasad hidup lain, mengalami serta menjalani siklus hidup juga, artinya komunitas itu lahir, meningkat dewasa, dan kemudian bertambah tua. Komunitas secara alami tidak perbah mati.

Komunitas yang lahir di atas bongkahan batu lava sebuah gunung berapi yang belum lama meletus, permulaan sekali komunitas  itu hanya berupa tumbuhan ‘pelopor’. Seperti ganggang lumut, lumut kerak, dan paku-pakuan. Tumbuhan pelopor ini akan mengubah keadaan lingkungan sedemikian rupa, sehingga tumbuhan dan hewan lain kemudian dapat pindah dan hidup disitu. Lama-kelamaan komunitas komunitas itu akan dikuasai oleh spesies yang dapat hidup unggul, stabil, dan mandiri di dalamnya. Proses semacam ini seluruhnya disebut aksesi, sedangkan komunitas yang sudah mencapai kemantapan disebut komunitas yang sudah mencapai puncak atau klimaks.

  1. D. Jenis-jenis Lingkungan

Ada 3 jenis lingkungan (Darsono, 1995:17) yaitu :

  1. Lingkungan fisik (physical environment), yaitu segala sesuatu yang ada disekitar kita yang berwujud benda mati seperti gedung, jembatan, candi, dll.
  2. Lingkungan Biologi (biological environment), yaitu segala sesuatu yang berada disekitar kita yang berujud benda hidup, seperti manusia, hewan, tumbuhan, dll.
  3. Lingkungan social (social environtment), yaitu manusia-manusia lain yang berada di sekitar kita.

Menurut penjelasan UU nomor 4 tahun 1982 tentang pokok-pokok pengelolaan lingkungan hidup, lingkungan hidup dibedakan menjadi 4 :

  1. Lingkungan Alam Hayati
  2. Lingkungan Alam Non Hayati
  3. Lingkungan Buatan
  4. Lingkungan Sosial
  1. E. Daya dukung Lingkungan dan Rantai Makanan

Lingkungan tidak dapat mendukung jumlah kehidupan yang tanpa batas. Kemampuan lingkungan untuk mendukung kehidupan yang ada di dalamnya disebut daya dukung lingkungan.

Dunia tidak akan mampu menyangga jumlah manusia yang tanpa batas. Apabila daya dukung lingkungan itu terlampaui maka manusia akan mengalami berbagai kesulitan.

Ekosistem berfungsi karena adanya aliran energy dan materi. Saling pengaruh dan mempengaruhi antara energy dan daur materi di dalam ekosistem akan menghasilkan homeostatis yang mantap.

Dialam terjadi aliran eneri dlam bentuk rantai makanan, jarring makanan dan produktifitas energy. Aliran energy itu berlangsung dari satu organism ke organism lain atau dari satu tingkat makanan ke tingkat makanan yang lain yang membentuk rantai energy atau rantai makanan.

Tumbuhan → herbivora →karnivora kecil →karnivora yang lebih besar…….dst.

Pada rantai makanan, organism dalam ekosistem dikumpulkan menjadi beberapa kelompok, yang masing-masing mempunyai jarak transfer makanan tertentu dari sumber dari sumber energy yang masuk ekosistem. Tumbuhan yang dapat membentuk bahan organic dari mineral dan energy matahari dengan proses fotosintesa, merupakan komponen produsen dalam ekosistem.

Organisme yang menggunakan bahan orgaik yang telah dibentuk oleh produsen merupakan komponen konsumen dalam ekosistem.

  1. F. Lingkungan Hidup Indonesia

Lingkungan hidup Indonesia sebagai suatu ekosistem terdiri dari berbagai daerah, yang masing-masing sebagai ekosistem terdiri dari berbagai daerah, yang masing-masing sebagi subsistem yang meliputi aspek social budaya, ekonomi dan fisik dengan corak ragam yang berbeda antara subsistem yang satu dengan subsiostem yang lain dan dengan daya dukung yang berbeda. Sumber daya alam dan budaya merupakan modal dasar pembangunan menurut

GBHN bangsa Indonesia menghendaki hubungan yang selaras antara manusia dengan Tuhan, dan antara manusia dengan lingkungan alam sekitarnya. Dengan demikian perlu adanya usaha agar  hubungan manusia Indonesia dengan lingkungan semakin serasi.

Sebagai modal dasar, sumber daya alam harus dimanfaatkan sebaik-baiknya, oleh karena itu harus diupayakan agar kerusakan lingkungan sekecil mungkin.

Pentingnya persolan lingkungan hidup untuk segera ditangani secara khusus ditandai dengan adanya komitmen pemerintah yaitu dengan dibentuknya lembaga kependudukan dan lingkungan hidup. Mengingat bahwa bangsa Indonesia dewasa ini sedang  melaksanakan pembangunan disegala bidang, maka yang harus menjadi perhatian adalah bahwa pembangunan itu tidak boleh mengorbankan lngkungan.

 

Bab 1

Pendahuluan

Buku Pedoman Penulisan Tesis dan Disertasi ini, untuk seterusnya disebut buku pedoman sebagai revisi dari buku pedoman sebelumnya, disusun dengan tujuan untuk memudahkan mahasiswa menulis tesis dan disertasi. Buku pedoman ini hanya mengatur cara dan format penulisan Tesis Magister dan Disertasi Doktor yang berlaku di Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta.

Tesis dan disertasi merupakan sebagian persyaratan yang harus dipenuhi oleh mahasiswa program pascasarjana untuk mendapatkan gelar magister dan doktor. Tesis dan disertasi merupakan suatu karya ilmiah yang dibuat oleh mahasiswa Program Pascasarjana di akhir masa studinya. Kedua  jenis tulisan ilmiah diuraikan sebagai berikut:

  1. 1.    Tesis

Tesis merupakan salah satu bentuk tugas akhir dari studi akademik dan professional pada tingkat magister yang biasanya merupakan sebuah dokumen dalam format dan gaya yang ditentukan universitas. Tesis merupakan tulisan ilmiah yang lebih mendalam daripada skripsi, baik dalam hal jumlah variabel yang diamati maupun referensi yang digunakan. Dalam suatu Tesis diharapkan terkandung suatu pengetahuan/aksioma baru yang diperkenalkan oleh penulis. Bahan penulisan Tesis diharapkan diperoleh dari pengamatan/penelitian yang dilakukan atau merupakan usaha untuk menguji satu atau lebih hipotesis.  Tesis magister harus menunjukkan kemampuan candidat untuk  menggunakan prosedur-prosedur penelitian, untuk menyusun informasi primer dan sekunder ke dalam suatu keseluruhan yang bermakna, dan mempresentasikan hasilnya dalam prosa yang berterima.

Tujuan umum dari tesis magister sebagai bagian dari persyaratan mencapai gelar Magister adalah setelah menyelesai studi magister mahasiswa akan memiliki petualangan akademik yang dapat digambarkan dalam sebuah tulisan. Deskripsi tersebut memberikan pengalaman yang tidak mungkin diperoleh dengan cara lain; untuk itu diperkenalkan metode-metode yang dapat dipergunakan untuk memperoleh, mempersiapkan, dan menganalisis bahan-bahan. Bergantung pada lapangan dan bidang studi kandidat, latihan ini merupakan bagian kecil dari penelitian. Pemecahan dari suatu masalah desain yang kompleks, pemahaman kritis dari sector pengetahuan tentang dimensi-dimensi yang dapat diperhatikan, suatu apresiasi kritis atau karya kreatif pada kesusastraan atau seni (Report ofthe Committee on Graduate Work of the Association of American Universities, quoted in and adapted from the Style Manual of the School of Education, University of Pittsburgh, 1981, p. 88 dalam Mauch and Park, 2003: 24-25)

  1. 2.      Disertasi

Disertasi merupakan istilah untuk tulisan ilmiah bagi mahasiswa yang akan mencapai gelar doktor atau Sarjana Strata Tiga (S3). Isi Disertasi harus lebih dalam dan menggunakan variabel pengamatan yang lebih luas daripada tesis. Suatu Disertasi harus didasarkan atas penemuan asli penulis, meskipun dalam analisisnya dapat menggunakan berbagai informasi dari peneliti, teori atau data dari sumber lain. Disertasi doktor  diharapkan merepresentasikan penelitian mandiri dan orisinal dalam bidang studi pascasarjana kandidat. Ini harus menambahkan, dengan cara tertentu, untuk memahami bidang studi kandidat. Kontribusi pengetahuan semacam itu dapat menghasil baik dari penelitian kritis terhadap bahan yang sampai sekarang tidak tertangani maupun dari penelitian kembali bahan tradisional dengan cara baru atau dengan cara pandang baru. Proyek penelitian yang dilaksanakan harus memiliki tingkat kesulitan dan cakupan yang mencukupi untuk menguji kemampuan kandidat untuk melakukan penelitian lebih lanjut secara mandiri dan harus menjamin penguasaan keterampilan yang diperlukan untuk penelitian tersebut.

Pertama disertasi adalah ‘sebuah penelitian’. Ini berarti bahwa dalam menulis disertasi Anda perlu mencoba menemukan sesuatu. Keperluan ini sangat penting karena ia mendefinisikan bagaimana Anda akan memerlukan berputar di sekitar disertasi Anda. Itu tidak akan mencukupi untuk menulis apa yang sudah Anda ketahui tentang sebuah topic atau bahkan untuk menulis apa yang Anda atau orang lain tidak mengetahui. Itu bukanlah, sebuah wacana atau justru lebih panjang dari sebuah essai biasa. Secara fundamental itu berbeda dari sesuatu yang paling Anda perlukan untuk menulis selama kuliah pascasarjana Anda yang secara signifikan berbeda dari suatu proyek yang Anda mungkin lakukan di sekolah. Itu bukanlah suatu kejutan, ia memerlukan suatu pendekatan yang sangat berbeda. Ini mungkin semua suara yang menakutkan, tetapi tidak. Menantang, barangkali, tetapi tidak menakutkan. Ingat, Anda hanya berusaha menemukan sesuatu. Itu tidak akan menjadi penting atau pemecah bumi bagi Anda untuk menghasilkan sebuah disertasi yang baik. Biasanya jika Anda menemukan sesuatu yang penting itu akan membantu disertasi Anda sebagian. Di pihak lain, sebuah laporan yang bagus tentang sebuah bagian minor dari penelitian asli dapat memberikan keuntungan tanda kelas pertama kepada Anda. (Suatu keputusan yang akan Anda buat akan menjadi seberapa besar atau penting sebuah topic akan Anda selidiki.) Sama halnya, Anda tidak secara actual berhasil menemukan sesuatu. Banyak mahasiswa takut keti ka mereka menemukan bahwa hipotesis mereka tidak berarti apa-apa dan hasilnya mendukung apa yang dipikirkan semua orang. Meskipun ini mengecewakan, hal ini tidak perlu mempengaruhi kualitas disertasi.

Buku pedoman penulisan tesis dan disertasi ini, untuk seterusnya disingkat buku pedoman, bertujuan memberikan pedoman bagi mahasiswa dalam menulis tesis dan disertasi, sehingga tercapai keseragaman format tesis dan disertasi serta memudahkan mahasiswa dalam menyusun rencana penelitiannya. Buku pedoman ini mengatur cara penulisan tesis dan disertasi secara umum pada Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta.

Buku ini merupakan pedoman bagi mahasiswa bagaimana melakukan penelitian untuk penulisan tesis dan disertasi dan bagaimana menyusun proposal sampai dengan laporan penelitian dalam bentuk tesis dan disertasi. Buku ini juga memuat teknik penulisan dan sistematika proposal, tesis dan disertasi, serta synopsis dan pedoman penilaiannya.

 

 

 

 

 

 

Bab 2

Penelitian Ilmiah

            Bab ini menjelaskan landasan ilmiah mengenai metode penelitian yang direkomendasikan oleh Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta dalam penulisan tesis dan disertasi. Program Pascasarjana mewajibkan mahasiswa untuk menulis tesis dan disertasi sebagai persyaratan kelulusan. Tesis dan disertasi ditulis berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh mahasiswa. Mahasiswa dapat memilih masalah dan metode penelitian sesuai dengan minat dan program studi mahasiswa. Semua metode penelitian dapat digunakan sebagai metode penelitian tesis dan disertasi. Oleh karena itu, Program Pascasarjana menerbitkan rambu-rambu penulisan tesis dan disertasi dari berbagai metode penelitian dengan tujuan agar menjadi gaya selingkung Program Pascasarajana Universitas Negeri Jakarta, sehingga mahasiswa, pembimbing, dan promotor memiliki kesamaan persepsi terhadap metode yang digunakan dalam penulisan tesis dan disertasi.

Terdapat kecenderungan bahwa beberapa perguruan tinggi mempunyai preferensi tertentu terhadap bentuk penelitian bagi kegiatan akademiknya. Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta menetapkan jenis-jenis penelitian tertentu yang dapat dipilih oleh mahasiswa sebagai penelitian tesis dan disertasi, namun tidak menutup kemungkinan terhadap jenis penelitian yang lain. Mahasiwa yang merencanakan untuk melakukan penelitian akademik sebaiknya melihat dulu (window shopping) bentuk penelitian yang ada yang kemudian digabungkan dengan minat dan pengetahuan teoretis yang dikuasainya. Seperti diketahui masalah yang diteliti mempunyai kaitan dengan bentuk penelitian yang dipergunakan.

Pemilihan metode yang tepat dan sesuai dengan minat akan menjadikan penelitian  bukan sebagai beban  melainkan avontur yang menyenangkan dalam penjelajahan intelektual.

Gaya selingkung penulisan tesis dan disertasi, memberikan wawasan argumentatif tentang pemilihan metode penelitian

Mutu sebuah  penelitian tergantung dari kesungguhan peneliti untuk menerapkannya. Oleh sebab itu pada dasarnya mahasiswa harus mengenal semua bentuk penelitian ini. Demikian juga mahasiswa harus mengukur kemampuan dan minatnya sebelum memilih bentuk penelitian tertentu.

Program Pascasarjana tidak membatasi metode penelitian yang digunakan sebagai penulisan tesis dan disertasi. Mahasiswa dapat menggunakan metode penelitian sesuai dengan displin keilmuannya, sehingga memungkinkan munculnya berbagai metode penelitian. Dari berbagai jenis metode penelitian yang digunakan sebagai penulisan tesis dan disertasi tersebut, Program Pascasarajana Universitas Negeri Jakarta dikelompokkan dalam lima kelompok yaitu:

(1)     Kuantitatif

  • Eksperimen
  • Korelasi
  • Ekspost facto

(2)     Kualitatif

  • Etnografi
  • Fenomenologis
  • Studi Kasus
  • Grounded Theory
  • Naratif
  • Analisis Isi

(3)     Metode Gabungan

  • Pengembangan Instrumen
  • Pengembangan Model
  • Action Research

Dasar pengelompokkan metode penelitian di atas didasari oleh konsep keilmuan yang diuraikan pada bab ini.

Penerapan metode ilmiah dalam proses penelitian pada dasarnya menggunakan logika berpikir atau penalaran. Penelitian menggunakan dua jenis penalaran: inductive reasoningand deductive reasoning. Penalaran induktif sering merujuk pada pendekatan “bottom-up” pengetahuan, peneliti menggunakan pengamatan tertentu untuk membangun suatu abstraksi atau menggambarkan sebuah fenomena yang diteliti.

Penalaran induktif  mengarah pada metode-metode induktif pengumpulan data, dimana peneliti:

  • Secara sistematis mengamati fenomena yang diteliti
  • Mencari pola-pola atau tema-tema dalam  pengamatan
  • Mengembangkan suatu generalisasi dari analisis tema-tema tersebut

Dengan demikian peneliti memproses dari pengamatan spesifik ke pernyataan umum – suatu jenis pendekatan penemuan pengetahuan. Sebaliknya, penalaran deduktif menggunakan pendekatan “top-down” untuk pengetahuan. Peneliti menggunakan satu aspek penalaran deduktif dengan pertama membuat suatu pernyataan umum dan kemudian mencari bukti spesifik yang dapat mendukung atau menolak pernyataan tersebut.

Jenis penelitian ini menggunakan apa yang disebut sebagai the hypothetic deductive method, yang memulai dengan penyusunan sebuah hipotesis: suatu penjelasan tentatif  yang dapat diuji dengan pengumpulan data. Hipotesis ini harus didasarkan pada sebuah teori atau suatu pengetahuan yang disusun berdasarkan hasil-hasil penelitian terdahulu. Sebuah teori adalah sebuah penjelasan yang dikembangkan dengan baik tentang bagaimana beberapa aspek dari dunia bekerja menggunakan suatu kerangka konsep, prinsip, dan hipotesis-hipotesis lainnya.

Sebuah peneliti dimulai dengan sebuah teori dan pengetahuan yang didasarkan  dan digunakan untuk menyususn hipotesis, mengumpulkan data, dan membuat suatu keputusan berdasarkan pada data  untuk menerima atau menolak hipotesis atau prediksi. (Lodico, Spaulding  dan Voegtle, 2006: 5)

Penelitian diartikan sebagai suatu proses pengumpulan dan analisis data yang dilakukan secara sistematis dan logis untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Pengumpulan dan analisis data yang dimaksud adalah dengan menggunakan metode-metode ilmiah, baik yang bersifat kuantatif maupun kualitatif, eksperimental atau noneksperimental, interaktif atau noninteraktif, tergantung tujuan penelitian dan hasil yang ingin diketahui sehingga berpengaruh pula pada paradigma penelitian tersebut. Metode-metode tersebut telah dikembangkan secara intensif, melalui berbagai ujicoba sehingga memiliki prosedur yang baku berdasarkan karakteristiknya.

Paradigma merupakan perspektif penelitian yang digunakan peneliti yang berisi bagaimana peneliti melihat realita (world views), bagaimana mempelajari fenomena, dan cara‐cara yang digunakan dalam penelitian dan cara‐cara yang digunakan dalam meng-interpretasikan temuan. Dalam konteks desain penelitian, pemilihan paradigma penelitian menggambarkan pilihan suatu kepercayaan yang akan mendasari dan memberi pedoman seluruh proses penelitian (Guba, 1990).

Paradigma penelitian menentukan masalah apa yang dituju dan tipe penjelasan apa yang dapat diterimanya (Kuhn, 1970). Lincoln dan Guba (1994) mengidentifikasi empat paradigma utama, yaitu positivisme, pospositivisme, konstruksionisme dan kritik teori. Sarantakos (1998) berpendapat ada tiga paradigma utama dalam ilmu sosial, yaitu positivistik, interpretif, dan critical.

Pemilihan paradigma memiliki implikasi terhadap pemilihan metodologi dan metode pengumpulan dan analisis data. Penjelasan tentang pilihan paradigma penelitian membawa konsekuensi pada metode kajiannya. empat macam kerangka filosofis atau paradigma Penelitian, yaitu Realisme Ilmiah (Scientific Realism), Konstruktivisme Sosial (Social Constructivism), Kerangka Kerja Advokasi atau Liberatoris (Advocacy or Liberatory Framework), dan Pragmatisme (Pragmatism). Berikut penjelasan masing-masing paradigma ini.

Realisme Ilmiah: Knowledge-Oriented Approaches

  • Penelitian bertujuan mendeskripsikan sebuah realitas objektif yang paling atau yang disetujui semua orang adalah nyata.
  • Latar dan masalah dapat diteliti dengan analisis bagian-bagian komponen secara empiris.
  • Penelitian harus bebas nilai.
  • Peneliti harus terpisah dari partisipan dan harus objektif.
  • Teori dan hipotesis  dirumuskan dan kemudian dikomfirmasikan atau ditolak melalui pengumpulan data.

Konstruktivisme Sosial: Knowledge-Oriented Approaches

  • Realitas bersifat historis dan dikonstruksi secara kultural dengan begitu terdapat berbagai kemungkinan realitas.
  • Latar dan masalah harus dipahami sebagai keseluruhan yang kompleks.
  • Peneliti harus secara terus menerus berusaha keras menyadari dan mengontrol nilai-nilai mereka.
  • Peneliti harus menjadi aktif terlibat dengan partisipan untuk memahami pandangan-pandangan mereka.
  • Teori dan hipotesis dihasilkan selama pengumpulan data dan memperoleh makna melalui interkasi manusia.

Advocacy-Liberatory:Action-Oriented Approaches

  • Realitas  dikonstruksi oleh ketidaksamaan sosial, politik, dan kultural.
  • Meskipun metode-metode kualitatif  lebih disukai, latar dan masalah penelitian dapat diteliti menggunakan  metode apapun yang benar-benar mewakili pengalaman partisipan.
  • Penelitian harus didasarkan pada nilai-nilai  dan harus memberdayakan kelompok-kelompok marginal untuk meningkatkan taraf hidup mereka.
  • Peneliti harus berkolaborasi sebagai patner yang setara.
  • Teori dan hipotesis harus  dapat menyediakan perencanaan tindakan untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik.

Pragmatisme: Action-oriented Approaches

  • Realitas langsung pemecahan masalah harus menjadi fokus  penelitian.
  • Latar dan masalah penelitian dapat diteliti melalui metode apapun yang secara akurat mendeskripsikan dan memecahkan suatu masalah.
  • Peneliti harus berusaha menemukan cara-cara untuk membuat (pendidikan)  lebih baik.
  • Peneliti harus berkolaborasi dengan partisipan untuk memahami secara penuh apa yang bekerja.
  • Teori dan hipotesis adalah alat yang bermanfaat membantu peningkatan pengetahuan (penndidikan). (Lodico, Spaulding  dan Voegtle, 2006: 6-10)

Pendekatan induktif dan pendekatan hypothetic-deductive untuk pengetahuan  adalah dua jalur umum yang digunakan dalam penelitian. Penalaran induktif sangat dekat diasosiasikan dengan pendekatan penelitian kualitatif, yang mengumpulkan dan merangkum data menggunakan metode naratif atau verbal: observasi, wawancara, dan analisis dokumen.

Peneliti kualitatif sering dikatakan mengambil pendekatan induktif untuk mengumpulkan data karena mereka merumuskan hipotesis hanya setelah mereka mulai melakukan observasi, wawancara, dan analisis dokumen. Hipotesis ini diuji dan dimodifikasi dengan pengumpulan data lanjutan ketimbang diterima atau ditolak secara serentak. Peneliti kualitatif percaya bahwa pemahaman penuh fenemona bergantung pada konteks, dengan demikian mereka menggunakan teori setelah pengumpulan data untuk mendukung pola-pola yang diamati.

Metode hypothetic-deductive sangat dekat diasosiasikan dengan pendekatan kuantitatif, yang merangkum data menggunakan angka-angka. Dalam penelitian kuantitatif, hipotesis dan metode pengumpulan data ditetapkan sebelum penelitian dimulai.

Hipotesis atau teori kemudian diuji, dan ketika didukung, biasanya hipotesis atau teori ini dipandang dapat digeneralisasikan: dapat diaplikasikan pada siatuasi dan populasi yang sama yang lebih luas. Peneliti kuantitatif juga dapat menggunakan penalaran induktif  sebagaimana mereka mencari pengalaman, hasil, ide, konsep, atau teori yang sama. (Lodico, Spaulding  dan Voegtle, 2006: 5-6)

Paradigma (paradigm) bersifat perspektif atau berisi pandangan-pandangan penelitian sejalan dengan paradigma yang dipilih.  Paradigma penelitian merupakan kerangka berpikir yang menjelaskan bagaimana cara pandang peneliti terhadap fakta kehidupan sosial dan perlakuan peneliti terhadap ilmu atau teori. Paradigma penelitian juga menjelaskan bagaimana peneliti memahami suatu masalah, serta criteria pengujian sebagai landasan untuk menjawab masalah penelitian (Guba & Lincoln, 1988: 89-115).

Secara garis besar, ada tiga paradigma penelitian, yakni kualitatif (qualitative research), kuantitatif (quantitative research),  campuran kualitatif-kuantitatif (mixed research).  Paradigma kualitatif dan paradigm kuantitatif dalam suatu penelitian itu  tidak selamanya dikotomis, tetapi ada juga yang bersifat kontinum. Masing-masing paradigma atau pendekatan ini mempunyai kelebihan dan juga kelemahan, sehingga untuk menentukan pendekatan atau paradigma yang akan digunakan dalam melakukan penelitian tergantung pada beberapa hal di antaranya (1) jika ingin melakukan suatu penelitian yang lebih rinci yang menekankan pada aspek detail yang kritis dan menggunakan cara studi kasus, maka pendekatan yang sebaiknya dipakai adalah paradigma kualitatif. Jika penelitian yang dilakukan untuk mendapat kesimpulan umum dan hasil penelitian didasarkan pada pengujian secara empiris, maka sebaiknya digunakan paradigma kuantitatif, dan (2) jika penelitian ingin menjawab pertanyaan yang penerapannya luas dengan obyek penelitian yang banyak, maka paradigma kuantitaif yang lebih tepat, dan jika penelitian ingin menjawab pertanyaan yang mendalam dan detail khusus untuk satu obyek penelitian saja, maka pendekatan naturalis lebih baik digunakan.

Dasar pemilihan paradigma penelitian adalah kesesuaian paradigma penelitian dengan kebutuhan, yakni kesesuaian dengan tujuan penelitian yang akan dicapai, masalah yang akan dipecahkan, dan karakteristik data yang akan dikumpulkan. Paradigma yang dipilih digunakan untuk pencapaian tujuan penelitian, pemecahan masalah, dan karakteristik data yang akan dikumpulkan. Paradigma penelitian kualitatif dipilih bila penelitian bertujuan menjelaskan apa dan mengapa suatu fenomena terjadi, datanya verbal, interpretatif, multirealitas dan multitafsir, bergan-tung konteks, dan untuk mengembangkan teori. Paradigma penelitian kuantitatif dipilih bila penelitian bertujuan menjelaskan berapa banyak suatu fenomena, bagaimana hubungan antaraspek, datanya bersifat numerikal, dapat diukur, ”bebas” konteks, dan untuk menguji teori. Paradigma penelitian kualitatif-kuantitatif dipilih bila penelitian itu membutuhkan cara-cara kualitatif dan kuantitatif sekaligus untuk menjelaskan fenomena dan tujuan penelitian. Secara umum sebenarnya jenis penelitian dikelompokkan menjadi dua yakni paradigma penelitian kuantitatif dan paradigm penelitian kualitatif. Kedua metode ini sering dipasangkan sebagai dua kutub utama dalam ragam penelitian, sementara klasifikasi jenis penelitian yang diungkapkan di atas merupakan kekayaan wacana dalam penelitian. Pemilahan secara ekstrim terhadap ragam penelitian menjadi 2 tersebut dikarenakan kemudahan membedakan paradigma dan prosedur operasional yang dilakukan.

  1. A.     Penelitian Kuantitatif

Pendekatan penelitian kuantitatif adalah penelitian yang mempunyai keyakinan bahwa fokus penelitian merujuk kepada kuantitas (berapa banyak) dengan menggunakan landasan filsafat positivisme dan empirisme. Pendekatan penelitian kuantitatif memiliki cara pandang positivism, yaitu cara pandang yang menyatakan bahwa eksistensi kenyataan/realitas social dan realitas fisik adalah independent atau terpisah bebas atau berada di luar dari peneliti, oleh karena itu siapa saja yang akan meneliti realitas tersebut, dapat mengamati atau mengukurnya, dan apabila pengamatan/pengukurannya tidak bias maka hasil-hasil penelitian tersebut dapat dikategorikan sebagai pengetahuan ilmiah (scientific knowledge). (Borg: 2003, p.14).

Cara pandang positivism memiliki karakteristik sebagai berikut: 1) asumsi bahwa  realitas adalah objektif, terpisah di luar peneliti, dapat diamati dan diukur, 2) tujuan penelitian adalah mendeskripsikan dan menjelaskan hubungan antar variabel yang diukur, 3) fokus pada reduksi realitas menjadi variabel dan variabel dapat diukur dengan instrumen dan menghasilkan data numerik, 4) asumsi metodologis : proses deduktif, hubungan antar variabel, sebab-akibat, disain statis-telah ditentukan sebelum penelitian, bebas konteks (context-free), hasil prediksi-eksplanasi dapat digeneralisasikan, validitas dan reliabilitas dapat diketahui,  5) analisis data menggunakan analisis statistika, 6) peranan kajian teoretik sangat dominan untuk menjelaskan dan menjawab pertanyaan penelitian/rumusan masalah, 7) Data kuantitatif berpusat pada unit  analisis dan berbentuk distribusi. (Borg: 2003, p.25 – Creswell : 2008, p.52 – Creswell: 1994, p.5 –McMillan:2006, p.13 – Neuman : 1997, p. 14, Cohen: 2007, p.8).

Penelitian kuantitatif memusatkan perhatiannya pada gejala yang mempunyai karakteristik tertentu  yang bervariasi dalam kehidupan manusia, yang dinamakan variabel. Hakikat hubungan antar variabel dianalisis dengan menggunakan teori yang objektif. Karena sasaran kajian dari penelitian kuantitatif adalah gejala, sedangkan gejala yang ada dalam kehidupan manusia tidak terbatas dan tidak terbatas pula kemungkinan variasi dan hierarkinya. Penelitian kuantitatif berfokus pada variabel, bahkan sebelum penelitian dilakukan telah ditentukan terlebih dahulu variabel yang akan diteliti.

Dalam penelitian kuantitatif pengukuran terhadap gejala yang diamati merupakan hal yang sangat penting, sehingga pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan instrumen yang disusun berdasarkan indikator  dari variabel yang diteliti yang kemudian menghasilkan data kuantitatif.

Jenis penelitian kuantitatif dapat digolongkan berdasarkan metode pemecahan masalah sebagai berikut:

Jenis Penelitian Kuantitatif

  1. a.       Kuantiatif Komperartif

Penelitian kuantitaif komperatif terdiri atas penelitian eksperimen dan penelitian ex post facto. Berdasarkan tempat penelitiannya, maka penelitian eksperimen terdiri atas:

Tipe penelitian eksperimen:

1)       Laboratory experiments (Penelitian eksperimen di Laboratorium)

2)       Field experiments (Penelitian  Eksperimen di Lapangan)

Berdasarkan tingkat presisi yang dicapai, penelitian eksperimen terdiri atas:

1)       Pra ekspermen

2)       Quasi-experiments

3)       True-Experiment

  1. b.      Penelitian Expost Facto

Peneliitian expost facto adalah mempelajari fakta yang sudah ada dengan menggunakan disain eksperimen.

  1. B.     Penelitian Kuantiatif Asosiatif

Penelitian kuantitatif aosiatif mempelajari hubungan antar variabel baik hubungan yang bersifat korelasi maupun hubungan yang bersifat kausal; dengan menggunakan teknik analisis korelasional, analisis jalur, maupun SEM.

  1. C.     Penelitian Kualitatif

Pendekatan penelitian kualitatif adalah penelitian yang berisi pandangan atau keyakinan bahwa fokus penelitian adalah kualitas (hakikat dan esensi), akar filsafat yang dianut di antaranya adalah fenomenologi dan interaksi simbolik, aktivitas utamanya adalah kerja lapangan, etnografis, grounded. Tujuan penelitian kualitatif adalah pemahaman, deskripsi, temuan, dan pemunculan hipotesis. Desain yang digunakan bersifat fleksibel, berevolusi, dan dinamis. Latar penelitiannya bersifat alamiah. Sumber data yang dijadikan sasaran kecil (sempit), tidak acak.  Pengumpulan data dengan memanfaatkan peneliti sebagai instrumen utama. Modus analisis bersifat induktif, dan temuan bersifat komprehensif dan holistik, serta mementingkan transferabilitas.

Terdapat lima ciri utama penelitian kualitatif, yaitu:

a)       Naturalistik. Penelitian kualitatif memiliki latar aktual sebagai sumber langsung data dan peneliti merupakan instrumen kunci. Kata naturalistic berasal dari pendekatan ekologis dalam biologi. Peneliti masuk dan menghabiskan waktu di sekolah, keluarga, kelompok masyarakat, dan lokasi-lakasi lain untuk mempelajari seluk beluk pendidikan. Walaupun beberapa orang menggunakan peralatan videotape dan peralatan perekam, banyak yang pergi sepenuhnya tidak dilengkapi peralatan tersebut kecuali izin dan tambahan pemahaman yang akan diperoleh di lokasi.

b)       Data Deskriptif. Penelitian kualitatif adalah deskriptif. Data  yang dikumpulkan lebih mengambil bentuk kata-kata atau gambar daripada angka-angka. Hasil penelitian tertulis berisi kutipan-kutipan dari data untuk mengilustarasikan dan menyediakan bukti presentasi. Data tersebut mencakup transkrip wawancara, catatan lapangan, fotografi, videotape, dokumen pribadi, memo, dan rekaman-rekaman resmi lainnya. Dalam pencarian mereka untuk pemahaman, peneliti kualitatif tidak mereduksi halaman demi halaman dari narasi dan data lain ke dalam simbol-simbol numerik. Mereka mencoba menganalisis data dengan segala kekayaannya sedapat dan sedekat mungkin dengan bentuk rekaman dan transkripnya.

c)       Berurusan dengan Proses. Peneliti kualitatif lebih berkonsentrasi pada proses dari pada dengan hasil atau produk. Bagaimana orang melakukan negosiasi makna? Bagaimana  istilah-istilah atau label-label tertentu muncul untuk diaplikasikan? Bagaimana pemikiran-pemikiran tertentu datang untuk diambil menjadi bagian dari apa yang kita kenal sebagai pengertian umum (Common sense)? Apa sejarah alami dari aktivitas atau peristiwa yang diteliti?

d)       Induktif. Peneliti kualitatif cenderung menganalisis data mereka secara induktif. Mereka tidak melakukan pencarian di luar data atau bukti untuk menolak atau menerima hipotesis yang mereka ajukan sebelum pelaksanaan penelitian. Teori yang dikembangkan dengan cara ini muncul dari bawah ke atas (bukan dari atas ke bawah), dari banyak butir berbeda-beda dari bukti-bukti yang terkumpul yang saling berhubungan. Teori tersebut didasarkan pada data. Sebagai seorang peneliti kualitatif yang merencanakan dan mengembangkan berapa jenis teori tentang apa yang  telah Anda teliti, arah yang akan Anda tuju akan datang setelah Anda mengumpulkan data, setelah Anda menghabiskan waktu dengan subjek Anda.

e)       Makna. Makna adalah kepedulian yang esensial pada pendekatan kualitatif. Peneliti yang menggunakan pendekatan ini tertarik pada bagaimana orang membuat pengertian tentang kehidupan mereka. Dengan kata lain, peneliti kualitatif peduli dengan apa yang disebut perspektif partisipan. Mereka memfokuskan pada pertanyaan-pertanyaan seperti: Apa asumsi yang dibuat orang tentang kehidupan mereka? Apa yang dilakukan orang untuk menjamin? Dalam sebuah penelitian pendidikan misalnya, peneliti memfokuskan bagian dari pekerjaannya perspektif orang tua tentang pendidikan anak-anak mereka. Dia ingin mengetahui apa pendapat orang tua tentang kemengapaan anak-anak mereka tidak dapat melakukan yang baik di sekolah. Dia menemukan bahwa orang tua yang diteliti merasa bahwa guru-guru tidak menilai pemahaman mereka tentang anak mereka sendiri karena kemiskinan mereka dan kekurangan pendidikan mereka. Orang tua juga menilai guru bertanggung jawab yang mengasumsikan bahwa kemiskinan dan kekurangan pendidikan ini berarti bahwa anak-anak tersebut tidak akan menjadi siswa yang baik (Bogdan dan Biklen, 2008: 4-8).

Jadi, jenis penelitian kualitatif dapat digolongkan sebagai berikut:

(1)     Penelitian Etnografi

(2)     Penelitian Studi Kasus

(3)     Penelitian Fenomenologis

(4)     Penelitian Grounded Theory

(5)     Penelitian Biografi/Naratif

(6)     Penelitian Analisis Isi

  1. D.     Penelitian Campuran (Mixed Methods)

Paradigma penelitian mixed methods adalah paradigma penelitian yang memadukan pandangan-pandangan kualitatif dan kuantitatif dalam pelaksanaan suatu penelitian. Pemaduan metode-metode kualitatif dan kuantitatif dapat dilakukan dalam tiga kemungkinan, yakni dalam bentuk komplementasi (complementation), kombinasi (combination), dan triangulasi atau lintas validasi (triangulation or cross-validation) (Lazaro dan Marcos, 2006).

Selain tipe pendekatan penelitian yang berorientasi kepada knowledge (knowledge-oriented approaches)., ada tipe pendekatan penelitian yang berorientasi kepada tindakan (action-oriented approaches). Penelitian dengan tipe pendekatan tindakan terdiri dari dua tipe yaitu:

1)              riset melalalui tindakan/riset aksi dengan kolaborasi untuk pemberdayaan suatu komunitas, perubahan ke arah perbaikan, dan pembebasan dari keterbelakangan dan kesukaran kehidupan, untuk memperoleh kehidupan yang lebih baik (advocacy-liberatory), penelitian ini banyak menggunakan pendekatan kualitatif,  dan

2)              pendekatan penelitian praktis, pragmatis dan bersifat terapan  (pragmatism), yang dilandasi dengan pokok-pokok pemikiran:

a)       dominasi utama adalah pada tuntutan pertanyaan-pertanyaan penelitian yang mencakup tentang hasil /outcomes (quantitative), maupun tentang proses/process (qualitative),

b)       tujuan penelitian untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian secara komprehensif yang tidak cukup mampu dijawab oleh hanya menggunakan satu pendekatan penelitian,

c)       memilih metode yang tepat untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian yaitu pilihan penggunaan metode campuran (mixed method),

d)       mendukung penggunaan metode penelitian kuantitatif dan kualitatif sekaligus dalam studi penelitian yang sama,

e)       filosofi penelitian bersifat praktis dan terapan.

Alasan utama penggunaan pendekatan metode campuran (mixed method)  yaitu :

1)             untuk alasan triangulasi metode (methods triangulation), menggunakan metode lebih dari satu untuk melakukan studi penelitian yang sama, dan untuk memperkuat dan memperkaya kesimpulan-kesimpulan studi,

2)             untuk alasan saling melengkapi (complementary), peneliti berusaha untuk memperoleh suatu pemahaman penuh/total secara komprehensif (greater understanding) tentang masalah penelitian (research problem) yang diteliti dan atau untuk mengklarifikasi hasil-hasil penelitian yang sudah ada,

3)             untuk alasan pengembangan (development), peneliti mengembangkan hasil penelitian dari penggunaan metode pertama dengan menggunakan metode kedua, seperti penggunaan hasil penelitian kuantitatif yang pertama, kemudian dikembangkan implementasinya dengan proses penelitian kualitatif (atau sebaliknya) dengan harapan hasil penelitian lebih mampu menghasilkan nilai tambah (added value) pemahaman dari hasil kedua studi tersebut,

4)             untuk alasan prakarsa/inisiatif (initiation) melakukan study baru, temuan-temuan suatu penelitian boleh jadi berpeluang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan penelitian atau kontradiksi-kontradiksi yang menarik untuk dilakukan klarifikasi dengan penelitian yang baru. Hasil hasil penelitian tersebut akan berpengaruh  pada peningkatan pemahaman baru terhadap keberadaan suatu teori yang berkaitan dengan fenomena-fenomena yang sedang diteliti,

5)             alasan untuk tujuan ekspansi (expansion), peneliti kemungkinan bermaksud untuk memperluas wawasan study (ekspansi), study yang satu menghasilkan temuan-temuan yang rinci dan membantu peneliti untuk melakukan upaya penelitian yang akan datang serta menyarankan para peneliti lain secara berlanjut menggunakan metode penelitian yang berbeda untuk  mengembangkan atau memodeifikasi pertanyaan-pertanyaan penelitian yang sebelumnya.

Penelitian dengan pendekatan metode campuran/kombinasi (mixed method)  sesungguhnya merupakan suatu prosedur untuk pengumpulan, analisis data, dan penggunaan campuran/kombinasi penelitian dan metode kuantitatif dan kualitatif dalam melaksanakan study yang sama untuk memperoleh pemahaman terhadap masalah utama (research problem). Tipe disain penelitian mixed method  berdasarkan pada aspek urutan pengumpulan data kuantitatif dan kualitatif serta aspek prioritas atau bobot yang diberikan pada masing-masing bentuk data, teridiri dari :

1) disain sekuensial  yaitu :

KUANTITATIF

TEMUAN

Kualitatif

Artinya  penelitian ini prioritas adalah penelitian dengan metode kuantitatif, dan penelitian dengan metode kualitatif dibutuhkan untuk menjelaskan hasil penelitian kuantitatif atau untuk mengelaborasi lebih lanjut temuan-temuan penelitian kuantitatif, pengumpulan data dilakukan secara sekuensial, pertama adalah data kuantitatif dengan analisisnya, dan kemudian diikuti dengan pengumpulan data kualitatif dengan analisisnya. Data kualitatif digunakan untuk menjelaskan temuan-temuan penelitian kuantitatif. Secara diagram gambar dapat disajikan sebagai berikut.

Pertanyaan penelitian

(Research question)

Desain Metode Campuran

diikuti dengan

KUANT                                         Kual                                    temuan-temuan dan

Pengumpulan data                        Pengumpulan data              Interpretasi seluruh

Kuantitatif                                 kualitatif                         analisis

dan analisis data kuantitatif         dan  analisis data kualitatif

Gambar 1.  Disain mixed method model sekuensial

Model disain sekuensial yang lain dapat berbentuk :

TEMUAN

KUANTITATIF

kualitatif

(Priotitas pada penelitian Qualitatif, pengumpulan data kualitatif dan analisis data, kemudian  diikuti dengan pengumpulan data kuantitatif dan analisis data )

TEMUAN

Kuantitatif

KUALITATIF

(Priotitas pada penelitian Qualitatif, pengumpulan data kualitatif dan analisis data, kemudian diikuti dengan pengumpulan data kuantitatif dan analisis data).

2)  disain simultan yaitu pengumpulan data kuantitatif dan kualitatif dilakukan secara simultan, dan kemudian dengan menggunakan hasil analisis data kuantitatif dan kualitatif disusun interpretasi, disain :

KUANTITATIF

TEMUAN

kualitatif

+

(prioritas utama)                         (prioritas kedua)

Atau

TEMUAN

Kuantitatif

KUALITATIF

                          +

(prioritas utama)                   (prioritas kedua)

Secara diagram gambar dapat disajikan sebagai berikut.

Pertanyaan penelitian

(Research question)

Desain Metode Campuran

KUANTITATIF                                                         Kualitatif

Pengumpulan data                                                        Pengumpulan data

Kuantitatif                                                              kualitatif

analisis data                                                        analisis data

temuan-temuan

membandingkan temuan dan menghubungkan dengan pertanyaan-pertanyaan

penelitian

Gambar 2.  Disain mixed method model simultan/paralel

Berdasarkan pada penjelasan rancangan/disain penelitian, maka penggunaan pendekatan penelitian mixed method, dapat menjadi dasar:

1)       Rancangan penelitian tindakan (action research) dengan rancangan penelitian metode campuran/mixed method yang bersifat simultan komplementer, dengan disain sebagai berikut:

Kuantitatif

KUALITATIF

+

Berdasarkan disain ini prioritas adalah pada penelitian kualitatif dengan pengumpulan data kualitatif (proses) dan dapat digunakan secara simultan dengan pengumpulan data kuantitatif tentang bagian-bagian hasil dari pelaksanaan tindakan yang dapat diukur, untuk meningkatkan kelengkapan deskripsi data dan interprestasi kualitatif sehingga peneliti dapat memperoleh suatu pemahaman penuh/total secara komprehensif tentang proses dan hasil perbaikan yang diperoleh dari pelaksanaan penelitian tindakan yang diteliti,

2)       Rancangan penelitian evaluasi program/kebijakan (program evaluation/policy research), dalam penelitian evaluasi program ada dua tipe yaitu: (a) Evaluasi Summative, dan (b) Evaluasi Formative. Evaluasi Summative bertujuan untuk menentukan efektivitas suatu intervensi tindakan yang direncanakan (program, kebijakan, hasil-hasil/produk), dengan focus riset adalah pada tujuan-tujuan utama intervensi tindakan tersebut (hasil-hasil intervensi/outcomes), hasil yang diharapkan adalah generalisasi tentang efektivitas intervensi tindakan dan kondisi-kondisi pendukungnya. Evaluasi Formative bertujuan untuk perbaikan yang selayaknya dilakukan terhadap suatu intervensi tindakan yang telah dilaksanakan (program, kebijakan), dengan fokus riset adalah pada kekuatan-kekuatan dan kelemahan-kelemahan spesifik tindakan/program/ kebijakan, hasil-hasil/produk dari intervensi tersebut, dan hasil yang diharapkan adalah rekomendasi untuk perbaikan/ improvement.  Pada tipe Evaluasi Summative dapat menggunakan disain campuran/mixed method

sekuensial:

Kuantitatif

KUALITATIF

penggunaan metode penelitian secara berurutan kualitatif, kemudian kuantitatif, dengan prioritas pada kualitatif (proses), dengan rasional adalah untuk mengungkapkan efektivitas suatu tindakan intervensi maka dibutuhkan data proses bagaimana penerapan aspek-aspek yang menjadi tujuan intervensi tindakan itu dilaksanakan, apakah sesuai dengan prosedur criteria yang ditetapkan, apakah dengan menggunakan kaidah-kaidah manajemen yang tepat, dan kemudian dibutuhkan kelengkapan data tentang pencapaian hasil-hasil/outcomes intervensi tindakan berupa data kuantitatif.

Pada tipe Evaluasi Formatif dapat menggunakan disain campuran/mixed method  simultan komplementer:

KUALITATIF

Kuantitatif

    +

penggunaan metode penelitian kualitatif secara simultan dengan metode kuantitatif, dengan prioritas penelitian qualitative (proses), dengan rasional adalah untuk mengungkapkan kekuatan dan kelemahan spesifik intervensi tindakan menggunakan pengamatan proses dan dapat digunakan secara simultan dengan pengumpulan data kuantitatif tentang bagian-bagian hasil dari pelaksanaan intervensi tindakan yang dapat diukur, sehingga dapat diperoleh suatu pemahaman secara komprehensif tentang kekuatan dan kelemahan proses dan hasil   pelaksanaan intervensi tindakan yang diteliti.

3)  Rancangan penelitian pengembangan Model (R and D),:

a. Penelitian dan Pengembangan Instrumen

Penelitian dan Pengembangan, dapat menggunakan disain campuran/mixed method

sekuensial :

Kuantitatif

KUALITATIF

penggunaan metode penelitian secara berurutan kualitatif, kemudian kuantitatif, dengan prioritas pada kualitatif (proses), dengan rasional adalah untuk mengungkapkan proses perancangan model, dan pengembangan model, serta penerapannya, maka dibutuhkan data proses bagaimana aspek-aspek pengembangan model itu terjadi dan kemudian dibutuhkan kelengkapan data tentang pencapaian hasil-hasil/outcomes model berupa data kuantitatif.

Atau dengan menggunakan disain campuran/mixed method sekuensial:

Kualitatif

KUANTITATIF

penggunaan metode penelitian secara berurutan kuantitatif, kemudian kualitatif, dengan prioritas pada kuantitatif (hasil), dengan rasional adalah untuk mengungkapkan hasil dari pengembangan model secara kuantitatif. Atau dengan rancangan disain campuran/mixed method triangulasi:

KUANTITATIF

Kualitatif

+

dengan penjelasan gambar berikut.

KUANT        +             kual

Pengumpulan data KUANT                              Pengumpulan data qual

Analisis data KUANT                                             Analisis data qual

Hasil data dibandingkan

b. Pengembangan Instrumen, dapat menggunakan disain campuran/mixed method  triangulasi (sama dengan penjelasan sebelumnya). :

Kualitatif

                          +

KUANTITATIF

dengan penjelasan gambar berikut.

KUANT        +             kual

Pengumpulan data KUANT                                 Pengumpulan data qual

Analisis data KUANT                                      Analisis data qual

Hasil data dibandingkan

Demikian penjelasan materi tersebut sebagai  diharapkan dapat menjadi landasan wawasan metode ilmiah untuk sistematika penulisan tesis dan disertasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab 3

Sistematika Tesis dan Disertasi

            Pada bab ini dibahas mengai sistematika penulisan tesis dan disertasi berdasarkan metode penelitian yang digunakan. Dari berbagai metode penelitian yang ada dalam keilmuan dapat digunakan oleh mahasiswa, Agar ada kesamaan format, Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta mengelompokkan dalam lima kelompok. Di dalam kelompok tersebut mencakupi berbagai metode penelitian yang sejenis, sehingga secara garis besar dapat menggunakan format yang sama.

  1. A.     KELOMPOK METODE PENELITIAN KUANTITATIF
  2. 1.       KUANTITATIF KOMPERATIF(EKSPERIMEN DAN EX POST FACTO)

 

1.1.   SISTEMATIKA

 

BAB  I     PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah
  2. Identifikasi Masalah
  3. Pembatasan Masalah
  4. Perumusan Masalah
  5. Kegunaan Hasil  Penelitian

BAB  II   TINJAUAN PUSTAKA

  1. A.     Kajian Konsep
    1. Variabel Terikat atau Dependent Variable (Y)
    2. Variabel  Perlakuan atau independent Variable (A)
      1. Variabel  Moderator (B)
  1. B.   Hasil Penelitian yang Relevan
  2. C.   Kerangka Teoretik (Tergantung disain penelitian, apakah treatmen by level atau factorial design)

Treatment by Level Dua Faktor

  1. Jelaskan kerangka teoretik tentang perbedaan Y antara  Ai , i= 1,2,..,n(main effect A)
  2. Jelaskan kerangka teoretik tentang pengaruh Interaksi  antara  variabel perlakuan (A)  dan  vaiabel Moderaor (M)  terhadap  variabel Y (Interaction Effect)
  3. Jelaskan kerangka teoretik tentang perbedaan Y antara Ai pada setiap level  (simple effect)

 

Factorial Design

  1. Jelaskan kerangka teoretik tentang  perbedaan Y antara  Ai , i= 1,2,..,k(main effect A)
  2. Jelaskan kerangka teoretik tentang  perbedaan Y antara Bj , j= 1,2,..,k(main  effect B)
  3. Jelaskan kerangka teoretik tentang pengaruh Interaksi antara  A  dan  B  terhadap  variabel Y (Interaction effect)
  4. Jelaskan kerangka teoretik tentang perbedaan Y antara Ai pada setiap level Bj (simple effect A)
  5. Jelaskan kerangka teoretik tentang perbedaan Y antara Bj  pada setiap level Ai (simple effect B)
  6. D.     Hipotesis Penelitian (jumlah sama dengan banyaknya kerangka berpikir  dan sama dengan banyaknya rumusan masalah)

BAB  III   METODOLOGI PENELITIAN

  1. Tujuan  Penelitian
  2. Tempat dan Waktu Penelitian
  3. Metode Penelitian
    1. Desain Penelitian
    2. Variabel Penelitian
    3. Populasi dan Sampel
    4. Rancangan Perlakuan
  • Definisi  Konseptual  (konstruk)
  • Definisi  Operasional (jelaskan banyaknya perlakuan)
  1. Kontrol Validitas Internal dan Eksternal Rancangan Penelitian
  2. Teknik Pengumpulan Data

Data dikumpulkan dengan menggunakan instrumen dengan tahapan pengembangan Instrumen  sebagai berikut:

1)       Variabel Terikat

  • Definisi  Konseptual  (konstruk)
  • Definisi  Operasional (berkaitan dengan pengukuran)
  • Kisi-kisi  Instrumen
  • Jenis Instrumen
  • Uji Validitas dan Reabilitas

2)       Variabel Atribut atau variabel moderator (jika diperlukan)

  • Definisi  Konseptual (konstruk)
  •  Definisi  Operasional (berkaitan dengan pengukuran)
  • Kisi-kisi  Instrumen
  • Jenis Instrumen
  • Uji validitas dan Reabilitas
  1. Teknik Analisis Data
  2. Hipotesis Statistika

 

BAB IV  HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Deskripsi Data

Penyajian data Y untuk kelompok-kelompok:

A i, Bj, A iBj

  1. Uji Persyaratan Analisis
  2. Pengujian Hipotesis
  3. Pembahasan Hasil Penelitian

BAB  V   KESIMPULAN  IMPLIKASI  DAN  SARAN 

  1. Kesimpulan
  2. Implikasi
  3. Saran

DAFTAR  PUSTAKA

 

LAMPIRAN 

Lampiran   1  Rancangan  Perlakuan

Lampiran   2  Instrumen

Lampiran   3  Hasil Ujicoba

Lampiran   4  Kisi-kisi Akhir  (sesudah Ujicoba)

Lampiran   5  Data Hasil Penelitian  (Variabel Terikat dan data Variabel Moderator)

Lampiran   6  Pengujan  Persyaratan Analisis

Lampiran   7  Pengujian  Hipotesis

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

1.2.        PENJELASAN

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.     Latar Belakang Masalah

Pada bagian ini dijelaskan tentang fakta-fakta (das sein) dan harapan-harapan (das solen) sehingga dapat ditunjukkan kesenjangan (masalah-masalah), yang akan menjadi masalah penelitian. Fakta-fakta bisa merupakan apa yang ada sekarang, data sekunder, hasil observasi, pengalaman pribadi, dan hasil penelitian lainnya. Sedangkan harapan-harapan dapat berupa apa yang ada di undang-undang, peraturan, visi-misi, renstra, kurikulum, atau teori-teori yang terdapat dalam text book (literature).

Ada beberapa kriteria yang dapat digunakan untuk menilai apakah suatu masalah itu penting sebagai masalah penelitian.

  • Pertama,  Ideal,  yaitu apakah pemecahan  masalah tersebut akan memberikan sumbangan terhadap bangunan pengetahuan di bidang pendidikan ?  Misalnya apakah hasil penelitian ini akan berguna bagi pengambil keputusan di bidang pendidikan ?  Apakah hasil-hasil penelitian itu akan dapat digeneralisasi secara luas  dll.
  • Kedua,  Masalah tersebut hendaknya masalah yang akan membawa kita kepada masalah-masalah baru dan juga kepada penelitian berikutnya.
  • Ketiga,  Masalah tersebut harus merupakan masalah yang dapat diteliti,  karena banyak pertanyaan yang menarik di bidang pendidikan tidak dapat diteliti secara empiris, tetapi harus diteliti melalui penelitian filosofi.   Seharusnya  agar dapat diteliti suatu masalah harus berkenaan dengan hubungan antara dua atau lebih variabel yang dapat dirumuskan dan diukur.
  • Keempat,  apakah masalah tersebut cocok bagi peneliti?  Karena ada beberapa aspek pribadi yang  harus diperhatikan;   a)  menarik bagi peneliti,  b) masalah berada dalam bidang yang dikuasai oleh peneliti,  c)  masalah tersebut dapat dilaksanakan dalam situasi di tempat peneliti berada, dan   d)  harus dapat diteliti serta diselesaikan dalam waktu yang tersedia.
  1. B.     Identifikasi Masalah

Uraian yang bersifat narasi berbagai masalah yang muncul akibat kesenjangan antara das sein dan das solen.  Uraian tersebut dapat berupa pertanyaan tentang hubungan dan atau pengaruh antara beberapa variabel dengan variabel lainnya.

  1. C.     Pembatasan Masalah

Pada bagian ini ditetapkan masalah yang akan diteliti sesuai dengan tujuan penelitian dan criteria yang diuraikan pada point A.

  1. D.     Perumusan Masalah

Pada bagian ini dirumuskan masalah penelitian dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan penelitian yang berkaitan dengan “hubungan/pengaruh dan atau perbedaan” antara variabel terikat, variabel atribut, dan varabel moderator. Misalnya:

Disain by level

Apakah terdapat perbedaan/pengaruh pada variabel Y jika diberikan perlakuan yang berbeda pada variabel Atribut

Disain factorial

  1. Apakah terdapat perbedaan pada variabel Y jika dilakukan perlakuan yang berbeda pada variabel Atribut
  2. Apakah terdapat perbedaan pada variabel Y jika terdapat perbedaan pada variabel moderator.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. A.     Kajian Konseptual      

Pada bagian ini dibahas variabel penelitian secara konseptual dari berbagai teori atau konsep para ahli.  Kajian konseptual ini dimulai dari variabel Y (variabel terikat), variabel X1 (variabel eksperimen) dan variabel X2 (variabel atribut/variabel moderator). Untuk setiap variabel penelitian dituntut 5 (lima) rujukan konsep para ahli (untuk Tesis) dan 7 (tujuh) rujukan konsep para ahli (untuk disertasi). Pada akhir setiap kajian konseptual suatu variabel disusun (sintesis) konstruk variabel tersebut. Konstruk suatu variabel adalah suatu definisi konseptual, yang berisi dimensi-dimensi variabel, aspek-aspek setiap dimensi dan indikator-indikator setiap aspek. Jika suatu variabel penelitian tidak terlalu besar maka suatu konstruk mungkin hanya berisi indicator-indikator variabel tersebut.

  1. B.     Penelitian Relevan

Pada bagian ini dibahas beberapa hasil penelitian lain yang berkaitan dan bermutu (minimal tiga penelitian) sesuai dengan variabel penelitian yang akan dilakukan.

  1. C.     Kerangka Teori

Kerangka teori adalah merupakan penalaran yang bersifat deduktif dari konsep-konsep setiap variabel, yang mengarah ke hubungan sebab akibat antara variabel bebas dengan variabel terikat.  Kerangka teori ini dijadikan sebagai dasar dalam mengarahkan penyusunan hipotesis penelitian,  sebagai contoh:

Disain factorial By Level (Variabel Moderator terdiri dari dua level)

  1. Jelaskan kerangka teori tentang pengaruh atau perbedaan metode  A1   dan metode  A2   terhadap variabel  Y (main effect)
  2. Jelaskan kerangka teori tentang pengaruh Interaksi  antara  variabel perlakuan (A)  dan  vaiabel atribut (M)  terhadap  variabel Y (Interaction Effect)
  3. Jelaskan kerangka teori tentang pengaruh atau perbedaan  A1T  dan  A2T     terhadap variabel Y (simple effect)
  4. Jelaskan kerangka teori tentang pengaruh atau perbedaan  A1R  dan A2 R   terhadap variabel Y  (simple effect)

Disain Faktorial (variabel moderator terdiri dua sub variabel yang bukan level)

  1. Jelaskan kerangka teori yang tentang  pengaruh atau perbedaan metode  A1   dan metode  A2   terhadap variabel Y (main effect)
  2. Jelaskan kerangka teori yang tentang  pengaruh atau perbedaan variabel atribut B1   dan  B2   terhadap variabel Y (main  effect)
  3. Jelaskan kerangka teori tentang pengaruh Interaksi antara  A  dan  B  terhadap  variabel Y (Interaction effect)
  4. Jelaskan kerangka teori tentang pengaruh atau perbedaan A1 B1 dan  A2 B1 terhadap variabel Y  (simple effect)
  5. Jelaskan kerangka teori tentang pengaruh atau perbedaan A1 B2 dan  A2 B2 terhadap variabel Y  (simple effect)
  6. Jelaskan kerangka teori tentang pengaruh atau perbedaan A1 B1 dan  A1 B2 terhadap variabel Y  (simple effect)
  7. Jelaskan kerangka teori tentang pengaruh atau perbedaan A2 B1 dan  A2 B2 terhadap variabel Y  (simple effect)
  1. D.     Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara dari pertanyaan penelitian yang terdapat dalam  rumusan masalah penelitian  (pada bab satu) yang bersifat pernyataan apriori, sesuai dengan kerangka teori, yang merupakan karakteristik pada populasi.  Jumlah hipotesis sama dengan jumlah pada perumusan masalah dan kerangka teori.

Contoh:  Hasil belajar Siswa yang mengikuti pembelajaran dengan metode  A1 lebih baik daripada hasil belajar dengan metode A2.

 

F.    Hipotesis Statistik

Pada bagian ini hipotesis penelitian dirumuskan melalui lambang-lambang parameter statistika yang sesuai.

Contoh:

H0 : µA1  ≤ µA2

H1 : µA1 > µA2

 

BAB III

METODOLOGI  PENELITIAN

  1. A.     Tujuan penelitian

Menjelaskan cita-cita atau harapan yang ingin dicapai peneliti sesuai dengan masalah penelitian.

  1. B.     Tempat dan waktu penelitian

Yaitu menjelaskan tentang lokasi di mana penelitian  dilaksanakan dan kapan dilaksanakan.

  1. C.     Metode penelitian

Menjelaskan tentang metode (cara), teknik dan procedure statistika yang dipilih dan digunakan untuk memverifikasi hipotesis penelitian melalui data yang telah diperoleh.

  1. Disain atau rancangan penelitian:

Disain (rancang bangun) adalah rencana dan struktur penelitian yang disusun, sehingga dapat diperoleh gambaran jawaban pertanyaan-pertanyaan penelitian.  Disain penelitian ini diikuti  dengan konstelasi penelitian, misalnya disain penelitian eksperimen by level danata disain faktorial 2 x 2.  Kegunaannya: (1)  menjediakan gambaran jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan penelitian, dan (2) untuk mengotrol atau mengendalikan varians (Kerlinger, 1990, p. 883). Variabel Penelitian

Pada bagian ini menyebutkan kembali variabel-variabel penelitian yang terdiri dari variabel terikat, variabel bebas (variabel eksperimen), dan variabel atribut  (moderator) yang akan diteliti.  Variabel adalah suatu konsep yang dapat diukur ( Ranjit Kumar, 2005, p. 55).

  1. D.     Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel

Menjelaskan populasi yang akan diteliti (uraikan mulai dari populasi target dan populasi terjangkau).  Menjelaskan teknik dan tahap-tahap pengambilan sampel, serta besar sampel yang akan digunakan sehingga dapat diyakini representatif mewakili populasi tersebut.

  1. E.      Rancangan Perlakuan

Menyusun dan menguraikan secara rinci kegiatan dan tahap-tahap perlakuan yang akan dilaksanakan dalam kegiatan penelitian sesuai variabel eksperimen.

  1. F.      Kontrol Validitas Internal dan Eksternal Rancangan Penelitian

Menjelaskan untuk menyakinkan apakah perubahan variabel terikat adalah akibat dari perlakuan bukan dari faktor lain  (Sejarah, kematangan, pemberian pre tes, alat ukur, regression statistik, pemilihan subjek yang berbeda, hilangnya dalam eksperimen (mortalitas), dan bias dalam seleksi kelompok). Validitas Eksternal,  adalah kerepresentatifan hasil penelitian atau dapatnya hasil penelitian tersebut digeneralisasi ke populasi,  yaitu: validitas populasi dan validitas ekologi ,  untuk selanjutnya baca buku-buku metodologi penelitian).

  1. G.     Teknik Pengumpulan Data

1)       Instrumen Variabel Terikat

  • Definisi  Konseptual  (= konstruk); menyatakan kembali konstruk yang telah disusun pada bab II, secara konseptual.
  • Definisi  Operasional (berkaitan dengan pengukuran); pada bagian ini berisi definisi variabel yang terukur, yaitu bagaimana indicator variabel diukur.l
  • Kisi-kisi  Instrumen  Variabel  Terikat; membuat matrik pengembangan instrument penelitian untuk mengukur variabel penelitian melalui dimensi-dimensi, dan atau aspek-aspek dimensi serta indicator variabel.
  • Instrumen penelitian; menyusun dan membuat butir-butir pertanyaan dan atau pernyataan sesuai kisi-kisi instrumen
  • Uji validitas dan Reabilitas; melakukan uji validitas (konsep dan empiris) dan reabilitas sesuai dengan bentuk instrument.

2)       Instrumen Variabel Atribut atau variabel moderator.

  • Definisi  Konseptual (=konstruk); menyatakan kembali konstruk yang telah disusun pada bab II, secara konseptual.
  • Definisi Operasional (berkaitan dengan pengukuran); pada bagian ini berisi definisi variabel yang terukur, yaitu bagaimana indicator variabel diukur.
  • Kisi-kisi  Instrumen; membuat matrik pengembangan instrument penelitian untuk mengukur variabel penelitian melalui dimensi-dimensi, dan atau aspek-aspek dimensi serta indicator variabel.
  • Instrumen penelitian; menyusun dan membuat butir-butir pertanyaan dan atau pernyataan sesuai kisi-kisi instrumen
  • Uji validitas dan Reabilitas; melakukan uji validitas (konsep dan empiris) dan reabilitas sesuai dengan bentuk instrument.
  1. H.     Teknik Analisis Data

Analisis data berhubungan dengan teknik analisis deskriptif untuk penyajian data setiap variabel dan teknik statistika inferensial untuk pengujian hipotesis.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. A.     Deskripsi Data

Penyajian hasil analisis data berdasarakan statistika deskriptif untuk setiap kelompok,  atau dengan penyajian data dalam bentuk distribusi frekuensi  atau grafik dan lainnya.

  1. B.     Pengujian  Persyaratan Analisis
  1. Uji normalitas: menjelaskan dan menunjukkan teknik statistika yang dipergunakan untuk uji normalitas.
  2. Uji homogenitas: menjelaskan dan menunjukkan teknik statistika yang digunakan untuk uji homogenitas
  1. C.     Pengujian Hipotesis            

Menunjukkan dan menjelaskan hasil uji hipotesis  1,  2  dan seterusnya.

  1. D.     Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, perlu diberikan  argumentasi/pendapat dan interpretasi terhadap hasil  penelitian yang diperoleh berdasarkan analisis statistika. Dijelaskan juga tentang kelemahan dalam proses penelitian, yang disadari setelah kegiatan penelitian selesai.

 

BAB V

KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

  1. A.     Kesimpulan

Merupakan interpretasi  dari  temuan penelitian.

  1. B.     Implikasi

Yaitu berhubungan dengan pemanfaatan dari hasil penelitian (atau berkaitan dengan formulasi jika  … maka  …).

  1. C.     Saran

Pemikiran peneliti yang berkaitan dengan operasional  implikasi penelitian dan tingkat penelitian

 

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN 

Lampiran   1    Instrumen  Perlakuan

Lampiran   2    Instrumen  Pengukuran

Lampiran   3    Data Hasil Uji Coba

Lampiran   4    Analisis Butir  (untuk Instrumen Hasil Belajar)

Lampiran   5    Pengujian  Validitas

Lampiran   6    Perhitungan Reliabilitas

Lampiran   7    Kisi-kisi Akhir  (sesudah Uji Coba)

Lampiran   8    Data Hasil Penelitian  (Variabel Terikat)

Lampiran   9    Pengujan  Persyaratan Analisis

Lampiran 10   Pengujian  Hipotesis  1, 2, 3  dan 4  serta      Pengujian Lanjut

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

 

 

  1. 2.   KUANTITATIF ASOSIATIF

2.1. SISTEMATIKA

BAB I. PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah
  2. Identifikasi Masalah
  3. Pembatasan Masalah
  4. Rumusan Masalah
  5. Kegunaan Hasil Penelitian

BAB II.   TINJAUAN PUSTAKA

  1. Deskripsi konseptual
  • variabel terikat (Y)
  • variabel bebas Xi (i =1, 2, …, k)
  1. Hasil Penelitian yang Relevan
  2. Kerangka  Teoretik
  • X1 dan Y
  • X2 dan Y
  • X3 dan Y
  • X1, X2, X3 dan Y , jika menggunakan korelasi multipel
  1. Hipotesis Penelitian

Banyaknya sama dengan kerangka berpikir dan sama dengan perumusan masalah

BAB III   METODOLOGI PENELITIAN

  1. Tujuan Penelitian
  2. Tempat dan Waktu Penelitian
  3.  Metode Penelitian
  1. Variabel Penelitian
  2. Konstelasi Hubungan antar Variabel
  3. Populasi dan Sampel
  4. Teknik Pengumpulan Data

Data dikumpulkan dengan menggunakan instrumen dengan tahapan pengembangan Instrumen  sebagai berikut:

  1. Variabel Terikat (Y)
  • Definisi  Konseptual  (konstruk)
  • Definisi  Operasional (berkaitan dengan pengukuran)
  • Kisi-kisi  Instrumen
  • Jenis Instrumen
  • Uji Validitas dan Reabilitas
  1. Variabel Bebas (Xi , i = 1, 2, …, k)
  • Definisi  Konseptual (konstruk)
  •  Definisi  Operasional (berkaitan dengan pengukuran)
  • Kisi-kisi  Instrumen
  • Jenis Instrumen
  • Uji Validitas dan Reabilitas
  1. Teknik Analisis Data
  2. Hipotesis Statistika

 

BAB IV  HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Deskripsi Data

Penyajian data Y dan Xi, i = 1, 2,…., k

  1. Pengujian Persyaratan Analisis Data
  • Uji Normalitas Galat Taksiran Regresi
  • Uji Linearitas
  1. Pengujian Hipotesis
  2. Pembahasan Hasil Penelitian

BAB  V   KESIMPULAN  IMPLIKASI  DAN  SARAN 

  1. Kesimpulan
  2. Implikasi
  3. Saran

DAFTAR  PUSTAKA

 

LAMPIRAN 

Lampiran   1  Instrumen

Lampiran   2  Hasil Ujicoba

Lampiran   3  Kisi-kisi Akhir  (sesudah Ujicoba)

Lampiran   4  Data Hasil Penelitian  (Variabel Terikat dan data Variabel Bebas)

Lampiran   5  Pengujan  Persyaratan Analisis

Lampiran   6  Pengujian  Hipotesis

2.2.   PENJELASAN

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.   Latar Belakang Masalah

Menggambarkan latar belakang masalah dari variabel terikat (Y)

  1. Kondisi Faktual
  2. Kondisi Harapan
  3. Kesenjangan antara kondisi faktual dengan harapan
  4. Kemengapaan terjadinya masalah
  5. Pentingnya masalah untuk dijadikan penelitian

B. Identifikasi Masalah

Mengidentifikasi beberapa penyebab terjadinya masalah:

Semua hal-hal yang berhubungan  dengan beberapa penyebab munculnya masalah   penelitian. Bukan dalam bentuk pertanyaan melainkan dalam bentuk pernyataan.

  1. C.   Pembatasan Masalah

Berisi tentang skala prioritas dari berbagai penyebab munculnya masalah di atas  yang dianggap penting, menarik dan strategis  untuk  dijadikan  varibel- variabel bebas (Xi) yang yang mempengaruhi terhadap variabel terikat(Y).

  1. D.   Rumusan Masalah

Merumuskan masalah penelitian Berdasarkan:

  1. Latar belakang masalah, identifikasi dan   pembatasan   Masalah yang telah dirumuskan;
  2. Dirumuskan secara lugas dan  jelas;
  3. Beroroentasi pada teori yang relevan dengan Ruang Lingkup Bidang Kajian (Prodi)  (teori merupakan body of knowledge)
  4. Dinyatakan dalam kalimat tanya .
  5. Toeretical Framework”, berupa:
    1. Pengaruh  (X1) terhadap  Y
    2. Pengaruh  (X2) terhadap  Y
    3. Pengaruh   (X3) terhdap  Y
    4. Hubungan  antara   (X1,2,3) secara bersama-sama  dengan  Y.

Jika variable bebasnya ada yang saling mempengaruhi (ada intervening) variable maka menggunakan analisis jalur, jika variable bebas independen maka analisis korelasi jamak. Jika  keterkaitan itu dilakukan untuk variabel bebas dan terikat lebih dari satu (keterkaitan  Xi –n dan Yi-n) maka analisis datanya melalui caconical.

Jika variable bebasnya ada yang saling mempengaruhi (ada intervening) variable, dan indikator atau faktor-faktor penentu variabel bebas diuji keterkaitannya maka menggunakan analisis SEM.

 

  1. E.   Kegunaan Penelitian

Mengungkapkan secara spesifik manfaat  secara operasional yang hendak dicapai yang akan disumbangkan dalam pengembangkan ilmu dan pembangunan, yang meliputi aspek:

  1. Aspek Teoretis (keilmuan) dengan menyebutkan manfaat teoretis apa yang dapat dicapai dari masalah yang diteliti.
  2. Aspek Praktis, dengan menyebutkan manfaat apa yang dapat dicapai dari penerapan pengetahuan yang dihasilkan penelitian kepada masyarakat, pemerintah dan lembaga lainnya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. A.   Kajian    Konseptual
    1. 1.         Variabel Y  (Variabel terikat )

(Deskripsi , analisis, komparasi  dan sintesis  dari pengertian, konsep  variabel Y,   minimal  7  Konsep  untuk S3 dan  5 Konsep untuk S2 ) yang diambil dari sumber bacaan pertama (utama) (Teks Book), bisa dari buku, jurnal, internet. Menghasilkan Konstruk (di akhir setiap variabel),

2    Variabel Xi

(Deskripsi , analisis dan sintesis  dari pengertian, konsep  variabel Xi,   minimal dari 7  Konsep  untuk S3 dan  5 Konsep untuk S2 ) yang diambil dari sumber bacaan pertama (utama) (Teks Book).

Konstruk Variabel Xi berisi dimensi dan indikator  Yang akan menjadi dasar pembuatan kisi-kisi instrument penelitian.

  1. B.     Penelitian yang Relevan

—  Menggambarkan State of The Art dari  ontologi keilmuan (Ruang Lingkup Penelitian Prodi) yang dipilih sebagai masalah penelitian Tesis / Disertasi yang sudah dikaji oleh orang lain;

—  Deskripsi, komparasi dan analisis semua hasil-hasil penelitian orang lain (baik dalam Jurnal Ilmiah, Disertasi dan atau Buku) yang relevan dengan masalah penelitian secara kronologis dan sistematik,  sehingga dapat ditemukan persamaan dan perbedaan penelitian  yang akan dilakukan dengan yang sudah ada.

 

  1. C.       Kerangka  Teoretis

 

Memuat uraian yang memperjelas konsep Y dan Xi-n

Membahas  keterkaitan antara Xi dan Y yang didukung dari teori yang sudah atau hasil pemikiran peneliti, dan didukung dari oleh argumentasi yang logis untuk menghasilkan hipotesis penelitian.

  1. Pengaruh  positif / negatif antara   (X1) dengan  Y
  2. Pengaruh positif/ negatif Hubungan  antara   (X2) dengan  Y
  3. Pengaruh positif/ negatif antara   (X3) dengan  Y
  4. Hubungan antara   (X1,2,3) secara bersama-sama  dengan  Y

Jika variable bebasnya ada yang saling mempengaruhi (ada intervening) variable maka menggunakan analisis jalur, jika variable bebas independen maka analisis korelasi jamak.

Jika  keterkaitan itu dilakukan untuk variabel bebas dan terikat lebih dari satu (keterkaitan  Xi –n dan Yi-n) maka analisis datanya melalui caconical.

Jika variable bebasnya ada yang saling mempengaruhi (ada intervening) variable, dan indikator atau faktor-faktor penentu variabel bebas diuji keterkaitannya maka menggunakan analisis SEM.

  1. D.       Hipotesis Penelitian

 

Hipotesis adalah Jawaban sementara terhadap masalah, yang menjelaskan keterkaitan antar variable dan merupakan pernyataan tentang karakteristik populasi, yang harus diuji kebernarannya dengan data empirik

Contoh :

  1. Terdapat pengaruh  positif/negatif antara   (X1) dengan  Y
  2. Terdapat pengaruh positif/negatif Hubungan  antara   (X2) dengan  Y
  3. Terdapat pengaruh positif/negatif antara (X3) dengan  Y
  4. Hubungan/Pengaruh antara (X1,2,3) secara bersama-sama  dengan  Y

E.  Hipotesis Statistik

Menggambarkan formulasi statistik  dari rumusan hipotesis penelitian.

Jenis Hipotesis ini ditentukan berdasarkan teori yang dibangun:

Contoh:

  

Hipotesis tidak langsung

Ho  :  ρ = 0

H1  :  ρ ≠  0

 

Hipotesis langsung positif:

Ho  : ρ ≤ 0

H1  : ρ  > 0

Hipotesis langsung negatif :

Ho  : ρ ≥ 0

H1   : ρ < 0

 

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

  1. A.       Tujuan Penelitian

Menggambarkan sasaran/hasil yang akan dicapai yang harus dilakukan sesuai dengan rumusan masalah penelitian, antara lain untuk memperoleh informasi tentang Pengaruh antara variabel Xi terhadap Y;

  1. B.       Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat dimana dilakukan penelitian

Waktu yang menggambarkan waktu mulainya penelitian, yakni ditetapkan waktu saat proposal dinyatakan layak  untuk diteliti sampai  untuk selesasinya laporan hasil penelitian (dibuat jadwal kegiatan penelitian)

  1. C.       Metode Penelitian

Menggambarkan pendekatan, metode , dan teknik yang digunakan dalam menemukan kebenaran ilmiah  Tesis / Disertasi.

Contoh:

Penelitian ini menggunakan pendekatan  kuantitatif, metode survei dan teknik korelasional.

  1. D.       Populasi, Sampel dan  Teknik Sampling

Berisi tentang penjelasan unit-unit yang tercakup didalam populasi dan teknik sampling yang digunakan, yakni :

1. Menentukan populasi target;

2. Menentukan  populasi terjangkau;

3. Menentukan jumlah  sampel berdasarkan teknik sampling yang digunakan.

Teknik Sampling yang dipilih disesuaikan dengan karakteristik masalah, kebutuhan dan tujuan dari penelitian.

  1. E.        Teknik Pengumpulan Data

Berisi tentang berbagai teknik pengumpulan data.

  1. F.        Instrumen Penelitian

(Untuk setiap variabel disajikan dengan sistimatika sbb:

  1. Definisi Konseptual
  2. Definisi Operasional
  3. Kisi-Kisi Instrumen
  4. Instrumen Penelitian
  5. Validitas dan Realibilitas
    1. Validitas Teoretik
    2. Validitas empiris dan Realibilitas
  1. Definisi Konseptual Berisi tentang  konstruk dari hasil sintesis  untuk setiap variabel. (Konstruk) (Y,  dan Xi) (Isinya sama dengan Konstruk di BAB II)
  2. Definisi Operasional  (Y,  dan Xi)

Memuat pengertian yang terukur dari variabel penelitian, termasuk indikator, parameter  apa yang akan  diukur   dan bagaimana cara mengukurnya, serta sumber data dari setiap variabel yang akan diteliti.

Contoh:

Budaya organisasi,  Iklim Kerja,  cara mengukurnya dengan Persepsi terhadap iklim   kerja.

  1. Kisi-Kisi Instrumen Penelitian ( Y,  dan Xi)

Tabel yang berisi dimensi, indikator maupun aspek yang akan diukur,…..

  1. Validitas dan Realibilitas
  1. a.       Validitas teoretik

Pengembangan instrumen  untuk setiap variabel diperlukan validitas konsep, melalui validasi panel dan/ telaah pakar.

  1. b.   Validasi Empiris  dan Reliabilits

Pengembangan instrumen untuk setiap variabel memelukan uji validitas dan reliabilitas berdasarkan data hasil uji coba di lapangan.

  1. G.     Teknik Analisis Data

Berisi tentang berbagai teknik analisis data yang dipilih untuk digunakan dalam mengolah data penelitian, baik teknik analisis deskripsif penyajian data setiap variabel, maupun teknik analisis inferensial untuk penguji hipotesis

 

BAB IV            HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Deskripsi Data

 Berisi :

Tabulasi data yang telah disusun dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan histogram dari masing-masing variabel.

  1. Deskripsi data variabel Y
  2. Deskripsi data variabel X1
  3. Deskripsi data variabel X2
  4. Deskripsi data variabel X3
  1. Pengujian Persyaratan Analisis Data
    1. Uji Normalitas
    2. Uji Lenearitas
  1. Pengujian Hipotesis

Menggambarkan hasil perhitungan pengujian hipotesis statistik .

Contoh:

Paparan data hasil perhitungan hubungan antara variabel bebas  (Xi-n) dengan variabel terikat (Y)

Perhitungan hubungan antara variabel bebas pertama (X1)  , kedua (X2), ketiga (X3) secara bersama sama dengan variabel terikat (Y)

  1. D.     Pembahasan Penelitian
    1. Menguraikan terjadinya hubungan kausalitas  (pengaruh) antar  variabel dengan merujuk dari teori yang berkaitan dengan variabel -variabel penelitian.
    2. 2.       Kalau penelitian tidak dapat menguji hipotesis penelitian dalam arti tidak ada hubungan antar variabel perlu dilakukan penjelasan /pembahasan mengapa hal itu terjadi.

 

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN

  1. Kesimpulan

Menjelaskan secara menyeluruh hasil  pengujian hipotesis, untuk setiap masalah penelitian (Jawaban Final dari masalah penelitian).

Contoh :

  1. Terdapat pengaruh  positif/negatif (X1) tehadap  Y
  2. Terdapat pengaruh positif/negatif   (X2) tehadap  Y
  3. Terdapat pengaruh positif/negatif (X3) tehadap   Y
  4. Terdapat Hubungan  antara   (X1, X2 dan X3) dengan  Y secara bersama-sama

Artinya peningkatan Xi mengakibatakan peningkatan Y dan peningkatan Y diakibatkan oleh Xi.

  1. Implikasi Penelitian

Menggambarkan konsekuensi logis  dari kesimpulan yang telah dihasilkan dari hasil penelitian.

Contoh:

“ Jika Xi-n mempengaruhi Y, maka peningkatan   Y dilakukan melalui  peningkatan Xi-n”

“    Xi ditingkatkan melalui berbagai upaya Strategi Inovasi Teknologi dan kreativitas Peneliti “

  1. Saran-Saran

Merumuskan beberapa masukan/ saran yang sesuai dengan hasil penelitian yang dapat ditujukan kepada Institusi (Pemerintah atau swasta), Masyarakat, dan Peneliti lainnya  sesuai dengan  hasil penelitian.

Lampiran

—  Lampiran 1 : Instrumen Penelitian (untuk setiap variabel Y,  dan Xi )

—  Lampiran 2 : Kalibrasi Instrumen Penelitian (untuk setiap variabel Y,  dan Xi ) dst

—  Lampiran 3 : Perhitungan Reliabilitas

—  Lampiran 4 : Data Variabel Terikat, Variabel Bebas Pertama, Variabel Bebas Kedua, Variabel Bebas Ketiga

—  Lampiran 5 : Perhitungan Statistik Dasar

—  Lampiran 6 : Perhitungan Persyaratan Analisis

—  Lampiran 7 : Perhitungan Regresi dan Korelasi dalam rangka Pengujian Hipotesis.

—  Lampiran 8 : Perhitungan Regresi dan Korelasi dalam rangka Pengujian Hipotesis 2

—  Lampiran 9 : Perhitungan Regresi dan Korelasi dalam rangka Pengujian Hipotesis 3

—  Lampiran 10: Perhitungan Regresi dan Korelasi dalam rangka Pengujian Hipotesis 4

—  Lampiran 11 : Analisis Korelasi Parsial

—  Lampiran 12 : Daftar Riwayat Hidup

  1. B.     KELOMPOK PENELITIAN EVALUASI PROGRAM DAN EVALUASI KEBIJAKAN
  2. SISTEMATIKA

BAB I.  PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah
  2. Fokus Penelitian
  3. Perumusan Masalah
  4. Kegunaan Penelitian

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

  1. Konsep Evaluasi Program/Kebijakan
  2. Konsep Program/Kebijakan yang diteliti
  3. Model  Evaluasi Program/Kebijakan
  4. D.     Hasil Penelitian yang Relevan
  5. Kriteria Evaluasi

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

  1. Tujuan Penelitian
  2. Tempat dan Waktu Penelitian
  3. Pendekatan, Metode dan Disain Model Penelitian
  4. Instrumen Penelitian

1)       Kisi-kisi Instrumen

2)       Validasi Instrumen

  1. Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data
  2. Teknik Analisis Data
  3. Pemeriksaan Keabsahan Data

 

BAB IV. HASIL PENELITIAN

  1. Hasil Evaluasi
  1. Pembahasan

 

BAB V. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

  1. Kesimpulan
  2. Rekomendasi

 

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

Lampiran 1        Pedoman Observasi

Lampiran 2        Pedoman wawancara

Lampiran 3        Angket

Lampiran 4        Catatan Lapangan Hasil Observasi

Lampiran 5        Catatan Lapangan Hasil Wawancara

Lampiran 6        Dokumen Pendukung (Foto, dokumen program dan kebijakan yang dievaluasi sesuai fokus)

  1. 2.       PENJELASAN

BAB I.  PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Peneliti menjelaskan tentang kemengapaan program atau kebijakan tersebut penting untuk diteliti. Alasannya harus berdasarkan kepada fakta empiris yang dibandingkan dengan konsep program atau kebijakan.

Dalam menuliskan latar belakang masalah peneliti memulai dengan gambaran faktual secara induktif dibandingkan dengan konsep atau diawali dengan konsep dilanjutkan dengan faktual.

Pada akhir penjelasan latar belakang masalah perlu ditekankan pentingnya evaluasi program atau kebijakan tersebut dilakukan.

  1. Fokus Penelitian

Dalam suatu penelitian tidak mungkin peneliti meneliti semua permasalahan dalam suatu program atau kebijakan. Oleh karena itu peneliti perlu menetapkan fokus permasalahan yang mencakup aspek-aspek apa yang akan dievaluasi pada suatu program atau kebijakan.  Fokus penelitian dinyatakan dalam bentuk pernyataan.

  1. Rumusan Masalah

Peneliti menjabarkan fokus permasalahan penelitian dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan penelitian yang menekankan kepada efektivitas masing-masing komponen pada model evaluasi yang ditentukan.

  1. Kegunaan Penelitian

Peneliti mendeskripsikan kegunaan penelitian yang berisi penjelasan tentang kegunaan hasil penelitian sebagai salah satu bahan informasi bagi pengambil kebijakan/keputusan.

 

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

  1. Konsep Evaluasi Program/Kebijakan

Peneliti membahas konsep-konsep yang berkaitan dengan evaluasi program/kebijakan. Kajian konseptual tidak sekedar mencantumkan konsep-konsep secara runtut dari berbagai sumber tetapi merupakan hasil analisis dari berbagai konsep. Antar Konsep ditemukan persamaan dan perbedaan Persamaan itu menjadi dasar bagi sintesis. Pada tesis minimal 5 (lima) rujukan konsep dan disertasi minimal 7 (tujuh) rujukan konsep.

  1. Konsep Program/Kebijakan yang diteliti

Peneliti memberikan gambaran tentang program atau kebijakan yang akan diteliti diantaranya: tujuan, sasaran, kebutuhan, kebijakan program.

  1. Model  Evaluasi Program/Kebijakan

Peneliti mendeskripsikan model-model evaluasi program atau evaluasi kebijakan. Selanjutnya peneliti menentukan model evaluasi yang relevan dengan karakteristik program/kebijakan yang akan diteliti. Model evaluasi yang telah ditentukan dijabarkan ke dalam komponen-komponen evaluasi secara rinci dengan mengaitkan pada program/kebijakan yang diteliti.

  1. Kriteria Keberhasilan Program/Kebijakan

Peneliti membahas konsep-konsep yang berkaitan dengan aspek yang akan dievaluasi pada setiap komponen sehingga diperoleh kriteria/standar keberhasilan program atau kebijakan untuk setiap aspek. Kajian konseptual tidak sekedar mencantumkan konsep-konsep secara runtut dari berbagai sumber tetapi merupakan hasil analisis dari berbagai konsep. Kriteria/standar keberhasilan disajikan dalam bentuk tabel yang berisikan kolom komponen evaluasi, aspek yang dievaluasi, dan kriteria/standar keberhasilan.

  1. Hasil Penelitian yang Relevan

Peneliti mendeskripsikan hasil-hasil penelitian yang telah dilakukan sebelumnya dan relevan dengan fokus penelitian. Selanjutnya peneliti menjelaskan posisi penelitiannya dengan cara mendeskripsikan persamaan dan perbedaan penelitian yang dilakukannya dengan penelitian-penelitian relevan yang disajikan.

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

  1. Tujuan Penelitian

Peneliti mendeskripsikan tujuan yang ingin dicapai sesuai dengan pertanyaan-pertanyaan penelitian.

  1. Tempat dan Waktu Penelitian

Peneliti mendeskripsikan di mana lokasi penelitian dilakukan dan kurun waktu yang digunakan selama penelitian mulai dari penyusunan rencana (proposal) hingga penelitian itu selesai dilakukan.

  1. Pendekatan, Metode dan Disain Model Penelitian

Peneliti menentukan pendekatan, metode penelitian yang digunakan dan menjelaskannya menurut ahli tertentu. Selanjutnya peneliti menjelaskan disain model evaluasi program atau kebijakan yang telah ditetapkan. Disain disajikan dalam bentuk diagram yang dilengkapi dengan penjelasan.

  1. Instrumen Penelitian
  1. 1.       Kisi-kisi Instrumen

Peneliti merancang kisi-kisi instrumen sesuai dengan komponen dan aspek yang dievaluasi. Kisi-kisi instrumen disajikan dalam bentuk tabel yang berisikan aspek yang dievaluasi, indikator, nomor butir (butir positif, butir negatif) dan jumlah butir untuk setiap aspek yang dievaluasi.

  1. 2.       Validasi Instrumen

Peneliti menjelaskan pakar atau panel yang menelaah instrumen, prosedur telaah dan hasil telaahnya. Telaah pakar atau panel merupakan validasi teoritik/konstruk. Proses penelaahan teoritis suatu konsep dimulai dari komponen evaluasi, aspek yang dievaluasi, indikator sampai kepada penjabaran dan penulisan butir instrumen.

  1. Teknik Pengumpulan Data

Peneliti menguraikan sumber data, teknik pengumpulan data  dan  jenis instrumen yang digunakan. Peneliti menjelaskan teknik pengumpulan data yang meliputi wawancara, observasi, angket, dan telah dokumen.

  1. Teknik Analisis Data

Peneliti mendeskripsikan teknik analisis data yang digunakan meliputi analisis data dengan statistika deskriptif dan analisis data secara kualitatif. Analisis data dengan statistika deskriptif disajikan dalam bentuk tabel dan grafik tentang aspek yang diukur.

Analisis secara kualitatif dilakukan dengan cara analisis selama pengumpulan data dan analisis setelah data terkumpul. Analisis selama pengumpulan data meliputi: mengembangkan catatan lapangan, mengkategorikan data, memberi kode pada data, memasukkan data ke dalam format analisis, dan mengembangkan pertanyaan untuk mengumpulkan data selanjutnya;  sedangkan analisis setelah data terkumpul meliputi: mengumpulkan dan memberi nomor secara kronologis sesuai dengan waktu pengumpulan data, meneliti ulang data dan mengelompokkannya dalam satu format kategori dan klasifikasi data sesuai dengan kodenya, memaparkan data yang telah dianalisis dengan fokus masing-masing penelitian, dan penarikan beberapa kesimpulan.

  1. Keabsahan Data

Peneliti menguji data secara triangulasi berdasarkan sumber dan metode dengan cara mengkonfirmasi data wawancara, observasi, angket dan atau dokumen.

BAB IV. HASIL PENELITIAN

  1. Hasil Evaluasi

Peneliti menguraikan hasil evaluasi sesuai dengan komponen-komponen evaluasi atau kebijakan. Data kuantitatif yang dijaring melalui angket disajikan dalam bentuk tabel dan grafik, sedangkan data kualitatif yang dijaring melalui hasil wawancara, observasi dan data dokumentasi dideskripsikan secara naratif   dan dimaknai untuk setiap komponen evaluasi.

  1. Pembahasan

Peneliti membandingkan hasil temuan dengan kriteria keberhasilan sehingga menghasilkan suatu kesimpulan. Selanjutnya kesimpulan penelitian dibahas kemengapaannya dengan dukungan data kualitatif yang telah dimaknai.

BAB V. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

  1. Kesimpulan

Peneliti mendeskripsikan hasil evaluasi untuk setiap komponen secara umum.

  1. Rekomendasi

Peneliti menyusun rekomendasi untuk memperbaiki implementasi program atau kebijakan. Rekomendasi tidak hanya memuat apa yang harus dilakukan dan bagaimana melakukannya tetapi juga harus mempertimbangkan:  pembuat program atau kebijakan yang menerima rekomendasi, alat dan bahan yang tersedia bagi kemungkinan implementasi rekomendasi, waktu implementasi, dan kondisi lingkungan.

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

Lampiran 1        Pedoman Observasi

Lampiran 2        Pedoman wawancara

Lampiran 3        Angket

Lampiran 4        Catatan Lapangan Hasil Observasi

Lampiran 5        Catatan Lapangan Hasil Wawancara

Lampiran 6        Dokumen Pendukung (Foto, dokumen program dan kebijakan yang dievaluasi sesuai fokus)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. C.     KELOMPOK METODE PENELITIAN KUALITATIF
  2. 2.       SISTEMATIKA PENULISAN TESIS DAN DISERTASI PENELITIAN KUALITATIF

(ETNOGRAFI, STUDI KASUS, FENOMENOLOGI, GROUNDED THEORY, NARATIF/HISTORIS, DAN ANALISIS ISI)

BAB I  PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang Masalah
  2. Fokus dan Subfokus Penelitian
  3. Rumusan Masalah  dan Pertanyaan Penelitian
  4. Kegunaan Penelitian

BAB II  TINJAUAN PUSTAKA

 

  1. Deskripsi Konseptual Fokus dan Subfokus Penelitian
  2. Hasil Penelitian yang Relevan

BAB III  METODOLOGI PENELITIAN

 

  1. Tujuan Penelitian
  2. Tempat dan Waktu Penelitian
  3. Latar Penelitian
    1. Metode dan Prosedur Penelitian
    2. Data dan Sumber Data
    3. Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data
    4. Prosedur Analisis Data
    5. Pemeriksaan Keabsahan Data
    6. Kredibilitas
    7. Transferabilitas
    8. Dependabilitas
    9. Konfirmabilitas

 

 

 

BAB IV  HASIL  PENELITIAN

 

  1. Gambaran Umum tentang Lokus Penelitian
    1.  Temuan Penelitian

BAB V  PEMBAHASAN TEMUAN PENELITIAN

 

BAB VI  KESIMPULAN DAN SARAN

 

  1. A.     Kesimpulan
  2. B.     Rekomendasi

 

DAFTAR PUSTAKA

 

LAMPIRAN

Lampiran 1        Pedoman Observasi

Lampiran 2        Pedoman wawancara

Lampiran 3        Catatan Lapangan Hasil Observasi

Lampiran 4        Catatan Lapangan Hasil Wawancara

Lampiran 5        Dokumen Pendukung (Foto dan dokumen)

Lampiran 6       Hasil Analisis Data

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 3.       PENJELASAN

 

BAB I  PENDAHULUAN

  1. A.     Latar Belakang Masalah

 

Bagian ini menguraikan konteks atau situasi yang mendasari munculnya permasalahan yang menjadi perhatian peneliti. Konteks permasalahan bisa berupa tinjauan historis, ekonomis, sosial, dan kultural. Penggambaran akan konteks permasalahan penelitian dapat dilakukan dengan menunjukkan fenomena-fenomena, fakta-fakta empiris atau kejadian-kejadian aktual dan unik yang terjadi di masyarakat yang sudah terpublikasikan melalui media massa, buku-buku, hasil-hasil penelitian sebelumnya, atau sumber lainnya. Peneliti dapat juga menyertakan data-data statistik untuk menunjukkan aktualitas dan trend atau perkembangan fenomena yang menjadi latar belakang masalah penelitian. Peneliti dapat juga menyertakan hasil studi pendahulu (pre-eliminary study) atas fenomena tertentu yang berupa data-data kuantitatif ataupun kutipan wawancara.

Bagian latar belakang masalah ini sebaiknya diakhiri dengan batasan yang dibuat oleh peneliti berkaitan dengan fenomena-fenomena, fakta-fakta empiris, ataupun kejadian-kejadian aktual yang sudah dipaparkan sebelumnya. Batasan atas fenomena tersebut diharapkan dapat mengantarkan peneliti menuju fokus permasalahan yang akan diteliti sekaligus menunjukkan penting dan menariknya permasalahan tersebut.

  1. B.   Fokus dan Subfokus Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah, peneliti menetapkan fokus penelitian, yaitu area sepesifik yang akan diteliti.  Setelah fokus ditentukan, selanjutnya ditetapkan sudut tinjauan dari fokus tersebut sebagai sub-subfokus penelitian.

  1. C.     Rumusan Masalah  dan Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan fokus penelitian, pada bagian ini dirumuskan masalah penelitian dalam bentuk kalimat tanya yang bersifat umum (grand tour question) sebagai pertanyaan payung. Kemudian rumusan masalah ini dikembangkan menjadi pertanyaan-pertanyaan yang lebih sepesifik (research question) sesuai dengan sub-subfokus penelitian.

  1. D.        Manfaat Penelitian

Bagian ini menjelaskan manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian. Manfaat dapat diklasifikasikan menjadi manfaat teoretis dan manfaat praktis. Manfaat teoretis adalah bagaimana hasil penelitian menjadi bagian dari proses pengembangan ilmu. Selanjutnya manfaat praktis adalah bagaimana hasil penelitian dapat digunakan untuk memecahkan masalah-masalah praktis.

BAB II  TINJAUAN PUSTAKA

 

  1. A.     Deskripsi Konseptual Fokus dan Subfokus Penelitian

Pada bagian ini dideskripsikan konsep-konsep yang dapat dijadikan landasan penelitian yang berhubungan dengan fokus dan subfokus penelitian. Konsep-konsep ini didasarkan pada tinjauan pustaka dari berbagai buku dan jurnal yang berkaitan dengan topik penelitian. Deskripsi konseptual ini diperlukan untuk memberikan gambaran tentang fokus penelitian dan bagaimana fokus penelitian dikembangkan menjadi subfukus penelitian.

  1. B.     Hasil Penelitian yang Relevan

Pada bagian ini dikemukakan hasil-hasil penelitian yang berhubungan dengan topik penelitian yang akan dilaksanakan. Hasil penelitian yang relevan dimaksud untuk menunjukkan posisi penelitian yang dilakukan di antara penelitian-penelitian yang berkaitan yang pernah dilakukan.

BAB III  METODOLOGI PENELITIAN

 

  1. A.     Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian kualitatif adalah untuk memperoleh pemahaman yang mendalam tentang fokus dan subfokus penelitian.

  1. B.     Metode dan Prosedur Penelitian

Bagian ini menjelaskan pendekatan dan metode penelitian yang digunakan serta prosedur pelaksanaannya. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif, sedangkan metode penelitian sesuai dengan jenis penelitian kualitatif yang digunakan (etnografi, studi kasus, fenomenolgi, grounded theory, naratif, atau analisis isi). Prosedur penelitian menjelaskan langkah-langkah  penelitian. Prosedur penelitian kualitatif pada umumnya bersifat siklus.

  1. C.        Tempat dan Waktu Penelitian

Bagian ini menjelaskan dimana penelitian dilakukan dan kapan penelitian itu dilakukan. Waktu penelitian adalah sejak melakukan observasi awal sebagai persiapan penulisan proposal sampai pada penulisan laporan penelitian. Khusus penelitian analisis isi tidak terikat dengan tempat tertentu.

  1. D.     Latar Penelitian

Latar penelitian menjelaskan situasi sosial yang menjadi latar penelitian. Untuk menjelaskan latar penelitian ini peneliti perlu melakukan observasi pendahuluan. Peneliti sudah mengumpulkan data tentang gambaran umum konteks penelitian berupa subjek, lokasi, kegiatan dan waktu yang melatari fenomena yang menjadi fokus penelitian.

  1. E.      Data dan Sumber Data

Pada bagian ini dijelaskan apa informasi atau data yang akan dikumpulkan sehubungan dengan fokus dan subfukus penelitian. Kemudian dijelaskan pula sumber-sumber data primer maupun sekunder yang digunakan dalam penelitian baik informan, peristiwa, maupun dokumen.

  1. F.      Teknik dan Prosedur Pengumpulan Data

Pada bagian ini dijelaskan teknik dan prosedur yang digunakan dalam pengumpulan data yang meliputi: (1) observasi, (2) wawancara, dan (3) dokumen.

  1. G.     Prosedur Analisis Data

Pada bagian ini dijelaskan prosedur analisis data, baik selama proses pengumpulan data maupun setelah data terkumpul. Prosedur analisis dapat menggunakan salah satu dari model-model analisis data kualitatif yang sesuai dengan jenis (metode) penelitian kualitatif yang digunakan (model Milles & Hubberman, Spradly, Bogdan & Biklen, Strauss & Corbin, Yin, atau Analisis Isi).

  1. H.     Pemeriksaan Keabsahan Data

Bagian ini menjelaskan bagaimana keabsahan data yang mencakup kredibilitas, dependabilitas, transferabilitas, dan komfirmabilitas.

Kredibilitas (Credibility). Kredibilitas merupakan penetapan hasil penelitian kualitatif yang kredibel atau dapat dipercaya dari persepektif partisipan dalam penelitian tersebut. Karena dari perspektif ini tujuan penelitian kualitatif adalah untuk mendeskripsikan atau memahami fenomena yang menarik perhatian dari sudut pandang partisipan. Partisipan adalah satu-satunya orang dapat menilai secara sah kredibelitas hasil penelitian tersebut. Strategi untuk meningkatkan kredibilitas data meliputi perpanjangan pengamatan, ketekunan penelitian, triangulasi, diskusi teman sejawat, analisis kasus negatif, dan memberchecking.

Transferabilitas (Transferability). Transferabilitas merujuk pada tingkat kemampuan hasil penelitian kualitatif yang  dapat digeneralisasikan atau ditranfer pada konteks atau seting yang lain. Dari sebuah perspektif kualitatif transferabilitas merupakan tanggung jawab seseorang dalam melakukan generalisasi. Peneliti kualitatif dapat meningkatkan transferabilitas dengan melakukan suatu pekerjaan mendeskripsikan konteks penelitian dan asumsi-asumsi yang menjadi sentral pada penelitian tersebut. Orang yang ingin mentransfer hasil penelitian pada konteks yang berbeda bertanggung jawab untuk membuat keputusan tentang bagaimana transfer tersebut masuk akal.

Dependabilitas (Dependability). Dependabilitas menekankan perlunya peneliti untuk memperhitungkan konteks yang berubah-ubah dalam penelitian yang dilakukan. Peneliti bertanggung jawab menjelaskan perubahan-perubahan yang terjadi dalam seting dan bagaimana perubahan-perubahan tersebut dapat mempengaruhi cara pendekatan penelitian dalam studi tersebut.

Konfirmabilitas (Confirmability). Konfirmabilitas atau objektivitas merujuk pada tingkat kemampuan hasil penelitian yang dikonfirmasikan oleh orang lain. Terdapat sejumlah strategi untuk meningkatkan konfirmabilitas. Peneliti dapat mendokumentasikan prosedur untuk mengecek dan mengecek kembali seluruh data penelitian. Peneliti lain dapat mengambil suatu peran “devil’s advocate” terhadap hasil penelitian, dan proses ini dapat didokumentasikan.  Peneliti secara aktif dapat menelusuri dan mendeskripsikan contoh-contoh negatif yang bertentangan dengan pengamatan sebelumnya.

 

BAB IV  HASIL  PENELITIAN

 

  1. A.     Gambaran Umum

Bagian ini berisi uraian tentang latar sosial, historis, budaya, ekonomi, demografi, lingkungan, sebagai gambaran umum penelitian yang melatari temuan penelitian.

  1. B.     Temuan Penelitian

Bagian ini berisi deskripsi, analisis, dan temuan penelitian sesuai dengan fokus dan subfokus penelitian.

  1. SubFokus 1
  2. Subfokus 2
  3. Subfokus 3
  4. Subfokus 4
  5. Subfokus 5
  6. Subfokus dst.

BAB V  PEMBAHASAN TEMUAN PENELITIAN

Bagian ini membahas temuan penelitian seperti yang dideskripsikan pada hasil penelitian. Pembahasan temuan penelitian sesuai dengan fokus dan subfokus penelitian merupakan interpretasi atau verifikasi temuan dengan menghubungkan dengan konsep-konsep dan teori yang ada.

  1. Subfokus 1
  2. Subfokus 2
  3. Subfokus 3
  4. Subfokus 4
  5. Subfokus 5
  6. Subfokus dst.

 

 

 

BAB VI  KESIMPULAN DAN SARAN

 

  1. C.     Kesimpulan

Kesimpulan penelitian berisi proposisi-proposi atau tema-tema sebagai hasil interpretasi atau verifikasi temuan dengan konsep-konsep dan teori-teori yang sesuai dengan fokus dan subfokus penelitian.

 

  1. D.     Rekomendasi

Berdasarkan temuan-temuan penelitian, peneliti mengemukkaan rekomendasi tentang perlunya penelitian lanjutan dan implementasi temuan penelitian tersebut dalam pemecahan masalah praktis.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

LAMPIRAN

Lampiran 1        Pedoman Observasi

Lampiran 2        Pedoman wawancara

Lampiran 3        Catatan Lapangan Hasil Observasi

Lampiran 4        Catatan Lapangan Hasil Wawancara

Lampiran 5        Dokumen Pendukung (Foto dan dokumen)

Lampiran 6        Hasil Analisis Data

 

 

 

  1. D.       KELOMPOK PENELITIAN PENGEMBANGAN INSTRUMEN
  2. 1.        SISTEMATIKA

BAB I  PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah
  2. Fokus Penelitian
  3. Perumusan Masalah
  4. Kegunaan Hasil Penelitian

 

BAB II  KAJIAN TEORI

  1. Konsep Pengembangan Instrumen
  2. Deskripsi Konseptual Variabel yang akan diukur
  3. Konstruk Variabel
  4. Hasil Penelitian yang Relevan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

  1. Tujuan Penelitian
  2. Prosedur Pengembangan Instrumen
  3. Metode Penelitian
  4. Karakteristik Responden dan Teknik Pengambilan Sampel
  5. Definisi Konseptual dan Definisi Operasional
  6. Pengembangan Dimensi dan Indikator
  7. Kisi-kisi Instrumen
  8. Pengembangan Butir Instrumen

1)       Penskalaan

2)       Penulisan Butir

  1. Validasi Kontruk

1)       Telaah Pakar

2)       Panel

F. Pembakuan Instrumen

1)       Deskripsi proses pembakuan

2)       Kriteria tes baku

3)       Target populasi

4)       Sampel ujicoba

5)       Ujicoba

  1. a.       Uji Validitas
  2. b.      Reliabilitas

6)       Metode Penyekoran dan Penyusunan Norma

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Telaah Pakar

B. Karakteristik Instrumen

1. Validitas Empirik Tahap Pertama

  1. 2.  Validitas Empirik Tahap Kedua

C. Instrumen yang dihasilkan

D. Pedoman Penggunaan Instrumen

BAB V KESIMPULAN

  1. Kesimpulan
  2. Implikasi
  3. Saran

LAMPIRAN

Lampiran   1  Draft 1 Instrumen

Lampiran   2  Hasil Telaah Pakar

Lampiran   3  Draft 2 Instrumen

Lampiran   4  Hasil Panel

Lampiran   5  Draft 3 Instrumen

Lampiran   6  Hasil Ujicoba Tahap 1

Lampiran   7  Draft 4 Instrumen

Lampiran   8  Hasil Ujicoba Tahap 2

Lampiran   9  Kisi-kisi dan Instrumen Final

  1. 2.        PENJELASAN

BAB I  PENDAHULUAN

  1. A.     Latar Belakang Masalah

Pada latar belakang masalah diuraikan permasalahan faktual yang terjadi kaitan dengan masalah penelitian, masalah didukung oleh fakta empiris dan alasan teoretis, alasan rasional mengapa masalah yang dikemukan perlu dipecahkan dengan penelitian mengembangkan instrumen.

  1. B.     Identifikasi Masalah

Sebagai langkah awal penelitian pendahuluan diidentifikasikannya sejumlah masalah yang dihadapi oleh suatu organisasi, lembaga, perusahaan, dan masyarakat yang akan diteliti. Masalah-msalah tersebut diuraikan mempergunakan esei ringkas dengan menyajikan data dan fakta yang ada.

  1. C.       Pembatasan Masalah

Pembatasan ini dimaksudkan untuk memberi batas suatu penelitian agar penelitian fokus dan tidak menyimpang kesana kemari sehingga tidak jelas “batas-batas” yang akan diteliti.

  1. D.       Perumusan Masalah

Perumusan masalah berkaitan dengan judul, berorientasi pada teori pengembangan instumen yaitu validitas dan reliabilitas instrumen, dinyatakan dalam kalimat pertanyaan ataupun kalimat pernyataan

  1. E.        Kegunaan Hasil Penelitian

Hasil penelitian dapat dipergunakan untuk: mengembangkan ilmu pengetahuan dan menambah khasanah ilmu yang ada, serta untukmengembangkan profesi dan karir.

 

BAB II  KAJIAN TEORI

  1. A.       Kajian Teori Variabel

Kajian teori variabel memuat konsep/definisi/proposisi/hasil telaah/ pendapat yang berkaitan dengan variabel. Pada kajian teori tidak sekedar mencatumkan konsep/definisi/proposisi/hasil telaah/pendapat secara runtut dari berbagai sumber tetapi merupakan hasil analisis dari konsep/definisi/ proposisi/hasil telaah/pendapat yang telah dipaparkan. Perbedaan dan persamaan antar konsep/definisi/proposisi/hasil telaah/ pendapat ditemukan dan dari perebedaan dan persamaan dari konsep/definisi/proposisi/ hasil telaah/pendapat itu disintesiskan suatu variabel yang sesuai.

  1. B.       Konstruk Variabel

Konstruk (construct) itu sendiri merupakan kerangka dari suatu konsep psikologik yang tidak dapat dilihat (intagible). Kerangka atau karakteristik konsep ini penting dalam penyusunan dan pengembangan instrumen pengukuran. Untuk mengukur sikap terhadap Matematika, pertama-tama yang harus dilakukan oleh adalah mencari apa saja yang merupakan kerangka dari konsep tersebut.

Oleh karena itu pengembangan yang dilakukan melalui pengembangan konsep atau konstruk, dianalisis dengan teknik kesahihan (validitas) konstruk. Penentuan dengan teknik tersebut mencakup dua tahap utama, yaitu:

  1. Tahap teoretik, dengan cara penilaian rancangan instrumen oleh sejumlah penilai yang menguasai masalah pengembangan instrumen dan juga melalui kajian pustaka. Tahap ini merupakan tahap pendekatan stimulus.
  2. Tahap empirik, berdasarkan data uji coba alat ukur kepada sejumlah responden. Tahap ini disebut juga sebagai pendekatan respons.
  1. C.       Teori Pengembangan Instrumen

Memuat teori pengembangan instumen yang meliputi langkah-langkah pengembangan instumen yang baik, pengujian dalam pembakuan instrumen, analisis keterbacaan instrumen, uji validitas konstruk, dan uji reliabilitas yang sesuai.

  1. D.       Hasil Penelitian yang Relevan

Memuat hasil penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan topik penelitian/masalah penelitian, dan relevansi hasil penelitian sebelumnya dengan topik/masalah  penelitian untuk melihat perkembangan penelitian dengan topik/masalah tersebut. Hal ini dilakukan dengan tujuan sebagai berikut:

  1. Menentukan apakah peneliian tersebut sama persis dengan yang akan diteliti. Jika hal ini yang akan terjadi maka peneliti harus memutuskan melaksanakan penelitian replikasi atau tidak melaksanakan penelitian yang sama.
  2. Jika berbeda, dapat digunakan sebagai pengalaman dalam melakukan penelitian yang akan dilaksanakan. Misalnya, dibandingkan desain metode penelitian, definisi konseptual, dan operasioanl variabel, serta instrumen yang digunakan untuk menjaring data.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

  1. A.     Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian berisi pernyataan hasil akhir yang akan dicapai oleh penelitian. Pernyataan tujuan dikemukakan dengan kalimat yang jelas dan ringkas.

  1. B.     Prosedur Pengembangan Instrumen

Prosedur pengembangan instrumen ini memuat langkah-langkah yang akan dilaksanakan dalam rangka penelitian. Prosedur ini merupakan hasil sintesis dari teori pengembangan instrumen yang ada.

  1. C.     Metode Penelitian

Di dalam metode penelitian ini memuat metode apa yang akan dipakai dalam penelitian ini yang sesuai dengan metode yang ada.

  1. D.     Karakteristik Responden dan Teknik Pengambilan Sampel

Untuk karakteristik responden ini penting dilihat dari umur atau tingkatan responden sehingga instrumen dapat disesuaikan. Perlu disebutkan populasi target dalam pengembangan ini, populasi terjangkau, dan sampel yang diambil secara acak. Selanjutnya diuraikan teknik pengambilan sampel yang digunakan. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah probability sampling atau non probability sampling. Probablity sampling meliputi simple random sampling, systematic random sampling, stratified random sampling, cluster random sampling, dan multistage random sampling. Non probability sampling yaitu purposive sampling.

  1. E.      Definisi Konseptual dan Definisi Operasional
  • Definisi Konseptual

Menjelaskan konsep dari variabel yang diteliti berdasarkan sintesis peneliti berdasarkan teori-teori yang digunakan

  • Definisi operasional

Penjabaran dari definisi konseptual dalam rincian indikator penelitian (terukur) dan bentuk  instrumen yang akan digunakan.

  1. F.      Pengembangan Dimensi dan Indikator

Berdasarkan hasil sintesis dari teori-teori yang dikaji tentang konsep/definisi/proposisi/hasil telaah/pendapat dari variabel yang akan diukur kemudian dirumuskan konstruk dari variabel tersebut. Berdasarkan konstruk dikembangkan dimensi dan indikator yang sesungguhnya telah tertuang secara eksplisit pada rumusan konstruk variabel yang dijabarkan pada definisi konseptual dan definisi operasional

  1. G.     Kisi-kisi Instrumen

Memuat kisi-kisi instrumen yang berkaitan dengan variabel yang diteliti. Kisi-kisi intrumen disajikan dalam bentuk tabel yang berisikan kolom dimensi, indikator, no butir (butir positif, butir negatif untuk butir non tes) dan jumlah butir untuk setiap dimensi dan indicator.

  1. H.     Pengembangan Butir Instrumen

Memuat penskalaan, penulisan butir, telaah pakar dan revisi butir.

  1. Penskalaan
  2. Menetapkan besar atau parameter yang bergerak dalam suatu rentang kontinum dari kutub ke kutub lain yang berlawanan misalnya dari rendah ke tinggi, dari negatif ke positif. Selanjutnya menetapkan jenis instrument dengan pemilihan penskalaan.
  3. Penulisan Butir
  4. Menulis butir-butir instrumen dalam bentuk pertanyaan atau pernyataan. Butir terdiri dari butir positif dan/atau butir negatif. Butir positif adalah pernyataan yang memiliki ciri atau keadaan, sikap atau persepsi yang positif mendekati kutub positif. Butir negatif adalah pernyataan yang memiliki ciri atau keadaan, sikap atau persepsi yang negatif mendekati kutub negatif.
  5. Telaah Pakar
  6. Memuat pakar-pakar atau panel yang menelaah, prosedur telaah dan hasil telaah. Telaah pakar atau panel yang merupakan validasi teoretik/konstruk awal sebelum dilakukan uji empirik.  Proses penelaahan teoretis suatu konsep dari variabel yang diukur, mulai dari perumusan konstruk, penentuan dimensi dan indikator, sampai kepada penjabaran dan penulisan butir instrumen. Butir-butir yang ditulis untuk masing-masing indikator harus benar-benar dapat mengukur secara tepat indikator yang hendak diukur. Panel terdiri dari sejumlah ahli (20-40 orang) untuk menilai relevansi butir yang telah dibuat. Panel menilai butir dengan menggunakan skala yang sama  dengan skala pada ujicoba empirik. Revisi butir dilakukan berdasarkan saran dari pakar atau hasil panel.
  1. I.        Pembakuan Instrumen

Memuat deskripsi proses pembakuan, kriteria tes baku, target populasi, sampel ujicoba, ujicoba, metode penskalaan dan norma.

1)       Deskripsi proses pembakuan

Menjelaskan proses atau langkah-langkah sampai diperoleh instrumen yang baku.

2)       Kriteria tes baku

Menjelaskan kriteria tes baku sesuai dengan prosedur statistik yang ada, seperti uji validitas dan reliabilitas.

3)       Target populasi

Menetapkan populasi target yaitu populasi yg menjadi keseluruhan unit yang akan diselidiki karakteristiknya

4)       Sampel ujicoba

Sampel ujicoba disesuaikan dengan teknik pengambilan sampel yang digunakan.

5)       Ujicoba.

Uji validitas konstruk

Menguraikan penjelasana uji validitas empirik atau uji validitas kriteria dan teknik statistika yang digunakan.  Ujicoba  instrumen di lapangan merupakan bagian dari bagian proses validitas empirik. Melalui ujicoba, instrumen diberikan kepada sejumlah responden sebagai sampel uji coba yang memiliki karakteristik sama atau ekivalen dengan karakteristik populasi. Jawaban atau respon dari sampel uji coba merupakan data empiris yang akan dianalisis untuk menguji validitas empiris atau validitas kriteria dari instrumen yang dikembangkan. Pada umumnya alat ukur adalah multidimensi dan setiap dimensi mencakup sejumlah indikator dan butir.  Proporsi jumlah butir di antara indikator dan dimensi ditentukan oleh konsep atau konstruk dari variabel. Melalui ujicoba dapat diperiksa kecocokan di antara butir dengan dimensi dan indikator. Pemeriksaan dilakukan melalui analisis faktor. Teknik analisis faktor yang digunakan antara lain adalah analisis faktor komfirmatori (comfirmatory factor analysis).  Teknik ini bertujuan untuk menjustifikasi ketepatan butir-butir yang mengukur dimensi variabel yang telah disusun berdasarkan konstruk teoretis. Dalam hal ini ingin ditunjukkan bahwa dengan analisis faktor komfirmatori terdapat koresponsdensi antara konstruk teori dan fakta empiris, atau antara kebenaran a priori dengan kebenaran a posteriori.

Uji Reliabilitas

Memuat penjelasan realibilitas dan teknik statistika yang digunakan. Koefisien reliabilitas adalah besaran yang menunjukan kualitas atau konsistensi hasil ukur instrumen. Batas nilai koefisien reliabilitas yang dianggap layak merujuk pendapat-pendapat yang sudah ada.

  1. H.     Metode Penyekoran dan Penyusunan Norma

Menguraikan penyekoran hasil pengukuran. Penyekoran adalah suatu proses pengubahan jawaban responden menjadi angka-angka yang merupakan nilai kuantitatif dari suatu jawaban terhadap butir dalam intrumen. Pemberian skor dapat diperoleh deskriptif tentang nilai atau harga suatu variable untuk masing-masing unit analisis dalam penelitian. Penyekoran tes objektif dilakukan dengan mempertimbangkan hasil jawaban pada tes objektif yang bersifat dikotomi. Penyekoran tes uraian bersifat nondikotomi. Jawaban tertinggi terserah penilai. Penyekoran tes uraian menggunakan pedoman penyekoran yang bersifat analitis. Penyekoran instrumen non tes adalah pemberian skor pada hasil skala yang digunakan. Pada penyusunan norma menguraikan acuan transformasi skor mentah berdasarkan acuan patokan atau acuan norma.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Telaah Pakar

Hasil telaah pakar ini menguraikan hasil validitas teoretik yaitu hasil penelitian pakar secara kualitatif yang meliputi kisi-kisi,  butir dan penskalaan pada jenis instrumen yang digunakan dan keterbacaan instrumen. Juga hasil penelitian pakar secara kuantitatif yang meliputi validitas butir dan reliabilitas antarpakar, penyempurnaan butir berdasarkan analisis dan saran dari pakar baik secara kualitatif maupun analisis kuantitatif.

B. Karakteristik Instrumen

1. Validitas Empirik Tahap Pertama dan Reliabilitas

1)              Menguraikan hasil ujicoba empiris tahap pertama dan penetapan butir yang valid menggunakan analisis faktor.

2)              Menguraikan hasil perhitungan indeks reliabiltas.

  1. Validitas Empirik Tahap Kedua dan Reliabilitas

1)              Menguraikan hasil ujicoba empiris tahap pertama dan penetapan butir yang valid menggunakan analisis faktor.

2)               Menguraikan hasil perhitungan indeks reliabiltas.

Uji validitas empirik dan perhitungan reliabitas dalam pengembangan instrumen  dilakukan lebih dari satu (> 1) kali.

  1. Pedoman Penggunaan Instrumen (Instrumen dilampirkan)

Menguraikan cara penggunaan instrumen, standar waktu, dan tempat penggunaan instrumen, pedoman skor instrument, dan menafsirkan hasil pengukuran.

BAB V KESIMPULAN

  1. KESIMPULAN
  2. IMPLIKASI
  3. SARAN
  1. E.      KELOMPOK PENELITIAN PENGEMBANGAN
  2. 1.       PENGEMBANGAN MODEL

1.1. SISTEMATIKA

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang masalah
  2. Fokus Penelitian
  3. Perumusan Masalah
  4. Kegunaan  Penelitian

 

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

  1. Konsep Pengembangan Model
  2. Kerangka Teori
  3. Penelitian yang Relevan
  4. Desain Model

 

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

  1. Tujuan Penelitian
  2. Tempat dan Waktu Penelitian
  3. Karakteristik Sasaran Penelitian
  4. Pendekatan dan Metode  Penelitian
  5. Langkah-langkah Pengembangan Model
    1. Penelitian Pendahuluan
    2. Analisis Kebutuhan
    3. Rancangan Model
    4. Telaah Pakar
    5. Ujicoba, Evaluasi, dan Revisi Model
    6. Implementasi Model
      1. Pengumpulan Data
      2. Analisis Data

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Hasil Pengembangan Model
  2. Kelayakan Model
  3. Efektivitas Model
  4. Pembahasan

 

BAB V KESMIPULAN IMPLIKASI DAN SARAN

  1. Kesimpulan
  2. Implikasi
  3. Saran

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN INSTRUMEN

LAMPIRAN HASIL

LAMPIRAN BUKU PENJELASAN

1.2. PENJELASAN

BAB I  PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang masalah

Pada bagian ini peneliti memaparkan latar belakang permasalahan berupa fakta yang memberikan informasi bahwa model yang sedang dilaksanakan diasumsikan belum memungkinan ketercapaian tujuan.

Permasalahan dapat dimaknai sebagai kesenjangan antara yang seharusnya terjadi dengan apa yang terjadi.  Untuk memperoleh informasi yang komprehensif diperlukan melakukan identifikasi masalah.

  1. Identifikasi Masalah

Identifikasi Masalah merupakan tahap permulaan dari langkah penentuan masalah. Dalam hal ini, peneliti seharusnya memahami masalah secara benar sehingga dapat menawarkan solusi alternatif dalam upaya mengatasi permasalah yang ada. Identifikasi masalah dapat dikemukakan dalam kalimat pernyataan.

  1. Pembatasan Masalah

Masalah perlu dibatasi agar dapat menentukan fokus penelitian

  1. Perumusan Masalah

Perumusan masalah merupakan usaha untuk mengemukakan pertanyaan-pertanyaan penelitian secara eksplisit.

 

  1. Kegunaan  Penelitian

Kegunaan penelitian pengembangan untuk memberikan solusi alternatif untuk memenuhi kebutuhan pengguna dalam rangka peningkatan mutu pendidikan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

  1. A.     Konsep Pengembangan Model

Setiap model dikembangkan berlandaskan pradigma/teori tertentu. Setelah mendeskripsikan dan menganalisis beberapa model maka peneliti melakukan sistesis untuk menentukan pilihan model yang relevan fokus penelitian.

  1. B.     Kerangka Teori

Diawali dengan mendeskripsikan beberapa model yang ada, dilanjutkan dengan  melakukan analisis model tersebut, peneliti menentukan pilihan model yang akan dikembangkan dengan dukungan teori.

  1. C.     Penelitian yang Relevan

Peneliti perlu melakukan kajian pelelitian yang relevan yang dapat diambil dari jurnal ataupun dasertasi.

  1. D.     Desain Model

Pada bagian ini peneliti memaparkan rangkaian kegiatan sbb :

  1. Penelitian Pendahuluan
  2. Perencanaan Pengembangan Model
  3. Ujicoba, Evaluasi, dan Revisi Model
  4. Implementasi model

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

  1. A.     Tujuan Penelitian

Pada bagian ini peneliti menawarkan solusi alternatif sesuai dengan rumusan permasalahan penelitian.

  1. B.     Tempat dan Waktu Penelitian
  1. C.     Karakteristik Sasaran Penelitian 

Peneliti perlu mendeskripsikan karakteristik sasaran penelitian setelah melakukan penelitian pendahuluan.

  1. D.     Pendekatan dan Metode  Penelitian

Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dan metode pengembangan.

  1. E.      Langkah-langkah Pengembangan Model
    1. 1.       Penelitian Pendahuluan

Penelitiian pendahuluan meruapakan bentuk analisis kebutuhan (Need Assesment) merupakan langkah awal yang harus dilakukan peneliti dalam kegiatan penelitian di bidang pengembangan. Analisis tersebut dimaksudkan untuk mengetahui kebutuhan apa saja yang diperlukan guna mengatasi masalah yang ditemui dalam kegiatan pendidikan/pembelajaran. Dengan demikian diharapkan produk yang dihasilkan benar-benar produk yang sesuai dengan kebutuhan (based on need). Kebutuhan merupakan kesenjangan (gap) antara keadaan yang seharusnya (ideal) dengan kenyataan yang ada.

  1. 2.       Perencanaan Pengembangan Model

Pada langkah ini, model yang akan dimanfaatkan dalam kegiatan pendidikan/ pembelajaran harus dikembangkan lebih dahulu. Untuk mengembangkan model tersebut diperlukan keterlibatan dari berbagai pakar.

  1. 3.       Ujicoba, Evaluasi, dan Revisi Model

Produk model awal yang telah dihasilkan sebelum dimanfaatkan secara massal perlu dievaluasi terlebih dahulu yaitu dengan diujicobakan. Ujicoba ini dimaksudkan untuk memperoleh masukan-masukan maupun koreksi tentang produk model yang telah dihasilkan. Berdasarkan masukan-masukan dan koreksi tersebut, produk model tersebut direvisi/diperbaiki.

Ada tiga kelompok penting yang perlu dijadikan subyek ujicoba produk penelitian pengembangan yaitu: para pakar, sasaran kelompok kecil dan kelompok besar yang sifatnya lebih heterogen.

  1. Ujicoba kepada para pakar (Expert Judgement)

Kepada para pakar diminta untuk mencermati produk yang telah dihasilkan, kemudian mereka diminta untuk memberikan masukan-masukan tentang produk tersebut. Berdasarkan masukan-masukan dari para pakar produk tersebut direvisi. Para pakar yang sejak awal sudah terlibat itulah yang diminta untuk mencermati program.

b. Ujicoba kepada kelompok kecil (Small Group Try-out)

Misalnya kumpulkan sekitar 10 hingga 15 responden (yang dianggap memiliki karakteristik yang sama dengan peserta didik yang akan menjadi target sasaran program atau main audience) untuk menonton tayangan program, kemudian mereka diminta memberikan komentar/masukan tentang program yang baru saja mereka tonton. Berdasarkan masukan-masukan dari small group ini program direvisi. Sebagai contoh jika yang menjadi sasaran utamanya anak-anak usia SD, maka ujicoba program juga diberikan kepada siswa-siswa SD.

  1. c.  Ujicoba Lapangan (Field Try-out)

Ujicoba pada tahap ini diberikan kepada jumlah responden yang banyak dengan subyek yang lebih heterogen. Kalau ujicoba kepada para pakar dan kelompok kecil bisa dilakukan oleh pihak intern yang terlibat dalam kegiatan penelitian pengembangan, maka ujicoba lapangan sebaiknya dilakukan oleh pihak luar. Hal ini dimaksudkan untuk menjaga obyektifitas dari kesimpulan yang dihasilkan. Masukan-masukan dari hasil ujicoba lapangan inilah yang menjadi dasar terakhir bagi perbaikan dan penyempurnaan produk. Setelah diperbaiki sesuai masukan dari lapangan, maka produk dianggap final dan siap untuk disebarkan atau dimanfaatkan secara massal.

  1. 4.       Implementasi Model

Sebenarnya setelah langkah ujicoba lapangan dan produk telah diperbaiki dan disempurnakan sesuai masukan-masukan yang diperoleh dari kegiatan ujicoba (baik ujicoba dari para pakar, ujicoba kelompok kecil maupun ujicoba lapangan), maka proses kegiatan penelitian pengembangan telah selesai. Hal ini karena penelitian telah menghasilkan produk yang dianggap final (final product), masih ada satu langkah lagi yang harus dijalankan yaitu penyebaran produk (disemination). Hal ini bisa dimengerti manakala orang berpendapat bahwa tidak akan banyak manfaatnya jika produk yang telah dikembangkan dengan susah payah dengan menghabiskan fikiran, tenaga dan biaya yang tidak sedikit, begitu selesai hanya ditumpuk dan sekedar menjadi bahan dokumentasi dan wacana saja tanpa disebarkan kepada warga masyarakat untuk dimanfaatkan.

Namun kalau hal ini akan dilaksanakan perlu dilakukan sebuah evaluasi summatif yaitu setelah pemanfaatan produk berjalan selama periode tertentu perlu dilakukan suatu evaluasi untuk menilai apakah produk efektif dan efisien atau tidak, hal ini berkaitan dengan pengambilan keputusan untuk menentukan apakah program tersebut diteruskan atau tidak. Evaluasi pada tahap ini disebut dengan evaluasi summatif. Sedangkan evaluasi pada tahap ujicoba pakar, kelompok kecil dan lapangan disebut dengan evaluasi formatif yang tujuannya untuk memperbaiki/ menyempurnakan produk.

Pengumpulan Data  dan Analisis Data

Pada bagian ini peneliti perlu mengemukakan cara data dikumpulkan dan prosedur analisis data yang digunakan untuk menganalisis data uji coba dikemukakan dalam bagian ini dan disertai alasannya.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. A.     Hasil Pengembangan Model

Pada bagian ini peneliti perlu menjelaskan secara mendalam, analitis tentang proses model yang telah dikembangkan secara naratif.  Pada dasarnya menyajikan hasil penelitian dalam laporan research, merupakan upaya memberi jawaban atas tujuan penelitian. Sehingga, Menyajikan Hasil Penelitian harus memuat point-point tujuan khusus dan tujuan umum penelitian sehingga efektifitas model dapat tergambarkan.

Penyajian hasil penelitian dan pembahasan diawali dengan pemberian gambaran lokasi penelitian dan karakteristik responden. Dilanjutkan point-point yang merupakan jawaban atas tujuan khusus dan tujuan umum penelitian.

Secara garis besar, aturanya mengikuti kaidah-kaidah penulisan ilmiah yang pernah saya bahas. Teknik penulisannya, dapat berupa kombinasi narasi, tabular, semi-tabular atau grafik. Ada hal penting yang harus diperhatikan oleh seorang peneliti, yaitu (1) teknik penyajian Hasil Penelitian dalam bentuk narasi, tabulasi, semi-tabulasi atau grafik (2) teknik membaca tabel atau grafik yang benar, sehingga keberadaan tabel atau grafik dalam penyajian dapat efektif.

  1. B.     Efektivitas Model (dalam tahapan ujicoba)

Pada bagian ini peneliti menekankan perlunya paparan data setiap hasil uji coba mulai dari awal proses hingga akhir model produk dihasilkan.

  1. C.     Kelayakan dan Efektivitas Model (Dalam tahapan implementasi)

 

  1. D.     Pembahasan mengenai faktor pendukung dan penghambat temuan penelitian.

 

BAB V KESIMPULAN IMPLIKASI DAN SARAN

  1. A.     Kesimpulan

Pada paparan ini peneliti menunjukan paparan terkait dengan tujuan penelitian pengembangan :

  1. Penelitian pengembangan merupakan salah satu jenis penelitian yang  bertujuan akan dihasilkannya sebuah produk.
  2. Produk yang dihasilkan dari penelitian pengembangan bisa berupa kurikulum pendidikan/ pembelajaran, sistem pengelolaan pendidikan /pembelajaran, sistem pendidikan/ pembelajaran, media pendidikan/pembelajaran dan lain-lain.
  3. Langkah-langkah penting yang perlu dilaksanakan dalam penelitian pengembangan adalah menganalisis kebutuhan, mengembangan produk, mengujicobakan produk, menyempurnakan produk dan menyebarkan produk.
  1. B.     Implikasi

Pada bagian ini memuat implikasi diwujudkan dengan pernyataan “jika-maka” .

  1. C.        Saran

Dalam mengembangan produk-produk pendidikan dan pembelajaran hendaknya ditempuh melalui pendekatan Penelitian Pengembangan. Melalui pendekatan ini diharapkan model yang dihasilkan merupakan produk yang benar-benar dibutuhkan peserta didik dan layak untuk dimanfaatkan.

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN INSTRUMEN

LAMPIRAN MODEL

LAMPIRAN BUKU PENJELASAN

 

  1. 2.         ACTION RESEARCH

2.1.   SISTEMATIKA

 

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah
  2. Fokus Penelitian
  3. Perumusan Masalah
  4. Kegunaan Penelitian

 

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

  1. Kajian Konseptual
  2. Penelitian yang Relevan
  3. Kerangka Teoretis
  4. Model Tindakan
  5. Hipotesis Tindakan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

  1. Tujuan Penelitian
  1. Tempat dan Waktu Penelitian
  2. Metode Penelitian
  3. Rancangan Tindakan
  4. Teknik Pengambilan Data
    1. Definisi Konseptual
    2. Definisi Operasional
    3. Kisi-kisi Instrumen
    4. Jenis Instrumen
  1. Disain dan Prosedur Tindakan
  2. Sumber Data

F.  Keabsahan Data

  1. Telaah Model Tindakan
  2. Validitas Data

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Deskripsi Pelaksanaan Penelitian
  2. Pembahasan

 

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Kesimpulan
  2. Implikasi
  3. Saran

 

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

Lampiran  1       Model Tindakan

Lampiran  2       Instrumen Pengambilan Data

Lampiran  3       Hasil Pengujian Keabsahan Data

Lampiran  4       Catatan Lapangan Kolaborator

Lampiran  5       Hasil

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

2.2.   PENJELASAN

BAB I PENDAHULUAN

  1. A.     Latar Belakang Masalah

Latar belakang masalah mengungkapkan konteks permasalahan yang hendak dipecahkan. Uraian harus diawali dengan mengidentifikasikan kesenjangan-kesenjangan yang ada antara kondisi nyata dengan kondisi ideal, serta dampak yang ditimbulkan oleh kesenjangan-kesenjangan itu. Berbagai alternatif untuk mengatasi kesenjangan tersebut perlu dipaparkan secara singkat disertai dengan identifikasi faktor penghambat dan pendukungnya. Alternatif yang ditawarkan sebagai pemecah masalah beserta rasionalnya dikemukakan pada bagian akhir dari paparan latar belakang masalah.

  1. B.     Fokus Penelitian

Dari berbagai permasalahan yang ada, peneliti menfokuskan salah satu permasalahan yang akan diteliti. Fokus penelitian digunakan untuk memilih masalah yang penting untuk dipecahkan permasalahannya.

  1. C.     Perumusan Masalah

Rumuskan masalah penelitian dengan memamparkan dengan kalimat tanya. Rumusan masalah memuat alternatif pemecahan yang ditawarkan serta rasional mengapa alternatif itu yang dipilih sebagai cara pemecahan yang paling tepat terhadap masalah yang ada.

  1. D.     Kegunaan Penelitian

Paparkan kegunaan hasil penelitian bagi pengembangan keilmuan. Kegunaan penelitian hendaknya dipaparkan mengenai bagaimana bentuk dan di mana hasil penelitian ini dapat diimplementasikan.

 

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

  1. A.     Kajian Konseptual

Bagian ini memuat deskrpsi teori yang mendasari variabel. Kemukakan teori dan pustaka yang relevan, dan memberi arah serta petunjuk pada pelaksanaan tindakan. Diperlukan adanya usaha untuk membangun argumentasi teoretis yang menunjukkan bahwa tindakan yang diberikan dimungkinkan dapat meningkatkan mutu proses pembelajaran. Kajian teori digunakan sebagai kerangka acuan pengembangan tindakan. Kerangka acuan disusun berdasarkan kajian berbagai aspek teoretik dan empiris yang terkait dengan permasalahan dan upaya yang akan ditempuh untuk memecahkannya. Uraian-uraian dalam bab ini menjadi landasan teoretik mengapa masalah itu perlu dipecahkan dan mengapa cara pengembangan tindakan tersebut dipilih.

  1. B.     Penelitian yang Relevan

Bagian ini menjelaskan temuan dari penelitian lain yang memiliki kesamaan permasalahan dengan masalah yang peneliti lakukan. Pembahasan penelitian yang relevan digunakan untuk mengetahui  state of the art  permasalahan yang diteliti.

  1. C.     Kerangka Teoretis

Bagian ini memaparkan keterkaitan konsep-konsep yang digunakan untuk menghasilkan prosedural tindakan. Kerangka teoritis yang dihasilkan berupa desain tindakan secara teoretis.

  1. D.     Model Tindakan

Bagian ini menjelaskan berbagai motode penelitian Action Research yang ada dengan memberikan informasi kelebihan dan kekurangan masing-masing metode penelitian Action Research. Peneliti harus dapat menjelaskan kesesuaian metode penelitian Action Research yang dipilih dengan model tindakan yang akan diteliti.

  1. E.      Hipotesis Tindakan

Bagian ini menjelaskan rumusan berupa jawaban tentative terhadap pertanyaan penelitian yang diturunkan dari kerangka teoretik.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

 

  1. A.     Tujuan

Peneliti memaparkan  hasil yang diharapkan dari penelitian ini. Tujuan dipaparkan secara jelas dan operasional. Rumusan tujuan harus mengarah upaya perbaikan untuk mengatasi permasalah yang diteliti.

  1. B.     Tempat dan Waktu Penelitian

Memuat penjelasan  lokasi dan kurun waktu saat penelitian dilaksanakan.

  1. C.     Metode Penelitian

Menjelaskan metode peneltian Action Research yang digunakan dalam pemecahan masalah.

  1. D.       Rancangan Tindakan

Pada bagian ini peneliti menjelaskan siklus yang dirancang dalam penelitian. Siklus terdiri atas empat tahapan yang lazim dilalui, yaitu tahap: (1) perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi.

  1. E.      Desain dan Prosedur Tindakan
    1. Desain Tindakan

Dalam bagian ini peneliti menjelaskan tentang apa, mengapa, kapan, di mana, oleh siapa, dan bagaimana tindakan tersebut dilakukan.

  1. 2.       Prosedur Tindakan

Bagian ini dijelaskan tahapan dalam melaksanakan tindakan. Setiap tahapan dijelaskan apa yang dilaksanakan dan bagaimana pelaksanaannya.

 

  1. F.        Kriteria Keberhasilan Tindakan

Bagian ini penelitian memberikan kriteria keberhasilan tindakan untuk memutuskan kerbahasilan setiap siklus.

  1. G.       Sumber data

Menjelaskan  siapa dan apa yang menjadi sumber data dalam penelitian.

  1. H.       Instrumen Pengumpul Data
    1. 1.       Definisi Konseptual

Menjelaskan konseptual aspek yang akan diukur dalam tindakan.

  1. 2.       Definisi Operasional

Menjelaskan secara operasional aspek yang akan diukur dalam tindakan.

  1. 3.       Kisi-kisi Instrumen

Menjelaskan kisi-kisi instrumen dari aspek yang akan diukur dalam tindakan.

  1. 4.       Jenis Instrumen

Menjelaskan instrumen yang digunakan sebagai alat pengambil data dalam tindakan penelitian.

I.  Keabsahan Data

  1. 1.         Telaah Model Tindakan

Menjelaskan teknik yang digunakan dalam melakukan telaah

  1. 2.         Validitas Data
  1. I.        Teknik Analisis Data

Menjelaskan teknik dan kreteria analisis yang digunakan untuk menganalisis data.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

  1. A.     Deskripsi Pelaksanaan

Menyajikan uraian masing-masing siklus dengan data lengkap, menyangkut berbagai aspek yang terjadi akibat tindakan yang dilakukan. Tunjukkan adanya perbedaan tindakan dengan kegiatan yang biasa atau sering dilakukan. Pada refleksi diakhir setiap siklus berisi penjelasan tentang aspek keberhasilan grafik, dan kelemahan yang terjadi. Kemukakan ada perubahan/kemajuan/perbaikan yang terjadi pada diri peserta didik, lingkungan kelas, pengajar, motivasi/minat belajar, dan hasil belajar. Kemukakan hasil dari keseluruhan siklus ke dalam ringkasan untuk bahan dasar analisis dan pembahasan. Bahan/data tersebut ditulis dalam bentuk tabel atau bagan sehingga akan memperjelas adanya perubahan yang terjadi disertai pembahasan secara sistematik dan jelas.

  1. C.     Pembahasan

Bagian ini peneliti membahas hasil penelitian secara keseluruhan dengan menjelaskan keberhasilan intervensi yang dilakukan pada siklus serta kelemahan yang ada dengan adanya intervensi tersebut. Dalam pembahasan ini peneliti mengacu pada teori yang mendasari variabel yang dibahas.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

 

  1. A.     Kesimpulan

Sajikan kesimpulan hasil penelitian sesuai dengan tujuan/masalah penelitian yang telah disampaikan sebelumnya.

  1. B.     Implikasi

Berikan pembahasan mengenai pemanfaatan hasil penelitian pada pembelajaran secara operasional, serta contoh implementasi hasil penelitian tersebut dalam pembelajaran yang relevan.

  1. C.     Saran

Berikan saran tindak lanjut berdasarkan kesimpulan yang diperoleh baik yang menyengkut segi positif maupun negatifnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

  1. 1.       Lampiran Disain Tindakan
  2. 2.       Lampiran Catatan kolaborator
  3. 3.       Lampiran Pelaksanaan Tindakan (foto dan bukti dokumentasi lainnya)

 

 

Bab 4

Notasi Ilmiah

Teknik Notasi Ilmiah

Dalam bagian ini akan dicoba untuk menguraikan hal-hal yang bersifat pokok dari salah satu teknik notasi ilmiah yang mempergunakan catatan kaki. Tidak semua aspek dari teknik notasi ilmiah tersebut akan dibahas di sini melainkan bagian-bagian yang penting saja. Diharapkan dengan menguasai aspek-aspek yang bersifat esensial maka seseorang akan mampu mengkomunikasikan gagasannya secara ilmiah, atau paling tidak mampu memahami sebuah karya ilmiah.

Tanda catatan kaki diletakkan di ujung kalimat yang kita kutip dengan mempergunakan angka Arab yang naik diketik setengah spasi. Atau bisa juga kita mempergunakan lambang tertentu dengan catatan bahwa lambang yang sama dapat diulangi  dalam halaman yang berbeda, namun lambang yang berbeda harus dipergunakan untuk tiap catatan kaki dalam halaman yang sama. Catatan kaki dengan mempergunakan angka diberi nomor mulai dari angka 1 sampai habis catatan kaki dalam satu bab. Untuk bab baru catatan kaki dimulai lagi dengan angka 1 dan seterusnya.

Satu kalimat mungkin terdiri dari beberapa catatan kaki sekiranya kalimat tersebut terdiri dari beberapa kutipan. Dalam keadaan seperti ini maka catatan kaki diletakkan di akhir kalimat yang dikutip sebelum tanda baca penutup, sedangkan satu kalimat yang seluruhnya terdiri dari satu kutipan, tanda catatan kaki diletakkan sesudah tanda baca penutup. Umpamanya:

Banyak pakar mendefinisikan tentang emosi yang masing-masing berbeda sudut pandangnya.  Emosi didefinisikan sebagai persepsi mental  yang merupakan umpan balik dari stimulus.[1]  Definisi lain emosi dari sudut pandang biologi adalah  ekspresi dan perasaan. Dalam hal ini ekspresi berada pada hypothalamus, sedangkan perasaan pada cortex.[2]  Pendekatan fenomenologi mendefinisikan emosi dari konteks sosial perasaan pribadi dan pendekatan perilaku melihat emosi sebagai bawaan.[3]

Sekiranya kalimat itu disusun menjadi 3 buah kalimat yang masing-masing mengandung satu kutipan maka tanda catatan kaki ditulis sesudah tanda baca penutup:

Menurut LeDoux, emosi adalah persepsi mental  yang merupakan umpan balik dari stimulus,[4]  Berbeda dengan pendapat Strangman, bahwa emosi ditinjau dari sudut pandang biologi adalah  ekspresi dan perasaan. Dalam hal ini ekspresi berada pada hypothalamus, sedangkan perasaan pada cortex.[5]  Salovey & Sulyster mendefinisikan emosi dari konteks sosial perasaan pribadi dan pendekatan perilaku melihat emosi sebagai bawaan.[6]

Kalimat yang dikutip tersebut harus dituliskan sumbernya secara tersurat dalam catatan kaki. Kutipan yang diambil dari halaman tertentu harus disebutkan halamannya dengan singkatan hal., umpamanya, hal. 143. Sekiranya kutipan itu disarikan dari beberapa halaman maka dituliskan halaman-halaman yang dimaksud, umpamanya, hal. 6-10.

Contoh:                                                         

1Joseph LeDoux, The Emotional Brain (New York: Simon & Schuster, 1996), hal 143. 

 

2 Peter Salovey & D.J. Sulyster, Emotional Develompment and Emotional Inteligence (New York: Basic Books, 1997), hal. 6 -10.

Catatan kaki ditulis dalam satu spasi dan dimulai langsung dari pinggir, atau dapat juga dimulai setelah beberapa ketukan ketik dari pinggir, asalkan dilakukan secara konsisten. Nama pengarang yang jumlahnya sampai tiga orang dituliskan lengkap sedangkan jumlah pengarang lebih dari tiga orang hanya dituliskan nama pengarang pertama ditambah kata et al. (et alii, artinya, dan lain-lain).

 

   Rex Johnson dan David Swindley, Creating Confindence: The Secrets of Seltf Esteem  (Melboure: Element, 1999), hal. 10

 

David O. Sears, Letitia Anne Peplau dan Shelley E. Taylor, Social Psychology (Englewood Cliffs, N.J.: Prentice Hall Inc., 1991), hal. 268.

 

 John A. R. Wilson, et al., Psychological Foundation of Learning and Teaching   (New York: McGraw-Hill Book Company, 2004), hal. 406.

Jika nama pengarangnya tidak ada maka langsung saja nama bukunya dituliskan atau dituliskan Anon. (Anonymous) di depan nama buku tersebut. Sebuah buku yang diterjemahkan harus ditulis baik pengarang maupun penterjemah buku, sedangkan sebuah kumpulan karangan cukup disebutkan nama editornya sebagai berikut:

  Rencana Strategi Pendidikan  (Jakarta: Kementerian Pendidikan Nasional, 2010).

 

  J.J. Honingman, The World of Man, dalam Alfian (ed.), Persepsi Masyarakat tentang Kebudayaan  (Jakarta : Gramedia, 1985), hal. 100.

 

Sebuah makalah yang dipublikasikan dalam majalah, koran,  kumpulan karangan atau dituliskan dalam forum ilmiah dituliskan dalam tanda kutip disertai informasi mengenai makalah tersebut:

 

Defri Werdiono, “Upaya Menyelamatkan Gambut,” Kompas, 10 Agustus 2010, hlm. 16.

 

Douglas Koch and Mark Sanders, “The Effects of Solid Modeling and Visualization on Technical Problem Solving,” Journal of Technology Education, Vol. 22 No. 2, Spring 2011, hal. 1.

 

Soenjono Dardjowidjojo, “Pengajaran, Pembelajaran, dan Pemerolehan”, Makalah  diseminarkan  pada PSPB  dan  MLI Cabang Universitas Sriwijaya di Palembang tahun 2000, hal.1

 

Jujun S. Suriasumantri,  “Pembangunan Sosial Budaya Secara Terpadu”,   dalam  Masalah Sosial Budaya Tahun 2000: Sebuah Bunga Rampai Soedjatmoko at al. (ed.) (Yogyakarta: Tiara Wacana, 1986),  hal. 10.

 

Pengulangan kutipan dengan sumber yang sama dilakukan dengan memakai notasi op. cit. (opere citato, artinya, dalam karya yang telah dikutip) dan loc. cit. (loco citato, artinya, dalam tempat yang telah dikutip) dan ibid. (ibidem, artinya, dalam tempat yang sama). Untuk pengulangan nama pengarang tidak ditulis lengkap melainkan cukup nama familinya saja. Sekiranya pengulangan dilakukan dengan tidak diselang oleh pengarang lain maka dipergunakan notasi ibid. seperti tampak dalam contoh berikut:

Ibid., hlm. 131.

 

Artinya, kita mengulangi kutipan dari karangan B. Suprapto seperti tercantum dalam catatan kaki nomor 13 meskipun dengan nomor halaman yang berbeda. Sekiranya kita mengulang karangan M. Sastrapratedja dalam catatan kaki nomor 12 yang terhalang oleh karangan B. Suprapto maka kita tidak lagi menggunakan ibid. melainkan loc. cit. seperti contoh di bawah ini:

 Aiken, loc. cit.

Ulangan halaman yang berbeda dan telah diselang oleh pengarang lain ditulis dengan mempergunakan op. cit. sebagai berikut:

Goleman,  op.cit.,  hal. 7.

 

Sekiranya dalam kutipan yang dipergunakan terdapat seorang pengarang yang menulis beberapa karangan maka penggunaan loc. cit. atau op. cit. akan membingungkan. Oleh sebab itu sebagai penggantinya dituliskan nama karangannya. Bila judul itu panjang maka dapat dilakukan  penyingkatan selama  hal  itu mampu  mewakili judul karangan yang dimaksud.

Umpamanya:

Joseph LeDoux, The Emotional Brain, hal 9

Kadang-kadang kita ingin mengutip sebuah pernyataan yang telah dikutip dalam karangan orang lain. Untuk itu maka kedua sumber itu dituliskan sebagai berikut:

Sutan Takdir Alisyahbana, “Persepsi tentang Kebudayaan Nasional dalam Alfian (ed.),  Persepsi Masyarakat tentang Kebudayaan  (Jakarta: Gramedia, 1985),  hal. 41.

 

Semua kutipan tersebut di atas, baik yang dikutip langsung maupun tidak langsung, sumbernya kemudian disertakan dalam daftar pustaka. Hal ini kita kecualikan untuk kutipan yang didapatkan dari sumber kedua sebagaimana tampak dalam catatan kaki nomor 18. Dalam catatan kaki nama pengarang dituliskan lengkap dengan tidak mengalami perubahan apa-apa, umpamanya, Harold A. Larrabee. Sedangkan dalam daftar pustaka nama pengarang disusun berdasarkan urutan abjad nama huruf awal nama familinya, yakni, Larrabee, Harold A.. Tujuan utama catatan kaki adalah mengidentifikasi lokasi yang spesifik dari karya yang dikutip. Di pihak lain, tujuan utama dari daftar pustaka adalah mengidentifikasi karya ilmiah itu sendiri. Untuk itu maka dalam daftar pustaka tanda kurung yang membatasi penerbit dan domisili penerbit dihilangkan dan juga demikian lokasi halaman. Dengan demikian maka catatan kaki (CT) nomor 1, 4, 5, 6, 9, 11 dan 13 bila dimasukkan ke dalam daftar pustaka (DP) mengalami perubahan sebagai berikut:

CT  : 

H.  Douglas Brown, Teaching by Principles: An Interactive Approach to Language Pedagogy  (White Plains, NY: Addison Wesley Longman, Inc, 2001), hal. 54-69.

 

 DP   : 

Brown, H. Douglas. Teaching by Principles: An Interactive Approach to Language Pedagogy. White Plains, NY: Addison Wesley Longman, Inc, 2001

 CT :

 William S. Sahakian and Mabel  L.       Sahakian,   Realms of Philosophy (Cambridge: Schenkman,  1965),  hlm. 6.

 

DP : 

 Sahakian,  William  S. and   Mabel  L.   Sahakian.  Realms of Philosophy.  Cambridge: Schenkman, 1965.

                                                                               

CT :  

Ralph M. Blake,  Curt J. Ducasse and  Edward H. Madden, Theories of Scientific Method(Seattle: Wahington University Press, 1966), hlm. 7.

 

 

 

DP :  

Blake, Ralph M.,  Curt J. Ducasse and Edward H.  Madden. Theories of Scientific Method.  Seattle: Washington University Press, 1966.

 

CT :  

Sukarno et al. ,   Dasar-dasar Pendidikan Science  (Jakarta: Bharata, 1973), hlm. 8.

 

DP  :  

Sukarno et al.   Dasar-dasar Pendidikan Science.  Jakarta:  Bharata,  1973.

 

CT : 

 James R. Newman (ed.),  What is Science?   (New York: Simon and Schuster, 1955),  hlm.  35.

 

DP : 

 Newman, James R. (ed.), Wkat is  Science?   New  York:  Simon and Schuster, 1955.

 

CT :  

Liek Wilardjo,     “Tanggung  Jawab  Sosial Ilmuwan,”    Pustaka,   Th. III  No. 3, April 1979,  hlm. 10. 

 

DP : 

 Wilardjo, Liek.  “Tanggung  Jawab  Sosial  Ilmuwan.”   Pustaka.   Th. III  No. 3, April 1979,  hlm. 10-15.

 

Untuk contoh nomor (11) tersebut di atas, kita mengutip karangan Liek Wilardjo dalam halaman 10, yang sumbernya berada dalam majalah Pustaka dari halaman 10 sampai dengan 15. Hal ini juga sama dengan kutipan seorang pengarang yang berada dalam kumpulan karangan, umpamanya, contoh Catatan Kaki nomor 13.

(13)  CT :   B. Suprapto,     “Aturan  Permainan dalam Ilmu-ilmu Alam,” Ilmu dalam Perspektif, ed. Jujun  S. Suriasumantri (Jakarta: Gramedia, 1978),  hlm.  130.

 

      DP  :   Suprapto, B.  “Aturan Permainan dalam Ilmu-                                                                                                ilmu Alam,” Ilmu dalam Perspektif, ed. Jujun    S. Suriasumantri, 129-133. (Jakarta: Gramedia,  1978).

 

Daftar pustaka ini kemudian disusun menurut urutan abjad dari nama famili pengarangnya dan diletakkan dalam bab tersendiri yang biasanya diletakkan di bagian belakang karangan. Untuk pengetikan dengan mempergunakan komputer maka judul buku yang dituliskan dengan garis di bawahnya dapat diganti dengan huruf miring (italic).

Demikianlah secara singkat telah dibahas salah satu contoh teknik notasi ilmiah yang biasa dipergunakan dalam karangan ilmiah. Materi yang telah dibahas telah mencakup pokok-pokok cara mengutip karya orang lain  dalam penulisan ilmiah. Dengan mengetahui struktur dan teknik notasi ilmiah ini maka kita dapat mengutip jenis karya yang lain. Umpamanya, kita dapat mengutip jurnal ilmiah, yang strukturnya sama saja dengan majalah:

D.W. Masaro, “Perceptual Auditory Images,” Journal of Experimental Psychology,  85,  1970,  hlm. 411-417.

 

Dalam daftar pustaka ditulis:

Masaro, D.W., “Perceptual Auditory Images,” Journal of Experimental Psychology, 85, 1970, hlm. 411-417.

Mengutip sebuah disertasi, atau karya ilmiah lainnya, yang tidak dipublikasikan sama saja dengan buku:

Jujun S. Suriasumantri, The Utilities of Planning-Programing- Budgeting System (PPBS) and Organization Development (OD) for Educational Development Planning: An Indonesian Case.  (Unpublished dissertation, Harvard University, 1975),  hlm. 33-45.

 

Dalam daftar pustaka ditulis:

Suriasumantri, Jujun S. The Utilities of Planning-Programming-Budgeting System (PPBS) and Organization Development (OD) for Educational Development Planning: An Indonesian Case. Unpublished dissertation.  Harvard University, 1975.

 

 

Terdapat berbagai variasi dalam penulisan teknik ilmiah ini namun pada hakikatnya tujuannya sama namun berbeda dalam cara penulisannya.  Buku  yang  dapat  dirujuk  mengenai  notasi  ilmiah ini antara lain adalah karangan Jacques Barzun dan Henry F. Graff yang berjudul The Modern Researcher§,  Kate L . Turabian, Student’s Guide for Writing College Papers¨,  Eugene Ehrlich dan Daniel Murphy yang berjudul Writing and Researching Term Papers and Reports© dan Peyton Hurt, Bibliography and Footnotesª. Publikasi dalam bahasa Indonesia umpamanya karangan Slamet Suseno yang berjudul Teknik Penulisan Ilmiah PopulerY dan S. Effendi (ed.) yang berjudul Pedoman Penulisan Laporan PenelitianW.

                                                                              

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Bab 5

Format Tesis dan Disertasi

 

 

 

 

 

 

 

Contoh Cover Tesis*

EFEKTIVITAS KEPEMIMPINAN

KEPALA SEKOLAH

(times new roman, font 14, huruf kapital, bold, 1 spasi)

Studi Korelasional Pengetahuan Manajemen dan Iklim

Sekolah dengan Efektivitas Kepemimpinan Kepala SLTP

di Wilayah Kota Depok

(times new roman, font 12, huruf kapital di awal kata, bold, 1 spasi)

NAMA

(times new roman, font 12, huruf kapital, bold, 1 spasi)

No. Registrasi

(times new roman, font 12, angka, bold, 1 spasi)

Tesis yang Ditulis untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

untuk Mendapatkan Gelar Magister

(times new roman, font 12, huruf capital di awal kata, bold, 1 spasi)

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

(times new roman, font 14, huruf kapital, bold, 1 spasi)

2011

(times new roman, font 12, angka, bold, 1 spasi)

 

  * warna cover disesuaikan dengan program studi 

Lampiran 9

Contoh Cover Disertasi *

METODOLOGI PEMBELAJARAN BAHASA INGGRIS KOMUNIKATIF DI PONDOK MODERN GONTOR

(times new roman, font 14, huruf kapital, bold, 1 spasi)

NAMA

(times new roman, font 12, huruf kapital, bold, 1 spasi)

No. Registrasi

(times new roman, font 12, angka, bold, 1 spasi)

Disertasi yang Ditulis untuk Memenuhi Sebagian Persyaratan

untuk Mendapatkan Gelar Doktor

(times new roman, font 12, huruf capital di awal kata, bold, 1 spasi)

 

 

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

(times new roman, font 14, huruf kapital, bold, 1 spasi)

2011

(times new roman, font 12, angka, bold, 1 spasi)

 

 

* warna cover disesuaikan dengan program studi

 

 

Lampiran 10

PERSETUJUAN KOMISI PEMBIMBINGDIPERSYARATKAN UNTUK SEMINAR PROPOSAL/UJIAN FORMATIF

Pembimbing                                             Pembimbing

Nama Pembimbing                                  Nama Pembimbing

Tanggal:                                                   Tanggal:

Mengetahui,

Ketua Program Studi PPs UNJ

Nama Kaprog

Tanggal:Nama                :

No. Registrasi   :

Angkatan          :

Catatan : diketik dengan huruf Times New Roman font 12

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran 11

PERSETUJUAN KOMISI PEMBIMBING DIPERSYARATKAN UNTUK UJIAN SUMATIF

Pembimbing                                                   Pembimbing

Nama Pembimbing                                         Nama Pembimbing

Tanggal:                                                          Tanggal:

PERSETUJUAN PANITIA UJIAN MEGIATER

Nama Direktur

(Ketua) 1                                   ……………………              …………….

(Tanda Tangan)            (Tanggal)

Nama Ketua Program Studi      ……………………            ……………..

(Sekretaris)2                               (Tanda tangan)            (Tanggal)

Nama               :

No. Registrasi  :

Angkatan          :

  1. Direktur Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta
  2. Ketua Program Studi … ….Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta

Catatan : diketik dengan huruf Times New Roman font 12

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran 12

PERSETUJUAN KOMISI PROMOTOR DIPERSYARATKAN UNTUK SEMINAR PROPOSAL/ SEMINAR HASIL TESIS DAN DISERTASI/UJIAN TERTUTUP

Promotor                                                   Co-Promotor

Nama Promotor                                        Nama Promotor

Tanggal:                                                    Tanggal:

Mengetahui,

Ketua Program Studi …….

PPS UNJ

Nama Kaprog

Tanggal ………………..

Nama                 :

No. Registrasi    :

Tanggal Lulus    :

Catatan : diketik dengan huruf Times New Roman font 12

 

 

 

 

 

Lampiran 13

PERSETUJUAN KOMISI PROMOTOR DIPERSYARATKAN UNTUK UJIAN TERBUKA

Promotor                                             Co-Promotor

Nama Promotor                                    Nama Co-Promotor

Tanggal:                                                Tanggal:

PERSETUJUAN PANITIA UJIAN DOKTOR

Nama Rektor

(Ketua) 1                        ……………………              …………….

(Tanda Tangan)            (Tanggal)

Nama Direktur               …………………….            ……………..

(Sekretaris)2                    (Tanda Tangan)            (Tanggal)

Nama               :

No. Registrasi  :

Tanggal Lulus  :

  1. Rektor Universitas Negeri Jakarta
  2. Direktur Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta

Catatan : diketik dengan huruf Times New Roman font 12

Lampiran 14

 

SIKAP PEKERJA TERHADAP PENGEMBANGAN ORGANISASI

(times new roman, huruf kapital font 12, bold)

 

Survei di Pertamina Unit Pengolahan V

Balongan, Indramayu

(2010)

(times new roman, huruf capital di awal kata, font 12)

THE ATTITUDE OF EMPLOYEE TOWARD ORGANIZATION DEVELOPMENT

(times new roman, huruf kapital, font 12, bold)

NAMA

ABSTRACT

(times new roman, font 12, bold)

The objective of the research is to determine the relationship between knowledge about vision/mission, empowerment and quality of work life with employee’s attitudes toward organizational development. The research was conducted at Pertamina Refinery in lndramayu, West Java, 2002 with n=90 selected randomly.

The research are as follows: (1) there is positive correlation between knowledge about vision/mission and employee’s attitude toward organizational development, (2) there is positive correlation between empowerment and employee’s attitude toward organizational development but not significant, (3) there is positive correlation between quality of work life and employee’s attitude toward organizational development but not significant.

Based on the result of research, the employee’s attitude toward organizational development could be enhanced by increasing knowledge about vision and mission, since the result of verification simply be able to prove knowledge about vision/mission to be one of the vital and significant determinant factor.

(times new roman, font 12, 1 spasi)

 

 

Lampiran 15

                                                    KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan karunia-Nya pada penulis, akhirnya penulis dapat menyelesaikan penyusunan disertasi yang berjudul: Efektivitas Kepemimpinan: Suatu Studi Korelasional antara Akuntabilitas, Orientasi Laba, dan Motivasi Kerja dengan Efektivitas Kepemimpinan di Lingkungan Direktorat Hilir Pertamina Jakarta.

Disertasi ini ditulis untuk memenuhi sebagian persyaratan memperoleh gelar Doktor Manajemen Pendidikan pada Program Pascasarjaa Universitas Negeri Jakarta (UNJ).

Penulis menyadari bahwa disertasi ini dapat diselesaikan berkat dukungan dan bantuan dan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis berterima kasih kepada semua pihak yang secara angsung dan tidak langsung memberikan kontribusi dalam penyelesaian disertasi ini. Secara khusus pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada: (Nama) dan (Nama) sebagai promotor yang telah membimbing dan mengarahkan penufis selama penyusunan disertasi ini dan awal hingga disertasi ini dapat diselesaikan.

Penulis juga berterima kasih kepada Rektor UNJ, (Nama), Direktur Program Pascasarjana UNJ, (Nama), beserta segenap jajarannya yang telah berupaya meningkatkan situasi kondusif pada Program Pascasarjana UNJ. Tak lupa penulis berterima kasih kepada Ketua Program Studi Manajemen Pendidikan, (Nama), beserta jajaran Program Studi Manajemen Pendidikan. Demikian juga penulis menyampaikan terima kasih kepada seluruh dosen dan staf administrasi PPS UNJ, termasuk rekan-rekan mahasiswa.

Akhirnya penulis mengucapkan terima kasih kepada istri tercinta (Nama) dan anak-anak tersayang, yang dengan setia dan kesabarannya mendorong penulis untuk menyelesaikan disertasi ini. Harapan penulis disertasi ini dapat memberi sumbangsih dalam masalah kepemimpinan pada manajemen perusahaan yang selalu dinamis di era globalisasi dan sesuai dengan prinsip Goad Corporate Governance.

Jakarta, Januari 2010

NN

(times new roman, font 12, 1 spasi)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran 16

DAFTAR ISI

JUDUL HAL
RINGKASAN i
PERSETUJUAN  KOMISI PROMOTOR ii
KATA PENGANTAR v
DAFTAR ISI vi
DAFTAR TABEL viii
DAFTAR GAMBAR xiv
DAFTAR GRAFIK xv
DAFTAR LAMPIRAN xvi
BAB I. PENDAHULUAN 1
  1. Latar Belakang
1
B. Identifikasi Masalah 7
C. Pembatasan Masalah 8
D. Perumusan Masalah 8
E. Kegunaan Tesis dan disertasi 9
BAB II. KAJIAN TEORETIS, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS 11
A. Kajian Teoretis 11
B. Kerangka Berpikir 67
C. Perumusan Hipotesis 81
BAB III METODOLOGI PENEUTIAN 82
  1. Tujuan Tesis dan disertasi
82
  1. Ternpat dan Waktu Tesis dan disertasi
84
  1. Metode Tesis dan disertasi
84
  1. Populasi dan Sampel
85
  1. Instrumen Tesis dan disertasi
87
  1. Teknik Analisis Data
103
  1. Hipotesis Statistik
105
BAB IV.HASIL TESIS DAN DISERTASI DAN PEMBAHASAN 104
A. Deskripsi Data 104
B. Pengujian Persyararan Analisis 112
C. Pengujian Hipotesis 116
D. Keterbatasan Tesis dan disertasi 137
BAB  V. KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN 141
A. Kesimpulan 141
B. Implikasi 141
C. Saran 149
DAFTAR PUSTAKA 159
LAMPIRAN 162
RIWAYAT HIDUP 312

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran 17

LEMBAR PERNYATAAN

 

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa Tesis/Disertasi yang saya susun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister/Doktor dari Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta seluruhnya merupakan hasil karya saya sendiri.

Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan Tesis/ Disertasi yang saya kutip dan hasil karya orang lain telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai dengan norma, kaidah dan etika penulisan lmiah.

Apabila di kemudian hari ditemukan seluruh atau sebagian Tesis/ Disertasi ini bukan hasil karya saya sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, saya bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang saya sandang dan sanksi-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Jakarta, …………

Nama Mahasiswa

Materai 6000

NAMA

Lampiran 18

BUKTI PENGESAHAN PERBAIKAN TESIS

Nama                                     : …………………………………………

No. Registrasi                      : …………………………………………

Program Studi                      : …………………………………………

NO NAMA TANDA TANGAN TANGGAL
1 Direktur
2 Pembimbing 1
3 Pembimbing 2
4 Ketua Program Studi
5 Penguji Ahli

Lampiran 19

 

BUKTI PENGESAHAN PERBAIKAN DISERTASI

Nama                         : ………………………………………

No. Registrasi     : ………………………………………

Program              : ………………………………………

NO NAMA TANDA TANGAN TANGGAL
1 Direktur
2 Promotor
3 Promotor
4 Ketua Program Studi
5 Penguji
6 Penguji Senat
7 Penguji Luar

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran 20

RIWAYAT HIDUP

NAMA, lahir di Jakarta, (tanggal), merupakan putra pertama dan Bapak (nama) dan Ibu (nama).  menyelesaikan pendidikan di Sekolah Dasar (Rakyat), SMP Negeri di  (nama), SMA Negeri VI di Yogyakarta dan Fakultas (Nama) di Yogyakarta. Pada tahun 1996 melanjutkan studi S2 di MM UGM dan  selanjutnya tahun 2000 melanjutkan studi di S3 Universitas Negeri Jakarta.

Sejak tahun 1972 mulai bekerja di Pertamina hingga sekarang ini. Pernah menduduki jabatan sebagai Technical Service Engineer Lab. Petrokimia, Kepala Logisrik Proyek Methanol Bunyu, General Affair Aromatic Project di Lhokseumawe Aceh Utara, Kepala Personalia Direktorat. Pengolahan dan Manager Umum UP VI Balongan. Jabaran saat mi sebagai Direktur PT Mitra T&T (anak perusahaan Pertamina). Di samping itu sejak tahun 1999 mendapat tugas sebagai anggota delegasi Indonesia ke sidang OPEC di Wina Austria.

Menikah dengan (nama) tahun 1979 dan dikaruniai tiga anak yaitu: (Nama) mahasiswa (Nama PT), (Narna) mahasiswi (Nama PT) dan (Nama) siswa kelas IV SDN Jakarta.

(times new roman, font 12, 1,5 spasi)

Lampiran 21

SINOPSIS DISERTASI

 

SIKAP PEKERJA TERHADAP PENGEMBANGAN ORGANISASI

(times new roman, font 12, huruf kapital, bold, 1 spasi)

 

Survei di Pertamina Unit Pengolahan VI

Balongan, Indramayu (2005)

(times new roman, font 10, huruf kapital di awal kata, 1 spasi)

dituliskan nama

No. Registrasi

Program Studi:

(times new roman, font 10, huruf kapital di awal kata, 1 spasi)

Diajukan kepada Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta dalam Rangka Memenuhi Sebagian Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Doktor dan Dipertahankan di Hadapan Sidang Terbuka Senat Universitas Negeri Jakarta

(times new roman, font 10, huruf kapital di awal kata, 1 spasi)

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2010

(times new roman, font 12, huruf kapital, bold, 1 spasi)

Catatan : Ukuran kertas A5

 

 

 

 

 

 

 

 

KOMISI PROMOTOR
NAMAGuru Besar Tetap Universitas Negeri Jakarta

NAMA

Guru Besar Tetap Universitas Negeri Jakarta

PANITIA
KetuaNAMA REKTOR

Dosen Tetap Universitas Negeri Jakarta

Rektor Universitas Negeri Jakarta

Sekretaris

NAMA DIREKTUR

Guru Besar Tetap Universitas Negeri Jakarta

Direktur Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta

Anggota

NAMA KETUA PROGRAM STUDI

Guru Besar Tetap Universitas Negeri Jakarta

Ketua Program Studi Manajemen  Pendidikan

PENGUJI SENAT

Guru Besar Tetap Universitas Negeri Jakarta

PENGUJI LUAR

Guru Besar  …………………………………….

Komisi Promotor Merangkap Sebagai Anggota Panitia Ujian Doktor

Lampiran 22

SIKAP PEKERJA TERHADAP PENGEMBANGAN ORGANISASI

Survei di Pertamina Unit Pengolahan V

Balongan, Indramayu

(2010)

THE ATTITUDE OF EMPLOYEE TOWARD ORGANIZATION DEVELOPMENT

 

NAMA

ABSTRACT

The objective of the research is to determine the relationship between knowledge about vision/mission, empowerment and quality of work life with employee’s attitudes toward organizational development. The research was conducted at Pertamina Refinery in Indramayu, West Java, 2002 with n=90 selected randomly.

The research are as follows: (1) there is positive correlation between knowledge about vision/mission and employee’s attitude toward organizational development, (2) there is positive correlation between empowerment and employee’s attitude toward organizational development but not significant, (3) there is positive correlation between quality of work life and employee’s attitude toward organ izationat development but not significant.

Based on the result of research, the employee’s attitude toward organizational development could be enhanced by increasing knowledge about vision and mission, since the result of verification simply be able to prove knowledge about vision/mission to be one of the vital and significant determinant factor.

 

 

 

 

 


[1] Joseph LeDoux, The Emotional Brain (New York: Simon & Schuster, 1996),  hal. 143.  

[2] K.T. Strangman, The Psychology of Emotion, (New York : Chichester, John Wiley & Sons, 1996),    hal. 13.

[3] Peter Salovey & D.J. Sulyster, Emotional Develompment and Emotional Inteligence (New York: Basic Books, 1997), hal. 10.

[4] Joseph LeDoux, The Emotional Brain (New York: Simon & Schuster, 1996),  hal. 143.  

[5] K.T. Strangman, The Psychology of Emotion, (New York : Chichester, John Wiley & Sons, 1996),    hal. 13.

[6] Peter Salovey & D.J. Sulyster, Emotional Develompment and Emotional Inteligence (New York: Basic Books, 1997), hal. 6 -10.

  • § (New York: Harcourt, Brace & World, 1970).

¨ (Chicago: The University of Chicago Press, 1963).

© (New York: Bantam, 1968).

ª (Berkeley: The University of California Press, 1968).

Y (Jakarta: Gramedia, 1980).

W (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa).

SISTEMATIKA PENULISAN LAPORAN PENELITIAN

KELOMPOK METODE PENELITIAN KUANTITATIF

 

  1. 1.       KUANTITATIF KOMPERATIF(EKSPERIMEN DAN EX POST FACTO)

 

 

BAB  I     PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah
  2. Identifikasi Masalah
  3. Pembatasan Masalah
  4. Perumusan Masalah
  5. Kegunaan Hasil  Penelitian

BAB  II   TINJAUAN PUSTAKA

  1. A.     Kajian Konsep
    1. Variabel Terikat atau Dependent Variable(Y)
    2. Variabel  Perlakuanatau independent Variable(A)
      1. Variabel  Moderator(B)
  1. B.   Hasil Penelitian yang Relevan
  2. C.   Kerangka Teoretik (Tergantung disain penelitian, apakah treatmen by level atau factorial design)

Treatment by Level Dua Faktor

  1. Jelaskan kerangka teoretik tentang perbedaan Y antara  Ai , i= 1,2,..,n(main effect A)
  2. Jelaskan kerangka teoretik tentang pengaruh Interaksi  antara  variabel perlakuan (A)  dan  vaiabel Moderaor (M)  terhadap  variabel Y (Interaction Effect)
  3. Jelaskan kerangka teoretik tentang perbedaan Y antara Ai pada setiap level  (simple effect)

 

Factorial Design

  1. Jelaskan kerangka teoretik tentang  perbedaan Y antara  Ai, i= 1,2,..,k(main effect A)
  2. Jelaskan kerangka teoretik tentang  perbedaan Y antara Bj, j= 1,2,..,k(main  effect B)
  3. Jelaskan kerangka teoretik tentang pengaruh Interaksi antara  A  dan  B  terhadap  variabel Y (Interaction effect)
  4. Jelaskan kerangka teoretik tentang perbedaan Y antara Ai pada setiap level Bj (simple effect A)
  5. Jelaskan kerangka teoretik tentang perbedaan Y antara Bj pada setiap level Ai (simple effect B)
  6. D.     Hipotesis Penelitian (jumlah sama dengan banyaknya kerangka berpikir  dan sama dengan banyaknya rumusan masalah)

BAB  III   METODOLOGI PENELITIAN

  1. Tujuan  Penelitian
  2. Tempat dan Waktu Penelitian
  3. Metode Penelitian
    1. Desain Penelitian
    2. Variabel Penelitian
    3. Populasi dan Sampel
    4. Rancangan Perlakuan
  • Definisi  Konseptual  (konstruk)
  • Definisi  Operasional (jelaskan banyaknya perlakuan)
  1. Kontrol Validitas Internal dan Eksternal Rancangan Penelitian
  2. Teknik Pengumpulan Data

Data dikumpulkan dengan menggunakan instrumen dengan tahapan pengembangan Instrumen  sebagai berikut:

1)       Variabel Terikat

  • Definisi  Konseptual  (konstruk)
  • Definisi  Operasional (berkaitan dengan pengukuran)
  • Kisi-kisi  Instrumen
  • Jenis Instrumen
  • Uji Validitas dan Reabilitas

2)       Variabel Atribut atau variabel moderator (jika diperlukan)

  • Definisi  Konseptual (konstruk)
  •  Definisi  Operasional (berkaitan dengan pengukuran)
  • Kisi-kisi  Instrumen
  • Jenis Instrumen
  • Uji validitas dan Reabilitas
  1. Teknik Analisis Data
  2. Hipotesis Statistika

 

BAB IV  HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Deskripsi Data

Penyajian data Y untuk kelompok-kelompok:

A i, Bj, A iBj

  1. Uji Persyaratan Analisis
  2. Pengujian Hipotesis
  3. Pembahasan Hasil Penelitian

BAB  V   KESIMPULAN  IMPLIKASI  DAN  SARAN 

  1. Kesimpulan
  2. Implikasi
  3. Saran

DAFTAR  PUSTAKA

 

LAMPIRAN 

Lampiran   1  Rancangan  Perlakuan

Lampiran   2  Instrumen

Lampiran   3  Hasil Ujicoba

Lampiran   4  Kisi-kisi Akhir  (sesudah Ujicoba)

Lampiran   5  Data Hasil Penelitian  (Variabel Terikat dan data Variabel Moderator)

Lampiran   6  Pengujan  Persyaratan Analisis

Lampiran   7  Pengujian  Hipotesis

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

PENJELASAN

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.     Latar Belakang Masalah

Pada bagian ini dijelaskan tentang fakta-fakta (das sein) dan harapan-harapan (das solen) sehingga dapat ditunjukkan kesenjangan (masalah-masalah), yang akan menjadi masalah penelitian. Fakta-fakta bisa merupakan apa yang ada sekarang, data sekunder, hasil observasi, pengalaman pribadi, dan hasil penelitian lainnya. Sedangkan harapan-harapan dapat berupa apa yang ada di undang-undang, peraturan, visi-misi, renstra, kurikulum, atau teori-teori yang terdapat dalam text book (literature).

Ada beberapa kriteria yang dapat digunakan untuk menilai apakah suatu masalah itu penting sebagai masalah penelitian.

  • Pertama,  Ideal,  yaitu apakah pemecahan  masalah tersebut akan memberikan sumbangan terhadap bangunan pengetahuan di bidang pendidikan ?  Misalnya apakah hasil penelitian ini akan berguna bagi pengambil keputusan di bidang pendidikan ?  Apakah hasil-hasil penelitian itu akan dapat digeneralisasi secara luas  dll.
  • Kedua,  Masalah tersebut hendaknya masalah yang akan membawa kita kepada masalah-masalah baru dan juga kepada penelitian berikutnya.
  • Ketiga,  Masalah tersebut harus merupakan masalah yang dapat diteliti,  karena banyak pertanyaan yang menarik di bidang pendidikan tidak dapat diteliti secara empiris, tetapi harus diteliti melalui penelitian filosofi.   Seharusnya  agar dapat diteliti suatu masalah harus berkenaan dengan hubungan antara dua atau lebih variabel yang dapat dirumuskan dan diukur.
  • Keempat,  apakah masalah tersebut cocok bagi peneliti?  Karena ada beberapa aspek pribadi yang  harus diperhatikan;   a)  menarik bagi peneliti,  b) masalah berada dalam bidang yang dikuasai oleh peneliti,  c)  masalah tersebut dapat dilaksanakan dalam situasi di tempat peneliti berada, dan   d)  harus dapat diteliti serta diselesaikan dalam waktu yang tersedia.
  1. B.     Identifikasi Masalah

Uraian yang bersifat narasi berbagai masalah yang muncul akibat kesenjangan antara das sein dan das solen.  Uraian tersebut dapat berupa pertanyaan tentang hubungan dan atau pengaruh antara beberapa variabel dengan variabel lainnya.

  1. C.     Pembatasan Masalah

Pada bagian ini ditetapkan masalah yang akan diteliti sesuai dengan tujuan penelitian dan criteria yang diuraikan pada point A.

  1. D.     Perumusan Masalah

Pada bagian ini dirumuskan masalah penelitian dalam bentuk pertanyaan-pertanyaan penelitian yang berkaitan dengan “hubungan/pengaruh dan atau perbedaan” antara variabel terikat, variabel atribut, dan varabel moderator. Misalnya:

Disain by level

Apakah terdapat perbedaan/pengaruh pada variabel Y jika diberikan perlakuan yang berbeda pada variabel Atribut

Disain factorial

  1. Apakah terdapat perbedaan pada variabel Y jika dilakukan perlakuan yang berbeda pada variabel Atribut
  2. Apakah terdapat perbedaan pada variabel Y jika terdapat perbedaan pada variabel moderator.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. A.     Kajian Konseptual      

Pada bagian ini dibahas variabel penelitian secara konseptual dari berbagai teori atau konsep para ahli.  Kajian konseptual ini dimulai dari variabel Y (variabel terikat), variabel X1 (variabel eksperimen) dan variabel X2 (variabel atribut/variabel moderator). Untuk setiap variabel penelitian dituntut 5 (lima) rujukan konsep para ahli (untuk Tesis) dan 7 (tujuh) rujukan konsep para ahli (untuk disertasi). Pada akhir setiap kajian konseptual suatu variabel disusun (sintesis) konstruk variabel tersebut. Konstruk suatu variabel adalah suatu definisi konseptual, yang berisi dimensi-dimensi variabel, aspek-aspek setiap dimensi dan indikator-indikator setiap aspek. Jika suatu variabel penelitian tidak terlalu besar maka suatu konstruk mungkin hanya berisi indicator-indikator variabel tersebut.

  1. B.     Penelitian Relevan

Pada bagian ini dibahas beberapa hasil penelitian lain yang berkaitan dan bermutu (minimal tiga penelitian) sesuai dengan variabel penelitian yang akan dilakukan.

  1. C.     Kerangka Teori

Kerangka teori adalah merupakan penalaran yang bersifat deduktif dari konsep-konsep setiap variabel, yang mengarah ke hubungan sebab akibat antara variabel bebas dengan variabel terikat.  Kerangka teori ini dijadikan sebagai dasar dalam mengarahkan penyusunan hipotesis penelitian,  sebagai contoh:

Disain factorial By Level (Variabel Moderator terdiri dari dua level)

  1. Jelaskan kerangka teori tentang pengaruh atau perbedaan metode  A1   dan metode  A2   terhadap variabel  Y (main effect)
  2. Jelaskan kerangka teori tentang pengaruh Interaksi  antara  variabel perlakuan (A)  dan  vaiabel atribut (M)  terhadap  variabel Y (Interaction Effect)
  3. Jelaskan kerangka teori tentang pengaruh atau perbedaan  A1T  dan  A2T     terhadap variabel Y (simple effect)
  4. Jelaskan kerangka teori tentang pengaruh atau perbedaan  A1R  dan A2 R   terhadap variabel Y  (simple effect)

Disain Faktorial (variabel moderator terdiri dua sub variabel yang bukan level)

  1. Jelaskan kerangka teori yang tentang  pengaruh atau perbedaan metode  A1   dan metode  A2   terhadap variabel Y (main effect)
  2. Jelaskan kerangka teori yang tentang  pengaruh atau perbedaan variabel atribut B1   dan  B2   terhadap variabel Y (main  effect)
  3. Jelaskan kerangka teori tentang pengaruh Interaksi antara  A  dan  B  terhadap  variabel Y (Interaction effect)
  4. Jelaskan kerangka teori tentang pengaruh atau perbedaan A1 B1 dan  A2 B1 terhadap variabel Y  (simple effect)
  5. Jelaskan kerangka teori tentang pengaruh atau perbedaan A1 B2 dan  A2 B2 terhadap variabel Y  (simple effect)
  6. Jelaskan kerangka teori tentang pengaruh atau perbedaan A1 B1 dan  A1 B2 terhadap variabel Y  (simple effect)
  7. Jelaskan kerangka teori tentang pengaruh atau perbedaan A2 B1 dan  A2 B2 terhadap variabel Y  (simple effect)
  1. D.     Hipotesis

Hipotesis adalah jawaban sementara dari pertanyaan penelitian yang terdapat dalam  rumusan masalah penelitian  (pada bab satu) yang bersifat pernyataan apriori, sesuai dengan kerangka teori, yang merupakan karakteristik pada populasi.  Jumlah hipotesis sama dengan jumlah pada perumusan masalah dan kerangka teori.

Contoh:  Hasil belajar Siswa yang mengikuti pembelajaran dengan metode  A1 lebih baik daripada hasil belajar dengan metode A2.

 

F. Hipotesis Statistik

Pada bagian ini hipotesis penelitian dirumuskan melalui lambang-lambang parameter statistika yang sesuai.

Contoh:

H0 : µA1  ≤ µA2

H1 : µA1> µA2

 

BAB III

METODOLOGI  PENELITIAN

  1. A.     Tujuan penelitian

Menjelaskan cita-cita atau harapan yang ingin dicapai peneliti sesuai dengan masalah penelitian.

  1. B.     Tempat dan waktu penelitian

Yaitu menjelaskan tentang lokasi di mana penelitian  dilaksanakan dan kapan dilaksanakan.

  1. C.     Metode penelitian

Menjelaskan tentang metode (cara), teknik dan procedure statistika yang dipilih dan digunakan untuk memverifikasi hipotesis penelitian melalui data yang telah diperoleh.

  1. Disain atau rancangan penelitian:

Disain (rancang bangun) adalah rencana dan struktur penelitian yang disusun, sehingga dapat diperoleh gambaran jawaban pertanyaan-pertanyaan penelitian.  Disain penelitian ini diikuti  dengan konstelasi penelitian, misalnya disain penelitian eksperimen by level danata disain faktorial 2 x 2.  Kegunaannya: (1)  menjediakan gambaran jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan penelitian, dan (2) untuk mengotrol atau mengendalikan varians (Kerlinger, 1990, p. 883). Variabel Penelitian

Pada bagian ini menyebutkan kembali variabel-variabel penelitian yang terdiri dari variabel terikat, variabel bebas (variabel eksperimen), dan variabel atribut  (moderator) yang akan diteliti.  Variabel adalah suatu konsep yang dapat diukur ( Ranjit Kumar, 2005, p. 55).

  1. D.     Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel

Menjelaskan populasi yang akan diteliti (uraikan mulai dari populasi target dan populasi terjangkau).  Menjelaskan teknik dan tahap-tahap pengambilan sampel, serta besar sampel yang akan digunakan sehingga dapat diyakini representatif mewakili populasi tersebut.

  1. E.      Rancangan Perlakuan

Menyusun dan menguraikan secara rinci kegiatan dan tahap-tahap perlakuan yang akan dilaksanakan dalam kegiatan penelitian sesuai variabel eksperimen.

  1. F.      Kontrol Validitas Internal dan Eksternal Rancangan Penelitian

Menjelaskan untuk menyakinkan apakah perubahan variabel terikat adalah akibat dari perlakuan bukan dari faktor lain  (Sejarah, kematangan, pemberian pre tes, alat ukur, regression statistik, pemilihan subjek yang berbeda, hilangnya dalam eksperimen (mortalitas), dan bias dalam seleksi kelompok). Validitas Eksternal,  adalah kerepresentatifan hasil penelitian atau dapatnya hasil penelitian tersebut digeneralisasi ke populasi,  yaitu: validitas populasi dan validitas ekologi ,  untuk selanjutnya baca buku-buku metodologi penelitian).

  1. G.     Teknik Pengumpulan Data

1)       Instrumen Variabel Terikat

  • Definisi  Konseptual  (= konstruk); menyatakan kembali konstruk yang telah disusun pada bab II, secara konseptual.
  • Definisi  Operasional (berkaitan dengan pengukuran); pada bagian ini berisi definisi variabel yang terukur, yaitu bagaimana indicator variabel diukur.l
  • Kisi-kisi  Instrumen  Variabel  Terikat; membuat matrik pengembangan instrument penelitian untuk mengukur variabel penelitian melalui dimensi-dimensi, dan atau aspek-aspek dimensi serta indicator variabel.
  • Instrumen penelitian; menyusun dan membuat butir-butir pertanyaan dan atau pernyataan sesuai kisi-kisi instrumen
  • Uji validitas dan Reabilitas; melakukan uji validitas (konsep dan empiris) dan reabilitas sesuai dengan bentuk instrument.

2)       Instrumen Variabel Atribut atau variabel moderator.

  • Definisi  Konseptual (=konstruk); menyatakan kembali konstruk yang telah disusun pada bab II, secara konseptual.
  • Definisi Operasional (berkaitan dengan pengukuran); pada bagian ini berisi definisi variabel yang terukur, yaitu bagaimana indicator variabel diukur.
  • Kisi-kisi  Instrumen; membuat matrik pengembangan instrument penelitian untuk mengukur variabel penelitian melalui dimensi-dimensi, dan atau aspek-aspek dimensi serta indicator variabel.
  • Instrumen penelitian; menyusun dan membuat butir-butir pertanyaan dan atau pernyataan sesuai kisi-kisi instrumen
  • Uji validitas dan Reabilitas; melakukan uji validitas (konsep dan empiris) dan reabilitas sesuai dengan bentuk instrument.
  1. H.     Teknik Analisis Data

Analisis data berhubungan dengan teknik analisis deskriptif untuk penyajian data setiap variabel dan teknik statistika inferensial untuk pengujian hipotesis.

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. A.     Deskripsi Data

Penyajian hasil analisis data berdasarakan statistika deskriptif untuk setiap kelompok,  atau dengan penyajian data dalam bentuk distribusi frekuensi  atau grafik dan lainnya.

  1. B.     Pengujian  Persyaratan Analisis
  1. Uji normalitas: menjelaskan dan menunjukkan teknik statistika yang dipergunakan untuk uji normalitas.
  2. Uji homogenitas: menjelaskan dan menunjukkan teknik statistika yang digunakan untuk uji homogenitas
  1. C.     Pengujian Hipotesis          

Menunjukkan dan menjelaskan hasil uji hipotesis  1,  2  dan seterusnya.

  1. D.     Pembahasan Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, perlu diberikan  argumentasi/pendapat dan interpretasi terhadap hasil  penelitian yang diperoleh berdasarkan analisis statistika. Dijelaskan juga tentang kelemahan dalam proses penelitian, yang disadari setelah kegiatan penelitian selesai.

 

BAB V

KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

  1. A.     Kesimpulan

Merupakan interpretasi  dari  temuan penelitian.

  1. B.     Implikasi

Yaitu berhubungan dengan pemanfaatan dari hasil penelitian (atau berkaitan dengan formulasi jika  … maka  …).

  1. C.     Saran

Pemikiran peneliti yang berkaitan dengan operasional  implikasi penelitian dan tingkat penelitian

 

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN 

Lampiran   1    Instrumen  Perlakuan

Lampiran   2    Instrumen  Pengukuran

Lampiran   3    Data Hasil Uji Coba

Lampiran   4    Analisis Butir  (untuk Instrumen Hasil Belajar)

Lampiran   5    Pengujian  Validitas

Lampiran   6    Perhitungan Reliabilitas

Lampiran   7    Kisi-kisi Akhir  (sesudah Uji Coba)

Lampiran   8    Data Hasil Penelitian  (Variabel Terikat)

Lampiran   9 Pengujan  Persyaratan Analisis

Lampiran 10   Pengujian  Hipotesis  1, 2, 3  dan 4  serta      Pengujian Lanjut

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

 

 

 

 

SISTEMATIKA PENULISAN LAPORAN PENELITIAN

KELOMPOK KUANTITATIF ASOSIATIF

 

BAB I. PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah
  2. Identifikasi Masalah
  3. Pembatasan Masalah
  4. Rumusan Masalah
  5. Kegunaan Hasil Penelitian

BAB II.   TINJAUAN PUSTAKA

  1. Deskripsi konseptual
  • variabel terikat (Y)
  • variabel bebas Xi(i =1, 2, …, k)
  1. Hasil Penelitian yang Relevan
  2. Kerangka  Teoretik
  • X1 dan Y
  • X2 dan Y
  • X3 dan Y
  • X1, X2, X3 dan Y , jika menggunakan korelasi multipel
  1. Hipotesis Penelitian

Banyaknya sama dengan kerangka berpikir dan sama dengan perumusan masalah

BAB III   METODOLOGI PENELITIAN

  1. Tujuan Penelitian
  2. Tempat dan Waktu Penelitian
  3. Metode Penelitian
  1. Variabel Penelitian
  2. KonstelasiHubungan antar Variabel
  3. Populasi dan Sampel
  4. Teknik Pengumpulan Data

Data dikumpulkan dengan menggunakan instrumen dengan tahapan pengembangan Instrumen  sebagai berikut:

  1. Variabel Terikat (Y)
  • Definisi  Konseptual  (konstruk)
  • Definisi  Operasional (berkaitan dengan pengukuran)
  • Kisi-kisi  Instrumen
  • Jenis Instrumen
  • Uji Validitas dan Reabilitas
  1. Variabel Bebas (Xi , i = 1, 2, …, k)
  • Definisi  Konseptual (konstruk)
  •  Definisi  Operasional (berkaitan dengan pengukuran)
  • Kisi-kisi  Instrumen
  • Jenis Instrumen
  • Uji Validitas dan Reabilitas
  1. Teknik Analisis Data
  2. Hipotesis Statistika

 

BAB IV  HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Deskripsi Data

Penyajian data Y dan Xi, i = 1, 2,…., k

  1. Pengujian Persyaratan Analisis Data
  • Uji Normalitas Galat Taksiran Regresi
  • Uji Linearitas
  1. Pengujian Hipotesis
  2. Pembahasan Hasil Penelitian

BAB  V   KESIMPULAN  IMPLIKASI  DAN  SARAN 

  1. Kesimpulan
  2. Implikasi
  3. Saran

DAFTAR  PUSTAKA

 

LAMPIRAN 

Lampiran   1  Instrumen

Lampiran   2  Hasil Ujicoba

Lampiran   3  Kisi-kisi Akhir  (sesudah Ujicoba)

Lampiran   4  Data Hasil Penelitian  (Variabel Terikat dan data VariabelBebas)

Lampiran   5  Pengujan  Persyaratan Analisis

Lampiran   6  Pengujian  Hipotesis

PENJELASAN

 

BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.   Latar Belakang Masalah

Menggambarkan latar belakang masalah dari variabel terikat (Y)

  1. Kondisi Faktual
  2. Kondisi Harapan
  3. Kesenjangan antara kondisi faktual dengan harapan
  4. Kemengapaan terjadinya masalah
  5. Pentingnya masalah untuk dijadikan penelitian

B. Identifikasi Masalah

Mengidentifikasi beberapa penyebab terjadinya masalah:

Semua hal-hal yang berhubungan  dengan beberapa penyebab munculnya masalah   penelitian. Bukan dalam bentuk pertanyaan melainkan dalam bentuk pernyataan.

  1. C.   Pembatasan Masalah

Berisi tentang skala prioritas dari berbagai penyebab munculnya masalah di atas  yang dianggap penting, menarik dan strategis  untuk  dijadikan  varibel- variabel bebas (Xi) yang yang mempengaruhi terhadap variabel terikat(Y).

  1. D.   Rumusan Masalah

Merumuskan masalah penelitian Berdasarkan:

  1. Latar belakang masalah, identifikasi dan   pembatasan   Masalah yang telah dirumuskan;
  2. Dirumuskan secara lugas dan  jelas;
  3. Beroroentasi pada teori yang relevan dengan Ruang Lingkup Bidang Kajian (Prodi)  (teori merupakan body of knowledge)
  4. Dinyatakan dalam kalimat tanya .
  5. Toeretical Framework”, berupa:
    1. Pengaruh  (X1) terhadap  Y
    2. Pengaruh  (X2) terhadap  Y
    3. Pengaruh   (X3) terhdap  Y
    4. Hubungan  antara   (X1,2,3) secara bersama-sama  dengan  Y.

Jika variable bebasnya ada yang saling mempengaruhi (ada intervening) variable maka menggunakan analisis jalur, jika variable bebas independen maka analisis korelasi jamak. Jika  keterkaitan itu dilakukan untuk variabel bebas dan terikat lebih dari satu (keterkaitan  Xi –n dan Yi-n) maka analisis datanya melalui caconical.

Jika variable bebasnya ada yang saling mempengaruhi (ada intervening) variable, dan indikator atau faktor-faktor penentu variabel bebas diuji keterkaitannya maka menggunakan analisis SEM.

 

  1. E.   Kegunaan Penelitian

Mengungkapkan secara spesifik manfaat  secara operasional yang hendak dicapai yang akan disumbangkan dalam pengembangkan ilmu dan pembangunan, yang meliputi aspek:

  1. Aspek Teoretis (keilmuan) dengan menyebutkan manfaat teoretis apa yang dapat dicapai dari masalah yang diteliti.
  2. Aspek Praktis, dengan menyebutkan manfaat apa yang dapat dicapai dari penerapan pengetahuan yang dihasilkan penelitian kepada masyarakat, pemerintah dan lembaga lainnya.

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

  1. A.   Kajian    Konseptual
    1. 1.         Variabel Y  (Variabel terikat )

(Deskripsi , analisis, komparasi  dan sintesis  dari pengertian, konsep  variabel Y,   minimal  7  Konsep  untuk S3 dan  5 Konsep untuk S2 ) yang diambil dari sumber bacaan pertama (utama) (Teks Book), bisa dari buku, jurnal, internet. Menghasilkan Konstruk (di akhir setiap variabel),

2    Variabel Xi

(Deskripsi , analisis dan sintesis  dari pengertian, konsep  variabel Xi,   minimal dari 7  Konsep  untuk S3 dan  5 Konsep untuk S2 ) yang diambil dari sumber bacaan pertama (utama) (Teks Book).

Konstruk Variabel Xi berisi dimensi dan indikator  Yang akan menjadi dasar pembuatan kisi-kisi instrument penelitian.

  1. B.     Penelitian yang Relevan

—  Menggambarkan State of The Art dari  ontologi keilmuan (Ruang Lingkup Penelitian Prodi) yang dipilih sebagai masalah penelitian Tesis / Disertasi yang sudah dikaji oleh orang lain;

—  Deskripsi, komparasi dan analisis semua hasil-hasil penelitian orang lain (baik dalam Jurnal Ilmiah, Disertasi dan atau Buku) yang relevan dengan masalah penelitian secara kronologis dan sistematik,  sehingga dapat ditemukan persamaan dan perbedaan penelitian  yang akan dilakukan dengan yang sudah ada.

 

  1. C.       Kerangka  Teoretis

 

Memuat uraian yang memperjelas konsep Y dan Xi-n

Membahas  keterkaitan antara Xi dan Y yang didukung dari teori yang sudah atau hasil pemikiran peneliti, dan didukung dari oleh argumentasi yang logis untuk menghasilkan hipotesis penelitian.

  1. Pengaruh  positif / negatif antara   (X1) dengan  Y
  2. Pengaruh positif/ negatif Hubungan  antara   (X2) dengan  Y
  3. Pengaruh positif/ negatif antara   (X3) dengan  Y
  4. Hubungan antara   (X1,2,3) secara bersama-sama  dengan  Y

Jika variable bebasnya ada yang saling mempengaruhi (ada intervening) variable maka menggunakan analisis jalur, jika variable bebas independen maka analisis korelasi jamak.

Jika  keterkaitan itu dilakukan untuk variabel bebas dan terikat lebih dari satu (keterkaitan  Xi –n dan Yi-n) maka analisis datanya melalui caconical.

Jika variable bebasnya ada yang saling mempengaruhi (ada intervening) variable, dan indikator atau faktor-faktor penentu variabel bebas diuji keterkaitannya maka menggunakan analisis SEM.

  1. D.       Hipotesis Penelitian

 

Hipotesis adalah Jawaban sementara terhadap masalah, yang menjelaskan keterkaitan antar variable dan merupakan pernyataan tentang karakteristik populasi, yang harus diuji kebernarannya dengan data empirik

Contoh :

  1. Terdapat pengaruh  positif/negatif antara   (X1) dengan  Y
  2. Terdapat pengaruh positif/negatif Hubungan  antara   (X2) dengan  Y
  3. Terdapat pengaruh positif/negatif antara (X3) dengan  Y
  4. Hubungan/Pengaruh antara (X1,2,3) secara bersama-sama  dengan  Y

E.  Hipotesis Statistik

Menggambarkan formulasi statistik  dari rumusan hipotesis penelitian.

Jenis Hipotesis ini ditentukan berdasarkan teori yang dibangun:

Contoh:

 

Hipotesis tidak langsung

Ho  :  ρ = 0

H1  :  ρ ≠  0

 

Hipotesis langsung positif:

Ho  : ρ ≤ 0

H1  : ρ> 0

Hipotesis langsung negatif :

Ho  : ρ ≥ 0

H1   : ρ< 0

 

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

  1. A.       Tujuan Penelitian

Menggambarkan sasaran/hasil yang akan dicapai yang harus dilakukan sesuai dengan rumusan masalah penelitian, antara lain untuk memperoleh informasi tentang Pengaruh antara variabel Xi terhadap Y;

  1. B.       Tempat dan Waktu Penelitian

Tempat dimana dilakukan penelitian

Waktu yang menggambarkan waktu mulainya penelitian, yakni ditetapkan waktu saat proposal dinyatakan layak  untuk diteliti sampai  untuk selesasinya laporan hasil penelitian (dibuat jadwal kegiatan penelitian)

  1. C.       Metode Penelitian

Menggambarkan pendekatan, metode , dan teknik yang digunakan dalam menemukan kebenaran ilmiah  Tesis / Disertasi.

Contoh:

Penelitian ini menggunakan pendekatan  kuantitatif, metode survei dan teknik korelasional.

  1. D.       Populasi, Sampel dan  Teknik Sampling

Berisi tentang penjelasan unit-unit yang tercakup didalam populasi dan teknik sampling yang digunakan, yakni :

1. Menentukan populasi target;

2. Menentukan  populasi terjangkau;

3. Menentukan jumlah  sampel berdasarkan teknik sampling yang digunakan.

Teknik Sampling yang dipilih disesuaikan dengan karakteristik masalah, kebutuhan dan tujuan dari penelitian.

  1. E.        Teknik Pengumpulan Data

Berisi tentang berbagai teknik pengumpulan data.

  1. F.        Instrumen Penelitian

(Untuk setiap variabel disajikan dengan sistimatika sbb:

  1. Definisi Konseptual
  2. Definisi Operasional
  3. Kisi-Kisi Instrumen
  4. Instrumen Penelitian
  5. Validitas dan Realibilitas
    1. Validitas Teoretik
    2. Validitas empiris dan Realibilitas
  1. Definisi KonseptualBerisi tentang  konstruk dari hasil sintesis  untuk setiap variabel. (Konstruk)(Y,  dan Xi) (Isinya sama dengan Konstruk di BAB II)
  2. Definisi Operasional  (Y,  dan Xi)

Memuat pengertian yang terukur dari variabel penelitian, termasuk indikator, parameter  apa yang akan  diukur   dan bagaimana cara mengukurnya, serta sumber data dari setiap variabel yang akan diteliti.

Contoh:

Budaya organisasi,  Iklim Kerja,  cara mengukurnya dengan Persepsi terhadap iklim   kerja.

  1. Kisi-Kisi Instrumen Penelitian ( Y,  dan Xi)

Tabel yang berisi dimensi, indikator maupun aspek yang akan diukur,…..

  1. Validitas dan Realibilitas
  1. a.       Validitas teoretik

Pengembangan instrumen untuk setiap variabel diperlukan validitas konsep, melalui validasi panel dan/ telaah pakar.

  1. b.   Validasi Empiris  dan Reliabilits

Pengembangan instrumen untuk setiap variabel memelukan uji validitas dan reliabilitas berdasarkan data hasil uji coba di lapangan.

  1. G.     Teknik Analisis Data

Berisi tentang berbagai teknik analisis data yang dipilih untuk digunakan dalam mengolah data penelitian, baik teknik analisis deskripsif penyajian data setiap variabel, maupun teknik analisis inferensial untuk penguji hipotesis

 

BAB IV            HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  1. Deskripsi Data

 Berisi :

Tabulasi data yang telah disusun dalam bentuk tabel distribusi frekuensi dan histogram dari masing-masing variabel.

  1. Deskripsi data variabel Y
  2. Deskripsi data variabelX1
  3. Deskripsi data variabelX2
  4. Deskripsi data variabel X3
  1. Pengujian Persyaratan Analisis Data
    1. Uji Normalitas
    2. Uji Lenearitas
  1. Pengujian Hipotesis

Menggambarkan hasil perhitungan pengujian hipotesis statistik .

Contoh:

Paparan data hasil perhitungan hubungan antara variabel bebas  (Xi-n) dengan variabel terikat (Y)

Perhitungan hubungan antara variabel bebas pertama (X1)  , kedua (X2), ketiga (X3) secara bersama sama dengan variabel terikat (Y)

  1. D.     Pembahasan Penelitian
    1. Menguraikan terjadinya hubungan kausalitas  (pengaruh) antar  variabel dengan merujuk dari teori yang berkaitan dengan variabel -variabel penelitian.
    2. 2.       Kalau penelitian tidak dapat menguji hipotesis penelitian dalam arti tidak ada hubungan antar variabel perlu dilakukan penjelasan /pembahasan mengapa hal itu terjadi.

 

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN

  1. Kesimpulan

Menjelaskan secara menyeluruh hasil  pengujian hipotesis, untuk setiap masalah penelitian (Jawaban Final dari masalah penelitian).

Contoh :

  1. Terdapat pengaruh  positif/negatif (X1) tehadap  Y
  2. Terdapat pengaruh positif/negatif   (X2) tehadap  Y
  3. Terdapat pengaruh positif/negatif (X3) tehadap   Y
  4. Terdapat Hubungan  antara   (X1, X2 dan X3) dengan  Y secara bersama-sama

Artinya peningkatan Xi mengakibatakan peningkatan Y dan peningkatan Y diakibatkan oleh Xi.

  1. Implikasi Penelitian

Menggambarkan konsekuensi logis  dari kesimpulan yang telah dihasilkan dari hasil penelitian.

Contoh:

“ Jika Xi-n mempengaruhi Y, maka peningkatan   Y dilakukan melalui  peningkatan Xi-n”

“    Xi ditingkatkan melalui berbagai upaya Strategi Inovasi Teknologi dan kreativitas Peneliti “

  1. Saran-Saran

Merumuskan beberapa masukan/ saran yang sesuai dengan hasil penelitian yang dapat ditujukan kepada Institusi (Pemerintah atau swasta), Masyarakat, dan Peneliti lainnya  sesuai dengan  hasil penelitian.

Lampiran

—  Lampiran 1 : Instrumen Penelitian (untuk setiap variabel Y,  dan Xi )

—  Lampiran 2 : Kalibrasi Instrumen Penelitian (untuk setiap variabel Y,  dan Xi ) dst

—  Lampiran 3 : Perhitungan Reliabilitas

—  Lampiran 4 : Data Variabel Terikat, Variabel Bebas Pertama, Variabel Bebas Kedua, Variabel Bebas Ketiga

—  Lampiran 5 : Perhitungan Statistik Dasar

—  Lampiran 6 : Perhitungan Persyaratan Analisis

—  Lampiran 7 : Perhitungan Regresi dan Korelasi dalam rangka Pengujian Hipotesis.

—  Lampiran 8 : Perhitungan Regresi dan Korelasi dalam rangka Pengujian Hipotesis 2

—  Lampiran 9 : Perhitungan Regresi dan Korelasi dalam rangka Pengujian Hipotesis 3

—  Lampiran 10: Perhitungan Regresi dan Korelasi dalam rangka Pengujian Hipotesis 4

—  Lampiran 11 : Analisis Korelasi Parsial

—  Lampiran 12 : Daftar Riwayat Hidup

KESADARAN LINGKUNGAN

 Secara komprehensif kaitan antara pendidikan

kependudukan dan lingkungan hidup (PKLH) dengan

tingkat

kemiskinan yang terjadi di indonesia  sarannuntuk mengatasi kemiskinan ditinjau dari filsafat ilmu.

Kaitan antara PKLH dengan tingkat kemiskinan di Indonesia

Tingkat kemiskinan di Indonesia dipengaruhi oleh tingkat pendidikan dan daya beli masyarakat yang masih rendah. Hal tersebut disebabkan oleh semakin bertambahnya penduduk Indonesia secara drastis tetapi tidak diimbangi dengan kapasitas sumber daya manusia yang baik dan lingkungan yang mendukung.

Permasalahan terkait dengan lingkungan hidup tidak bisa dilepaskan dengan permasalahan manusia karena semakin baik tingkat kesadaran manusia terhadap lingkungan hidup maka keseimbangan lingkungan akan terjaga. Kemiskinan berasal dari kata “miskin” yang diberi awalan ‘ke’ dan akhiran ‘an’ dalam kamus poerwadarminta (1976) pengertian kata ‘miskin’ adalah tidak berharta benda, serba kurang. Sedangkan pengertian ‘kemiskinan’ adalah perihal miskin, kemelaratan, kepapaan. Kemiskinan adalah keadaan ketidakmampuan untuk memenuhi kebutuhan hidup minimum di dalam buku: Pembangunan Desa, C.T. kurien yang dikutif Robert Chambers (1987), menyatakan bahwa : kemiskinan sebagai keadaan kekurangan, namun bukan hanya itu, kemiskinan adalah kekurangan untuk yang banyak dan kemakmuran untuk yang sedikit. Kemiskinan dianggap sebagai peristiwa sosioekonomi dimana sumberdaya yang ada digunakan untuk menguatkan keinginan yang sedikit, sedangkan yang banyak tidak dapat memenuhi kebutuhan pokoknya sendiri.

Menurut Ismal Arianto dkk. (1988) dalam buku: Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup, dikatakan bahwa : kemiskinan merupakan salah satu masalah yang paling berpengaruh terhadap timbulnya masalah social. Masalah social adalah suatu keadaan yang terjelma dimana masyarakat merasakan adanya ancaman yang menyangkut banyak orang. Masalah social yang bersumber dari kemiskinan atau kesulitan dalam pemenuhan kebutuhan pokok, sering tidak berdiri sendiri tetapi saling berkaitan dengan factor lain.masalah  social yang timbul akibat bencana alam, misalnya: gempa yang menimbulkan tsunami di aceh, gempa dipulau nias, dan perang didalam atau diluar negeri, akan menimbulkan berbagai aspek yang dihadapi oleh masyarakat memberikan segi-segi positif terhadap tejadinya perubahan social (social change) yang diharapkan dapat memberikan kemajuan. Perubahan social bisa meluputi perubahan pola kebudayaan dari suatu masyarakat; yaitu perubahan dalam interaksi antar manusia, antar organisasi atau komunitas dan berhubungan dengan masalah yang timbul dalam beragam masyarakat, baik dengan masalah ekomoni, social budaya, dan lingkungan hidup.

Kanwar dan Norman Myers, yang dikutip Robert Chambers (1987) menyatakan bahwa terjadinya kekurangan pangan atau kelaparan dan kerusakan lingkungan, adalah akibat ledakan penduduk dan buruknya pengolahan SDA. Dikatakan bahwa kuci penannggulangan masalah pangan dan lingkungan hidup di seluruh dunia adalah penglolaan sumber daya lahan secara lebih baik dan merupakan hal yang mendesak.

Terjadinya kelaparan disebabkan bencana alam, gangguan keamanan, cuaca buruk, para pengungsi, birokrasi dalam system distribusi pangan, kepadatan penduduk di lingkungan lahan gersang, dan kegagalan peningkatan produksi padi. Jadi kenyataannya bencana alamdan kerusakan buatan manusia lebih besar pengaruhnya terhadap masalah kemiskinan.

Pudjiwati Sajogyo (1985) dalam bukunya : Sosiaologi Pembagunan, menyatakan bahwa: kemiskinan merupakan salah satu penyebab rendahnya kualitas penduduk Indonesia, di samping factor lain, seperti : tingkat produktivitas, pendidikan, kesehatan, dan keadaan ekonomi social lainnya. Neolaka, di dalam : Kertas Karya Perorangan Program Pendidikan Singkat angkatan XV Lemhanas (2007), menyatakan: kemiskinan adalah keadaan melarat, tidak mempunyai apa-apa (sandang, pangan, papan, apalagi lainnya), tidak berdaya, tidak ada harapan untuk hidup, makan sehari sekalipun sulit, tidak memiliki pekerjaan dan tidak berpendidikan.

Tantangan kemiskinan yang amat dahsyat itu tidak dapat dihadapi secara pribadi dalam menghadapi masa depan, tetapi kita sebagai sesama manusia harus siap bersama-sama membangun untuk membasmi kemiskinan itu. Tkanan penduduk berupa kesulitan-kesulitan hidup.

Kesulitn hidup muncul karena selain factor ekonomi, lingkungan dan kemajuan teknologi/pembangunan, factor penentu lain adalah pemahaman terhadap wawasan kebangsaaan, nasionalisme dan Bhineka Tunggal Ika, yang menurun sehingga timbul sikap pementingan diri yang tinggi, tidak peduli pad lingkungan khususnya kepada sesame yang hidup susah atau hidup miskin. Sebagian besar penduduk miskin berada di pedesaan dan menggantungkan hidup dari sector pertanian sekitar 55% dari toatal penduduk miskin. Indeks nilai tukar penduduk miskin yang petani meningkat dari 96,93% pada tahun 2000 dan 112, 26% tahun 2003, dan menjadi 119,19% pada tahun 2004 (Kutipan dari Kertas Karya Perorangan Amos Neolaka, 2007).

Upaya pemerintah dalam Pembnagunan Nasional selama ini adalah bertujuan untuk mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur yang merata material dan spiritual berdasarkan pancasila. Pembangunan nasional yang direncanakan dalam tapan lima tahunan (Repelita) dimulai sejak 1969. Dan direncanakan agar tercipta kerangka landasan yang kuat pada Pelita Kelima, sehingga pada pelita keenam nanti bangsa Indonesia dapat tinggal landas, dan dapat memacu pembangunan menuju masyarakat yang dicita-citakan yaitu masyarakat yang adil dan makmur. Memang harus diakui bahwa usaha pemerintah untuk mensejahterakan rakyat itu ada yaitu  melalui pelaksanaan strategi yang leih diarahkan pada pemerataan pendapatan, penanggulangan pengangguran serta mengupayakan keseimbangan pembangunan ekonomi dan social budaya. Namun dalam operasionalisasi kegiatan di lapangan terdapat tantangan yang cukup berat yaitu upaya pemerataan hasil pembangunan tercecer dalam perjalanan menu rakyat yang berhak menerima/mendapatkannya sehingga rakyat akan tetap miskin. Oleh karena itu, pemikiran yang beranngapan bahwa factor kemiskinan merupakan salah satu factor yang mempengaruhi kesadaran lingkungan dapat diterima atau mengandung kebenanran. Dengan demikian, dengan bersama-sama pemerintah mendukung upaya untuk mengatasi kemiskinan melalui partisipasi aktif dari penduduk kaya untuk menolong sesame yang masih sangat miskin dan menderita. Siapa lagi kalau bukan kita sendiri.

Mengapa kesadaran lingkungan dari pimpinan tertinggi negara ini sampai penduduk/rakyatnya sangat rendah, ditinjau dari segi PKLH, kaitkan dengan estimologi dan aksiologi ilmu ?

  1. Tidak adanya kesadaran lingkungan dikarenakan:
    1. Factor ketidaktahuan yang berarti memang benar-benar tidak tahu atau tahu tetapi pura-pura tidak tahu. Apabila yang terjadi adalah pura-pura tidak tahu maka akan makin sulit mengubahnya sebab lama-kelamaan sifat kepura-puraan akan membudaya dalam dirinya sehingga menjadi perilaku atau sikap hidup dalam tindakan sehari-harinya. Factor ketidak tahuan yang disebabkan oleh kepura-puraan, bila kita perhatikan dan renungkan secara sungguh-sungguh tampaknya mengandung kebenaran. Manusia Indonesia dalam upaya memepertahankan hidupnya mengalami banyak sekali tantangan, seperti agaji yang rendah yang hanya cukup seminggu, menyebabkan tidak peduli lingkungan, artinya hidup dengan gaji cukup seminggu, menyebabkan tidak peduli lingkungan lagi, bersamaan dengan itu ia melihat orang-orang kaya, tidak tahu uang dari mana, naik mobil mewah sambil tertaw-tawa membuang sampah dari dalam mobilnya dengan merasa tidak bersalah. Sama-sama tidak peduli lingkungan. Tetapi bagaimana mau peduli? Karena semua orang tidak peduli pada lingkungan. Kita semua dari pimpinan tertinggi sampai terendah, semuanya tidak peduli lingkungan karena pura-pura tidak tahu dan akan melakukan kepedulian pada lingkungan kalau bersama-sama melakukannya.
    2. Faktor kemiskinan

Kemiskinan membuat orang tidak akan peduli pada lingkungan. Dalam keadaan hidup sudah miskin, tekanan hidup bertambah terus, hidup makin tidak aman dan nyaman, bagaimana dapat berpikir untuk peduli pada lingkungan. Jadi untuk peduli pada lingkungan perhatian pemerintah terhadap kesejahteraan rakyat harus menjadi nomor satu. Kebutuhan-kebutuhan lain dapat diusahakan sendiri asal dilakukan dengan cara yang halal/tidak bertentangan dengan hal yang ada.

  1. Faktor Kemanusiaan

Kemanusiaan artinya secara manusia/sifat-sifat manusia, oleh Chiras (1991) dikatakan manusia adalah bagian dari alam atau pengatur alam. Dikatakan pengatur  atau penguasa karena manusia sebagai makhluk biologis memiliki sifat serakah, yaitu sifat yang menganggap semuanya untuk dirinya dan keturunanya. Jadi mengapa tidk ada kesadaran lingkungan yaitu karena adanya sifat dasar manusia yang ingin berkuasa/superior terhadap lingkungan hidup. Dan juga sebagai makhluk biologis ia selalu menginginkan segala sesuatu itu adalah miliknya, sehingga apa saja yang ada di sekitarnya menjadi penguasanya.

  1. Faktor  Gaya Hidup

Pengaruh teknologi informasi yang sangat cepat member pengaruh yang cepat pula pada manusia sebagai individu yang hidup dalam lingkungannya. Gaya yang mempengaruhi sikap/perilaku manusia untuk merusak  lingkungan adalah gaya hidup yang menganggap lingkungan sebagai bagian yang dapat memberikan kenikmatan hidup. Gaya hidup hedonisme, yaitu selalu ingin hidup enak, pesta pora. Gaya hidup lain yang member kontribusi rusaknya lingkungan adalah gaya hidup materialistic, konsumerisme, dan individualism. Ada gaya hidup/sikap yang bergantung pada atasannya, meniru dan berlaku seperti atasannya. Gaya hidup seperti ini positif kalau atasannya member teladan yang baik, peduli pada lingkungan. Tetapi bila atasannya hidup boros, selalu pesta pora, maka akan member kontribusi yang negative (gaya hidup paternalistis). Jadi tidak adanya kesadaran lingkungan dapat disebabkan oleh sikap keteladanan dari pimpinan/atasan yang kurang peduli pada lingkungan hidup. Bila rakyat umumnya masih memiliki sikap/gaya hidup paternalistis, maka dapat dimaklumi bahwa kesadaran lingkungan untuk rakyat Indonesia masih jauh dari harapan.

Kesadaran lingkungan bisa dijawab apabila kita memperhatikan kebijaksanaan pengelolaan lingkungan hidup, menurut Mohamad Soerjani dan Surna T. Djajandiningart (1985), pokok-pokok kebijakan pengelolaan lingkungan hidup yang harus diketahui, antara lain adalah prinsip pengelolaan lingkungan yaitu : pembangunan berwawsan lingkungan hidup, sasaran jangka panjang, langkah kebijaksanaan yang perlu ditempuh. Pembangunan berwawasan lingkungan menurut UU No. 23 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup, menyebutkan harus berprinsip pada upaya untuk menimbulkan dan menciptakan adanya keterkaitan antar semua komponen dalam lingkungan hidup, keanekaan yang tinggi dari semua komponen dalam suatu system, kesinambungan kemampuan pengelolaan, dan keseimbangan keserasian antara semua variable dalam lingkungan hidup.

Sasaran jangka panjang menurut UU RI No. 23 tahun 1997 Pasal 4 tentang pengelolaan lingkungan hidup dimuat sasaran pengelolaan lingkungan hidup yaitu trciptanya keselarasan, keserasian, dan keseimbangan antara manusia dan lingkungan hidup, terwujudnya manusia Indonesia sebagai insane lingkungan hidup yang memiliiki sikap dan tindakan melindungi dan membina lingkungan hidup, tercapainya kelestarian fungsi, terkendalinya pemanfaatan sumber daya secara bijaksana, terlindunginya NKRI terhadap dampak usaha/kegiatan di luar Wilayah Negara yang menyebabkan pencemaran.

Langkah kebijaksanaan yang perlu ditempuh menurut Mohamad Soerjani (1985) diantaranya pengembangan daerah pesisir, perlindungan dan pembinaan alam, pengelolaan tata ruang, pengembangan lingkungan pemukiman perkotaan yang seimbang, pengelolaan perubahan kualitas lingkungan, dan pengembangan upaya penunjamg.

Indonesia sebagai peserta aktif KTT-Bumi tahun1992 di Rio de Jeneiro Brasil, menyepakati dan turut mensyahkan program aksi agenda  21 yang program-programnya mengenai pengelolaan SDA, pengelolaan sumber daya lahan, kelompok pengelolaan limbah dan kelompok pelayanan masyarakat, agenda 21 versi Indonesia tersebut bisa di follow up sebagai upaya pemerintah dalam menjaga keseimbangan lingkungan, dan didukung oleh beberapa kebiajakn UU yang lainnya. Dari usaha tersebut pemerintah berupaya cukup maksimal dan programnya terus dilanjutkan, sehingga pertanyaan kapan kesadaran lingkungan bisa ada? Jawabannya sekarang.

Kesadaran lingkungan bisa diraih jika pendidikan lingkungan hidup diterapkan di lingkungan masyarakat secara merata serta interaksi harmonis system social dengan ekosistem saling mendukung.

Kesadaran lingkungan bisa menjadi sikap manusia jika ada upaya latihan sadar lingkungan, latihan memelihara lingkungan berulang-ulang, sehingga proses tersebut akan menjadikan orang sadar lingkungan.

Education

Inteligensi/kecerdasan secara umum dipahami pada dua tingkat yakni: kecerdasan sebagai suatu kemampuan untuk memahami informasi yang membentuk pengetahuan dan kesadaran. Kecerdasan sebagai kemampuan untuk memproses informasi sehingga masalah-masalah yang kita hadapi dapat dipecahkan (problem solved) dan dengan demikian pengetahuan pun bertambah. (Djaali, 2006:63) memandang kecerdasan sebagai pemandu dan penyatu dalam mencapai sasaran secara efektif dan efisien.

Dengan kata lain, orang yang lebih cerdas, akan mampu memilih strategi pencapaian sasaran yang lebih baik dari orang yang kurang cerdas. Artinya orang yang cerdas mestinya lebih sukses dari orang yang kurang cerdas. Yang sering membingungkan ialah kenyataan adanya orang yang kelihatan tidak cerdas (sedikitnya di sekolah) kemudian tampil sukses, bahkan lebih sukses dari rekan-rekannya yang lebih cerdas, dan sebaliknya.

Kecerdasan atau intelegensi adalah kemampuan adaptasi  dan menggunakan pengetahuan yang di miliki dalam menghadapi berbagai masalah dalam hidup seseorang. Beberapa teori menyatakan bahwa kecerdasan merupakan kemampuan dasar yang dimiliki oleh individu dalam menentukan tujuan hidupnya.

Semakin cerdas seseorang maka semakin besar peluang untuk lebih sukses di bandingkan orang yang tidak cerdas, karena Kecerdasan merupakan kemampuan untuk memproses informasi sehingga masalah-masalah yang kita hadapi dapat dipecahkan (problem solved) dan dengan demikian pengetahuan pun bertambah.untuk mengetahui tingkat kecerdasan seseorang perlu diadakan tes kecerdasan.

Selama ini tes kecerdasan umumnya hanya di berikan kepada orang-orang yang menempuh bangku pendidikan sehingga tampak bahwa tingkat kecerdasan orang yang berpendidikan  di anggap lebih baik di bandingkan dengan orang yang tidak berpendidikan ,namun kenyataan di lapangan tidak semua orang yang tidak berpendidikan tidak cerdas,hal ini di buktikan dengan banyaknya orang yang sukses tanpa melalui jenjang pendidikan yang tinggi contoh para pedagang yang sukses.

Berdasarkan fakta tersebut sebaiknya tes kecerdasan juga di berikan kepada orang-orang yang tidak menempuh bangku pendidikan untuk memperoleh informasi yang lebih jauh tentang factor utama yang mempengaruhi tingkat kecerdasan seseorang selain factor pendidikan formal.

Melihat uraian diatas mengenai intelegensi analitis, kreatif dan praktis yang mempunyai perhatian yang berbeda selama ini dalam wilayah pendidikan. Sehingga tidak dapat merubah cepat keberhasilan pembelajaran suatu sekolah khususnya dan umumnya bangsa dan Negara, maka perlu ada perubahan sistem pembelajaran sekolah yang dapat menyeimbangkan berbagai macam intelegensi peserta didik yang dimiliki, dengan mengawali pemberian tes. Misalnya memberikan pembelajaran tes analitis dari STAT (Stern Triarchic Abilities Test).

Seperti yang dikatakan (Sternberg dalam Santrock, 2009:157) “STAT untuk menilai intelegensi analitis, kreatif dan praktis. Ketiga jenis kemampuan ini diperiksa melalui esai dan soal verbal, soal kuantitatif, serta gambar dan soal pilihan ganda. Tujuannya adalah untuk mendapat penilaian intelegensi yang lebih lengkap dibandingkan dengan yang mungkin didapat dengan tes konvensional”.

Bagian analitis dari STAT sangat mirip dengan konvensional, dimana individu-individu diminta untuk memberikan arti dari kata-kata, melengkapai rangkaian angka dan melengkapi matriks. Bagian praktis dan kreatif berbeda dengan tes konvensional. Sebagai contoh, dalam bagian kreatif, individu menulis sebuah esai tentang rancangan sekolah yang ideal. Bagian praktis meminta seseorang untuk menyelesaikan masalah sehari-hari yang mudah, seperti merencanakan rute dan membeli tiket sebuah acara.

Selain itu memberikan kebebasan dalam pemilihan ekstrakurikuler bagi peserta didik, baik ektrakurikuler olahraga, kesehatan, kesenian, pecinta alam, marching band, pramuka, paskibra, PMR, dll. Dengan batas-batas yang ditentukan oleh dewan sekolah, agar mendapatkan arahan yang jelas terhadap intelegensi yang dimiliki setiap individu.

Tes kecerdasan kedepannya tidak hanya diberikan kepada orang yang menempuh bangku pendidikan, tapi juga diberikan pada orang-orang yang sempat mengenyam bangku pendidikan agar informasi yang diperoleh tentang intelegensi lebih akurat. Sehingga kesepakatan tentang pengertian tentang intelegensi secara utuh bisa tercapai

Merubah paradigma kedepannya mengenai konsep semakin cerdas seseorang semakin besar peluang untuk sukses, walaupun kenyataannya banyak orang yang tidak mengenyam pendidikan tapi dalam kehidupan lebih berhasil.

  1. A. Inteligensi/Kecerdasan

Ada banyak teori mengenai Intelligensi atau kecerdasan dari beberapa ahli diantaranya :

Santrock (2009:151) “Kecerdasan atau keterampilan menyelesaikan masalah dan kemampuan untuk beradaptasi dan belajar dari pengalaman kehidupan sehari-hari”. Artinya bahwa seorang individu dapat menyelesaikan masalah dengan kemampuan yang dimilikinya dan berusaha menyesuaikan diri dalam lingkungannya baik yang datang dari lingkungan internal maupun eksternalnya.

Seorang individu yang mempunyai intelligensi tinggi cenderung akan muncul kecerdasannya dalam berbagai lingkungan dimanapun individu itu berada, yang tentu menjadi harapan keluarga, masyarakat bangsa dan Negara untuk menjadi generasi penerus yang tampil lebih baik dalam lingkungan pembelajaran. Seperti yang dikatakan, Slavin (2006:163). Satu hal bahwa terdapat orang-orang ‘pandai’ yang dapat diharapkan tampil dengan baik dalam berbagai jenis situasi pembelajaran.

Kecerdasan (Inteligensi) secara umum dipahami pada dua tingkat yakni: kecerdasan sebagai suatu kemampuan untuk memahami informasi yang membentuk pengetahuan dan kesadaran. Kecerdasan sebagai kemampuan untuk memproses informasi sehingga masalah-masalah yang kita hadapi dapat dipecahkan (problem solved) dan dengan demikian pengetahuan pun bertambah. Djaali (2006:63) memandang kecerdasan sebagai pemandu dan penyatu dalam mencapai sasaran secara efektif dan efisien. Artinya bahwa seorang individu bisa menyelesaikan permasalah dengan cepat apabila memadukan dan menyatukan dari berbagai intelligensi-intelligensi, sehingga individu tersebut dapat menyelesaikan permasalahannya dengan secara efektif dan efisien.

Dengan kata lain, orang yang lebih cerdas, akan mampu memilih strategi pencapaian sasaran yang lebih baik dari orang yang kurang cerdas. Artinya orang yang cerdas mestinya lebih sukses dari orang yang kurang cerdas. Yang sering membingungkan ialah kenyataan adanya orang yang kelihatan tidak cerdas (sedikitnya di sekolah) kemudian tampil sukses, bahkan lebih sukses dari dari rekan-rekannya yang lebih cerdas, dan sebaliknya.

Sujiono (2009:177) “Kemampuan yang menentukan cepat tidaknya atau terselesaikan tidaknya suatu masalah yang dihadapi”. Artinya bahwa seorang individu akan terlihat intelligensinya ketika misalnya 2 orang individu yaitu individu A dan individu B dihadapkan dalam satu persoalan yang sama, namun dalam waktu yang ditentukan, salah satu individu tersebut yaitu individu A sudah terlebih dulu dapat menyelesaikan permasalahannya, berbeda dengan individu B membutuhkan banyak waktu lagi untuk menyelesaikan permasalahannya.

Kecerdasan atau inteligensi adalah kemampuan adaptasi  dan menggunakan pengetahuan yang di miliki dalam menghadapi berbagai masalah dalam hidup seseorang. Beberapa teori menyatakan bahwa kecerdasan merupakan kemampuan dasar yang dimiliki oleh individu dalam menentukan tujuan hidupnya.

Semakin cerdas seseorang maka semakin besar peluang untuk lebih sukses di bandingksan orang yang tidak cerdas, karena Kecerdasan merupakan kemampuan untuk memproses informasi sehingga masalah-masalah yang dihadapi dapat dipecahkan (problem solved) dan dengan demikian pengetahuan pun bertambah.untuk mengetahui tingkat kecerdasan seseorang perlu di adakan tes kecerdasan.

Selama ini tes kecerdasan umumnya hanya di berikan kepada orang-orang yang menempuh bangku pendidikan sehingga tampak bahwa tingkat kecerdasan orang yang berpendidikan  di anggap lebih baik di bandingkan dengan orang yang tidak berpendidikan, namun kenyataan di lapangan tidak semua orang yang tidak berpendidikan tidak cerdas, hal ini di buktikan dengan banyaknya orang yang sukses tanpa melalui jenjang pendidikan yang tinggi contoh para pedagang yang sukses.

Berdasarkan fakta tersebut sebaiknya tes kecerdasan juga di berikan kepada orang-orang yang tidak menempuh bangku pendidikan untuk memperoleh informasi yang lebih jauh tentang factor utama yang mempengaruhi tingkat kecerdasan seseorang selain factor pendidikan formal.

Fakta hasil pendidikan di Indonesia saat ini sudah banyak melahirkan generasi-generasi penerus yang berbeda-beda ditingkatan kemampuannya di seluruh lapisan masyarakat di Indonesia.  Perbedaan kemampuan tersebut menjadi budaya pendidikan yang baku, dimana ada peserta didik yang kemampuan IQ nya tinggi ditempatkan pada posisi atas atau menjadi peringkat pertama sedangkan peserta didik yang IQ nya rendah di tempatkan pada posisi bawah.

Perhatian pendidikan memprioritaskan kepada kemampuan IQ peserta didik, yang menekankan peserta didik harus mampu setinggi-tingginya dalam penguasaan analitis. Budaya penghargaan besar hanya untuk siswa yang mempunyai kecerdasan analitis, sementara kemampuan peserta didik itu berbeda-beda ada yang cenderung pada kemampuan kreatifitas, dan praktis.

Santrock (2009:156)mengatakan bahwa “ para siswa yang mempunyai kemampuan analitis yang tinggi, cenderung disukai di sekolah-sekolah konvensional. Mereka cenderung mendapatkan nilai baik di kelas-kelas dimana guru mengajar dan memberikan ujian yang obyektif ”

Dari kutipan tersebut jelaslah bahwa peserta didik yang mempunyai kemampuan analitis tinggi tidak dipungkiri, sangat diharapkan oleh guru, dimana dalam hasil ujian selalu mendapatkan skor yang bagus dalam tes IQ serta nantinya berhak masuk ke perguruan tinggi yang kompetitif.

Sehingga peserta didik yang mempunyai tingkat intelegensi kreatif dan praktis setinggi apapun, jarang dihargai di lingkungan sekolah. Intelegensi analitis yang menjadi icon yang rata-rata lebih besar memberatkan peserta didik karena peserta didik yang mempunyai inteligensi analitis sangat sedikit sekali. Contoh misalkan di setiap sekolah ditingkatan apapun itu, yang mendapat juara pertama terlebih juara umum pasti 1 atau paling banyak 2 orang. Itu kenapa tejadi, karena pendidikan yang dalam hal ini sekolah yang menjadi konteksnya, hanya melihat kemampuan peserta didik dari intelegensi analitis saja, peserta yang mendapat peringkat atau rangking 1 s.d 3 lebih diperhatikan dan mendapat penghargaan lebih dari guru. Makanya jumlah peserta didik yang mempunyai intelegensi analitis lebih sedikit dibanding dengan peserta didik yang mempunyai intelegensi kreatif dan praktis yang jumlahnya jauh lebih besar.

Santrock (2009:156) mengatakan bahwa “ para siswa yang berintelegensi kreatif  yang tinggi sering tidak berada di tingkat atas di kelas mereka. Para siswa yang berinteligensi kreatif, mungkin tidak memenuhi harapan para guru tentang bagaimana tugas-tugas harusnya dikerjakan. Mereka memberikan jawaban yang unik, yang membuat mereka mendapat teguran “.

Guru cenderung tidak menyukai dan tidak memberikan penghargaan untuk peserta didik yang mempunyai intelegensi kreatif  tinggi yang tidak memberikan tugas sekolah dengan sesuai yang diperintahkan, maka hasil pembelajaran bagaimanapun akan tidak mengalami perubahan selama hanya konsep intelegensi analitis yang diprioritaskan.

Pendidikan di sekolah mempunyai tujuan tertentu yang mengacu pada tujuan nasional, seperti yang tercantum pada  Undang-undang RI No 20 tahun 2003 BAB II tentang DASAR, FUNGSI DAN TUJUAN pasal 3 yaitu “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Tujuan pendidikan tersebut tidak akan mungkin tercapai jika konsep dan sistem yang dilaksanakan dalam proses pendidikan hanya mengedepankan inteligensi analitis dan pengembangan inteligensi analitis saja, tetapi harus ada pengembangkan dan perhatian juga dari sekolah untuk peserta didik yang berintelegensi kreatif yang tinggi agar tujuan nasionalpun tercapai yaitu agar dengan pendidikan peserta didik menjadi manusia yang kreatif.

Selain intelegensi analitis tinggi dan intelegensi kreatif tinggi, peserta didik juga ada yang lebih cenderung pada intelegensi praktis seperti peserta didik yang berinteligensi praktis.

Santrock (2009:156) mengatakan bahwa “ siswa yang berinteligensi praktis sering tidak berhubungan baik dengan tuntutan sekolah. Namun siswa-siswa ini sering berprestasi baik di luar sekolah. Keterampilan sosial dan pengetahuan umum mereka memungkinkan mereka untuk menjadi manajer atau wirausaha yang berhasil, meskipun prestasi sekolah tidak istimewa.

Dominan di sekolah ada banyak berbagai macam pilihan ekstrakurikuler, paling sedikit 1 atau 2 pilihan ekstrakurikuler di sekolah. Namun tidak sedikit guru yang tidak menyukai peserta didik yang ikut aktif di ekstrakurikuler tersebut, dengan alasan mengganggu pembelajaran di kelas, kenapa seperti itu pandangan guru? Karena selama ini memandang bahwa pendidikan ekstrakurikuler adalah pendidikan tambahan yang tidak terlalu penting untuk peserta didik. Padahal salah satu untuk mewujudkan peserta didik yang cakap, mandiri dan bertanggung jawab sesuai dengan UU RI No. 3 BAB II  pasal 3, adalah dengan adanya sebuah wadah yang mengembangkan inteligensi praktis. Dengan siswa ikut dalam salah satu ekstrakurikuler tersebut memberikan wadah pengembangan untuk mengukur peserta didik dalam inteligensi yang dimilki. Karena inteligensi yang dimiliki setiap peserta didik berbeda-beda yang pada akhirnya setelah selesai jenjang sekolah dituntut untuk bisa beradaptasi dengan lingkungan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya dengan mandiri. Adapun dalam proses pemenuhuan kebutuhan dirinya sendiri berbeda-beda pula aktifitasnya, ada yang dituntut bisa menjadi ilmuwan, pemimpin perusahaan, guru, seniman, dll. Kesemua itu tidak bisa hanya menggunakan inteligensi analitis saja tetapi membutuhkan inteligensi kreatif dan praktis dalam sebuah lingkungan.

Tidak bisa sukses seseorang dalam bidang seni lukis, seni rupa, tari, suara, dsb bagi orang yang inteligensi analitisnya tinggi, dan yang dibutuhkan untuk kesuksessan dalam bidang tersebut adalah orang-orang yang mempunyai inteligensi kreatif. Begitu pula tidak akan mungkin sukses seorang manager/ pemimpin perusahaan bila yang mengendalikan semua proses tersebut oleh orang yang inteligensi analitisnya tinggi, tetapi yang dibutuhkan adalah orang-orang yang mempunyai inteligensi praktis tinggi yang mampu untuk menjadikan keberhasilan sebuah usaha. Dalam artian inteligensi analitis yang tinggi bukan tidak diperlukan, tetapi diperlukan juga sebagai penyeimbang. Santrock (2009:156).

Oleh karena itu kondisi di berbagai sekolah bahkan di perguruan tinggi tidak akan berubah sampai kapanpun menuju ke yang lebih baik, jika inteligensi analitis saja yang diharapkan bangsa sebagai generasi muda.

  1. B. Hakikat Intelegensi

Kemampuan untuk menyelesaikan masalah, menciptakan suatu produk yang berharga dalam satu atau beberapa lingkungan budaya masyarakat. (Gardner dalam Sujiono, 2009:176). Artinya bahwa hakikat intelligensi adalah kecerdasan yang sudah dimiliki seorang individu sejak lahir dan merupakan hal yang paling berharga sebagai bekal dalam menjalani kehidupan sehari-hari untuk menciptakan hal-hal yang baru baik karya berbentuk fisik maupun non fisik yang diperlukan oleh manusia sebagai kebutuhan primer, sekunder dan tersier. Melihat perkembangan jaman sudah masuk pada budaya masyarakat informasi serba tekhnologi, maka pembuatan karya-karya baru diharapkan untuk mempermudah dalam proses aktifitas kehidupan sehari-hari.

Kecerdasan adalah kemampuan adaptasi  dan belajar dari pengalaman kehidupan sehari-hari. Kecerdasan merupakan salah satu faktor penting dalam pencapaian suatu tujuan hidup atau  kesuksesan bagi seorang individu,namun demikian kecerdasan bukan satu-satunya faktor utama, karena inteligensi ini di pengaruhi oleh banyak faktor seiring dengan perkembangannnya. Faktor-faktor itu diantaranya adalah lingkungan dan proses belajar yang di tempuh oleh seseorang. Santrock (2009:151).

(Huxley dalam Santrock 2009:151) mengemukakakan bahwa anak-anak mempunyai rasa ingin tahu dan kecerdasan yang luar biasa di bandingan. Huxley juga mengatakan bahwa inteligensi merupakan milik manusia yang paling berharga yang tidak dapat di ukur secara langsung, melainkan dapat mengevaluasi kecerdasan melalui tindakan cerdas seseorang, tes inteligensi hanya di gunakan untuk memprediksi tingkat kecerdasan seseorang.

Ormrod (2007:105) mengemukakan bahwa kecerdasan (inteligensi) di pengaruhi oleh beberapa faktor yaitu:

a.  Faktor adaptasi: kemampuan dalam  menentukan  tujuan,dan beradaptasi terhadap brbagai metode untuk mencapai kesuksesan

b.  Faktor kemampuan dalam menggunakan pengetahuan yang di miliki untuk menganlisis dan menemukan cara baru yang efektif untuk menyelesaikan masalah secara cepat.

  1. Faktor interaksi: banyak melibatkan diri dalam interaksi sosial dan mampu melakukan koordinasi dalam kelompok yang memiliki peribadi yang berbeda-beda.

Beberapa faktor tersebut merupakan unsur-unsur penyusun dari intelegensi atau kecerdasan itu sendiri selain faktor-faktor lainnya. Hakikat Intelegensi adalah bagaimana individu itu mampu untuk melakukan sesuatu yang baik dalam menyelesaikan masalah.

Woolfolk (2007:111) “Kemampuan untuk belajar dalam jumlah pengetahuan yang sudah diperoleh dan kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan baik dalam setiap situasi yang baru dari yang pribadi sampai ke lingkungan yang umum”. Artinya seorang individu yang mempunyai sejumlah kecerdasan pasti memiliki kemampuan untuk beradaptasi dalam berbagai lingkungan khususnya lingkungan pribadi dan umumnya lingkungan secara umum.

Dalam Al-Ouran surat 2 (Al-Baqarah ayat 269) yang artinya “Hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil hikmah”. Ayat tersebut mengungkapkan bahwa seorang individu yang memiliki intelligensilah yang mampu memaknai apapun yang terjadi dan yang dialami oleh individu tersebut. (Al-Alaq:15-16) “Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti berbuat kerusakan, niscaya kami tarik ubun-ubunnya. Yaitu ubun-ubun orang yang mendustakan lagi durhaka”. Dan ayat ini juga mengungkapkan bahwa akan arti pentingnya intelligensi yang dimiliki untuk dapat dipergunakan pada tempat dan jalan yang tepat, jika intelligensi yang sudah dimiliki tidak diaplikasikan maka intelligensi tersebut, lama-kelamaan akan hilang. Misalnya: seorang guru bila memberikan ilmu yang salah kepada peserta didiknya, maka intelligensi yang dimilki tersebut akan hilang pelan-pelan dan tidak akan memberikan makna apapun dari intelligensi yang sudah dimiliknya.

Mengapa Al Quran menyatakan bahwa kepala bagian depan (ubun-ubun) adalah adalah bagian yang penuh dengan kebohongan dan dosa?. Atau dengan kata lain Al Quran menyatakan bahwa apabila manusia ingin berbuat kebohongan ataupun dosa, maka kepala (otak) depanlah yang paling berperan. Lalu apa hubungannya antara kepala (otak) depan , bohong dan dosa?
Bila kita lihat gambar tengkorak manusia bagian depan, kita akan temukan bagian depan otak manusia (lihat gambar 1). Apa yang dapat dijelaskan oleh ilmu faal tentang fungsi bagian ini?. Buku yang berjudul “Essential of Anatomy & Physiology” menyatakan bahwa : Motivasi dan tinjauan masa depan untuk merencankan dan memulai pergerakan terjadi di sel otak bagian depan, daerah inilah yang disebut dengan “prefrontal area”. Selanjutnya buku ini menyebutkan bahwa “ Sehubungan dengan keterlibatannya dalam memotivasi, otak bagian depan (prefrontal area) juga berfungsi sebagai pusat tindakan agresif”

Jadi, bagian inilah yang bertanggung jawab dalam merencanakan, memotivasi dan memulai tindakan baik , bohong dan dosa dan juga bertanggung jawab dalam menyampaikan kebenaran dan kebohongan. Jadi sangatlah tepat untuk menyatakan bahwa :”bagian otak depan adalah pusat tindakan baik, bohong dan dosa”. Persis seperti yang dinyatakan oleh Al Quran 15 abad yang silam.

Beberapa ahli mendeskripsikan intelligensi sebagai keterampilan penyelesaian masalah. Seperti teori Vygotsky, intelligensi harus mencakup kemampuan untuk menggunakan unsur-unsur budaya dengan bantuan dari individu-individu yang lebih terampil. Karena inteligensi adalah sebuah konsep yang abstrak dan luas, tidaklah mengejutkan bahwa ada begitu banyak cara untuk mendefinisikannya dan mengukurnya. Santrock (2009:151).

  1. C. Macam-macam Intelligensi

Sternberg dalam Santrock (2009:156), mengatakan bahwa siswa yang memiliki pola triarchic, yang berlainan terlihat berbeda di sekolah. Secara umum macam-macam intelligensi dibedakan menjadi 3 diantaranya:

  1. Inteligensi Analitis, yaitu : kecerdasan yang lebih cenderung dalam proses penilaian objektif dalam suatu pembelajaran dalam setiap pelajaran, selalu mendapatkan nilai yang bagus dalam setiap hasil ujian. Misalnya: seorang individu dalam ujian  disetiap pelajarannya selalu mendapatkan nilai di atas rata-rata.
  2. Inteligensi Kreatif, yaitu : kecerdasan yang lebih cenderung pada sifat-sifat yang unik, merancang hal-hal yang baru. Misalnya: seorang peserta didik diinstrusikan untuk menuliskan kata “P O H O N” oleh gurunya, tetapi jawaban seorang individu yang kreatif dengan menggambarkan sebuah pohon.
  3. Inteligensi Praktis, yaitu : kecerdasan yang berfokus pada kemampuan untuk menggunakan, menerapkan, mengimplementasikan, dan mempraktikan. Misalnya: seorang individu mendapatkan skor rendah dalam tes IQ tradisional, tetapi dengan cepat memahami masalah dalam kehidupan nyata, contohnya dalam pembelajaran praktikum di laboratorium, akan cepat memahami karena dibantu dengan berbagai peralatan dan media.
  1. D. Paradigma Multiplle Inteligensi dalam Pendidikan

Multiplle Intelligences yang mencakup delapan kecerdasan itu pada dasarnya merupakan pengembangan dari kecerdasan otak (IQ), kecerdasan emosional (EQ), kecerdasan spiritual (SQ). semua jenis kecerdasan perlu dirangsang pada diri anak sejak usia dini, mulai dari saat lahir hingga awal memasuki sekolah. (Kompas dalam jurnal pendidikan Penabur 2005).

Yang menjadi pertanyaan terbesar, mampukah dan bersediakah setiap insan yang berkecimpung dalam dunia pendidikan mencoba untuk mengubah pola pengajaran tradisional yang hanya menekankan kemmapuan logika (matematika) dan bahasa? Bersediakah segenap tenaga kependidikn bekerjasama dengan orang tua bersinergi untuk mengembangkan berbagai jenis kecerdasan pada peserta didik di dalam proses belajar yang dilaksanakan di lingkungan lembaga pendidikan?

Teori multiplle Intellegences bertujuan untuk mentransformasikan sekolah agar kelak sekolah dapat mengakomodasi setiap siswa dengan berbagai macam pola pikirnya yang unik.

Ada beberapa macam kecerdasan yang diungkapkan oleh (Gardner dalam Santrock, 2009:156), (Woolfolk, 2007:113), (Slavin, 2006:165), (Stefanakis dalam Sujiono, 2009: 184), yaitu :

  1. Intelegensi keterampilan verbal: kemampuan untuk berpikir dengan kata-kata dan menggunakan bahasa untuk mengungkapkan makna. Contohnya: seorang anak harus berpikir secara logis dan abstrak untuk menjawab sejumlah pertanyaan tentang bagaimana beberapa hal bisa menjadi mirip. Contoh pertanyaannya “Apa persamaan Singan dan Harimau”?. Cenderung arah profesinya menjadi: (penulis, jurnalis, pembicara).
  2. Intelegensi keterampilan matematis: kemampuan untuk menjalankan operasi matematis. Peserta didik dengan kecerdasan logical mathematical yang tinggi memperlihatkan minat yang besar terhadap kegiatan eksplorasi. Mereka sering bertanya tentang berbagai fenomena yang dilihatnya. Mereka menuntut penjelasan logis dari setiap pertanyaan. Selain itu mereka juga suka mengklasifikasikan benda dan senang berhitung. Cenderung profesinya menjadi: (ilmuwan, insinyur, akuntan)
  3. Intelegensi kemampuan ruang: kemampuan untuk berpikir secara tiga dimensi. Cenderung berpikir secara visual. Mereka kaya dengan khayalan internal (Internal imagery) sehingga cenderung imaginaif dan kreatif. Contohnya seorang anak harus menyusun serangkaian balok warna/i agar sama dengan rancangan yang ditunjukan penguji. Koordinasi visual-motorik, organisasi persepsi, dan kemampuan untuk memvisualisasi dinilai secara terpisah.

Contoh:

“gunakanlah balok-balok tersebut menjadi tersusun rapi seperti contoh gambar di sebelah kiri”

Cenderung menjadi profesi : (arsitek, seniman, pelaut)

  1. Inteligensi kemampuan musical: kepekaan terhadap pola tangga nada, lagu, ritme, dan mengingat nada-nada. Ia juga dapat mentransformasikan kata-kata menjadi lagu, dan menciptakan berbagai permainan music. Mereka pintar melantunkan beat lagu dengan baik dan benar. Mereka pandai menggunakan kosakata musical, dan peka terhadap ritme, ketukan, melodi atau warna suara dalam sebuah komposisi music. Misalnya dalam pelajaran kerajinan tangan dan kesenian (kertakes), seorang individu akan cepat memahami pelajaran dan berani menyanyikan/memainkan peralatan musik. Cenderung berprofesi menjadi:  (composer, musisi, dan ahli terapi musik).
  2. Inteligensi Keterampilan kinestetik tubuh: kemampuan untuk memanipulasi objek dan mahir sebagai tenaga fisik. Senang bergerak dan menyentuh. Mereka memiliki control pada gerakan, keseimbangan, ketangkasan, dan keanggunan dalam bergerak. Mereka mengeksplorasi dunia dengan otot-ototnya. Cenderung berprofesi menjadi: (ahli bedah, seniman yang ahli, penari, atlet)
  3. Inteligensi Keterampilan intrapersonal: kemampuan untuk memahami diri sendiri dengan efektif mengarahkan hidup seseorang. Memiliki kepekaan perasaan dalam situasi yang tengah berlangsung, memahami diri sendiri, dan mampu mengendalikan diri dalam konflik. Ia juga mengetahui apa yang dapat dilakukan dan apa yang tidak dapat dilakukan dalam lingkungan social. Mereka mengetahui kepada siapa harus meminta bantuan saat memerlukan. Cenderung berprofesi menjadi : (teolog, psikolog).
  4. Inteligensi keterampilan interpersonal: kemampuan untuk memahami dan secara efektif berinteraksi dengan orang lain. Pintar menjalin hubungan social, serta mampu mengetahui dan menggunakan beragam cara saat berinteraksi. Mereka juga mampu merasakan perasaan, pikiran, tingkah laku dan harapan orang lain, serta mampu bekerja sama dengan orang lain. Cenderung berprofesi menjadi :  (guru yang berhasil, ahli kesehatan mental).
  5. Inteligensi keterampilan naturalis: kemampuan untuk mengamati pola di alam serta memahami system buatan manusia dan alam. Menonjol ketertarikan yang sangat besar terhadap alam sekitar, termasuk pada binatang, diusia yang sangta dini. Mereka menikmati benda-benda dan cerita yang berkaitan dengan fenomena alam, misalnya terjadinya awan, dan hujan, asal-usul binatang, peumbuhan tanaman, dan tata surya. Cenderung berprofesi menjadi: (petani, ahli botani, ahli ekologi, ahli bentang darat).
  6. Inteligensi emosional : kemampuan untuk merasakan dan mengungkapkan emosi secara akurat dan adaftif (seperti memahami persfektif orang lain).

intelligensi dapat diklasifikasikan menurut :

GARDNER STERNBERG SALOVEY/MAYER
VerbalMatematis Analitis
RuangGerakanMusikal Kreatif
InterpersonalIntrapersonal Kreatif Emosional
Naturalis

Intelligensi verbal, matematis dan analitis merupakan kelompok Intelligences Question. Intelligensi ruang, gerakan, musical, naturalis dan kreatif merupakan kelompok Spiritual Question, dan Intelligensi interpersonal, intrapersonal, praktis dan emosional merupakan kelompok Emosional Question.

IQ  : Kemampuan intelektual, analisa, logika dan rasio. Contoh: 3 x 3 = 9

EQ : Kemampuan mendengar suara hati sebagai sumber informasi. Contoh : Komitmen, loyalitas, dan kepekaan

SQ : Kemampuan member makna puncak seperti ritual (Ultimate meaning). Contohnya : Spiritualisasi pekerjaan.

(Agustian, power point ESQ, slide:13)

  1. E. Otak dan Intelligensi

Berbicara intelligensi tentu saja berbicara otak, karena semua informasi, gerakan, respon semuanya bermuara di otak. Otak manusia adalah struktur pusat pengaturan yang memiliki volume 1.350 cc dan terdiri atas 100 juta sel saraf atau neuron. Otak manusia bertanggung jawab terhadap pengaturan seluruh badan dan pemikiran manusia. Oleh karena itu terdapat kaitan erat antara otak dan pemikiran/ intelligensi. Otak dan sel saraf di dalamnya dipercayai dapat mempengaruhi kognisi manusia. Pengetahuan mengenai otak mempengaruhi perkembangan psikologi kognisi.

Otak manusia terdiri dari beberapa bagian diantaranya : otak besar, otak tengah, otak belakang dan otak kecil. Kesemuanya itu saling mempengaruhi dan memperkuat dalam kinerja perdetiknya. Otak besar yang terletak di depan yang mempunyai 2 belahan yaitu, otak kanan dan otak kiri. Belahan kanan mengatur dan melayani tubuh bagian kiri dan sebaliknya belahan otak kiri mengatur dan melayani otak kiri. Jika otak belahan kiri mengalami gangguan maka tubuh bagian kanan mengalami gangguan bahkan mungkin kelumpuhan. (http//:gemasastrin.htm).

Otak kiri berkecenderungan untuk pemahaman matematika, bahasa, membaca, menulis, logika, sequences (urutan), sistematis, analitis, obyektif, perlu uji, dan perlu data (valid dan terandal). Sedang otak kanan berkecenderungan untuk pemahaman kreatifitas, konseptual, inovasi, gagasan, gambar, warna, music, irama, melodi, subyektif, acak, tidak logis, rasa, keyakinan, tidak ilmiah dan bermimpi.

Otak kiri dan otak kanan tersebut  akan dihubungkan oleh dendrit yaitu lapisan dalam yang berwarna putih yang banyak mengandung serabut saraf. Yang nantinya akan masuk dalam short term memori (STM), dimana bila seorang peserta didik melihat the first impression dari gurunya yang menarik maka panca indera peserta didik yang mendapat ketertarikan peran gurunya tersebut akan di respon oleh panca inderanya tersebut dan masuk pada STM. Jika dilakukan pembelajaran diulang-ulang atau refitisi maka peserta didik akan mengalami pemahaman yang masuknya nanti pada long term memori (LTM). STM dan LTM semuanya bermuara di otak, jika peserta didik sudah memahami pelajaran yang disampaikan gurunya, maka peserta didik akan mengalami proses berpikir dan memahami apa yang meski dilakukan atau bersikap. Seperti pada gambar di bawah ini yang menggambarkan belahan otak kanan dan otak kiri yang sangat berhubungan erat dan saling mempengaruhi:

(gb. Perbedaan otak kiri dan otak kanan)

Belahan otak kanan dan otak kiri mempunyai Anatomi otak yang berbeda fungsinya, otak merupakan alat untuk memproses data tentang lingkungan internal dan eksternal tubuh yang diterima reseptor pada alat indera. Data tersebut dikirimkan oleh urat saraf yang dikenal dengan system saraf keseluruhan. System saraf ini memungkinkan seluruh urat saraf mengubah rangsangan dalam bentuk impuls listrik. Kemudian impuls listrik dikirim ke pusat system saraf yang berada di otak dan urat saraf tulang belakang. Disinilah data diproses dan direspon dengan rangsangan yang cocok. Biasanya dalam tahap ini timbul saraf efektor, yang berfungsi untuk mengirimimpuls saraf ke otot sehingga otot berkontraksi atau rileks.

Di dalam jaringan system saraf pusat terdapat hirarki control. Bayak rangsangan sederhana berhubungan dengan tindakan reflex/aksi spontan (misalnya, dengan cepat kita mengibaskan tangan saat menyentuh pirig panas). Otak tidak tidak terlibat langsung dalam proses ‘identifikasi’ mengenai tindakan reflex. Tapi tindakan reflex tersebut diproses di saraf tulang belakang. Meskipun otak otak tidak terlibat langsung dalam proses yang berhubungan dengan aksi spontan, tetap saja kita akan mencerna data/rangsangan yang dipersepsi alat indera. Contohnya kita tidak serta-merta menumphkan sepiring penuh makanan tanpa alasan kecuali piring itu memang panas sehingga kita reflex menumpahkannya. Atau bisa juga hal itu disebabkan oleh stress yang kita alami.

Fenomena semacam ini adalah fungsi yang rumit yang terjadi di otak. Bernafas, keseimbangan, menelan, dan mencerna terjadi karena fungsi otomatis otak. Dan kita tidak menyadari bahwa proses tubuh tersebut membutuhkan control yang lembut dan tekhnik mengatur yang baik. Otak purba mengontrolnya secara relatif. Misalnya kita akan menoleh jika seseorang memanggil nama kita di jalan. Aksi tersebut dikontrol oleh bagian otak yang lebih baru. Otak dan urat saraf tulang belakang dilindungi oleh tulang (tengkorak dan tulang belakang secara brurutan) dan dikelilingi oleh cairan otak yang berfungsi sebagai alat penahan goncangan.

Otak Nampak seperti  sebuah kembang kol yang beratnya rata-rata 1,2 kg pada laki-laki dan 1 kg pada perempuan. Otak dapat dibagi ke dalam 3 bagian umum yaitu otak depan, otak tengah, dan otak belakang. Posisi bagian-bagian otak tersebut tidak sesuai dengan namanya, seperti otak depan tidak berada di bagian depan. Karena nama bagian-bagian tersebut didasarkan pada posisi saat manusia masih berbentuk embrio. Kemudian posisi bagian-bagian otak tersebut berubah selama perkembangan janin dalam kandungan. Otak belakang terletak di dasar kepala, terdiri dari empat bagian fungsional, yaitu medulla oblongata, pons, bentuk reticular dan cerebellum. Seperti pada gambar berikut: (http//Wikimedia common:otak)

Diantara pusat otak dan korteks terletak system limbic (berasal dari bahasa latin yang berarti batas). Anatomo system limbic ini memungkinkan kita mengontrol insting/naluri kita. Misalnya, kita tidak serta merta memukul seseorang yang tidak sengaja menginjak kaki kita. System limbic terdiri dari tiga bagian utama, yaitu amygdale dan septum yang berfungsi mengontrol kemarahan, agresi, dan ketakutan, serta hippocampus yang penting dalam merekam memori baru.

Korteks (korteks cerebal) adalah helaian saraf yang tebalnya kurang dari 5 mm, tapi luas bagiannya mencapai 155 cm. korteks menyusun  70 % bagian otak. Lipatan korteks yang erat kaitannya dengan tengkorak manusia membuat otak tampak berkerut. Saraf dalam korteks memproses data. Korteks mempunyai sejumlah struktur dan bagian-bagian fungsional yaitu bagian kiri dan kanannya.

Beberapa ahli berpendapat bahwa kedua belahan otak dihubungkan oleh sebuah bundle serat tebal yang disebut corpus callsum yang membantu menyatukan aktifitas otak (memberitahu otak kiri tentang apa yang dilakukan otak kanan, juga sebaliknya). Dalam korteks ada empat lobus atau cuping, yaitu temporal, frontal, occipital, dan parietal. Lobus frontal berhubungan dengan konsentrasi, lobus temporal berhubungan dengan bahasa dan ingatan, lobus parietal berhubungan dengan sensor data, dan lobus occipital berhubungan dengan penglihatan dan persepsi. Jadi proses kesadaran pikiran bergantung pada interaksi kompleks di bagianbagian otak.

(Porter&Hernacki dalam Wikimedia common: otak), menyatakan bahwa otak dibagi dalam 3 bagian dasar, yaitu batang atau otak reptile, sisitem limbic atau otak mamalia dan neokorteks. Ketiga bagian tersebut masing-masing berkembang pada waktu yang berbeda dan mempunyai struktur syaraf tertentu serta mengatur tugasnya masing-masing. Batang atau otak reptile adalah komponen kecerdasan terendah dari manusia. Ia bertanggung jawab terhadap fungsi-fungsi sensor motorik sebagai insting mempertahankan hidup dan pengetahuan tentang realitas fisik yang berasal dari pancaindera. Apabila otak reptile ini dominan, maka kita tidak dapat berfikir pada tingkat yang sangat tinggi.

Di sekeliling otak reptile terdapat system limbic yang sangat kompleks dan luas. Sistim limbic ini terletak di tengah otak yang fungsinya bersifat emosional dan kognitif. Perasaan, pengalaman yang menyenangkan, memori dan kemampuan belajar dikendalikan oleh sisitem limbic ini. Sistim ini juga merupakan panel control yang menggunakan informasi dari pancaindera untuk selanjutnya didistribusikan ke bagian neokorteks. Neokorteks adalah bagian otak yang menyimpan kecerdasan yang lebih tinggi. Penalaran berfikir secara intelektual, pembuatan keputusan, bahasa, perilaku yang baik, kendali motorik sadar dan penciptaan gagasan berasal dari pengaturan neokorteks. Menurut Gardner dalam Santrock (2009: 156), kecerdasan majemuk (multiple intelligensi) berada pada bagian ini. Bahkan pada bagian ini pula terdapat intuisi yaitu kemampuan untuk menerima atau menyadari informasi yang tidak diterima oleh pancaindera. Bagian-bagian otak tersebut mempunyai fungsi yang berbeda-beda dalam kinerjanya, lebih jelas bisa dilihat pada gambar beikut:

Jaringan otak orang hidup menghasilkan gelombang-gelombang listrik yang berfluktuasi pada tahun 1929. Alat ini disebut Electroencephalograph atau disingkat EEG, dengan menempelkan sepasang electrode di kulit kepala, maka dapat diketahui perbedaan tegangan arus listrik padanya. Apabila di layar monitor electroencephalograph tidal lagi terlihat adanya gelombang, maka orang tersebut secara medis telah mati, meskipun di bagian tubuh lain masih ada gerakan. Frekwensi gelombang EEG dihitung dengan jumlah cycles per second atau cps (Hertz-Hz).

Gelombang delta adalah kondisi orang sedang tidur yang frekwensinya antara 0,5 s.d 3,5 cps. Orang tidur tanpa mimpi, otaknya menghasilkan gelombang delta, sedangkan orang koma gelombang otaknya hanya 0,5 cps. Tidur rutin untuk manusia, adalah upaya untuk memulihkan kondisi sel-sel tubuhnya termasuk sel otak yang telah bekerja berat seharian. Oleh karena itu orang sakit perlu banyak tidur beristirahat. Glombang theta dengan putaran 3,5 s.d 7 cps, terjadi saat orang bermimpi. Mimpi ditandai dengan gerakan bola mata yang cepat. Perasaan bermimpi yang terasa lama sekali, pada hakekatnya hanya berlangsung dalam hitungan detik. Hal ini karena ukuran waktu yang dipakai orang yang bermimpi ialah waktu ukuran ruh. Bukankah waktu ribuan tahun di dunia, hanya sekejap saja menurut ukuran akhirat. Para penemu, pencipta musisi bekerja dalam kondisi  gelombang theta. Gelombang Alpha antara 7 s.d 13 cps. Terjadi pada kondisi normal orang dewasa bekerja, tanpa dibebani pikiran macam-macam, tanpa target yang berat.

Berdasarkan informasi yang diserap oleh gelombang-gelombang di atas, maka terdapat jenis-jenis informasi

Memori otak manusia kerjanya mirip dengan memori komputer. Pada komputer, memorinya disebut RAM (Random Access Memory) berfungsi merekam, memelihara dan memanfaatkan informasi baru. Pada manusia, fungsinya lebih luas lagi mencakup perbendaharaan kata, pengetahuan bahasa, semua informasi yang telah kita pelajari, pengalaman hidup pribadi, segala kemahiran yang telah dipelajari dari mulai berjalan, berbicara hingga prestasi musik dan olahraga.

Klasifikasi Memori. Para ahli membagi memori otak manusia menjadi dua yaitu memori jangka pendek (short term memory) dan memori jangka panjang (long term memory). Memori jangka pendek adalah memori yang cepat diingat, cepat lupa dan kapasitasnya terbatas, sedangkan memori jangka panjang adalah memori yang lambat dilupakan dan kapasitasnya tidak terbatas. Memori jangka panjang dibagi menjadi dua yaitu memori deklaratif (eksplisit) dan memori non deklaratif (implisit/prosedural). Memori deklaratif/eksplisit adalah memori yang dimaksud seperti kebanyakan orang dengan memori. Memori deklaratif/eksplisit disimpan di dalam korteks serebral tepatnya di hipokampus. Memori deklaratif/eksplisit dibagi lagi menjadi dua, yaitu memori episodik dan memori semantik. Memori episodik adalah memori tentang pengalaman-pengalaman diri sendiri yang biasanya berhubungan dengan riwayat hidup. Memori semantik berisikan jumlah total pengetahuan yang dimiliki seperti perbendaharaan kata, pemahaman matematika dan segala fakta yang diketahui. Memori non deklaratif/implisit/prosedural berisikan antara lain kemahiran, kategori, priming, hubungan dasar dan keterbiasaan (classical conditioning). (http//Wikimedia common:otak).

Keadaan memori di atas boleh jadi merupakan tanda-tanda otak seorang individu membutuhkan “makanan baru”. Rutinitas pekerjaan dan tenggat waktu yang ketat seringkali membuat orang melupakan kesempatan me-recharge baterai alami sekaligus prosesor komputer tercanggih yang  dimiliki: Otak.

Kebiasaan beraktivitas, pola makan dan teman-teman bergaul, perlu diperiksa lagi agar kecanggihan mesin ajaib di tubuh dalam keadaan terawat. Kebiasaan lama ibarat jalan tol sepanjang 100 km menuju lokasi tujuan yang dilalui oleh ribuan kendaraan. Namun, aktivitas baru dapat dianalogikan dengan jalan setapak yang sangat mungkin berjarak 50 km ke lokasi yang tuju. Jadi mendengar musik yang itu-itu saja dan membaca surat kabar yang sama setiap hari membuat orang merasa jalan tol ini adalah rute paling dekat menuju tujuannya.

Berikut ini beberapa tips yang dapat membuat seorang individu lebih cepat membangun dan menemukan jalan setapak baru yang lebih singkat: (http//Wikimedia common:otak)

  • Baca majalah/surat kabar/buku dengan topik yang belum pernah dikenali sebelumnya. Informasi yang sama sekali baru, adalah bahan bakar dari proses kreatif.
  • Ikuti kelas-kelas keterampilan baru, seperti: kursus fotografi, keterampilan menulis kreatif, kursus mematung, kursus menggambar atau kursus menari India. Aktivitas motorik yang sama sekali baru dapat memberi perspektif baru dalam kegiatan sehari-hari yang jalani.
  • Hasilkan sesuatu: artikel, tulisan, gambar, sketsa dan lukisan. Seorang Individu dapat juga membuat coretan berupa simbol-simbol dari alur pekerjaanseorang individu. Coretan berupa simbol dapat membantu seorang individu berpikir secara simbolis dan visual. Bila individu terbiasa berpikir dengan kata-kata, berpikir dengan gambar, akan memudahkan lahirnya ide baru. Perasaan produktif juga dapat memacu individu untuk menghasilkan hal lain lagi.
  • Lakukan Olahraga ritmis dan bersifat aerobik secara teratur. Berenang, jogging dan jalan cepat bermanfaat jika sedang tersendat saat berpikir suatu masalah. Aktivitas repetitif semacam ini memudahkan kegiatan berpikir di bawah sadar ‘meloncat’ keluar.
  • Nikmati musik. Dengarkan lagu-lagu dari jenis musik yang berbeda dari yang biasa  didengar. Ingin melakukan aktivitas mental yang lebih rumit? Kalau perlu belajar untuk memainkan instrumen musik baru.
  • Memasak. Ini serius! Mengolah makanan yang mentah menjadi sajian yang matang dan menggoda dengan seluruh proses prosedur memasak melibatkan seluruh otak seorang individu. Jika ingin sekalian menikmatinya, jangan lupakan kerang dan ikan laut. Makanan berprotein tinggi adalah amunisi andalan bagi otak.
  • Bertemu dan bersosialisasi dengan orang baru. Membangun hubungan dengan orang baru menambah persepsi baru tentang hidup dan kehidupan. Pelajari cara orang lain memandang masalah dan menyelesaikannya.
  • Lalui rute baru di perjalanan. Secara aktif mencari jalur alternatif baru selain menambah peluang menghindari kemacetan juga dapat melatih kemampuan keruangan dan daya ingat.

Jadi jangan biarkan sel-sel otak diam sehingga lama-kelamaan menyusut. Rawat dan kembangkan kemampuan agar benda ajaib ini dapat berproduksi optimal.

Setiap Manusia Normal dilahirkan dengan kapasitas otak yang hampir sama, yakni 1.2 kg pada pria, dan 200 gram lebih sedikit pada wanita. Ini berarti, setiap orang memiliki POTENSI yang sama untuk sukses, termasuk dalam hal belajar. Bila peserta didik telah merasa belajar dengan keras, tekun namun belum juga mendapatkan hasil yang diinginkan, hal tersebut berarti ada yang salah dengan METODE BELAJAR nya, atau kemungkinan besar peserta didik tidak memiliki metode Belajar sama sekali! Jika demikian halnya, Peta Sukses Belajar Cerdas bisa menjadi salah satu alternative Metode Belajar yang cerdas dan efektif-efisien. (http//Wikimedia common:otak).

  1. F. Pengukuran Inteligensi

Intelegensi tidak dapat di ukur seperti tinggi badan atau berat badan, karena kecerdasan hanya dapat di ukur  secara tidak langsung melalui tindakan cerdas yang di lakukan seseorang dan melalui tes intelegensi secara tertulis.

Santrock (2009:152) mengemukakan bahwa tes kecerdasan yang dapat di lakukan dalam bentuk tertulis adalah tes culture-fair.

Tes culture-fair yaitu tes yang menghindari tes budaya, tes tersebut telah di kembangkan dalam dua jenis yang bebas bias budaya. Yang pertama mencakup pertanyaan yang di kenal orang-orang dari semua latar belakang sosial ekonomi dan etnis. Misalnya pertanyaan untuk orang-orang yang memiliki pendidikan yang tinggi akan berbeda dengan orang yang belum berpendidikan tinggi.

  1. 1. Tes Inteligensi Individual

Tes 1905 scale, dinamakan tes 1905 karena tes ini ditemukan pada tahun 1905 oleh Alfred Binet. Tes ini terdiri dari 30 pertanyaan, yang berkisar dari kemampuan untuk telinga seseorang sampai kemampuan untuk menggambarkan rancangan dari ingatan dan mendefinisikan konsep-konsep abstrak.

Tes Binet mengembangkan konsep Usia mental, tingkat perkembangan mental seseorang bila dibandingkan dengan orang lain. Pada tahun 1912 William Stern menciptakan konsep intelligence question (IQ), yang merujuk pada usia mental seseorang dibagi usia kronologis, dikali 100 yaitu IQ = MA/CA x 100.

Apabila usia mental sama dengan usia kronologis, maka IQ nya adalah 100. Apabila usia mental di atas usia kronologis, IQ nya lebih dari 100. Tes Stanford-Binet saat ini dilakukan secara individual untuk orang yang berusia 2 tahun sampai dewasa. Tes ini mencakup berbagai soal, beberapa soal membutuhkan respon verbal, soal yang lainnya membutuhkan  respon non verbal.

Tes skala Wechsler, yang dikembangkan oleh david Wechsler. Tes tersebut mencakup  Wechsler Presscool dan Primary scale of intelegence III (WPPSI III) untuk mengetes anak-anak berusia 4-6,5 tahun, Wechsler  Intelegence scale for children – IV Integrated (WISC-IV Integrated) untuk anak-anak dan para remaja berusia 6 s.d 16 tahun, dan Wechsler Adult Intellegence Scale (WAIS III).

Selain IQ secara keseluruhan, skala Wechsler juga menghasilkan IQ verbal dan IQ kinerja (berdasarkan soal-soal yang tidak membutuhkan respons verbal). Soal IQ verbal didasarkan pada 6 subskala verbal, IQ kerja pada lima subskala kinerja. Skala tersebut memungkinkan penguji dapat dengan cepat pola kekuatan dan kelemahan dalam area intelegensi siswa yang berbeda-beda. (Woolger dalam Santrock, 2009:153).

  1. 2. Tes Intelegensi kelompok

Tes intelegensi kelompok mencakup Lorge-Throndike Intellegence test, Khulman Anderson Intellegence tes, dan Otis –Lennon  School Mentak Abilities Test. Tes intelegensi kelompok lebih mudah dan lebih ekonomis daripada tes individual, tetapi tes intelegensi kelompok mempunyai kekurangan. Ketika sebuah tes diberikan dalam satu kelompok besar, penguji tidak bisa membangun koneksi, menentukan tingkat kegelisahan siswa, dsb. (Drummond dalam Santrock, 2009:154).

Dalam situasi tes kelompok besar, para siswa bisa jadi tidak memahami perintah atau mungkin terganggu oleh siswa lain. Oleh karena keterbatasan tersebut, saat membuat keputusan penting mengenai siswa, tes intelegensi kelompok perlu dilengkapai dengan informasi kemampuan siswa tersebut. Untuk hal itu, strategi yang sama berlaku untuk tes intelegensi individual, meskipun biasanya bersikap bijaksana untuk tidak mempercayai begitu saja akurasi skor inteligensi nilai kelompok. Banyak siswa mengerjakan tes dalam kelompok-kelompok besar di sekolah, tetapi keputusan untuk menempatkan seorang siswa dlam satu kelas bagi siswa-siswa yang mempunyai keterbelakangan mental, kelas pendidikan khusus , atau kelas untuk sisiwa-siswa yang berbakat seharusnya tidak hanya didasarkan pada tes kelompok.

  1. G. Implementasi Inteligensi dalam Pendidikan
    1. Kondisi saat ini dalam aplikasi pendidikan di Indonesia masih mengedepankan intelegensi analitis dan mengenyampingkan intelegensi-intelegensi lainnya seperti, kreatif dan praktis. Padahal intelegensi analitis tidak melahirkan banyak selain dari konsep-konsep pengetahun, sementara karakter individu itu lain-lain kemampuannya. Banyak individu yang berkompetensi dari intelegensi kreatif dan praktis, namun jika disekolah tidak diseimbangkan penerapan intelegensi-intelegensi tersebut  pada peserta didik, maka perubahan progressif pendidikan akan mengalami perubahan yang sangat lambat sekali.
    2. Implementasi intelegensi analitis, kreatif dan praktis yang ditunjang dengan multiplle intelligence termasuk intelegensi emosional di dalamnya, harus dirumuskan dan diterapkan pada tingkatan-tingkatan sekolah sebagai awal pembelajaran kedepannya untuk menjadi individu yang ahli dan professional.

Intelegensi merupakan kemampuan manusia untuk melakukan sesuatu yang baik dalam menyelesaikan masalah.

Intellgensi harus diterapkan dalam proses pembelajaran dalam setiap tingkatan di sekolah bahkan sampai perguruan tinggi, baik itu intelegensi umum (analitis, kreatif, praktis), maupun 8 intelegensi khusus dan intelegensi emosional.

Intelegensi merupakan kemampuan dasar yang menjadi dasar utama untuk menentukan dan mencapai kesuksesan seseorang. Kecerdasan ini sangat di pengaruhi oleh faktor internal dan eksternal diri seseorang. Meskipun masih terdapat perbedaan pendapat di kalangan para ahli psikologi namun secara sederhana jenis-jenis kecerdasan di bagi  atas, keterampilan verbal, keterampilan matematis, kemampuan ruang dan kemampuan musical.

Semua intelligensi bermuara di otak, otak kanan dan otak kiri yang masing-masing mempunyai fungsi yang saling mempengaruhi dan memperkuat. Tidak ada perbedaan diantara otak kanan dan otak kiri manusia

Saran:

Perlu ada upaya untuk dapat menyimpulkan pengertian dari intelegensi secara seragam sehingga kemudian di peroleh metode yang tepat dalam mengukur tingkat kecerdasan seseorang.

Implementasi intelegensi tersebut dapat direalisasikan secara kontinyu untuk mendapatkan hasil yang bermanfaat besar untuk peserta didik khususnya dan sekolah umumnya.

Pendidikan merupakan bagian penting dari kehidupan manusia yang sekaligus membedakan manusia dengan mahluk hidup lainnya, kita ketahui manusia memiliki otak seperti halnya juga hewan, namun otak pada hewan hanya dipergunakan untuk mempelajari segala sesuatunya berdasarkan kebiasaan tanpa dapat mengembangkannya (belajar dan berpikir lanjut) karena cara berpikir yang terjadi pada hewan berdasarkan instingnya. Hal ini dapat kita lihat jika seekor anjing sebagai salah satu hewan yang paling pandai dan mudah untuk di ajar (bersahaja dengan manusia) yang akan mengalami suatu proses pembelajaran dengan cara pemberian makan yang diawali terlebih dahulu dengan membunyikan bel, dan ketika pemberian makan tanpa membunyikan bel maka hewan anjing tersebut tidak akan datang walau merasa lapar, sedangkan pembelajaran yang dialami manusia dapat berkembang dengan cara belajar dan berpikir lanjut.

Manusia yang mengalami proses belajar yang merupakan rangkaian kegiatan menuju kedewasaan guna menuju kehidupan yang lebih berarti. Anak-anak yang menerima pendidikan dari orang tuanya manakala anak beranjak dewasa dan setelah mereka dewasa lalu menikah maka ia akan mendidik anak-anaknya yang belum tentu sama seperti proses pembelajaran yang ia peroleh dari orang tuanya (belajar dan berpikir lanjut). Begitu juga pada sekolah dan perguruan tinggi dimana siswa diajar oleh guru dan dosen.

Pandangan klasik tentang pendidikan pada umumnya sebagai pranata yang dapat menjalankan tiga fungsi sekaligus, diantaranya; 1) mempersiapkan generasi muda untuk memegang peran-peran tertentu pada masa mendatang, 2) mentransfer pengetahuan sesuai dengan peran yang diharapkan, dan 3) mentransfer nilai-nilai dalam rangka memelihara keutuhan dan kesatuan masyarakat sebagai prasyarat bagi kelangsungan hidup manusia di dalam bermasyarakat  dan peradabannya.

Butir kedua dan ketiga mengandung makna bahwa pendidikan bukan hanya tansfer of knowledge tetapi juga transfer of value. Dengan demikian  dapat menjadi helper bagi umat manusia. Pendidikan merupakan hal yang paling mendasar yang harus didapatkan oleh setiap individu sebagai pembentukan karakter dalam bersikap terhadap berbagai kondisi lingkungan. Pendidikan merupakan proses mendasar yang harus dilalui oleh setiap individu manusia. Proses pendidikan harus diterapkan sejak usia dini agar mudah terbentuk tujuan pendidikan dasar,  sebagai fondasi awal yang disiapkan untuk memfilter cabang-cabang pendidikan yang akan dihadapi di masa datang. Cabang-cabang pendidikan yang menjadi pilihan individu sehingga dapat berkonsentrasi disalah satu bidang diantaranya, pendidikan dalam bidang sosial, ekonomi, sains, filsafat, dll. Pemilihan disalah satu bidang pendidikan diarahkan untuk membentuk individu menjadi profesional.

Agar dapat profesional seorang individu atau peserta didik harus memahami hakikat pendidikan itu sendiri, hakikat pendidikan (Tha nature of education) menurut Driyakara (1980) : adalah memanusiakan manusia muda, artinya bahwa proses pendidikan itu perlu dibina dengan konsep yang matang sejak dini secara kontinyu untuk melahirkan generasi bangsa yang berkompetensi.

Pendidikan merupakan proses seseorang untuk mengembangkan kemampuan, sikap, dan tingkah laku lainnya di dalam masyarakat tempat mereka hidup dalam proses sosial yang terjadi pada orang yang dihadapkan pada pengaruh lingkungan yang terpilih dan terkontrol (khususnya yang datang dari sekolah/jenjang pendidikan), sehingga mereka dapat memperoleh perkembangan kemampuan sosial dan kemampuan individu yang optimum (dictionary of education). Pemilihan pendidikan yang akan diambil sangat perlu untuk menentukan bakat, perlu perawatan terhadap bakat yang sudah ada dari pengaruh lingkungan yang dapat mengikis motivasi dalam memperoleh pendidikan pada peserta didik.

Pendidikan dipengaruhi oleh lingkungan dimana individu berada untuk menghasilkan perubahan-perubahan yang sifatnya permanen (tetap) dalam tingkah laku dan sikapnya. Pendidikan tidak hanya dipandang sebagai sarana untuk persiapan hidup yang akan datang, tetapi juga untuk kehidupan sekarang yang akan dialami oleh individu dalam perkembangannya untuk menuju ketingkat kedewasaannya. Ciri-ciri pendidikan antara lain :

  1. Pendidikan mengandung tujuan yaitu kemampuan untuk berkembang sehingga bermanfaat untuk kepentingan hidup.
  2. Untuk mencapai tujuan itu pendidikan melakukan usaha terencana dalam memilih isi (materi), strategi, dan tekhnik penilaian yang sesuai.
  3. Kegiatan pendidikan dilakukan dalam lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat (formal dan non formal).

Hakikat kehidupan manusia diarahkan untuk pembentukan kepribadian manusia, yaitu manusia sebagai makhluk individu, makhluk sosial, susila, dan beragama (religius).

Ketika wakil presiden periode 2005-2009 Jusuf  Kalla mengintruksikan bahwa “untuk meningkatkan mutu pendidikan maka harus diadakan Ujian Nasional”. sekarang terbukti hasil dari implementasi  UN bukannya meningkatkan mutu pendidikan tetapi malah merusak pendidikan. terbukti dengan EBTANAS atau Ujian Nasional (UN) pun tidak meningkatkan mutu pendidikan. kenapa? dengan adanya UN/EBTANAS menekankan persaingan prestasi antar sekolah/almamater yang tidak menekankan peningkatkan kualitas pendidikan (semuanya semu). Semua berusaha menjadi no 1 untuk memperoleh prestasi hasil akhir UN di sekolah-sekolah walau ditempuh dengan jalan yang sebagian besar tidak bernilai positif. Pendidik, pengelola pendidikan, staf dan pengambil kebijakan pendidikan sampai peserta didik semua terlibat dalam pengrusakkan sistem pendidikan itu sendiri. Semua itu harus segera direkonstruksi jika memang harus sesuai yg diamanatkan di dalam UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa, yang semuanya berasal dari proses pendidikan. Negara harus segera mengambil keputusan semua penilaian diberikan sepenuhnya ke sekolah/ otonomi daerah dengan sesuai sistem dan sungguh-sungguh terimplementasi dalam meningkatkan mutu pendidikan dengan 100% menerapkan keprofesionalan guru, misalnya : guru mengajar harus sesuai dengan kualifikasi pendidikannya, mendidik dengan melatih etika dalam pembelajaran kejujuran (menghilangkan kebiasaan memberikan jawaban ketika Ujian terlebih atas kesepakatan bersama semua pendidik, kreatifitas guru yang mengarah dan aktif mengaktifkan peserta didik dan menghidupkan suasana, dan yang paling penting dilakukan evaluasi setiap selesai pembelajaran secara kontinyu  untuk mendapatkan standarisasi).

Ketidak profesionalan guru terjadi akibat adanya ketidak fahaman seorang pendidik dari arti hakikat pendidikan itu tersendiri bagaimana. Perlu pengarahan secara kompleks kepada pendidik serta kerjasama dari para pengambil kebijakan untuk menempatkan kualifikasi pendidikan dikompetensinya.

Kebijakan yang diambil harus berani diputuskan disesuaikan dengan kebutuhan pendidikan, melihat ketidak stabilan pendidikan yang terus menurun ditambah dengan banyaknya terjadi bencana besar di beberapa daerah, yang  mengakibatkan kualitas pendidikan harus dimulai dari awal. Karena bagaimanapun fasilitas adalah salah satu pendukung besar dalam peningkatan mutu pendidikan.

Rekontruksi pendidikan harus terus dilakukan, terutama peningkatan pemahaman dalam arti hakikat pendidikan itu sendiri sebagai awal pembelajaran dan konsep serta tekhnis pembelajaran wilayah ilmu pendidikan bercorak teori mendidik ke-Indonesiaan. Sehingga dalam penerapan pembelajaran kepada para peserta didik tepat, dan menghasilkan produk yang mampu bersaing baik dalam lingkungan antar peserta didik, maupun lingkungan antar para pendidik dan pengelola pendidikan serta persaingan antar para pengambil kebijakan khususnya pemerintah, yang dalam hal ini berefek kepada indeks prestasi Negara di Dunia.

Tidak mudah untuk merombak sistem pendidikan yang seperti lingkaran setan ini, dapat dipecahkan dengan cepat, semua butuh proses dan pertumbuhan. Yang bertanggung jawab atas pendidikan tentunya semua para pengambil kebijakan sebagai awal intruksi untuk menerapkan pendidikan yang  diharapkan dapat melahirkan para pendidik yang berkualitas secara intelektual dan spiritual, serta para pelaku pendidikan di lapangan.

HAKIKAT ILMU PENDIDIKAN

Pendidikan merupakan bagian penting dari kehidupan yang sekaligus membedakan manusia dengan mahluk hidup lainnya, dimana manusia bersikap dengan aturan-aturan tertentu dengan berbagai landasan, diantaranya landasan pendidikan yang mencakup:

1. Landasan Sejarah                                 6. Landasan Sosial Budaya

2. Landasan Filsafat                                  7. Landasan Psikologis

3. Landasan Hukum                                 8. Landasan Ekonomi

4. Landasan Sosiologis                            9. Landasan Ilmiah dan Tekhnologis

5. Landasan Kultural

1. Landasan Sejarah

a. Pendidikan Prakemerdekaan;

Pendidikan pada zaman penjajahan Belenda (prakemerdekaan) bersifat:

1.  Aristokratis

Pendidikan yang bersifat aristokratis yaitu pendidikan yang bersifat “SARA” dan struktur kelembagaan, dimana pada saat itu pendidikan di Indonesia hanya berdasarkan stratifikasi sosial yang pada saat itu hanya didominasi oleh komunitas-momunitas adat yang pada umumnya berada di pulau Jawa, Sumatra dan Bali).

2.  Dikotomis

Pendidikan yang bersifat dikotomis yaitu pendidikan yang sepenuhnya diatur oleh pemerintah kolonial Belanda tanpa memberikan hak sedikitpun pada pemerintahan yang berada di Indonesia (walau masih bersifat kerajaan/kesultanan) sehingga ada jedah (pembatas/pemisah) dalam perolehan proses pembelajaran antara anak dan keturunan kolonial Belanda, anak dan keturunan warga Indonesia yang bekerjasama dengan kolonial Belanda pada saat itu, dan warga indonesia secara umum yang terjajah.

3.  Tidak berkeadilan

Pendidikan yang bersifat tidak berkeadilan yaitu pendidikan yang hanya memihak pada golongan tertentu diantaranya golongan anak dan keturunan bangsawan atau anak dan keturunan yang orang tuanya bekerjasama dengan pihak kolonial Belanda pada saat itu sehingga warga secara umum tidak mengenyam bangku pendidikan.
Dari ketiga hal tersebut bertujuan agar rakyat Indonesia secara umum mengalami kebodahan, sehingga penjajah pemerintahan kolonial Belanda menjadi kekal di tanah jajahanya tanpa adanya perlawanan dari rakyat Indonesia.

Tokoh pendidikan pada saat prakemerdekaan yang pada saat itu memperjuangkan pendidikan, diantaranya;

a.  KH. Ahmad Dahlan yang mendirikan Organisasi Agama Islam yang kemudian berkembang menjadi Pendidikan Agama Islam yang kita kenal sekarang ini dengan nama Muhammadiah pada tahun 1912 di Yokyakarta yang bertujuan agar kaum muslim pada saat itu berahlak mulia, cakap, percaya diri sendiri dan berguna bagi masyarakat dan bangsa.

b.  Ki Hajar Dewantara yang mendirikan pendidikan yang bernama Taman Siswa 1922 di Yokyakarta, dengan sistem dan metode pendidikannya diringkas pada empat keemasan yaitu asas taman siswa, panca darma, adat istiadat, dan semboyan atau perlambangan.

  1. Mohamad Safei yang mendirikan pendidikan yang bernama sekolah Kayutanam, diberinama Kayutanam karena bangunan yang didirikannya di perkebunan Kayutanam pada tahun 1926 di daerah Sumatra Barat.[1]

b. Pendidikan Masa Revolusi

Pendidikan pada masa revolusi mulai disebarluaskan walau pada saat itu bangsa Indonesia belum merdeka sehingga penyebarannya belum merata oleh pemerintahan Republik Indonesia Serikat (RIS) walau belum sampai kepelosok yang sangat terpencil, dimana saat itu di bawah kekuasaan penjajah Jepang yang sesuai dengan semboyang 3A produk Jepang untuk mencari simpati waraga bangsa Indonesia yang salah satu misinya adalah pendidikan dan kesempatan ini sangat dimanfaatkan oleh pemerintahan RIS saat itu karena ternyata pendidikan sangat penting agar bangsa tidak tertinggal dan tidak terjajah. Sehingga pada saat itu telah terbentuknya BPUPKI (28 mei 1945) dan PPKI (22 agustus 1945) yang telah merumuskan dengan jelas tentang Kebudayaan Nasional di dalam Pendidikan Nasional, tentang;

1.  Pendidikan Nasional bersendikan kepada nilai-nilai agama dan kebudayaan bangsa menuju kepada keselamatan dan kebahagiaan.

2.  Kebudayaan bangsa tumbuh dan berkembang sebagai hasil usaha budi daya rakyat indonesia seluruhnya.

Hal ini tampak jelas termuat dalam UUD 45 baik dalam pembukaan dan batang tubuh.[2]

  1. c. Pendidikan Pasca kemerdekaan

Pendidikan pada masa pascakemerdekaan lebih disebarluaskan lagi keseluruh pelosok Indonesi yang bersifat:

1.  pendidikan mandiri yang lebih berkeadilan berdasarkan 2 prinsip, yaitu;

a)     Filsafat negara RI yang terkandung dalam pancasila

b)     Kebudayaan kebangsaan indonesia

2.  Perluasan dan pemerataan pendidikan secara kuantitatif

3.  Praktek pendidikan di sekolah dan luar sekolah

2. Landasan Filasafat

Filsafat pendidikan adalah hasil pemikiran dan perenungan secara mendalam sampai keakar-akarnya mengenai pendidikan, sehingga dari hasil perenungan tersebut terdapat beberapa aliran filsafat, diantaranya;

1.  Aliran esensialis yaitu aliran yang bertitik tolok dari kebenaran yang telah terbukti berabad-abad lamanya (kebudayaan). Sedangkan kebenaran yang lain yang belum terbukti dalam jangka waktu yang lama itu hanyalah kebenaran yang kebelulan saja. Penekanan pendidikannya adalah pembentukan logika dan intelektual.

2.  Aliran parenialis yaitu aliran yang menganut kebenaran ada pada wahyu tuhan, aliran parenialis dianut oleh Agustinus dan Thomas Aquino.

3.  Aliran progresivis yaitu aliran yang menganut hal-hal yang tidak pasti karen mengalami jiwa yang selalu perubahan, relativitas, kebebasan, dinamika, ilmiah dan perbuatan nyata (tujuan dan kebenaran itu bersifat relatif). Aliran progresivis dianut oleh John Dewey.

4.  Aliran rekonstruksionis yaitu aliran variasi dari progresivis yang menginginkan kondisi manusia pada umumnya harus diperbaiki dan mengkantruksi kembali). Aliran rekontruksionis dianut oleh Callahan.

5.  Aliran eksistensialis yaitu aliran yang menganut kenyataan atau kebenaran adalah eksistensi atau adanya individu manusia itu sendiri, manusia memiliki kebebasan yang menentukan keputusan dan komitmennya sendiri.[3]

3. Landasan Hukum

Landasan hukum pendidikan di Indonesia antara lain:

1. tertera pada UUD 1945 sebagai landasan hukum tertinggi di negara Indonesia yaitu pada;

a.  Pasal 31 ayat 1 berbunyi Tiap-tiap warga negara berhak mendapatkan pengajaran, dan ayat 2 berbunyi Pemerintah   mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pengajaran.

b.  Pasal 32 berbunyi Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia yang diatur dengan undang-undang.

2.  UU RI No 2 th 1989 tentang pendidikan nasional, yaitu;

a. Pasal 1 ayat 2 berbunyi Pendidikan nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan nasional yang berdasarkan pada Pancasila & UUD 1945, dan pasal 1 ayat 7 berbunyi Tenaga pendidik adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dalam penyelenggaraan pendidikan.

b.  Pasal 27 ayat 2 berbunyi tentang tenaga kependidikan mencakup tenaga pendidik, pengelola/kepala lembaga pendidikan, penilik/pengawas, peneliti, dan pengembangan pendidikan, pustakawan, laboran, dan teknisi sumber belajar, dimana oleh Yusuf Hadi Miarsodibuat dalam bentuk spektrum seperti di bawah.

  1. 4. Landasan Sosial Budaya

Manusia sebagai mahluk sosial yaitu manusia tidak dapat hidup tanpa ada hubungan antar individu, antar masyarakat, dan individu secara alami yang dibawah sejak manusia itu terlahir dimuka bumi. Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari hubungan antara manusia dalam kelompok dan struktur sosialnya.

Menurut Imran Manan, 1989 dan Hasan, 1983 dalam www.Wikipedia.Com menyatakan bahwa kebudayaan berisikan norma, kebiasaan, adaptasi, dan tradisi. Lebih lanjut Imran Manan, 1989 membagi menjadi 5 komponen kebudayaan yaitu: 1) gagasan; 2) ideologi; 3) norma; 4) teknologi; 5) benda dan menambahkan beberapa komponen diantaranya; 1) kesenian; 2) ilmu; dan 3) kepandaian.

Lebih lanjut beliau membagi kebudayaaan yang dapat dikelompokkan menjadi:

  1. Kebudayaan umum yaitu kebudayaan Indonesia itu sendiri

2.  Kebudayaan daerah yaitu kebudayaan yang berada di daerah-daerah seperti kebudayaan Buton, Raha, Sunda, Jawa, dll.

3.  Kebudayaan popular yaitu kebudayaan yang masa berlakunya rata-rata lebih pendek dari kedua kebudayaan di atas.

5. Landasan Psikologi

Psikologi atau ilmu jiwa adalah ilmu yang mempelajari jiwa manusia yang dapat dipengaruhi oleh alam sekitar, karena itu jiwa dapat dikatakan inti dan kendali kehidupan manusia yang melekat pada diri manusia itu sendiri. Secara garis besar psikologi dapat dibedakan menjadi:

a.  Psikologi Perkembangan, oleh Nana Syaodih (1988) dalam Indah Permanasari membagi 3, yaitu:

1.  Pendekatan pentahapan yaitu perkembangan individu yang berjalan melalui dengan tahap-tahap tertentu. Dalam proses pendidikan haruslah melalui jenjang tahapan-tahapan baik dalam proses pembelajaran ataupun dalam sistem pendidikan itu sendiri.

2.  Pendekatan diferensial yaitu pendekatan yang memandang setiap individu memiliki persamaan dan perbedaan yang dapat dijadikan dasar pengelompokan dengan menggabungkan perpedaan dan persamaan tersebut sehingga terjadi kelompok yang heterogen.

3.  Pendekatan ipsatif yaitu pendekatan yang melihat karateristik yang dimiliki oleh individu atau pendekatan individual.

Lebih lanjut Stanley Hall dalam Indah Permanasari sebagai penganut teori Evolusi & Rekapitulasi membagi masa perkembangan anak menjadi:

a.  Masa kanak-kanak yang berumur 0 – 4 tahun memiliki sifat segala sesuatu yang ada disekitarnya adalah kepunyaannya, pada usia 0 – 1 tahun selalu mengungkapkan perasaannya dengan cara menangis yang dapat disebabkan ia lapar, ia mengeluarkan kotoran dan atau ada benda asing.

b.  Masa anak yang berumur 4 – 8 tahun memiliki sifat ingin tahu yang tinggi, sehingga anak pada usia tersebut sering mengeluarkan pertanyaan. Sebagai orang tua (guru) seharusnya memberikan jawaban yang benar dan masuk akal anak tersebut karena hal tersebut merupakan awal perkembangan otak anat tersebut.

  1. Masa  muda yang berumur 8 -12 tahun memiliki sifat cenderung berbuat salah dan selalu memcari perhatian pada orang yang lebih dewasa atas apa yang diperbuatnya, maka sikap aorang yang lebih dewasa (orang tua/guru) memperhatikan dan memberikan petunjuk yang seharusnya diperbuatnya).

d.  Masa adolesen yang berumur 12 -18 tahun memiliki sifat ingin mencari perhatian dari lawan jenis dengan berbuat sesuatu tanpa membedakan itu baik atau buruk, karena pada usia tersebut seorang anak merupakan awal mendapatkan tanda-tanda kedewasaan dengan adanya mimpi basah pada laki-laki (13 tahun) dan menstruasi (12 tahun).

e.  Masa dewasa yang berumur 18 keatas memiliki sifat ingin mencari pasangan hidup dan berpikir untuk membahagiakan pasangannya dengan mencari pekerjaan dan sebagainya.

b. Psikologi belajar

Belajar adalah proses dalam memperoleh berbagai kecakapan, keterampilan dan sikap seseorang yang belum mengetahui menjadi mengetahuinya. Ketika subyek belajar, responya meningkat dan bila terjadi hal sebaliknya (unlearning) angka responya menurun. Karena itu belajar didefinisikan sebagai suatu perubahan dalam kemungkinan atau peluang terjadinya respon. Skinner dalam Gredler (1994).

Teori Vygotsky tentang belajar adalah memberikan sejumlah besar bantuan kepada seorang anak selama tahap-tahap awal pembelajaran sehingga anak tersebut mengambil alih tanggung jawab yang semakin besar setelah ia dapat melakukannya. Bantuan tersebut dapat berupa petunjuk, peringatan, dorongan, menguraikan masalah ke dalam langkah-langkah pemecahan, memberikan contoh, atau segala sesuatu yang memungkinkan siswa tumbuh mandiri (Slavin dalam Sudibyo, 2003). Teori belajar memberikan gambaran tentang aktivitas fisik dan mental yang dapat mempengaruhi tingkah laku dan membawa seseorang pada kondisi berperilaku positif atau negatif.

Belajar adalah perubahan perilaku yang relatif permanent sebagai hasil pengalaman (bukan hasil perkembangan, pengaruh obat/kecelakaan) dan mampu mengkomunikasikannya dgn orang lain.

Menurut Gagne (1979) yang membagi belajar atas beberapa prinsip:

1.  Kontiguitas, yaitu dengan memberikan situasi/materi yang mirip degan harapan anak secara berturut-turut (beberapa kali)

2.  Pengulangan, yaitu situasi dan respon anak yang diulang-ulang dan dipraktekkan agar belajar lebih sempurna serta pemahaman anak lebih lama diingat.

3.  Penguatan, yaitu memberikan sesuatu (hadiah) atas hasil yang diperoleh anak untuk mempertahankan atau membuat respon itu.

4.  Motivasi positif, yaitu menimbulkan rasa percaya diri siswa dalam proses belajar.

5.  Tersedia materi yang lengkap, yaitu untuk memancing aktivitas anak sehingga anak lebih bergairah dalam proses belajar dan guru tidak mengalami kekurangan bahan ajar.

6.  Ada upaya membangkitkan keterampilan intelektual anak untuk belajar, yaitu agar peserta didik (siswa) anak merasa lebih mengalami segala sesuatu yang diperoleh dalam proses pembelajaran.

7.  Ada strategi yang tepat untuk mengaktifkan anak dalam belajar, yaitu guru dapat menggunakan penggabungan metode dan strategi apa saja yang ada dalam proses pembelajarar dengan satu tujuan agar siswa dapat memahami segala sesuatunya yang disampaikan.

8.  Kejiawaan anak harus dapat dipengaruhi oleh faktor-faktor dalam belajar, agar anak memperhatikan segala sesutu yang disampaikan oleh guru pada saat proses belajar.

Dari kedelapan prinsip belajar menurut Gagne (1979) bertujuan agar siswa (peserta didik) dapat memahami dalam jangka waktu yang lama segala sesuatu yang disampaikan pada saat itu. Mengalami adalah salah satu ciri kegiatan belajar, kegiatan belajar-mengajar perlu menyediakan pengalaman yang nyata dalam kehidupan sehari-hari atau sesuatu yang terkait dengan penerapan konsep, kaidah, dan prinsip ilmu yang dipelajari. Dengan demikian semua siswa diharapkan memiliki pengalaman langsung melalui semua panca indra (melihat, mendengar, meraba/merasakan, mencicipi/menikmati, dan mencium/membau) yang memungkinkan meraka dapat memperoleh informasi sebanyak mungkin.

Lebih lanjut Dimyati dan Mudjiono menggambarkan hakikat pendidikan yang ingin dicapai oleh bangsa Indonesia

1.  Guru sebagai pendidik melakukan rekayasa pembelajaran berdasarkan kurikulum yang berlaku,

2.  Siswa sebagai peserta didik di sekolah yang memiliki kepribadian, pengalaman, dan tujuan dimana ia akan mengalami perembangan jiwa sesuai asas emansipasi diri menuju keutuhan dan kemandirian,

3.  Guru menyususn desain intruksional untuk membelajarkan siswa,

4.  Guru menyelenggarakan kegiatan belajar mengajar,

5.  Guru bertindak mengajar di kelas dengan maksud membelajarkan siswa dimana guru menggunakan asas mendidik maupun teori belajar,

6.  Siswa bertindak belajar (mengalami proses dan meningkatkan kemampuan menthalnya),

7.  Dengan berakhirnya suatu proses belajar, maka siswa memperoleh suatu hasil belajar. Hasil belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak mengajar. Dari sisi guru, tidak mengajar diakhiri dengan proses evaluasi. Dari sisi siswa hasil belajar merupakan berakhirnya pengajaran dan puncak proses belajar.

6. Landasan Ekonomi

Dana pendidikan di Indonesia sangat terbatas sehingga lembaga pendidikan berkewajiban untuk memperbayak sumber dana tersebut yang dapat digali dari berbagai sumber, seperti;

1.  Dana dari pemerintah yang dapat diperoleh dalam bentuk proyek pembangunan, proyek penelitian, pertandingan karya ilmiah anak dan perlombaan-perlombaan lainnya,

2.  Dana dari hasil kerjasama degan instansi lain seperti instansi pemerintah, swasta, dan dunia usaha. Kerjasama ini bisa dalam bentuk proyek penelitian, proyek pengembangan bersama, dan proyek pengabdian masyarakat,

3.  Dana dari hasil membentuk pajak pendidikan yang dapat dirancang lewat kerjasama antar lembaga pendidikan, pemerintah setempat, dan masyarakat sehingga yang membayar pajak pendidikan bukan hanya orang tua yang anaknya bersekolah di sekolah tersebut, tetapi pajak tersebut dibayar oleh semua warga yang ada di daerah tersebut.

4.  Dana yang diperoleh dari usaha-usaha lainnya, seperti;

a)  Mengadakan seni pentas di masyarakat,

b)  Menjual hasil karya nyata anak,

c)  Membuat bazar,

d)  Mendirikan toko keperluan personalia pendidik dan anak,

e)  Mencari donatur tetap,

f)   Mengumpulkan sumbangan, mengaktifkan BP 3,

Menurut jenisnya pembiayaan pendidikan dijadikan 3 kelompok, yaitu;

1.  Dana rutin, ialah dana yang dipakai membiayai kegiatan rutin seperti penelitian, pendidikan, gaji, pengabdian masyarakat, biaya pemeliharaan bangunan dll,

2.  Dana pembangunan, ialah dana yang dipakai untuk pembangunan yang belum ada dalam berbagai bidang seperti pengadaan sarana dan prasarana, pengadaan alat belajar, media, dll,

3.  Dana bantuan masyarakat termasuk SPP, untuk membiayai hal-hal yang tidak dianggarkan pada dana point 1 dan point 2 atau untuk memperbesar dana pada point 1 dan point 2,

4.  Dana usaha lembaga sendiri, yang penggunaannya sama dengan
point 3.

  1. 7. Landasan Sosiologis

Manusia selalu hidup berkelompok, sesuatu yang terdapat pada makhluk hidup lainnya, yaitu hewan dimana ada pembagian kerja yang tetap pada anggotanya, ada ketergantungan antar anggota, ada kerjasama antar anggota, komunikasi, diskriminasi antar individu.

Sosiologis lahir pada abad ke-19 di Eropa, karea pergeseran pandangan tentang masyarakat, sebagai ilmu empiris yang memperoleh pijakan yang kukuh. Sosiologis sebagai ilmu yang otonom dapat lahir karena dapat terlepas dari pengaruh filsafat. Nama sosiologi pertama digunakan oleh August Comte (1798-11857) tahun 1839. Sosiologi merpakan ilmu pengetahun positif yang mempelajari masyarakat. Perilaku tersebut dapat dicontohkan dalam lingkungan sekolah diantaranya :

Hubungan kemanusiaan di lingkungan sekolah yang meliputi :

a. Sifat kebudayaan sekolah khususnya yang berbeda dengan kebudayaan di luar sekolah

b.    Pola interaksi sosial/ struktur masyarakat sekolah.

Pengaruh sekolah pada perilaku anggotanya, yang dipelajari :

  1. Peranan setiap guru
  2. Sifat kepribadian guru
  3. Pengaruh kepribadian guru terhadap tingkah laku siswa
  4. Fungsi sekolah dalam sosialisasi anak-anak

Masyarakat Indonesia sebagai landasan sosiologis SISDIKNAS yaitu :

  1. Ada interaksi antara warga-warganya
  2. Pola tingkah laku warganya diatur oleh adat istiadat, norma-norma hukum, dan aturan-aturan yang khas
  3. Ada rasa identitas kuat yang mengikat pada warganya, kesatuan wilayah, adat istiadat, rasa identitas, dan loyalitas terhadap kelompoknya, yang merupakan pangkal dari perasan bangga sebagai patriotisme, nasionalisme, jiwa korps, dan kesetiakawanan sosial dll. (Wayan Ardhana, 1986 : Modul 1/68).
  1. 8. Landasan Kultural

Yaitu merupakan hal mengenai ide, gagasan, nilai dsb (ideal), kelakuan berpola dari manusia dalam masyarakat, dan cara-cara mewariskan kebudayaan : terjadi dalam keluarga (in formal), melibatkan lembaga (formal), dalam masyarakat yang berkelanjutan dan berlangsung dalam kehidupan sehari-hari (non formal).

  1. 9. Landasan Ilmiah dan Tekhnologis

Pengetahuan adalah segala sesuatu yang diperoleh melalui berbagai cara penginderaan terhadap fakta, penalaran (rasio), intuisi dan wahyu.

Ilmu pengetahuan (science) yang memenuhi criteria ontologism, epistemologis dan aksiologis secara konsekuen dan penuh disiplin yaitu ilmu pengembangan dan pemanfaatan IPTEK. Pada umumnya ditempuh rangkaian kegiatan diantaranya :penelitian dasar, terapan, pengembangan tekhnologi, biasanya diikuti pula dengan evaluasi ethis-politis-religius. Apakah langkah tersebut dapat diterima oleh masyarakat dan apakah dampaknya tidak bertentangan dengan nilai-nilai luhur dari masyarakat.

  1. B. REORIANTASI ILMU PENDIDIKAN

Di Negara maju pemahaman dan penghayatan tentang tujuan dan hakekat pendidikan dalam arti filosofis, peranan ilmu pendidikan secara teoritis masih kurang sekitar abad 18 sampai 19 karena kebijakan Negara memfasilitasi dengan ilmu praktis. Karena tokoh-tokoh pendidikan di Negara maju adalah pejuang moral social. Namun pada masa kontemporer lambat laun pendidikan teoretis mulai berperan, semenjak masyarakat maju mulai merasa nyaman dengan ilmu pendidikan teoretis, teori ekonomi, maupun teori pendidikan sesuai dengan majunya pendidikan utamanya sesudah fase defresi ekonomi 1929/1930.

DI Indonesia, tak sempat mengembangkan ilmu pendidikan teoretis, melainkan juga landasan kefilsafatan pendidikan sebagai teori pendidikan (ISPI, 1989), sehingga pendidikan dalam bentuk mikro dan makro yang yang berkembang secara rasional saja terutama dengan dukungan ilmu-ilmu pendidikan praktis dan empirik. Sehingga dari penerapan pendidikan yang lebih cenderung kepada pendidikan praktis dan empirik, hanya akan terlahir sebuah gagasan baru untuk pengembangan pengetahuan metodologis. Sementara pendidikan untuk pengembangan teoritisnya tidak diperhatikan.

Melihat kondisi pendidikan sekarang yang mengalami dekonstruksi, perlu perhatian penuh dari para pengambil kebijakan dan yang terlibat secara komprehensif di dalamnya. Dekonstruksi pendidikan tersebut tidak mudah untuk dipulihkan stabil, membutuhkan kerjasama dari semua pihak, artinya dalam dunia pendidikan harus ada penyeimbang dalam penerapannya, khususnya kepada peserta didik sebagai objek terlaksananya pendidikan. manusia mempunyai otak kiri dan kanan sebagai penyeimbang, begitupun pendidikan harus ada penyeimbang dalam pelaksanaannya.

Pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang diantara penerapan konsep teoritis dan praktisnya mempunyai keseimbangan dalam pembagaian dari pada ilmu pendidikan. Seperti yang dikatakan oleh Ali Syaifullah, H.A. dalam bagan Sistematika Pembagian daripada ilmu:

Dari bagan tersebut menerangkan bahwa terdapat dua hubungan timbal balik dalam fenomena pendidikan yaitu pendidikan pengembangan praktis dan pengembangan pendidikan teoritis.

  1. C. Wilayah Ilmu Pendidikan Bercorak Teori Mendidikan ke-Indonesiaan.

Khusus untuk pendidikan di Indonesia, terdapat sejumlah asas yang yang member arah dalam merancang dan melaksanakan pendidikan itu. Asas-asas tersebut bersumber, baik dari kecnderungan umum pendidikan di dunia maupun yang bersumber dari pemikiran dan pengalaman sepanjang sejarah upaya pendidikan di Indonesia. Ke-3 asas tersebut dipandang sangat relevan dengan upaya pendidikan, baik masa kini maupun masa depan. Oleh karena itu setiap tenaga kependidikan harus memahami dengan tepat ke-3 asas tersebut agar dapat menerapkannya dengan semestinya dalam penyelenggaraaan pendidikan sekolah.

Asas asas tersebut yaitu :

  1. 1. Tutwuri Handayani

Asas ini menjadi semboyanDEPDIKBUD, yang pada awalnya merupakan salah satu dari : Asas 1922 yakni 7 buah asas dari perguruan nasional Taman Siswa (didirikan tanggal 3 Juli 1992). Sebagai asas pertama, tutwuri handayani merupakan dari system Among dari perguruan tinggi itu. Asas ataupun semboyan tutwuri handayani oleh Kihajar Dewantara itu mendapat tanggapan positif dari Drs. R.M. P Sostrokartino (Filsuf dan Ahli Bahasa) dengan menambahkan 2 semboyan untuk mlengkapinya, yaitu :

  1. a. Ingarso Sungtulodo (jika di depan member contoh) dan,
  2. Ingmadya Mangun Karso (jika di tengah-tengah membangkitkan kehendak, hasrat/motivasi. (Tirtarahardja :hal 27/2005)

Dan tutwuri handayani (jika di belakang, mengikuti dengan awas).

Ketujuh asas tahun 1922 tersebut itu yaitu :

  1. Bahwa setiap orang mempunyai hak untuk mengatur dirinya sendiri dengan mengingat tertibnya persatuan dalam perikehidupan umum
  2. Bahwa pengajaran harus memberi pengetahuan yang berfaedah, yang dalam arti lahir dan batin dapat memerdekakan diri
  3. Bahwa pengajaran harus berdasar pada kebudayaan dan kebangsaan sendiri
  4. Bahwa pengajaran harus tersebar luas sampai dapat menjangkau kepada seluruh rakyat
  5. Bahwa untuk mengejar kemerdekaan hidup yang sepenuh-penuhnya lahir dan batin hendaklah diusahakan dengan kekuatan sendiri dan menolak bantuan apapun dan dari siapapun yang mengikat baik berupa ikatan lahir maupun batin
  6. Bahwa sebagai konsekuensi hidup dengan kekuatan sendiri mutlak harus membelanjai sendiri segala usaha yang dilakukan
  7. Bahwa dalam mendidik anak-anak perlu, baik adanya alasan lahir ataupun batin unuk mengembangkan segla kepentingan kebahgiaan dan keselamatan anak-anak.
  8. 2. Asas Belajar Sepanjang Hayat (life long learning)

UNESCO Institute for Education (UIE Hamburg) pendidikan seumur hidup adalah harus:

  1. Meliputi seluruh hidup setiap individu
  2. Mengarah kepada pembentukan, pembaharuan, peningkatan dan penyempurnaan secara sistematis pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dapat meningkatkan kondisi hidupnya
  3. Tujuan akhirnya adalah mengembangkan penyadaran diri (self fulfillment) setiap individu
  4. Meningkatkan kemampuan dan motivasi untuk belajar mandiri
  5. Mengalami kontribusi dari semua pengaruh pendidikan yang mungkin terjadi.
  1. 3. Asas Kemandirian dalam Belajar

Asas belajar sepanjang hayat erat kaitannya dengan asas kemandirian dalam belajar. Asas tutwuri handayani pada prinsipnya bertolak dariaasumsi kemampuan siswa untuk mandiri. Dalam kegiatan belajar mengajar (KBM) sendiri mungkin dikembangkan kemandirian dalam belajar itu dengan menghindari campur tangan guru, namun guru selalu siap untuk ulur tangan apabila diperlukan. Asas belajar sepanjang hayat hanya dapat diwujudkan apabila didasarkan pada asumsi bahwa peserta didik mau dan mampu mandiri dalam belajar, karena adalah tidak mungkin seseorang belajar sepanjang hayat apabila selalau tergantung dari bantuan guru dan orang lain.

Perwujudan asas kemandirian dalam belajarakan menempatkan guru dalam peran utama sebagai fasilitator (sumbe belajar) dan motivator (mengupayakan timbulnya prakarsa peserta didik untuk memanfaatkan sumber belajar itu), di samping peran-peran sebagai informatory, organisator, dsb.

Hal tersebut harus dikembangkan di intrakurikuler, kokurikuler dan ekstrakurikuler atau latar perguruan tinggi. Dimulai tatap muka dimanfaatkan dalam kegiatan terstruktur dan kegiatan mandiri.

Kegiatan intrakurikuler, membentuk konsep-konsep dasar dan cara-cara pemanfaatan berbagai sumber belajar yang akan menjadi dasar pengembangan kemandirian belajar di dalam bentuk-bentuk kegiatan terstruktur dan mandiri. Kegiatan kokurikuler dan ekstrakurikuler.

Adapun ciri-ciri yang diisyaratkan oleh spektrum ke-Indonesiaan program studi dan jurusan antar fakultas yang berkembang dalam lingkungan UPI dan mengingat kepedulian lintas bidang dari kalangan non spesialis, selain bersifat sistematis, krisis, metodologis serta komprehenshif. (UNJ, 2009)

  1. 1. Beraspirasi Otonomi

Ilmu pendidikan yang berayun antara mandiri dan perlu bantuan hasil ilmu lain yang lebih maju mengenali karakteristik perilaku manusia, bukan proses perkembangan individual sewajarnya ataupun terwujudnya proses sosialisasi, melainkan ialah kematangan dan kemandirian dalam relasi dengan sesama diri sendiri dan lingkungan di alam itu sendiri.

  1. Komprehensif, secara menyeluruh dalam proses pendidikan dari intelektual sampai kepada pendidikan spiritual
  2. Kritis, tidak begitu saja menerima ilmu yang disampaikan
  3. Metodologis, proses pendidikan secara sistematis dan logis
  4. Sistematis, proses pendidikan secara teratur, mengandur makna dan tujuan tertentu
  5. Dasar Kefilsafatan, proses pemanusiaan manusia muda pendidikan berpendirian sendiri sekurangnya secara minimum tentang hakekat manusia sebagai makhluk pendidikan.

gender

Picture 017

Pemilihan kerja secara seksual (sosiologis tentang peran wanita di dalam masyarakat).
Teori Nature dan Teori Nurture

Secara badaniah, wanita berbeda dengan laki-laki. Alat kelamin wanita berbeda dengan alat kelamin laki-laki. wanita punya buah dada yang lebih besar. Suara wanita lebih halus, wanita melahirkan anak dan sebagainya. kata orang, wanita juga berbeda secara psikologis, laki-laki lebih rasional, lebih aktif, lebih agresif. wanita sebaliknya : lebih emosional, lebih pasif, lebih submisif.

karena itu, banyak orang percaya bahwa wanita sudah sewajarnya hidup di lingkungan rumah tangga. tugas ini adalah tugas yang diberikan alam kepada mereka: melahirkan dan membesarkan anak-anak di dalam lingkungan rumah tangga, serta memasak memberikan perhatian kepada suaminya, supaya rumah tangga yang tenteram dan sejahtera dapat diciptakan. laki-laki punya tugas lain, yakni pergi ke luar rumah untuk  mencarai makan untuk keluarganya, baik berburu (zaman dulu) atau bekerja untuk mendapatkan gaji (zaman sekarang). inilah pembagian kerja yang didasarkan atas perbedaan seks, yang diatur oleh alam (demikian kata orang) untuk menciptakan kehidupan masyarakat manusia yang beradab. pembagian kerja secara seksual ini sudah berlangsung ribuan tahun. karena itu orang cenderung menganggapnya sebagai sesuatu yang alamiah. banyak diantara kita tidak bertanya lagi apakah pembagian kerja seperti itu adil, dan siapa yang diuntungkan dalam pembagian kerja seperti ini. kita (termasuk kaum wanita sendiri) cenderung beranggapan bahwa perbedaan peran yang diberikan kepada wanita dan laki-laki sama nilainya: keduanya adalah peran yang luhur dan karena itu patut dipertahankan.

pada saat ini, terutama di negara-negara Barat yang ekonominya sudah maju, pembagian kerja seksual tidak lagi diterima begitu saja oleh terutama kaum wanitanya. mereka merasa bahwa pembagian kerja seperti itu, wanita di rumah tangga dan laki-laki di luar rumah, hanya menguntungkan laki-laki saja. pembagian kerja yang menempatkan wanita di rumah tangga untuk memasak dan mengurus anak membuat wanita tidak berkembang sebagi manusia. mereka menjadi kerdil seumur hidupnya karena dunianya yang serba terbatas. Sementara laki-laki yang berkecimpung dengan kehidupan di luar rumah dapat mengembangkan dirinya secara optimal.

memang secara badaniah laki-laki berbeda dengan wanita. persoalan timbul kalau kita bicara tentang perbedaan psikologis ini sesuatu yang alamiah juga? atau perbedaan ini hanyalah sekedar peran yang dimainkan baik oleh laki-laki maupun wanita. kalau perbedaan ini hanya sekedar peran, timbul pertanyaan mengapa wanita sebagai pihak yang dirugikan, mau memerankan peran tersebut begitu lama, sampai beribu-ribu tahun? faktor-faktor apa yang mendasari gejala ini?

perbedaan tentang perdebatan psikologis antara laki-laki dan wanita pada dasarnya berputar di sekitar 2 teori besar: teori nature dan teori nurture. pengikut teori nature yang ekstrem beranggapan bahwa perbedaan psikologis antara laki-laki dan wanita disebabkan oleh faktor-faktor biologis kedua insan ini. pengikut teori nurture beranggapan bahwa  perbedaan ini tercipta melalui proses belajar dari lingkungan. diantara kedua teori yang ekstrem ini, tentu saja ada teori-teori yang mencoba menjelaskan bahwa perbedaan ini disebabkan oleh semacam interaksi antara faktor-faktor biologis dan faktor-faktor sosio kultural. (Skolnik dan Skolnik, 1974:131).

hubungan antara faktor-faktor biologis dan sosio kultural dalam proses pembentukan perbedaan seksual antara laki-laki dan wanita yang telah mengakibatkan pembagian kerja secara seksual serta perubahan-perubanhannya yang terjadi sepanjang sejarah.

kita semua tahu, kalau kita (terutama kaum laki-laki) mau berpikir secara jernih dan ksatria, peran yang didapatkan oleh kaum wanita dalam pembagian kerja secara seksual ini merupakan peran yang lebih menyenangkan daripada peran yang diberikan kepada laki-laki. ini tentu saja tidak berarti bahwa peran yang diberikan kepada kaum laki-laki dapat dikatakan lebih menyenangkan, karena lebih memberikan kemungkinan bagi laki-laki untuk mengembangkan dirinya.

dalam masyarakat masa kini seperti halnya masyarakat Indonesia, kehidupan wanita berputar di sekitar kehidupan rumah tangga. tujuan wanita seakan-akan hanyalah untuk menikah, hampir seluruh kehidupan wanita dilewatkan di dalam rumah tangga.

dalam keadaan seperti ini, wanita jadi tergantung kepada laki-laki secara ekonomis, karena pekerjaan yang dilakukan di rumah tangga tidak menghasilkan gaji. ditambah lagi, wanita seakan-akan dipenjarakan di suatu dunia yang tidak merangsang perkembangan kepribadiannya. mereka mengerjakan pekerjaan yang itu-itu juga setiap hari, diulang jutaan kali. teman-temanya serba terbatas, dan hidupn Fya kebanyakan dilewati bersama anak-anaknya.

Betty Friedan, seorang tokoh gerakan feminis Amerika secara dramatis melukiskan keadaan ini “Seorang wanita akan berkata, ‘saya merasa kosong…merasa tidak lengkap…” Kadang-kadang (si wanita melanjutkan) dia mengelu kepada seorang dokter tentang gejala-gejala perasaan yang tidak bisa dia gambarkan dengan baik, “Saya merasa lelah…saya jadi cepat marah kepada anak-anak saya, dan ini membuat saya khawatir…saya seperti mau menangis tanpa tahu apa sebabnya”. (Friedan, 1974:20)

karena masyarakat beranggapan bahwa wanita seharusnya bahagia menjadi “Ratu” (sic) rumah tangga (bukankah ini sesuai dengan kodratnya?) seorang psikiater (yang biasanya seorang laki-laki) berkata, “saya tidak tahu apa yang salah pada wanita jaman sekarang…saya hanya tahu ada ada sesuatu yang salah pada mereka, karena banyak wanita yang menjadi pasien saya. sesudah saya periksa, persoalan mereka bukanlah persoalan ketidakbahagiaan seksual”. persoalan yang dihadapi wanita dalam dunia yang dikuasai laki-laki adalah persoalan yang belum punya nama.

maka kita dihadapkan pada kenyataan bahwa tidak semua wanita bahagia hidup dalam lingkungan rumah tangga, ini berarti, hidup dalam ingkungan rumah tangga bagi wanita belum tentu merupakan kodrat alamiah wanita. sebab, kalau tidak, tentunya wanita akan bahagia menunaikan tugas yang diberikan oleh kodrat mereka.

kalau wanita tidak dikodratkan sebagai “wanita” dalam bentuk yang sudah dikenal umat  manusia sampai saat ini, maka kita juga meragukan apakah sifat-sifat manusia yang lebih emosional, atau lebih pasif, atau lebih submusif merupakan sesuatu yang alamiah juga? keraguan ini timbul belum begitu lama dalam sejarah umat manusia. salah satu buku yang terkenal yang membicarakan keraguan ini ditulis oleh ahli filsafat Inggris John Stuart Mill pada tahun 1869. dalam esai yang berjudul The Subjection of Women, dia berkata bahwa apa yang disebut sebagai sifat kewanitaan adalah hasil pemupukan masyarakat melalui suatu sistem pendidikan, dia percaya bahwa usaha untuk membagi manusiamenjadi 2 golongan, laki-laki dan wanita, dan usaha untuk membedakan kedua golongan manusia ini dalam peranan sosial mereka merupakan suatu tindakan politik yang direncanakan. golongan yang lebih kuat, yakni kaum laki-laki, selalu melihat keunggulannya sebagai sesuatu yang alamiah.

Mill melanjutkan bahwa nasib wanita dalam pembagian kerja secara seksual ini lebih buruk dari budak. budak hanya diharapkan dapat memberi perlayanan kepada majikannya saja. tapi wanita tidak hanya diharapkan memberi perlayanan kepada majikannya saja. tapi wanita tidak hanya diharapkan memberi perlayanan kepada laki-laki secara badaniah saja, tapi juga mereka harus memberikan perasaan cinta mereka yang terdalam. lakilaki tidak hanya menginginkan wanita sebagai “budak yang terpaksa, melainkan budak yang sukarela; bukan hanya budak biasa, tapi budak yang terbaik. laki-laki menginginkan wanita menjadi budak yang mencintai majikannya dengan segenap hatinya. karena itu laki-laki mengerahkan segenap kekuatan-kekuatan pendidikan untuk mencapai tujuan ini. “semua wanita sejak mula-mula dibesarkan dengan kepercayaan bahwa sifat-sifat yang bertentangan dengan laki-laki: wanita tidak boleh memiliki keinginan sendiri, wanita harus mengendalikan dirinya, mereka harus menjadi seorang yang penurut dan sudi dikendalikan oleh orang lain. mereka selalu diajarkan bahwa kewajiban dan hakekat merreka adalah untuk menyerahkan kehidupan mereka untuk orang lain: untuk menyangkal dari mereka sendiri, dan untuk tidak memiliki hidup mereka sendiri. wanita hanya boleh punya perasaan”. (Mill, 1971:141) kodrat wanita adalah hasil buatan_hasil dari kombinasi tekanan dan paksaan di satu pihak, dan rangsangan yang tidak wajar dan menyesatkan di lain pihak.

teori Nurture untuk membantah teori Nature tentu saja mendapat sambutan dari kaum wanita. tapi teori nature tentu saja tidak mau menyerah begitu saja. kebangkitan kembali dari teori Nature terjadi belum lama, yakni dengan munculnya teori sosio-biologis dari Wilson. pembagian kerja secara seksual adalah sesuatu yang wajar, bersumber pada perbedaan struktur genetis dari laki-laki dan wanita. karena itu pembagian kerja ini bisa terus hidup sampai sekarang. teori ini beranggapan bahwa sudah menjadi kodrat wanita untuk menjadi lebih lemah dan karena itu tergantung kepada laki-laki dalam banyak hal untuk hidupnya.

Teori nature sudah ada sejak zaman permulaan lahirnya filsafat di dunia Barat. Aristoteles misalnya beranggapan bahwa wanita adalah laki-laki yang tidak lengkap. wanita kurang bisa mengerami atau memasak, darah yang dikeluarkan pada masa haidnya ke taraf yang lebih sempurna menjadi air mani. karena itu, wanita tidak bisa menyumbangkan air mani dalam proses pembentukan janin manusia_wanita hanya menyumbangkan selongsongnya saja, dan kemudian memberi janin itu makanan untuk tumbuh. tapi benih dari janin itu harus datang dari laki-laki.

menurut Aristoteles adalah wajar bahwa laki-laki dewasa menguasai budak-budak, anak-anak dan wanita. laki-laki dewasa menguasai budak karena budak memang dikodratkan utnuk menjadi budak. laki-laki dewasa menguasai anak-anak yang bukan budak dan yang laki-laki, karena anak-anak belum berkembang jiwanya. laki-laki menguasai wanita, karena wanita memang  tidak sempurna. (Whitbeck, 1976:58). istilah famili dalam bahasa Inggris kenyataanya berasal dari kata famulus yang berarti budak domestik, dan familia berarti sejumlah budak-budak yang dimiliki seorang laki-laki dewasa, termasuk di dalamnya isteri dan anak-anaknya.

KADO PERNIKAHAN
Oleh :
Mohammad Fauzil Adhim
Muhammad Nazil
Hidup Lebih Indah Dengan Cinta yang Bergairah
Panduan Membina Keluarga dalam Perspektif Islam
[Kata Pengantar]
Dari Penulis
……………………………………………………………….
❖❖❖
Hanya Allah yang berhak dipuji, meskipun kita sering haus pujian. Hanya
Allah yang mampu menyangga segala macam pujian yang ditujukan bagi-
Nya. Selain Allah, tak ada yang kuat menyangga berba-gai pujian, kecuali
orang yang Allah telah berikan kepada-nya taufiq dan hidayah. Maka, izinkanlah saya
untuk memu-lai buku ini dengan hamdalah, dengan pujian kepada Allah ‘Azza wa Jalla.
Bersama-sama saya, mari kita ucapkan alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Kemudian
mari kita ingat nikmat-Nya yang lebih sering kita ingkari daripada kita syukuri itu.
Kemudian mari terima nikmat-Nya dan kita berbahagia karenanya. U-capkanlah pujian
kepadanya bahwa hari ini kita bisa makan. Sementara jutaan saudara-saudara kita
menahan lapar se-tiap hari. Sepiring nasi panas dengan lauk ala kadarnya ada-lah
kenikmatan luar biasa jika dihidangkan dan dilahap de-ngan rasa syukur, berterima kasih
kepada Allah yang telah memperhatikan kebutuhan kita. Bergembiralah, karena kita bisa
mengenyangi perut kita dan istri kita dengan rizki yang halal, di saat ada saudara kita
yang harus mencuri tiga batang pohon singkong milik tetangganya untuk mempertahankan
hidup agar anaknya tidak sampai mati kelaparan.
Sesungguhnya Allah memberi kita nikmat yang ba-nyak. Sayang, kita sulit
mensyukurinya.
Sesudah itu, marilah kita tundukkan hati sejenak. Mari kita ucapkan shalawat atas
Nabi Muhammad, manusia suci yang Allah sendiri memujinya. Shalawat kita juga untuk
ke-luarganya yang mulia, yang Allah juga memujinya. Mari kita ucapkan pelan-pelan:
“Allahumma shalli ‘alaa Muham-mad wa ‘alaa ali Muhammad”.
Selebihnya, saya ingin menceritakan kepada Anda ten-tang buku yang sedang Anda
baca ini. Secara umum, buku ini merupakan edisi satu jilid dari keseluruhan trilogi Kupinang
Engkau dengan Hamdalah, yakni buku Kupinang Engkau dengan Hamdalah –
judul buku sama dengan nama triloginya– yang terbit akhir Juni 1997, Mencapai
H
Pernikahan Barakah (akhir Oktober, 1997), serta yang ketiga Disebabkan Oleh Cin-ta,
Kupercayakan Rumahku Padamu (Juli, 1998). Isinya, dengan demikian, ya sama. Hanya
ada berbagai penambahan infor-masi atau pendalaman pembahasan. Bab Keasyikan yang
Menghancurkan Keluarga dibahas lebih tuntas pada buku ini, hal yang belum bisa saya
lakukan pada buku Disebabkan Oleh Cinta mengingat terbatasnya halaman. Begitu juga
misalnya, bab Mempertimbangkan Pinangan dibahas lebih jauh pada bu-ku Kado
Pernikahan untuk Istriku yang sedang Anda baca ini. Ada penambahan dua sub judul
pada bab tersebut, yakni peringatan agar tidak membuka pintu pinangan setelah menerima
pinangan dari orang lain serta pertimbangan bagi yang telah menikah untuk tidak
mempersulit diri dengan merahasiakan pernikahan jika tidak ada sesuatu yang membawa
madharat besar manakala diumumkan.
Sub bab Jangan Buka Pintu Lagi, sekedar contoh saja, sebelumnya tidak masuk
dalam buku Kupinang Engkau de-ngan Hamdalah. Akan tetapi ketika saya menjumpai ada
sau-dara kita yang menghadapi masalah karena menerima
pinangan setelah pinangan orang lain secara
resmi diterima, maka saya tergerak untuk menambah-kan sub bab ini pada bab
Mempertimbangkan Pinangan agar bisa menjadi peringatan bagi kita. Sebab tidak ada
jaminan bahwa kita tidak akan melakukan hal yang sama, seandai-nya kita tidak ingat
peringatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam agar tidak meminang wanita yang telah
dipinang saudaranya.
Selain penambahan dan pendalaman, ada juga peng-hapusan hal-hal yang ternyata
saya lihat tidak terlalu perlu, meskipun tidak semua penghapusan karena alasan ini. Sebagian
saya hapus karena pijakannya kurang kuat, sekali-pun secara psikologis dapat
dipertanggungjawabkan. Sebagian saya hapus semata-mata untuk meringankan be-ban
moral. Mengapa? Itu yang saya tidak enak untuk me-nulis di sini.
Alhasil, buku ini tidak persis sama isinya dengan edisi yang terpisah-pisah. Mudahmudahan
bermanfaat dan membawa kebaikan bagi kita semua, terutama bagi Anda yang
mau menikah atau baru menikah dan punya anak. Mudah-mudahan Allah meridhai
usaha ini dan memaafkan kesalahan-kesalahan saya dalam menulis buku ini.
Pembaca,
Sebelum kata pengantar ini saya tutup, masih ada yang ingin saya sampaikan. Ada
perubahan dalam perwajahan buku ini. Tidak seperti buku-buku kita sebelumnya, daftar
isi untuk buku Kado Pernikahan ini kita cetak berwarna. Se-lain itu, daftar isi tidak
memberi informasi isi buku secara lengkap. Hanya garis besar. Informasi tentang isi buku
se-cara lebih rinci, bisa Anda jumpai pada tiap-tiap Jendela Pembahasan.
Pada beberapa halaman diberi ornamen. Selain itu, jenis huruf yang dipakai juga
sangat beragam, sehingga tidak terasa monoton. Jarak antar paragraf juga diusahakan
setepat mungkin dengan mempertimbangkan berat ringan-nya pembahasan, nilai penting
tiap-tiap paragraf, serta ke-mampuan mata untuk membaca secara efektif.
Berbagai perbaikan pada buku ini, khususnya pada per-wajahan buku, dilakukan
untuk tujuan sederhana: memudah-kan Anda membaca dan memahami buku ini. Buku ini
tebal, ka-rena itu kami tidak ingin Anda kecapekan membaca karena perwajahan buku
yang kaku. Betapa banyak buku-buku yang sangat bagus isinya, tetapi tidak disentuh oleh
pemba-ca semata-mata karena perwajahan yang melelahkan atau sampul buku yang
salah. Saya pernah melihat satu buku terjemahan yang sampulnya menjengkelkan dan
perwajah-annya (lay out) menyedihkan, ternyata isinya sangat berman-faat.
Masih ada keinginan saya berkenaan dengan perwajah-an buku, tetapi untuk kondisi
kita saat ini masih belum me-mungkinkan. Saya sebenarnya ingin memberi ruangan yang
cukup lebar di bagian pinggir buku, sehingga Anda bisa memberi hasyiah (catatan
pinggir) –salah satu tradisi Islam yang sangat berharga. Tetapi jika ini dilakukan untuk
selu-ruh bab, buku yang sudah tebal ini akan membengkak hala-mannya secara besarbesaran.
Padahal, harga kertas seka-rang sangat mahal.
Begitulah. Dan tegur sapa Anda saya tunggu.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Yogyakarta, 1 Juli 1998
Mohammad Fauzil Adhim
Isi Buku
Dari Penerbit
Dari Penulis
Ucapan Terima Kasih
Mukadimah
Pernikahan Itu Agung
Jendela Pertama:
Sebelum Sampai Ke Akad Nikah
Bagian Satu:
Kupinang Engkau Dengan Hamdalah
Bab 1: Kupinang Engkau Dengan Hamdalah
Bab 2: Mempertimbangkan Pinangan
Bab 3: Mengenai Sumber Informasi dan Perantara
Bab 4: Selama Proses Berlangsung
Bab 5: Antara Menyegerakan dan Tergesa-gesa
Bagian Dua:
Mencapai Pernikahan Barakah
Bab 6: Dimanakah Wanita-wanita Barakah Itu?
Bab 7: Undangan-undangan Mubazir Itu…
Bab 8: Awalnya Dari Niat
Jendela Kedua:
Sejak Akad Nikah dan Malam Pertama
Bagian Satu:
Maka, Ia Menjadi Istrimu
Bab 9: Memasuki Malam Zafaf
Bab 10: Masa Pengantin Baru
Bab 11: Tinggal Dimana Setelah Menikah?
Bagian Dua:
Saat-saat Indah Bersama Suami
Bab 12: Saat Tepat Untuk Berhias
Bab 13: Keindahan Suami Istri
Bab 14: Keindahan yang Lebih Besar
Jendela Ketiga:
Rumah Tangga Pasca Nikah
Bagian Satu:
Menjaga Rumah Kita
Bab 15: Biarlah Engkau yang Tercantik di Hatiku
Bab 16: Komunikasi Suami Istri
Bagian Dua:
Membawa Keluarga Ke Masa Depan
Bab 17: Komunikasi Kita dan Pendidikan Anak
Bab 18: Keasyikan yang Menghancurkan Keluarga Kita
Bagian Tiga:
Persoalan Rumah Tangga
Bab 19: Konflik dan Perceraian
Bab 20: Poligami
Epilog
Tuhan, Dimana Fathimatuz Zahra Sekarang?
Pamit Penulis
Jendela Pertama
Sebelum Sampai
Ke Akad Nikah
……………………………………………..
Bagian Satu:
Kupinang Engkau dengan Hamdalah
Bab 1 Kupinang Engkau dengan Hamdalah
Kupinang Engkau dengan Hamdalah
– Mendahului dengan Hamdalah
Wanita Boleh Menawarkan Diri
Bab 2 Mempertimbangkan Pinangan
Catatan Bagi Ayah
Memperhatikan Agama
Meminta Izin Anak
Meminta Pertimbangan Istri
Musywarah
Catatan Bagi Wanita yang Dipinang
Agama Calon Suami
Kemandirian Ekonomi
Ada Ladang Amal Shalih
Nikah dan Menuntut Ilmu
Mengenai Syarat Nikah
Menyampaikan Isi Hati Kepada Ibu
Jangan Buka Pintu Lagi
Mengapa Kau Mempersulit Diri?
Bab 3 Mengenai Sumber Informasi dan Perantara
Pertama, Memberi Informasi Obyektif
Kedua, Tidak Persuasif
Ketiga, Memberi Informasi Menurut Apa Yang Diketahuinya
Keempat, Lebih Melihat Pada Usaha
Kelima, Moderat dan Tidak Menyudutkan
Keenam, Memotivasi Jika Mampu
Perantara untuk Menawarkan Maksud Seorang Wanita
…………………………………………………………………………………………………………………..
Bab 4 Selama Proses Berlangsung
Persangkaan Kepada Allah
Persangkaan dan Persepsi Terhadap Calon
…………………………………………………………………………………………………………………..
Bab 5 Antara Menyegerakan dan Tergesa-gesa
Pertama, Tanda-tanda Hati
Kedua, Tanda-tanda Perumpamaan
Segala Puji Bagi Allah
Bagian Dua:
Mencapai Pernikahan Barakah
Bab 6 Dimanakah Wanita-wanita Barakah Itu?
MASALAH MAHAR
Sebaik-baik Mahar
-Tidak Bisa Dinilai Secara Kuantitatif
Pernikahan Fathimah Az-Zahra
-Seperti Apakah Keturunan Kita?
Berapa Ukuran Mahar?
Berlebihan Menuntut Mahar
-Biarlah Rasulullah yang Menjadi Wali
-Peringatan Penting
jalinan Perasaan yang Barakah
-Peringatan bagi Suami
– Hak Atas Mahar
MEMPERSULIT PROSES PERNIKAHAN
Pertama, Menyebabkan Pembandingan
Kedua, Menimbulkan Keraguan
Ketiga, Melemahkan Kesediaan Berjuang Bersama-sama
Keempat, Mengeraskan Hati
Antara Mempersulit dan Kesulitan
MENGAJUKAN SYARAT NIKAH
Mempersyaratkan Tinggal Di Rumah Istri
Mensyaratkan Tidak Berhubungan Intim
Mempertimbangkan Kembali Syarat Nikah
Kelak Ada Dialog
Bab 7 Undangan-undangan Mubazir itu
Bab 8 Awalnya Dari Niat
NIAT KETIKA MENIKAH
-Niat Ketika Memilih Pendamping
-Niat Dalam Urusan Pernikahan
MASIH ADA NIAT SESUDAH AKAD NIKAH
HUJAN ITU MENSUCIKAN BUMI
Jendela Dua
……………………….
Bagian Satu
Memasuki Jenjang Pernikahan
***
Bab 9 Memasuki Malam Zafaf
Ikatan itu Bernama Mitsaqan-Ghalizhan
Mengucapkan Ijab-Qobul Nikah
– Siapa yang Menikahkan?
Walimah Itu Ungkapan Syukur
Memasuki Malam Zafaf
Kelengkapan Zafaf
– kelengkapan laki-laki
– kelengkapan Wanita
Kelengkapan Tambahan
Mengajak Istri Shalat Bersama
– Masalah Kita
Makanan Kecil Pembuka
Apakah Sekarang Saat yang Tepat?
– Urusan Berkenaan dengan Pakaian
– Bercanda
– Salah Tingkah Itu Rahmat
– Selanjutnya, Istri Hendaknya Tidak Malu
– Berbicara Dari Hati Ke Hati
– Mandi Janabah Bersama
– Masih Ada Kehangatan
Bab 10 Masa Pengantin Baru
Belajar Mendampingi Suami
Merintis Kebiasaan Yang Baik
Dan Istri Pun Hamil
Bab 11 Tinggal Dimana Setelah Menikah?
TINGGAL DI RUMAH SENDIRI
Catatan Ketika Mengontrak Rumah
– Masalah Anak Ketika Pindah
TINGGAL BERSAMA ORANGTUA
– Anak yang Diharapkan
– Keluarga yang Menuntut
– Saudara Perempuan Tinggal Serumah
PRIORITAS TEMPAT TINGGAL
Bagian Dua
Saat-saat Indah Bersama Suami
***
Bab 12 Saat Tepat Untuk Berhias
Saat Suami Akan Pergi
Saat Suami Pulang
– Ketika Suami Harus Pulang Mendadak
Saat Berangkat Ke Pembaringan
Bab 13 Keindahan Suami Istri
Laki-laki dan Perempuan Memang Beda
Mandi Jinabah
Istri Juga Memiliki Kebutuhan
Maka dalam Jima’ Ada Kemuliaan
MENGGAIRAHKAN SUAMI
– Membuang Rasa Malu
– Allah Telah Menghalalkan
– Pakaian dan Parfum Istri
– Ciptakan Suasana Dulu
– Hanya Untuk Anda
– Aktif Secara Bijak
– Mandi Jinabah Bersama
– Kebutuhsn Wanita Lebih Bersifat Psikis
SAAT-SAAT YANG TEPAT
– Malam-malam Bahagia
– Ketika Hati Yang Berselisih Rukun Kembali
– Saat Suami Menghadapi Cobaan
KETIKA JIMA’ MENJADI KEUTAMAAN
Pertama, Ketika Pulang dari Bepergian
Kedua, Ketika Harus Pulang Mendadak
JIMA’ SELAMA HAMIL
Jangan Tinggalkan Istri Anda Kesepian
Mengubah Posisi Jima’
JIMA’ SETELAH PERSALINAN
Padahal Istri Sedang Haid
Bab 14 Keindahan yang Lebih Besar
Jendela 3
……………………………………………………………………………..
Bagian Satu
Menjaga Rumah Kita
……………………………………………………………………………..
Bab 15 Biarlah Kau yang Tercantik di Hatiku
Engkau yang Tercantik Di Hatiku
Bab 16 Komunikasi Suami Istri
Menyalahkan Pasangan
Saling Menyalahkan
Tanpa Alternatif
Sangat Sensitif Terhadap Kritik
Cara Berpikir “Semua Salah”
Tidak Mencari Akar Masalah
Tanpa Jangkauan Ke Depan
Komunikasi Kursif karena Cara Berbicara
Kenangan Indah
Bagian Dua
Membawa Keluarga Ke Masa Depan
Bab 17 Komunikasi Kita dan Pendidikan Anak
Bab 18 Keasyikan yang Menghancurkan Keluarga
Sudah Termasuk Menggunjing
Ada Yang Dibolehkan
Allah Mengancam
Allah Akan Mempermalukan
Mereka Memakan Bangkai Manusia
Ia Merusak Kita
Hubungan Suami Istri Cenderung Bersifat Permukaan
Kepercayaan Sulit Dibangun
Kepuasan Rendah
Saling Pengertian Sulit Tumbuh
“Sibuk” Menepis Penilaian Sosial
Dan Masyarakat Pun Hancur
Zhan Yang Terpenuhi
Terbentuknya Persistensi Tentang Orang Lain
Masyarakat Tak Lagi Ikut Mendidik Anak Kita
Anak-anak Pun Menjadi Korban
Bagian Tiga
Persoalan Rumah Tangga
***
Bab 19 Konflik dan Perceraian
Perbedaan dalam Perkara Yang Wadag
Sikap Terhadap Hidup dan Teman Hidup
Perbedaan Prinsip Keimanan
Ketika Kemelut Itu Terjadi
– Sabar
– Dialog
– Mencari Penengah
Konflik dan Perceraian
Perceraian Para Sahabat
Yang Harus Dijaga Ketika Bercerai
Jangan Rusak Kehormatannya
Jangan Kau Rampas Rezeki Anakmu
Kemana Engkau Pergi?
Bab 20 Poligami
Poligami Orang-orang Shaleh
Epilog
Bab 21 Tuhan, Dimana Fathimatuz Zahra Sekarang?
Mihrab Agung Orang-orang Tercinta
Pamit Penulis

[Pendahuluan]
…………………………………………………..
(Mukadimah)
ika ada surga di dunia, maka surga itu adalah pernikahan yang bahagia.
Tetapi jika ada neraka di dunia, itu adalah rumah tangga yang penuh
pertengkaran dan kecurigaan-kecurigaan yang menakutkan di antara suami
dan istri.
Di Timur dan di Barat, banyak usaha dilakukan orang untuk mencapai
pernikahan yang bahagia. Kadangkala usa-ha itu mendekati kebaikan, kadangkala
justru menjauhkan orang dari pernikahan yang sungguh-sungguh bahagia. Ma-rriage
contracts adalah salah satu contoh usaha mencapai ke-bahagiaan pernikahan yang saya
kira lebih banyak sedihnya daripada bahagianya. Marriage contracts atau kontrak
perka-winan adalah model yang lazim dipergunakan oleh pengan-tin-pengantin di
Amerika untuk mengatur hubungan antara suami dan istri seperti yang dikehendaki
oleh kedua belah pihak. Masing-masing menandatangi surat perjanjian yang berisi
tentang kewajiban masing-masing pihak terhadap orang lain. Misalnya, siapa yang
harus membuat secangkir kopi panas setiap pagi. Atau, apa yang harus dilakukan oleh
seorang suami kepada istrinya. Katakanlah, kapan suami berkewajiban mengatakan “I
love you”.
Kebahagiaan memang mahal. Buku-buku konseling atau psikologi perkawinan
terus berusaha menemukan akar masalah ketidakbahagiaan perkawinan, meskipun
ternyata masih banyak yang menemui kegagalan. Tulisan James O. Prochaska & Carlo
C. DiClemente adalah salah satu yang bisa menerangkan dengan agak baik. Dari
serangkaian pene-litian, Prochaska dan DiClemente menyimpulkan bahwa faktor
yang sangat banyak mempengaruhi perkawinan itu bahagia atau tidak, perkawinan
yang lumpuh dapat diper-baiki atau tidak, adalah orientasi pasangan suami istri itu
terhadap anak. Suami istri yang memiliki orientasi kuat ter-hadap pendidikan anak,
mempunyai keinginan-keinginan yang besar terhadap pendidikan anak-anaknya, akan
lebih bahagia. Mereka ini –yang memiliki orientasi kuat terhadap pendidikan anakanak
mereka– semakin bahagia manakala anaknya semakin banyak.
Kalau begitu, apakah sebaiknya kita mengikuti James O. Prochaska agar
pernikahan kita bahagia? Emm, kita be-lum bisa memutuskan. Sebab, mereka yang
mempunyai orientasi kuat terhadap pendidikan anak, sering mengalami situasi
kesepian dan tidak berguna begitu anak-anak mereka telah mandiri dan satu per satu
meninggalkan rumah untuk memasuki rumah mereka sendiri. Mereka dapat merasa
ba-hagia, sejauh anak-anak mereka yang telah mandiri menun-jukkan bahwa mereka
masih membutuhkan peran orang-tuanya.
Alhasil, bagaimana kesimpulannya? Silakan Anda am-bil kesimpulan sendiri
setelah menyimak sedikit informasi yang telah saya sampaikan.
J
Sambil menanti Anda mengambil kesimpulan, saya ingin mengajak Anda untuk
melihat gambaran yang sangat berbeda tentang orientasi perkawinan. Jika buku-buku
psi-kologi atau artikel-artikel perkawinan selalu berbicara ten-tang perkawinan yang
bahagia (happy marriage atau successful marriage), maka kita mendapati cerita yang
berbeda da-lam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, An-Nasa’i, Ibnu Majah,
Ad-Darimi, Ibnu Sinni dan yang lainnya dengan kedudukan hasan.
Selengkapnya, mari kita simak kisah pernikahan Uqail bin Abu Thalib dengan
seorang wanita dari kalangan Bani Jasym. Seperti lazimnya upacara pernikahan, tamutamu
berdatangan. Dan seperti lazimnya upacara pernikahan di masa sekarang, para
tamu ketika itu memberi ucapan sela-mat sekaligus sebagai do’a.
“Semoga bahagia dan banyak anak,” kata para tamu kepada pengantin laki-laki.
Menerima ucapan selamat seperti itu, Uqail segera ter-ingat Rasulullah
Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Ke-mudian ia berkata, “Jangan kalian
mengatakan demikian, karena sesungguhnya Rasulullah Saw. telah melarang hal
tersebut.”
“Kalau demikian,” kata mereka, “apakah yang harus ka-mi katakan, wahai Abu
Zaid?”
“Katakanlah oleh kalian,” jawab Uqail, “Semoga Allah membarakahi Anda
sekalian dan melimpahkan barakah kepa-da Anda. Demikian yang diperintahkan
kepada kita.”
Hadis ini mengajarkan kepada kita bahwa yang paling penting untuk dicari
dalam pernikahan bukan kebahagiaan. Yang paling penting justru barakah, konsep
yang sangat se-ring terdengar tetapi tidak banyak diketahui artinya. Men-do’akan
pengantin baru agar dapat mencapai pernikahan yang bahagia dan sekaligus banyak
anak dilarang (makruh). Sebaliknya, sunnah bagi kita mendo’akan saudara kita yang
menikah dengan do’a barakah. Mudah-mudahan pernikahan itu barakah bagi
pengantinnya dan barakah atas pengantin-nya, yakni barakah pernikahan tersebut
juga terasakan oleh orang-orang di sekelilingnya.
Kalau begitu, apakah “bahagia dan banyak anak” meru-pakan kata yang tabu
dalam pernikahan yang Islami? Bukan begitu. Melalui lisan suci Rasulullah Saw.,
Islam justru me-ngingatkan kita agar tidak melupakan kriteria memilih istri agar
dapat memperoleh kesenangan dan banyak anak.
“Kawinilah wanita yang subur rahimnya (waluud) dan pencinta,” sabda
Rasulullah Saw. sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud, An-Nasa’i dan Al-
Hakim. “Sebab aku kelak berbanyak-banyak kepada umat-umat lain de-ngan kalian.”
Rasulullah Saw. juga pernah menganjurkan, “Pilihlah yang masih gadis karena ia
lebih manis mulutnya, lebih da-lam kasih-sayangnya, lebih terbuka, dan lebih
menginginkan kemudahan.”
Yang dimaksud dengan “mulut manis” adalah ucapan-nya, kata Abdul Hamid
Kisyik. Adapun yang dimaksud de-ngan “lebih dalam kasih-sayangnya” adalah banyak
melahir-kan anak, terbuka, dan polos.
Ketika seorang sahabat memberi tahu Rasulullah bah-wa ia baru saja menikah
dengan seorang janda, Rasulullah Saw. mengatakan, “Mengapa tidak gadis yang ia
dapat berma-in denganmu, dan engkau dapat bermain dengannya, eng-kau
menggigitnya dan ia menggigitmu?” (HR An-Nasa’i, sha-hih).
Sebagian sahabat Nabi memberi keterangan, Tetaplah kalian mengawini gadisgadis,
sebab mereka lebih manis mu-lutnya, lebih rapat rahimnya, lebih hangat
vaginanya, lebih sedikit tipuannya, dan lebih rela dengan nafkah yang sedikit.
Keterangan sahabat ini senada dengan hadis Nabi yang mengingatkan:
Khath Arab
“Kawinilah oleh kalian perawan, sebab perawan itu lebih segar mulutnya, lebih
subur rahimnya, lebih hangat vagina-nya, dan lebih rela dengan nafkah yang sedikit.”
(HR. Abu Na’im melalui Ibnu Umar r.a.. Periksa Mukhtarul Ahaadits).
Yang dimaksud dengan lebih rapat rahimya (antaqu ar-haman) adalah banyak
melahirkan. Umar bin Khaththab menganjurkan, “Perbanyaklah anak karena kalian
tidak tahu dari anak yang mana kalian mendapatkan rezeki.”
Anak yang barakah adalah rezeki akhirat sekaligus reze-ki dunia. Kita tidak tahu
anak yang mana yang paling besar membawa rezeki, sehingga bisa mengangkat kita
kepada kebahagiaan akhirat.
Masih ada hadis-hadis mengenai kesenangan-kesena-ngan yang bisa diperoleh
ketika menikah dan perlu diper-timbangkan ketika akan melangkah ke sana. Allah
Swt. juga telah berfirman, Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia
menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sen-diri, supaya kamu cenderung dan
merasa tenteram kepa-danya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sa-yang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum
yang berfikir. (QS. Ar-Ruum [30]: 21).
Tetapi ada yang unik. Kita dilarang mendo’akan orang yang menikah agar
mendapat kebahagiaan dan banyak anak dalam pernikahannya. Kita diminta untuk
mendo’akan me-reka semoga Allah membarakahi pengantin itu dan melim-pahkan
barakah bagi mereka. Yang pertama, mendo’akan agar mereka menjadi suami istri
yang penuh barakah, sehingga sekelilingnya ikut terkena barakahnya. Yang kedua,
mendo’a-kan agar mereka mendapatkan barakah. Wallahu A’lam bisha-wab.
Mengapa kita disuruh mendo’akan dengan do’a barakah dan tidak dengan do’a
banyak anak, padahal ada beberapa anjuran untuk memperbanyak anak? Sekali lagi,
Allahu A’lam bishawab.
Ketika bertemu kawan, kita juga mendo’akan barakah. Tapi sebelum sampai
kepada barakah, kita mendo’akannya semoga Allah melimpahkan salam (kedamaian
dan keten-teraman) dan rahmat. Maka kita pun mengucapkan assalamu-‘alaikum
warahmatullahi wabarakatuh.
Untuk mencapai barakah, orang terlebih dulu mempe-roleh salam dan rahmat.
Sebuah keluarga bisa barakah jika di dalamnya ada sakinah. Mereka merasakan
ketenteraman. Dalam keadaan diguncang kesulitan atau dikarunia kesuk-sesan, suami
dan istri merasakan ketenteraman saat ber-dekatan. Ketika suami datang dengan
wajah kusam berlipat-lipat, istri memberi sambutan hangat besemangat. Wajahnya
tetap teduh dan penuh perhatian sehingga suami semakin sayang.
Jika Anda mempunyai istri demikian, bersyukurlah. Anda sudah mendapatkan
kunci kebahagiaan. “Tiga kunci kebahagiaan seorang laki-laki adalah istri shalihah
yang jika dipandang membuatmu semakin sayang dan jika kamu pergi membuatmu
merasa aman, dia bisa menjaga kehormatan-mu, dirinya dan hartamu; kendaraan
yang baik yang bisa mengantar ke mana kamu pergi; dan rumah yang damai yang
penuh kasih sayang. Tiga perkara yang membuatnya sengsara adalah istri yang tidak
membuatmu bahagia jika dipandang dan tidak bisa menjaga lidahnya juga tidak
mem-buatmu merasa aman jika kamu pergi karena tidak bisa men-jaga kehormatan
diri dan hartamu; kendaraan rusak yang jika dipakai hanya membuatmu merasa lelah
namun jika kamu tinggalkan tidak bisa mengantarmu pergi; dan rumah yang sempit
yang tidak kamu temukan kedamaian di da-lamnya.”
Kalau keluarga Anda penuh barakah dan Allah melim-pahkan barakah atas
keluarga Anda, maka Anda akan men-dapati rumah tangga yang diliputi oleh
mawaddah wa rahmah (ketulusan cinta dan kasih-sayang). Kalau suami resah, ada
pangkuan istri yang siap merengkuh dengan segenap pera-saannya. Kalau istri gelisah,
ada suami yang siap menam-pung airmata dengan dekapan hangat di dada, serta
usapan tangan yang memberi ketenteraman dan perlindungan.
Tanpa adanya sakinah, mawaddah wa rahmah, keluarga sulit mencapai barakah
dan penuh dengan kebarakahan. Su-ami-istri tidak bisa saling mencurahkan kasihsayang
secara penuh. Mereka tidak bisa saling menerima, mempercayai dan
memaafkan kekurangan-kekurangan, padahal setiap ki-ta selalu punya kekurangan.
Di sini keluarga dipenuhi oleh keluh-kesah dan kekecewaan. Bukan oleh keadaan
ekonomi, melainkan oleh ketidakpuasan terhadap teman hidupnya beserta
keluarganya. Sehingga interaksi antar keduanya menjadi kering, sangat periferal.
Bukan dari hati ke hati, se-hingga saling merindukan. Pergi tiga hari saja tidak ditunggu-
tunggu kedatangannya. Apalagi sekedar terlambat pulang satu atau dua jam.
Dalam keadaan yang demikian, keluarga tidak menjadi tempat terbaik untuk
membesarkan anak dan menumbuh-kan kekuatan jiwa mereka. Rumah menjadi
tempat yang sempit, sehingga anak-anak dan suami tidak menemukan kedamaian di
dalamnya. Meskipun secara fisik, rumah cukup besar dan megah.
Jadi, jika Anda mendo’akan barakah, insya-Allah Anda juga mendo’akan sakinah,
mawaddah wa rahmah bagi keluarga yang akan dibangun oleh pengantin baru itu.
Anda juga mendo’akan mereka mendapatkan keturunan yang barakah. Biar anak
banyak asal barakah, sungguh sangat alhamdulillah.
Mendo’akan barakah sama seperti menyuruh shalat. Kalau Anda menyuruh saya
melakukan shalat, berarti Anda juga menyuruh saya untuk berwudhu atau malah
mandi jinabah jika saya sedang berhadas besar. Sebab, tidak bisa saya melakukan
shalat kalau saya berhadas.
Kalau Anda menganjurkan saya shalat dengan khusyuk dan tenang, berarti Anda
juga menganjurkan saya menghi-langkan perintang-perintang ketenangan. Anda tetap
bisa shalat, tetapi ketika isya’ itu perut Anda melilit-lilit shalat Anda tidak bisa tenang.
Karena itu makanlah lebih dulu. Semoga shalat Anda lebih sempurna.
Tetapi kalau Anda menyuruh saya mandi, tidak secara otomatis menyuruh saya
shalat. Begitu juga kalau Anda mendo’akan banyak anak, belum tentu barakah. Malah
anak bisa menjadi fitnah yang menyusahkan orangtua dunia akhirat.
Ini tidak berarti Anda tidak boleh meraih kesenangan dan bercanda dengan anak
istri. Malah sebagaiman ditun-jukkan di awal tulisan ini, kita banyak ditunjukkan dan
“di-perintahkan” untuk memperoleh kesenangan-kesenangan itu. Bahkan, berjima’
pun bernilai ibadah.
Kalau Anda berhubungan intim, Anda akan mendapat pahala shalat Dhuha.
Kalau Anda meremas-remas jemari istri dengan remasan sayang, dosa-dosa Anda
berdua bergu-guran. Kalau Anda menyenangkan istri sehingga hatinya bahagia dan
diliputi suka cita, Anda hampir-hampir sama dengan menangis karena takut kepada
Allah. SubhanaLlah. Maha Suci Allah. Ia memberi keindahan. Ia juga memberi pahala
dan ridha-Nya.
“Barangsiapa menggembirakan hati seorang wanita (is-tri), “kata Rasulullah Saw.,
“seakan-akan menangis karena takut kepada Allah. Barangsiapa menangis karena
takut ke-pada Allah, maka Allah mengharamkan tubuhnya dari ne-raka.”
“Sesungguhnya ketika seorang suami memperhatikan istrinya dan istrinya
memperhatikan suaminya,” kata Nabi Saw. menjelaskan, “maka Allah memperhatikan
mereka ber-dua dengan perhatian penuh rahmat. Manakala suaminya merengkuh
telapak tangannya (diremas-remas), maka bergu-guranlah dosa-dosa suami-istri itu dari
sela-sela jari-jema-rinya.” (Diriwayatkan Maisarah bin Ali dari Ar-Rafi’ dari Abu
Sa’id Al-Khudzri r.a.).
Bahkan, pahala yang didapatkan ketika bersetubuh de-ngan istri bisa mencapai
tingkat pahala mati terbunuh dalam perang di jalan Allah. Nabi kita Muhammad alma’shum
bersabda, “Sesungguhnya seorang suami yang mencampuri istrinya, maka
pencampurannya (jima’) itu dicatat memper-oleh pahala seperti pahala anak lelaki yang
berperang di jalan Allah lalu terbunuh.”
Mengenai hadis yang disebut terakhir ini, saya tidak menemukan keterangan
lebih lanjut. Tetapi dari berbagai hadis tentang jima’ dan bercumbu, kita mendapati
bahwa ke-duanya merupakan sesuatu yang dihormati dan bagi yang melakukannya
secara sah, Allah memberi pahala yang besar. Bahkan, orang yang meninggalkan jima’
bisa “keluar dari Islam” (tidak termasuk ummat Muhammad) manakala tindakannya
menyebabkan suami atau istri mengalami pen-deritaan.
Wallahu A’lam bishawab.
Jika pernikahan Anda barakah, insyaAllah Anda mendapati pernikahan sebagai
jalan yang menyelamatkan. Siapa saja yang memperoleh keselamatan? Anda sendiri,
istri atau suami Anda, anak-cucu serta orangtua Anda, termasuk mer-tua. Mereka
akan saling tolong menolong dengan amalnya sepanjang anak, istri, orangtua dan
mertua tetap dalam ke-imanan dan takwa. Mereka yang derajat amalnya kurang
disusulkan kepada yang derajat amalnya lebih tinggi.
Allah Swt. menjanjikan hal ini dalam surat Az-Zukhruf ayat 70, Masuklah ke
surga beserta istri kamu untuk digem-birakan.
Kemudian, di dalam surat Ar-Ra’d ayat 23, Allah Swt. mengabarkan, Surga ‘Adn,
mereka masuk ke dalamnya ber-sama mereka yang saleh di antara orangtua mereka,
istri-is-tri mereka, dan keturunan mereka.
Abdullah bin ‘Abbas, kata Ath-Thabrani dan Ibn Mar-dawaih, meriwayatkan
bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Ketika seorang masuk ke surga, ia menanyakan
orangtua, istri dan anak-anaknya. Lalu dikatakan padanya, ‘Mereka tidak mencapai
derajat amalmu.’ Ia berkata, ‘Ya Tuhanku, aku beramal bagiku dan bagi mereka.’ Lalu
Allah memerin-tahkan untuk menyusulkan keluarganya ke surga itu.”
Setelah itu Ibn ‘Abbas membaca surat Ath-Thur ayat 21, Dan orang-orang
beriman, lalu anak-cucu mereka meng-ikuti mereka dengan iman, Kami susulkan
keturunan mereka pada mereka, dan Kami tidak mengurangi amal mereka sedi-kit pun.
Pertanyaannya, bagaimana pernikahan bisa menjadi jalan keselamatan bagi
mertua? Bukankah yang akan disu-sulkan adalah orangtua, istri dan anak-cucu?
Mertua adalah orangtua teman hidup kita, istri kita. Jika saat menikah istri meniatkan
untuk mencapai keselamatan agama dan menja-ga kehormtan farjinya, insya-Allah
yang demikian ini dapat membawa orangtuanya kepada keselamatan dunia akhirat.
Bukankah kalau seorang anak perempuan melakukan per-buatan dosa karena tidak
dinikahkan oleh ayahnya pada saat ia seharusnya menikah, dosa-dosanya akan
ditanggung oleh ayahnya?
Jadi, pernikahan barakah adalah jalan keselamatan. Me-milih calon istri –juga
calon suami– juga berarti memilih orang yang diharapkan dapat ikut menyelamatkan
orangtua dan anak-cucu kelak di yaumil-qiyamah, seorang yang dapat ikut
mendekatkan kepada syafa’at di hari akhir. Seorang is-tri yang membantu suaminya
bertakwa dan memperbaiki akhlak, berarti membantu mertuanya mencapai surga.
Tindakannya sendiri merupakan “wasilah” untuk mencapai surga dan kasih-sayang
Allah bagi dirinya sendiri maupun orangtua, karena orangtua bisa disusulkan kepada
derajat amal anaknya.
Wallahu A’lam bishawab.
Maka semakin besar barakah pernikahan Anda, berarti semakin luas wilayah
keselamatan dan kedamaiannya. Ti-dak hanya keluarga, masyarakat pun bisa ikut
memperoleh barakahnya, meskipun saat itu mereka tidak merasakan langsung. Sebab
adakalanya barakah yang sampai ke masya-rakat tampak dengan segera. Adakalanya,
sesudah anak-anak yang lahir dari pernikahan itu dewasa. Adakalanya malah sesudah
mereka tidak ada lagi. Sebagian malah tidak terlihat secara kasat mata, padahal Allah
menolak bencana karena satu orang ini. Misalnya, jika keluarga itu melahirkan
seorang wali ‘abdal.
Siapakah wali ‘abdal itu? Abu Nu’aim dalam Hilyat Al-Awliya’, kata K.H.
Jalaluddin Rakhmat, meriwayatkan sabda Nabi Saw., “Karena merekalah Allah
menghidupkan dan me-nolak bencana.” Sabda Nabi ini terdengar begitu berat sehingga
Ibnu Mas’ud bertanya, “Apa maksud ‘karena mereka-lah Allah menghidupkan
dan mematikan’?” Rasulullah Saw. ber-sabda, “Karena mereka berdo’a kepada Allah
supaya diper-banyak, maka Allah memperbanyak mereka. Mereka memo-hon agar
para tiran dibinasakan, maka Allah binasakan me-reka. Mereka berdo’a agar turun
hujan, maka Allah turun-kan hujan. Karena permohonan mereka, maka Allah menumbuhkan
tanaman di bumi. Karena do’a mereka, Allah menolak berbagai
bencana.”
Allah sebarkan mereka di muka bumi. Pada setiap ba-gian bumi, ada mereka.
Kebanyakan orang tidak mengenal mereka. Jarang manusia menyampaikan terima
kasih khu-sus kepada mereka. Kata Rasulullah, “Mereka mencapai kedudukan mulia
itu karena banyak shalat atau puasa.”
Karena apa mereka mencapai derajat itu? Bissakhai wan-nashihati lil muslimin, kata
Rasulullah Saw. Dengan kederma-wanan dan kecintaan yang tulus kepada kaum
muslimin.
Kado Pernikahan 1
Bab 1
Kupinang Engkau
dengan Hamdalah
uatu saat, seorang akhwat bertanya kepada saya. Pertanyaannya sederhana,
akan tetapi tidak mudah bagi saya untuk dengan tepat menjawabnya. Saat
itu akhwat kita ini mengajukan pertanyaan retoris, pertanyaan yang
seolah-olah tidak membutuhkan jawaban, akan tetapi sekarang saya bisa merasakan
bahwa ada hal yang diam-diam menjadi masalah. Saya bisa merasakan, ada sesuatu
yang sedang berlangsung namun tidak banyak terungkap karena berbagai sebab.
Ketika itu, akhwat tersebut mengajukan pertanyaan yang pada intinya adalah:
“Apa yang menghalangi ikhwan-ikhwan itu meminang seorang akhwat? Mengapa
ikhwan banyak yang egois, hanya memikirkan dirinya sendiri?”
“Sesungguhnya,” kata akhwat tersebut, “banyak akhwat yang siap.”
Akhwat itu bertanya bukan untuk dirinya. Telah beberapa bulan ia menikah.
Ketika mempertanyakan masalah itu kepada saya, ia didampingi suaminya. Ia
bertanya untuk mewakili “suara hati” (barangkali demikian) akhwat-akhwat lain yang
belum menikah. Sementara usia semakin bertambah, ada kegelisahan dan kadangkadang
kekhawatiran kalau mereka justru dinikahkan oleh orangtuanya dengan lakilaki
yang tidak baik agamanya.
Pertanyaan akhwat itu serupa dengan pertanyaan Rasulullah al-ma’shum. Beliau
yang mulia pernah bertanya, “Apa yang menghalangi seorang mukmin untuk
mempersunting istri? Mudah-mudahan Allah mengaruniainya keturunan yang
memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah.”
Apa yang menghalangi kita untuk menikah? Kenapa kita merasa berat untuk
meminang seorang akhwat secara baik-baik dengan mendatangi keluarganya? Apa
S
Kado Pernikahan 2
yang menyebabkan sebagian dari kita merasa terhalang langkahnya untuk
mempersunting seorang gadis muslimah yang baik-baik sebagai istri, sementara
keinginan ke arah sana seringkali sudah terlontarkan. Sementara kekhawatiran jatuh
kepada maksiat sudah mulai menguat. Sementara ketika “maksiat-maksiat kecil” (atau
yang kita anggap kecil) sempat berlangsung, ada kecemasan kalau-kalau
keterlambatan menikah membuat kita jatuh kepada maksiat yang lebih besar.
Saya teringat kepada burdah, syair karya Al-Bushiri. Di dalamnya ada beberapa
bait sindiran mengenai saya dan Anda:
Siapakah itu
yang sanggup kendalikan hawa nafsu
seperti kuda liar
yang dikekang temali kuat?
Jangan kau berangan
dengan maksiat nafsu dikalahkan
maksiat itu makanan
yang bikin nafsu buas dan kejam
Sungguh, hampir saja kaki kita tergelincir kepada maksiat-maksiat besar kalau
Allah tidak menyelamatkan kita. Dan kita bisa benar-benar memasukinya
(na’udzubillahi min dzalik tsumma na’udzubillahi min dzalik) kalau kita tidak segera
meniatkan untuk menjaga kesucian kemaluan kita dengan menikah. Awalnya
menumbuhkan niat yang sungguh-sungguh untuk suatu saat menghalalkan pandangan
mata dengan akad nikah yang sah. Mudah-mudahan Allah menolong kita dan tidak
mematikan kita dalam keadaan masih membujang.
Rasulullah Muhammad Saw. pernah mengingatkan:
“Orang meninggal di antara kalian yang berada dalam kehinaan adalah
bujangan.”
Rasulullah Saw. juga mengingatkan bahwa, “Sebagian besar penghuni neraka
adalah orang-orang bujangan.”
Seorang laki-laki yang membujang harus menanggung beban syahwat yang
sangat berat. Apalagi pada masa seperti sekarang ini ketika hampir segala hal
memanfaatkan gejolak syahwat untuk mencapai keinginan. Perusahaan-perusaan obat
memanfaatkan gambar-gambar wanita untuk menarik pembeli. Perusahaan-perusaan
rokok juga memanfaatkan gadis-gadis muda yang seronok untuk mempromosikan rokoknya
di stasiun-stasiun dengan merelakan diri mengambilkan sebatang rokok
sekaligus menyalakan apinya ke laki-laki yang sedang lengah ataupun sengaja
Kado Pernikahan 3
“melengahkan” diri. Saya pernah menyaksikan kejadian semacam ini di stasiun Tugu,
Yogyakarta sekitar bulan Juli tahun 1996 yang lalu.
Tidak sekedar sampai di situ, acara-acara TV, radio bahkan artikel-artikel
kesehatan dan olahraga di koran dimanfaatkan untuk mengekspos rangsang
pornografis demi meningkatkan oplah. Kadang malah acara-acara keislaman yang
diselenggarakan organisasi keislaman, tanpa sadar tergelincir untuk untuk ikut
memanfaatkan hal-hal semacam ini lantaran ikut-ikutan dengan prosedur protokoler
di TV.
Maka, tak semua dapat menahan pikiran dan angan-angannya. Saya sering
mendengarkan “keluhan” teman laki-laki yang seusia dengan saya mengenai pikiranpikiran
dan angan-angan mereka tentang pernikahan atau mengenai harapannya
terhadap seorang gadis. Dorongan-dorongan alamiah untuk mempunyai teman hidup
yang khusus ini telah menyita konsentrasi. Daya serap terhadap ilmu tidak tajam.
Apalagi untuk shalat, sulit merasakan kekhusyukan. Ketika mengucapkan iyyaKa
na’budu wa iyyaKa nasta’in yang muncul bukan kesadaran mengenai kebesaran
Allah yang patut disembah, melainkan bayangan-bayangan kalau suatu saat telah
menikah. Malah, sebagian membayangkan pertemuan-pertemuan.
Shalat orang yang masih belum menikah memang sulit mencapai kekhusyukan,
apalagi memberi bekas dalam akhlak sehari-hari. Barangkali itu sebabnya Rasulullah
Muhammad Saw. menyatakan, “Shalat dua rakaat yang didirikan oleh orang yang
menikah lebih baik dari shalat malam dan berpuasa pada siang harinya yang
dilakukan oleh seorang lelaki bujangan.”
Maka, bagaimana seorang yang masih membujang dapat mengejar derajat orangorang
yang sudah menikah, kalau shalat malam yang disertai puasa di siang hari saja
tak bisa disejajarkan dengan derajat shalat dua rakaat mereka yang telah didampingi
istri. Padahal mereka yang telah mencapai ketenangan batin, penyejuk mata dan
ketenteraman jiwa dengan seorang istri yang sangat besar cintanya, bisa jadi
melakukan shalat sunnah yang jauh lebih banyak dibandingkan yang belum menikah.
Maka, apa yang bisa mengangkat seorang bujangan kepada kemuliaan di akhirat?
Alhasil, membujang rasanya lebih dekat dengan kehinaan, sekalipun jenggot
yang lebat telah membungkus kefasihan mengucapkan dalil-dalil suci Al-Qur’an dan
Al-Hadis. Benarlah apa yang disabdakan oleh Rasulullah, “Orang meninggal di
antara kalian yang berada dalam kehinaan adalah bujangan.” Bujangan. Tanpa
seorang pendamping yang dapat membantunya bertakwa kepada Allah, hati dapat
terombang-ambing oleh gharizah (instink) untuk memenuhi panggilan biologis, oleh
kerinduan untuk mempunyai sahabat khusus yang hanya kepadanya kita bisa
menceritakan sisi-sisi hati yang paling sakral, serta oleh panjangnya angan-angan
yang sulit sekali memangkasnya. Dalam keadaan demikian, agaknya sedikit sekali
yang sempat merasakan khusyuknya shalat dan tenangnya hati karena zikir. Dalam
keadaan demikian, kita bisa disibukkan oleh maksiat yang terus-menerus. Sesekali
dapat melepaskan diri dari maksiat memandang wanita ajnabi (bukan muhrim), tetapi
Kado Pernikahan 4
masuk kepada maksiat lainnya. Pikiran disibukkan oleh hal-hal yang kurang maslahat,
sedang mulut mengucapkan kalimat-kalimat yang memiriskan hati.
Di saat seperti ini, kita dapat merenungkan sekali lagi peringatan Rasulullah
Muhammad yang terjaga. Dalam sebuah hadis yang berasal dari Abu Dzar r.a.,
Rasulullah Saw. menegaskan:
“Orang yang paling buruk di antara kalian ialah yang melajang (membujang),
dan seburuk-buruk mayat (di antara) kalian ialah yang melajang (membujang).”
(HR Imam Ahmad dalam Musnadnya, diriwayatkan juga oleh Abu Ya’la dari
Athiyyah bin Yasar. Hadis ini dha’if, begitu ‘Abdul Hakim ‘Abdats
menjelaskan).
Semoga Allah ‘Azza wa Jalla melindungi kita dari kematian dalam keadaan
membujang, sementara niat yang sungguh-sungguh untuk segera melangsungkan
pernikahan, belum tumbuh. Semoga Allah Swt. menolong mereka yang telah
mempunyai niat. Kalau belum lurus niatnya, mudah-mudahan Allah mensucikan niat
dan prasangkanya. Kalau telah kuat tekadnya (‘azzam), semoga Allah menyegerakan
terlaksananya pernikahan yang barakah dan dipenuhi ridha-Nya. Kalau mereka masih
terhalang, mudah-mudahan Allah melapangkan dan kelak memberikan keturunan
yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaha illaLlah.
Saya teringat, terhadap hal-hal yang sangat dikecam dan diberikan peringatan
mengenai bahayanya, biasanya Islam memberikan penghormatan yang tinggi untuk
hal-hal yang merupakan kebalikannya. Kalau membujang sangat tidak disukai, kita
mendapati bahwa menikah mendekatkan manusia kepada surga-Nya. Ketika
dikabarkan kepada kita bahwa kebanyakan penghuni neraka adalah bujangan, kita
banyak mendapati di dalam hadis tentang kemuliaan akhirat dan bahkan keindahan
hidup di dunia yang insya-Allah akan didapatkan melalui pernikahan. Seorang yang
menikah, berarti menyelamatkan setengah dari agamanya. Bahkan, bagi seorang
remaja, menikah berarti menyelamatkan dua pertiga dari agamanya.
Kita menjumpai hadis yang memberikan pertanyaan retoris sebagai sindiran,
“Apa yang menghalangi seorang mukmin untuk mempersunting istri? Mudahmudahan
Allah mengaruniainya keturunan yang memberi bobot kepada bumi dengan
kalimat laa ilaha illaLlah.” Maka kita juga menjumpai hadis-hadis yang
menjaminkan kepada kita yang ingin menikah demi menjaga kehormatan dan
kesucian farjinya.
Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw. bersabda, “Tiga orang yang akan selalu
diberi pertolongan oleh Allah adalah seorang mujahid yang selalu memperjuangkan
agama Allah Swt., seorang penulis yang selalu memberi penawar, dan seorang yang
menikah untuk menjaga kehormatannya.” (HR. Thabrani)
Dalam hadis lain dalam derajat shahih, Rasulullah Saw. bersabda:
“Tiga golongan orang yang pasti mendapat pertolongan Allah, yaitu budak
mukatab yang bermaksud untuk melunasi perjanjiannya, orang yang menikah dengan
Kado Pernikahan 5
maksud memelihara kehormatannya, dan orang yang berjihad di jalan Allah.” (HR
Turmudzi, An-Nasa’i, Al-Hakim dan Daruquthni).
Masih ada hadis senada. Namun demikian, ada baiknya kalau kita alihkan
perhatian sejenak kepada peringatan yang disampaikan oleh Rasulullah, “Bukan
termasuk golonganku orang yang merasa khawatir akan terkungkung hidupnya
karena menikah kemudian ia tidak menikah.” (HR Thabrani).
Mudah-mudahan kita termasuk orang-orang yang memiliki keyakinan. Tanpa
keyakinan, ilmu akan kosong maknanya.
Kupinang Engkau dengan Hamdalah
Banyak jalan yang mengantarkan orang kepada peminangan dan pernikahan.
Banyak sebab yang mendekatkan dua orang yang semula saling jauh menjadi suamiistri
yang penuh barakah dan diridhai Allah. Tapi sekarang bukan saatnya untuk
membicarakan masalah ini. Insya-Allah lain kali saya akan membicarakan dalam
buku tersendiri.
Sekarang, ketika niat sudah mantap dan tekad sudah bulat, marilah
mempersiapkan hati untuk melangkah ke peminangan.
Mendahului dengan Hamdalah
Segala puji bagi Allah yang telah memberikan kekuatan pada Anda menghadap
orangtua seorang wanita untuk melakukan peminangan. Setelah perkenalan dan
percakapan sejenak dengan keluarga akhwat yang akan dipinang, sekarang marilah
kita mendengarkan nasehat Imam Nawawi.
Orang yang meminang, kata Imam Nawawi dalam Al-Adzkaarun Nawawiyyah,
disunnahkan untuk memulai dengan membaca hamdalah dan shalawat untuk Rasul
Saw. Ustadz Abdul Hamid Kisyik dalam bukunya Bimbingan Islam untuk Mencapai
Keluarga Sakinah (Al-Bayan, 1995) mengingatkan kembali. Dianjurkan, kata Hamid
Kisyik, memulai lamaran dengan hamdalah dan pujian lainnya kepada Allah Swt.
serta shalawat kepada Rasul-Nya.
Pinanglah ia dengan mengucapkan, “Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Allahumma
shalli ‘aala Muhammad wa ‘alaa ali Muhammad.”
Kalau ingin menggunakan shalawat lain, silakan. Ada berbagai ucapan shalawat
yang dibenarkan oleh As-Sunnah. Ada shalawat yang panjang, meliputi Rasulullah,
istri-istri beliau serta keluarganya. Tetapi shalawat yang pendek juga tidak apa-apa.
Hanya saja, sebaiknya shalawat tidak dipenggal hanya sampai kepada Rasulullah saja.
Ucapkanlah shalawat minimal untuk Rasulullah beserta ‘aal beliau Saww. Semoga
yang demikian ini menjadikan peminangan Anda barakah.
Kado Pernikahan 6
Sesudah itu, ucapkan:
Khat Arab
“Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah semata, tiada sekutu bagi-
Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan Rasul-Nya. Aku datang
pada kalian untuk mengungkapkan keinginan kami melamar putri kalian –Fulanah
binti Fulan — atau janda kalian –Fulanah binti Fulan.”
Atau kalimat lain yang semakna.
Kami, kata Imam Nawawi selanjutnya, di dalam kitab Sunan Abu Daud, Sunan
Ibnu Majah, dan yang lainnya meriwayatkan melalui Abu Hurairah r. a. yang
menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:
“Setiap perkataan –menurut riwayat yang lain setiap perkara– yang tidak
dimulai dengan bacaan hamdalah, maka hal itu sedikit barakahnya –menurut riwayat
yang lain terputus dari kebarakahannya.” (HR Abu Daud, Ibnu Majah dan Imam
Ahmad, hasan).
Pada sebuah kumpulan hadis yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Abu
Hurairah, kata Ustadz Abdul Hamid Kisyik, dari Abu Hurairah r.a., Nabi Saw.
bersabda, “Setiap lamaran yang tidak ada syahadat di dalamnya seperti tangan
yang tidak membawa berkah.”
Setelah pinangan kita sampaikan, biarlah pihak keluarga wanita dan wanita yang
bersangkutan untuk mempertimbangkan. Sebagian memberikan jawaban dengan
segera, sebelum kaki bergeser dari tempat berpijaknya, sebab pernikahan
mendekatkan kepada keselaman akhirat, sedang calon yang datang sudah diketahui
akhlaknya. Sebagian memerlukan waktu yang cukup lama untuk bisa memberi kepastian
apakah pinangan ditolak atau diterima, karena pernikahan bukanlah untuk
sehari dua hari saja.
Apapun, serahkan kepada keluarga wanita untuk memutuskan. Mereka yang
lebih tahu keputusan apa yang terbaik bagi anaknya. Cukuplah Anda memegangi
husnuzhan Anda kepada mereka. Bukankah ketika Anda meminang seorang wanita
berarti Anda mempercayai wanita yang Anda harapkan beserta keluarganya?
Keputusan apa pun yang mereka berikan, sepanjang didasarkan atas musyawarah
yang lurus, adalah baik dan insya-Allah memberi akibat yang baik bagi Anda. Tidak
kecewa orang yang istikharah dan tidak merugi orang yang musyawarah. Maka, apa
pun hasil musyawarah sepanjang dilakukan dengan baik, akan membuahkan
kebaikan. Sebuah keputusan tidak bisa disebut buruk atau negatif, jika memang
Kado Pernikahan 7
didasarkan pada musyawarah yang memenuhi syarat, hanya karena tidak memberi
kesempatan kepada Anda untuk menjadi anggota keluarga mereka. Jika niat Anda
memang untuk silaturrahmi, bukankah masih tersedia banyak peluang lain untuk itu?
Anda telah meminangnya dengan hamdalah. Anda telah dimampukan datang
oleh Allah yang Maha Besar. Dia-lah Yang Maha Lebih Besar. Semua yang lain
adalah kecil. Apalagi kita. Kita cuma manusia. Manusia adalah makhluk yang ke
mana pun mereka pergi, selalu membawa wadah kotoran yang busuk baunya.
Kita ini kecil. Anda juga kecil. Saya apalagi.
Lalu, apa alasan kita untuk merasa besar kalau tidak ada yang takabur kepada
kita? Apakah karena Anda merasa hanya mencari ridha Allah, padahal ketika memutuskan
pun mereka berniat mencari ridha Allah?
Ada pelajaran yang sangat berharga dari Bilal bin Rabah, muadzin kecintaan
Rasulullah Saw. tentang meminang. Ketika ia bersama Abu Ruwaihah menghadap
Kabilah Khaulan, Bilal mengemukakan:
“Saya ini Bilal, dan ini saudaraku. Kami datang untuk meminang. Dahulu kami
berada dalam kesesatan kemudian Allah memberi petunjuk. Dahulu kami budakbudak
belian, kemudian Allah memerdekakan…,” kata Bilal.
Kemudian ia melanjutkan, “Jika pinangan kami Anda terima, kami panjatkan
ucapan Alhamdulillah. Segala puji bagi Allah. Dan kalau Anda menolak, maka kami
mengucapkan Allahu Akbar. Allah Maha Besar.”
Menurut pandangan Bilal, jika pinangan diterima, maka hanya Allah yang
berhak dan layak dipuji. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin. Segala puji bagi Allah Tuhan
seru sekalian alam. Pujian dalam segala bentuknya. Peminangan pun insya-Allah
merupakan sebentuk pujian kepada-Nya dengan menjaga kehormatan atas apa yang
dikaruniakan kepada kita. Adapun kalau pinangan ditolak, kita ingat bahwa yang
besar dan seharusnya besar di mata dan hati kita adalah Allah ‘Azza wa Jalla.
Peminangan adalah salah satu bentuk ikhtiar untuk mengagungkan Allah. Kita
mengagungkan Allah dengan berusaha menghalalkan karunia kecintaan kepada lawan
jenis melalui ikatan pernikahan yang oleh Allah disebut mitsaqan-ghalizha
(perjanjian yang sangat berat).
Maka, kalau pinangan yang Anda sampaikan ditolak, agungkan Allah. Semoga
kita tetap berbaik sangka kepada Allah. Kita tetap berprasangka baik. Sebab, bisa jadi,
penolakan justru merupakan jalan pensucian jiwa dari kezaliman-kezaliman diri kita
sendiri. Boleh jadi penolakan merupakan proses untuk mencapai kematangan,
kemantapan, dan kejernihan niat, mengingat bahwa ada banyak hal yang dapat
menyebabkan terkotorinya niat. Bisa jadi Allah hendak mengangkat derajat Anda,
kecuali jika justru Anda merendahkan diri sendiri. Tapi kita juga perlu memeriksa
hati, jangan-jangan perasaan itu muncul karena ‘ujub (kagum pada diri sendiri).
Penolakan bisa saja merupakan “metode Allah” untuk meluruskan niat dan
orientasi Anda.
Kado Pernikahan 8
Kekecewaan mungkin saja timbul. Barangkali ada yang merasa perih, barangkali
juga ada yang merasa kehilangan rasa percaya diri ketika itu. Dan ini merupakan
reaksi psikis yang wajar, sehingga saya juga tidak ingin mengatakan, “Tidak usah
kecewa. Anggap saja tidak ada apa-apa.”
Kecewa adalah perasaan yang manusiawi. Tetapi ia harus diperlakukan dengan
cara yang tepat agar ia tidak menggelincirkan kita ke jurang kenistaan yang sangat
jelas.
Rasulullah Saw. mengajarkan, “Ada tiga perkara yang tidak seorang pun dapat
terlepas darinya, yaitu prasangka, rasa sial, dan dengki. Dan aku akan memberikan
jalan keluar bagimu dari semua itu, yaitu apabila timbul pada dirimu prasangka,
janganlah dinyatakan; dan bila timbul di hatimu rasa kecewa, jangan cepat
dienyahkan; dan bila timbul di hatimu dengki, janganlah diperturutkan.”
Kekecewaan memang pahit. Orang sering tidak tahan menanggung rasa kecewa.
Mereka berusaha membuang jauh-jauh sumber kekecewaan. Mereka berusaha
memendam dalam-dalam atau segera menutupi rapat-rapat dengan menjauh dari
sumber kekecewaan. Repress, istilah psikologinya. Sekilas tampak tak ada masalah,
tetapi setiap saat berada dalam kondisi rawan. Perasaan itu mudah bangkit lagi
dengan rasa sakit yang lebih perih. Dan yang demikian ini tidak dikehendaki Islam.
Islam menghendaki kekecewaan itu menghilang pelan-pelan secara wajar,
sehingga kita bisa mengambil jarak dari sumber kekecewaan sehingga tidak
kehilangan obyektivitas dan kejernihan hati. Kalau kita bisa mengambil jarak, kita
tidak lingsem, tidak terjerembab dalam subjektivisme yang berlebihan. Kita menjadi
lebih tegar, meskipun untuk menghapus rasa kecewa dengan cara itu dibutuhkan
proses yang lebih lama jika dibandingkan dengan cara me-repress-nya.
Kalau Anda ternyata mengalami rasa kecewa, periksalah niat-niat Anda. Di balik
yang Anda anggap baik, mungkin ada niat-niat yang tidak lurus. Periksalah motifmotif
yang melintas-lintas dalam batin Anda selama peminangan hingga saat-saat
menunggu jawaban. Kemudian biarkan hati Anda berproses secara wajar sampai
menemukan kembali ketenangannya secara mantap.
Perahu telah berlayar. Ketika angin bertiup kencang, matikan mesin. Inilah
tawakkal, begitu seorang guru pernah menasehati “murid”-nya.
Tetapi, kalau jawaban yang diberikan oleh keluarga wanita sesuai dengan
harapan Anda, berbahagialah sejenak. Bersyukurlah. Insya-Allah kesendirian yang
Anda alami dengan menanggung rasa sepi, sebentar lagi akan berganti dengan canda
dan keramahan istri yang setia mendampingi. Wajahnya yang ramah dan teduh, insya-
Allah akan menghapus kepenatan Anda selama berada di luar rumah. Insya-Allah,
sebentar lagi.
Tunggulah beberapa saat. Setelah tiba masanya, halal bagi Anda untuk
melakukan apa saja yang menjadi hak Anda bersamanya. Setelah tiba masanya, halal
bagi Anda untuk merasakan kehangatan cintanya. Kehangatan cinta wanita yang telah
Kado Pernikahan 9
mempercayakan kesetiaannya kepada Anda. Setelah tiba masanya, halal bagi Anda
untuk menemukan pangkuannya ketika Anda risau.
Tetapi, tunggulah beberapa saat. Sebentar lagi. Selama menunggu, ada
kesempatan untuk menata hati. Melalui pernikahan, Allah memberikan banyak
keindahan dan kemuliaan. Ada amanah apa di baliknya?

… jika sikap menawarkan diri
dilakukan dengan ketinggian sopan-santun,
tidak akan menimbulkan akibat kecuali yang maslahat.
Seorang laki-laki yang memiliki pengetahuan mendalam
pasti akan meninggikan penghormatan
terhadap mujahadah saudaranya.
Tidak akan merendahkan
wanita yang menjaga kehormatannya seperti ini,
kecuali laki-laki yang rendah dan tidak memiliki kehormatan ….

Wanita Boleh Menawarkan Diri
Ada empat wanita yang mulia di surga, salah satunya adalah Khadijah bin
Khuwailid. Kelak dari rahimnya yang suci, lahir salah seorang wanita utama lainnya,
yaitu Fathimah az-Zahra. Keduanya adalah orang yang paling dicintai Rasulullah
Muhammad Saw. Yang pertama adalah istri beliau, sedang yang kedua adalah ummu
abiha (ibu yang melahirkan bapaknya). Begitu Rasulullah menjuluki.
Sangat besar rasa cinta Rasulullah kepada Khadijah. Sampai-sampai Aisyah, istri
Nabi yang paling dicintai di antara istri-istri lain sesudah Khadijah, merasa sangat
cemburu. Shahih Bukhari dan Shahih Muslim menceritakan bahwa Aisyah
mengatakan, “Tidak pernah aku merasa cemburu kepada seorang pun dari istri-istri
Rasulullah seperti kecemburuanku terhadap Khadijah. Padahal aku tidak pernah
melihatnya. Tetapi Rasulullah seringkali menyebut-nyebutnya. Jika ia memotong
seekor kambing, ia potong-potong dagingnya, dan mengirimkannya kepada sahabatsahabat
Khadijah.
Maka aku pun berkata kepadanya, ‘Sepertinya tidak ada wanita lain di dunia ini
selain Khadijah…!’
Maka berkatalah Rasulullah, ‘Ya, begitulah ia, dan darinyalah aku mendapat
anak.’“
Kado Pernikahan 10
Dalam suatu riwayat dikisahkan, suatu saat Aisyah merasa cemburu, lalu berkata,
“Bukankah ia hanya seorang wanita tua dan Allah telah memberi gantinya untukmu
yang lebih baik daripadanya? Maka beliau pun marah sampai berguncang rambut
depannya. Lalu beliau berkata, ‘Demi Allah! Ia tidak memberikan ganti untukku yang
lebih baik daripadanya. Khadijah telah beriman kepadaku ketika orang-orang
masih kufur, ia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, ia memberikan
hartanya kepadaku ketika manusia yang lain tidak mau memberiku, dan Allah
memberikan kepadaku anak darinya dan tidak memberiku anak dari yang lain.’
Maka aku berkata dalam hati, “Demi Allah, aku tidak akan lagi menyebut
Khadijah dengan sesuatu yang buruk selama-lamanya.”
Pernikahan Khadijah dengan Rasulullah Saw. adalah yang paling indah dan
penuh barakah. Pernikahan yang seagung ini justru berawal dari inisiatif Khadijah. Ia
mengusulkan pernikahan kepada Muhammad Saw., menurut riwayat, dengan mahar
yang berasal dari hartanya.
Ia menolak menikah dengan raja-raja, para bangsawan, dan para hartawan yang
meminangnya, tetapi ia lebih menyukai Muhammad yang miskin dan yatim. Ia
mencari suami yang agung, kuat, berkepribadian tinggi, dan berjiwa bersih. Dan itu
ada pada Muhammad. Ia terkesan dengan Muhammad.
Ketika hatinya terpikat betul, ia meminta Maisarah yang menjadi pembantu
dekatnya untuk memperhatikan gerak-gerik dan tingkah-laku Muhammad dari dekat.
Laporan Maisarah kelak mendorong Khadijah menawarkan dirinya kepada beliau.
Khadijah mengungkapkan kepada Muhammad, “Wahai Muhammad, aku senang
kepadamu karena kekerabatanmu dengan aku, kemuliaanmu dan pengaruhmu di
tengah-tengah kaummu, sifat amanahmu di mata mereka, kebagusan akhlakmu, dan
kejujuran bicaramu.”
Setelah melalui proses peminangan yang agung, Khadijah kemudian menikah
dengan Muhammad. Abu Thalib menyampaikan khotbah nikah mewakili pihak
pengantin laki-laki. Sedang pihak pengantin perempuan diwakili oleh Waraqah bin
Naufal dengan khotbah yang fasih dan memikat. Kelak, Allah mengaruniakan
keturunan, salah satunya wanita agung Fathimah Az-Zahra.
Menikah merupakan sunnah yang diagungkan oleh Allah. Al-Qur’an menyebut
pernikahan sebagai mitsaqan-ghalizha (perjanjian yang sangat berat). Mitsaqanghalizha
adalah nama dari perjanjian yang paling kuat dihadapan Allah. Hanya tiga
kali Al-Qur’an menyebut mitsaqan-ghalizha. Hanya untuk tiga perjanjian Allah
memberi nama mitsaqan-ghalizha. Dua perjanjian berkenaan dengan tauhid, yaitu
perjanjian Allah dengan Bani Israel yang untuk itu Allah mengangkat bukit Thursina
ketika mengambil sumpah. Sedang yang lain adalah perjanjian Allah dengan para
Nabi ulul-azmi, Nabi yang paling utama di antara para Nabi. Dan, pernikahan
termasuk perjanjian yang oleh Allah digolongkan sebagai mitsaqan-ghalizha. Allah
menjadi saksi ketika seseorang melakukan akad nikah. Wallahua’lam bishawab.
Kado Pernikahan 11
Setiap jalan menuju mitsaqan-ghalizha dimuliakan oleh Allah. Islam
memberikan penghormatan yang suci kepada niat dan ikhtiar untuk menikah. Nikah
adalah masalah kehormatan agama, bukan sekedar legalisasi penyaluran kebutuhan
biologis dengan lawan jenis. Islam memperbolehkan kaum wanita untuk menawarkan
dirinya kepada laki-laki yang berbudi luhur, yang ia yakini kekuatan agamanya, dan
kejujuran amanahnya menjadi suaminya. Dan Khadijah adalah teladan pertama bagi
wanita yang bermaksud untuk menawarkan diri.
Sikap menawarkan diri menunjukkan ketinggian akhlak dan kesungguhan untuk
mensucikan diri. Sikap ini lebih dekat kepada ridha Allah dan untuk mendapatkan
pahala-Nya. Yakinlah, Allah pasti akan mencatatnya sebagai kemuliaan dan
mujahadah (perjuangan) suci. Tidak peduli tawarannya itu diterima atau ditolak,
terutama kalau ia tidak memiliki seorang wali. Demikian saya mencatat dari buku
Memilih Jodoh dan Tatacara Meminang dalam Islam karya Husein Muhammad
Yusuf (GIP, Jakarta, 1995).
Insya-Allah, jika sikap menawarkan diri dilakukan dengan ketinggian sopansantun,
tidak akan menimbulkan akibat kecuali yang maslahat. Seorang laki-laki yang
memiliki pengetahuan mendalam pasti akan meninggikan penghormatan terhadap
mujahadah saudaranya. Tidak akan merendahkan wanita yang menjaga
kehormatannya seperti ini, kecuali laki-laki yang rendah dan tidak memiliki
kehormatan kecuali sekedar apa yang disangkanya sebagai kebaikan.
Seorang laki-laki insya-Allah akan sangat hormat, setia, dan menaruh kasihsayang
mendalam jika ia menerima tawaran wanita shalihah untuk menikahi. Mudahmudahan
Allah menambahkan kemuliaan dalam keluarganya dan memberikan
keturunan yang meninggikan derajat orangtua di hadapan Allah. Kalau terhalang
untuk menerima tawaran, insya-Allah pada diri laki-laki akan tumbuh rasa hormat,
segan, dan respek terhadapnya.
Sungguh, saya sangat hormat kepada mereka yang berani bermujahadah. Kepada
mereka, saya ingin menyampaikan salam hormat saya. Semoga Allah memberi
pertolongan dan ridha-Nya kepada kita semua sampai kelak Allah mengumpulkan di
akhirat. Mudah-mudahan Allah ‘Azza wa Jalla mengumpulkan mereka bersama
Khadijah di Al-Haudh. Allahumma amin. Ya Allah ini hamba-Mu memohon kepada-
Mu.
Saya ingin membahas masalah ini lebih lanjut, mengingat pentingnya masalah
ini. Sedang sikap seperti ini merupakan sikap terhormat yang dimuliakan. Tetapi
untuk lebih baik dan tuntasnya, insya-Allah akan saya tuliskan dalam buku tersendiri.
Saat ini cukuplah dengan melihat contoh-contoh lain yang tercatat dalam sejarah.
Imam Bukhari menceritakan cerita dari Anas r.a. Ada seorang wanita yang
datang menawarkan diri kepada Rasulullah Saw. dan berkata, “Ya, Rasulullah!
apakah Baginda membutuhkan daku?”
Putri Anas yang hadir dan mendengar perkataan wanita itu mencela sebagai
wanita yang tidak punya harga diri dan rasa malu, “Alangkah sedikit rasa malunya.
Sungguh memalukan, sungguh memalukan.”
Kado Pernikahan 12
Anas berkata kepada putrinya itu, “Dia lebih baik darimu. Dia senang kepada
Rasulullah Saw., lalu menawarkan dirinya untuk beliau!” (HR Bukhari).
Rabi’ah binti Ismail Asy-Syamiyah, istri Ahmad bin Abu Al-Huwari –murid
Abu Sulaiman Ad-Darani, seusai menunaikan shalat Isya’, berhias lengkap dengan
busananya. Setelah itu ia mendekati tempat tidur suaminya. Ia menawarkan kepada
suaminya, “Apakah malam ini engkau membutuhkan kehadiranku atau tidak?”
Jika suaminya berhasrat untuk menggaulinya, ia melayani sampai suaminya
mencapai kepuasan. Kalau malam itu suaminya sedang tidak berminat, maka ia
menukar pakaian yang dikenakan tadi dan berganti dengan pakaian lain yang biasa
digunakan untuk beribadah. Malam itu, ia tenggelam di tempat shalatnya hingga
subuh.
Rabi’ah adalah salah satu istri Ahmad bin Abu Al-Huwari. Suatu hari, ia
memasak makanan yang enak. Masakan itu diberi campuran aroma yang harum.
Setelah masak dan menyantap makanan itu, Rabi’ah berkata kepada suaminya,
“Pergilah ke istrimu yang lain dengan membawa tenaga baru.”
Sebelum menikah dengan Ahmad bin Abu Al-Huwari, Rabi’ah telah menikah
dengan seorang suami yang kaya. Sesudah kematian suaminya, ia memperoleh harta
waris yang sangat besar. Ia kesulitan menasharufkan (membelanjakan) hartanya demi
kepentingan Islam dan diberikan kepada orang yang membutuhkan. Ia melihat
Ahmad bin Abu Al-Huwari sebagai orang yang dapat menjalankan amanah.
Sementara itu, Rabi’ah sendiri seorang perempuan yang adil.
Maka, ia meminang Syekh Ahmad bin Abu Al-Huwari agar berkenan
memperistri dirinya. Ketika mendapatkan pinangan Rabi’ah, Syekh Ahmad berkata,
“Demi Allah, sesungguhnya aku tidak berminat lagi untuk menikah. Sebab aku ingin
berkonsentrasi dalam beribadah.”
Rabi’ah menjawab, “Syekh Ahmad, sesungguhnya konsentrasiku dalam
beribadah lebih tinggi daripada kamu. Aku sendiri sudah memutuskan keinginan
untuk tidak menikah. Tetapi tujuanku menikah kali ini tidak lain agar dapat
menasharufkan harta kekayaan yang kumiliki kepada saudara-saudara yang muslim,
dan untuk kepentingan Islam sendiri. Aku pun mengerti bahwa kamu adalah seorang
yang shalih. Tetapi, justru dengan begitu aku akan memperoleh keridhaan dari Allah
Swt.”
Ahmad bin Abu Al-Huwari tidak segera memberikan jawaban. Ia perlu
mengkonsultasikan dulu dengan Abu Sulaiman Ad-Darani, gurunya. Memperoleh
penjelasan dari Syekh Ahmad, Ad-Darani berkata, “Baiklah, kalau begitu nikahilah
dia. Karena perempuan itu adalah seorang wali”.
Bagi banyak wanita, mengajukan tawaran secara langsung barangkali sulit
dilakukan karena kendala-kendala psikis. Bisa juga untuk lebih menjaga kehormatan.
Jika menghadapi yang demikian, Anda bisa menyampaikan niat Anda melalui orang
lain yang dapat dipercaya (tsiqah), terutama orangtua jika masih ada.
Kado Pernikahan 13
Orangtua juga bisa mengambil inisiatif untuk menawarkan anak gadisnya kepada
laki-laki yang telah dikenal akhlaknya. Umar bin Khaththab r.a., ayah Hafshah,
adalah salah satu contoh.
Imam Bukhari meriwayatkan, Umar bin Khaththab berkata:
Saya datang kepada Utsman bin Affan, menawarkan Hafshah kepadanya. Lalu
Utsman berkata, “Nantilah, saya akan pikirkan dulu!”
Pada waktu itu istri Utsman bin Affan, Sayyidatina Ruqaiyyah binti Rasulullah
Saw. meninggal dunia ketika perang Badar berkobar. Dan Utsman diperintahkan oleh
Nabi untuk mengurus istrinya. Beberapa malam kemudian, Utsman berjumpa dengan
saya dan berkata, “Saya pikir, pada waktu ini saya belum berminat untuk kawin.”
Setelah itu, saya pergi menawarkan putriku kepada Abu Bakar, “Kalau kau mau,
saya akan menikahkan engkau dengan Hafshah!” Abu Bakar diam dan tidak
menjawab tawaran saya. Saya sangat marah dan kurang senang dengan sikapnya yang
berbeda dengan Utsman, meski Ustman juga menolak anakku.
Beberapa malam kemudian, Hafshah dipinang oleh Rasulullah Saw. Beliau
sudah mengobati luka hati saya karena penolakan kedua sahabatku itu. Tiba-tiba Abu
Bakar datang dan menemuiku sambil berkata, “Mungkin kau marah dan kurang
senang kepada saya. Ketika kau menawarkan Hafshah, saya diam dan tidak menjawab
sepatah pun!”
Saya jawab, “Ya, benar.”
Lalu Abu Bakar melanjutkan, “Sebenarnya saya ingin sekali menerima
tawaranmu itu. Tetapi sebelum engkau menawarkan Hafshah kepadaku, aku sudah
mendengar Nabi Saw. menyebut-nyebut untuk meminangnya. Dan aku tidak mau
membuka rahasia beliau kepadamu. Namun, jika beliau tidak jadi menikahinya, tentu
akan saya terima tawaranmu itu dengan senang hati.” (Shahih Bukhari).
Kita tinggalkan dulu kisah pernikahan Ummul Mukminin Hafshah r.a. dengan
manusia utama, Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa ‘alaa `alihi wasallam.
Insya-Allah kita bisa melanjutkan lagi dengan kisah-kisah lain yang kemudian
melahirkan keturunan pilihan. Misal, pernikahan orangtua ‘Abdullah bin Mubarok. Ia
sangat terkenal di kalangan para ulama, shalihin, ahli zuhud dan para ilmuwan. Ia
lahir dari pernikahan anak gadis Nuh bin Maryam dengan Mubarok, budaknya yang
jujur.
Kita bisa melanjutkan ke kisah-kisah lainnya. Tetapi saya kira, Anda bisa
menemukan sendiri kisah-kisah demikian di berbagai buku. Sekarang, marilah kita
tutup bab ini dengan memohon kepada Allah mudah-mudah kita tidak dimatikan
oleh-Nya dalam keadaan membujang. Mudah-mudahan Allah memperbaiki akhlak
kita yang masih penuh maksiat ini. Semoga Allah mengaruniakan kepada kita
keturunan yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaha illaLlah.
Kado Pernikahan 14
Sesudahnya, bagi para orangtua maupun akhwat yang sedang menghadapi
pinangan (atau, sedang bersiap menghadapi pinangan), mari kita lanjutkan
pembicaraan ke bab dua Mempertimbangkan Pinangan.
Sedang bagi ikhwan yang telah memiliki hasrat, atau sempat jatuh hati, jika telah
memenuhi syaratnya silakan mendatangi orangtuanya secara resmi. Menikah secara
resmi. Menantikan saatnya tiba yang kadang prosesnya tak mudah, tetapi sering juga
sangat sederhana. Di sinilah indahnya mujahadah. Semoga Allah menjadikan
pendamping kita termasuk wanita shalihah yang penuh barakah, dan darinya lahir
keturunan yang hukma-shabiyya rabbi radhiya (memiliki kearifan semenjak kecil dan
diridhai Allah).
Allahumma amin. Ya Allah, kabulkanlah do’a kami.
Kado Pernikahan 15
Bab 2
Mempertimbangkan
Pinangan
uatu waktu,“ demikian seorang akhwat dalam suratnya menuturkan,
“(saya) bertemu dengan beberapa akhwat yang sedih dengan godaan dari
sekian ikhwan dalam sekian perjumpaan.”
“Apa jawab atas masalah ini?” kata akhwat tersebut melanjutkan, “Ada
kesamaan dalam jawaban, bahwa ketika seorang akhwat sudah menikah, maka insya-
Allah kemungkinan digoda lebih kecil karena si penggoda akan lebih mikir-mikir
kalau ia sudah bersuami.”
Akhwat itu kemudian melanjutkan, “Sampai-sampai, ada yang berencana untuk
memakai cincin nikah walaupun belum menikah, demi menghindari godaan. Karena
ternyata berkerudung pun masih sering digoda. Sehingga nikah dipandang dapat
digunakan sebagai kerudung keamanan.”
Ketika usia semakin bertambah, orang semakin peka terhadap dorongan untuk
berumah-tangga. Pada diri manusia, memang terdapat naluri untuk mengikat
persahabatan dengan lawan jenis. Dorongan ini muncul pada diri laki-laki maupun
perempuan. Seorang wanita yang matang, mengekspresikan kebutuhannya terhadap
lawan jenis sebagai teman hidup dengan cara-cara yang dewasa dan mempersiapkan
diri baik-baik untuk menyambutnya, jauh-jauh hari sebelumnya. Kerinduan terhadap
teman hidup yang membantunya bertakwa kepada Allah, ditunjukkan dengan usaha
yang sungguh-sungguh untuk menata hati dan tujuan.
Sementara itu, wanita yang belum matang orientasi hidupnya lebih banyak
menunjukkannya melalui bentuk-bentuk lahiriah. Kurang matangnya kondisi psikis,
membuat ia kurang mempercayai daya tarik psikis. Apalagi ikatan-ikatan yang lebih
S
Kado Pernikahan 16
bersifat ideologis atau menyentuh kedalaman aqidah. Ia akan lebih mempercayai daya
tarik badaniah. Bahkan, pada taraf ini pun ia sering mengalami keraguan, sehingga
memilih kosmetik untuk membuatnya lebih menarik. Ini di satu sisi. Di sisi lainnya,
ketika ia mulai menginjak usia yang layak baginya untuk menjadi istri dan ibu,
terkadang ia “harus” disibukkan oleh laki-laki yang juga sudah mulai menginjak
masanya. Sebagian laki-laki hanya merasakan dorongan, tetapi belum memiliki
keberanian untuk sungguh-sungguh menemaninya sebagai suami yang setia dan
bertanggung jawab. Sebagian telah memiliki niat dan keinginan untuk bersungguhsungguh
menjalin ikatan pernikahan dengan seorang akhwat yang siap dan qanitat,
tetapi masih ada kendala-kendala psikis. Masih ada keraguan, sehingga ia lebih
memilih untuk melemparkan godaan-godaan halus atau godaan-godaan yang agak
lebih terang-terangan dengan harapan bisa bersambut dengan pertanyaan serius dari
akhwat (siapa tahu?).
Sebagian ikhwan mengalami kejutan beitu mendengar kajian tentang pentingnya
menyegerakan nikah, sehingga ia menghadapi akhwat dengan semangat meluap-luap,
apakah ia siap dikhitbah. Sayang, dorongan yang meluap-luap itu kadang tidak
disertai dengan kesiapan dalam hal-hal lain, terutama dalam hal ilmu berkenaan
dengan tugas kerumahtanggaan maupun dalam memenuhi kebutuhan istri. Di antara
tiga kebutuhan yang harus dipenuhi, ada kalanya baru satu yang ia miliki, yaitu
kesiapan memenuhi kebutuhan biologis. Sedang kebutuhan psikis dan kebutuhan
ma’isyah (nafkah), lazimnya kurang diperhatikan. Seorang ikhwan bahkan sempat
mengemukakan pendapatnya, bahwa orangtua mestinya membiasakan diri
menumbuhkan budaya yang memungkinkan anak laki-lakinya segera menikah dengan
jalan memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga yang akan terbentuk itu. Padahal
kewajiban memenuhi kebutuhan ekonomi ada pada suami, bukan pada orangtua
suami.
Sebagian ikhwan telah menyiapkan bekal secara sungguh-sungguh sehingga
betul-betul bisa menjadi pendamping istri yang insya-Allah diridhai Allah. Pada diri
mereka barangkali masih banyak kekurangan, meskipun demikian mereka dengan
serius berikhtiar untuk memperbaiki diri dalam hal kesiapannya memenuhi tiga
kebutuhan istrinya maupun dalam hal kesiapan memikul tanggungjawab sebagai
ayah, anak, dan menantu. Kemampuannya mencukupi ma’isyah barangkali belum
memadai, walaupun begitu mereka memiliki kesungguhan untuk memenuhinya
sendiri tanpa bergantung pada orang lain. Yang demikian ini, insya-Allah lebih siap
untuk mengemban tanggungjawab besar di balik mitsaqan-ghalizha. Mudah-mudahan
Allah ‘Azza wa Jalla memberikan pertolongan kepada mereka. Allahumma amin.
Situasi psikis yang berbeda-beda, juga jenjang kedewasaan yang tak sama,
melahirkan sikap yang beragam dalam menghadapi dorongan untuk mencari teman
hidup. Ada yang berkeinginan sekedar untuk melegitimasi keinginan bersebadan
dengan lawan jenis, tanpa harus jatuh ke dalam dosa. Tetapi, mereka menghendaki
untuk tidak tinggal satu rumah. Sebagian berkeinginan kuat untuk terikat secara resmi
melalui pernikahan yang sah di hadapan agama, negara, dan dalam pandangan
masyarakat, walaupun kondisi yang mereka hadapi tidak jauh berbeda dengan yang
Kado Pernikahan 17
pertama. Mereka memilih ini karena di dalamnya ada kemaslahatan yang lebih besar
dan kedudukan wanita lebih mulia, karena agama menghendaki suami yang
memuliakan istrinya dengan seutama-utama kemuliaan yang mampu ia berikan.
Keutamaan ini terutama berkait dengan sikap dan perlakuan. Di sini, ada mujahadah.
Ada perjuangan besar yang insya-Allah mulia di hadapan Allah dan mempesona di
hati istri. Kelak, insya-Allah kita akan merasakan keindahannya, di dunia maupun di
akhirat.
Ada banyak mujahadah (perjuangan) pada masa-masa ini. Perjuangan untuk
menyiapkan sekaligus menambah bekal dalam mendampingi suami dan menyusui
anak dengan tenang di tengah malam. Perjuangan untuk menegakkan prasangka yang
baik (husnuzhan) kepada Allah. Pasti Ia menolong, sebagaimana Ia mempertemukan
Zulaikha sebagai istri Yusuf a.s. setelah bertahun-tahun Zulaikha berdoa karena tidak
kuat menahan sakitnya merindukan Yusuf yang dicintainya. Perjuangan untuk tetap
menjadi muslimah yang memiliki komitmen terhadap agamanya. Dan juga,
perjuangan untuk tetap mempertahankan busana muslimah beserta identitas
keislamannya ketika dilanda keraguan, sedang pada saat yang sama mereka yang
menanggalkan hijab juga mengalami masalah yang sama.
Apakah engkau mengira mereka yang berlepas diri, yang bergandengan tangan
dengan pemuda yang ia inginkan, tidak mengalami ketidakpastian? Tidak. Sama
sekali tidak. Insya-Allah engkau lebih tenang. Ketika saya sedang mengerjakan buku
ini, saya menerima berbagai surat. Salah satunya “mengeluhkan” masalah ini.
Seorang cewek mempunyai teman laki-laki. Selama ini keinginannya tak “terlalu
jauh”. Akan tetapi suatu ketika, teman laki-laki itu menginginkan hubungan suamiistri.
Cewek itu menangis terus. Ia bingung (ada saran?).
Zaman memang telah berubah. Gadis-gadis sekarang semakin lambat dewasa.
Padahal mereka mengalami menstruasi (haid) pada usia yang lebih dini dibandingkan
dengan wanita-wanita sebelum mereka. Para lelaki juga tidak banyak dipersiapkan
oleh keluarganya ataupun mempersiapkan dirinya sendiri untuk menjadi dewasa
secara penuh ketika mereka telah melewati usia 20 tahun. Padahal, mereka
mengalami mimpi indah (ihtilam) pada masa yang lebih awal dibandingkan dengan
generasi orangtua mereka. Sementara ihtilam seharusnya –begitu kalau kita
menengok fiqih– menjadi pertanda datangnya masa ‘aqil-baligh (akalnya sampai,
kedewasaan intelektual). Segera sesudah mengalami ihtilam (mimpi indah), mereka
seharusnya sudah siap untuk memikul taklif (pembebanan tanggung-jawab). Salah
satunya, membiayai hidupnya sendiri dan anak orang lain (jika sudah menikah) bagi
laki-laki, selambat-lambatnya pada usia 18 tahun.
Berbagai informasi yang diberikan melalui media massa, penataran, serta iklim
yang tumbuh dalam keluarga, juga banyak yang tidak mendorong mereka untuk siap
mencapai kedewasaan dalam arti yang utuh ketika mereka telah mencapai kemasakan
seksual (sexual maturation). Akibatnya, kedewasaan sekaligus tanggungjawab
mereka terlambat beberapa tahun dibanding kemasakan seksualnya. Apalagi banyak
di antara mereka yang tidak mempunyai bekal ilmu, orientasi, dan misi yang kuat
sebelum mereka mengalami kemasakan seksual. Keadaan ini, acapkali, menimbulkan
Kado Pernikahan 18
reaksi-reaksi impulsif terhadap lawan jenis. Ini menimbulkan beban psikis, meskipun
banyak di antara mereka yang tidak menyadari apa yang terjadi pada dirinya.
Media massa juga kerap menyampaikan informasi yang timpang, searah, tidak
adil, dan kadang bahkan menyesatkan. Media massa menjadikan informasinya
sebagai alat eksploitasi bagi satu kepentingan tertentu (maaf, saya menggunakan kata
“tertentu”) terhadap pembacanya yang berada pada masa rawan ini. Alasan psikologis
dan medis sering digunakan, meskipun tidak sungguh-sungguh memiliki pijakan
ilmiah, sehingga para gadis dan pemuda berada dalam situasi ketakutan ketika akan
melangkah ke pernikahan yang tergolong dini tanpa tahu bagaimana mesti
menyikapinya. Variabel pengaruh seolah-olah hanya terletak pada faktor usia,
padahal usia tidak bisa mengindikasikan tingkat kedewasaan dan tanggungjawab
seseorang. Banyak yang sudah hampir jadi sarjana, usia sudah menginjak 25 tahun,
tetapi pola pikirnya masih sama dengan pola pikir anak SMA.
Saya sering tidak paham (mungkin karena saya tidak tergolong orang jenius)
dengan apa yang berlangsung di sekeliling. Menikah usia muda dikecam dalam
berbagai kesempatan (bahkan melalui jalur ilmiah), akan tetapi kondom dijual bebas
dengan harga murah. Sementara itu, ekspos sumber-sumber rangsang seksual pun
dibiarkan meningkat, terutama melalui TV dan tabloid-tabloid. Kampanye anti
pelecehan digelar habis-habisan, namun demikian pada saat yang sama wanita dipakai
sebagai alat untuk menarik perhatian di berbagai kesempatan resmi. Ironisnya,
kadang-kadang malah dilakukan oleh mereka yang menyerukan sikap anti-pelecehan
terhadap wanita.
Melalui engineering of consent (rekayasa persetujuan) diciptakan image (citra) –
sekaligus rasa takut– bahwa menikah muda hanya dilakukan oleh mereka yang tidak
memiliki intelektualitas tinggi. Menikah muda adalah tindakan orang yang
berpendidikan rendah. Sehingga mereka tidak memiliki kesiapan yang memadai
(coba, apa ukurannya sehingga disebut memadai) untuk menjadi istri dan ibu.
Sementara itu, pada saat yang sama, sekolah dan perguruan tinggi tidak pernah
menyiapkan mereka untuk mengerti dan mencintai tanggungjawab sebagai istri dan
ibu. Ironisnya, berlawanan dengan pernyataan sebelumnya, berkembang citra “untuk
apa berpendidikan tinggi-tinggi sampai jenjang perguruan tinggi kalau hanya untuk
mendidik anak?” Alhasil, mereka menjumpai suami, anak, dan rumahtangganya
sebagai “hanya”. “Hanya” bangunan yang disebut rumah. “Hanya”….
Jadi, ada yang perlu kita cermati dengan kecerdasan tinggi. Ada yang perlu kita
pikirkan di sini.
Sekarang pinangan telah datang. Jawaban atas pinangan itu sedang dinantikan.
Maka pertimbangkanlah matang-matang, dengan melihat berbagai kondisi yang ada
di sekeliling, serta kondisi yang ada di dalam keluarga dan diri sendiri. Ayah perlu
memikirkan kemaslahatan anak gadisnya, sebelum mengambil keputusan. Engkau
pun perlu mempertimbangkan pinangan itu.
Kado Pernikahan 19
Catatan bagi Ayah
Rasulullah pernah bersabda, “Pukullah anak-anak karena meninggalkan sholat
pada usia tujuh tahun, pisahkan tempat tidurnya pada usia sembilan tahun, dan
kawinkanlah pada usia 17 tahun jika memungkinkan. Apabila perkawinan dilakukan,
maka suruhlah si anak duduk di hadapan bapaknya, kemudian katakanlah, ‘Mudahmudahan
Allah tidak menjadikan kamu dalam fitnah di dunia, tidak pula di akhirat’.”
Anak gadis sudah memungkinkan untuk dinikahkan kalau ia dipersiapkan untuk
memasuki masa dewasa sejak awal. Seorang gadis bahkan dapat memiliki kesiapan
dan kedewasaan lebih dini dibanding anak laki-laki. Wanita memang cenderung lebih
cepat matang dibanding laki-laki.
Dari Anas r.a., Rasulullah al-ma’shum bersabda, “Barangsiapa mempunyai anak
perempuan yang telah mencapai usia dua belas tahun, lalu ia tidak segera
mengawinkannya, kemudian anak perempuan tersebut melakukan suatu perbuatan
dosa, maka dosanya ditanggung oleh dia (ayahnya).” (HR. Baihaqi).
Pebuatan dosa. Perbuatan dosa apakah yang menyebabkan ayah ikut
menanggung dosanya? Wallahua’lam bishawab. Jika kita perhatikan, insya-Allah kita
akan mendapat pengetahuan bahwa perbuatan dosa yang seorang ayah ikut
menanggung dosanya bila tidak segera mengawinkan anak perempuannya adalah
dosa-dosa yang berkait dengan dorongan gharizah (naluri) untuk berdekat-dekat
dengan lawan jenis. Pada usia-usia yang rawan ini, gejolak mudah membakar dada.
Akan tetapi, apakah ia sudah memungkinkan untuk dikawinkan?
Saya tidak bisa menjawab. Anda yang lebih tahu siapa anak Anda. Anda yang
lebih tahu bagaimana Anda mempersiapkan anak Anda memasuki masa ‘aqil-baligh.
Apakah persiapan yang Anda berikan melalui pendidikan semenjak kecil telah
mengantarkannya menjadi wanita yang betul-betul mencapai ‘aqil-baligh, taklif
(dewasa dan bertanggungjawab) dan sekaligus telah memiliki keterampilan untuk
menasharufkan harta (manajemen anggaran) di rumah?
Sekarang ia sudah memasuki masa taklif. Jika ia belum terampil, insya-Allah
kelak akan memiliki keterampilan yang diperlukan. Sedang saat ini, yang diharapkan
adalah kepekaan ayah untuk cepat tanggap terhadap apa yang dirasakan oleh anak
gadisnya.
Ketika seorang laki-laki datang meminang, ada beberapa hal yang perlu
dipertimbangkan oleh seorang ayah.
Memperhatikan Agama
Pernah, ada orang bertanya kepada Al-Hasan r.a. mengenai calon suami putrinya.
Kemudian Al-Hasan r.a. menjawab, “Kamu harus memilih calon suami (putrimu)
yang taat beragama. Sebab, jika dia mencintai putrimu, dia akan memuliakannya.
Dan jika dia kurang menyukai (memarahinya), dia tidak akan menghinakannya.”
Dalam sebuah hadis yang sangat terkenal, Rasulullah bersabda:
Kado Pernikahan 20
“Jika datang kepada kalian (hai calon mertua) orang yang kalian sukai
(ketaatan) agamanya dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia (dengan putrimu). Sebab,
jika kamu sekalian tidak melakukannya, akan lahir fitnah (bencana) dan akan
berkembang kehancuran yang besar di muka bumi.”
Kemudian ada yang bertanya,
“Wahai Rasulullah, bagaimana jika orang (pemuda) itu mempunyai (cacat atau
kekurangan-kekurangan)?”
Maka, Rasulullah Saw. menjawab, (mengulangnya tiga kali)
“Jika datang kepada kalian orang yang bagus agama dan akhlaknya, maka
nikahkanlah dia (dengan putrimu)!” (HR Imam Tirmidzi dari Abu Hatim Al-
Mazni).
Pada hadis ini –sampai-sampai Rasulullah Saw. mengulang jawaban tiga kali–
seorang ayah diperingatkan agar memperhatikan orang yang beragama dan berakhlak
bagus. Akhlak yang bagus adalah sebagian tanda-tanda bagusnya agama seseorang.
Tanda ini lebih kuat daripada tanda lainnya, misal pengetahuan agama dan
lingkungan. Dua hal yang disebut terakhir ini menjadi pertimbangan pendukung
mengenai agama dan akhlak orang yang berniat menjadi suami putri Anda.
Seorang ayah bisa mencari pengetahuan mengenai laki-laki yang meminang anak
gadisnya dengan seksama sebelum mengambil keputusan. Antara lain, ia dapat
menanyai orang yang dekat dengan calon menantunya. Ia juga bisa menanyakan
kepada orang-orang yang dapat dipercaya (tsiqah).
Sebelum membicarakan masalah lain, marilah kita renungkan peringatan
Rasulullah Saw. Beliau bersabda, “Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena
silau akan kekayaan laki-laki itu meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak
pernah pernikahan itu akan dibarakahi-Nya.”
Meminta Izin Anak
Pernikahan berkaitan langsung dengan perasaan anak gadis yang insya-Allah
akan mendampingi suaminya seumur hidup. Dialah nanti yang akan merasakan
manis-indahnya pernikahan ataupun pahit-getirnya perpisahan, kalau ternyata cinta
tak bisa tumbuh juga. Oleh karena itu, seorang ayah perlu meminta izin kepada anak
gadisnya sebelum menikahkan. Islam menolak pemaksaan orangtua atas anak gadis
agar mau menikah dengan laki-laki pilihan orangtua, sedang ia sendiri tidak
menyukai. Pemaksaan dapat menjerumuskan anak kepada dosa besar. Minimal dosa
karena tidak taat pada suami, termasuk dalam melayani keinginan suami di tempat
tidur, karena tidak ada kehangatan cinta di hatinya. Padahal, penolakan istri untuk
melakukan hubungan intim termasuk perkara yang sangat dilaknat oleh agama.
Dari Ibnu Abbas, bahwa ada seorang hamba sahaya yang masih gadis datang
kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian dia melaporkan bahwa
dia dikawinkan oleh ayahnya, padahal dia tidak suka terhadap laki-laki pilihan
Kado Pernikahan 21
ayahnya itu. Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memberikan pilihan
terhadapnya. Demikian hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Abu
Daud, Ibnu Majah dan Adz-Dzaruquthni.
Dan dari ‘Aisyah, bahwa ada seorang remaja putri dikawinkan dengan seorang
laki-laki kemudian dia berkata, “Sesungguhnya ayah telah mengawinkanku dengan
anak saudaranya agar kehinaannya dapat terangkat karena aku. Sedangkan aku tidak
menyukainya.”
Kemudian ‘Aisyah berkata, “Duduklah”, sehingga Ra-sulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam datang. Lalu aku mengabarkannya. Kemudian Rasulullah mengutus
seseorang kepada ayahnya untuk mengundangnya ke rumah Rasulullah shallallahu
‘alaihi wa sallam. Kemudian Rasulullah menyerahkan perkara itu terhadap sang gadis
tersebut. Lalu gadis itu berkata, “Ya Rasulullah, sebenarnya aku telah rela terhadap
apa yang telah diperbuat ayahku terhadapku, akan tetapi aku berkeinginan untuk
memberitahukan kepada wanita-wanita tentang sesuatu dalam masalah ini.” (HR
An-Nasa’i).
Maka, sebelum memberi jawaban kepada peminang, tanyakanlah kepada anak
gadis Anda. Rasulullah Saw. bersabda, “Tidaklah seorang janda dikawinkan,
sehingga dia dimintai persetujuannya dan tidak pula seorang gadis hingga dia
dimintai persetujuannya.”
Para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, bagaimanakah persetujuannya?”
Rasulullah menjawab, “Persetujuannya adalah pada saat dia diam.” (HR
Bukhari dan Muslim).
Al-Bukhari dan Muslim juga pernah meriwayatkan dari ‘Aisyah, dia berkata,
“Ya Rasulullah, apakah wanita-wanita harus dimintai persetujuannya jika mereka
akan dikawinkan?”
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab, “Ya”.
Aku bertanya lagi, “Sesungguhnya seorang gadis jika dimintai persetujuannya,
kemudian dia diam, karena malu?” Rasulullah bersabda:
“Diamnya itu adalah persetujuannya.” (HR Bukhari dan Muslim).
Syaikh Yusuf Qardhawi mengingatkan, seorang gadis kadang-kadang merasa
malu untuk menjelaskan tentang persetujuannya itu dan dia juga malu untuk
menampakkan bahwa dia sudah berkeinginan untuk melangsungkan perkawinan.
Sedangkan diamnya itu menunjukkan kebersihannya dari segala penyakit yang dapat
mencegahnya dari hubungan seksual, atau adanya sebab lain yang tidak baik untuk
melangsungkan pernikahan dengan laki-laki itu, di mana sebab-sebab itu tidak ada
seorang pun yang mengetahuinya, kecuali dia sendiri. Wallahu A’lam. Demikian
kutipan saya dari Ruang Lingkup Aktifitas Wanita Muslimah (Al-Kautsar, 1996).
Selain meminta izinnya, berikanlah kesempatan kepadanya untuk mengetahui
siapa calon suaminya, terutama jika calon suami itu pilihan Anda sedang anak gadis
Anda belum mengenalnya. Biarkanlah anak gadis Anda untuk menilai sendiri calon
Kado Pernikahan 22
suaminya, apakah ia menyukai atau tidak. Anda bisa memberikan informasi, memberi
keterangan seperlunya tentang si calon. Tetapi sebaiknya tidak banyak mempersuasi
(membujuk) dengan menampakkan yang baik-baik saja. Sebab persuasi dapat
menimbulkan harapan-harapan yang akan ia peroleh ketika akad nikah telah dilaksanakan.
Sehingga bisa jadi ia mengalami kekecewaan justru karena terlalu tingginya
harapan yang muncul lantaran persuasi Anda. Padahal, pada mulanya ia tak banyak
mengharapkan hal-hal yang tidak mendasar.
Sebagian gadis menikah dengan orang yang belum pernah dikenalnya sama
sekali dan baru melihat laki-laki yang menikahinya ketika akad nikah telah selesai,
yaitu saat pertama kali memasuki kamar pengantin. Mereka ridha dengan suaminya.
Tetapi ini tidak berlaku umum. Sehingga Anda tidak bisa mengambilnya sebagai
hukum yang Anda terapkan begitu saja kepada anak gadis Anda. Anda perlu bersikap
tengah-tengah dan memahami kebutuhan anak gadis Anda, kecuali jika dia telah ridha
dengan pilihan Anda tanpa mensyaratkan apa pun mengenai laki-laki yang akan
menjadi suaminya.
Seorang gadis yang tidak diberi kesempatan untuk mengetahui dan
mempertimbangkan calon suaminya, berhak untuk memutuskan hubungan
perkawinan apabila ia tidak rela terhadap suami pilihan ayahnya. Kesempatan
mengetahui ini meliputi hal-hal yang berkenaan dengan segi lahiriah maupun segisegi
yang lebih bersifat psikis dan agama dari si calon suami.
“Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami-istri) tidak dapat menjalankan
hukum-hukum Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang
diberikan oleh istri untuk menebus dirinya.” (QS Al-Baqarah: 229).
Kasus gagalnya perkawinan karena istri belum mengetahui calon suaminya
pernah terjadi di masa Rasulullah. Ketika menikah, Hadiqah tidak pernah bertemu
dengan Tsabit bin Qais kecuali pada malam pengantin mereka. Sang istri sangat
terkejut dengan suami yang dijumpainya pada malam pengantin itu dan secara
spontan timbul keinginan untuk berpisah.
Hadiqah berkata kepada Rasulullah, “Tampaklah apa yang tidak saya ketahui
pada malam pengantin kami. Saya pernah melihat beberapa orang laki-laki, namun
suami saya adalah laki-laki yang paling hitam kulitnya, pendek tubuhnya, dan paling
jelek wajahnya. Tidak ada satu kebagusan pun yang saya temui pada dirinya. Saya
tidak mengingkari kebagusan akhlaknya dan agamanya, ya… Rasulullah, tetapi saya
takut menjadi kafir jika tak bercerai darinya. Saya takut jika terus-menerus maksiat
padanya karena ketidaktaatan saya pada suami, dan saya tahu itu menyalahi perintah
Allah Swt.”
Rasulullah Saw. memanggil Tsabit dan berkata kepadanya, “Temui istrimu,
Hadiqah dan ceraikan ia sebagaimana layaknya, biarkan mahar itu menjadi haknya.”
Kisah Hadiqah dan Tsabit bin Qais ini juga disampaikan oleh Imam Bukhari
dalam shahihnya. Sesungguhnya, kata Ibnu Abbas, istri Tsabit bin Qais telah
menghadap kepada Nabi Saw. Ia berkata, “Ya Rasulullah, saya tidak mencela
Kado Pernikahan 23
akhlak dan agamanya, tetapi saya tidak mau kufur dalam Islam.” Maka Rasulullah
Saw. bersabda, “Maukah Anda mengembalikan kebun-kebunnya?”
Ia menjawab, “Ya.”
Maka Rasulullah Saw. bersabda (kepada Tsabit), “Terimalah kebun itu, dan
talaklah istrimu itu satu kali.”
Ada hadis lain yang meriwayatkan kisah Tsabit bin Qais ini. “Amr bin Syu’aib
dari ayahnya, dari kakeknya r.a. dalam riwayat Ibnu Majah; Sesungguhnya Tsabit bin
Qais itu adalah orang yang buruk rupa dan bentuknya, dan istrinya berkata, “Kalau
saya tidak takut pada Allah, tentu saya ludahi muka suami saya itu apabila
mendatangi saya”. Dan dalam riwayat Ahmad dari hadis Sahal bin Abi Hasmah,
“Dan kejadian itu adalah permulaan khulu’ dalam Islam.”
Khulu’ merupakan hak istri untuk meminta cerai karena sebab tertentu yang
kuat.
Jadi, sebelum menikahkan anak gadis Anda dengan laki-laki yang meminangnya,
tanyakan dulu apakah ia setuju atau tidak. Berikan kesempatan padanya untuk
mengetahui calon suaminya agar lebih dapat mengekalkan hubungan kalau ia ternyata
rela dan menyukai. Ada pun kalau ia tidak menyukai, ini lebih baik daripada terlanjur
menikah. Kalau sudah terlanjur, silaturrahmi bisa rusak.
Meminta Pertimbangan Istri
“Berkonsultasilah terhadap wanita-wanita dalam masalah anak-anak
perempuan,” kata Rasulullah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam sebuah
hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Imam Abu Daud. Dalam hadis ini
terdapat rawi yang majhul, tetapi banyak hadis yang maknanya senada dengan hadis
ini. Begitu Syaikh Yusuf Qardhawi memberi keterangan.
Al-Imam Abu Sulaiman Al-Khaththabi memberikan beberapa catatan penting
dalam menyampaikan kesimpulan mengenai hadis-hadis tersebut.
Beliau mengatakan, “Berkonsultasilah dengan kaum ibu dalam masalah
perkawinan anak-anak perempuan mereka, bukan berarti bahwa mereka mempunyai
wewenang terhadap akad nikah tersebut. Akan tetapi dipandang dari segi kebaikan
dan perbaikan terhadap diri mereka dan dalam segi menggauli mereka dengan baik.
Dan karena upaya itu lebih dapat mengekalkan persahabatan dan akan dapat
menimbulkan rasa cinta kasih di antara anak-anak gadis mereka dengan sang suami.
Hal ini dapat terjadi jika akad nikah itu atas dasar kerelaan dari ibu-ibu mereka
dan sesuai dengan keinginan mereka. Dan jika akad pernikahan itu di luar kerelaan
ibu-ibu mereka, maka bisa jadi ibu-ibu mereka merongrong suami mereka. Dia juga
akan menimbulkan kerusakan terhadap hati anak gadisnya. Sedangkan anak-anak
perempuan, biasanya lebih cenderung terhadap ibu-ibu mereka dan akan lebih
menerima perkataan yang datangnya dari ibu-ibu mereka.
Kado Pernikahan 24

Pernikahan itu sangat sensitif.
Apa saja yang ada dalam proses menuju pernikahan maupun fase-fase awal
pernikahan,
mudah membangkitkan perasaan yang kuat,
negatif maupun positif.

Dengan adanya permasalahan yang seperti ini, maka berkonsultasi dengan sang
ibu adalah sunnah hukumnya dalam masalah akad pernikahan anaknya. Wallahu
A’lam.”
Beliau juga pernah berkata, “Dan terkadang juga hal itu menjadi penting oleh
karena adanya alasan-alasan tertentu, selain apa yang telah kita sebutkan di atas.
Dan hal itu karena mungkin seorang wanita lebih mengetahui tentang masalahmasalah
khusus yang terdapat pada diri anak-anak perempuan, atau juga dapat
mengetahui tentang kejadian-kejadian yang rahasia, di mana (kalau) anak
perempuannya itu melangsungkan pernikahan dengan orang tersebut, maka hal itu
tidak akan berlangsung lama atau tidak akan memberikan kebaikan. Sedang alasanalasan
itu berada pada ibunya tersebut. Dan adanya penyakit dapat menggagalkan
terlaksananya hak-hak pernikahan. Pendapat ini adalah sesuai dengan sabda
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam,
“Jangan kamu kawinkan seorang gadis, kecuali dengan seizinnya. Sedangkan
persetujuannya adalah diamnya.”
Ketika bertemu Musa a.s., Syafura sangat terkesan oleh sikap dan perilakunya. Ia
tidak menunjukkan perasaannya kepada Musa a.s. karena rasa malu yang besar.
Tetapi ia menceritakan kepada ayahnya, Nabiyullah Syu’aib a.s. Kelak, Nabi Syu’aib
menikahkan putrinya dengan Musa a.s. yang di kemudian hari juga menjadi Nabi.
Putri Anda barangkali juga mempunyai perasaan-perasaan serupa. Ada seseorang
yang memiliki tempat khusus di hatinya. Ada laki-laki yang begitu berarti baginya,
meskipun ia tidak menunjukkan gelagat di hadapan Anda maupun di hadapan lakilaki
yang telah memunculkan kesan membekas dalam jiwanya. Ada halangan
kejiwaan yang membuatnya tidak berani menceritakan kepada Anda. Meski masih
ada rasa malu, kadang-kadang ia berani terbuka pada ibunya atau neneknya tentang
rahasia-rahasia yang ia simpan rapat-rapat. Ia berani mengungkapkan bahwa hatinya
telah terpaut dengan seorang laki-laki, yang barangkali berbeda dengan laki-laki yang
sempat dipikirkan ayahnya untuk dijodohkan dengannya.
Dan jika laki-laki yang disukainya itu datang untuk mengawini anak perempuan
itu, kata Syaikh Yusuf Qardhawi, maka orang itulah yang akan didahulukan dan
diterima pinangannya. Sebagaimana yang diisyaratkan di dalam sebuah hadis shahih:
Kado Pernikahan 25
Khat Arab
Belum pernah terlihat bagi dua orang yang bercinta seperti pernikahan.
Kuatnya ikatan perasaan antara dua hati, dapat kita baca pada kisah pernikahan
Abdurrahman bin Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. dengan Atikah binti Amr bin Nufail.
Abu Bakar pernah mengkhawatirkan anaknya sehingga khawatir kalau perasaan
anaknya yang begitu kuat terhadap istrinya, Atikah, akan mengalahkan pikiran dan
agamanya. Ia kemudian menyuruh Abdurrahman untuk menceraikan Atikah, tetapi
Abdurrahman tidak sanggup melakukan. Abu Bakar terus mendesak, sampai akhirnya
Abdurrahman tidak mampu menghadapi perintah ayahnya. Tetapi perceraian tidak
pernah bisa melemahkan ikatan perasaan dua orang yang diliputi kerinduan.
Perpisahan tidak mematikan perasaan Zulaikha kepada Yusuf dan tetap menantikan
perjumpaan dengan Yusuf, meskipun kecantikannya telah banyak dimakan usia.
Perceraian Abdurrahman juga demikian. Ia tidak bisa melupakan kelembutan dan
ketinggian akhlak Atikah. Ia mengadukan cekaman perasaannya kepada Allah dengan
bersyair:
“Demi Allah tidaklah aku melupakanmu
Walau matahari kan terbit meninggi
“Dan tidaklah terurai air mata merpati itu
kecuali berbagi hati
“Tidak pernah kudapatkan orang sepertiku
mentalak orang seperti dia,
Dan tidaklah orang seperti dia
Ditalak karena dosanya
“Dia berakhlak mulia, beragama
dan bernabikan Muhammad,
Berbudi pekerti tinggi
bersifat pemalu dan halus tutur katanya
Perpisahan tidak melemahkan ikatan perasaan. Ia justru semakin kuat dengan
disirami air mata. Melihat rintihan tangis anaknya, Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak tega
hatinya. Kepada anaknya ia mengatakan, “Wahai anakku, rujuklah engkau kepadanya
kalau memang engkau tidak dapat melupakannya.”
Maka, rujuklah Abdurrahman kepada Atikah, istri yang sangat dicintainya.
Mereka hidup dalam rumah tangga yang penuh dengan kebahagiaan hingga
Abdurrahman mencapai syahid pada perang Tha’if. Konon, ketika mendengar kabar
syahidnya Abdurrahman, Atikah sangat sedih disebabkan dalamnya rasa cinta kepada
Kado Pernikahan 26
Abdurrahman. Tetapi kecintaannya terhadap Abdurrahman, tidak menghalanginya
untuk melepas Abdurrahman pergi berjihad. Inilah ketinggian Atikah. Wallahu A’lam
bishawab.
Ikatan perasaan demikian kuat. Anak gadis Anda barangkali telah terpaut hatinya
kepada seseorang yang ia rela terhadapnya. Ia berharap dapat menemani hidupnya
sebagai istri shalihah, sekalipun ia belum pernah bertegur sapa. Ia mempunyai
perasaan itu, mempunyai cita-cita tentang rumah tangga yang akan dibangunnya.
Sekali saat, barangkali ia menceritakan isi hatinya kepada neneknya, kepada ibunya
saat ia menemukan kesempatan untuk berbicara dari hati ke hati, kepada saudara
perempuan yang lebih tua, atau kepada bibinya. Seringkali, seorang gadis
mempercayakan rahasia hatinya kepada mereka. Karena itu, bertanyalah kepada
mereka agar keputusan Anda lebih dekat kepada maslahat dan jauh dari madharat dan
mafsadah (kerusakan).
Musyawarah
Banyak hadis yang menunjukkan keutamaan musyawarah. Al-Qur’an juga
memberi perhatian kepada pentingnya musyawarah. Allah Swt berfirman, “Dan
bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila kamu telah
membulatkan tekad maka bertawakallah kepada Allah.” (QS Ali Imran: 159).
Ada musyawarah. Kemudian, ada tawakal yang mengikuti. Yang disebut terakhir
ini seringkali tertinggal, tidak mengikuti hasil musyawarah.
Tak mudah memang. Karena itu, silakan Anda mencari sendiri pembahasan
mengenai tawakal ini.
Ada syarat-syarat musyawarah. Musyawarah dengan orang yang memenuhi
syarat, dapat memberi manfaat dan lebih dekat dengan maslahat dan keselamatan
akhirat, bahkan keselamatan dunia. Tetapi musyawarah dengan orang yang tidak
memenuhi syarat, justru lebih dekat kepada madharat dan mafsadat. Imam Abu
‘Abdillah mengingatkan, musyawarah dengan orang yang tidak memenuhi syarat
lebih besar bahayanya dibanding manfaatnya.
Pembahasan lebih lanjut tentang musyawarah, silakan Anda cari di buku lain.
Saya kira, cukuplah pembahasan saya tentang musyawarah. Semoga bermanfaat.
Catatan bagi Wanita yang Dipinang
“Suatu hari yang lain,” begitu cerita seorang akhwat dalam suratnya, “Allah
mempertemukan saya dengan seorang akhwat yang sedih dengan setumpuk
masalahnya. Dengan sedih ia berkata, ‘Alangkah enaknya kalau saat ini ada suami…’
Mengapa? Dan bagaimana suami dapat meringankan kesedihannya?”
“Mengapa suami? Karena adanya keyakinan bahwa suami dapat membimbing
untuk mencintai Allah. Dan karena pendekatan suami lebih dari hati ke hati, dengan
kasih sayang, maka lebih menyentuh untuk dilakoni.”
Kado Pernikahan 27
“Masalahnya, bagaimana kriteria suami yang seperti itu?”
Saya kadang-kadang menerima pertanyaan tentang bagaimana memilih suami
yang baik, suami yang dapat membimbing istri dalam menjalani kehidupan bersama
sebagai satu keluarga yang saling mencintai. Pada suatu seminar, pertanyaan
mengenai ini berkembang ke arah yang lebih mendasar lagi. Pertanyaan itu dikaitkan
dengan janji Allah bahwa wanita yang baik adalah bagi laki-laki yang baik dan begitu
pula sebaliknya.
Allah Swt berfirman:
Khat Arab
“Dan perempuan-perempuan yang keji adalah diperuntukkan bagi laki-laki
yang keji, dan laki-laki yang keji juga diperuntukkan bagi perempuan yang keji,
sedangkan perempuan-perempuan yang baik diperuntukkan bagi laki-laki yang baik
dan laki-laki yang baik juga diperuntukkan bagi perempuan-perempuan yang baik…”
(QS An-Nur:26).
Pembahasan tentang ini memerlukan ruang yang khusus. Pada kesempatan ini
insya-Allah saya membahas sedikit saja sejauh yang saya mampu. Dan sesungguhnya,
pengetahuan yang haq hanya di sisi Allah. Wallahul Musta’an.
Sekarang, ketika pinangan telah datang, apa yang perlu engkau perhatikan
sebagai bahan pertimbangan.
Agama Calon Suami
Baik laki-laki maupun perempuan, diperingatkan agar memilih pendamping
hidup atas dasar agama calonnya. Sebagian orang menempatkan peringatan ini dalam
derajat yang paling ringan. Asal seagama, dianggap telah memenuhi ketentuan untuk
memilih berdasarkan agama calonnya. Sebagian orang bertanya, “Kenapa agama?”
“Kadang-kadang, orang yang agamanya baik memperlakukan istri dengan cara
yang buruk. Sikapnya kepada orang lain juga tidak menyenangkan. Padahal, ia rajin
ke masjid, shalat, puasa, dan banyak mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan. Tetapi,
mereka tidak memperlakukan istri dan anak-anaknya dengan baik.”
“Sebaliknya, orang-orang yang tidak begitu mengenal agama, sikapnya kepada
istri justru sangat baik. Perhatiannya kepada istri, besar sekali. Kadang mereka malah
bisa menjadi sahabat yang enak diajak bicara oleh istri dan anak-anaknya.”
Pertanyaannya, apakah yang dimaksud dengan beragama? Apakah mereka yang
lebih utama agamanya adalah mereka yang luas pengetahuan agamanya? Jika ini yang
dimaksud, sesungguhnya para orientalis memiliki pengetahuan agama yang lebih luas
daripada kebanyakan kita saat ini. Penulis kamus bahasa Arab yang menjadi
pegangan standar sekarang, Al-Munjid, adalah Louis Ma’luf, seorang orientalis.
Kado Pernikahan 28
Kalau begitu, bagaimana menentukan ukuran bahwa calon suami yang datang
meminang termasuk laki-laki yang beragama? Wallahu A’lam bishawab. Agama
meliputi tauhid yang merupakan intinya dan syari’at sebagai aturan-aturan baku yang
lebih bersifat zhahir. Tauhid hidup dalam iman. Iman adalah perkara qalbiyyah
(rahasia hati). Orang tidak dapat melihat derajat iman seseorang. Orang tidak bisa
menilai aqidah-qalbiyyah (urusan keyakinan dalam hati) orang lain.
Tetapi, keyakinan hati mempengaruhi sikap dan perilaku. Keagamaan seeorang
insya-Allah dapat dilihat melalui amal perbuatannya. Ada berbagai petunjuk As-
Sunnah yang dapat dipakai untuk “menerka” agama dari laki-laki yang datang
meminang Anda.
Rasulullah Saw. bersabda, “Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah
yang paling baik akhlaknya.” (HR Ahmad dan Abu Daud).
Dalam hadis lain yang bersumber dari ‘Aisyah r.a., dari Nabi dikatakan,
“Sesungguhnya kelembutan tidak menghinggapi sesuatu kecuali
memperindahnya dan tiada dicabut dari sesuatu melainkan memperburuknya.”
(HR. Muslim).
Rasulullah Saw. juga bersabda:
“Sesungguhnya seorang hamba yang berakhlak baik akan mencapai derajat dan
kedudukan yang tinggi di akhirat, walau ibadahnya sedikit.” (HR Thabrani dengan
sanad baik).
Masih banyak hadis yang menunjukkan tanda-tanda keimanan melalui sikap,
perilaku dan ketinggian moral. Tanda-tanda ini yang dapat engkau perhatikan ketika
seorang pemuda meminangmu. Ada tanda lain yang dapat engkau perhatikan,
terutama berkait dengan tanggungjawabnya kelak sebagai kepala rumah keluarga.
Misal, bagaimana sikapnya terhadap upaya mencari nafkah pada saat ini, sedang ia
masih menuntut ilmu di perguruan tinggi.
Pembahasan lebih lanjut insya-Allah kita lakukan pada sub judul Kemandirian
Ekonomi.
Seorang ulama mengatakan bahwa, tidak mungkin mengetahui keberagamaan
seseorang melalui shalat dan puasa serta sebagian ritual agama. Keimanan dalam
beragama, dapat diketahui melalui aspek-aspek akhlak, penjagaan hak-hak orang lain,
dan sikap menghindarkan orang lain dari kezaliman-kezaliman dirinya. Adakalanya
ketika seseorang berpuasa, sangat takut kemasukan air setetes sehingga tidak berani
berkumur. Tetapi ia tidak takut melanggar hak-hak orang lain. Begitu KH.
Abdurrahman Wahid pernah mencontohkan.
Peringatan Imam Abu ‘Abdillah dapat Anda pertimbangkan ketika menilai
agama calon suami Anda. Beliau pernah berkata, “Janganlah kalian tertipu dengan
shalat mereka dan puasa mereka. Sesungguhnya mungkin ada seseorang yang
mengerjakan shalat dan puasa sampai-sampai seandainya ia meninggalkannya, ia
merasa takut. Tetapi, amatilah mereka dalam kebenaran bicara dan penunaian
amanat.”
Kado Pernikahan 29
Ada contoh yang ekstrem tentang masalah ini. Abu Said Al-Khudri, salah
seorang sahabat terkenal, mengatakan bahwa Abu Bakar pernah bercerita di hadapan
Nabi. Saat itu Abu Bakar menuturkan pengalamannya ketika melintasi padang pasir
dan melihat seorang lelaki berwajah tampan sedang melakukan shalat dengan
khusyuk.
“Pergi dan bunuhlah orang itu,” tukas Nabi.
Abu Bakar segera pergi menemukan lelaki yang itu masih dalam keadaan seperti
semula, shalat dengan khusyuk. Abu Bakar jadi ragu untuk membunuhnya. Akhirnya
ia kembali.
Nabi kemudian memanggil Umar bin Khaththab.
“Pergilah ke sana dan bunuhlah lelaki itu!” perintah Nabi kepada Umar.
Umar pun segera pergi ke sana. Umar melihat lelaki itu sedang larut dalam
ibadah. Umar tidak sampai hati membunuhnya. Akhirnya ia pun kembali menghadap
Nabi.
“Wahai Nabi, yang aku lihat adalah lelaki yang sedang shalat dengan sangat
khusyuk. Aku tidak tega membunuhnya,” ujar Umar.
Nabi akhirnya menyuruh Ali untuk membunuhnya.
Ali segera pergi ke sana, tetapi ia tidak menemukan lelaki itu. Ali kembali
menghadap Nabi, lalu memberitahukan hal itu kepada beliau.
Nabi berkata, “Orang itu dan kawan-kawannya membawa Al-Qur’an hanya
sampai tenggorokan. Mereka telah keluar dari agama bagai anak panah melesat dari
busurnya. Bunuhlah mereka! Karena mereka adalah seburuk-buruk makhluk di muka
bumi.” (Shahih Muslim).
Ketika mendapatkan pinangan, engkau juga bisa memperhatikan tanda-tanda
membekasnya agama pada diri calon suami berkait dengan kewajiban-kewajibannya
terhadapmu kelak.
Ketika seseorang bertanya kepada Rasulullah tentang hak istri, beliau bersabda:
“Memberikan makanan kepadanya apabila engkau makan, memberikan pakaian
apabila engkau berpakaian, jangan memukul wajah, jangan mengatakan wajah
engkau buruk, dan jangan menghukum (tidak menanyainya) kecuali di dalam rumah,
yakni jangan memindahkannya ke rumah lain kemudian tidak ditanyainya di dalam
rumah tersebut.” (HR Ahmad, Abu Daud, Ibnu Hibban, dan dishahihkan oleh Al-
Hakim).
Penjelasan Al-Fakhrurrazi mengenai fazhzhan dan ghalizhal-qalbi ketika
menjelaskan surat ‘Ali Imran ayat 159-160, menarik untuk kita simak. Asbabun nuzul
(sebab turunnya) ayat ini sebenarnya sama dengan ayat-ayat sebelumnya surat ini,
yaitu berkenaan dengan perang Uhud. Tetapi, kali ini kita akan mengambil pelajaran
dari Al-Fakhrurrazi mengenai fazhzhan dan ghalizhal-qalbi untuk mengetahui
Kado Pernikahan 30
keberagamaan calon suami, orang yang akan memimpinmu jika engkau
menerimanya.
Kata Al-Fakhurrazi, “Kalau kita belum paham perbedaan antara fazhzhan dan
ghalizhal-qalbi, perhatikanlah contoh ini. Mungkin ada orang yang akhlaknya tidak
jelek. Tidak pernah mengganggu orang lain. Lidahnya tidak pernah menyakiti orang
lain. Hanya saja, dalam hatinya tidak pernah ada rasa kasihan kepada orang lain.
Orang ini tidak kasar, namun dalam hatinya tidak ada rasa kasih-sayang. Ia tidak
fazhzhan, tetapi ghalizhal qalbi. Kedua sifat ini tidak boleh menempel pada diri
seorang pemimpin. Dia tidak boleh berperilaku yang menganggu orang lain dan juga
tidak boleh mempunyai hati yang keras. Karena itu, “Sekiranya kamu ini
bertingkahlaku kasar dan hati kamu keras, maka orang-orang itu akan lari darimu.”
Seorang yang beragama, tidak bersifat fazhzhan. Juga tidak ghalizhal qalbi. Jika
dua sifat ini tidak ada pada dirinya, insya-Allah dia akan memiliki akhlak yang lemah
lembut. Meskipun begitu, ada perbedaan yang besar sekali antara sifat lemah lembut
dengan menampakkan kelembutan. Mengenai hal ini, hatimu yang lebih tahu.
Wallahu A’lam bishawab.
Insya-Allah, engkau juga bisa melihatnya ketika meminang. Kalau ia
meminangmu dalam rangka berpoligami, engkau dapat menilai alasannya dari
alasannya berpoligami, sikapnya terhadap istri dan keseimbangannya antara harapan
terhadapmu dan sikapnya terhadap istrinya terdahulu. Jika ia berpoligami karena
menurutnya istri terdahulu tidak memiliki akhlak yang baik sebagai istri, engkau
dapat menilainya dari bagaimana ia mengungkapkan hal itu kepadamu. Sebagian di
antara caranya menceritakan, merupakan tanda apakah ia akan menjaga rahasiamu
ataukah menunjukkan tidak ada rasa cemburu di hatinya kalau rahasia istrinya
diketahui orang lain.
Tanda-tanda keberagamaan yang bersifat akhlaqi insya-Allah lebih utama,
termasuk di dalamnya sikap dan semangatnya terhadap agama. Seorang yang
bersemangat dan memiliki sikap yang baik, insya-Allah lebih mudah menyerap ilmuilmu
agama yang belum ia punyai.
Akhir-akhir ini, sebagian orang telah menyempitkan batasan agama kepada yang
dianggap sefikrah saja. Atau bahkan lebih sempit lagi se-harakah atau se-halaqah.
Padahal, kesamaan harakah atau halaqah tidak menandakan tingkat kematangan
dalam beragama. Ada banyak aspek yang perlu diperhatikan. Saya sempat khawatir,
pola interaksi pada sebagian kelompok cenderung mengarah kepada kerahiban.
Kemandirian Ekonomi
Seorang laki-laki seharusnya telah mampu membiayai hidupnya sendiri sejak
memasuki masa taklif, yaitu usia 15 tahun menurut sistem penanggalan qamariyyah
atau lunar system. Selambat-lambatnya usia 18 tahun, seharusnya ia sudah berusaha
untuk memenuhi kebutuhan hidupnya dengan hasil keringatnya sendiri, walaupun
orangtua masih mampu membiayai dan sekaligus masih mau membiayai.
Kado Pernikahan 31
Ketika menikah, ia mempunyai kewajiban untuk menafkahi istrinya, termasuk di
dalamnya makan, minum, pakaian, dan tempat tinggal dengan cara yang baik. Setelah
menikah, orangtua tidak mempunyai kewajiban memberi nafkah terhadap anak
perempuannya. Kebutuhan ekonomi seorang wanita menjadi tanggungan suami.
Adapun kalau orangtua memberi, itu bersifat shadaqah. Tidak wajib.
Tetapi, marilah kita simak hadis berikut. Rasulullah Saw. bersabda, “Sedekah
tidak halal buat orang kaya dan orang yang masih mempunyai kekuatan dengan
sempurna.” (HR Tirmidzi).
Karena itu, seorang laki-laki hendaknya berusaha mandiri. Apalagi ketika ia
telah mempunyai niat untuk menikah, bahkan telah meminang. Berusaha untuk
memenuhi kebutuhan ekonomi diri sendiri dan keluarga adalah suatu kehormatan,
sehingga seseorang lebih bisa menegakkan kepala ketika ada sesuatu yang harus
disikapi. Ketergantungan secara ekonomi kepada keluarga, bisa melahirkan tekanan
psikis dan konflik-konflik yang pelik manakala seseorang telah menikah.
Kemandirian ini perlu saya bahas di sini mengingat pentingnya masalah.
Sebagian laki-laki berharap menikah, akan tetapi hendak menggantungkan kebutuhan
ekonominya kepada keluarga. Di antara mereka bahkan ada yang bersikap agak apatis
terhadap usaha mencari sendiri penghasilan yang halal, sebelum menyelesaikan
pendidikan di perguruan tinggi. Ada pikiran untuk tetap meminta kiriman orangtua,
dan mengharapkan agar orangtua istrinya juga tetap mengirimkan biaya hidup setiap
bulannya.
Sikap ini melemahkan keberanian untuk bertanggungjawab terhadap istri yang
dinikahinya. Tanggung jawab tidak hanya berkait dengan kewajiban untuk memenuhi
kebutuhan ekonomi, melainkan mencakup pula berbagai tanggung jawab lain yang
juga bersifat penting dan mendasar bagi kehidupan bersama dalam rumah tangga.
Sikap ini potensial untuk menimbulkan konflik, terutama konflik psikis bagi istri.
Harga diri dan rasa percaya diri sebagai keluarga sulit untuk ditegakkan. Dengan
demikian ketergantungan secara ekonomi melahirkan ketidakberdayaan pada aspekaspek
lain yang seharusnya dibangun berdua dalam rumah-tangga yang mesra.
Mereka mempunyai posisi yang lemah di hadapan orangtua, mertua, saudara, kerabat
lain, dan bahkan mereka lemah di hadapan dirinya sendiri. Kepercayaan istri terhadap
integritas pribadi suami juga kurang bisa terbangun.
Dampak dari keadaan ini sangat luas, khususnya terhadap pembentukan orientasi
keluarga dan kesiapannya untuk memberikan pendidikan kepada anak menurut apa
yang dipandang maslahat dan ideal. Kurang terbangunnya rasa percaya diri sekaligus
harga diri sebagai keluarga, mempengaruhi citra mereka tentang keluarga mereka
sendiri. Ini mempengaruhi mereka dalam memberi pengasuhan kepada anak, sehingga
bisa melahirkan pola-pola sikap yang kurang sesuai dalam mengasuh anak. Sejak dari
child-abuse (kekejaman terhadap anak), pengabaian anak sampai ketidakpekaan
orangtua terhadap kebutuhan psikis anak. Kalau ditarik lagi, akan terdapat rentetan
dampak psikis yang lain.
Kado Pernikahan 32
Lalu, bagaimana kalau orangtua berinisiatif untuk tetap membiayai anaknya
masing-masing agar kuliahnya dapat diselesaikan dengan baik? Tidak masalah dan
bahkan baik, sejauh suami tetap mempunyai keinginan untuk tidak menggantungkan
diri sepenuhnya kepada kiriman orangtua. Sekalipun kenyataannya, hampir seratus
persen masih tetap berasal dari orangtua masing-masing. Tetapi niat yang kuat untuk
tidak menggantungkan sepenuhnya, merupakan bentuk adanya tanggung jawab. Inilah
yang paling penting.
Rasulullah Saw. bersabda, “Terlaknatlah orang yang membebankan semua
kebutuhannya kepada orang lain.”
Terkadang, inisiatif menikah berasal dari orangtua demi menyelamatkan anaknya
dari kekejaman maksiat. Mereka menawarkan untuk tetap membiayai kuliah sampai
selesai sekaligus memberi biaya hidup. Ini adalah sikap yang baik dan terpuji. Insya-
Allah, kelak mereka akan menjumpai upayanya sebagai kemuliaan di akhirat.
Allahumma amin.
Tetapi, kesediaan orangtua tertentu –ada yang bahkan mengajukan inisiatif–
untuk membiayai keluarga yang baru dibangun oleh anak mereka, tidak bisa menjadi
ukuran agar orangtuanya juga memberi perlakuan yang sama terhadap keluarganya.
Kalau pun orangtua ternyata menjaminkan biaya hidup, mestinya ia juga tetap
memiliki keinginan yang kuat untuk mencari nafkah yang halal dan thayyib agar yang
masuk ke perut istri, kelak janin yang dikandung istrinya hingga saatnya lahir, adalah
harta yang halal dan utama.
Islam menunjukkan sikap yang sangat menghargai kesungguhan seorang pemuda
memenuhi kebutuhan ekonominya sendiri. Rasulullah Saww. bersabda:
“Ibadah itu ada tujuh puluh bagian, yang paling utama adalah mencari (rezeki)
yang halal.”
Rasulullah Saw. juga bersabda:
“Mencari rezeki yang halal adalah kewajiban sesudah kewajiban shalat.”
Pada hadis yang lain, Rasulullah Saww. bersabda, “Tidak seorang pun makan
makanan yang lebih baik daripada yang dihasilkan dari hasil kerja tangannya
(sendiri).” (HR Bukhari).
Rasulullah Saw. juga bersabda:
“Orang yang minta-minta padahal tidak begitu menghajatkan, sama halnya
dengan orang yang memungut bara api.” (HR Baihaqi dan Ibnu Khuzaimah dalam
shahihnya).
Imam Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan sebuah hadis shahih, bahwa
Rasulullah Saw. bersabda, “Selalu minta-minta itu dilakukan oleh oleh seseorang di
antara kamu, sehingga dia akan bertemu Allah, dan tidak ada di mukanya sepotong
daging.” (HR Bukhari dan Muslim).
Rasulullah Saw. juga menegaskan:
Kado Pernikahan 33
“Barangsiapa merasa lelah karena bekerja sehari suntuk untuk mencari rezeki
yang halal, niscaya diampuni segala dosanya.”
Ketika seseorang telah diampuni segala dosanya, maka Allah akan mencurahkan
rahmat-Nya. Ia menjadi penjaga dan pelindung. Dan Allah adalah sebaik-baik
pelindung. Kalau Allah yang memberi penjagaan, insya-Allah kelak akan lahir dari
rahim istri anak-anak yang takwa lagi suci sebagaimana do’a suami ketika pertama
kali memegang kening istrinya. Insya-Allah mereka akan menjadi anak yang memberi
bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah. Sedang di akhirat mereka
akan menjadi penolong bagi orangtuanya selagi orangtuanya tetap beriman, meski
derajat amalnya tidak sebanding dengan derajat amal anaknya. Nanti, simaklah Ar-
Ra’d ayat 23.
Oleh karena itu, ketika datang pinangan, perhatikan apakah calon suami Anda
telah mandiri. Kalau tidak, apakah calon suami Anda selama ini telah berusaha
mandiri dan mempunyai iktikad untuk mandiri.
Barangkali ia belum mempunyai penghasilan yang memadai. Tetapi pilihan
sikapnya untuk mandiri, insya-Allah menjadi petunjuk tentang kesiapannya memikul
tanggung jawab sebagai suami dan kelak sebagai ayah. Seorang suami yang
bertanggung jawab lebih berarti dan lebih dekat dengan keselamatan dunia-akhirat
serta kemesraan keluarga. Insya-Allah, kehadiran Anda kelak sebagai istri,
memudahkan pertolongan Allah terhadap datangnya rezeki yang mencukupi
kebutuhan-kebutuhan keluarga. Mencukupi kebutuhannya yang besarnya barangkali
tak terbayangkan dapat dipenuhinya ketika calon suami Anda belum menikah seperti
sekarang ini.
Allah akan menolong. Insya-Allah.
Ada beberapa hadis yang menunjukkan hal ini.
Rasulullah Saw. bersabda, “Carilah oleh kalian rezeki dalam pernikahan (dalam
kehidupan berkeluarga).” (HR Imam Ad-Dailami dalam Musnad Al-Firdaus).
Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah bersabda, “Tiga orang yang akan selalu
diberi pertolongan oleh Allah adalah seorang mujahid yang selalu memperjuangkan
agama Allah Swt., seorang penulis yang selalu memberi penawar, dan seorang yang
menikah demi menjaga kehormatan dirinya.” (HR Thabrani).
Dalam hadis lain dengan derajat shahih, Rasulullah Saww. bersabda:
“Tiga golongan orang yang pasti mendapat pertolongan Allah, yaitu budak
mukatab yang bermaksud untuk melunasi perjanjiannya, orang yang menikah
dengan maksud memelihara kehormatannya, dan yang orang berjihad di jalan
Allah.” (HR Turmudzi, An-Nasa’i, Al-Hakim dan Daruquthni).
Di dalam Al-Qur’anul Karim, Allah Swt. telah berfirman, “Dan kawinkanlah
orang yang sendirian diantara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari
hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan.
Kado Pernikahan 34
Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya.” (QS An-
Nur:32).
Berkenaan dengan ayat ini, Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. berkata, “Taatlah kepada
Allah dalam apa yang diperintahkan kepadamu yaitu perkawinan, maka Allah akan
melestarikan janji-Nya kepadamu yaitu kekayaan. Allah telah berfirman; ‘jika mereka
miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya'”. (Dikeluarkan oleh
Ibnu Abi Hatim, dari Ad-Dur Al-Mantsur).
Ada perkataan dari Umar bin Khaththab yang dapat Anda renungkan. Beliau
berkata, “Sungguh aku memaksakan diri bersetubuh dengan harapan Allah akan
mengkaruniakan dariku makhluk yang akan bertasbih dan mengingat-Nya.”
Dan Umar pun menganjurkan, “Perbanyaklah anak, karena kalian tidak tahu
dari anak yang mana kalian mendapatkan rizki.”
Akhirnya, marilah kita menengok sebuah hadis Nabi. Luruskanlah niat dan
tumbuhkan keyakinan. Mudah-mudahan dengan jernihnya pikiran dan bersihnya hati
ketika mempertimbangkan pinangan seorang pemuda yang akhlaknya tidak engkau
ragukan, sedangkan kemampuannya memenuhi ma’isyah saat ini masih belum mapan,
mendekatkan pada pertolongan-Nya.
Mari kita simak hadis ini, mudah-mudahan Allah memasukkan keyakinan dan
husnuzhan kepada-Nya.
Rasulullah Muhammad Saw. diriwayatkan berkata,
“Kawinkanlah orang-orang yang masih sendirian di antara kamu, sesungguhnya
Allah akan memperbaiki akhlak mereka, meluaskan rezeki mereka, dan menambah
keluhuran mereka.”
Allah Maha Luas Pertolongan-Nya. Maha Luas.
Ada Ladang Amal Shalih
Pernikahan adalah keagungan yang diberikan Tuhan kepada manusia. Di
dalamnya ada keindahan dan ketenteraman. Di dalamnya ada rasa cinta kepada
kekasih yang menemukan tamannya. Di dalamnya juga ada ladang amal shalih.
Jodoh ada di tangan Tuhan. Kadang-kadang seorang wanita mendapatkan
pendamping yang sekilas menurut pandangan mata zhahir manusia, tidak sepadan
ilmu maupun ibadahnya. Wanitanya sangat khusyuk dalam beribadah, kuat
menegakkan shalat malam –barangkali seperti Rabi’ah Asy-Syamiyah– dan tinggi
ilmu agamanya. Sedangkan laki-laki yang menikahinya, ternyata tidak sebanding
dalam hal ilmu maupun ibadah.
Sebaliknya juga bisa terjadi. Laki-lakinya sangat luas pengetahuannya mengenai
kitab-kitab yang berisi ilmu-ilmu agama. Bekas shalatnya tampak di kening. Tetapi
istrinya sekilas tidak mencapai kedudukan yang sederajat karena ilmu dan ibadahnya
yang kurang.
Kado Pernikahan 35
Ada pertanyaan, mengapa demikian? Jawab saya sederhana, wallahu a’lam
bishawab. Allah Maha Bijaksana. Ia mengetahui kebaikan-kebaikan besar yang tidak
nampak dalam penglihatan mata akal kita. Sebagian dari pernikahan semacam itu
adalah ujian, kecuali jika mereka memang memilih bukan atas dasar agama. Mereka
menikahi laki-laki atau wanita yang tidak sepadan karena mengejar kemuliaan, harta,
atau martabat. Tentang ini Rasulullah telah memperingatkan agar kita tidak
terjerumus ke dalamnya.
Tetapi, adakalanya pernikahan semacam ini berlangsung tidak karena dorongandorongan
rendah seperti itu. Pernikahan yang sepintas tidak seimbang itu, membuka
ladang amal shalih yang tidak bisa dilakukan oleh mereka yang belum menikah.
Tugas suami memang memberi pendidikan dan pengarahan kepada istri. Tetapi ketika
istri mempunyai pengetahuan agama yang lebih banyak, dia dapat mengajarkan
kepada suaminya apa-apa yang belum diketahui suaminya, dengan niat berbakti
kepada suami dalam rangka mencari ridha Allah. Insya-Allah, pada pernikahan yang
semacam ini Allah melimpahkan barakah dan kelak memberikan keturunan yang
memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah.
Seorang istri yang mengajarkan beberapa pengetahuan agama kepada suaminya,
perlu berhati-hati agar tidak terjatuh kepada sikap meninggikan diri di hadapan suami.
Sehingga ia tidak mendengarkan kata-kata suaminya dan tidak menaati. Juga, seorang
wanita shalihah perlu menjaga diri benar-benar agar sikapnya tidak menjauhkan
suami dari ibunya sedemikian sehingga si suami lebih mendengar kata-kata istrinya
dan mengabaikan nasehat ibunya.
Seorang suami yang memiliki ilmu agama yang lebih tinggi dari istri, dapat
menjadi pegangan bagi istri untuk bertanya hal-hal yang tidak diketahuinya. Suami
yang demikian ini perlu memiliki sifat yang penuh kasih-sayang, membimbing dan
ridha ketika mendidik dan mengarahkan istrinya. Mudah-mudahan istri dapat belajar
kepada suaminya bagaimana memberikan pengajaran dan pendidikan kepada anakanak
yang lahir dari rahimnya, kelak ketika Allah telah menjadikan dia merelakan
rasa sakitnya untuk melahirkan.
Setiap ilmu yang sampai kepada manusia dan diamalkan, maka Allah
mengalirkan pahala kepada yang menyampaikan tanpa mengurangi pahala yang
melaksanakan sedikit pun. Kalau amalan suami yang diridhai Allah berawal dari ilmu
yang disampaikan istri, maka baginya pahala sebanyak yang dilakukan oleh suami
tanpa terkurangi. Demikian juga sebaliknya, istri yang mengerjakan kebajikan setelah
mendapatkan pendidikan dari suaminya, maka Allah akan mencatat kebaikan yang
sama. Insya-Allah, di sinilah ilmu akan barakah sampai anak-cucu.
Kalau suami-istri itu adalah ahli ibadah, insya-Allah mereka dapat saling
membantu dalam ketakwaan. Kalau istri sudah menjadikan shalat malam sebagai
perhiasan hidupnya, sedangkan suami masih belum terbiasa, istri dapat membiasakan
suaminya untuk mulai menegakkan shalat malam. Demikian pula bagi seorang suami,
ia dapat membimbing istri untuk melakukan shalat malam di rumah. Adapun kalau
keduanya belum terbiasa untuk shalat malam, mereka dapat saling membantu.
Kado Pernikahan 36
Ada banyak hadis yang dapat kita renungkan, misalnya hadis yang diriwayatkan
oleh Nasa’i, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban di dalam shahihnya serta al-Hakim, bahwa
Rasulu-llah bersabda, “Barangsiapa bangun malam dan membangunkan istrinya
kemudian keduanya shalat dua raka’at –Nasa’i menambahkan, berjama’ah– maka
keduanya ditulis di antara orang-orang lelaki dan orang-orang perempuan yang
banyak berzikir”. (Al-Hakim berkata: shahih menurut syarat Bukhari dan Muslim.
Muhammad Nashiruddin Al-Albani menyatakan, hadis ini shahih).
Pembahasan lebih lanjut insya-Allah kita lakukan pada bab Keindahan Yang
Lebih Besar, di bagian dua jendela kedua buku ini. Saat ini, yang penting adalah
memeriksa sikap calon suami yang datang meminang Anda. Sikap dan semangat yang
baik, insya-Allah lebih dapat mengantarkan suami-istri kepada jalan kebaikan. Betapa
banyak orang yang mempunyai pengetahuan luas, tetapi kurang memiliki keyakinan.
Jadi, inilah jawaban saya atas pertanyaan sebagian akhwat mengenai (calon)
suami yang ilmu agamanya kurang atau suami yang ilmu agamanya jauh lebih tinggi.
Di luar itu, saya ingin menambahkan. Kita tidak bisa mengukur tinggi tidaknya
derajat ketakwaan seseorang. Ada kalanya seseorang mencapai derajat yang tinggi
bukan karena banyaknya ibadah yang dilakukan maupun luasnya pengetahuan yang
dimiliki. Ia mencapai derajat yang lebih tinggi karena kejujurannya dalam berdagang
maupun hati yang tidak pernah memiliki prasangka buruk kepada saudaranya sesama
muslim, misalnya. Allahu A’lam bishawab wallahul musta’an.
Nikah dan Menuntut Ilmu
Islam memandang pernikahan sebagai kemuliaan yang sangat tinggi derajatnya.
Allah menyebut ikatan pernikahan sebagai mitsaqan-ghalizha (perjanjian yang sangat
berat). Hanya tiga kali istilah ini disebutkan dalam Al-Qur’an, dua lainnya berkenaan
dengan tauhid. Sedang tauhid adalah inti agama.
Islam menganjurkan ummatnya untuk menikah. Demikian tingginya kedudukan
pernikahan dalam Islam, sehingga menikah merupakan jalan penyempurnaan separuh
agama. Rasulullah Saw. bersabda, “Apabila seorang hamba telah berkeluarga,
berarti dia telah menyempurnakan separuh dari agamanya. Maka takutlah kepada
Allah terhadap separuh yang lainnya.” (HR Ath-Thabrani).
Islam juga meletakkan penghormatan yang sangat tinggi terhadap ilmu dan orang
yang menuntutnya. Banyak sekali hadis shahih maupun hasan yang menunjukkan
keutamaan menuntut ilmu. Dalam surat Al-Mujadilah, Allah Swt. telah berfirman,
“Allah mengangkat derajat orang-orang beriman dan orang-orang berilmu
beberapa derajat.”
Shafwan bin ‘Assal al-Muradi r.a. mengatakan bahwa Rasulullah Saw. pernah
bersabda, “Selamat datang kepada penuntut ilmu, sesungguhnya penuntut ilmu
dikitari oleh para malaikat dengan sayap-sayapnya kemudian sebagian mereka
menaiki sebagian yang lain hingga mencapai langit dunia karena kecintaan mereka
kepada apa yang ia tuntut.” (HR Ahmad dan Thabrani).
Kado Pernikahan 37
“Menuntut ilmu adalah wajib atas setiap muslim,” kata Rasulullah Saw. dalam
hadis shahih yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dan lainnya. Menuntut ilmu wajib
atas setiap muslim, laki-laki maupun perempuan, sejak lahir hingga masuk ke liang
lahat. Menikah juga diarahkan untuk tetap utuh dalam keluarga yang sakinah
mawaddah warahmah sampai kematian menjemput mereka. Mudah-mudahan
keduanya akan mendapati pernikahan sebagai jalan yang diridhai Allah dan
mengantarkan kepada keselamatan dari pedihnya siksa api neraka.
Pernikahan dan menuntut ilmu diharapkan untuk seumur hidup. Maka mestinya
keduanya berjalan seiring. Menuntut ilmu seharusnya lebih memberikan kesiapan dan
bekal bagi penuntutnya untuk menikah, serta menegakkan kehangatan keluarga.
Menuntut ilmu seharusnya mendorong seseorang untuk lebih bersemangat menikah,
dan lebih yakin terhadap janji Allah kepada orang yang menikah demi
menyelamatkan kehormatannya dari lawan jenis yang masih belum halal. Sementara
menikah, seharusnya membuat orang lebih matang dalam berilmu. Seharusnya, ….ya
seharusnya…!
Seharusnya, pernikahan dan mencari ilmu bisa berjalan beriringan. Tidak saling
mengacaukan. Insya-Allah, pernikahan tidak menjadikan orang tidak bisa menuntut
ilmu. Kurangnya gairah menuntut ilmu, bukanlah karena melakukan pernikahan.
Rasanya, agak mustahil Allah menyerukan dua hal yang sama-sama mulia, tetapi
sifatnya justru saling bertentangan (Mudah-mudahan anggapan saya ini tidak salah).
Kalau kita mau lebih jujur sedikit saja, insya-Allah kita akan mendapati bahwa
masalahnya bukan terletak pada status pernikahannya. Sesekali tengoklah rumah kost
mahasiswa di Yogya. Anda akan menemukan jam Belajar Masyarakat, Pukul 19.00-
21.00. Tapi, ini bukan jam belajar mahasiswa, sebab ujian masih jauh. Padahal
mereka hidup sejahtera dengan shadaqah tetap dari orangtua.
Dengan demikian, mudah-mudahan keinginan mencari ilmu tidak membuat
Anda mempersulit pernikahan. Pertimbangkanlah masak-masak madharat dan
mafsadahnya jika Anda berat untuk menerima pinangan semata-mata karena ingin
tetap menuntut ilmu, sedangkan Anda telah memiliki kesiapan dan mempunyai bekal
yang cukup. Saya khawatir, menunda-nunda pernikahan karena alasan ini sementara
mental telah siap, justru melahirkan madharat. Antara lain kompleks psikis yang
berat.
Sekali saat, luangkanlah waktu untuk merenungkan masalah ini sejenak.
Pikirkanlah secara jernih. Apalagi pada masa-masa yang rawan fitnah seperti
sekarang ini.
Ukhty fillah, marilah kita berdo’a semoga Allah menjernihkan hati kita setelah
kita berkali-kali jatuh dalam kekeruhan jiwa dan pekatnya zhan yang kurang baik.
Mengenai Syarat Nikah
Terkadang, kata Syaikh Abu Bakr Jabir Al-Jazairi, seorang wanita mensyaratkan
kepada orang yang meminangnya dengan persyaratan tertentu agar bisa menikahinya.
Kado Pernikahan 38
Syarat itu adakalanya menegakkan dan memperkuat akad nikah. Adakalanya merusak
akad nikah, misalnya tidak boleh menjima’ sebelum lulus kuliah. Adakalanya, wanita
mengajukan persyaratan yang keluar dari masalah tersebut seluruhnya.
Syarat nikah adakalanya berasal dari keinginan calon mempelai wanita. Tetapi,
adakalanya berasal dari kehendak orangtua atau anggota keluarga lain. Keinginan itu
kemudian dibebankan kepada anak gadisnya agar mempersyaratkan kepada calon
suami yang akan menikahinya.
Islam membolehkan wanita mengajukan syarat-syarat nikah kepada calon
suaminya ketika melakukan akad. Jika Anda termasuk yang berkeinginan untuk
mengajukan beberapa persyaratan kepada orang yang meminang Anda, silakan baca
bab “Di manakah Wanita-wanita Barakah Itu?” di bagian satu jendela pertama buku
ini. Saya berharap kepada Allah, mudah-mudahan saya bisa membahas masalah ini
lebih mendalam. Adapun tinjauan menurut fiqih, silakan periksa buku-buku lain yang
telah menjelaskan masalah ini dengan sangat baik.
Wallahu A’lam bishawab.
Pada bab ini, cukuplah saya kutipkan sebuah hadis. Rasulullah bersabda,
“Seorang wanita yang penuh barakah dan mendapat anugerah Allah adalah yang
maharnya murah, mudah menikahinya, dan akhlaknya baik. Namun sebaliknya,
wanita yang celaka adalah yang mahal maharnya, sulit menikahinya, dan buruk
akhlaknya.”
Dari ‘Aisyah r.a., bahwa Rasulullah bersabda, “Nikah yang paling besar
barakahnya adalah yang paling kecil maharnya.”
Nikah yang paling besar barakahnya bukan yang sangat besar maharnya,
sehingga menimbulkan decak kagum pada tetangga dan kenalan, serta perasaan takut
dan gemetaran pada orang-orang berikutnya yang mau nikah. Nikah yang paling besar
barakahnya bukan yang paling banyak hadiahnya, sehingga menimbulkan perasaan
malu bagi saudara-saudara dan kerabat yang menikah tanpa hadiah sebesar itu dari
calon suaminya.
Jadi, begitulah. Selebihnya, wallahu A’lam bishawab.
Menyampaikan Isi Hati Kepada Ibu
Anda mungkin mempunyai pandangan mengenai pernikahan yang agak berbeda
dengan yang banyak dipahami masyarakat, khususnya orangtua. Anda menghendaki
tata cara yang menurut Anda lebih Islami, misalnya. Sementara yang demikian ini
masih kurang dikenal.
Perbedaan pandangan itu bisa jadi karena Anda telah belajar lebih banyak, bisa
jadi karena pengetahuan Anda masih kurang sehingga belum bisa bersikap di tengahtengah.
Jika tidak dikomunikasikan, perbedaan ini bisa mendatangkan masalah.
Membicarakannya jauh-jauh hari, bahkan ketika pinangan belum tiba, insya-Allah
lebih dekat dengan kemaslahatan dan membuahkan kesejukan bagi semua pihak.
Kado Pernikahan 39
Demikian juga pandangan mengenai suami yang baik dan insya-Allah dapat
membahagiakan Anda. Suami yang dapat menjadi teman hidup dan menyiapkan
perbekalan menuju kampung akhirat.
Atau…? Anda mungkin telah mempunyai perasaan tentang siapa kiranya laki-laki
yang paling sesuai di hati Anda untuk teman pulang ke kampung akhirat, seandainya
ada orang-orang yang ingin bersungguh-sungguh menemani Anda. Barangkali, seperti
Syafura putri Nabi Syuaib, di dalam hati Anda telah tertambat harapan kepada
seseorang yang menurut Anda tsiqah (bisa dipercaya). Sementara Anda gelisah, apa
yang paling maslahat (membawa kebaikan) untuk dilakukan.
Atau, ada rahasia-rahasia lain yang tidak layak bagi saya untuk mengetahuinya,
padahal masalah itu sangat berarti bagi Anda.
Ada bagian-bagian rahasia hati yang dapat Anda simpan sendiri. Meskipun
demikian, ada sejumlah rahasia hati yang sebaiknya Anda kemukakan pada orang
terdekat, selagi belum datang pinangan. Sampaikan rahasia hati Anda yang
menyangkut masalah penting dalam hidup Anda kepada ibu. Jika malu, Anda bisa
menyampaikan kepada nenek. Bisa juga kepada tante atau kakak wanita yang telah
memiliki pengalaman hidup. Mereka insya-Allah dapat bersikap bijaksana. Sehingga
kalau ada masalah yang Anda anggap pelik, mudah-mudahan Allah memudahkan
jalan keluarnya.
Kalau orangtua melihat ada madharat dan mafsadat yang mungkin terjadi dalam
masalah Anda, insya-Allah mereka dapat memikirkan jalan keluarnya. Sehingga,
Anda akan mendapat pemecahan terbaik.
Mereka telah memiliki pengalaman hidup. Bagi anak perempuan, seorang ayah
memiliki hak perwalian. Tidak sah nikah tanpa wali. Ada berbagai hadis yang
menunjukkan hal ini. Silakan Anda periksa. Semoga Allah Swt. memberikan hidayah
dan ilmu kepada kita, sehingga kita menjadi orang-orang yang yakin. Orang-orang
yang memahami hikmah di balik disyariatkannya wali pernikahan seorang anak gadis.
Komunikasikanlah rahasia hati Anda, termasuk pandangan Anda tentang
pernikahan. Komunikasikanlah secara lemah lembut dengan pembicaraan yang
memuliakan mereka. Sehingga ketika masanya tiba, insya-Allah semua berjalan
dengan penuh kemaslahatan, barakah dan melegakan semua pihak.
Allahu A’lam bishawab.
Komunikasikanlah baik-baik. Mudah-mudahan semuanya berujung pada
kebaikan dunia-akhirat. Allahumma amin.
Jangan Buka Pintu Lagi
Suatu ketika seorang akhwat datang dengan membawa masalah. Seorang lakilaki
yang baik agamanya, begitu menurut akhwat tersebut, telah meminangnya dan
dengan tangan terbuka diterima. Tetapi karena sesuatu dan lain hal (sekedar
menirukan gaya panitia ketika menyampaikan kabar tentang pembicara yang tidak
Kado Pernikahan 40
bisa datang), pernikahan belum bisa diselenggarakan segera. Masih perlu waktu
untuk melengkapi keperluan nikah.
Dalam masa penantian, secara informal ada ikhwan lain datang dengan maksud
untuk meminang. Ketika diberitahu bahwa telah ada yang meminang dan sekarang
sedang dalam penantian, ikhwan kita ini mengatakan tak masalah. Bukankah belum
ada akad nikah? Kalau nanti di tengah jalan ternyata peminang pertama jadi
menikahi, maka dia akan mundur dengan senang hati. Karena itu, tak ada salahnya
kan kalau mencoba-coba untuk menjajagi kemungkinan menikah? Toh, kalau
peminang pertama memang serius bisa mundur sewaktu-waktu. Sementara kalau
tidak jadi, dia bisa maju.
Tapi, mencabut perasaan dan keputusan ternyata tak semudah mencabut duri
dalam daging. Sekarang keduanya berkeinginan untuk segera menikah dengan
sahabat kita ini dan kedua-duanya siap untuk segera melangsungkan pernikahan.
Persoalan ini semakin sulit dipecahkan karena sahabat kita merasa kedua-duanya
baik. Selain itu, sangat tidak mudah untuk menyuruh salah satu mundur karena
keduanya sudah melangkah agak jauh. Ikhwan yang pertama telah meminta dan
orangtua kedua belah pihak telah saling mengadakan pembicaraan.
Pembaca,
Ketika persoalan ini dihadapkan kepada saya, tidak ada jalan keluar yang saya
tawarkan kepada saudara kita ini. Saya berada dalam perasaan yang tidak jelas. Saya
hanya teringat pesan Rasulullah shallaLlahu ‘alaihi wasallam agar tidak meminang
wanita yang sedang berada dalam pinangan saudaranya. Perintah yang ada dalam
hadis Nabi itu ditujukan kepada kaum laki-laki. Tetapi, saya rasa (ya, saya rasa)
wanita pun perlu membantu saudaranya –yakni laki-laki Muslim– agar tak
meminangnya ketika ia sedang berada dalam pinangan, terutama ketika pinangan itu
telah positif dinyatakan diterima.
Marilah sejenak kita tengok hadis Nabi Saw. ini. Nabi kita yang mulia telah
mengingatkan:
Khath Arab
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir r.a. bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Orang mukmin
adalah saudara orang mukmin yang lain. Maka tidak halal bagi seorang mukmin
menjual barang yang sudah dibeli saudaranya, dan tidak halal pula meminang
wanita yang sudah dipinang saudaranya, sehingga saudaranya itu
meninggalkannya.” (HR Jama’ah).
Rasulullah juga bersabda:
Khath Arab
Kado Pernikahan 41
Dan dari Abu Hurairah r.a., dari Nabi Saw. beliau bersabda, “Jangan hendaknya
lelaki meminang wanita yang telah dipinang orang lain, sehingga orang itu
melangsungkan perkawinan atau meninggalkannya (tidak jadi).” (HR Ahmad dan
Muslim).
Apa arti pesan Rasulullah itu bagi kita? Jawaban pertama adalah wallahu A’lam
bishawab. Saya tidak tahu apa-apa tentang soal ini. Sesudah itu, mari kita periksa apa
hikmah di balik peringatan untuk tidak meminang pinangan saudaranya sesama
Mukmin ini. Mari kita ingat perkataan Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha
mengenai pernikahan sebelum kita melangkah lebih dalam. Kata ‘Aisyah r.a.,
“Pernikahan itu sangat sensitif, dan tergantung kepada pribadi masing-masing untuk
mendapatkan kemuliaannya.”
Pernikahan itu sangat sensitif. Hampir setiap hal yang bersangkutan dengan
nikah sangat sensitif. Hampir setiap tahap dan proses peka terhadap munculnya sikap
maupun perasaan-perasaan tertentu secara khusus, baik yang dinyatakan ataupun
tidak. Apa saja yang ada dalam proses menuju pernikahan maupun fase-fase awal
pernikahan, mudah membangkitkan perasaan yang kuat, negatif maupun positif.
Padahal, lembaga pernikahan sangat agung. Lembaga pernikahan sangat
mempengaruhi bagaimana orang-orang yang ada di dalamnya serta anak-anak yang
dilahirkan kelak akan tumbuh. Secara umum, lembaga pernikahan sebagian besar
masyarakat akan menentukan corak masyarakat yang terbentuk.
Kekecewaan dalam pernikahan, terutama proses-proses paling awal dari
pernikahan, sangat mudah mempengaruhi sikap orang yang bersangkutan terhadap
lawan jenis, ikatan pernikahan, kepercayaan terhadap sesama manusia, dan bahkan
agama –khususnya dalam perkara mengimani prinsip-prinsip agama. Secara khusus,
cacat dalam proses awal –di antaranya perasaan dilecehkan karena keluarga calon
istri menerima pinangan dari orang lain– dapat mengakibatkan sikapnya kelak kepada
istri dan anak-anaknya menjadi tidak baik. Sedangkan bagi peminang kedua –
seandainya kelak menikah dengan peminang kedua– sikap keluarga/calon istri juga
merupakan tanda yang yang tidak baik. Kepercayaan sulit dibangun. “Benar, saat ini
saya yang menang. Tapi apa yang dapat menjamin bahwa istri saya ini nanti akan
memiliki kesetiaan, sedangkan ludah yang sudah ditumpahkan saja ia masih mau
menjilat kembali.”
Ini salah satu kemungkinan saja. Kemungkinan yang lain boleh jadi bukan
sesuatu yang pasti buruk. Tuhan Sangat Kuasa untuk menentukan peristiwa yang
sama sekali lain dibanding perhitungan-perhitungan ‘aqliyyah (akal) manusia. Hanya
saja, sejauh yang mampu saya baca, itulah kemungkinan yang bisa terjadi.
Mudah-mudahan kejadiannya tidak sampai seperti itu. Pintu-pintu Allah masih
terbuka, seandainya hati kita mampu mengetuk-Nya. Mudah-mudahan Allah
memperbaiki keadaan kita dan menghapus kesalahan-kesalahan kita dengan
memperjalankan diri kita beserta keturunan kita ke dalam golongan orang-orang yang
suka berbuat baik. Mu-dah-mudahan Allah kelak mematikan kita, orangtua kita,
Kado Pernikahan 42
teman hidup kita, saudara-saudara kita, sahabat-sahabat kita serta orang-orang yang
dekat kita dalam keadaan memperoleh ampunan dan ridha Allah.
Setiap kita mempunyai kemungkinan untuk melakukan kesalahan, bahkan yang
lebih besar lagi. Mudah-mudahan kita bisa merenungkan lebih dalam tentang urusan
agama kita, setahap demi setahap.
Mengapa Engkau Persulit Dirimu?
Banyak saudara-saudara kita yang harus berkeringat deras untuk bisa mencapai
pernikahan. Banyak yang bingung harus bagaimana lagi agar desakan untuk menikah
bisa surut, sementara puasa sudah dijalaninya dengan istiqamah. Banyak yang harus
melewatkan malam-malamnya dengan perasaan gelisah yang memuncak, sehingga
kadang harus diteduhkan dengan air mata, demi menenangkan hati dari kerinduan
bersanding dengan teman hidup. Banyak yang terbangun dari tidurnya yang tidak
nyenyak untuk merintih kepada Tuhan, “Ya Allah, hadirkanlah bagiku istri yang
menjadi penyejuk mataku dari sisi-Mu.”
Atau, “Ya Allah, hampir-hampir tak kuat hamba-Mu ini menahan keinginan
untuk menikah. Ya Allah, inilah hamba-Mu mengadu kepada-Mu.”
Banyak yang resah. Dan kemudian Allah menolongnya. Tetapi ada juga yang
dimudahkan jalannya oleh Allah untuk menikah. Di saat ada orang-orang yang harus
jatuh bangun menghadapi kesulitan, ia dengan ringan dilapangkan jalan untuk
menikah. Pada saat ada sejumlah orang yang dihimpit kesedihan karena keinginan
untuk menikah semasa masih kuliah tak bisa terlaksana, justru ada yang
menyembunyikan pernikahan karena alasan-alasan yang tak prinsip. Padahal kita
dianjurkan untuk segera mengumumkan pernikahan. Walimah, salah satu fungsinya
adalah untuk mengabarkan kepada masyarakat tentang pernikahan kita. Adakanlah
walimah walau hanya dengan seekor kambing. Kalau tak mampu, dengan
menyembelih seekor ayam pun bisa, yang penting kabar pernikahan kita
tersampaikan. Bahkan lazim di sebagian masyarakat Jawa Timur walimah nikah
diselenggarakan tanpa memotong kambing ataupun ayam.
Mengumumkan nikah bisa merupakan bentuk syukur kita kepada Allah yang
telah menyempurnakan setengah dari agama kita. Juga untuk menghindarkan saudarasaudara
kita dari fitnah dan tindakan memfitnah kita. Alhasil, mengapa kau
sembunyikan pernikahanmu jika tidak ada alasan yang prinsip untuk membuatmu
harus merahasiakan pernikahanmu? Mengapa…?
Berbicara tentang walimah, ada beberapa hal yang perlu mendapat perhatian. Di
sebagian masyarakat, pernikahan sudah bukan lagi bentuk syukur kepada Allah
dengan mengharap do’a barakah dari para tamu untuk mempelai berdua. Pesta
pernikahan sudah menjadi pertaruhan status sosial, sehingga perhitungan-perhitungan
penilaian sosial menjadi sangat diperhatikan.
Dan demi prestise maupun mempertahankan gegap-gempita acara, sebuah
pernikahan yang Islami harus tercoreng oleh cacat yang bisa mengurangi barakah
Kado Pernikahan 43
(mudah-mudahan Allah mengampuni). Demi mendapatkan hasil rias yang
menakjubkan (kita ini memang suka membesarkan diri sendiri, ya) atau menjaga agar
riasan tidak luntur, kadang ada yang secara sengaja meninggalkan shalat. Kadang
pengantin harus repot dengan riasan-riasan yang memenuhi wajah dan kepalanya
ketika ia tetap shalat, karena prosesi merias tetap dilaksanakan menjelang waktu
shalat.
Ironis sekali. Di saat Allah menyempurnakan setengah dari agama kita dengan
memberi kemudahan bagi kita untuk menikah, kita justru mengecilkan asma’ Allah.
Padahal setiap shalat ketika selalu bertakbir. “Hanya Engkaulah ya Allah Yang Maha
Besar dan Maha Lebih Besar….”
Masih banyak yang bisa kita bicarakan tentang masalah ini. Tapi karena bab ini
bukan tentang walimah, maka pembahasan lebih lanjut tentang masalah ini kita tunda
dulu. Insya-Allah kita akan mendiskusikannya nanti pada bab Memasuki Malam Zafaf
di jendela kedua buku ini.
Sebelum saya akhiri bab kita ini, saya masih ingin mengingat satu hal lagi
berkenaan dengan walimah. Di masyarakat kita, akhir-akhir ini mulai terjadi
kecenderungan menjadikan walimah untuk “investasi”. Penyelenggaraan walimah
secara sengaja diorientasikan hampir semata-mata untuk mendapatkan uang yang
mencukupi untuk kebutuhan hidup beberapa saat. Seorang akhwat bahkan mengeluh,
orangtua mengizinkan dia menikah sebelum lulus dengan catatan pesta nikah harus
diadakan besar-besaran dengan perhitungan bahwa dari pesta nikah itu akan
terkumpul banyak sekali uang. Dari uang yang terkumpul ini nanti bisa
didepositokan, sehingga bunganya bisa diambil setiap bulan untuk biaya hidup
keluarga baru itu sehari-hari.
Jalan pikiran semacam ini kelihatan tepat dan runtut. Tetapi semakin besar dan
mewah pesta pernikahan yang dilangsungkan, tidak menjadi jaminan sama sekali
bahwa akan semakin besar juga isi amplop yang akan diberikan oleh para tamu.
Apalagi dalam situasi seperti sekarang. Oleh karena itu, mengadakan walimah besarbesaran
dengan perhitungan seperti itu, saya khawatikan justru akan meninggalkan
kekecewaan yang besar manakala uang yang didapat tidak cukup untuk
didepositokan. Lebih-lebih kalau sampai “tekor” (merugi) dalam jumlah yang besar,
sedangkan modal penyelenggaraan walimah diperoleh dari hutang, sehingga yang
tersisa dari pesta pernikahan itu boleh jadi justru tangis dan kesedihan yang panjang.
Hari-hari selanjutnya, kecemasan tentang bagaimana melunasi hutang akan terus
mengejar. Mudah-mudahan tidak sampai kehabisan nafas.
Artinya apa? Pesta pernikahan janganlah justru menjatuhkan kita ke dalam
madharat dan mafsadah yang besar. Jangan karena perhitungan tentang isi amplop,
kita justru menjadi tidak percaya kepada Allah; tidak percaya bahwa Allah menjamin
rezeki kita setiap bulan, bahkan setiap hari, setiap jam dan setiap detik. Janganlah
pesta pernikahan menjadikan kita berubah, dari berharap kepada rezeki Allah beralih
mengharapkan bunga dari deposito bank (padahal bank saja tidak bisa menjamin
nasibnya sendiri dari kebangkrutan).
Kado Pernikahan 44
Saya teringat dengan teman saya. Di daerahnya, sudah mulai lazim dalam
undangan nikah dicantumkan permintaan agar tidak membawa kado, cukup amplop
saja. Karena sudah disarankan oleh shahibul bayt (tuan rumah) untuk membawa
amplop saja, berangkatlah mereka ke pesta pernikahan itu dengan menyiapkan
amplop masing-masing. Keluarga mempelai wanita pun berbahagia bahwa tamutamunya
membawa amplop.
Tapi malang tak dapat ditolak. Untung tak bisa diraih. Setelah dibuka, banyak
amplop yang kosong (“Tidak salah mereka,” kata istri saya. “Kan mereka disuruh
bawa amplop?”).
“Masih untung kalau isi uang seratus perak. Ini kosong sama sekali,” kata teman
saya cerita.
Di luar itu, ada persoalan lebih mendasar yang membuat sikap mencari dana
untuk didepositokan itu tidak tepat. Persoalan itu bukan terletak pada perhitunganperhitungan
ekonomi yang ternyata kemungkinannya untuk “impas” atau “rugi”
memang sangat besar. Persoalan yang lebih mendasar ada pada masalah adab, akhlak,
aqidah dan khususnya persangkaan kita kepada Allah serta keadaan hati kita tentang
apa yang seharusnya dicita-citakan dalam menikah. Andaikan ternyata hasil akhir
pesta nikah itu kerugian, lalu menyebabkan hutang membengkak, saya khawatir
pengantin yang baru menikah beserta orangtua dan anggota keluarga yang lain
senantiasa disibukkan oleh impian-impian, di samping kecemasan-kecemasan
berkenaan dengan masalah hutang.
Kado Pernikahan 45
Bab 3
Mengenai
Sumber Informasi dan
Perantara
uatu ketika, Amirul Mukminin Umar bin Khaththab r.a. ingin menilai
seorang laki-laki yang datang kepada beliau memohon agar diberi jabatan
dalam pemerintahan. Umar r.a. berkata kepadanya, “Bawa orang yang
mengenalmu ke sini!”
Lelaki itu pulang dan kembali membawa seorang teman. Lalu Umar r.a. bertanya
kepada orang itu, “Apakah kau kenal orang ini?”
“Ya.”
“Apakah kau tetangganya, dan tahu keadaan yang sebenarnya?” Umar r.a.
bertanya.
“Tidak,” kata orang itu.
“Apakah kau pernah menemaninya dalam perjalanan, sehingga kau tahu pasti
perangai dan akhlaknya…”
“Tidak.”
“Apakah kau pernah berhubungan masalah uang dengan orang itu, sehingga kau
tahu bahwa dia sangat takut memakan barang yang haram?”
“Tidak”.
“Apakah kau hanya mengenalnya di masjid ketika dia berdiri dan duduk di
masjid?”
“Ya”.
“Enyahlah kau dari sini. Kau tidak mengenalnya…!”
Lalu Umar r.a. menoleh kepada laki-laki yang datang kepadanya itu dan berkata,
“Bawa lagi orang yang benar-benar mengenalmu ke sini.”
S
Kado Pernikahan 46
Dalam riwayat lain dikatakan, ada seseorang berkata kepada Amirul Mukminin
Umar r.a. bahwa di fulan itu seorang yang jujur. Maka Amirul Mukminin bertanya,
“Apakah kau pernah menempuh perjalanan bersamanya?”
“Tidak”.
“Apakah pernah terjadi permusuhan antara kau dan dia?” tanya Umar bin
Khaththab.
“Tidak.”
“Apakah kau pernah memberinya amanat?”
“Tidak.”
“Kalau begitu,” kata Umar r.a., “kau tidak mengenalnya selain melihatnya
mengangkat dan menundukkan kepalanya di masjid.”
Kisah percakapan Umar bin Khaththab ini saya angkat dari buku Memilih Jodoh
dan Tatacara Meminang dalam Islam (GIP, 1995) karya Husein Muhammad Yusuf
ketika membicarakan tema cara memilih suami yang baik.
Dalam dua riwayat tersebut, Umar memeriksa apakah orang yang dihadapkan
kepadanya memenuhi syarat untuk menjadi sumber informasi mengenai seseorang.
Dalam proses pernikahan, pihak calon pengantin perempuan seringkali membutuhkan
sumber informasi. Kadang, sumber informasi ini sekaligus menjadi perantara
(comblang) yang mengusahakan pertemuan dua pihak menjadi satu keluarga. Sering
juga, calon pengantin membutuhkan informasi dari berbagai sumber informasi di luar
perantara.
Selama proses menuju pernikahan, orang membutuhkan sumber informasi.
Pertama, untuk memperoleh keterangan mengenai aspek-aspek pribadi calon
suami/istri. Kedua, orang yang membutuhkan sumber informasi, bisa untuk
memperoleh keterangan tentang persoalan-persoalan temporer (sesaat) dan
situasional. Tentang persoalan kedua ini, insya-Allah kita akan membahasnya pada
bab berikutnya Selama Proses Berlangsung, segera setelah bab ini selesai.
Memperantarai dua orang untuk menikah mendapat kedudukan mulia dalam
Islam. Membantu dua orang yang berkeinginan untuk menikah, sehingga Allah
mempertemukan mereka sebagai suami istri yang sah di hadapan Allah, insya-Allah
lebih dekat kepada ridha Allah. Ada berbagai keterangan mengenai keutamaan
menjadi perantara nikah, insya-Allah termasuk menjadi sumber informasi bagi mereka
yang mau menikah. Tetapi bukan bagian saya untuk membahas masalah ini,
mengingat belum adanya ilmu pada saya tentang ini. Selain itu, saya belum tepat
untuk membicarakan masalah ini. Wallahu A’lam bishawab wastaghfirullahal ‘adzim.
Cukuplah saya kutipkan nasehat Sayyidinina ‘Ali bin Abi Thalib karamallahu
wajhahu. Beliau mengatakan, “Sebaik-baik syafaat adalah memperantarai dua orang
untuk menikah, di mana dengan itu Allah mengumpulkan mereka berdua.”
Selanjutnya, saya ingin membahas beberapa hal penting bagi mereka yang
meniatkan diri untuk memperantarai pernikahan. Demikian juga bagi sumber
informasi yang dimintai keterangan oleh salah satu pihak calon pengantin.
Pembahasan ini saya harapkan juga bisa bermanfaat bagi mereka yang akan menikah,
Kado Pernikahan 47
sehingga mereka memperoleh maslahat dan barakah yang besar dalam pernikahan.
Mudah-mudahan Allah ‘Azza wa Jalla memberi petunjuk kepada saya tentang ini,
memperjalankan saya dengan kekuasaan-Nya untuk menepati petunjuk-Nya, dan
menjauhkan saya dari kekeliruan-kekeliruan saya sendiri.
Pertama,
Memberi Informasi Objektif
Perantara maupun sumber informasi seyogyanya memberikan informasi yang
objektif. Ia memberi keterangan yang bersifat informatif sehingga dapat bermanfaat
bagi calon pengantin maupun keluarganya untuk menilai calon pasangannya.
Adakalanya, sebagian informasi tidak informatif, tidak bernilai sebagai
informasi. Justru, kadang malah menimbulkan penilaian (persepsi) yang salah tentang
calonnya. Tidak informatifnya keterangan yang diberikan, kadang karena kurangnya
deskripsi (penggambaran) mengenai informasi yang abstrak.
Kalau Anda mengatakan “dia wanita yang baik” ketika ada seseorang yang
memiliki “maksud” bertanya, maka perlu Anda tunjukkan perilaku-perilaku dan sikap
yang membuat Anda menyimpulkan dia sebagai wanita yang baik. Tanpa penjelasan,
peminang bisa salah persepsi sehingga ia menemui kekecewaan-kekecewaan yang
beruntun setelah menikah. Padahal, andaikata ia memperoleh keterangan yang
objektif dan informatif, insya-Allah dia justru mendapati istrinya sebagai wanita yang
menyejukkan, sekalipun ada kekurangan-kekurangan.
Kedua,
Tidak Persuasif
Kita sebaiknya tidak memberi keterangan yang bersifat persuasif (membujuk).
Keterangan yang persuasif, apalagi jika sengaja mempersuasi agar kedua orang itu
berhasil dipertemukan, dapat memunculkan kondisi psikis yang tidak
menguntungkan.
Pertama, informasi persuasif (bersifat membujuk, promosi) dapat memunculkan
harapan (atau malah angan-angan) yang terlalu tinggi mengenai calonnya. Ini
menjadikannya kurang peka terhadap kebaikan-kebaikan pasangannya kelak setelah
menikah, karena secara tak sadar selalu membandingkan dengan harapan semula
sebelum menikah. Ia lebih peka terhadap kekurangan, meskipun sedikit, sementara
kebaikannya sebenarnya banyak.
Keadaan ini mudah menimbulkan kekecewaan atau bahkan kecenderungan untuk
melakukan penolakan psikis terhadap pasangannya. Padahal, semakin tidak bisa
mensyukuri kebaikan pasangannya, semakin besar penderitaan psikisnya. Sementara
Kado Pernikahan 48
untuk mengambil jarak dari masalah, lebih sulit karena sudah mengalami distorsi
kognitif.
Sebagian informasi persuasif ini berasal dari buku-buku yang lebih banyak
menjanjikan keindahan yang akan didapatkan ketika menikah, tetapi kurang banyak
membahas pada bagaimana keduanya harus memperjuangkan keluarganya. Ketiadaan
misi dan lebih banyak persuasi, menumbuhkan harapan yang tidak seimbang.
Kedua, informasi yang persuasif mengarahkan harapan orang tentang keindahankeindahan
yang akan diberikan pasangan hidupnya. Bukan apa yang kelak perlu ia
lakukan kepada pasangannya. Ini menjadikannya mudah merasa kurang terhadap apa
yang telah diberikan oleh pasangannya. Bahkan, ketika pasangannya telah banyak
memberikan keindahan-keindahan, kehangatan dan penghormatan, ia tidak
merasakannya sebagai kebaikan yang layak disyukuri. Ia menerimanya sebagai
sekedar kewajaran yang memang sudah seharusnya ia terima. Tuntutan terhadap
pasangan lebih mudah muncul dalam dirinya. Susahnya, tuntutan itu sering tidak
dinyatakannya karena ia merasa bahwa mengenai hal itu “seharusnya dia sudah
mengerti”.
K.H. Jalaluddin Rakhmat menceritakan, bila sepasang suami-isteri saling
mencintai, lama kelamaan wajahnya akan saling mirip satu dengan yang lain. Terjadi
perubahan fisiologis di antara mereka. Ini disebabkan oleh perubahan psikologis.
Karena itu, kata Kang Jalal, mulailah dari perubahan akhlak, nanti fisik mengikuti.
Wallahu A’lam. Tetapi ada yang patut dicatat dari cerita Kang Jalal. Suami-istri
yang saling mencintai akan saling menemukan kesamaan-kesamaan. Kalau mereka
menjumpai perbedaan, insya-Allah mereka akan berusaha mempersamakan atau
menoleransi perbedaan. Ada sebuah keluarga yang setiap membuat sayur, harus selalu
dipisahkan dua ketika suami di rumah. Istrinya suka masakan yang manis, sedang
suaminya suka asin. Tetapi keduanya hidup harmonis.
Tetapi ketika harapan terhadap pasangan terlalu tinggi, ia akan peka terhadap
perbedaan-perbedaan. Sementara perbedaan yang ada melahirkan kesenjangan psikis
maupun komunikasi.
Sesungguhnya, kalau kita selalu mencari perbedaan pada diri pasangan sebagai
kekurangan, maka tidak ada orang yang sama persis dengan kita kecuali dengan diri
kita sendiri. Tetapi, kalau kita mencari kesamaan-kesamaan sebagai kebaikan atau
untuk introspeksi, insya-Allah kita akan menjumpai kesamaan pada pasangan kita
sebanyak yang kita cari. Wallahua’lam wallahul musta’an.
Ketiga, orang justru menjadi takut menikah karena membandingkan persepsinya
(penilaiannya) mengenai calon dengan keadaan dirinya. Seorang ikhwan bisa bisa
merasa minder dan “ngeri”, karena menganggap akhwat yang ia harapkan terlalu
tinggi derajatnya dan “hampir-hampir mencapai kesempurnaan”. Alhasil, ia tidak
berani meminang atau menerima pinangan justru karena pengaruh informasi yang
persuasif. Padahal, keadaan yang sesungguhnya tidak demikian.
Kado Pernikahan 49
Dalam kasus ini, informasi persuasif justru bisa mendekatkan kepada madharat.
Allahua’lam wastaghfirullahal ‘adzim.
Ketiga,
Memberi Informasi Menurut Apa yang Diketahui
Nilai keutamaan orang yang memperantarai pernikahan atau pun yang menjadi
sumber informasi, insya-Allah terletak pada usaha untuk memberi keterangan yang
tepat. Bukan pada banyaknya informasi yang dapat ia sampaikan. Seyogyanya, kita
menjauhkan diri dari memberi informasi yang bersifat qila wa qila (katanya sih
katanya, kononnya konon). Informasi mengenai hal-hal fisik, seharusnya ia ketahui
dari melihat langsung.
Bagi Anda yang ingin mengetahui keadaan fisik calon, masalah ini perlu
mendapat perhatian. Wajah dan telapak tangan, dapat Anda lihat sendiri. Tetapi
mengenai bagian fisik lainnya, Anda perlu meminta orang lain jika Anda ingin
mengetahuinya. Contoh terbaik dalam hal ini adalah Rasulullah Saw.
Imam Ahmad, Imam Thabrani, Imam Hakim, dan Imam Baihaqi pernah
meriwayatkan sebuah hadis dari Anas bin Malik r.a. Suatu ketika, Rasulullah Saw.
pernah mengutus Ummu Sulaim r.a. kepada seorang wanita (yang akan dilamar).
Rasulullah mengatakan, “Perhatikanlah urat di atas tumitnya dan ciumlah bau
lehernya.”
Dalam riwayat lain disebutkan, Rasulullah Saw. berkata, “Ciumlah bau gigi
(depannya) di sepanjang lebar mulutnya.”
Keempat,
Lebih Melihat Pada Usaha
Memperantarai dua orang untuk menikah, menurut Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib
karamallahu wajhahu merupakan sebaik-baik syafaat. Nilai usaha orang yang
memperantarai, insya-Allah terletak pada kesungguhannya dalam mengusahakan.
Berhasil atau tidak, baginya pahala orang menikahkan dua orang saudara sesama
Muslim.
Karena itu, seorang perantara hendaknya lebih memperhatikan kemaslahatan
dalam mengusahakan, bukan berorientasi pada keberhasilan mempertemukan.
Kegagalan mempertemukan insya-Allah bukan keburukan, jika Anda mengusahakan
pada kemaslahatan. Kesudahan bagi keduanya insya-Allah baik.
Sebaliknya, keberhasilan mempertemukan tetapi kurang memperhatikan
kemaslahatan-kemaslahatan, terma-suk dalam memberi informasi, bisa justru
menghasilkan madharat. Mudah-mudahan Allah Swt. memasukkan kita ke dalam
Kado Pernikahan 50
golongan orang-orang yang selamat dan bahagia. Bukan golongan orang-orang yang
tersesat dan menderita.
Kelima,
Moderat dan Tidak Menyudutkan
Adakalanya orang yang diperantarai menghadapi beberapa pilihan. Menentukan
pilihan untuk masalah yang menyangkut kehidupan selama di dunia dan sampai
akhirat ini, bukan perkara mudah. Butuh kejernihan agar tidak terombang-ambing
oleh desakan hawa nafsu yang jahat. Butuh kejernihan, agar hati semakin berih dan
lurus ketika mengambil keputusan. Tidak justru merusak niat. Padahal, niat adalah
masalah mendasar dalam mengambil keputusan.
Seorang perantara yang menjumpai keadaan seperti ini, hendaknya berusaha
untuk bersikap moderat. Sikap moderat (al-wasthiyyah) insya-Allah lebih dekat
kepada kemaslahatan dan ridha Allah. Sekalipun ia berdiri untuk memperantarai salah
satu orang yang sedang dipertimban-kan, ia sebaiknya bersikap netral.
Kecenderungan hati barangkali sulit dihapuskan. Tetapi, insya-Allah akan baik kalau
ia mencoba memilih berdiri di tengah-tengah dalam ucapan. Ini akan membuahkan
ketenangan. Dan ketenangan lebih dekat kepada kejernihan.
Adakalanya sebagian orang bersikap kurang moderat. Ia cenderung mengarahkan
pikiran orang yang diperantarai, sekalipun barangkali tidak disadari. Kadang-kadang
bahkan mengarahkan kepada “sikap negatif” yang memojokkan, sehingga orang yang
diperantarai merasa tertekan. Merasa berada pada situasi yang riskan. Atau,
menyebabkan orang yang diperantarai tertekan secara emosional. Padahal, dalam
saat-saat seperti itu, yang ia butuhkan adalah kejernihan dan ketenangan agar lebih
dekat kepada tawakal dan ridha Allah. Pada saat-saat seperti ini orang yang hendak
menikah sangat perlu menjaga prasangka dan keyakinannya terhadap Allah Swt.
Moderat lebih dekat dengan keseimbangan. Saya pernah mendengar seorang
perantara memberikan pertanyaan yang bernada memojokkan, “Apa sudah ada tandatanda
penolakan dari pihak sana?”
Pertanyaan yang semacam ini juga termasuk tidak netral dan bisa menyebabkan
ketidakamanan secara emosional, “Bagaimana, apa sudah ada kecenderungan ke
pihak yang di sini? Barangkali sudah ada kepastian kalau tidak jadi.”
Pertanyaan-pertanyaan sejenis, juga keterangan-keterangan lain yang tidak
berimbang, membawa orang yang diperantarai kepada situasi yang tidak
mengenakkan emosi. Keputusan yang hampir jadi sesuai yang dikehendaki perantara,
bisa justru mentah kembali karena pertanyaan atau pun pernyataan yang menyudutkan
secara emosional.
Kado Pernikahan 51
Saya ingat kisah Sayyidina ‘Ali karamallahu wajhahu. Semua musuhnya tahu
kalau Sayyidina ‘Ali sudah mengangkat pedang, sulit mengelak dari tebasannya ketika
berhadapan di medan peperangan.
Suatu ketika, seorang musuh berada pada situasi terdesak. Ia berhadapan dengan
Sayyidina ‘Ali. Merasa terdesak dan tak ada pilihan lain, ia meludahi Sayyidina ‘Ali.
Pedang yang hampir menebas, ternyata tidak jadi menghilangkan nyawanya.
Mengapa Sayyidina ‘Ali mengurungkan tebasan pedangnya? Beliau tidak ingin
mengayunkan pedangnya karena hati yang terusik oleh ludah.
Sikap seorang ustadz berikut agaknya bisa dicontoh. Ketika ada orang
mengajukan masalahnya, ia menunjukkan sisi baik dari keduanya secara berimbang.
Kekurangan pada salah satu pihak, ditunjukkan sebagai kesempatan untuk
memperoleh kemuliaan akhirat, dan diimbangi dengan kelebihan yang mungkin ada.
Sementara kekurangan pihak lainnya, dijelaskan dengan cara yang sama secara
seimbang dan adil.
Keenam,
Memotivasi Jika Mampu
Sebagian perantara maupun sumber informasi, selain memberikan keterangan
yang diperlukan juga memberi motivasi. Ini baik, agar orang bersemangat dan tetap
optimis menghadapi tantangan dan kesulitan yang ada. Jika orang yang diperantarai
masih ragu-ragu, motivasi dapat membuatnya yakin dan mantap untuk segera
melangkah ke jenjang pernikahan. Ia dapat memikirkan kesulitan-kesulitan yang ada
secara tenang, sehingga Allah memudahkannya keluar dari masalah. Insya-Allah.
Meskipun demikian, seorang perantara maupun sumber informasi perlu berhatihati
dalam memberikan motivasi (targhiib). Syukur, jika motivasi yang diberikan
lebih dapat menumbuhkan keyakinan terhadap pertolongan Allah. Sesungguhnya
Allah itu dekat dan sangat luas karunia-Nya. Juga berkenaan dengan firman Allah
Swt, “Fa idza ‘azzamta, fa tawakkal ‘alaLlah.” Maka, jika kamu telah membulatkan
tekad, bertawakkallah kepada Allah.
Jika Anda dapat memotivasi orang ke arah yang demikian, insya-Allah kelak
Anda akan mendapatkan syafa’at dan keutamaan di akhirat. Sementara itu, di mata
manusia sikap demikian merupakan kemuliaan.
Akan tetapi, jika Anda memotivasi dengan menonjolkan aspek-aspek pada diri
calon yang mungkin menjadikannya lebih terpengaruh, saya khawatir kesudahannya
malah tidak baik. Sikap ini rawan terhadap impression management (pengelolaan
kesan). Dan impression management mendekati manipulasi informasi, tidak
menunjukkan sebagian informasi untuk lebih menonjolkan informasi yang dianggap
penting. Ini menimbulkan kesan dan harapan. Kalau tidak sesuai dengan yang
diangankan, dapat menimbulkan kekecewaan di belakang hari.
Kado Pernikahan 52
Menceritakan aspek-aspek yang ada pada diri calon, boleh dilakukan. Tetapi
hendaknya tetap memperhatikan, agar keterangan tersebut tidak mendorong
munculnya persepsi yang keliru dan harapan yang tidak tepat. Bersyukur, jika sumber
informasi atau perantara dapat memberikan keterangan mengenai diri calon sekaligus
mengarahkan pada kelurusan niat. Ada ladang amal shalih di dalamnya.
Perantara untuk Menawarkan Maksud Seorang Wanita
Jika seorang wanita bermaksud menawarkan diri dan meminta bantuan kepada
Anda untuk memperantarai, ada persoalan yang perlu mendapat perhatian. Perantara
adalah penghubung antara maksud mulia seorang wanita dengan laki-laki yang
diharapkan. Sekaligus, ia menjadi orang pertama yang memberi keterangan kepada
pihak laki-laki mengenai wanita yang mempunyai maksud.
Perantara perlu berhati-hati dalam mengemukakan alasan wanita tersebut
memilih laki-laki yang dimaksudkan. Ia perlu menjaga agar sikap dan keterangannya,
tidak menimbulkan pandangan yang keliru dari laki-laki yang dimaksud terhadap
wanita yang menginginkannya. Ini terutama berkait dengan wanita itu, sekaligus nanti
pengaruh mendasarnya pada niat laki-laki itu ketika mempertimbangkan.
Niat dan harapan, sebagaimana kita bahas di bagian awal bab ini, sangat
mempengaruhi bagaimana orang menjalani kehidupannya setelah berumahtangga.
Seorang perantara sebaiknya berusaha untuk tidak menonjolkan aspek fisik,
terutama kecantikan dan kekayaan, dengan harapan agar laki-laki yang dimaksudkan
lebih terdorong. Kalaupun wanita itu bermaksud mempercayakan hartanya kepada
suaminya, perantara sebaiknya berusaha mengarahkan kepada kelurusan niat. Kisah
Rabi’ah binti Ismail Asy-Syamiyah, menarik untuk disimak.
Selanjutnya, pembicaraan ini saya cukupkan dengan dua hadis Nabi Saw.
Mudah-mudahan dapat menjadi renungan. Mudah-mudahan Allah memberikan
petunjuk.
Imam Thabrani meriwayatkan hadis dari Anas bin Ma-lik r.a. yang menyebutkan
bahwa Rasulullah bersabda, “Barangsiapa menikahi wanita karena kehormatannya
(jabatannya), maka Allah hanya akan menambahkan kehinaan.”
“Barangsiapa yang menikahi wanita karena hartanya, maka Allah tidak akan
menambah kecuali kefakirannya.”
“Barangsiapa yang menikahi wanita karena nasabnya (kemuliaannya), maka
Allah hanya akan menambahkannya kerendahan.”
“Dan barangsiapa yang menikahi seorang wanita ka-rena ingin menutupi
(kehormatan) matanya, membentengi farjinya, dan mempererat tali silaturrahmi,
maka Allah akan memberikan barakah-Nya kepada dia (suami) dan istrinya (dalam
kehidupan keluarganya).”
Kado Pernikahan 53
Ada hadis senada yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Imam An-Nasa’i.
Di samping itu, terdapat hadis-hadis lain yang memberikan peringatan dalam soal ini.
Sebagai penutup, marilah kita simak hadis riwayat Imam Abu Daud dan At-Tirmidzi
berikut.
Rasulullah Saw. bersabda, “Janganlah kalian menikahi wanita karena
kecantikannya semata, boleh jadi kecantikannya itu akan membawa kehancuran.
“Dan janganlah kalian menikahi wanita karena kekayaannya semata, boleh jadi
kekayaannya itu akan menyebabkan kesombongan.
“Tetapi nikahilah wanita itu karena agamanya. Sesungguhnya budak wanita
yang hitam lagi cacat, tetapi taat beragama adalah lebih baik (daripada wanita kaya
dan cantik yang tidak beragama)”.
Begitu. Mudah-mudahan Allah memberikan kemuliaan kepada mereka yang
telah memperantarai dengan bijak dan adil. Mudah-mudahan Allah mengampuni kita
semua. Allahumma amin.
‘Alaa kulli hal, semoga Allah memberi kekuatan dan kejernihan kepada kita jika
ada yang membutuhkan informasi dari apa yang kita ketahui tentang seseorang atau
ketika ada yang harus kita perantarai.
Sungguh, tidak mudah menjaga kejernihan hati. Tetapi, juga tidak mudah untuk
melepaskan diri dari ghurur (keadaan terkelabui); menyangka berhati-hati, tetapi
sesungguhnya bukan. Sebagaimana juga tidak mudah melepaskan diri dari keburukan,
meski kita telah tahu ada penyakit hati yang bersarang.
Hanya Allah Yang Maha Kuasa. Semoga Allah menolong kita. Dan atas segala
kesalahan saya pada Anda, maafkan saya.
Kado Pernikahan 54
Bab 4
Selama Proses Berlangsung
Ummul Mukminin ‘Aisyah r.a. mengatakan:
“Pernikahan itu sangat sensitif
dan tergantung kepada pribadi masing-masing
untuk mendapatkan kemuliaannya.”
enikah adalah kesucian. Sangat besar kemuliaan di dalamnya. Sangat
tinggi kedudukannya dalam Islam, sehingga Al-Qur’an menyebutnya
sebagai mitsaqan-ghaliza (perjanjian yang sangat berat). Hanya tiga kali
kata ini disebut, dua untuk perjanjian tauhid. Maka, pernikahan yang diridhai Allah
akan dipenuhi oleh doa malaikat yang menjadi saksi pernikahan.
Ketika akad nikah terjadi, halal apa-apa yang sebelumnya diharamkan. Apa yang
sebelumnya merupakan maksiat dan bahkan dosa besar, sejak saat itu telah menjadi
kemuliaan, kehormatan dan besar sekali pahala di sisi Allah. Pernikahan telah
mengubah pintu-pintu dosa dan kekejian menjadi jalan kemuliaan dan kesempurnaan
manusia dalam beragama. Allah menyempurnakan setengah agama ketika seseorang
melakukan pernikahan.
Namun demikian, sebelum akad ada proses. Selama proses inilah setan berusaha
memanfaatkan momentumnya untuk menggoda dan merusak, sehingga pernikahan
bergeser jauh dari makna dan tujuannya.
Proses menuju akad nikah banyak memberi pengaruh terhadap hubungan antara
suami dan istri kelak setelah menikah. Demikian juga, hubungan antara dua keluarga,
yaitu keluarga istri dan keluarga suami, banyak dipengaruhi oleh proses dari
M
Kado Pernikahan 55
peminangan hingga akad berlangsung. Persepsi dan penerimaan masing-masing
anggota keluarga, banyak dipengaruhi oleh persoalan-persoalan qalbiyyah (hati, termasuk
niat) ketika proses sedang berlangsung. Oleh karena itu, setelah peminangan,
yang perlu kita jaga adalah segala hal yang dapat merusak makna dan tujuan
pernikahan, yang mungkin muncul selama proses berlangsung. Sebagian proses
berjalan dengan mudah dan sederhana. Sebagian harus menempuh proses yang pelik
dan rumit. Sebagian berlangsung cepat dalam waktu singkat, sebagian harus
menunggu dalam waktu yang cukup lama.
Proses pernikahan manakah yang terbaik? Yang terbaik adalah yang paling
maslahat dan barakah, serta jauh dari mafsadah (kerusakan) dan bibit-bibit
kekecewaan yang menjauhkan orang dari rasa syukur. Proses pernikahan yang
mendatangkan maslahat dan barakah bisa jadi berlangsung dengan mudah, bisa pula
berlangsung melalui jalan yang pelik. Allah Maha Tahu apa yang paling maslahat
bagi Anda. Ketika hujan lebat sedang turun dan petir menggelegar sambutmenyambut,
kalau Anda tidak berhati-hati, bisa tersambar oleh petir yang nyasar.
Kalau Anda menjaga diri, istiqamah, dan tawakal, insya-Allah Anda akan mendapati
hujan sebagai pensucian bumi hati Anda. Sedang petir membawa muatan listrik yang
menerangi.
Sesungguhnya, sepanjang yang saya ketahui, salah satu pandangan Islam tentang
pernikahan adalah sederhana dalam proses dan sederhana dalam pelaksanaan. Anda
harus memperhatikan keadaan hati Anda ketika akan melaksanakan. Sebab, di sinilah
setan berusaha untuk menyimpangkan niat dan tujuan Anda. Islam menganjurkan kita
untuk menyegerakan menikah, tetapi setan bisa mengambil bentuk yang mirip ketika
kita tidak mau menunda-nunda tanpa alasan. Setan mengarahkan kita untuk bersikap
tergesa-gesa. Khusus pembahasan mengenai menyegerakan dan tergesa-gesa, insya-
Allah akan kita bicarakan pada bab berikutnya, Antara Menyegerakan dan Tergesagesa.

Kita seringkali tidak bisa membedakan,
apakah kita melakukan sesuatu
karena persangkaan kita yang baik kepada Allah
ataukah justru karena persangkaan kita
yang kurang tepat kepada-Nya.

Setan berusaha untuk merebut masa sebelum menikah, masa yang sangat rawan.
Masa ini bisa menyesatkan manusia jika tidak berhati-hati. Dengan demikian boleh
jadi ia mendapati pernikahannya kelak tidak sebagaimana harapannya, meskipun –
barangkali– pasangan hidupnya sudah berperilaku yang sesuai dengan tuntunan Islam
Kado Pernikahan 56
dan bahkan melakukan kebajikan-kebajikan dalam rumah tangga. Na’udzubillahi min
dzalik. Semoga Allah menjauhkan kita dari hal-hal yang demikian.
Ada dua hal yang perlu kita jaga sejak berangkat meminang (atau, sejak
datangnya pinangan bagi seorang gadis) sampai dengan pelaksanaan akad-nikah.
Pertama, menyangkut persangkaan kita kepada Allah. Ini yang paling rawan. Kedua,
persangkaan dan persepsi kita terhadap pernikahan dan calon pasangan hidup kita.
Masalah kedua ini, banyak kaitannya dengan masalah pertama. Jika masalah yang
pertama tidak baik, masalah yang kedua sangat mungkin untuk ikut tidak baik.
Persangkaan Kepada Allah
Orang yang tampak bersungguh-sungguh ketika berdoa, bisa jadi karena
keyakinannya bahwa Allah itu dekat. Allah Maha Mendengar doa orang-orang yang
berpengharapan kepada-Nya. Ia yakin bahwa Allah memperhatikan orang yang
datang kepada-Nya untuk mengadukan keluh-kesahnya atau memohon pertolongan-
Nya. Karena kemuliaan-Nya, maka adalah kelayakan bagi manusia untuk berdoa
secara sungguh-sungguh sekaligus berhati-hati agar terjauh dari berdoa yang tidak
layak, sekalipun Allah Sangat Luas Pemberian-Nya.
Meskipun demikian, bisa jadi orang tampak sangat bersungguh-sungguh ketika
berdoa, sampai wajahnya berkerut-kerut dan ekspresinya berubah, justru karena
ketidakyakinannya. Ia mengkhusyuk-khusyukkan diri ketika berdoa, justru karena
keyakinannya yang tipis bahwa Allah Maha Mengabulkan doa orang-orang yang
berpengharapan kepada-Nya. Ia menyangatkan diri ketika memohon kepada Allah
karena khawatir keinginannya tidak tercapai, padahal ia tahu Allah Maha Besar
Kekuasaan-Nya.
Sungguh, sangat jauh perbedaan antara kesungguhan doa orang yang yakin dan
kesungguhan orang yang berdoa justru karena kurang yakin terhadap kemurahan
Allah. Orang yang sangat besar keyakinannya kepada Allah ketika berdoa bisa jadi
sampai menangis, mengingat-ingat besarnya karunia Allah dan kecilnya amanah yang
sudah ia tunaikan. Orang yang berdoa karena kurngnya keyakinan, juga bisa
menangis. Tetapi jauh sekali perbedaannya. Dan berbeda sekali persangkaannya
kepada Allah. Padahal, Allah Swt. berfirman dalam sebuah hadis Qudsi:
“Aku menuruti persangkaan hamba-Ku kepada-Ku.” (HR Bukhari dan
Muslim).
Kita seringkali tidak bisa membedakan, apakah kita melakukan sesuatu karena
persangkaan kita yang baik kepada Allah ataukah karena persangkaan kita yang
kurang tepat kepada Allah Azza wa Jalla. Kita sering tidak bisa membedakan, kecuali
setelah mengambil jarak dari masalah itu dengan pertolongan Allah. Dan datangnya
pertolongan Allah, adakalanya sesuai dengan persangkaan kita mengenai pertolongan,
bisa pula sebaliknya, justru nampak berkebalikan dengan apa yang kita anggap
sebagai cara menolong. Sungguh, rugi orang yang menyangka pertolongan Allah
Kado Pernikahan 57
sebagai pengabaian-Nya. Semoga kita terhindar dari prasangka yang tidak diridhai-
Nya.
Pernikahan adalah salah satu amanah Allah bagi manusia yang beriman kepada-
Nya. Pernikahan adalah ketundukan kita kepada-Nya, sekalipun Allah memberi
tempat kepada perasaan-perasaan manusiawi. Justru, Allah-lah yang memberikan
perasaan-perasaan dan dorongan itu kepada manusia. Sementara itu, setan berusaha
untuk memanfaatkan momentum menjelang nikah, selama proses menuju pernikahan,
justru untuk mengangkuhkan diri seolah Allah tidak memperhatikan. Padahal tidak
ada yang bisa disembunyikan dari pengetahuan dan “penglihatan” Allah.
Pernikahan adalah amanah Allah. Dan Allah tidak pernah zalim kepada
makhluk-Nya. Tidak pernah Allah memberikan amanah kepada manusia, kecuali Ia
akan memberikan sarana untuk memenuhi amanah. Allah tidak pernah zalim. Maha
Suci Allah dari kezaliman.
Setiap amanah telah dicukupi dengan sarana yang dengan itu orang bisa
melaksanakan amanah-Nya, dalam hal ini melaksanakan pernikahan. Walaupun
demikian, manusia sering melakukan kezaliman kepada dirinya sendiri maupun
kepada Allah dengan prasangka-prasangka buruk kepada-Nya. Maha Suci Allah dan
segala puji bagi-Nya yang luas ampunan dan kasih sayang-Nya.
Astaghfirullahal’adzim. Laa ilaaha illa Anta, subhanaka innii kuntu minazhzhalimin.
Masya Allah. Manusia seringkali tergesa-gesa dan penuh keluh-kesah karena
dangkalnya ilmu dan pendeknya jangkauan akalnya terhadap rahmat Allah. Ketika
membutuhkan gerimis untuk mendinginkan bumi hatinya, ia mengeluh dan kadang
bahkan cepat memberikan penilaian yang salah ketika Allah mengirimkan mendung.
Padahal, mendung yang tebal itu membawa muatan air yang melimpah, lebih dari
sekedar yang ia butuhkan. Ketika ia tidak melihat mendung, dan hanya merasakan
teriknya matahari, ia lupa bahwa matahari pun adalah rahmat. Berkait dengan
keinginannya, matahari mempercepat penguapan air laut menjadi awan yang
selanjutnya akan menjadi hujan. Tetapi manusia sangat pendek jangkauan akalnya,
tergesa-gesa dan mudah mengeluh.
Semoga Allah mengampuni kezaliman kita dan menggantikan dengan hati yang
bersyukur.
Masalah-masalah berkenaan dengan prasangka yang kurang baik terhadap Allah,
tidak hanya ketika berhadapan dengan apa yang oleh anggapan lahiriah sebagai
kesulitan. Keadaan-keadaan yang dirasa mudah, juga perlu dijaga agar kemudahan
yang diberikan oleh Allah tidak menjatuhkan kita ke dalam keadaan “mengabaikan”
rahmat Allah. Seolah-olah, kitalah yang menyebabkan kemudahan. Manusia memang
rawan terhadap sikap takabur, menyombongkan diri di hadapan orang lain dan di
hadapan dirinya sendiri.
Mudah-mudahan kita bisa menjaga persoalan-persoalan qalbiyyah selama proses
menuju pernikahan berlangsung. Semoga Allah subhanahu wa ta’ala menyelamatkan
Kado Pernikahan 58
kita dari urusan hati yang menjerumuskan. Semoga Allah mensucikan niat kita dalam
melangkah ke jenjang pernikahan. Saya sangat mengharap kepada Allah niat terbaik
saat melangsungkan akad-nikah. Mudah-mudahan Allah menjadikan pernikahan kita
barakah dan diridhai Allah hingga kelak kita menghadap-Nya di yaumil-akhir.
Mudah-mudahan Allah Swt. mengaruniai kita keturunan yang memberi bobot kepada
bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah.
Inilah yang kita perlu jaga. Kita perlu menata hati ketika menjalani urusanurusan
selama proses berlangsung, termasuk ketika nanti mengadakan walimah.
Mudah-mudahan kebersahajaannya maupun kemeriahannya, kita laksanakan di atas
niat serta jalan yang diridhai Allah. Semoga barakah dunia akhirat. Allahumma amin.
Segala puji bagi Allah dalam segala keadaan.
Persangkaan dan Persepsi Terhadap Calon
Proses pernikahan ada yang berlangsung cepat, ada yang membutuhkan waktu
lama. Mengenai waktu yang dibutuhkan selama proses, saya teringat kepada doa
keluar rumah yang artinya, “Dengan menyebut nama Allah atas jiwaku, hartaku, dan
agamaku. Ya Allah, jadikanlah aku ridha dengan apa yang Engkau tetapkan dan
jadikanlah barakah apa yang telah Engkau takdirkan. Sehingga, tidak kepingin aku
untuk menyegerakan apa yang Engkau tunda, dan menunda apa yang Engkau
segerakan.”
Ada satu catatan. Pernikahan termasuk salah satu dari tiga perkara yang
dianjurkan untuk disegerakan. Jika tidak ada hal yang merintangi, mempercepatnya
adalah lebih baik. Mempercepat proses pernikahan termasuk salah satu kebaikan dan
lebih dekat dengan kemaslahatan, barakah, dan ridha Allah. Insya-Allah, pertolongan
Allah sangat dekat. Apa-apa yang menghalangi langkah untuk menyegerakan, akan
dimudahkan dan dilapangkan. Sesungguhnya Allah tidak zalim terhadap apa-apa
yang diserukan-Nya. Allah tidak zalim terhadap hamba-Nya, betapa pun Allah
Mutlak Kekuasaan-Nya. Kitalah yang sering zalim kepada Allah.
Laa ilaaha illa Anta, subhanaka innii kuntu minazh-zhalimin. Rabbana zhalamna
anfusana waillam taghfirlana lanaa kuunanna minal khosirin.
Ya Allah, ampunilah hamba atas kezaliman hamba sendiri.
Mempercepat proses pernikahan adalah lebih baik, tetapi hendaknya tidak
terjatuh pada sikap tergesa-gesa. Selama proses berlangsung, kita membutuhkan
informasi dan pembicaraan berkaitan dengan rencana pernikahan. Adakalanya, kita
mendapatkan informasi mengenai beberapa hal dari keluarga calon, perantara, atau
orang lain. Adakalanya, kita mendapatkan keterangan tentang beberapa hal dari calon
pendamping secara langsung.
Selama masa ini kita sangat peka terhadap berbagai informasi yang kita terima,
disebabkan oleh besarnya harapan untuk menyegerakan ataupun besarnya
Kado Pernikahan 59
kekhawatiran. Bisa juga oleh sebab-sebab lain yang bersifat qalbiyyah (hati). Kadangkadang,
orang mengalami deprivasi (kebutuhan yang sangat, seperti orang yang lapar)
yang menyebabkannya menjadi lebih peka terhadap jenis-jenis informasi tertentu.
Pada saat Anda sedang mengalami deprivasi makanan, Anda akan cepat mengira
orang yang sedang memukul-mukulkan besi kecil sebagai penjual nasi goreng sedang
lewat.
Masa menjelang nikah adalah masa yang sensitif. Apa yang berlangsung selama
masa ini, bagaimana memaknainya, mempengaruhi bagaimana kedua manusia itu
kelak akan menghayati pernikahannya. Proses antara pinangan dengan pelaksanaan
akad, hingga detik-detik akadnya, bisa menjernihkan niat-niat yang masih keruh
sehingga pada saat keduanya melakukan shalat berjama’ah segera setelah akad,
mereka banyak beristighfar, memohon pertolongan Allah untuk melimpahkan
kebarakahan dan menjauhkan dari keburukan, serta merasakan syukur yang dalam
karena telah terhindar dari ancaman maksiat. Tetapi, proses menuju pernikahan bisa
juga mengeruhkan niat-niat, sekalipun sekilas tampak mendapat pembenaran agama.
Padahal manusia mendapatkan hasil dari perbuatannya sesuai dengan apa yang
diniatkan.
Pada masa ini, di antara sekian banyak hal yang mungkin harus diselesaikan,
masalah lisan adalah yang paling peka dan paling rawan. Sebab, masalah
memperlakukan lisan ini mempengaruhi keseluruhan masalah lain, termasuk dalam
hubungan suami-istri setelah menikah. Bahkan termasuk bagaimana menghayati
hubungan intim suami-istri. Wallahu A’lam bishawab wastaghfirullahal ‘adzim. Saya
mohon perlindungan Allah dari kekejian lisan saya sendiri.
Ada dua hal yang perlu dijaga dalam memperlakukan lisan selama proses
berlangsung (juga sesudahnya). Pertama, menjaga lidah dalam mengucapkan katakata
(hifdhul-lisan). Kedua, menjaga persepsi kita terhadap apa yang kita dengar dari
lisan orang lain.
Ada dua bagian manusia yang dapat menjaminkan surga atau menjerumuskan ke
neraka, yaitu lisan dan kemaluan. Nikah adalah proses menjaga kesucian kemaluan
kita dari tindakan yang tidak diridhai Allah (mudah-mudahan kita termasuk orang
yang menikah demi menjaga kesucian farji). Melalui nikah, apa yang sebelumnya
merupakan dosa besar, menjadi ibadah yang dimuliakan. Nikah adalah kesucian.
Tetapi, lisan dapat menjadikannya keruh.
Dari Sahl bin Sa’d As-Sa’di r.a., bahwa Rasulullah Saw. bersabda,
“Barangsiapa yang menjamin kepadaku akan menjaga apa yang ada di antara
kedua rahangnya (mulut) dan apa yang ada di antara kedua kaki pahanya
(kemaluan) niscaya aku menjamin surga untuknya.” (HR Bukhari).
Suatu ketika Uqbah bin Amir r.a. bertanya, “Ya Rasulullah, apakah keselamatan
itu?”
Beliau menjawab, “Tahanlah lisanmu, kerasanlah di rumahmu, dan tangisilah
dosamu.” (HR Tirmidzi).
Kado Pernikahan 60
Saya tidak bisa menjelaskan bab ini lebih lanjut. Cukuplah saya akhiri bab ini
dengan beberapa hadis. Mudah-mudahan Allah Swt. mengampuni kesalahankesalahan
niat dalam menikah disebabkan oleh ketidaktahuan kita, dan
meluruskannya dengan menyemayamkan niat terbaik yang diridhai-Nya. Mudahmudahan
kelak kita akan mendapati pernikahan kita dan keturunan kita seluruhnya
barakah dan diridhai Allah ‘Azza wa Jalla. Allahumma amin.
Al-Maqdisi mengetengahkan sebuah hadis, bahwa Rasulullah Saw. bersabda,
“Berikan penafsiran terbaik tentang apa yang engkau dengar, dan apa yang
diucapkan saudaramu, sampai engkau menghabiskan semua kemungkinan dalam
arah itu.”
Suatu ketika Imam Ahmad bin Hanbal ditanya mengenai hadis, “Jika engkau
mendengar sesuatu yang mungkin diucapkan oleh saudaramu, berikan interpretasi
yang terbaik sampai engkau tidak dapat menemukan alasan untuk melakukannya.”
Menanggapi pertanyaan tersebut, Imam berkata, “Carilah alasan untuknya
dengan mengatakan mungkin dia berkata begini, atau mungkin maksudnya begini.”
Tabayyun (meminta penjelasan) adalah bentuk lain upaya untuk mendapatkan
interpretasi sesuai dengan yang dimaksudkan oleh orang yang mengucapkannya. Bisa
jadi kita mendengar langsung dengan orang yang berbicara, tetapi kita menangkapnya
tidak sebagaimana dimaksud. Di sinilah tabayyun (mengecek kebenaran informasi)
diperlukan.
Rasulullah Saw. juga diriwayatkan pernah bersabda,
“Janganlah salah satu di antara kamu sekalian ber-imma’ah, yang jika orang
lain baik maka engkau baik, dan jika mereka jelek maka engkau ikut jelek pula. Akan
tetapi hendaklah engkau tetap konsisten terhadap (keputusan) dirimu. Jika orangorang
baik, maka engkau juga baik, dan jika mereka jelek, hendaklah engkau
menjauhinya keburukan-keburukan mereka.” (HR Tirmidzi).
Apakah imma’ah itu? Kita minta Muhammad Hashim Kamali, seorang guru
besar ilmu fiqih pada International Islamic University, Malaysia, untuk menjelaskan.
Menurut Muhammad Hashim Kamali, imma’ah adalah, “Memuji atau mencela orang
lain tanpa alasan, tetapi semata-mata karena dia melihat orang lain melakukan hal
itu.”
Kita imma’ah ketika kita dengan cepat menyimpulkan ucapan orang lain hanya
dari mendengar selintas. Kita juga imma’ah kalau kita segera memberikan pujian
karena mendengar kabar sekedarnya mengenai dia. Apalagi kalau sampai
menjatuhkan kesimpulan dengan sangat yakin tentang seseorang hanya dari rumor –
entah, apakah masih termasuk imma’ah atau bukan.
Alhasil, dengan kriteria seperti itu, rasanya hampir setiap hari kita terperosok ke
dalam imma’ah. Kadang-kadang tersadar sesudah lewat, tetapi melakukan kesalahan
lagi beberapa menit sesudah sadar.
Kado Pernikahan 61
Saya mohon ampunan kepada Allah atas berbagai perbuatan imma’ah yang saya
lakukan karena ketidaktahuan saya atau karena kecerobohan saya. Saya meminta
maaf kepada Anda jika saya pernah gegabah menyimpulkan ucapan Anda, padahal
saya belum memeriksanya.
Apapun, kita mengharap pertolongan Allah semoga kemudahan dalam proses
menumbuhkan kehangatan dan keakraban setelah menikah. Adapun kesulitan dalam
proses, melahirkan kesetiaan, kedalaman cinta, dan kelurusan niat setelah
melaksanakan akad nikah. Bagi mereka ketenteraman, mawaddah wa rahmah hingga
hari kiamat kelak. Allahumma amin.
Rahmat Allah datang dalam berbagai bentuk.
Kado Pernikahan 62
Bab 5
Antara Menyegerakan
dan Tergesa-gesa
Rasulullah menasehatkan:
“Mintalah fatwa dari hatimu. Kebaikan itu adalah apa-apa yang tenteram jiwa
padanya dan tenteram pula dalam hati. Dan dosa itu adalah apa-apa yang syak
dalam jiwa dan ragu-ragu dalam hati, walaupun orang-orang memberikan fatwa
kepadamu dan mereka membenarkannya.”
alah satu perkara yang perlu disegerakan adalah menikah. Begitu Islam
mengajarkan. Menyegerakan bagi seorang laki-laki yang telah mencapai
ba’ah adalah dengan segera meminang wanita baik-baik yang ia mantap
dengannya. Ia mendatangi orangtua wanita tersebut dengan menjaga adab sambil
membersihkan niat.
Rasulullah Muhammad Saw. bersabda:
Khath Arab
“Barangsiapa yang dimudahkan baginya untuk menikah, lalu ia tidak menikah,
maka tidaklah ia termasuk golonganku.” (HR Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi).1
Nabi kita juga mengingatkan, “Bukan termasuk golonganku orang yang merasa
khawatir akan terkungkung hidupnya karena menikah, kemudian ia tidak menikah.”
(HR Ath-Thabrani).
Sedang menyegerakan nikah bagi keluarga wanita adalah dengan mempercepat
pelaksanaan jika tidak ada kesulitan yang menghalangi. Juga, menyederhanakan
proses agar tidak membebani kedua mempelai. Mudah-mudahan mereka akan
S
Kado Pernikahan 63
mendapatkan rumah tangga yang barakah dan diridhai Allah, keluarga yang di
dalamnya terdapat anak-anak yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa
ilaaha illaLlah.
Menyegerakan nikah insya-Allah lebih dekat kepada pertolongan Allah dan
syafa’at Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Allah akan menyempurnakan
setengah agama kita kalau kita menyegerakan menikah. Insya-Allah, kita akan
mendapati pernikahan yang barakah. Sebuah pernikahan yang barakah akan
menjadikan orang-orang yang ada di dalamnya tenteram dan saling memberi manfaat.
Mereka akan memperoleh kebahagiaan dan terhindar dari hidup yang sia-sia. Seorang
pemalas akan menjadi rajin, seorang peragu akan memperoleh yakin, dan seorang
yang bimbang akan memperoleh keteguhan.
Nikah adalah satu di antara tiga perkara yang sunnah untuk disegerakan. Allah
akan melimpahkan ridha-Nya kepada orang yang menyegerakan nikah. Mereka yang
menyegerakan nikah atau membantu orang untuk menyegerakan nikah, insya-Allah
akan mendapati rahmat dan perlindungan Allah kelak di yaumil-hisab. Sebab,
sesungguhnya perbuatan menyegerakan nikah merupakan perkara yang disunnahkan
oleh Rasulullah. Dan setiap perkara yang disunnahkan, adalah tindakan yang diridhai
dan dicintai Allah.
Wallahu A’lam bishawab.
Akan tetapi, di dalam setiap perbuatan, setan berusaha untuk menggelincirkan
manusia. Jika orang tidak mau melakukan kemaksiatan, setan berusaha untuk
menggelincirkan manusia dengan menampakkan apa-apa yang sepintas mirip dengan
perkara yang disunnahkan.
Banyak contoh tentang ini. Agama menganjurkan kita untuk syukur nikmat,
mengabarkan dan menampak-nampakkan nikmat yang kita peroleh demi
mengagungkan kemurahan Allah. Dan setan berusaha untuk menyimpangkan niat
kita, sehingga kita menampak-nampakkan bukan dalam rangka syukur nikmat, tetapi
dalam rangka riya’ dan sum’ah. Jika riya’ adalah tindakan yang dilakukan dengan
harapan orang melihat kebaikan yang ada pada diri kita, sum’ah adalah tindakan agar
orang mendengarkan keunggulan kita.
Kadang orang bersikap merendah karena tawadhu’, tetapi orang bisa merendah
dalam rangka meninggikan diri di hadapan orang lain. Yang pertama, adalah
kemuliaan akhlak yang sering dianjurkan agama. Yang kedua, adalah rekayasa kesan
agar tampak sebagai orang yang memiliki kedalaman pemahaman agama.
Masih banyak yang lain. Hanya saja, kita sering tidak tahu bahwa yang ada pada
hati kita bukanlah sebagaimana yang diharapkan oleh agama. Bisa jadi, kita mampu
menunjukkan argumentasi (hujjah) atas apa yang kita lakukan. Kita berargumentasi
melalui kekuatan nalar dan lisan yang dikaruniakan kepada kita, akan tetapi hati kita
mengingkari. Sayangnya, kita pun sering tidak tahu bahwa hati kita mengingkari
disebabkan pekatnya penghalang mata hati kita untuk melihat beningnya kebenaran.
Kado Pernikahan 64
Perkara nikah juga demikian. Kita disunnahkan untuk menyegerakan pernikahan.
Meskipun demikian, kita bisa jadi terjatuh pada tindakan tergesa-gesa. Bersegera,
akan mendekatkan orang kepada saat menikah. Penantian yang telah melewati
berpuluh-puluh malam, insya-Allah segera terbayarkan dengan akad nikah yang
dalam waktu dekat akan terlaksana. Sementara itu, tergesa-gesa bisa jadi justru
menjadikan tibanya saat akad nikah harus melalui waktu yang lama.
Ada perbedaan yang jauh antara pernikahan yang disegerakan dengan pernikahan
yang dilaksanakan secara tergesa-gesa. Waktu yang dibutuhkan dari peminangan
sampai akad nikah bisa jadi sama. Tetapi, suasana yang terbawa dalam rumahtangga
sangat berbeda.
Pernikahan yang disegerakan insya-Allah penuh barakah dan diridhai Allah. Di
dalamnya, Allah mencurahkan perasaan sakinah kepada suami-istri tersebut. Bahkan,
suasana sakinah juga terasakan oleh seisi rumah, sanak famili yang mengetahui, serta
orangtua dari keduanya, kecuali bagi mereka yang sedang merasakan kekeruhan
dalam jiwanya.
Tapi, apakah sakinah itu? Wallahu A’lam. Sepanjang pengetahuan saya, sakinah
adalah ketenangan hati, ketenteraman jiwa, dan terbebasnya diri dari keinginankeinginan
yang dilarang, sebab sesuatu yang dilarang akan menimbulkan kegelisahan
dan kecemasan. Mereka juga tidak begitu terganggu oleh penilaian-penilaian sesaat
dari masyarakat, sebab mereka menyandarkan penilaian kepada sumber yang jernih
dalam soal-soal yang diatur dan mendasarkan pada kesepakatan dan kecintaan berdua
dalam soal-soal yang dilapangkan (mubah) bagi kita. Mereka mungkin akan
melakukan apa yang secara sosial diharapkan, tetapi itu bukan karena terdesak oleh
tekanan norma sosial semata. Melainkan menurut pertimbangan kemaslahatan.
Mereka mungkin akan menolak apa yang diharapkan secara sosial, tetapi itu bukan
karena ingin menentang tatanan. Tetapi berdasarkan pertimbangan-pertimbangan
berkenaan dengan madharat dan mafsadah.
Apa pengaruh sakinah bagi suami-istri yang baru memasuki jenjang pernikahan?
Apakah makna sakinah dalam membina kehidupan berumahtangga, mendidik anak,
dan menetapkan misi setelah mereka mempunyai anak dari pernikahan mereka?
Sayang sekali kita tidak bisa membahas saat ini. Mudah-mudahan Allah memberikan
petunjuk, ilmu, dan kekuatan pada saya untuk membahasnya di waktu lain dalam
kesempatan yang lebih baik. Saat ini, cukuplah saya katakan bahwa sakinah
menguatkan ikatan perasaan antara suami dan istri dengan jalinan perasaan yang
diliputi oleh kerinduan yang menenteramkan saat tidak bertemu dan ketenangan yang
menyejukkan saat berjumpa. Sakinah menumbuhkan kelembutan dan keramahan
dalam pergaulan mereka, termasuk dalam mendidik anak kelak, serta memunculkan
optimisme dan kekuatan jiwa ketika menghadapi masalah sehingga mereka tidak
lebih tua dari usianya.
Bagaimana suasana keluarga yang sakinah? Sayang sekali saya belum bisa
menggambarkan. Hanya saja, diam-diam saya kadang terkesan ketika menjumpai
hadis yang mengabarkan sebagian tandanya.
Kado Pernikahan 65
“Akan lebih sempurna ketakwaan seorang mukmin,” kata Rasulullah Saw., “jika
ia mempunyai seorang istri yang shalihah, jika diperintah suaminya ia patuh, jika
dipandang membuat suaminya merasa senang, jika suaminya bersumpah
membuatnya merasa adil, jika suaminya pergi ia akan menjaga dirinya dan harta
suaminya.”
“Tiga kunci kebahagiaan seorang laki-laki,” kata Rasulullah Saw. menunjukkan,
“adalah istri shalihah yang jika dipandang membuatmu semakin sayang dan jika kamu
pergi membuatmu merasa aman, dia bisa menjaga kehormatan dirinya dan hartamu;
kendaraan yang baik yang bisa mengantar ke mana kamu pergi; dan rumah yang
damai yang penuh kasih-sayang. Tiga perkara yang membuatnya sengsara adalah istri
yang tidak membuatmu bahagia jika dipandang dan tidak bisa menjaga lidahnya, juga
tidak membuatmu merasa aman jika kamu pergi karena tidak bisa menjaga
kehormatan diri dan hartamu; kendaraan rusak yang jika dipakai hanya membuatmu
lelah namun jika kamu tinggalkan tidak bisa mengantarmu pergi; dan rumah yang
sempit yang tidak kamu temukan kedamaian di dalamnya.”
Kita cukupkan pembicaraan sekilas tentang sakinah. Kita kembali lagi kepada
pembahasan kita mengenai pernikahan yang disegerakan dan pernikahan yang
tergesa-gesa.
Jika pernikahan yang disegerakan lebih dekat kepada kemaslahatan dan barakah,
maka pernikahan yang tergesa-gesa lebih dekat kepada kegersangan dan kekecewaan.
Pernikahan yang tergesa-gesa mendatangkan penyesalan dan ketidakbahagiaan. Ia
mendapati istrinya menyusahkan dan membuatnya cepat beruban sebelum waktunya
(he hmm, tapi bukan cepat beruban karena minyak rambut).
Saya teringat kepada penghujung do’a Nabi Daud ‘alaihissalam, “Ya Allah, …
Hindarkanlah saya dari anak-anak yang durhaka terhadap orangtuanya; harta yang
jadi bencana bagi saya maupun orang lain; tetangga yang buruk sifatnya, yaitu jika
melihat kebaikan pada saya difitnahnya dan jika melihat keburukan
disebarluaskannya, dan istri yang menyusahkan, membuat saya beruban sebelum
waktunya.”
Jika pernikahan yang barakah membuat rumah terasa damai dan penuh kasih
sayang, pernikahan yang tidak barakah mengakibatkan rumah terasa sempit dan
orang tidak menemukan kedamaian di dalamnya. Ukuran fisiknya barangkali luas,
bahkan jauh melebihi kebutuhan. Akan tetapi, tidak ada kelapangan di dalamnya.
Betapa bedanya antara luas dan lapang.
Pernikahan yang barakah insya-Allah akan kita dapati ketika kita menyegerakan
nikah. Tetapi, pernikahan yang dilakukan tergesa-gesa justru bisa melahirkan
kehampaan, kecuali kalau Allah menolong kita mengambil jarak dari keadaan kita
sendiri, melakukan introspeksi yang teliti dan berhati-hati dalam menilai masalah.
Selanjutnya, mudah-mudahan kita bisa menjaga lisan (hifdhul-lisan) dari mengatakan
apa-apa yang tidak baik di hadapan Allah dan manusia mengenai pasangan
hidup kita, sekalipun dia tidak tahu. Sebab ungkapan kekesalan dan kekecewaan –
apalagi sampai menutupi kebaikan yang ada padanya– bisa menjadi do’a yang pasti
Kado Pernikahan 66
dikabulkan ketika ucapan itu keluar bersamaan dengan sa’atu-nailin, yaitu saat ketika
ucapan menjadi do’a, dan do’a pada saat itu pasti terkabul.
Pembicaraan mengenai ini akan semakin panjang jika diteruskan. Cukuplah kita
akhiri dengan berdo’a, mudah-mudahan Allah mengarunia kita dengan kemuliaan dan
kebarakahan dalam keluarga kita. Semoga dari sana lahir keturunan yang memberi
bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah. Keturunan yang hukmashabiyya
rabbi radhiyyah, yang memberikan kesejukan mata dan ketenteraman jiwa
di dunia hingga kelak di hari kiamat.
Selanjutnya, mari kita lihat perbedaan antara menyegerakan dan tergesa-gesa.
Kita akan membicarakan masalah ini melalui dua cara. Pertama, melalui tanda-tanda
hati (mudah-mudahan Allah menjernihkan hati kita). Kedua, melalui perumpamaan
yang dapat dipikirkan oleh akal.
Tanda-tanda Hati
“Orang yang mempunyai niat yang tulus,” kata Imam Ja’far Ash-Shadiq, guru
dari Imam Abu Hanifah, “adalah dia yang hatinya tenang, terbebas dari pemikiran
mengenai hal-hal yang dilarang, berasal dari upaya membuat niatmu murni untuk
Allah dalam segala perkara.”
Pada hari ketika harta benda dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang
yang datang kepada Allah dengan hati yang suci. (QS 26: 88-90).
Kalau kita menyegerakan nikah karena niat yang jernih, insya-Allah hati kita
akan merasakan sakinah, yaitu ketenangan jiwa saat menghadapi masalah-masalah
yang harus diselesaikan. Kita merasa yakin, meskipun harapan dan kekhawatiran
meliputi dada. Kita merasa tenang, meskipun ada sejumlah masalah yang membebani
dan menyita perhatian.
Ketenangan dan beban masalah bukanlah dua hal yang bertentangan. Seperti
seorang ibu yang telah memiliki kematangan, kedewasaan dan kasih sayang besar
kepada anak serta pengharapan besar terhadap ridha Allah. Saat menghadapi
persalinan, ia merasakan ketenangan hati dan keyakinan. Meskipun harus melewati
perjuangan mendebarkan yang melelahkan secara fisik dan ketegangan psikis, namun
ketegangan ini bukan sejenis perasaan tidak aman.
Lain halnya dengan tergesa-gesa. Ketergesa-gesaan ditandai oleh perasaan tidak
aman dan hati yang diliputi kecemasan yang memburu. Seperti berdiri di depan anjing
galak yang tidak pernah kita kenal, ada perasaan ingin untuk cepat-cepat berlari pergi
menjauhi tempat itu. Kalau berlari, takut dikejar dan terjatuh. Kalau tetap berdiri di
dekatnya, tidak ada kepastian dan ada kekhawatiran jangan-jangan anjing itu
menggigit.
Inilah gambaran sekilas. Kalau belum jelas, bertanyalah kepada hati nuranimu.
Mintalah fatwa kepadanya.
Kado Pernikahan 67
Rasulullah Saw. bersabda,
“Mintalah fatwa dari hatimu. Kebaikan itu adalah apa-apa yang tenteram jiwa
padanya dan tenteram pula dalam hati. Dan dosa itu adalah apa-apa yang syak
dalam jiwa dan ragu-ragu dalam hati, walaupun orang-orang memberikan fatwa
kepadamu dan mereka membenarkannya.” (HR Ahmad).
Tanda-tanda Perumpamaan
Kalau suatu saat Anda naik motor dan menjumpai tikungan tajam, apa yang
Anda lakukan? Apakah Anda akan segera membelokkan kemudi tanpa mengurangi
kecepatan karena ingin cepat sampai? Atau, Anda mengurangi kecepatan sedikit,
menelikung dengan miring, dan sesudah berbelok baru menambah kecepatan sedikit
demi sedikit?
Jika Anda memilih yang pertama, sangat mungkin Anda terpental sendiri. Anda
terjatuh, sehingga harus berhenti sejenak atau agak lama. Baru kemudian dapat
meneruskan perjalanan.
Keinginan Anda untuk cepat sampai di tempat tujuan dengan tidak mengurangi
kecepatan, apalagi justru dengan menambah kecepatan, tidak membuat Anda lebih
cepat sampai dengan tenang, tenteram, dan aman. Bisa-bisa, kalau kecepatan Anda
tetap antara sebelum berbelok dengan saat-saat berbelok, Anda justru terpental.
Antara gaya sentrifugal dan gaya sentripetal, tidak seimbang.
Jika Anda memilih yang kedua, insya-Allah Anda akan dapat sampai lebih cepat.
Awalnya memang mengurangi kecepatan, tapi sesudah betul-betul memasuki
tikungan dengan baik, Anda bisa menambah kecepatan. Jika Anda mengurangi
kecepatan lebih banyak lagi, Anda bahkan dapat membelok tanpa harus memiringkan
badan banyak-banyak.
Jalan yang lempang adalah tamsil dari masa melajang, masa ketika masih sendiri.
Belokan adalah proses peralihan menuju status baru, menikah dan berumah tangga.
Sedang jalan berikutnya yang dilalui setelah berbelok, adalah kehidupan keluarga
setelah menikah.
Pilihan pertama adalah sikap tergesa-gesa untuk menikah, sedangkan pilihan
yang kedua adalah menyegerakan.
Ada perumpamaan lain. Kita melihat perumpamaan yang dekat-dekat dengan
kita. Kalau suatu saat Anda bikin kolak kacang hijau, ada beberapa bahan yang perlu
Anda masukkan. Bahan yang paling pokok adalah kacang hijau dan gula. Kalau
Anda memasukkan gula bersamaan dengan kacang hijau, sesudah itu segera direbus,
Anda akan mendapati kacang hijau itu tidak mau mekar. Anda tergesa-gesa. Kalau
Anda memasukkan gula setelah kacang hijaunya mekar, Anda menyegerakan. Tetapi,
kalau Anda lupa tidak segera memasukkan gula setelah kacang hijaunya mekar cukup
lama, Anda akan kehilangan banyak zat gizi yang penting.
Kado Pernikahan 68
Sampai di sini, saya kira cukup pembahasan mengenai menyegerakan dan
tergesa-gesa. Mudah-mudahan Allah Ta’ala memasukkan kita ke dalam golongan
orang-orang yang menyegerakan, bukan tergesa-gesa. Semoga Allah menjadikan
pernikahan kita barakah dan diridhai Allah.
Saya memohon perlindungan kepada Allah dari penjelasan yang tidak menambah
kejelasan. Mudah-mudahan apa yang kurang dalam tulisan ini menjadikan Anda
berhati-hati. Mudah-mudahan apa yang terang, menjadikan Anda mempunyai
keyakinan hati. Mantap dalam melangkah.
Segala Puji bagi Allah
Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan banyak karunia. Dialah Yang
Awal dan Yang Akhir. Maha suci Allah dari segala persangkaan hamba-hamba-Nya.
Maha Mulia Allah yang menurunkan hujan untuk mensucikan bumi dan
menumbuhkan berbagai tanaman, baik yang berbuah, yang berbunga maupun yang
berbuah sekaligus berbunga.
Saya bersyukur kepada Allah yang telah memberikan kekuatan dan petunjuk
kepada saya untuk menulis bab ini, sekaligus buku ini secara keseluruhan. Semoga
menjadi do’a yang baik. Menjadi sunnah hasanah yang diridhai.
Catatan Kaki:
1. “Ini dinisbahkan atas nama Nabi yang Nabi sama sekali terbebas dari
mengucapkan yang demikian. Ini hadis dha’if.” Kata Ustadz Abdul Hakim
Abdats, “Hadis ini mursal, tabi’in langsung menyandarkan kepada nama Nabi,
jelas tidak membawa nama sahabat.”
Kado Pernikahan 69
Bab 6
Di Manakah
Wanita-wanita Barakah Itu?
Rasulullah bersabda,
“Seorang wanita yang penuh barakah dan mendapat anugerah Allah adalah
yang maharnya murah, mudah menikahinya, dan akhlaknya baik.
Namun sebaliknya, wanita yang celaka adalah yang mahal maharnya,
sulit menikahinya, dan buruk akhlaknya.”
enikah hampir menyamai kemuliaan agama. Perjanjian nikah disebut
mitsaqan-ghalizhan. Istilah ini tidak pernah dipakai dalam Al Qur’an,
kecuali hanya untuk tiga peristiwa. Satu untuk perjanjian akad nikah, dan
dua kali untuk perjanjian tauhid.
Dalam masalah tauhid, pembelaan terhadap kebenaran agama dari mereka yang
menyerang, bisa dilakukan dengan mubahalah (perang doa). Masing-masing pihak
memohon kepada Allah dengan sumpah yang sungguh-sungguh agar pihak yang salah
mendapat kutukan. Mendapat azab.
Hal yang sama juga kita jumpai dalam pernikahan. Ada yang serupa dengan
mubahalah dalam pernikahan, yaitu li’an. Keduanya merupakan perang doa.
Jika mubahalah disebutkan dalam satu ayat, kita mendapati Al Qur’an
menerangkan tentang li’an tidak cukup satu ayat. Allah Swt. berfirman:
“Dan orang-orang yang menuduh istri mereka (berzina), padahal mereka tidak
mempunyai saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian orang itu ialah
empat kali bersumpah dengan nama Allah, sesungguhnya dia adalah orang-orang
M
Kado Pernikahan 70
yang benar. Dan (sumpah) yang kelima, bahwa laknat Allah atasnya, jika ia termasuk
orang-orang yang berdusta.
Dan istrinya itu akan dihindarkan dari hukuman, apabila sumpah empat kali
atas nama Allah yang dilakukan suaminya itu adalah dusta. Dan (sumpah) yang
kelima, bahwa laknat Allah atasnya, jika suaminya itu termasuk orang-orang yang
benar.” (QS An-Nur [24]: 6-9).
Bila perceraian biasa bisa diakhiri dengan rujuk dan masih terbuka kesempatan
untuk merajut kebahagiaan bersama-sama seperti sebelumnya, maka tidak demikian
dengan li’an. Dua orang yang telah bercerai setelah keduanya saling me-li’an
(melaknat) haram untuk bersatu kembali untuk selama-lamanya.
Rasulullah Saw., bersabda,
Khat Arab
“Dua orang suami-istri yang saling melaknat, apabila telah berpisah (bercerai),
maka tidak akan pernah bertemu lagi selamanya.” (Hadis Shahih).
Jadi, tak ada lagi ruang untuk menyatukan hati yang telah berpisah, ketika
penyesalan datang. Apabila sebelumnya keduanya saling melaknat, tidak ada lagi
kesempatan untuk menghayati kebersamaan dan kebahagiaan ketika mereka
menyadari kesalahan-kesalahannya. Na’udzubillahi min dzalik. Semoga kita tidak
pernah sedikit pun tergelincir ke dalam prasangka yang buruk kepada teman hidup
kita, karena prasangka yang buruk merupakan bibit li’an.
Pernikahan sedemikian pentingnya dalam pandangan Islam. Pernikahan menjadi
sunnah Rasul. At-Tirmidzi, Imam Ahmad ibn Hanbal, dan Al-Baihaqi pernah
meriwayatkan sebuah hadis bahwa Rasulullah Saw. bersabda, “Empat macam perkara
termasuk sunnah-sunnah para Rasul, yaitu: memakai pacar, memakai wewangian,
bersiwak, dan menikah.”
Pernikahan merupakan bukti kekuasaan Allah Yang Maha Mulia. Ia menciptakan
kasih-sayang dan kerinduan-kerinduan. Ia memberikan ketenteraman yang tidak
pernah bisa dirasakan oleh orang yang belum menikah. Rumah bagi mereka yang
menikah adalah tempat yang menyejukkan. Tiap-tiap anggota keluarga insya-Allah
memperoleh ketenteraman dan terjalin ikatan kasih-sayang.
Pernikahan yang barakah akan menumbuhkan al-‘athifah (jalinan perasaan) yang
demikian. Mereka akan mendapati pernikahan sebagaimana firman Allah Swt. dalam
surat Ar-Rum ayat 21, surat yang paling populer untuk penghias undangan nikah,
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya adalah Ia menciptakan untukmu istriistri
dari jenismu sendiri, supaya kamu merasa tenteram dengannya, dan dijadikan-
Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu
terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang mengetahui.”
Kado Pernikahan 71
Dalam pernikahan yang barakah, insya-Allah akan tumbuh sakinah. Antara
suami dan istri, tumbuh perasaan kasih dan sayang. Perasaan ini bukan sejenis luapanluapan
sesaat, sehingga semakin kering ketika pernikahan sudah dimakan usia. Ketika
sebuah pernikahan barakah, suami merasa semakin sayang ketika tertegun
memandang istrinya yang semata wayang. Istri merasakan getaran cinta yang semakin
mendalam saat memandangi wajah suaminya.
Bagaimana keluarga yang sakinah itu? Allahu A’lam bishawab. Hadis berikut
mudah-mudahan dapat memahamkan kita sebagian di antara tanda-tandanya.
“Tiga kunci kebahagiaan seorang laki-laki,” kata Rasulullah Saw. menunjukkan,
“adalah istri shalihah yang jika dipandang membuatmu semakin sayang dan jika
kamu pergi membuatmu merasa aman, dia bisa menjaga kehormatan dirinya
dan hartamu; kendaraan yang baik yang bisa mengantar ke mana kamu pergi; dan
rumah yang damai yang penuh kasih sayang. Tiga perkara yang membuatnya
sengsara adalah istri yang tidak membuatmu bahagia jika dipandang dan tidak bisa
menjaga lidahnya juga tidak membuatmu merasa aman jika kamu pergi karena tidak
bisa menjaga kehormatan diri dan hartamu; kendaraan rusak yang jika dipakai
hanya membuatmu lelah namun jika kamu tinggalkan tidak bisa mengantarmu pergi;
dan rumah yang sempit yang tidak kamu temukan kedamaian di dalamnya.”
“Akan lebih sempurna ketakwaan seorang Mukmin,” kata Rasulullah Saw., “jika
ia mempunyai seorang istri shalihah; jika diperintah suaminya ia patuh, jika
dipandang membuat suaminya merasa senang, jika suaminya bersumpah membuatnya
merasa adil, jika suaminya pergi ia akan menjaga dirinya dan harta suaminya.”
Tetapi, tidak semua pernikahan mendapatkan barakah. Adakalanya, indahnya
pernikahan segera kering setelah masa pengantin baru berlalu. Setahun belum berlalu,
tetapi rumahtangga sudah dipenuhi oleh rasa jemu. Anak belum lagi satu, malah istri
baru menjalani kehamilan pertama, tetapi hubungan keduanya justru semakin kaku.
Bahkan lebih kaku dibanding malam pertama, saat keduanya masih belum begitu
kenal.
Apa yang menyebabkan pernikahan tidak barakah? Wallahu A’lam bishawab.
Saya hanya bisa berharap kepada Allah Swt semoga Ia menjadikan pernikahan saya,
juga pernikahan Anda, dibarakahi dan diridhai-Nya. Dengan demikian, pernikahan
semakin mendekatkan kita kepada-Nya. Bukan justru mendatangkan kekecewaankekecewaan
yang membuat kita sulit bersyukur kepada Allah Swt. Betapa banyak
nikmat Allah. Akan tetapi alangkah sulitnya mensyukuri sekian banyak karunia-Nya,
kalau hati penuh kekecewaan.
Tulisan ini merupakan doa saya, mudah-mudahan saya dan Anda mencapai
pernikahan yang barakah. Sejauh yang saya bisa, saya berusaha untuk membahas
beberapa hal yang menjadikan pernikahan tidak barakah atau berkurang
kebarakahannya. Mudah-mudahan, dengan demikian saya dan Anda semuanya dapat
mengambil pelajaran. Sehingga kita bisa menghindarkan diri dari keadaan-keadaan
yang mengurangkan barakah. Apalagi sampai menghilangkan.
Kado Pernikahan 72
Ada pernikahan yang penuh barakah. Ada pernikahan yang sedikit
kebarakahannya. Dan yang paling menakutkan, adalah pernikahan yang tidak akan
pernah ada kebarakahan di dalamnya.
Pernikahan yang bagaimanakah yang tidak akan pernah ada kebarakahan di
dalamnya?
Rasulullah Saw. menunjukkan, “Barangsiapa yang menikahkan (putrinya)
karena silau akan kekayaan laki-laki itu meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka
tidak pernah pernikahan itu akan dibarakahi-Nya.”
Sebagian pernikahan kurang barakah karena niatnya yang tidak tepat. Sebagian
disebabkan oleh berbagai hal selama proses berlangsung. Sebagian dipengaruhi oleh
pelaksanaan pernikahan. Sebagian disebabkan akhlak setelah menikah. Tetapi
perubahan akhlak setelah menikah, banyak disebabkan oleh niat orang yang menikah
dan yang menikahkan (karena itu, ajaklah orangtua berbicara). Pernikahan yang
barakah insya-Allah justru menjadikan akhlak keduanya semakin baik. Bila
sebelumnya masih kurang sesuai dengan keutamaan akhlak, insya-Allah setelah
menikah mereka menjadi baik akhlaknya. Ini berdasarkan hadis Nabi:
“Kawinkanlah (zawwajuu) orang-orang yang masih sendirian di antara kamu,
sesungguhnya Allah akan memperbaiki akhlak mereka, meluaskan rizki mereka,
dan menambah keluhuran mereka.”
Mengenai niat, insya-Allah kita akan membahasnya tiga bab mendatang.
Sementara beberapa aspek yang mempengaruhi kebarakahan dan sakinah dalam
pernikahan, sudah kita bahas dalam bab-bab sebelumnya, betapa pun masih terbatas.
Pada bab ini, saya ingin mengajak Anda untuk menyelami beberapa peringatan
berikut, dengan segala keterbatasan yang ada pada saya saat ini (semoga Allah
mengampuni kesalahan dalam pembahasan ini dan memberikan petunjukNya).
“Sesungguhnya,” kata Rasulullah Saw., “termasuk dari keberuntungan perempuan
adalah mudah lamarannya, ringan mas kawinnya, dan subur rahimnya.” (HR
Ahmad).
Sabda Rasulullah Saw.:
Khat Arab
“Wanita yang paling agung kebarakahannya, adalah yang paling ringan
maharnya.” (HR Ahmad, Al-Hakim, Al-Baihaqi dengan sanad yang shahih).
Rasulullah juga mengingatkan,
Khat Arab
Kado Pernikahan 73
“Seorang wanita yang penuh barakah dan mendapat anugerah Allah adalah
yang maharnya murah, mudah menikahinya, dan akhlaknya baik. Namun sebaliknya,
wanita yang celaka adalah yang mahal maharnya, sulit menikahinya, dan buruk
akhlaknya.”
Pada sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dari Anas r.a.,
Rasulullah bersabda, “Orang yang menikahi wanita karena kedudukannya, Allah
hanya akan menambahinya kehinaan; yang menikahinya karena kekayaannya, Allah
hanya akan memberinya kefakiran; yang menikahinya karena nama besar
keturunannya, Allah justru akan menambahinya kerendahan. Namun, laki-laki yang
menikahi wanita hanya karena menjaga pandangan mata dan memelihara nafsunya
atau untuk mempererat hubungan kasih-sayang (silaturrahim), maka Allah akan
membarakahi laki-laki itu dan memberi kebarakahan yang sama pada wanita itu
sepanjang ikatan pernikahannya.”
Cukup sampai di sini kutipan kita terhadap hadis-hadis Nabi mengenai
pernikahan dan kebarakahannya. Sekarang, marilah kita melanjutkan pembahasan
kita. Mudah-mudahan Allah memberikan taufik dan hidayah kepada kita, kemudian
melimpahkan barakah dan ridha-Nya. Allahumma amin.

Rasulullah tidak pernah
memberikan mahar melebihi
12 uqiyah.

Masalah Mahar
Mahar atau maskawin, kata Shaleh bin Ghanim As-Sadlan dalam buku Mahar &
Walimah, merupakan satu hak yang ditentukan oleh syariah untuk wanita sebagai
ungkapan hasrat laki-laki pada calon istrinya, dan juga sebagai tanda cinta kasih serta
ikatan tali kesuciannya. Maka mahar merupakan keharusan tanpa boleh ditawar oleh
laki-laki untuk menghargai pinangannya dan simbol untuk menghormatinya serta
membahagiakannya.
Mahar disebut juga dengan istilah yang indah, yakni shidaq. Shidaq berarti
kebenaran. Mahar menunjukkan kebenaran dan kesungguhan cinta kasih laki-laki
yang meminangnya. Ia merupakan bukti kebenaran ucapan laki-laki atas
keinginannya untuk menjadi suami bagi orang yang dicintainya. Mahar bukanlah
harga atas diri seorang wanita. Wanita tidak menjual dirinya dengan mahar. Namun ia
membuktikan kebenaran kesungguhan, cinta, dan kasih-sayang laki-laki yang
bermaksud kepadanya dengan mahar.
Kado Pernikahan 74
Jadi, makna mahar atau maskawin dalam sebuah pernikahan lebih dekat kepada
syari’at agama dalam rangka menjaga kemuliaan peristiwa suci. Mahar adalah syarat
sahnya sebuah perkawinan. Juga, sebagai ungkapan penghormatan seorang laki-laki
kepada wanita yang menjadi istrinya. Memberikan mahar merupakan ungkapan
tanggung-jawab kepada Allah sebagai Asy-Syari’ (Pembuat Aturan) dan kepada
wanita yang dinikahinya sebagai kawan seiring dalam meniti kehidupan
berumahtangga.
Kelak, mahar merupakan aspek penting yang banyak memberi pengaruh apakah
sebuah pernikahan akan barakah atau tidak. Kita telah membaca beberapa hadis Nabi
berkenaan dengan hal ini di awal bab. Oleh karena itu, saya tidak membahasnya lagi.
Saat ini, kita lebih baik melanjutkan pembahasan kita mengenai berbagai hal
dalam masalah mahar.
Sebaik-baik Mahar
Ada kenangan indah dalam sejarah. Tak hanya orang-orang di zaman Rasulullah
yang terkesan. Orang-orang yang hidup jauh sesudah Rasulullah tiada, masih sering
menyebut-nyebut dengan penuh penghormatan. Perjalanan hidupnya banyak yang
diabadikan oleh Al Qur’an dan Al-Hadis. Keturunannya menambah keharuman Islam.
Sebuah pernikahan yang benar-benar penuh barakah.
Mengenai pernikahannya, Tsabit berkata, “Belum pernah aku mendengar mahar
yang lebih mulia daripada mahar Ummu Sulaim. Ia hidup rukun bersamanya dan
melahirkan anak.”
Apa mahar Ummu Sulaim? Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah dalam Zadul Ma’ad
sebagaimana disebut dalam Mahar & Walimah, mencatat: …. Dan dalam Sunan An-
Nasa’i bahwa Abu Thalhah melamar Ummu Sulaim lalu berkata, “Demi Allah, wahai
Abu Thalhah, orang seperti Anda tidak akan ditolak (melamar wanita), akan tetapi
Anda seorang kafir, sedangkan saya seorang Muslimah. Tidak halal bagiku untuk
kawin dengan Anda.
“Namun jika Anda masuk Islam, maka yang demikian dapat menjadi maharku.
Saya tidak meminta selain itu.”
Kemudian Abu Thalhah masuk Islam dan masuk Islamnya itu merupakan mahar
untuk Ummu Sulaim.
Saya tidak tahu, apakah ada seorang mukminah dengan aqidah yang betul-betul
kuat meminta mahar seperti mahar Ummu Sulaim. Kita tidak tahu, adakah wanitawanita
di masa sekarang yang bertindak seperti Ummu Sulaim.
Saat ini, banyak wanita muslimah yang bersedia menikah dengan pemuda nonmuslim
setelah pemuda itu menyatakan masuk Islam. Tetapi, tidak sedikit muslimahmuslimah
kita masih sangat kurang dalam agamanya dan sedikit sekali
pengamalannya. Masuk Islamnya calon suami, agak tragis, sering sekedar legitimasi
atau malah strategi untuk mendapatkan pengesahan sebagai suami-istri. Kelak,
Kado Pernikahan 75
sesudah punya anak satu, suami itu kembali ke agama semula. Sementara itu
wanitanya memiliki dua alternatif pilihan saja: bercerai dengan suami dan anaknya,
atau bercerai dengan Islam yang telah menjadi agamanya sejak bayi.
Ada yang bisa kita catat dari kisah agung pernikahan Ummu Sulaim dengan Abu
Thalhah. Kita mencatat bahwa mahar dapat menjadi dakwah. Mahar menjadi pengikat
kasih-sayang sekaligus untuk syi’ar Islam.
Barangkali untuk tujuan ini, kita mendapati banyak orang memberikan mahar
kepada istrinya berupa mushaf Al Qur’an dan mukena. Jika ini tujuannya, kita dapat
bertanya kembali, apakah mahar jenis ini masih mempunyai kekuatan untuk
menegakkan syi’ar Islam ketika yang demikian ini telah menjadi tradisi dan orangorang
di sekeliling kita sudah banyak yang menggunakan mukena.
Apalagi, kita juga mendapati bahwa mahar yang seperti ini tidak jarang sekedar
sebagai basa-basi formal. Basa-basi sosial atau religi. Sedangkan mahar yang
sesungguhnya, bukan itu. Di atas kertas, mahar yang disebutkan pada saat akad
adalah mushaf Al Qur’an dan seperangkat alat shalat. Tetapi di belakangnya, ada
sejumlah mahar yang atas pertimbangan sosial tidak dinyatakan saat itu, tetapi disebar
berita pada saat lain.
Jika ini yang terjadi, saya khawatir mahar tersebut tidak menjadi syi’ar Islam.
Hari ini, kita merasakan itu. Mahar yang dekat dengan nafas agama itu, justru tidak
membuat kita bergetar. Tidak membuat darah kita berdesir terkesiap karena tertegun
oleh keagungannya, di balik yang tampak bersahaja.
Saya khawatir, mahar yang demikian bukannya menjadi syi’ar, jika di
belakangnya ada yang tidak ditampakkan atas alasan-alasan basa-basi sosial. Janganjangan
tindakan ini mengandung unsur kebohongan, sehingga pernikahan justru
menjadi tidak barakah. Wallahu A’lam bishawab.
Apakah mahar berupa mushaf Al Qur’an tidak bisa menjadi syi’ar? Insya-Allah
masih mempunyai kekuatan syi’ar jika kita meniatkan betul dan menjaga niat itu
ketika menyampaikan mahar.
Selebihnya, syi’ar dalam bentuk-bentuk seperti itu, sifatnya sangat kontekstual.
Kalau dulu, mahar berupa perlengkapan shalat mempunyai kekuatan syi’ar sangat
besar, maka sekarang perlu kita pikirkan kembali. Ketika orang belum begitu
mengenal shalat, mahar berupa perlengkapan shalat membuat undangan terkesan dan
mencatat dalam hatinya tentang sebuah kemuliaan: shalat. Sekarang, ketika
masalahnya berganti, bentuk mahar yang menjadi syi’ar dapat dipilih yang lebih
sesuai dengan semangat yang ingin kita tumbuhkan sekarang. Misalnya, jubah dengan
atau tanpa cadar dan perlengkapannya. Di luar itu, disampaikan mahar lain jika
memungkinkan dan disebut bersamaan dengan penyebutan mahar jubah. Adapun
kalau ada hadiah sebelum atau sesudah akad nikah, maka yang demikian ini tidak
termasuk yang disebutkan.
Selanjutnya, ada yang perlu kita waspadai. Mahar bisa menjadi syi’ar. Tetapi
juga bisa menjadi sarana untuk mendapatkan penilaian sosial. Yang pertama, kita
Kado Pernikahan 76
mengarahkan masyarakat kepada suatu kesan yang baik terhadap agama, dan mudahmudahan
hati mereka tergerak. Yang kedua, penilaian masyarakat mengarahkan kita
untuk menentukan mahar yang disebut layak, baik dan pantas. Atau, penyebutan
mahar malah dalam rangka menunjukkan ketinggian derajat atau kebesaran martabat
keluarga wanita yang menikah, meskipun untuk itu harus dilakukan impression
management (manajemen kesan) sehingga orang mendapat kesan yang lebih dari
sesungguhnya.
Berbeda sekali antara dua hal tersebut, baik dalam makna maupun dalam
akibatnya.
Satu catatan, tidak ada keharusan memberikan bentuk mahar sebagai syi’ar
khusus. Mahar lebih dekat artinya kepada pemberian sebagai bukti kebenaran kasihsayang
dan ketaatan kepada syari’at yang telah ditetapkan oleh Asy-Syari’ (Allah Swt).
Ini yang paling penting.
Pembahasan kita tentang mahar Ummu Sulaim dan tujuan dakwahnya, sekedar
untuk menunjukkan bahwa mahar tidak harus selalu berbentuk harta. Musa diminta
memberi mahar berupa pekerjaan menggembala kambing beberapa tahun. Dan Ummu
Sulaim meminta mahar berupa kesediaan masuk Islam demi meninggikan kemuliaan
Islam.
Tidak Bisa Dinilai Secara Kuantitatif
Kisah mahar Ummu Sulaim menunjukkan pengertian bahwa, mahar tidak dapat
diukur dari sedikit-banyaknya secara kuantitatif. Segenggam tepung bahan roti
(makanan); sebuah cincin besi; dan sepasang terompah dapat dijadikan sebagai mahar
yang menjadikan perkawinan sah karenanya. Begitu pengertian yang bisa kita ambil
dari Shaleh bin Ghanim.
Pernikahan Fathimah Az-Zahra
Siapakah Fathimah Az-Zahra? Kita bisa menjawab, dia adalah putri Muhammad
Rasulullah. Ibunya adalah Khadijah binti Khuwailid, wanita paling agung di
zamannya.
Tetapi ini tidak mencukupi untuk memperoleh gambaran tentang siapa Fathimah
Az-Zahra. Banyak orang yang menulis buku khusus untuk mencoba menggambarkan
keagungan dan kebesarannya. Seandainya kita sempat mengetahui, yang agak
lengkap sedikit saja, tentang bagaimana wanita yang akan pertama kali masuk surga
ini mengatur rumah tangga dan mendidik anaknya, betapa besar pelajaran yang akan
diperoleh oleh kaum muslimin. Seandainya, kita sempat menghayati sedikit saja
bagaimana Fathimah Az-Zahra menjadi madrasah dan masjid pertama bagi anakanaknya,
insya-Allah kita akan mendapatkan kesempurnaan cara mendidik yang
sebaik-baiknya. Sehingga, kelak akan lahir anak-anak yang penuh barakah dan
diridhai Allah sampai keturunan yang lahir jauh sesudah masanya lewat.
Kado Pernikahan 77
Tetapi, sedikit sekali yang kita ketahui, kecuali peristiwa ketika tangan putri
pemimpin besar ini melepuh karena memutar gilingan. Itu pun sering tidak lengkap.
Sangat tinggi keagungan Fathimah Az-Zahra. Ayahnya memberi julukan Ummu
Abiha (ibu yang melahirkan ayahnya) karena besarnya penghormatan dan kebaktian
Az-Zahra kepada Rasulullah. Setiap Rasulullah Saw. datang dari bepergian, beliau
langsung singgah di rumah Fathimah, setelah menunaikan shalat dua raka’at di
masjid. Baru sesudah itu beliau menjenguk istrinya. Kalau Fathimah datang,
Rasulullah segera berdiri menyambut dan menciumnya.
‘Aisyah, istri yang paling dicintai Rasulullah sesudah Khadijah, menceritakan,
“Tidak pernah aku melihat seorang pun yang paling mirip keadaannya dengan
Rasulullah Saw. dalam cara berdiri dan duduknya seperti Fathimah, putri Rasulullah
Saw. Bila dia datang, Nabi Saw. segera berdiri dan menyambutnya, menciumnya, dan
mendudukkannya di tempat duduknya.”
Sebagai istri, Az-Zahra juga teladan yang tak habis-habisnya untuk setiap
muslimah. Tidak pernah ia membuat marah suaminya, karena Allah tidak menerima
ibadah seorang istri sampai suaminya ridha.
Tentang Az-Zahra, suaminya mengatakan dengan kalimat singkat, “Ketika aku
memandangnya, hilanglah kesusahan dan kesedihanku.”
Fathimah Az-Zahra memang penuh kemuliaan dan kasih-sayang. Ketika
suaminya pulang perang dalam keadaan penuh luka, Fathimah merawatnya dengan
penuh kasih-sayang. Ia bersihkan darah suaminya, Ali bin Abi Thalib, dengan penuh
perhatian.
Dari rahimnya lahir anak-anak yang penuh kemuliaan. Dua orang putranya,
Hasan dan Husain r.a. sudah kita kenal kemuliaannya. Zainab, putri Fathimah, adalah
wanita yang tegar dan penuh kehormatan berani mempertahankan diri di hadapan
penguasa yang telah menghina dan memenggal leher saudaranya, Al-Husain. Ia
melindungi ‘Ali Ausath, putra Al-Husain, setelah dua ‘Ali lainnya mendapati kematian
di ujung pedang yang kejam. Kelak ‘Ali Ausath dikenal sebagai ‘Ali Zainal ‘Abidin,
pemuka ahli ibadah. Dan, dari keturunan laki-laki mulia ini, kita menjumpai orangorang
yang banyak berjuang demi keharuman agama dan kehormatan ummat
manusia, sampai sekarang. Mulai dari Mesir, Yaman, Malaysia, Bandung, Surakarta
hingga bagian timur Indonesia.
Bagaimana Fathimah melahirkan keturunan yang penuh barakah? Anak-anak itu
lahir dari pernikahan yang barakah. Pernikahan yang diridhai Allah. Kemudian
Fathimah mendidiknya dengan keteguhan yang mengagumkan. Sebagai gambaran,
kita dengarkan penuturan Jabir Al-Anshari. Jabir meriwayatkan bahwa, Nabi melihat
Fathimah sedang menggiling dengan kedua tangannya sambil menyusui anaknya.
Maka mengalirlah air mata Rasulullah.
“Anakku,” kata Rasulullah, “engkau menyegerakan kepahitan dunia untuk
kemanisan akhirat.”
Kado Pernikahan 78
Ketika mendengar ucapan Rasulullah, Fathimah Az-Zahra mengatakan, “Ya
Rasulullah, segala puji bagi Allah atas nikmat-Nya, dan pernyataan syukur hanyalah
untuk Allah atas karunia-Nya.”
Begitu sebagian berita yang sampai kepada kita tentang rumahtangga Fathimah
Az-Zahra. Bagaimana pernikahan Fathimah Az-Zahra dengan ‘Ali putra Abi Thalib?
Apa mahar yang diberikan oleh ‘Ali dalam pernikahan yang penuh barakah itu?
Kita sudah sering mendengar berita bahwa, ‘Ali menjual baju besi untuk
membayar maharnya. Konon, baju besi itu dibeli oleh Utsman bin Affan seharga 400
dirham yang kemudian menghadiahkan kembali kepada ‘Ali. Begitu menurut sebagian
riwayat.
Tetapi, apa yang dilakukan setelah memperoleh hasil penjualan baju besi itu? Ia
menyerahkan uang itu kepada Rasulullah Saw. Nabi Saw. kemudian memberikan
sebagian uang itu kepada Asma’ untuk membeli wewangian, sebagian kepada Ummu
Salamah untuk makanan, sebagian kepada tiga orang sahabat, yaitu ‘Ammar, Abu
Bakar, dan Bilal. Ketiga sahabat ini membelanjakan uang untuk membeli
perlengkapan dan perabot rumahtangga Fathimah Az-Zahra. Perabot rumahtangga
yang sederhana. Padahal ayahnya adalah seorang pemimpin, seorang tokoh besar
yang disegani dan dihormati. Andaikan Rasulullah mau yang jauh lebih mewah,
beliau akan bisa mendapatkan dengan cara apa pun. Tetapi Rasulullah tidak
melakukannya. Di sini ada yang bisa kita renungkan.
Inilah mahar pernikahan Fathimah Az-Zahra yang penuh barakah. Darinya lahir
keturunan yang penuh barakah sampai hari ini.
Sekarang ketika kita hendak mencari pernikahan yang barakah, kita bertanya
dimana Fathimah Az-Zahra? Kita membutuhkan teladan yang suci dari wanita agung
ini. Akan tetapi, Fathimah Az-Zahra telah lama tiada menyusul ayahnya ke
rahmatullah. Az-Zahra telah tiada. Entah, teladannya masih kita ikuti ataukah ikut
pergi bersama ketiadaan beliau.
Seperti Apakah Keturunan Kita?
Pernikahan Fathimah Az-Zahra dan Sayyidina ‘Ali yang penuh barakah telah
melahirkan orang-orang yang penuh kemuliaan. Kita mengenal Imam Syafi’i, peletak
dasar ‘ushul fiqih yang melalui jalur ibu bersambung kepada Fathimah Az-Zahra. Kita
mengenal Sayyid ‘Abdullah Haddad, seorang ‘alim yang wara’ dan faqih. Kita juga
mengenal Syaikh ‘Abdul Qadir Al-Jailani. Mengenai beliau, Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyyah, mengatakan dalam bukunya Qodho’ dan Qodar,
“Adapun para imam kaum Sufi serta para syaikh terdahulu yang terkenal seperti
Al-Junaid bin Muhammad beserta pengikut-pengikutnya, juga seperti Syaikh Abdul
Qadir Al-Jailani dan orang-orang semisalnya, maka mereka adalah termasuk orang
yang paling memperhatikan perintah dan larangan, termasuk orang yang sering
mewasiatkan (kepada murid-muridnya) untuk mengikuti yang demikian itu, dan
paling sering mengingatkan agar mereka jangan berjalan bersama (memikirKado
Pernikahan 79
mikirkan) takdir, sebagaimana pengikut-pengikut berikutnya berjalan mengikuti
mereka.”
“Inilah perbedaan kedua yang pernah dikatakan oleh Al-Junaid kepada para
pengikutnya dan Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani; perkataan yang semuanya berkisar
pada ittiba’ terhadap perintah, meninggalkan larangan dan sabar menerima takdir.
Beliau tidak pernah menetapkan suatu tarekat-pun yang bertentangan dengan prinsip
di atas sama sekali; baik beliau sendiri maupun pada umumnya syaikh-syaikh yang
bisa diterima kehadirannya oleh kaum Muslimin….”
Orang-orang seperti mereka itulah yang lahir dari pernikahan Fathimah Az-
Zahra! Lalu, seperti apakah keturunan yang akan lahir dari pernikahan kita? Apakah
kelak Allah mengaruniakan kepada kita keturunan yang memberi bobot kepada bumi
dengan kalimat laa ilaaha illaLlah? Kita berharap demikian. Pada saat yang sama,
marilah kita periksa niat dan keadaan hati kita.
Ya Allah, sesungguhnya hati kami dalam genggaman Engkau. Kepada-Mu ya
Allah, kami memohon rahmat, bersihkanlah hati kami yang kami sendiri tidak
sanggup memeriksanya. Betapa pun kami masih banyak melakukan maksiat kepada-
Mu, Ya Allah, kami masih berharap kepada-Mu dengan hak ummat Muhammad,
karuniakanlah kepada kami keturunan yang menyejukkan mata dan meninggikan
kalimat-Mu.
Allahumma amin.
Berapa Ukuran Mahar?
Suatu ketika, seorang wanita datang kepada Rasulullah Saw. Demikian yang
diriwayatkan oleh Asy-Syafi’i dari Malik dari Abu Hazim dari Sahal bin Sa’ad.
Wanita itu menjumpai Rasulullah dan mengatakan, “Ya Rasulullah, sesungguhnya
aku telah merelakan diri untuk engkau nikahi.”
Wanita itu berdiri lama. Kemudian seorang lelaki berdiri dan mengatakan, “Ya
Rasulullah, nikahkanlah ia dengan aku, jika engkau tidak berkenan menikahinya.”
Kemudian Rasulullah bersabda, “Apakah kamu mempunyai sesuatu untuk
memberinya mahar?”
Lelaki itu pun menjawab, “Aku tidak memiliki apa-apa selain kainku ini.”
Rasulullah kemudian bersabda lagi, “Jika engkau berikan kainmu itu, engkau
tidak mempunyai kain lagi. Carilah sesuatu untuk diberikan kepadanya.”
Lelaki itu menjawab, “Aku tidak dapat menemukan apa pun.”
Akhirnya Rasulullah bersabda, “Carilah sesuatu meskipun hanya sebuah cincin
besi.”
Imam Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadis tentang ini dalam shahihnya,
“Carilah maskawin meskipun hanya sebuah cincin terbuat dari besi.” (Muttafaq
‘alaih).
Kado Pernikahan 80
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Barangsiapa yang membayar dengan satu
dirham, maka ia telah sah nikahnya.”
Menurut hadis ini, satu dirham saja telah mencukupi untuk menjadi mahar bagi
sebuah pernikahan yang sah. Satu dirham telah mencukupi. Rasulullah Saw. juga
bersabda, “Mahar yang paling baik adalah mahar yang paling sederhana.” (HR An-
Nasa’i).
Sementara, Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadis berkenaan dengan
keberuntungan wanita dan mahar pernikahannya. Rasulullah Saw., dalam hadis itu,
bersabda,
“Sesungguhnya termasuk keberuntungan perempuan adalah mudah lamarannya,
ringan maskawinnya, dan subur rahimnya.” (HR Ahmad).
Dari hadis-hadis ini, kita memperoleh gambaran tentang kesederhanaan mahar.
Sebuah cincin besi kalau memang tidak memungkinkan untuk memberi yang lebih,
sudah cukup untuk menjadi maskawin yang layak bagi sebuah pernikahan Islami.
Dalam riwayat lain, kita menjumpai kisah wanita Fuzarah menikah dengan
memperoleh mahar berupa sepasang terompah. Lalu Rasulullah Saw. menanyai
kerelaan wanita itu, “Apakah kamu mau menerima pernikahanmu dengan mahar
sepasang terompah?”
Ia menjawab, “Ya saya terima.”
Kemudian Rasulullah menyetujui pernikahan itu. Demikian hadis yang
diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi dari Amir bin Rabi’ah.

Memberatkan mahar
dapat membuat pernikahan kehilangan barakahnya.
Istri mendapati rumahtangganya penuh kegersangan.
Sedang suami merasakan kehampaan
ketika berada di rumah.

Harta yang sedikit saja, telah layak untuk menjadi mahar meskipun cuma satu
dirham. Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah setelah mengemukakan hadis-hadis yang
berkenaan dengan bimbingan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang mahar,
mengatakan:
“Hadis-hadis itu mengandung ajaran bahwa mahar tidak ditetapkan batas
minimalnya; segenggam gandum, sebuah cincin besi, dan sepasang terompah pun
Kado Pernikahan 81
dapat dijadikan sebagai mahar dan sah pernikahannya. Hadis-hadis itu juga
mengandung ajaran bahwa berlebihan dalam mahar makruh hukumnya dalam
pernikahan dan mengurangi barakah perkawinan.”
Jika satu genggam tepung telah mencukupi sebagai mahar, kita menemukan
‘Abdurrahman bin ‘Auf memberi mahar satu nawat emas ketika menikah. Satu nawat,
kata Shaleh bin Ghanim As-Sadlan, bagi penduduk Madinah adalah seperempat dinar.
Menurut riwayat, Sayyidina ‘Ali karamallahu wajhahu pernah mengatakan,
“Sungguh, aku benci kepada maskawin yang kurang dari sepuluh dirham. Hal ini
karena jangan sampai menyerupai maskawin pelacur.”
Berapa besar mahar yang diberikan oleh Rasulullah kepada istri-istrinya? Abu
Salamah r.a. menceritakan hadis berikut:
Aku telah berkata kepada Siti ‘Aisyah r.a. “Berapakah maskawin yang telah
dibayar oleh Rasulullah Saw.?”
Ia menjawab, “Maskawin yang diberikannya kepada istri-istrinya adalah dua
belas uqiyah dan satu nasy.” Ia bertanya, “Tahukah kamu berapakah satu nasy itu?”
Aku menjawab, “Tidak.”
Ia berkata, “Setengah uqiyah, jumlah semuanya seharga lima ratus dirham.”
(HR Muslim, Abu Daud dan An-Nasa’i).
Berapakah satu uqiyah itu? Syaikh Mansur Ali Nashif menceritakan, satu uqiyah
sama dengan empat puluh dirham. Sehingga 12 uqiyah ditambah satu nasy, total
berjumlah 500 dirham. 500 dirham senilai seperempat dinar, setara dengan nilai
mahar ‘Abdurrahman bin ‘Auf.
Menurut riwayat, Rasulullah Saw. tidak pernah memberikan mahar melebihi
12,5 uqiyah. Hanya Ummu Habibah yang mendapat mahar lebih dari 12,5 uqiyah,
karena Raja Najasyi yang membayar maharnya, bukan Rasulullah Saw. sendiri.
Ummu Habibah menceritakan bahwa, dahulu ia menjadi istri Ubaidillah ibnu
Jahsy. Lalu Ubaidillah mati di negeri Habasyah. Kemudian Raja Najasyi
mengawinkannya dengan Nabi Saw. dan membayarkan maharnya sebanyak empat
ribu dirham. Setelah itu Raja Najasyi mengirimkannya (Ummu Habibah) kepada
Rasulullah Saw. dengan dikawal oleh Syuhrabil ibnu Hasanah. (HR Abu Daud, An-
Nasa’i dan Ahmad).
Baik mahar Rasulullah Saw. maupun mahar ‘Abdurrahman bin ‘Auf, nilainya
mencapai 500 dirham. Sebuah jumlah yang tidak terlalu besar, juga tidak terlalu kecil.
Meskipun demikian, ada peristiwa yang dapat kita renungkan, ketika seorang sahabat
memberikan mahar kepada istrinya.
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwa, seorang laki-laki datang dan
berkata kepada Nabi Saw., “Aku telah menikahi seorang wanita Anshar.”
Lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Sudahkah kamu
melihatnya? Sebab pada mata para wanita Anshar terdapat sesuatu.”
Kado Pernikahan 82
Dia menjawab, “Sudah, aku telah melihatnya.”
Rasulullah kemudian berkata, “Berapa mahar pernikahanmu?”
Dia menjawab, “Empat uqiyah.”
Rasulullah kemudian berkata, “Empat uqiyah? Seolah kamu mengukir perak
pada permukaan gunung ini. Kami tidak mempunyai sesuatu yang bisa kami berikan
kepadamu, akan tetapi mudah-mudahan kami dapat mengutus rombongan
bersamamu yang dapat memberi bantuan.” Lalu Rasulullah pun mengirim utusan
kepada Bani ‘Abs untuk pergi bersama laki-laki itu. (HR Muslim, shahih).
Apa maksud hadis ini? Kita dengarkan penjelasan Imam An-Nawawi dalam
Syarh Shahih Muslim:
“Ungkapan ini,” kata Imam An-Nawawi, “memberi makna makruh memberi
mahar melebihi kemampuan yang dimiliki suami pada saat pernikahan.”
Jadi, berapa ukuran mahar yang sesuai dan layak? Tidak bisa kita menentukan
secara kuantitatif. Kita hanya bisa mengambil pelajaran agar mahar tidak terlalu kecil,
juga tidak terlalu besar.
Berapa ukuran mahar yang disebut terlalu besar?
Pertama, apabila mahar yang diberikan melebihi kemampuan yang dimiliki
suami, seperti dalam kasus pemberian mahar empat uqiyah atau senilai 160 dirham,
meskipun Rasulullah Saw. sendiri maupun ‘Abdurrahman bin ‘Auf memberikan
mahar kepada istrinya sebesar 12,5 uqiyah atau senilai 500 dirham.
Kedua, mahar yang diberikan berlebihan dibanding apa yang biasa berlaku dalam
masyarakat. Sekalipun suami mampu memberikan mahar melebihi mitsil (mahar yang
biasa berlaku dalam masyarakat), ada baiknya untuk menahan diri. Kelak, ia bisa
memberikannya sebagai hadiah kepada istrinya. Ini akan menambah kecintaan istri.
Sementara bermewah-mewah dalam mahar, sehingga masyarakat
membicarakannya, saya khawatir bisa membawa madharat. Awal tradisi adalah
peristiwa-peristiwa semacam ini. Kalau tradisi ini menjadikan orang-orang di
kemudian hari berpengharapan lebih, sementara para pemudanya menjadi takut
menikah, apakah yang demikian tidak termasuk sunnah-sayyi’ah (kebiasaan baru
yang buruk)? Wallahu A’lam bishawab.

Tetapi, apakah himbauan agar mahar tidak melebihi apa yang biasa berlaku
dalam masyarakat tidak bertentangan dengan kisah Umar? Padahal Umar bin
Khaththab telah mengakui kekhilafannya.
Ketika itu, Umar bin Khaththab melarang memberi mahar 40 mata uang perak.
Barangsiapa yang melebihi itu, maka kelebihannya masuk Baitul-Mal. Kemudian
Kado Pernikahan 83
seorang wanita membantah ucapan Umar bin Khaththab sambil menyebutkan ayat 20
surat An-Nisa’. Setelah mendengar teguran itu, Umar berkata, “Wanita ini benar,
Umar salah.”
Mengenai kisah Umar bin Khaththab ini, marilah kita dengar penjelasan dari
Shaleh bin Ghanim As-Sadlan. Meskipun begitu populernya kisah ini, kata Shaleh bin
Ghanim, tetapi di sana banyak jalan cerita yang menimbulkan keraguan. Apalagi
munculnya kisah ini jauh setelah masa Umar dan tidak ditemukan di berbagai kitab
yang dapat dijadikan sumber yang kuat. Banyak ulama dan ahli hadis yang tidak
memakai kisah ini sebagai dalil dalam masalah mahar yang berlebihan. Mereka
merasa cukup dengan petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dalam masalah
mahar. Dan Abu Bakar bin ‘Arabi menegaskan dalam kitab Ahkam Al Qur’an bahwa
riwayat yang masyhur dari Umar adalah yang tidak bertentangan dengan masalah
wanita.
Shaleh bin Ghanim lebih lanjut menjelaskan, sebagian ahli hadis menyebutkan
beberapa riwayat yang membantah adanya interupsi seorang wanita dengan ayat dan
sikap menerima yang ditunjukkan oleh Umar. Bahkan sebagian di antara mereka
mengajukan dalil tambahan yang menolak interupsi wanita itu terhadap Umar.

Akhirnya, sebaiknya mahar diberikan atas kerelaan kedua belah pihak. Kerelaan
istri dibutuhkan terutama ketika mahar yang diberikan jauh lebih kecil daripada yang
biasa dan layak berlaku, seperti kasus mahar sepasang terompah bagi wanita dari
kalangan Fuzarah. Kerelaan suami untuk memenuhi perintah Allah Swt. dalam surat
An-Nisa’ ayat 4:
Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita-wanita (yang kalian nikahi)
sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan
kepada kalian sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah
(ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya. (QS An-
Nisa’ [04]: 4).
Maskawin diberikan penuh kerelaan. Wanita menerimanya penuh kerelaan.
Apalagi masa-masa mendekati akad nikah, sangat sensitif. Tepatlah yang dikatakan
oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah r.a. Kata beliau, “Pernikahan itu sangat sensitif dan
tergantung kepada pribadi masing-masing untuk mendapatkan kemuliaannya.”
Berlebihan Menuntut Mahar
“Seorang wanita yang penuh barakah dan mendapat anugerah Allah,” kata
Rasulullah Saw., “adalah yang maharnya murah, mudah menikahinya, dan akhlaknya
baik. Namun sebaliknya, wanita yang celaka adalah yang mahal maharnya, sulit
menikahinya, dan buruk akhlaknya.”
Kado Pernikahan 84
Banyak ulama memperingatkan agar kita tidak berlebihan dalam mahar. Ada
berbagai madharat dan bahkan mafsadat (kerusakan) yang bisa timbul jika urusan
mahar berlebih-lebihan. Apalagi, jika ketentuan besarnya mahar tidak lagi menjadi
urusan wanita yang akan dinikahi dengan laki-laki yang akan menjadi suaminya.
Misalnya, keluarga bermaksud ikut memperoleh bagian dari mahar yang diterima
oleh anak gadisnya, sehingga mereka memberatkan mahar anaknya. Padahal mahar
merupakan hak penuh wanita yang menikah. Ia yang memiliki mahar itu dan baginya
mahar yang dibayarkan suaminya. Bukan bagi keluarga maupun orangtuanya.
Memberatkan mahar dapat membuat pernikahan menjadi kehilangan
barakahnya. Istri mendapati rumahtangganya penuh kegersangan. Sedang suami
merasakan kehampaan ketika berada di rumah. Melihat istri tidak membuatnya
bertambah sayang. Rumah tidak terasa lapang, meskipun secara fisik tampak luas dan
besar.
Di sinilah kita bisa mengingat ulasan Syaikh Yusuf Qardhawi dalam buku
Fatwa-fatwa Mutakhir (Fatawa Mu’ashirah). Ketika seorang pemuda bertanya
mengenai beratnya maskawin yang harus dibayarkan, Syaikh Yusuf Qardhawi
menutup penjelasannya dengan satu peringatan tajam. Ia berkata, “Kepada segenap
kaum muslimin saya berseru, demi Allah, kita diharamkan merintangi perkawinan
dengan cara demikian itu.”
Apa yang terjadi jika mahar sudah berlebihan? Wallahu A’lam. Sepanjang yang
saya ketahui, setidaknya ada dua lingkup madharat dan bahkan mafsadat (kerusakan)
yang bisa timbul akibat mahar yang berlebih-lebihan. Pertama, madharat dan
mafsadat bagi istri. Ini bisa terbawa dalam keluarga yang mereka bangun kelak.
Kedua, mahar berlebih bisa mempengaruhi sistem pernikahan masyarakat.
Selanjutnya, ini membentuk persepsi sosial tentang status sosial, stratifikasi sosial,
pola interaksi dan rasa aman kolektif masyarakat, serta prasangka sosial (social
prejudice).
Mengenai yang disebut terakhir, bukan tempatnya untuk dibahas di sini.
Sekarang kita cukupkan pembahasan mengenai madharat mahar yang berlebihan bagi
istri dan keluarga yang akan mereka jalani.
Sayyidina ‘Ali karamallahu wajhahu pernah mengingatkan, “Jangan berlebihlebihan
dengan mahar wanita, sebab hal itu akan menyebabkan permusuhan.”
Masalah ini juga pernah diingatkan oleh Sayyidina Umar bin Khaththab. Abu Al-
‘Ajfa As-Sulami mengatakan, “Aku mendengar Umar bin Khaththab radhiyallahu
‘anhu berkata, ‘Jangan berlebihan dalam mahar wanita. Sebab seandainya mahar
berlebihan itu merupakan hal yang mulia dan bagian dari taqwa di sisi Allah,
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling berhak
melakukannya. Tetapi Rasulullah tidak memberi mahar istri-istrinya dan tidak pula
putri-putrinya menikah dengan mahar lebih dari dua belas uqiyah.
‘Seseorang berlebihan dalam memberi mahar kepada istrinya sehingga dapat
menimbulkan permusuhan dalam dirinya kepada istrinya itu dan mudah baginya
Kado Pernikahan 85
berkata: aku telah mengeluarkan biaya mahal untuk kamu dalam ikatan keluarga
ini’.” (Shahih At-Tirmidzi, An-Nasa’i).
Saya merasa masih terhalang untuk menjelaskan masalah ini. Insya-Allah, saya
akan menjelaskannya di kesempatan yang lain. Saat ini, saya ingin mengutarakan
penjelasan singkat mengenai hikmah di balik urusan mahar ini.
Ketika pernikahan berlangsung melalui proses sederhana dan mahar yang ringan,
insya-Allah yang tumbuh dalam hati suami adalah kasih-sayang dan penerimaan.
Sedang pada wanita adalah ridha dan kesetiaan. Ketika suami membayarkan mahar
yang ringan karena yang dikehendaki istri bukanlah besarnya mahar, suami justru
merasa masih belum banyak berbuat untuk istrinya. Ia perlu menjaga kepercayaan
istri yang diberikan kepadanya. Insya-Allah, ia akan merawat kerelaan istrinya
dengan menyuburkan kasih-sayang, penghormatan, dan kepercayaan.
Pada mahar yang ringan, ada kepercayaan tentang ketulusan cinta istri. Ada
kepercayaan tentang kesediaan istri untuk berjuang bersama-sama. Ketika Ummu
Sulaim mengatakan tidak meminta apa-apa kecuali keislaman Abu Thalhah, yang
terkesan bukanlah keinginan calon istri untuk kepentingan dirinya sendiri. Ada
sesuatu yang lebih besar dari itu: misi. Misi keselamatan bagi keduanya di dunia dan
akhirat. Misi mengibarkan keharuman bendera agama.
Alhasil, di balik ringannya mahar ada kekayaan jiwa. Inilah kekayaan yang
menenteramkan jiwa.
Khath Arab
Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah Saw. bersabda, “Bukanlah kekayaan
itu dengan banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya akan jiwa.” (Muttafaqun
‘alaihi).
Sebaliknya, ketika mahar berlebihan, suami merasa telah memberi ikatan. Ia
telah banyak berbuat untuk mencapai ikatan pernikahan. Sehingga ia tidak begitu
perlu untuk membina ikatan lagi. Sekarang, istrilah yang harus banyak berbuat untuk
membuat suasana rumahtangga seperti yang ia kehendaki. Istri harus memahami
tuntutan-tuntutan suami yang sayangnya sering tidak dikemukakan secara lisan.
Bukankah istri “seharusnya sudah mengerti apa tugasnya”?
Alhasil, pernikahan demikian tidak diikat dengan ikatan jalinan perasaan (al-
‘athifah). Pernikahan semacam ini diikat dengan mahar. Ketundukan istri pada suami
bukan karena semakin dalamnya kecintaan, melainkan karena besarnya kekuasaan
dan wewenang suami. Atau, semata-mata karena syari’at memerintahkan kepatuhan.
Kepatuhan yang pertama bisa semakin menyuburkan jalinan perasaan (al-
‘athifah) istri maupun suami. Sehingga hubungan hatin mereka semakin dekat
sebagaimana ‘Abdurrahman bin Abu Bakar dan Atikah binti Amr. Sedang yang kedua
Kado Pernikahan 86
bisa semakin menjauhkan keduanya dari perasaan saling merindukan dan kasih
sayang. Ikatan mereka bukan lagi al-‘athifah (jalinan perasaan), melainkan serangkaian
kewajiban untuk memenuhi tanggung jawab hukum dan sosial.
Wallahu A’lam bishawab wastaghfirullahal ‘adzim.
Biarlah Rasulullah yang Menjadi Wali
Hari ini, ketika Anda sedang mempertimbangkan mengenai mahar dari suamimu,
marilah kita mendengarkan nasehat Rasulullah Saw. Dalam sebuah khotbahnya,
Rasulullah menjanjikan,
Jangan mempermahal nilai maskawin. Sesungguhnya kalau laki-laki itu mulia di
dunia dan takwa di sisi Allah, maka Rasulullah sendiri yang akan menjadi wali
pernikahannya. (HR Ash-habus Sunan).
Kalau Rasulullah menjadi wali pernikahan, Allah akan melimpahkan barakah-
Nya. Mudah-mudahan pernikahan itu penuh barakah sampai ke anak-cucu. Mudahmudahan
dari pernikahan itu lahir anak-anak yang memberi bobot kepada bumi
dengan kalimat laa ilaha illaLlah.
Rasulullah Saw. bersabda, “Jangan mempersulit wanita-wanita yang dalam
perwalianmu dengan mahar yang tinggi. Mudahkanlah, niscaya akan kamu dapati
barakahnya. Karena dengan meringankan mahar mereka dan memberi jalan mudah
untuk pernikahannya akan memperindah akhlak wanita itu. Namun sebaliknya, adalah
kemalangan yang akan menimpa wanita (yang dalam perwalian)mu jika kamu
memberatkan maharnya dan mempersulit pernikahannya dan itu dapat menyebabkan
akhlaknya menjadi buruk.”
Peringatan Penting
Setiap yang berlebihan adalah ketidakwajaran. Setiap ketidakwajaran bisa
mendatangkan keburukan (madharat) dan kerusakan (mafsadat). Mahar yang
berlebihan bisa menimbulkan permusuhan. Permusuhan antara suami dan istri
maupun permusuhan antar keluarga. Tetapi mahar yang terlalu sedikit bisa
menyebabkan wanita merasa tidak dihormati dan dihargai. Sehingga ia tidak merasa
hormat kepada suami.
Karena itu, mudah-mudahan kita bisa mencapai kemaslahatan dalam urusan
mahar ini. Seperti wanita dari kaum Fuzarah, Anda bisa menanyakan kerelaannya jika
Anda hendak memberikan mahar sederhana. Jika suku calon istri berbeda,
menanyakan kerelaannya juga dimaksudkan agar istri tidak merasa kurang dihargai.
Barangkali mahar dari Anda di luar kelaziman masyarakat setempat.
Wallahul Musta’an.
Kado Pernikahan 87
Jalinan Perasaan yang Barakah
Suatu ketika Rasulullah Saw. bersabda, “Bilamana seorang wanita
menyedekahkan maharnya kepada suaminya sebelum si suami menggaulinya, maka
Allah menulis (kebaikan) baginya untuk setiap satu dinar dengan pahala
membebaskan budak.”
Kemudian sahabat bertanya kepada Rasulullah, “Lalu bagaimana jika hal itu
diberikan setelah berhubungan?”
Beliau menjawab,
Khat Arab
“Hal itu termasuk kecintaan (mawaddah) dan keharmonisan.”
Menyedekahkan mahar kepada suami setelah merasakan hubungan intim, insya-
Allah akan menumbuhkan cinta dan keharmonisan. Mereka merasakan suasana
rumahtangga yang diliputi oleh kerinduan dan kehangatan cinta-kasih. Bagi mereka
sakinah (ketenteraman), mawaddah dan rahmah. Syaratnya, istri menyedekahkan
dengan senang hati.
Dalam kitab suci Al Qur’an Allah Swt mengabarkan masalah maskawin
(shadaq), antara lain:
Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita-wanita (yang kalian nikahi)
sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan
kepada kalian sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, maka makanlah
(ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya. (QS An-
Nisa’ [04]: 4).
Jika Anda ingin menyerahkan sebagian mahar Anda kepada suami dengan
senang hati dan penuh kerelaan, sampaikanlah dengan cara yang sebaik-baiknya.
Sampaikan dengan perkataan yang menyejukkan dan lemah lembut, sehingga tidak
membuat suami merasa pemberiannya kurang berarti. Ingatlah perkataan Ummu
Sulaim kepada Abu Thalhah ketika hendak menikahinya. Mudah-mudahan mahar
yang Anda sedekahkan kepada suami dapat menjadi pemberian yang sedap lagi baik
akibatnya. Mudah-mudahan Allah melimpahkan kebarakahan yang berlimpah.

Tuntutan psikis yang tinggi
menjadikan apa yang dipandang selalu kurang.
Kalau Anda memakai kacamata gelap,
matahari yang terang pun kelihatan redup!

Kado Pernikahan 88
Peringatan bagi Suami
Allah dan Rasul-Nya membolehkan wanita menyerahkan maharnya kepada
suami dengan penuh kerelaan. Di dalamnya, insya-Allah akan didapatkan keindahan
dan akibat yang baik.
Tetapi, ini tidak bisa menjadi alasan bagi suami untuk mendesak istri agar
menyerahkan mahar yang telah dibayarkan. Tidak. Sama sekali tidak bisa. Sebab,
syarat penyerahan mahar adalah kerelaan dengan senang hati. Bisa jadi istri
menyerahkan mahar yang telah diterima karena desakan suami, tetapi ia masih
berharap akan memperoleh kembali sekalipun ia tidak mengatakan. Yang demikian
ini termasuk beratnya hati. Bukan kerelaan. Bukan tindakan dengan senang hati.
Istri yang menyerahkan dengan senang hati, bisa jadi mempunyai harapan akan
mempunyai perhiasan. Tetapi bentuk pengharapannya berbeda. Ia mengharap karena
ada rasa yakin. Kalau suami dilapangkan rezekinya, ia akan dengan senang hati
memberikan perhiasan seperti yang dikehendaki.
Jadi, jangan sekali-kali mendesak istri untuk menyerahkan maharnya sebagai
pemberian kepada suami. Ingatlah peringatan Rasulullah Saw. yang disampaikan di
hari-hari terakhir menjelang wafatnya.
Kata Rasulullah,
“Barangsiapa menikahi seorang perempuan dengan harta yang halal, tetapi
menginginkan kemegahan dan kesombongan, Allah tidak akan memberinya bekal
kecuali kehinaan dan kerendahan. Sesuai dengan kadar kesenangannya, Allah akan
menyuruhnya berdiri di tepian jahannam dan kemudian jatuh ke dalamnya sejauh
tujuh puluh kharif (ukuran panjang). Siapa yang merampas mahar istrinya (atau tidak
membayarnya) di sisi Allah ia menjadi pezina. Allah akan berkata kepadanya di hari
kiamat, “Aku menikahkan kamu kepada hamba-Ku dengan perjanjian-Ku. Engkau
tidak memenuhi perjanjian itu.” Allah akan menagih hak istrinya dan bila ia tidak
sanggup membayar dengan seluruh kebaikannya, ia dilemparkan ke neraka.”
Betapa sedikit perolehannya. Betapa pedihnya neraka. Tak ada kesempatan untuk
bertemu dan melihat keramahan Rasulullah di yaumil-mahsyar bagi mereka yang
merampas mahar istrinya. Na’udzubillahi min dzalik. Semoga kita terhindar dari halhal
yang demikian.
Rasulullah Saw. mengingatkan,
Khat Arab
Siapa saja laki-laki mengawini seorang wanita dengan mahar sedikit atau
banyak, tetapi di dalam hatinya bermaksud tidak akan menunaikan apa yang menjadi
haknya itu kepadanya, berarti ia mengecohnya. Bila ia mati sebelum menunaikan hak
perempuan itu, maka kelak pada hari kiamat ia akan bertemu dengan Allah sebagai
orang yang berzina. (HR Thabrani).
Kado Pernikahan 89
Seorang suami terlarang mencari-cari alasan untuk menyudutkan istrinya
sehingga ia mendapat kesempatan untuk tidak memberi maskawin. Suami juga tidak
boleh menarik kembali maharnya dengan alasan apapun. Istri boleh menyedekahkan
sebagian maharnya kepada suami. Meskipun demikian, itu harus merupakan
pemberian yang penuh kerelaan dan senang hati. Memberi dengan penuh kerelaan.
Bukan atas desakan-desakan suami yang dapat menyebabkan istri terbebani secara
psikis, karena dalam hati ia merasa tidak rela.
Ini tidak boleh terjadi. Ini justru bisa menjadikan istri tidak hormat pada suami.
Sekaligus merupakan bibit nusyuz (pembangkangan) istri kelak di kemudian hari.
Alhasil, keluarga jauh dari barakah dan sakinah. Na’udzubillahi min dzalik.
Sekali lagi, suami tidak boleh menimbulkan situasi yang membuat istrinya
merasa sungkan atau tidak enak kalau tidak memberikan maharnya. Mari kita
perhatikan nasehat Abdul Hamid Kisyik, “…. Dengan kata lain berikanlah mahar
kepada wanita yang telah kamu pilih sebagai pemberian penuh kerelaan tanpa
tendensi dan pamrih. Kemudian jika mereka memberikan sebagian dari mahar itu
kepadamu setelah mereka miliki tanpa paksaan sedikit pun ataupun merasa malu dan
tertipu maka terima dan ambillah itu sebagai anugerah bukan dianggap sebagai suatu
hal yang menyedihkan atau suatu kesalahan.
“Apabila seorang istri memberikan hartanya kepada suaminya karena merasa
sungkan, takut atau terpaksa maka tidak halal bagi suami untuk mengambilnya,
firman Allah Swt.: Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain
sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang
banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya sedikit pun. Apakah
kamu akan mengambilnya kembali dengan tuduhan yang dusta dan dengan
menanggung dosa yang nyata? (QS An-Nisa':20).
Bagaimana kamu akan dapat mengambilnya kembali padahal kamu telah
menggaulinya sebagai suami-istri. Dan mereka (istri-istrimu) telah mengambil
darimu perjanjian yang kuat (mitsaqan ghalizha). (QS An-Nisa': 21).”
Mahar adalah hadiah. Sedangkan hadiah dapat menumbuhkan dan menguatkan
perasaan sayang dan cinta-kasih, seperti yang disinyalir oleh sebuah hadis Rasulullah
Saw., “Berikanlah hadiah, itu akan menumbuhkan dan memperkuat rasa cinta.”
Hak Atas Mahar
Sekalipun pembahasan ini kurang relevan, tapi saya harus membicarakannya
agar tidak terjadi kekeliruan dalam memahami pembicaraan saya sebelumnya. Di
awal sub bab Berlebihan Menuntut Mahar saya telah mengatakan, “Padahal mahar
merupakan hak penuh wanita yang menikah. Ia yang memiliki mahar itu dan baginya
mahar yang dibayarkan suaminya. Bukan bagi keluarga maupun orangtuanya.”
Maksud pembicaraan ini, ketika berlangsung pernikahan wanitalah yang berhak
atas mahar itu, termasuk kerelaan atas sedikitnya banyaknya jumlah mahar yang
Kado Pernikahan 90
diterima. Hak ini ada pada wanita yang akan menikah dan baginya mahar tersebut.
Bukan keluarganya.
Tetapi setelah menjadi hak penuh wanita, ia boleh memberikan kepada sebagian
keluarganya. Atau, ia menyimpan sendiri.
Mudah-mudahan pembicaraan singkat ini memberi kejelasan, sehingga tidak ada
jalan bagi mereka yang ingin memberat-beratkan mahar melalui anak gadisnya.
Mari kita ingat peringatan ‘Abdul Hamid Kisyik, seorang ulama Mesir yang
memiliki pena tajam. Beliau berkata, “Jika mahar dibuat mahal, akhirnya
menyebabkan kerusakan dan keresahan di muka bumi. Hal ini tidak lagi maslahat
untuk ummat. Karena itu, wanita yang paling sedikit maharnya justru memiliki
keagungan dan akan mendapat kebarakahan yang amat besar.”
MEMPERSULIT PROSES PERNIKAHAN
“Pernikahan itu sangat sensitif,” kata Ummul Mukminin ‘Aisyah r.a., “dan
tergantung kepada pribadi masing-masing untuk mendapatkan kemuliaannya.”
Pernikahan itu sangat sensitif. Pada saat itu seseorang menjadi peka, lebih peka
dari sebelumnya. Boleh jadi ia menjadi lebih peka terhadap kebajikan-kebajikan dan
akhlak mulia. Boleh jadi ia justru menjadi peka terhadap kekurangan-kekurangan
orang lain sekalipun sedikit, sedangkan kebaikannya yang banyak tidak nampak di
mata.
Pernikahan itu sangat sensitif. Kalau sebuah pernikahan mengalami keretakan
dan kegersangan, yang merasakan panas serta gerahnya tidak hanya suami dan istri.
Sanak-kerabat pun bisa ikut merasakan. Pernikahan itu sangat sensitif. Kalau masingmasing
pribadi berusaha untuk saling menyelami dan menguatkan jalinan perasaan
(al-athifah) untuk kebaikan bersama, guncangan-guncangan besar pun insya-Allah
tidak menggoyahkan. Apalagi guncangan kecil, baik dari tetangga maupun keluarga.
Pernikahan itu sangat sensitif. Kalau masing-masing berusaha untuk
mendapatkan kemuliaan –bukan dimuliakan– insya-Allah mereka akan meraih
rumahtangga yang barakah, sakinah (menenteramkan jiwa) mawaddah wa rahmah
(diliputi oleh rasa cinta dan kasih-sayang).
Pernikahan itu sangat sensitif. Segala jalan yang menyebabkan munculnya
keraguan dan kebimbangan mengenai akhlak maupun fisiknya, perlu dijauhkan.
Setiap pintu yang bisa membukakan penyesalan perlu ditutup, sedangkan pintu yang
mendatangkan kemantapan dan terhapusnya jalan penyesalan sebaiknya dibuka lebar.
Sederhana dalam proses dan sederhana dalam pelaksanaan merupakan jalan besar
menuju keluarga yang barakah, sakinah, mawaddah wa rahmah.
Sementara itu, mempersulit proses pernikahan dapat membuka pintu-pintu
madharat. Mempersulit proses pernikahan melapangkan jalan fitnah dan mafsadat
(kerusakan) masyarakat. Tetapi yang ingin saya bahas di sini adalah madharat bagi
suami-istri yang akan menikah.
Kado Pernikahan 91
Rasulullah bersabda,”Seorang wanita yang penuh barakah dan mendapat
anugerah Allah adalah yang maharnya murah, mudah menikahinya, dan akhlaknya
baik. Namun sebaliknya, wanita yang celaka adalah yang mahal maharnya, sulit
menikahinya, dan buruk akhlaknya.”
Ada beberapa madharat yang bisa muncul akibat proses pernikahan yang
dipersulit:
Pertama,
Menyebabkan Pembandingan
Sulitnya menempuh proses pernikahan, dapat menyebabkan orang melakukan
pembandingan. Ia membandingkan proses yang ia jalani. Bisa juga membandingkan
orang yang dikehendaki.
Adakalanya, orang membandingkan dengan proses yang ditempuh oleh orang
lain. Pembandingan menyebabkan munculnya penilaian. Sebagian dari penilaian
masih berada dalam kebenaran, akan tetapi sebagian lagi dapat menjatuhkan kepada
prasangka dan dosa. Ia menilai iktikad calon teman hidupnya maupun keluarganya.
Adakalanya, orang membandingkan calon istrinya dengan orang lain.
Pembandingnya bisa jadi memang benar-benar ada, bisa jadi imajinatif. Ia tidak
membandingkan calon istrinya dengan seseorang, tetapi membandingkan dengan apa
yang diangan-angankannya di waktu dulu. Sumber pembandingan bisa jadi cerita
orang, bisa juga buku-buku tentang nikah.
Mungkin ia membandingkan calonnya dalam aspek psikis. Misalnya, keramahan
dan kelembutannya. Mungkin juga ia membandingkan aspek fisik si calon dengan
orang lain, sehingga ia menjadi kurang lega dan mantap dibanding sebelumnya.
Padahal, ketika sudah menikah saja seorang istri perlu menjauhkan suami dari
membanding-bandingkan kecantikan istri dengan orang lain. Sebab ini dapat
membuka jalan ketidakpuasan dan penyimpangan.
Ibnu Mas’ud r.a. mengatakan bahwa Rasulullah Saw. bersabda,
Khat Arab
Seorang wanita tidak boleh bergaul dengan wanita lain, kemudian ia ceritakan
kepada suaminya keadaan wanita itu, sehingga suaminya seolah-olah melihat wanita
tersebut.” (HR Bukhari & Muslim).
Kedua,
Menimbulkan Keraguan
Ketika Mughirah bin Syu’bah r.a. akan meminang seorang wanita, begitu An-
Nasa’i menceritakan dalam hadisnya, Rasulullah bertanya, “Sudahkah kamu melihat
wanita itu?”
Kado Pernikahan 92
Kemudian Mughirah menjawab, “Belum.”
Rasulullah kemudian berkata, “Lihatlah wanita itu, karena akan mengurangi
penyesalan antara kedua belah pihak. Yakni memberi kemungkinan tumbuhnya
keserasian, keselarasan, dan kebersamaan antara keduanya.”
Al-Amasy berkata, “Setiap perkawinan yang dilangsungkan tanpa saling melihat
akan menyebabkan kesusahan dan kesedihan.”
Melihat wanita yang akan dinikahi dapat menumbuhkan kemantapan. Ia lebih
yakin kepada satu pilihan. Mudah-mudahan mereka akan memperoleh keserasian dan
keselarasan setelah menikah.
Ketika proses pernikahan dipersulit, orang dapat membanding-bandingkan. Ini
membuka jalan ketidakpuasan dan ketidakrelaan.
Proses pernikahan yang dipersulit juga dapat mengakibatkan orang menjadi tidak
mantap melangkah, sekurang-kurangnya menjadi ragu. Padahal kemantapan terhadap
pilihan sangat diperlukan agar tercapai keselarasan, keserasian dan kebersamaan
antara keduanya. Demi mencapai kemantapan agar tidak mengangankan yang lain,
orang boleh melihat calonnya.
Mari kita lihat kembali kisah Mughirah bin Syu’bah r.a. melalui jalur lain:
Ketika Mughirah bin Syu’bah berkeinginan untuk menikahi seorang wanita, Nabi
Saw. bersabda kepadanya, “Pergilah untuk melihat wanita itu, karena dengan
melihat itu akan memberikan jaminan bagi kelangsungan hubunganmu berdua”. Dia
melaksanakannya, lalu menikahinya. Di kemudian hari ia menceritakan tentang
kerukunan dirinya dengan wanita tersebut. (HR Ibnu Majah, An-Nasa’i dan At-
Tirmidzi).
Kalau orang merasakan keraguan, barakah pernikahan bisa berkurang.
Na’udzubillahi min dzalik.
Ketiga,
Melemahkan Kesediaan untuk Berjuang Bersama
Proses pernikahan yang dipersulit bisa melemahkan kesediaan untuk berjuang
bersama-sama. Kalau semula keluarga dibayangkan sebagi perahu yang perlu dikayuh
bersama-sama, sulitnya proses pernikahan dapat menyebabkan pikiran berubah. Ia
telah membayar proses pernikahan dengan kesulitan. Setelah akad nikah tercapai,
tibalah saatnya untuk menjadi penumpang saja di perahu itu. Tidak mengayuhnya
bersama-sama.
Keluarga yang demikian ini akan timpang. Apalagi kalau masing-masing merasa
paling banyak berjuang dalam mengibarkan layar pernikahan.
Kado Pernikahan 93
Keempat,
Mengeraskan Hati
Proses pernikahan yang sulit dapat mengeraskan hati dan meninggikan tuntutan
psikis terhadap istri. Kerasnya hati menyebabkan komunikasi begitu kering. Tidak
ada dialog dari hati ke hati, sehingga mata harus menangis karena perhatian orang
yang tercinta ada yang mengikis. Jarang sekali ada silaturrahmi, justru antar anggota
keluarga yang tinggal serumah. Sehingga masing-masing berjalan sendiri. Kalau ada
kebahagiaan, ia rasakan sendiri. Kalau ada keperihan, ia tangisi sendiri.
Tingginya tuntutan psikis terhadap istri, menyebabkan suami kurang bisa
merasakan kebaikan-kebaikan istri walaupun sebenarnya sangat besar. Ia selalu
merasa kecewa dan kesal terhadap istrinya. Padahal istri sudah melakukan banyak
hal. Ia mudah menyalahkan istrinya sebagai orang yang tidak bisa menjalankan
perannya dengan baik. Meskipun ia tahu setiap orang mempunyai kekurangan (sama
seperti dirinya).
Tuntutan psikis yang tinggi menjadikan apa yang dipandang selalu kurang.
Kalau Anda memaki kacamata gelap, matahari yang terang pun kelihatan
redup!
Antara Mempersulit dan Kesulitan
Adakalanya terhambatnya akad nikah karena keluarga wanita mempersulit
proses pernikahan. Adakalanya, kedua pihak tidak mempersulit proses, tetapi mereka
menjumpai kesulitan-kesulitan. Yang pertama, membuat orang merasa terhalang dan
dihambat. Yang kedua, insya-Allah dapat memperkokoh ikatan ketika keduanya
merasa mendapat tantangan yang harus disikapi dengan baik, arif, bijaksana, dan
tenang.
Adakalanya sebuah pernikahan harus menghadapi kesulitan untuk menguji
kesungguhan dan kejernihan niat. Ketika menghadapi masalah ini, sebagian mungkin
lari atau segera berhenti di tengah jalan. Sebagian lagi tetap mencoba untuk tidak
menyerah.
Kesulitan adalah perkara yang wajar, bahkan sangat wajar, dalam sebuah
mujahadah (perjuangan). Mencapai pernikahan yang barakah adalah perjuangan
untuk menjaga kesucian dan kehormatan. Kesulitan adalah kelayakan. Ia seperti hujan
yang diikuti petir, sedang petir membawa muatan energi besar. Sebelum hujan turun,
terlebih dulu ada awan. Mereka yang berada di bawahnya merasa kepanasan.
Meskipun demikian, kesulitan yang merupakan ujian kesungguhan niat agar
mendapat kemuliaan dan barakah Allah, berbeda sekali dengan kesulitan karena
mempersulit diri. Yang pertama adalah takdir Allah yang di dalamnya pasti ada
kebaikan. Yang kedua, Allahu a’lam bishawab. Saya tidak bisa menjelaskan.
Bagaimana memahaminya? Anda bisa jadi tidak berpuasa ketika Ramadhan tiba.
Dini hari Anda makan sahur bersama keluarga. Sesudah itu meniatkan untuk
Kado Pernikahan 94
melakukan puasa. Siang harinya Anda masuk-masukkan batang pensil ke
tenggorokan sehingga Anda muntah-muntah. Alhasil, Anda harus membatalkan
puasa.
Bisa jadi sebaliknya. Anda sudah berniat puasa. Jam tiga dini hari sudah masak
dan makan sahur. Pagi sampai siang hari menjaga diri dari melakukan hal-hal yang
dapat membatalkan. Tetapi pukul lima sore hari Anda datang bulan (menstruasi)
sehingga Anda harus membatalkan puasa.
Yang pertama Anda batal berpuasa karena mempersulit diri. Yang kedua, Anda
tidak jadi berpuasa karena mendapatkan kesulitan yang tidak bersumber dari diri
Anda. Yang pertama adalah perbuatan dosa, karena Anda memiliki pilihan untuk taat
atau tidak taat kepada perintah Allah. Yang kedua insya-Allah justru memberi
kemuliaan bagi Anda. Derajat Anda terangkat jika Anda ridha. Anda tidak berdosa
ketika membatalkan puasa, karena Anda menghadapi “paksaan takdir” (jabr) yang
tidak dapat Anda tentukan.
Keduanya perlu diganti dengan puasa di lain hari. Tapi makna keduanya sangat
berbeda.
Ada contoh lain. Ketika puasa, Anda sakit, sehingga Anda tidak berpuasa. Jika
Anda ridha, Allah akan membebaskan dosa-dosa Anda sesuai dengan sakit yang Anda
alami dan keridhaan Anda menerima. Dalam hal ini, kesulitan meningkatkan
kemuliaan dan derajat Anda.
Walaupun demikian, bisa jadi Anda sakit karena Anda tidak mau mengambil
rukhshah (keringanan). Misalnya Anda melakukan perjalanan jauh yang melelahkan
dan membahayakan fisik jika tidak makan, akan tetapi Anda tidak mengambil hak
Anda untuk tidak berpuasa. Akibatnya Anda sakit. Padahal Allah dan Rasul-Nya telah
memberi keringanan.
Pada kasus ini, Anda tidak mendapat kesulitan karena takdir mengharuskan
demikian. Anda sakit karena Anda menzalimi diri sendiri. Anda mempersulit diri.
Anda memberat-beratkan, sehingga Anda terkalahkan.
Wallahu A’lam bishawab wallahul musta’an.
MENGAJUKAN SYARAT NIKAH
Sebagian wanita mengajukan syarat-syarat ketika seorang laki-laki hendak
menikahinya. Adakalanya syarat itu muncul karena kehendaknya sendiri. Tetapi,
adakalanya syarat itu merupakan kehendak orangtua atau keluarga yang dibebankan
kepada anak gadisnya jika ingin melangsungkan pernikahan.
Pokok persoalan sehubungan dengan syarat-syarat nikah tidak terletak kepada
siapa yang pertama mempersyaratkan, istri sendiri atau keluarganya. Tetapi berkaitan
dengan kedudukan syarat itu menurut syari’at.
Kita ikuti penjelasan Abu Bakr Jabir Al-Jazairi tentang masalah ini. Jika
persyaratan yang ditetapkannya itu menegakkan dan memperkuat akad nikah, kata
Kado Pernikahan 95
Al-Jazairi, seperti syarat nafkah, menggauli, atau pembagian yang adil apabila
peminangnya sudah beristri, maka syarat-syarat tersebut berkaitan langsung dengan
asal (pokok) akad, sehingga tidak perlu ditetapkan lagi.
Jika syaratnya itu merusak akad nikah, seperti disyaratkan tidak boleh bersenangsenang
dengannya (termasuk bersebadan, pen.), atau tidak usah menyediakan
makanan dan minuman yang biasa disiapkan oleh wanita, maka syarat tersebut tidak
benar dan tidak wajib memenuhinya. Hal ini dikarenakan syarat-syarat tersebut
bertentangan dengan tujuan menikahinya, deikian kata Al-Jazairi dalam Pedoman
Hidup Muslim (Litera AntarNusa, 1996).
Masih dalam buku yang sama, Al-Jazairi menjelaskan bahwa jika syarat-syarat
tersebut keluar dari masalah tersebut seluruhnya, seperti si wanita mensyaratkan calon
untuk mengunjungi keluarganya, atau jangan membawanya ke luar negeri misalnya,
maka selama bukan syarat yang bersifat menghalalkan yang haram atau
mengharamkan yang halal, maka persyaratan itu wajib dipenuhi. Jika tidak, wanita
bisa mengajukan fasakh (pembatalan) pernikahan, jika memang mau.
Rasulullah Saw. bersabda,
Khat Arab
“Seutama-utama syarat yang harus dipenuhi, adalah persyaratan dalam rangka
menghalalkan kemaluan (bersenggama dengan istri).” (HR Bukhari & Muslim).
Masalah lain berkenaan dengan syarat nikah adalah menyangkut sah tidaknya
akad nikah. Adakalanya nikah sah tetapi syaratnya batal, misalnya mensyaratkan
tidak usah memberi maskawin atau nafkah. Sekalipun nikahnya sah, tetapi kewajiban
membayar maskawin dan memberi nafkah tetap tidak terhapus.
Ada hadis yang dapat kita simak. Rasulullah Saw. bersabda, “Hanya satu syarat
saja yang tidak ada pada Al-Qur-‘an adalah salah, apalagi jika ada 100 syarat.” (HR
Bukhari).
Pembicaraan lebih lanjut tentang masalah ini silakan diperiksa di berbagai
sumber. Anda juga bisa bertanya kepada pihak-pihak yang berhak, sehingga Anda
mendapat kejelasan tentang berbagai pendapat yang berbeda-beda dalam perkara ini.
Bukan bagian saya untuk membahasnya di sini. Saya belum memiliki hak untuk itu.
Sekali lagi, jika Anda hendak mengajukan syarat-syarat nikah kepada calon
suami Anda, periksa dulu berbagai sumber yang membahas masalah ini agar Anda
mendapat pemahaman hukum yang matang. Bertanyalah kepada orang-orang yang
faqih dan adil, agar Anda mendapatkan penjelasan yang mendalam dan rinci,
sehingga terang apa-apa yang kabur. Sampai Anda mendapatkan keyakinan setelah
Anda berada dalam keraguan. Dan itu, sekali lagi, bukan bagian saya untuk
Kado Pernikahan 96
membahas. Saya takut tergelincir dalam masalah ini mengingat masih sangat
sedikitnya bekal.
Bagian saya sekarang insya-Allah membahas maslahat dan madharat di balik
pengajuan syarat-syarat kepada calon suami yang akan menikahi.
Mempersyaratkan Tinggal Di Rumah Istri
Atsram menceritakan, seorang laki-laki menikahi seorang wanita dan ia
mensyaratkan tetap tinggal di rumahnya. Kemudian laki-laki itu bermaksud akan
membawa istrinya pindah, sedang istri-istrinya tidak mau yang kemudian
mengadukan masalahnya kepada Khalifah Umar.
Umar berkata bahwa wanita itu mempunyai hak agar dipenuhi syaratnya. Maka
laki-laki itu berkata, “Kalau begitu engkau menceraikan kami.” Maka Umar berkata,
“Putusnya hak tergantung pada syarat.”
Ada dua pendapat dalam maslah ini. Imam Malik, Imam Syafi’i dan Imam Abu
Hanifah berpendapat bahwa syarat seperti ini hukumnya batal, tetapi akad nikahnya
sah. Imam Ahmad, Auza’y dan Abu Ishaq memandang syarat ini sah dan wajib
dipenuhi.
Jika kita mengikuti pendapat yang terakhir, maka ikatan pernikahan itu telah
berakhir dengan perceraian ketika suami terpaksa harus pindah tempat tinggal. Kata
Umar bin Khaththab, “Putusnya hak tergantung pada syaratnya.”
Jika kita mengikuti pendapat pertama, masalahnya tidak selesai dengan
sederhana. Kalau suami mengabaikan persyaratan istri atau keluarga istri, akan
muncul masalah-masalah psikis yang bisa menjadi bibit madharat dan mafsadat
(kerusakan). Misalnya, istri merasa dilecehkan dan tidak diperhatikan haknya. Istri
bisa mengalami kekecewaan dan mengarahkan kepada perbuatan nusyuz
(pembangkangan, mendurhakai suami).
Jadi, ada masalah yang tidak sederhana di sini. Ketika seorang suami bermaksud
melakukan kebaktian kepada orangtua, terutama ibu, selama beberapa minggu
misalnya, masalah bisa timbul. Baik masalah pada suami, maupun pada istri. Padahal,
orang yang harus ditaati oleh seorang laki-laki yang pertama adalah orangtua,
terutama ibu. Sedang bagi wanita yang pertama kali harus ditaati sesudah menikah
adalah suaminya, sejauh tidak bertentangan dengan hukum.
Ini baru satu contoh masalah. Sepanjang hidup, manusia selalu berhadapan
dengan pilihan-pilihan. Kadang pilihan hidup menghadapkan orang kepada
kemungkinan pindah dari tempat tinggalnya untuk mencapai kemaslahatan dan
barakah. Demikian juga ketika ia telah menjalin ikatan pernikahan, keluarga itu bisa
berhadapan dengan kemungkinan pindah domisili karena ada sesuatu yang bisa
mendatangkan kemaslahatan, sakinah dan barakah bagi keduanya. Atau, kepindahan
itu mempunyai makna syi’ar, ketaatan, dan bahkan kecintaan terhadap agama.
Wallahu A’lam bishawab. Wallahul musta’an.
Kado Pernikahan 97
Saya teringat nasehat Yahya Ibn Mu’adz kepada saudaranya. Ketika saudaranya
mengemukakan ingin tinggal di tempat yang paling baik di muka bumi, Yahya
menjawab, “Menyinggung perkataanmu tentang keinginanmu tinggal tinggal di
tempat yang paling baik di muka bumi ini, jadikanlah dirimu sebagai orang yang
terbaik di antara manusia, kemudian menetaplah di manapun engkau suka. Sebuah
tempat menjadi terhormat karena penduduknya, bukan karena yang lain.”
Di balik apa-apa yang tidak kita sukai, kadang Allah memberikan kebaikan yang
sangat besar. Kadang kita mengharap hujan, tetapi mengeluh ketika ada mendung
yang tebal. Sementara di balik apa-apa yang kita sukai, bisa jadi terdapat banyak
kerugian yang tidak kita lihat saat ini.
Mensyaratkan Tidak Berhubungan Intim
“Seutama-utama syarat yang harus dipenuhi,” kata Rasulullah Saw., “adalah
persyaratan dalam rangka menghalalkan kemaluan (bersenggama dengan istri).”
(HR Bukhari & Muslim).
Dalam hadis ini istilah yang dipakai adalah mastahlaltum bihi furuj. Kata kunci
dalam soal kita sekarang adalah furuj, farji (alat kemaluan). Bukan nikah atau zawaj
(kawin). Ini menunjukkan kepada kejelasan dan kekuatan kedudukan hubungan
kelamin sebagai sesuatu yang menyebabkan munculnya persyaratan. Sementara, tidak
mungkin melakukan hubungan kelamin secara halal tanpa melakukan akad
pernikahan. Karena itu, memang tidak salah jika diartikan persyaratan dalam rangka
menikah, tetapi titik tekannya ada pada masalah persyaratan untuk terjadinya
hubungan kelamin. Begitu.
Dalam fiqih dikenal adagium, perintah untuk melakukan sesuatu berarti perintah
untuk melakukan perbuatan yang menjadi sarana terjadinya sesuatu. Kalau Anda
diperintahkan shalat, berarti Anda juga diperintahkan berwudhu. Sebab tidak sah
shalat Anda jika Anda tidak memiliki wudhu (jika Anda berhadas). Meskipun begitu,
perintah berwudhu tidak menunjukkan perintah untuk shalat.
Nah, jika Anda mempersyaratkan suami untuk tidak melakukan hubungan intim
kelak sesudah menikah sampai Anda lulus kuliah, apakah yang demikian ini tidak
bertentangan dengan akad dan tujuan menikah? Padahal, salah satu tujuan menikah
adalah untuk memelihara kehormatan kemaluan agar tidak terjerumus ke dalam
kemaksiatan karena menyalurkan tidak pada yang halal.
Rasulullah Saw. bersabda, “Hai para pemuda, barangsiapa di antara kamu
mampu kawin, maka hendaklah dia menikah, karena pernikahan itu lebih mampu
menahan pandangan mata dan lebih menjaga kemaluan.” (HR Bukhari & Muslim).
Syarat pernikahan yang seperti ini, sepanjang yang saya ketahui, tidak perlu
ditaati. Tetapi persoalan yang ingin saya bahas di sini bukan boleh-tidaknya
melanggar persyaratan yang merusak makna dan tujuan akad nikah. Saya ingin
mengajak Anda untuk melihat pintu-pintu madharat dan mafsadat (kerusakan) yang
bisa terjadi akibat adanya persyaratan semacam ini.
Kado Pernikahan 98
Jika Anda mempersyaratakan kepada suami Anda karena Anda tidak ingin
mengandung selama Anda masih kuliah atas berbagai pertimbangan, baik
pertimbangan sendiri maupun pertimbangan bersama dengan suami yang sama-sama
masih kuliah, maka ada yang perlu diperhatikan. Ketika Anda sudah terikat oleh
pernikahan yang sah, maka halallah apa-apa yang sebelumnya haram dan dosa besar.
Anda berhak mendapat kesenangan-kesenangan khusus bagi suami-istri. Pada saatsaat
tertentu, gejolak itu rendah. Tetapi pada saat-saat lain, gejolak bisa meninggi
bahkan tak terkendali.
Kalau hari sedang hujan, es tidak menarik. Tapi kalau matahari sedang terikteriknya,
keinginan yang mendesak untuk mereguk kenikmatan tak bisa ditahan lagi.
Nah, ibarat kebutuhan terhadap es, segalanya bisa terjadi saat Anda berdua saling
memendam kerinduan.
Sebenarnya, Anda halal melakukan hubungan intim karena Anda telah mengikat
pernikahan yang sah. Masalahnya adalah, kalau sesudah “kecelakaan yang halal” itu
terjadi ternyata Anda harus hamil dari benih suami Anda sendiri. Apalagi kalau
sebelumnya Anda sempat memakai alat-alat kontrasepsi dan tidak terjadi apa-apa,
maka kehamilan yang terjadi dapat mengakibatkan Anda melakukan penolakan
terhadap anak yang Anda kandung. Padahal ia adalah anak Anda sendiri, anak yang
sah dari suami yang sah melalui hubungan intim yang sah dan halal. Sepenuhnya sah.
Rentetan akibatnya akan sangat panjang. Akibatnya terhadap Anda maupun
akibat terhadap suami karena sebelumnya tidak memiliki orientasi untuk memiliki
anak semasa kuliah. Rentetan akibatnya juga merugikan anak secara langsung untuk
masa yang sangat panjang, karena penolakan Anda menyebabkan ketidakmampuan
Anda untuk menerima keberadaannya dan memberikan kasih sayang kepadanya.
Padahal kasih-sayang dan penerimaan merupakan hal yang sangat penting dalam
mendidik anak. Selain itu, penolakan terhadap anak dapat melahirkan sejumlah
konflik-konflik psikis yang berat.
Kalau misalnya Anda tidak sampai mengalami kecelakaan karena Anda berdua
mematuhi persyaratan itu, masih ada yang harus Anda perhatikan. Bagaimana
pengaruh problem-problem psikis yang terakumulasi selama menunggu perkuliahan
selesai, padahal ia telah memiliki istri yang sah? Bagaimana kesiapan kalian untuk
menjadi suami istri yang baik dan saling menerima, apabila sebelumnya Anda
terhalang untuk menjalin kebersamaan? Apalagi kalau masing-masing masih tinggal
di kost yang berbeda.
Akhirnya juga berkait dengan kesiapan untuk menjadi orangtua. Kurangnya
orientasi sejak awal dapat menyebabkan Anda mengalami kejutan mental (shock)
setelah berkumpul bersama. Setelah kalian menjalin kebersamaan selama beberapa
waktu sebagai suami-istri dengan menjauhkan jima’, sekarang tiba-tiba Anda
menghadapi bahwa seorang anak sebentar lagi akan lahir setelah beberapa bulan
sebelumnya Anda dikumpuli.
Jadi, soal orientasi dan kesiapan menjadi orangtua ini yang potensial
menimbulkan madharat dan mafsadat jika Anda mempersyaratkan suami untuk tidak
Kado Pernikahan 99
melakukan hubungan intim, meskipun syarat ini tidak berhak untuk ditaati. Saya kira
lebih baik kita meniatkan semenjak awal untuk melahirkan anak-anak yang memberi
bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah sekalipun masih kuliah. Insya-
Allah yang demikian ini merupakan mujahadah. Kelak, kita akan merasakan
keindahannya di dunia dan akhirat. Insya-Allah. Allahumma amin.
Mempertimbangkan Kembali Syarat Nikah
Jacqueline McCord Leo pernah menulis sebuah buku berjudul New Womens
Guide to Getting Married (Bantam Books, 1982). Buku ini menceritakan tentang
berbagai seluk beluk proses pernikahan. Sejak dari pemesanan undangan, jumlah
pakaian yang harus dipesan, warna apa saja yang perlu dipilih, kuenya bagaimana,
bunga apa saja yang harus disediakan kalau menikah untuk pertama kali. Juga, pesta
yang bagaimana kalau untuk perkawinan yang kedua atau yang berikutnya. Termasuk
di dalamnya, bagaimana jika Anda tidak menikah tetapi mendambakan prosesi
pernikahan, karena hidup ini sedemikian sepi tanpa prosesi pernikahan (he he he,
heran juga mereka).
Tetapi di antara isi buku itu, yang paling menarik untuk pembahasan kita kali ini
adalah mengenai syarat nikah. Dalam sebuah perkawinan Amerika, ada surat
perjanjian yang disebut sebagai Marriage Contracts. Isinya perjanjian mengenai
beberapa masalah yang dianggap penting untuk ditaati, yang mencakup karier dan
tempat tinggal sampai perlakuan pihak yang satu kepada pihak yang lain. Surat
perjanjian ini terdiri dari dua bagian, yaitu bagian tuntutan istri yang harus ditaati oleh
suami dan tuntutan (syarat nikah) suami yang harus ditaati oleh istri. Misal, setiap
Selasa selepas makan malam suami mengecup kening istri dan mengatakan I love
you.
Surat perjanjian ini dibuat untuk satu rentang waktu tertentu, misal 5 tahun.
Sesudah jatuh tempo, mereka membuat surat perjanjian baru untuk disepakati selama
rentang waktu lain. Tergantung kesepakatan bersama.
Melalui surat perjanjian semacam ini, hak-hak kedua pihak lebih terjamin dan
mempunyai kedudukan hukum formal yang kuat. Istri berhak melakukan complaint
jika suami tidak mencium keningnya sambil mengatakan I love you sehabis makan
malam hari Selasa.
Tetapi, dapatkah Anda membayangkan perasaan apa yang muncul ketika suami
mengecup keningnya? Kira-kira mana yang lebih menyentuh hati, kecupan karena
terikat syarat nikah ataukah usapan lembut karena perasaan sayang?
Melalui surat perjanjian ada kesepakatan yang diakui secara hukum. Tetapi ada
harga yang harus dibayar. Mereka menjadi lebih peka terhadap perilaku-perilaku yang
mengarah kepada tidak dipatuhinya perjanjian daripada sentuhan kasih-sayang dalam
peristiwa-peristiwa kecil setiap hari. Ini justru mendekatkan kepada ketidakbahagiaan
dan konflik daripada kemesraan dan saling menerima.
Kado Pernikahan 100
Sekarang ketika Anda ingin mengajukan syarat-syarat pernikahan,
pertimbangkanlah kembali. Apakah syarat-syarat nikah yang Anda ajukan tidak
membuka pintu madharat dan mafsadat (kerusakan)? Ataukah syarat pernikahan
Anda justru akan mendekatkan kepada maslahat dan kemuliaan dunia akhirat?
Pertimbangkanlah secara jernih. Mintalah fatwa kepada hatimu. Bertanyalah
kepada nuranimu yang jernih. Rasulullah Saw. bersabda, “Mintalah fatwa dari
hatimu. Kebaikan itu adalah apa-apa yang tenteram jiwa padanya dan tenteram pula
dalam hati. Dan dosa itu adalah apa-apa yang syak dalam jiwa dan ragu-ragu dalam
hati, walaupun orang-orang memberikan fatwa kepadamu dan mereka membenarkannya.”
(HR Ahmad).
Perkara syarat nikah adalah haq. Wanita berhak mengajukan syarat nikah.
Wallahu A’lam bishawab.
Kelak Ada Dialog
Jika masih terbuka kemungkinan untuk didialogkan bersama setelah menikah,
ada baiknya Anda menahan diri untuk tidak mempersyaratkan kepada suami. Kelak
ada saat yang lebih leluasa untuk berbicara dari hati ke hati, sehingga ia dapat
memahami dengan lebih baik ketika memikirkan dan mengambil keputusan atas
masalah yang sebelumnya ingin Anda persyaratkan. Sementara Anda bisa mengambil
jarak dari masalah. Bisa jadi, Anda justru berubah setelah membicarakannya dari hati
ke hati.
Insya-Allah yang demikian ini akan lebih dekat kepada kemaslahatan. Masalah
yang Anda hadapi, bisa jadi justru menumbuhkan mawaddah (rasa cinta) dan
keharmonisan (ulfah) di antara Anda dan suami ketika dibicarakan bersama-sama.
Melalui dialog yang terbuka dan saling percaya, bisa jadi tercapai apa yang
semula ingin Anda persyaratkan. Bisa jadi tidak. Tetapi di dalamnya Anda mendapat
pemahaman bahwa di balik apa-apa yang tampak tidak baik, bisa jadi di dalamnya
ada kebaikan yang berlimpah. Sebaliknya, bisa jadi Anda menganggapnya baik
padahal banyak madharat di dalamnya.
Akhirnya, kepada Allah kita memohon kebaikan yang sempurna di dunia dan
akhirat bagi kita dan keluarga kita, termasuk orangtua kita. Langkah untuk menikah
sebagian-nya merupakan langkah untuk mencapai keselamatan atas diri kita dan
orangtua kita, termasuk mertua kita. Kalau dari pernikahan itu akhlak dan agama kita
menjadi baik sehingga derajat amal kita jauh lebih tinggi dari derajat amal orangtua
kita misalnya, insya-Allah mereka akan disusulkan kepada kita meskipun derajat
amalnya tidak mencukupi sejauh mereka tetap beriman. Yang demikian ini termasuk
di antara barakah pernikahan. (Ya Allah, barakahilah kami, ya Allah, dan jadikanlah
pernikahan kami penuh barakah).
Mereka yang pernikahannya barakah, insya-Allah kelak termasuk orang-orang
yang di Hari Akhirat dikumpulkan Allah bersama orangtua dan keturunan mereka.
Kado Pernikahan 101
Apakah kita tidak ingin dimasukkan ke dalam golongan yang disebutkan Allah dalam
surat Az-Zukhruf [43] ayat 70, “Masuklah ke surga beserta istrimu untuk
digembirakan.” Selanjutnya dalam surat Ar-Ra’d [13] ayat 23, Allah menjanjikan,
“Surga ‘Adn, mereka masuk ke dalamnya bersama mereka yang saleh di antara
orangtua mereka, istri-istri mereka, dan keturunan mereka.”
Abdullah bin ‘Abbas, dalam hadis yang dikeluarkan oleh Ath-Thabrani dan Ibnu
Mardawaih, meriwayatkan sabda Rasulullah Saw., “Ketika seseorang masuk ke surga,
ia menanyakan orangtua, istri, dan anak-anaknya. Lalu dikatakan padanya, ‘Mereka
tidak mencapai derajat amalmu.’ Ia berkata, ‘Ya Tuhanku, aku beramal bagiku dan
bagi mereka.’ lalu Allah memerintahkan untuk menyusulkan keluarganya ke surga
itu.”
Setelah itu Ibn ‘Abbas membaca surat Ath-Thuur [52] ayat 21, Dan orang-orang
yang beriman, lalu anak-cucu mereka mengikuti dengan iman, Kami susulkan
keturunan mereka pada mereka, dan Kami tidak mengurangi amal mereka sedikit
pun.
Di hari ketika anak dan orangtua bercerai-berai, antar sanak-kerabat dan teman
akrab menjadi musuh, mudah-mudahan kita termasuk golongan yang dikecualikan
sekalipun saat ini bekal kita masih jauh dari mencukupi. Mari kita perhatikan firman
Allah Swt. dalam surat Az-Zukhruf [43] ayat 67, Teman-teman akrab pada hari itu
sebagian menjadi musuh sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa.
Saya jadi teringat kepada sebuah hadis. Rasulullah Saw. bersabda, “Harta yang
utama adalah lisan yang senantiasa dzikir, hati yang senantiasa bersyukur, dan istri
beriman yang membantu suami dalam menegakkan bangunan imannya.” (HR Ibnu
Majah & Tirmidzi, hasan).

Jadi, keputusan untuk menikah sampai kepada pernik-pernik pernikahan banyak
mempengaruhi barakah tidaknya pernikahan. Wallahu A’lam bishawab.
Mudah-mudahan Allah mengampuni segala kesalahan kita dalam melangkah.
Sejak dari niat ketika akan berangkat sampai tindakan-tindakan sesudah akad
pernikahan hingga walimahnya. Astaghfirullahal ‘adzim. Laa ilaaha illaa Anta,
subhanaKa innii kuntu minadz dzalimin.
TENTANG BARAKAH
Kita telah membicarakan masalah barakah. Tetapi apakah yang dimaksud
dengan barakah? Kita mulai dulu pembicaraan kita dengan orang yang membawa
laknat dan orang yang membawa barakah. Kalau seorang yang suka membuat
kerusakan ada di tengah kita, semua yang ada di situ bisa mendapatkan
keburukannya. Adapun kalau seorang yang takwa hadir di tengah kita, kehadirannya
mendatangkan barakah, seperti kata Al Qur’an, Sekiranya penduduk negeri beriman
Kado Pernikahan 102
dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka barakah dari langit
dan dari bumi… (QS 7: 96).
Untuk menggambarkan konsep laknat dan barakah ini, kata K.H. Jalaluddin
Rakhmat, Rasulullah Saw. membuat perbandingan mengenai orang yang bergaul
dengan orang yang jahat dan dengan orang yang saleh. Kata Rasulullah, kalau Anda
bergaul dengan orang saleh, Anda seperti bergaul dengan pedagang minyak wangi.
Walaupun Anda tidak kecipratan minyak wangi itu, Anda tetap tercium harum oleh
orang-orang yang ada di sekitar Anda. Sementara itu, jika Anda bergaul dengan orang
yang jahat, maka Anda seperti bergaul dengan pandai besi. Walaupun Anda tidak
tercoreng arangnya, paling tidak Anda sesak nafas karena kepulan asapnya.
Sebuah pernikahan disebut barakah jika terjadinya akad mendatangkan kebaikan
tidak hanya bagi kedua suami istri itu. Seperti minyak wangi, sekeliling pun ikut
merasakan barakahnya. Pernikahan mendatangkan kemanfaatan bagi orang-orang
sekitar, sekalipun tak langsung tampak.
Adakalanya orang baru merasakan wanginya setelah wewangian itu lewat.
Seperti ketika ada truk yang mengangkut durian, kita baru mencium wanginya setelah
truk berlalu beberapa meter. Adakalanya, orang merasakan kemanfaatan tetapi tidak
tahu sumber wewangian yang dihirupnya.
Sebaliknya, pernikahan yang justru mendatangkan kerusakan, adakalanya baru
terasa setelah lewat jauh. Kita merasakan bau yang menusuk, justru setelah motor
yang mengangkut ikan asin agak basah telah lewat beberapa ratus meter dari hadapan
kita.
Kado Pernikahan 103
Bab 7
Undangan-undangan
Mubazir Itu…
etelah melangsungkan akad nikah, orang perlu mengumumkan
pernikahannya, i’lan, agar masyarakat mengetahui. Melalui walimah,
pengantin yang baru menikah mengabarkan kepada orang banyak,
menyatakan rasa syukurnya atas rezeki yang dikaruniakan Allah padanya, serta
memohon doa agar pernikahan yang baru saja dilangsungkan dibarakahi oleh Allah
dan Allah ridha kepada keluarga baru itu beserta seluruh keturunannya kelak.
Allahumma amin.
Pada masa dulu, orang memberitahu kepada khalayak dan sanak kerabat secara
lisan. Mereka kemudian mengabarkan kepada orang lain dan siapa saja yang ditemui,
jika pihak yang mengadakan walimah mengizinkan. Selain khalayak umum, ada
orang-orang yang secara khusus diundang. Mengundang dengan cara ini, lebih dekat
dengan silaturahmi dan lebih dekat dengan kesucian hati serta kebersihan niat.
Zaman kemudian berkembang, orang semakin sulit menyediakan waktu kalau
tidak diberitahu jauh sebelumnya secara tertulis. Kesibukan pada masing-masing
pihak, pengundang maupun yang diundang, menjadikan undangan tertulis lebih
praktis. Melalui undangan tertulis, kita lebih memungkinkan untuk mengundang
orang yang lebih banyak.
Setelah undangan tertulis marak digunakan, mulai ada pergeseran. Undangan
cetak tidak hanya menyangkut fungsinya untuk memberitahu orang. Ada sejumlah hal
yang kemudian masuk di dalamnya. Awalnya sekedar agar tidak tampak terlalu
bersahaja, sehingga orang berusaha mendesain kartu undangan sehingga tampak lebih
menarik dan lebih anggun. Pilihan kertas juga demikian, semakin berkembang.
S
Kado Pernikahan 104
Sejauh semua itu masih fungsional, sepanjang pemahaman saya masih tidak
masalah. Hanya saja, saya kemudian mulai bertanya ketika melihat undanganundangan
nikah yang mewah dan lebih banyak fungsi aksesorisnya. Atau, malah
fungsi prestise. Undangan-undangan itu dicetak di atas kertas yang jauh melebihi
kebutuhan. Ada sekian aksesoris yang tidak fungsional, kecuali sekedar sebagai
keunikan dan kekhasan. Padahal, sesudah itu undangan-undangan itu dibuang ke
tempat sampah. Kertas yang biasanya bertuliskan ayat suci Al-Qur’an, surat Ar-Rum
ayat 21 itu, berbaur dengan sampah-sampah lain yang siap diangkut tukang sampah.
Saya sempat berpikir, apakah undangan yang demikian ini tidak mubazir?
Membuat sesuatu yang jauh melebihi kebutuhan, kertasnya kadang sampai berlembarlembar
yang ditumpuk-tumpuk, padahal hanya dibaca sesaat. Sesudah itu tidak
berguna lagi.
Ironis sekali. Undangan-undangan mubazir itu justru banyak yang berasal dari
kita yang beragama Islam. Bahkan dari kita yang tampak sekali ghirah
keagamaannya.
Saya tidak hendak mengajak Anda untuk bersikap kaku dengan tulisan ini.
Tidak. Kita melihat kenyataan sekarang bahwa kehadiran undangan cetak hampirhampir
tidak mungkin untuk dihilangkan. Sehingga undangan itu mempunyai fungsi
untuk menyampaikan khabar, untuk i’lan (mengumumkan) atas peristiwa
membahagiakan. Melalui undangan, kita lebih memungkinkan mengundang banyak
orang.
Melalui tulisan ini, saya hendak mengajak berpikir sejenak, sehingga kita bisa
menghindari kemubaziran. Tetapi, kita juga menjauhkan diri dari sikap terlalu bakhil.
Kemubaziran banyak lahir dari sikap israf (berlebih-lebihan), sedang sikap bakhil
(kikir, terlalu mengurang-ngurangkan) menjauhkan kebaikan.
Langkah ini dapat dilakukan dengan mencegah diri dari pemakaian undangan
cetak yang berlebih-lebihan. Undangan boleh jadi tetap elegan, tetapi tidak berlebihan
dalam pemakaian kertas dan penggunaan aksesoris.
Menjauhkan kemubaziran juga bisa dilakukan dengan memberi manfaat
tambahan pada kartu undangan yang dicetak. Misalnya, dengan mengoptimalkan
fungsi seluruh kertas yang ada. Sehingga selain bermanfaat untuk menyampaikan
undangan walimah, juga bermanfaat untuk dakwah dalam waktu lama. Bukan yang
sekali dilihat, segera dimasukkan tong sampah.
Memberi manfaat lebih ini dilakukan dengan mendesain pesan-pesan maslahat.
Bisa juga dengan menyertakan fungsi lain yang diperlukan orang, kalender misalnya.
Bisa juga tabel zakat. Atau, Anda bisa menambahkan jadwal shalat untuk daerah
tempat walimah dilaksanakan yang mudah dibawa kemana-mana. Sedang kelebihan
kertas yang ada bisa dimanfaatkan juga dengan mendisain pembatas buku sekaligus
mengisinya dengan pesan maslahat.
Masih banyak sentuhan lain yang dapat diberikan. Anda dapat memikirkan
peluang-peluang itu agar undangan tidak terlalu mubazir. Semoga dengan demikian,
Kado Pernikahan 105
lebih dekat kepada barakah dan ridha Allah. Dengan demikian setan tidak mempunyai
kesempatan untuk menimbulkan kemubaziran.
Mudah-mudahan ikhtiar kita untuk menjadikan berbagai langkah selama proses
dengan sesuatu yang manfaat dan maslahat, menjadikan pernikahan kita barakah,
sakinah mawaddah wa rahmah. Semoga kelak Allah mengaruniai keturunan yang
memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah.
Kado Pernikahan 106
Bab 8
Awalnya dari Niat
walnya dari niat. Kelak Allah akan menilainya dan memberikan barakah
sesuai dengan niatmu. Kalau niatmu menikah karena ingin menjawab
pertanyaan Rasulullah tentang apa yang menghalangi seorang mukmin
untuk mempersunting istri, insya-Allah engkau akan mendapati anakanak
yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaha illaLlah. Jika
engkau tidak tahu betul bagaimana mendidik anakmu, Allah yang akan mendidiknya.
Allah yang akan memberikan ilmu melalui kekuasaan-Nya. Banyak cara Allah
membaguskan hamba-hamba-Nya. Banyak cara Allah menjadikan seorang hamba
terangkat tinggi karena niatnya melalui anak-anak yang mereka lahirkan. Padahal
mata kita yang penuh teori, semula memandang proses perkembangan anak-anak itu
sebagai kesalahan.
Sungguh, sangat sedikit ilmu yang dimiliki manusia.
Awalnya dari niat. Maka, atas dasar apakah engkau menikahi istrimu? Jika gadis
yang engkau pinang itu cantik, apakah engkau menikahinya karena mengharap
keindahan dan wajah yang mengesankan? Ataukah, karena khawatir kecantikannya
dapat membuatmu terjerumus kepada maksiat, lalu engkau berusaha dengan sungguhsungguh
untuk segera menikahinya demi menjaga kehormatan farjimu berdua.
Beda sekali antara keduanya. Yang pertama dapat mendatangkan kekecewaan
setelah menikah. Pernikahan sangat sedikit barakahnya. Sedang yang kedua, insya-
Allah akan dipenuhi barakah dari Allah yang terus melimpah.
Ketika engkau melihat calon istrimu memiliki ilmu agama yang bagus, atas dasar
apakah engkau memilihnya? Ketika engkau melihat calon istrimu berkecukupan, atas
A
Kado Pernikahan 107
dasar apakah engkau meminangnya? Ketika engkau melihat calon istrimu
berkekurangan, atas dasar apakah engkau memintanya kepada kedua orangtuanya.
Awalnya adalah niat. Maka aku bertanya kepadamu wahai istriku, apakah yang
menggerakkan hatimu untuk mempercayakan kesetiaanmu padaku? Aku bertanya
kepadamu karena niat akan menentukan apa yang akan engkau dapatkan kelak setelah
kita menikah, dan kelak setelah kita tiada. Ketika kita sama-sama menjadi jenazah.
Niatmu akan mempengaruhi bagaimana engkau merasakan arti saat-saat
berdekatan, keindahan saat bersama, keadaan hati saat menghadapi masalah, sampai
bagaimana engkau merasakan arti darah setetes ketika melahirkan, juga ketika harus
bangun saat anakmu terbangun dari tidurnya.
Semua berawal dari niat. Niat ketika menerima pinangan, niat ketika memasuki
jenjang pernikahan, niat ketika menghabiskan saat-saat berdua, niat ketika berhias,
niat ketika memuji suami, dan niat ketika akan melakukan berbagai hal. Niat-niat itu
bisa menambah barakah dan memperbaiki kesalahan niat sebelumnya, bisa
mengurangi barakah dari apa yang sebelumnya telah engkau terima atau engkau
berikan kepada suami.
Awalnya dari niat.
Aku mendengar, kata Umar bin Khaththab r.a., Rasulullah Saw. bersabda,
“Sesungguhnya amal perbuatan itu (dinilai) hanya berdasarkan niatnya (innamal
a’malu binniyyati) –di dalam riwayat lain: berdasarkan niat-niatnya– dan sesungguhnya
setiap orang hanya memperoleh apa yang ia niatkan; barangsiapa yang
hijrahnya (diniatkan) kepada Allah dan Rasul-Nya maka (nilai) hijrahnya adalah
kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barangsiapa hijrahnya (diniatkan) kepada dunia
yang ingin diraihnya atau perempuan yang ingin dinikahinya maka (nilai) hijrahnya
adalah kepada apa yang menjadi tujuan hijrahnya itu.” (HR Bukhari, Muslim, Abu
Dawud, Turmudzi dan An-Nasa’i, shahih).
Innamal a’malu binniyati, kata Rasulullah Saw. dalam hadis tersebut. Mungkin
kita semua sudah pernah mendengar hadis ini. Barangkali malah sudah sangat sering
mendengar. Kadang malah menjadi alasan bagi sebagian orang untuk memaafkan diri
sendiri ketika melakukan perbuatan keliru. Dalilnya, bukankah setiap perbuatan
dinilai berdasarkan niatnya? Aku ingatkan kepada diriku sendiri, bukan demikian itu
yang disebut niat. Bukan. Niat yang sesungguhnya melandasi perbuatan, bukanlah
apa yang dengan mudah engkau ucapkan lalu engkau hapus di saat lain yang engkau
kehendaki. Kalau seorang gadis memintamu untuk memboncengkannya sedangkan
engkau sudah lama sekali menginginkan, maka tidak bisa engkau menyertainya
dengan niat menolong sebagai sesama muslim meskipun niat itu engkau ucapkan
berulang-ulang. Bukankah hatimu sendiri sudah gelisah dan tidak tenang?
Aku ingatkan kepada diriku sendiri dan orang-orang yang aku cintai, mintalah
kepada Allah penjagaan niat dari kotoran-kotoran yang tidak engkau ketahui dan
kebusukan yang tidak mampu engkau hilangkan sendiri saat ini. Semoga Allah
mengampunimu dan memperbaiki niat kita.
Kado Pernikahan 108
Dengarkanlah keterangan Imam Al-Ghazali rahimahuLlah. Beliau mengatakan,
barangkali ada orang bodoh mendengar perkataan kami tentang niat. Lalu ia berkata,
“Aku berdagang karena Allah”, atau “Aku makan karena Allah”. Jauh, amatlah jauh.
Hal itu hanya perkataan diri dan perpindahan dari satu pikiran ke pikiran yang lain.
Niat jauh dari yang demikian. Niat adalah kebangkitan jiwa dan kecenderungannya
pada apa yang muncul padanya berupa tujuan yang dituntut yang penting baginya,
baik secara segera maupun ditangguhkan.

Pelacur itu kemudian datang
meminta untuk dinikahi demi membersihkan diri.
Dari pernikahan itu lahir tujuh orang anak yang shaleh. Begitu cerita Zadan dari
Ibnu Mas’ud
dari Salman Al-Farisi.

Selama kecenderungan itu tidak ada di dalam batin, kata Imam Al-Ghazali
melanjutkan, tidak mungkin diusahakan, diciptakan dengan usaha, dan dipaksakan.
Melainkan hal itu, hasilnya kembali kepada perpindahan pemikiran dari sesuatu ke
sesuatu yang lain. Seperti seorang yang kenyang berkata, “Aku telah berniat untuk
lapar,” atau “Aku berniat untuk makan disebabkan lapar,” Atau orang yang gelisah
berkata, “Aku telah berniat untuk mencintai seseorang,” atau “Aku telah berniat
memuliakan seseorang.” Hal ini tidak muncul di dalam batinnya, dan itu mustahil.
Selama tidak muncul motif hal itu, maka tidak akan ada kebangkitan jiwa, karena
kebangkitan jiwa merupakan tanggapan (respons) terhadap motif dan tujuan yang
muncul. Contohnya adalah menikah, kata Imam Al-Ghazali. Orang yang dikuasai
syahwat dan ingin menikah, kemudian hendak memaksakan diri berniat mengikuti
Rasulullah Saw. dan sunnahnya, serta berniat mendapatkan anak yang shaleh. Hal itu
tidak mungkin terjadi karena tidak muncul motif-motif ini dari batinnya. Melainkan di
dalam batinnya hanya ada syahwat semata. Demikian penjelasan Imam Al-Ghazali
dalam buku Mutiara Ihya’ ‘Ulumuddin.
Wallahu A’lam bishawab.
Awalnya dari niat. Nikah juga diawali dengan niat. Niat yang baik dan jernih
akan mendekatkan kepada barakah. Semakin baik niat kita, insya-Allah semakin
barakah rumah tangga kita, sekalipun kita tidak bisa menunaikan seluruh perkara
yang kita niatkan dengan sebaik-baiknya. Bahkan kalau kita tidak bisa mengamalkan
apa yang sudah kita niatkan dengan sungguh-sungguh, maka bagi kita apa yang kita
Kado Pernikahan 109
niatkan. Allah menyempurnakan apa yang kita niatkan, sekalipun kita tidak bisa
melaksanakan.
Tetapi beda sekali antara niat yang sungguh-sungguh kuat dengan mengadaadakan
niat. Semoga Allah menyelamatkan kita dari ghurur (terkelabui). Kita
menyangka kita punya niat, padahal hanya angan-angan yang kemudian kita jelaskan
dengan akal.
Adapun jika engkau telah berniat dengan niat yang baik, maka berbahagialah,
sebab Rasulullah Saw. bersabda, “Niat orang mukmin lebih baik daripada
perbuatannya. Sementara niat orang fasik lebih jelek daripada perbuatannya.”
Maka marilah kita meniatkan satu kebaikan di dalam pernikahan. Niat mendidik
anak dengan sebaik-baik pendidikan. Niat menetapkan satu sunnah hasanah dalam
keluarga. Niat untuk melaksanakan perbuatan yang mendatangkan barakah bagi kita
beserta istri (suami) kita. Niat untuk memuliakan istri dengan perkataan yang lembut,
bukan kasar dan menyakitkan. Serta niat lain.
Satu niat saja yang sungguh-sungguh ingin kita kerjakan, insya-Allah menjadi
pintu barakah, kebaikan berlipat-lipat yang terus berkembang. Hanya Allah yang
berhak menentukan kebaikan apa yang dikaruniakan kepada kita di dunia dan akhirat.
Sesungguhnya Allah adalah sebaik-baik Pemberi Kebaikan. Maha Suci Allah dari
segala keburukan yang diangan-angankan oleh akal yang keruh.
Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah –dalam apa yang diriwayatkan dari
Rabbnya– bersabda, “Sesungguhnya Allah menulis kebaikan-kebaikan dan
keburukan-keburukan, kemudian menjelaskan hal tersebut (di dalam kitab-Nya);
barangsiapa berniat melakukan kebaikan tetapi dia tidak mengerjakannya maka
Allah menulisnya di sisi-Nya satu kebaikan yang utuh, jika dia meniatkannya
kemudian dia melakukannya maka Allah menulisnya di sisi-Nya sepuluh kebaikan
sampai tujuh ratus sampai berlipat-lipat ganda. Dan barangsiapa berniat
(melakukan) keburukan tetapi dia tidak mengerjakannya maka Allah menulisnya di
sisi-Nya satu kebaikan yang utuh, dan jika dia meniatkannya kemudian dia
mengerjakannya maka Allah menulisnya satu keburukan”.
Dalam riwayat lain Ibnu Abbas menambahkan, “Atau Allah menghapuskannya
dan tidaklah berniat jahat kepada Allah kecuali orang yang binasa.” (HR Bukhari &
Muslim, shahih).
Akan tetapi,
“Barangsiapa tidur dan dalam hatinya ada niat untuk mengkhianati (menipu)
orang Islam, ia tidur dalam kemurkaan Allah. Ia memasuki waktu subuh juga dalam
kemurkaan Allah kecuali bila ia mati atau bertaubat. Jika ia mati dalam keadaan itu,
maka ia mati bukan dalam agama Islam. Ketahuilah siapa yang mengkhianati kami,
ia bukan golongan kami (Nabi Saw. menyebutkan hal ini sebanyak tiga kali).”
Nah, sekarang ketika akan menikah, apa niat Anda?
Kado Pernikahan 110
NIAT KETIKA MENIKAH
Sebagian pernikahan menjadi penuh barakah karena niat awal ketika
memutuskan untuk menikah. Al-Idris Asy-Syafi’i menikah semata karena ingin
mendapatkan ridha dari pemilik pohon delima atas apa yang ia makan. Ia bersedia
menikah asal delima yang sudah dimakannya diikhlaskan dan pemiliknya ridha. Maka
ia menikah dengan Fathimah, putri pemilik pohon delima itu. Dari rahim istrinya,
lahir Muhammad bin Idris yang kelak dikenal sebagai Imam Syafi’i karena keutamaan
ilmu dan akhlaknya. Pernikahan Al-Idris melahirkan anak yang sangat penuh
barakah. Sampai sekarang kita masih mengambil ilmu dari apa yang diwariskan oleh
Imam Syafi’i, buah pernikahan Al-Idris dan Fathimah yang diridhai.
Ada contoh lain pernikahan karena menjaga diri dari hal yang meragukan,
semata-mata demi mencapai keselamatan akhirat. Imam Bukhari dalam hadis
shahihnya pernah meriwayatkan sebuah cerita dari Rasulullah.
“Seorang laki-laki,” kata Rasulullah Saw., “membeli sebidang tanah dan
menemukan sebuah tempayan berisi emas dalam tanah itu. Katanya kepada si penjual,
‘Ambillah emasmu, karena hanya tanah yang saya beli dari engkau dan saya tidak
membeli emas’. Kata yang punya tanah, ‘Tanah itu beserta isinya telah saya jual
kepada engkau’. Keduanya lalu minta putusan kepada seseorang. Kata orang itu,
‘Adakah kamu berdua mempunyai anak?’ Seorang di antara mereka berkata, ‘Ya, saya
mempunyai seorang anak laki-laki’. Kata yang seorang lagi, ‘Ya, saya mempunyai
seorang anak perempuan’. Kata hakim tadi, ‘Kawinkanlah anak perempuan itu dengan
anak laki-laki ini dan belanjailah dengan keduanya dari harta itu dan
bershadaqahlah’.” (HR Bukhari dalam shahihnya, hadis No. 1513).
Suatu ketika seorang pemuda ahli ‘ibadah mendatangi pelacur karena desakan
keinginan yang kuat. Setelah berada dalam kamar berdua dengan pelacur itu, ia
merasakan ketakutan yang amat sangat mengingat pengawasan Allah yang tak pernah
lepas serta kedudukannya di hadapan Allah. Maka ia berkeringat dan pucat karena
takutnya. Ia meninggalkan tempat pelacuran itu dan tidak mengambil uangnya
kembali, meskipun pelacur itu berusaha menahannya.
Setelah pemuda itu pergi, pelacur itu merenung. Seharusnya dialah yang lebih
takut kepada Allah mengingat perbuatan-perbuatannya. Maka ia berniat bertaubat dan
mencari pemuda itu agar dinikahi. Tetapi ketika sampai, ia dapati pemuda itu
meninggal seketika karena rasa takutnya saat melihat kedatangan pelacur itu.
Maka ia bertanya, “Adakah ‘Abid (ahli ‘ibadah) ini mempunyai saudara laki-laki
yang belum menikah?”
Orang-orang menunjukkan saudaranya yang juga seorang ahli ‘ibadah, tetapi
sangat miskin. Ia kemudian datang meminta untuk dinikahi demi membersihkan diri.
Dari pernikahan itu lahir tujuh orang anak yang shaleh. Begitu cerita Zadan dari Ibnu
Mas’ud dari Salman Al-Farisi.
Kado Pernikahan 111
Niat banyak mempengaruhi barakah tidaknya pernikahan. Sebagian dari niat
menikah, dijamin akan penuh dengan barakah selama-lamanya. Istri barakah bagi
suami, suami barakah bagi istri.
Allah ‘Azza wa Jalla insya-Allah juga memberi barakah yang sangat besar
kepada seorang wanita yang menyerahkan diri kepada laki-laki yang ia mantap
dengan akhlak dan agamanya, semata karena mengharapkan ridha-Nya atau karena
ingin menjaga diri dari dosa. Apalagi jika laki-laki itu seorang yang masih sendirian.
Rasulullah Saw. menjanjikan, “Kawinkanlah orang-orang yang masih
sendirian di antara kamu, sesungguhnya Allah akan memperbaiki akhlak mereka,
meluaskan rezeki mereka, dan menambah keluhuran mereka.”
Sebagian orang menikah karena takut mati dalam keadaan membujang. Ini yang
pernah terjadi pada Mu’adz bin Jabal r.a., salah seorang sahabat utama Rasulullah
Saw. Ketika dua orang istrinya meninggal dunia pada waktu menjalar wabah pes,
sedangkan ia sendiri mulai kejangkitan, maka ia berkata, “Kawinkanlah aku. Aku
khawatir akan meninggal dunia dan menghadap Allah dalam keadaan tak beristri.”
Ibnu Mas’ud pernah mengatakan, “Seandainya tinggal sepuluh hari saja dari
usiaku, niscaya aku tetap ingin kawin. Agar aku tak menghadap Allah dalam keadaan
masih bujang.”
Ada lagi niat-niat menikah yang insya-Allah dimuliakan dan baginya barakah
yang melimpah sampai yaumil-qiyamah. Anda bisa membaca berbagai sumber atau
bertanya kepada orang yang mempunyai hikmah. Atau, Anda bisa bertanya kepada
hati nurani Anda sendiri.
Niat Ketika Memilih Pendamping
Ada pernikahan yang tidak akan pernah diberi barakah karena niat orangtua
ketika memilih suami bagi anak gadisnya yang salah. Rasulullah Saw. mengingatkan,
“Barangsiapa yang menikahkan (putrinya) karena silau akan kekayaan lelaki
meskipun buruk agama dan akhlaknya, maka tidak akan pernah pernikahan itu akan
dibarakahi-Nya.”
Pernikahan yang demikian ini kering dan hampa, kecuali jika istri bersedia untuk
bermujahadah (berjuang) untuk membawa suami kepada kelurusan agama. Ia
“berzuhud” terhadap harta dan kedudukan suami. Tetapi ia menunjukkan kelembutan
saat mengajak suami kepada kejernihan hati. Ia bisa tegas di saat lain dalam
menyikapi apa yang kurang tepat, tetapi tidak menunjukkan sikap keras dan perkataan
yang menyakitkan. Ia berzuhud dari kebaikan suami dalam perkara dunia karena
menjaga agar tidak lemah dan dilemahkan secara fisik maupun psikis. Al-ihsanu
yu’jizul insan. Sesungguhnya kebaikan itu melemahkan (mematikan) manusia.
Masalahnya, adakah wanita yang seperti itu manakala orangtua menikahkan karena
silau terhadap kekayaan seorang laki-laki? Tidak mudah bersikap seperti itu. Apalagi,
kalau semenjak awal tidak disadari.
Kado Pernikahan 112
Wallahu A’lam bishawab.
Dari Anas r.a., Rasulullah Saw. bersabda, “Siapa yang menikahi seorang wanita
karena kedudukannya, Allah hanya akan menambah kehinaan kepadanya; siapa yang
menikahinya karena kekayaan, Allah hanya akan memberinya kemiskinan; siapa yang
menikahi wanita karena bagus nasabnya, Allah akan menambah kerendahan padanya.
Namun, siapa yang menikah karena ingin menjaga pandangan dan nafsunya atau
karena ingin mempererat kasih-sayang, Allah akan senantiasa membarakahi dan
menambah kebarakahan itu kepadanya.” (HR Ath-Thabrani).
Dari ‘Abdullah bin Amr r.a., Rasulullah Saw bersabda, “Janganlah kamu
menikahi seorang wanita karena kecantikannya, mungkin saja kecantikan itu
membuatnya hina. Janganlah kamu menikahi seorang wanita karena hartanya,
mungkin saja harta itu membuatnya melampaui batas. Akan tetapi nikahilah seorang
wanita karena agamanya. Sebab, seorang wanita yang shaleh, meskipun buruk
wajahnya adalah lebih utama.” (HR Ibnu Majah).
Ada hadis yang sangat populer tentang menentukan kriteria wanita yang akan
dinikahi. Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw. bersabda, “Biasanya wanita
dikawini karena empat (hal): karena hartanya, karena kebangsawanannya, karena
kecantikan, dan karena agamanya (akhlaknya). Maka pilihlah yang beragama
(berakhlak) semoga beruntung usahamu.” (HR Bukhari & Muslim, shahih).
Muhammad Fuad ‘Abdul Baqi yang mengkompilasi hadis-hadis shahih yang
disepakati Bukhari dan Muslim dalam Al-Lu’lu’ wal Marjan mengatakan, “Arti taribat
yadaaka (engkau akan rugi dan miskin jika Anda tidak mengikuti tuntunan ini), yakni
jika Anda kawin dengan wanita yang tidak beragama (berakhlak) niscaya akan
menjadi fakir miskinlah Anda, yakni tidak akan bahagia dalam hidup.”
Sebagaimana seorang laki-laki yang akan meminang, seorang wanita yang
berkeinginan untuk menyerahkan diri kepada laki-laki untuk dinikahi juga perlu
memperhatikan niatnya memilih laki-laki itu. Menawarkan diri karena terkesan oleh
kekayaan dan ketampanan, hanya akan melahirkan penderitaan psikis yang
berkepanjangan kelak setelah madunya tak manis lagi.
Kalau Anda menikah, Anda bisa meminang wanita yang masih gadis. Bisa juga
seorang janda. Insya-Allah pernikahan Anda akan barakah jika Anda memilih istri
yang masih gadis atas pertimbangan sunnah Rasulullah Saw. atau apa yang
dimaksudkan dalam sunnah itu, yakni Anda bisa bercanda, bercumbu, saling
menggigit dan tertawa bersama. Anda memilih yang masih gadis karena hatinya
belum pernah terpaut pada orang lain, sehingga kasih-sayangnya lebih penuh.
Pertimbangan-pertimbangan semacam ini bisa Anda lihat pada berbagai hadis.
Di antaranya hadis-hadis shahih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari maupun
Imam Muslim.
Masih berkenaan dengan gadis, mungkin Anda memilih yang masih belia karena
cintanya lebih hangat, kasih sayangnya lebih tulus dan lebih sedikit tipuannya,
disamping lebih rela terhadap belanja yang sedikit. Mungkin juga Anda memilih
Kado Pernikahan 113
gadis yang sudah beranjak tua usianya untuk menolongnya dan menyelamatkan
kehormatan agama. Yang demikian ini insya-Allah justru besar barakahnya.
Pernikahan yang penuh barakah insya-Allah juga Anda dapatkan ketika memilih
untuk menikah dengan seorang janda karena mengharapkan dia dapat merawat,
mendidik, dan mengasihi anak-anak dan saudara-saudara Anda yang masih perlu
penjagaan dan kasih sayang. Rasulullah Saw. pernah mendo’akan Jabir bin ‘Abdullah
ketika menikahi seorang janda dengan harapan bisa merawat adik-adik perempuannya
yang masih kecil, setelah ayahnya meninggal. Ketika itu Rasulullah Saw.
mendo’akan, “Barakallah (semoga Allah membarakahi).” atau “Khaira (baik saja).”
(HR Bukhari & Muslim dalam Al-Lu’lu’ wal Marjan, hadis No. 930).
Masih ada. Jika Anda memiliki pembantu, insya-Allah Anda akan mendapati
pernikahan yang sangat penuh barakah dengan menikahi pembantu Anda setelah
memberikan pendidikan sehingga dia matang, siap untuk menjadi istri dan ibu.
Khath Arab
Abu Musa r.a. berkata: Rasulullah Saw. bersabda, “Siapa yang memiliki jariyah
(hamba wanita, pembantu), lalu dipelihara dengan baik, kemudian dimerdekakan dan
dikawini, maka ia mendapat pahala dua kali lipat.” (HR Bukhari & Muslim,
shahih).
Wallahu A’lam bishawab.
Niat dalam Urusan Pernikahan
Masalah niat tidak berhenti sampai saat memilih pendamping. Sesudah pinangan
datang dan kata sepakat dari dua keluarga sudah tercapai bahwa mereka akan
mengikat tali kekeluargaan melalui anaknya masing-masing, niat masih terus
menyertai dalam berbagai urusan yang berkenaan dengan terjadinya pernikahan.
Mulai dari memberi mahar, menebar undangan walimah, penyelenggaraan walimah
sampai dengan waktu yang dihabiskan untuk menyelenggarakan walimah. Walimah
lebih dari dua hari dekat kepada madharat. Walimah hari ketiga termasuk riya’.
Proses pernikahan dapat mempengaruhi niat. Proses pernikahan yang sederhana
dan mudah, insya-Allah akan mendekatkan orang kepada bersihnya niat.
Memudahkan proses pernikahan bisa menjernihkan niat yang sebelumnya masih
keruh. Sedang mempersulit dapat merusak niat yang sebelumnya sudah cukup bersih.
Saya kira Anda dapat memikirkan lebih jauh masalah itu. Mudah-mudahan Allah
Ta’ala meluruskan niat kita dalam menempuh urusan pernikahan seluruhnya. Mudahmudahan
Allah membaguskan hati kita dan mengampuni kesalahan-kesalahan hati
Kado Pernikahan 114
kita dalam menempuh pernikahan, khususnya bagi yang telah menikah. Mudahmudahan
Allah memaafkan apa yang belum bersih dan menggantikannya dengan
keikhlasan dan sakinah.
MASIH ADA NIAT SESUDAH AKAD NIKAH
Sesudah akad nikah, ada kesempatan untuk memeriksa kembali niat ketika
hendak melangkah ke pelaminan. Bahtera rumah tangga mulai mengarungi lautnya.
Sebelum berlayar jauh, kita bisa beristighfar bersama-sama atau apa pun yang baik
untuk kejernihan hati. Saya perlu menggarisbawahi tambahan kata-kata “atau apa pun
yang baik” karena perkara ini tidak termasuk perkara yang wajib, sehingga saya
khawatir jika ini dianggap wajib. Istighfar atau apa pun kalimat-kalimat thayyibah itu
tidak wajib, hanya bersifat sebagai ikhtiar untuk mencapai kemaslahatan. Jika
dianggap wajib, saya khawatir justru saya berdosa karenanya.
‘Alaa kulli hal, masih ada niat sesudah akad nikah. Niat yang baik setelah
mengarungi bahtera rumah tangga, insya Allah dapat memperbaiki kesalahankesalahan
niat sebelumnya. Mudah-mudahan Allah menjadikan rumah tangga kita
penuh barakah.
Masih ada niat sesudah hidup bersama. Niat ketika berhias maupun niat ketika
berhubungan intim. Niat Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu adalah salah satu
contohnya. Beliau pernah berkata, “Sungguh aku memaksakan diri bersetubuh dengan
harapan Allah akan mengaruniakan dariku makhluk yang akan bertasbih dan
mengingat-Nya.”
Pembahasan lebih lanjut mengenai berbagai hal yang berkenaan dengan
hubungan intim suami istri insya-Allah akan kita bicarakan pada bab Keindahan
Suami Istri di jendela kedua buku kita ini.
Hujan Itu Mensucikan Bumi
Adakalanya niat kita ketika hendak menikah masih belum bersih, kemudian
Allah memberikan kasih sayang-Nya. Allah memberikan berbagai keadaan sehingga
kita mensucikan niat kita. Allah menurunkan peristiwa-peristiwa sehingga kita
mengetahui kekotoran niat kita yang selama ini tersembunyi dari pengetahuan kita
sendiri.
Adakalanya niat seseorang sudah bersih, kemudian Allah menguji kesungguhan
niatnya. Allah memberikan ujian, sehingga tampak apakah ia bersungguh-sungguh
dengan niatnya. Sehingga tampak apakah ia tetap berpegang pada tali-Nya di saat
menghadapi kesulitan. Sehingga semakin kokoh niatnya kalau ia tetap memegangi
niatnya. Yang demikian ini insya-Allah akan membuat niatnya lebih dekat kepada
barakah dan tidak mudah luntur oleh keadaan sesudah menikah.
Kado Pernikahan 115
“Dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan
untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha Mengetahui isi hati.”
(Q.S. Ali ‘Imran: 154).
Sebagian orang ridha terhadap apa yang terjadi, sehingga Allah menambah
kemuliaan dan barakahnya. Sebagian merasa kecewa kepada Allah. Sebagian lagi
merasa kecewa, kemudian memperbaiki hati setelah menyadari kesalahankesalahannya.
Adakalanya Allah mensucikan bumi dengan menurunkan hujan. Dalam hujan
ada kilat dan petir. Sebelum hujan ada mendung tebal yang membuat gerah orangorang
di muka bumi. Sayangnya, seringkali kita salah sangka. Kita sering tidak bisa
membedakan antara panasnya terik matahari dengan gerahnya awan tebal yang
mengawali hujan penuh rahmat.
Pensucian niat bisa juga terjadi karena bertambahnya ilmu. Ketika seseorang
memperoleh pengetahuan yang lebih baik mengenai agamanya, akhirnya ia mengenali
kekeruhan-kekeruhan niat yang selama ini tidak diketahuinya. Oleh karena itu, suamiistri
tetap perlu mencari ilmu setelah berumah tangga. Mudah-mudahan mereka dapat
menjadi suami-istri yang penuh barakah. Mudah-mudahan mereka dapat menjadi
orangtua yang penuh barakah, melahirkan keturunan yang memberi bobot kepada
bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah melalui pernikahan mereka. Allahumma
amin.
Wallahu A’lam bishawab.
Mudah-mudahan Allah memperbaiki niat kita. Mudah-mudahan Allah
melepaskan kita dari ghurur (terkelabui) atas perkara-perkara yang kita sangka niat
kita, padahal hanya angan-angan yang kita jelaskan dengan akal saja.
Kado Pernikahan 116
Bab 9
Memasuki Malam Zafaf
alau sudah ada kerelaan untuk menjadi teman hidup, maka tunggu sesaat
lagi jalinan perasaan itu akan sah. Sesaat lagi, apa-apa yang haram bagi
kita telah menjadi halal atas karunia Allah. Sesaat lagi, seorang jejaka
mulai harus memberikan kelembutan sikap kepada wanita yang beberapa
waktu lalu dipinangnya. Sesaat lagi, seorang wanita mulai mempunyai kewajiban
untuk bertaba’ul (pengurusan dan pelayanan). Ini kelak di akhirat akan dimintakan
tanggung jawab kita. Ada perjanjian yang sangat berat kepada Allah, sehingga Allah
memberi hak kepada kita beberapa kesenangan dan memberi amanah di balik
kesenangan-kesenangan itu. Perjanjian ini terikat sesaat lagi, ketika seorang ayah
mengucapkan ijab atas anak gadisnya dan seorang laki-laki mengucapkan qabul
(penerimaan) untuk mengikat jalinan perasaan sebagai suami-istri.
Inilah akad nikah. Inilah akad yang menjadikan halal apa-apa yang sebelumnya
haram, dan membuat berpahala apa-apa yang sebelumnya merupakan dosa.
Ikatan Itu Bernama Mitsaqan-Ghalizhan
Nabi berdiri di Mina, di Masjid Kheif. Dia memandang ribuan jama’ah yang
hadir untuk berhaji di sekitarnya. Kemudian bibirnya yang tidak pernah berdusta
menyebutkan pujian kepada Allah. Lalu memulai khuthbahnya.
“Wahai manusia,” kata Rasulullah berseru, “dengarkan penjelasanku baik-baik,
karena aku tidak tahu apakah aku masih berjumpa lagi dengan kalian di tempat ini
pada tahun yang akan datang.”
K
Kado Pernikahan 117
Suara Rasulullah bergetar. Para sahabat merasa ada yang akan hilang. Ada tangis
yang terasa, tapi menahannya di tenggorokan. Ada kesedihan. Ucapan Rasulullah kali
ini, mengisyaratkan perpisahan. Tahun depan mungkin Rasulullah sudah tidak
bersama mereka lagi. Betapa besar kehilangan kalau Rasulullah benar-benar dipanggil
oleh Yang Mengutusnya, Allah subhanahu wa ta’ala. Betapa besar kehilangan kalau
kali ini adalah haji perpisahan, haji wada’, sedang wajah suci itu telah bertahun-tahun
membimbing mereka sekaligus menanggung luka-luka dalam beberapa peperangan.
Para sahabat merasakan kesedihan itu.
Kemudian Rasulullah berkata, “Apakah aku sudah menyampaikan risalah
Tuhanku kepada kalian?”
Para sahabat menjawab dengan suara serentak, dengan gemuruh yang sama, dan
dengan jawaban yang sama, “Benar. Engkau sudah menyampaikan risalah kepada
kami.”
“Allahumma isyhad. Ya Allah, saksikanlah!” Sebagian sahabat sudah tidak
sanggup lagi menahan tangisan mereka. Mereka mengetahui bahwa tugas Nabi sudah
berakhir, kata K.H. Jalaluddin Rakhmat.
“Wahai manusia,” begitu kata Nabi selanjutnya, “Hendaknya yang hadir
menyampaikan kepada yang tidak hadir. Tahukah kalian hari apakah sekarang ini?”
“Hari yang suci.”
“Negeri apakah ini?”
“Negeri yang suci.”
“Bulan apakah ini?”
“Bulan yang suci.”
“Sesungguhnya darah kalian, harta kalian, kehormatan kalian, sama sucinya
dengan hari ini, negeri ini, pada bulan ini. Sesungguhnya kaum Mukmin itu
bersaudara. Tidak boleh ditumpahkan darahnya. Tuhan kalian satu. Bapak kalian
semuanya Adam dan Adam dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia di sisi Allah
ialah yang paling takwa. Tidak ada kelebihan orang Arab di atas orang asing kecuali
karena takwanya. Apakah aku sudah menyampaikan kepada kalian?”
Suara para sahabat bergemuruh. Mereka menjawab, “Benar.” Begitulah setiap
kali Nabi menyampaikan satu bagian (maqtha’) nasehatnya, beliau mengakhirinya
dengan “apakah aku sudah menyampaikan kepada kalian?”; dan para sahabat
menjawab serentak dengan “benar”. Setiap beliau memulai bagian nasehatnya, kata
Kang Jalal, beliau berkata, “Simaklah pembicaraanku, kalian akan memperoleh
manfaat sesudah aku tiada. Pahamilah baik-baik supaya kalian memperoleh
kemenangan.”
Hari ini, Rasulullah telah tiada. Dan sekarang, saya ingin menyampaikan salah
satu pesan Rasulullah saat itu, ketika Anda sudah menguatkan hati untuk mengikat
perjanjian yang sangat berat (mitsaqan-ghalizhan). Istri Anda mempunyai hak atas
Kado Pernikahan 118
Anda karena perjanjian itu. Ia mempunyai hak yang suci, sama sucinya dengan hari
ketika khothbah perpisahan itu diucapkan.
Ketika Anda sudah mengikat perjanjian yang sangat berat, tahukah Anda apa hak
istri Anda? Dan ketika Anda menerima perjanjian berat dari suami Anda, tahukah
Anda hak suami atas Anda?
Di haji wada’ itu, Rasulullah Saw. Mengingatkan dengan peringatan suci,
“Wahai manusia, sesungguhnya istri kalian mempunyai hak atas kalian
sebagaimana kalian mempunyai hak atas mereka. Hak kalian atas mereka ialah
mereka (para istri) tidak boleh mengizinkan orang yang tidak kalian senangi masuk ke
rumah kecuali dengan izin kalian. Terlarang bagi mereka melakukan kekejian. Jika
mereka berbuat keji, bolehlah kalian menahan mereka dan menjauhi tempat tidur
mereka, serta memukul mereka dengan pukulan yang tidak melukai mereka. Jika
mereka taat, maka kewajiban kalian adalah menjamin rezeki dan pakaian mereka
sebaik-baiknya. Ketahuilah, kalian mengambil wanita itu sebagai amanah dari Allah,
dan kalian halalkan kehormatan mereka dengan Kitab Allah. Takutlah kepada Allah
dalam mengurus istri kalian. Aku wasiatkan kalian untuk selalu berbuat baik.”
“Aku wasiatkan kalian untuk selalu berbuat baik,” begitu kata-kata terakhir dari
Rasulullah ketika mengingatkan kita tentang kewajiban di balik amanah pernikahan.
Ada yang harus dijaga dalam perjanjian yang sangat berat ini (mitsaqan-ghalizhan).
Ada yang harus diperjuangkan karena amanah ini.
Ada yang besar dalam perjanjian berat ini. Hati yang menerima, jiwa yang rela,
sikap yang menenteramkan, dan kesediaan untuk berjuang bersama. Sudah siapkah
engkau? Aku bertanya kepada diriku sendiri dan juga kepadamu.
Perjanjian berat akan kita ikrarkan. Allah dan para malaikat menjadi saksi. Para
tamu juga menjadi saksi. Ada yang menjadi saksi khusus ketika perjanjian berat itu
diucapkan.
Akad nikah memang harus ada saksi. Sebenarnya, apakah saksi itu? Mengapa
perjanjian berat ini memerlukan saksi? Padahal Allah Maha Tahu dan tak ada yang
bisa disembunyikan dari penglihatan-Nya.
Maha Besar Allah. Sungguh Allah tidak pernah zalim kepada setiap makhluk-
Nya. Pernikahan memerlukan saksi untuk mengingatkan kepada kita tentang amanah
di baliknya. Mudah-mudahan kita selalu ingat dan tetap menjaganya sampai kelak
bertemu dengan Allah di Hari Kiamat.
Jadi, ikatan pernikahan bukanlah ikatan main-main. Ada kesenangan-kesenangan
di dalamnya yang boleh kita rasakan bersama, dan ada amanah di baliknya. Ada
sebuah amanah besar.
Sekarang ketika ayah dari calon istri Anda akan mengucapkan ijab nikah,
marilah kita perhatikan beberapa hal berkenaan dengan Ijab-Qabul Nikah.
Kado Pernikahan 119
Mengucapkan Ijab-Qabul Nikah
Perjanjian berat itu terikat melalui beberapa kalimat sederhana. Pertama adalah
kalimat ijab, yaitu keinginan pihak wanita untuk menjalin ikatan rumah tangga
dengan seorang laki-laki. Kedua adalah kalimat qabul, yaitu pernyataan menerima
keinginan dari pihak pertama untuk maksud tersebut.
Ijab-qabul adakalanya diucapkan dalam bahasa Arab. Adakalanya juga
diucapkan dalam bahasa setempat. Keduanya boleh dipakai. Ibnu Taimiyyah
mengatakan, ikatan nikah bisa terjalin dengan ungkapan yang bermakna nikah,
dengan kata dan bahasa apa pun.
Mana yang lebih afdhal? Mana yang lebih baik untuk dipakai? Wallahu A’lam
bishawab. Nikah adalah perjanjian yang berat. Kita perlu menghayati ucapan ijabqabul.
Salah satu syarat ijab-qabul adalah kedua pihak memiliki sifat tamyiz (mampu
membedakan baik dan buruk), sehingga ia memahami perkataan dan maksud dari
ijab-qabul itu. Di atas pemahaman terhadap maksud ijab-qabul, ada penghayatan.
Sebagian dari kita mungkin lebih bisa merasakan makna di balik perjanjian yang
sangat berat ini ketika diucapkan dalam bahasa Arab, karena ini merupakan bahasa
Al-Qur’an. Tetapi sebagian lainnya, lebih dapat merasakan makna dari setiap kata
yang didengar dan diucapkan ketika ketika menggunakan bahasanya sehari-hari,
misal bahasa Indonesia.
Jika Anda lebih mudah merasakan makna ijab-qabul dalam bahasa Arab, Anda
dapat memilih untuk menggunakan bahasa Arab ketika berlangsung akad nikah.
Tetapi jika Anda lebih mampu menghayati dan lebih mudah terharu dengan bahasa
Indonesia, sesungguhnya akad-nikah dalam bahasa Indonesia tidak membuatnya lebih
rendah nilainya dibanding bahasa Arab. Jika dengannya Anda lebih merasakan
kedalaman arti akad nikah, insya-Allah bahasa Indonesia bisa lebih baik.
Yang jelas, apa pun bahasa yang digunakan, akad nikah hendaknya tidak
berbelit-belit dan terlalu mempersulit proses demi kesempurnaan adat istiadat.
Keagungan pernikahan tidak diukur dari lengkap tidaknya mengulang kalimat ijab
ketika mengucapkan qabul. Ini sekedar satu contoh saja.
Juga, hendaknya kita tidak terjebak ke dalam keinginan untuk mencapai “suasana
khusyuk” sehingga justru mempersulit diri. Jika kita menengok kisah-kisah
pernikahan di masa shahabat dan beberapa generasi berikutnya, kita sering mendapati
proses akad nikah yang begitu sederhana. Kadang terasa “terlalu sederhana” untuk
ukuran kita yang senang berbelit-belit ini. Misalnya, bukan hal yang aneh kalau kita
membaca seseorang minta dinikahkan –meminang– lalu orangtua sang perempuan
mengatakan, “Ya, kau kunikahkan dengan Fulanah binti Fulan.” Selesai. Dan dari
pernikahan-pernikahan semacam itulah justru lahir orang-orang yang memiliki
keutamaan besar di dunia dan akhirat.
Di zaman kita sekarang, agaknya sulit menjumpai model pernikahan yang
sederhana seperti itu. Barangkali hanya tinggal di sebagian daerah Lamongan, Jawa
Timur saja tradisi pernikahan Islami yang sangat sederhana tetap bisa berlangsung.
Kado Pernikahan 120
Proses pernikahan berlangsung sangat cepat. Begitu pinangan diterima –ini yang
pernah terjadi– orangtua si gadis langsung menyatakan, kurang lebih, “Bagaimana,
akad nikah sekarang?” Jika ya, saksi bisa dipanggil dari tetangga kanan kiri. Perkara
mahar, gampang. Bisa dicari. Walimah, bisa dipersiapkan besok. Sedang untuk
hidangan sekarang, orang dapur bisa mempersiapkan.
Saya tidak tahu apakah ada daerah lain yang masih mempunyai tradisi
pernikahan yang sederhana dan Islami seperti itu. Jika masih ada daerah lain, saya
kira itu ada di daerah-daerah basis pesantren yang masih kental budaya pesantrennya.
Daerah-daerah Situbondo dan Probolinggo, barangkali.
Wallahu A’lam bishawab.
Siapa yang Menikahkan?
Sesungguhnya yang paling berhak untuk menikahkan seorang anak wanita
adalah ayahnya, karena dia adalah wali bagi anaknya. Tetapi adakalanya, keluarga
pengantin wanita menyerahkan kepada orang lain untuk mengijabkan pernikahan
anak wanitanya dengan laki-laki yang akan menjadi suami anaknya.
Sesungguhnya pernikahan merupakan ikatan yang suci. Ketika seorang ayah
mengucapkan ijab nikah, di dalamnya juga tersirat penyerahan tanggungjawab atas
anak wanitanya kepada laki-laki yang ia telah mantap dengannya. Ketika
mengijabkan, seorang ayah juga telah mempersaksikan bahwa tanggungjawabnya
terhadap anak wanitanya telah tertunaikan.
Jadi, ijab nikah bukan sekedar ucapan untuk mensahkan ikatan batin antara anak
wanitanya dengan seorang laki-laki yang telah dipilihnya. Di dalamnya juga terdapat
tanggungjawab ruhiyyah, semoga pernikahan ini menjadi jalan kebaikan bagi
orangtua serta keluarga anaknya yang baru saja menikah. Ini antara lain tampak
ketika seorang ayah mendoakan menantu laki-lakinya sebelum mengantarkannya
untuk menemui istrinya di malam pertama.
Anas bin Malik r.a. menceritakan kisah perkawinan Fathimah Az-Zahra r.a. Anas
berkata, Nabi bersabda, “Bawakan aku air!” ‘Ali berkata, “Aku tahu apa yang
dimaksudkan oleh beliau. Maka aku bangkit dan memenuhi gelas besar kemudian
memberikannya. “Beliau mengambilnya lalu meludahinya, kemudian bersabda
kepadaku, “Majulah!” Maka beliau menyiram kepalaku dan bagian depan tubuhku.
Kemudian beliau bersabda:
Khath Arab
Allahumma innii u’iidzuhu bika wa dzurriyatuhu minasy-syaithaanirrajiim.
Ya Allah, sesungguhnya aku melindungi dirinya dan keturunannya dengan-Mu
dari setan yang terkutuk.
Kado Pernikahan 121
Beliau bersabda, “Menghadap ke belakang!” Maka aku pun menghadap ke
belakang. Lalu beliau menyiram daerah antara dua belikat, lalu berdoa:
Khath Arab
Inni u’iidzuhu bika wa dzurriyatuhu minasy-syaithanir rajiim.
Sesungguhnya aku melindunginya dan keturunannya dengan-Mu dari setan yang
terkutuk.
Kemudian bersabda, “Hai Ali, temuilah istrimu dengan membaca basmalah
supaya mendapat barakah.” (HR. Abu Bakar bin As-Sina).
Abu Bakar bin As-Sina menulis dalam kitabnya, “Abu ‘Abdurrahman
memberitahukan kepada kami, ‘Abdul A’la bin Washil dan Ahmad bin Sulaiman
menceritakan kepada kami, Malik bin Isma’il menceritakan kepada kami, dari
‘Abdurrahman bin Hamid Ar-Rawasi, ‘Abdul Karim bin Salith menceritakan kepada
kami, dari Ibnu Buraidah, dari ayahnya r.a. Dia menceritakan perkawinan Fathimah,
lalu berkata: Pada saat malam pertama tiba, Nabi Saw. bersabda, “Hai ‘Ali, jangan
mengucapkan apapun sebelum kamu menemuiku.” Kemudian Nabi Saw. meminta air.
Beliau menggunakannya untuk wudhu, lalu membasuhkannya kepada ‘Ali sambil
berdoa:
Khath Arab
Allahumma baarik fiihimaa wa baarik ‘alaihima wa lahumaa fii syamlihimaa.
Ya Allah, barakahilah keduanya dengan barakah yang meliputi keharmonisan
keduanya.
Ketika seorang ayah mempercayakan anak wanitanya dengan ucapan ijab kepada
calon menantu, insya-Allah ia berada dalam keadaan hati yang sangat bersih dan
paling besar pengharapannya kepada Allah.
Adapun kalau bukan ayah, maka keluarga wanita bisa meminta kepada orang
yang ‘alim (berilmu) untuk mewakili ayah wanita tersebut dalam mengijabkan.
Tetapi, siapakah orang ‘alim itu? Wallahu A’lam bishawab. Sepanjang pengetahuan
saya orang ‘alim adalah orang yang sangat besar rasa takutnya kepada Allah dan
mengetahui halal-haramnya suatu perkara.
Wallahu A’lam bishawab.
Ada perkara-perkara lain dalam masalah ijab-qabul. Tetapi bukan wilayah saya
untuk membahasnya, termasuk yang berkenaan dengan orang yang mengijabkan
pernikahan seorang wanita kepada seorang laki-laki. Adapun pembahasan saya
sekilas tentang orang yang menikahkan, yang demikian ini sebagai ikhtiar untuk
menyampaikan apa yang lebih utama dan insya-Allah lebih besar barakahnya.
Kado Pernikahan 122
Mudah-mudahan pernikahan yang baru saja berlangsung akan penuh barakah Allah
dan dibarakahi atas mereka. Semoga dari pernikahan itu lahir keturunan yang
memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah.
Wallahu A’lam bishawab.
Walimah Itu Ungkapan Syukur
Kalau pernikahan sudah berlangsung, maka suami bisa menyelenggarakan
walimah sebagai ungkapan syukurnya kepada Allah. Melalui walimah, ia
mengungkapkan kerendahan hatinya dengan meminta doa barakah kepada kaum
muslimin yang datang; doa yang sungguh-sungguh, bukan sekedar mengikuti
kebiasaan bikin undangan, serta mengumumkan kepada masyarakat bahwa dua orang
yang bukan muhrim itu kini telah halal hidup bersama.
Rasulullah Saw. menganjurkan kepada kita untuk mengadakan walimah ketika
kita menikah. Rasulullah mengingatkan dengan sangat agar kita mengadakan walimah
untuk pernikahan kita, sesederhana apapun. Banyak hadis yang menunjukkan perkara
ini. Ketika Rasulullah mengetahui ‘Abdurrahman bin Auf menikah –saat itu
‘Abdurrahman bin Auf tidak menyelenggarakan walimah– maka Rasulullah bersabda,
“Buatlah sebuah perayaan, adakan walimahan meskipun hanya dengan memotong
seekor kambing.”
Ada hadis yang senada dengan itu. Dari Anas r.a., ia berkata, “Rasulullah belum
pernah berpesta untuk sesuatu kejadian sebagaimana yang Rasulullah lakukan
terhadap Zainab, “Buatlah walimah, berpestalah meskipun hanya dengan memotong
seekor kambing.” (HR Bukhari dan Muslim).
Masih banyak hadis-hadis lain yang berbicara tentang perintah untuk
mengadakan walimah. Semuanya menunjukkan bahwa mengadakan walimah untuk
sebuah pernikahan sangat penting. Dari sinilah lahir kesimpulan hukum tentang
walimah. Sebagian besar ‘ulama sepakat bahwa walimah hukumnya sunnah
muakkadah.
Dalam hal ini, masalah penting yang perlu kita ingat adalah, titik tekan anjuran
walimah ada pada penyelenggaraan walimahnya, bukan pada penyembelihan seekor
kambing sebagai pesta minimal. ‘Abdurrahman bin Auf –sahabat utama Nabi Saw.–
adalah termasuk orang paling kaya di masa itu, sehingga perkataan “meskipun hanya
dengan memotong seekor kambing” menggambarkan penegasan tentang pentingnya
mengadakan walimah. Tetapi jika untuk memberi mahar cincin besi saja tidak bisa,
tentu ia tidak diharuskan mengadakan walimah dengan memotong seekor kambing.
Sebab jika ini dilaksanakan, justru bisa mendatangkan madharat.
Wallahu A’lam bishawab.
Di Indonesia, umumnya pesta walimah diselenggarakan oleh orangtua dari
mempelai wanita. Karena itulah, saya ingatkan kepada mereka agar memperhatikan
kemaslahatan dalam menyelenggarakan pesta pernikahan untuk anaknya.
Kado Pernikahan 123
Menyelenggarakan pesta walimah secara berlebihan sampai di luar kesanggupan
mereka atau pun menantunya, justru bisa mendatangkan madharat dan kerusakan
sehingga pernikahan yang suci itu kehilangan barakah. Memaksakan diri dalam
menyelenggarakan walimah juga bisa menjadi sunnah sayyi’ah, teladan buruk yang
bila dicontoh orang lain akan menyebabkan kita berdosa. Wallahu A’lam bishawab.
Ukuran berlebihan ini bisa dilihat dari dua sisi. Pertama, kebiasaan yang berlaku
di masyarakat. Kedua, penyelenggaraan walimah dibandingkan dengan kemampuan
secara pribadi. Pesta walimah yang amat jauh lebih sederhana dari kebiasaan yang
berlaku di masyarakat masih dapat digolongkan berlebihan, apabila untuk
mengadakan walimah itu pengantin laki-laki atau orangtua pengantin perempuan
sampai memaksakan diri melebihi kesanggupan ekonominya saat itu.
Jadi, jika Anda mengadakan walimah dengan memotong seekor kambing,
sementara untuk membeli seekor ayam pun Anda sangat kepayahan, maka walimah
yang Anda laksanakan sudah termasuk berlebihan. Disebabkan oleh walimah itu,
boleh jadi Anda sudah termasuk melampaui batas. Tindakan yang melampaui batas
ini akan membawa akibat dalam dua hal. Pertama, beban bagi diri Anda pribadi.
Kedua, hilang atau berkurangnya barakah pernikahan Anda lantaran agama tidak
menyukai tindakan yang melampaui batas, termasuk dalam soal pernikahan. Kecuali
Anda menyadari kekeliruan Anda dan beristighfar, mungkin Allah akan
mengaruniakan barakah dan rahmat-Nya.
Persoalannya kemudian, di zaman kita ini kadang seorang pengantin laki-laki
tidak diberi kewenangan untuk menentukan bagaimana bentuk walimah yang sesuai
dengan kemampuannya sendiri secara pribadi, tanpa mengaitkan dengan kemampuan
orangtua atau saudaranya. Di sebagian daerah, adat istiadat pernikahan kaum
Muslimin sudah bergeser jauh dari pesan Islam. Sehingga menyebabkan para pemuda
mengalami kesulitan menikah disebabkan oleh tingginya biaya walimah yang harus ia
tanggung. Ketika persoalan ini sudah menyangkut masalah prestise keluarga di
hadapan masyarakat atau keluarga besan (mertua), maka persoalan yang suci dan
penuh kemuliaan ini bergeser men-jadi persoalan harga diri pribadi dan harga diri
keluarga. Alhasil, sistem pernikahan ini tidak mengkondisikan tumbuhnya pribadi
yang matang, mandiri, dan berani bertanggung jawab –yang saking jarangnya,
sampai-sampai terasa seperti slogan. Sistem pernikahan ini lebih cenderung
membentuk orang untuk memiliki ketergantungan yang sangat besar terhadap orang
lain, sekalipun itu kerabatnya sendiri, dan memudahkan tumbuhnya kekuasaan
keluarga terhadap anak-anaknya, sekalipun sudah waktunya untuk mandiri. Sistem
yang demikian ini juga menyulitkan lahirnya pemuda yang memiliki sikap laisal
fataa ma yaquulu kaana abi, wa inna mal fataa ma yaquulu ha ana dza (bukan
pemuda mereka yang berkata “inilah bapakku”, tetapi sesungguhnya pemuda adalah
yang berkata inilah dadaku).
Selain itu, karena sistem yang demikian sering mempertaruhkan rasa malu
seseorang atau bahkan keluarga di hadapan sekelompok orang atau masyarakat secara
terbuka, maka secara jangka panjang mendorong orientasi setiap individu yang ada di
Kado Pernikahan 124
masyarakat itu untuk lebih memperhatikan hal-hal yang dapat mengangkat prestise
keluarga daripada apa yang membawa kemaslahatan sangat besar bagi masyarakat.
Juga, karena sistem semacam itu mempersulit perkara yang sebenarnya
sederhana, akhirnya menimbulkan perasaan takut pada pemuda untuk memenuhi
panggilan agama ini dengan wanita-wanita setempat. Rentetan akibat berikutnya tentu
sangat panjang. Salah satu yang sempat saya identifikasi adalah keluarnya ketentuan
dari pemuka masyarakat yang melarang pemudanya untuk menikah dengan wanitawanita
dari lain suku. Ini, tentu saja, merupakan langkah yang tidak tepat dan dapat
membawa masyarakat kepada kejumudan yang besar. Disamping itu, langkah yang
semacam ini tidak akan mampu mengobati kerawanan sosial dengan sempurna.
Langkah itu hanya mengobati simptom (gejala), bukan akar penyakitnya.
Kembali ke soal berlebihan tidaknya pesta pernikahan yang kita selenggarakan.
Jika walimah seyogyanya dilakukan berdasarkan kemampuan mempelai laki-laki
secara pribadi, apakah ini berarti keluarga mempelai laki-laki dan keluarga mempelai
perempuan tidak boleh mengeluarkan biaya untuk acara tersebut? Letak persoalannya
bukan di sini. Letak persoalannya terletak pada ada tidaknya hal-hal yang membuat
seorang mempelai laki-laki menyelenggarakan walimah jauh melampaui batas
kemampuan wajarnya, terpaksa atau tidak. Ada pun kalau pihak keluarga mempelai
wanita atau keluarga mempelai laki-laki ada yang berinisiatif untuk ikut membantu
menyelenggarakan walimah, insya-Allah baik saja, sejauh hal itu memang diniatkan
untuk membantu. Apalagi kalau niatnya lebih luhur lagi, bukannya sekadar demi
mempertahankan harga diri keluarga.
‘Alaa kulli hal, karena walimah merupakan ungkapan syukur kepada Allah
sekaligus majelis untuk meminta doa para hadirin agar pernikahan kita barakah, maka
hendaknya walimah itu tidak merendahkan asma’-Nya yang tinggi lagi mulia. Maksud
saya, penyelenggaraan walimah hendaknya tidak mengakibatkan kita secara sengaja
mengejek Tuhan dengan alasan keadaan dharurat. Misalnya, apa yang dilakukan oleh
sebagian orang dengan berhias sebelum memasuki waktu shalat Dzuhur –kadang
malah persiapannya sejak sebelum Subuh– dan melewati beberapa waktu shalat tanpa
menyentuh air demi menjaga agar keindahan rias tidak rusak oleh air wudhu.
Saya sempat sedih dan merasa terpukul ketika pada suatu pesta pernikahan,
seseorang dengan ringan berkata bahwa Allah Maha Pengampun. Benar bahwa Tuhan
Maha Pengampun, tetapi Dia juga Maha Pedih Siksa-Nya. Saya juga merasa bingung
ketika dalam pesta pernikahan yang lain periasnya bercerita, biasanya ia merias
pengantin sebelum masuk waktu shalat, kecuali jika pengantinnya termasuk orangorang
yang dipandang taat. Padahal, itu untuk pesta-pesta walimah yang diadakan
sore atau malam hari. Sehingga merias sebelum memasuki waktu shalat –kecuali jika
sedang mens– berarti secara sengaja mengabaikan waktu shalat.
Saya belum termasuk orang yang khusyuk. Tetapi ketika mendengar hal yang
semacam itu, saya jadi bertanya apakah pesta pernikahan itu tidak justru
memburukkan taat kita kepada Allah di saat Ia menyempurnakannya? Apakah kita
tidak mendustakan-Nya ketika mengatakan dharurat (apa boleh buat, terpaksa
Kado Pernikahan 125
begini), padahal saat itu kita sedang mendapat kemudahan dan kebaikan dari-Nya?
Atau, jangan-jangan sikap kita seperti itu memang telah menjadi doa mohon keadaan
dharurat sehingga kita sekarang mengalami kesulitan yang bermacam-macam di
negeri ini. Wallahu A’lam bishawab wastaghfirullahal ‘adzim.
Masih banyak hal yang bisa kita bicarakan tentang acara walimah nikah ini,
semoga walimah tidak menjadikan pernikahan kita berkurang barakahnya. Apalagi
sampai merusak dan menghapus barakah atas pernikahan kita, sehingga kita
mendapati rumah tangga kita kering, gersang, menjengkelkan, dan penuh
pertengkaran. Masih banyak yang bisa kita bicarakan agar walimah nikah dapat
menjadi ungkapan syukur kita yang jernih dan kerendahan hati kita untuk meminta
doa dengan tulus, lalu para tamu pun be-nar mendoakan dengan hati yang ikhlas
(bukan sebagai basa basi sosial) sehingga Allah berkenan melimpahkan barakah-
Nya. Semoga melalui pernikahan yang barakah itu Allah berkenan memberi
syafa’at kepada kita, kelak di hari kiamat.
***
O ya, satu lagi masalah yang berkenaan dengan walimah. Sebagian dari kita ada
yang bersikap sangat keras sehingga pengantin wanita sama sekali tidak mau keluar
untuk menjumpai tamu dari kaum laki-laki dengan mengajukan argumentasi (hujjah)
perintah hijab bagi Ummahatul Mukminin, istri-istri Nabi.
Saya tidak akan berpanjang-panjang dalam soal hijab, kecuali dengan meyakini
wajibnya menutup aurat secara sempurna dengan mengulurkan kain yang menutupi
dada. Saya tidak berpanjang-panjang dalam soal ini karena bukan bagian saya. Yang
ingin saya sampaikan kepada Anda adalah, seorang pengantin wanita boleh
menjumpai tamu laki-laki berdasarkan sebuah hadis shahih riwayat Bukhari &
Muslim.
Dari Sahal, dia berkata, “Ketika Abu Usaid As-Sa’idi menjadi pengantin, dia
mengundang Nabi Saw. beserta para sahabat beliau. Maka tidak ada yang membuat
makanan dan menghidangkannya pada mereka selain istrinya, Ummu Usaid. Dia telah
merendam beberapa biji kurma di dalam satu bejana kecil yang terbuat dari batu pada
malam harinya. Tatkala Nabi Saw. selesai makan, Ummu Usaid menghancurkan
kurma tersebut, lalu menuangkannya sebagai hadiah khusus untuk Nabi Saw.” (HR
Bukhari & Muslim).
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani, pensyarah shahih Bukhari paling otoritatif,
menerangkan, “Hadis ini dapat dijadikan dalil mengenai diperbolehkannya wanita
melayani suami dan tamu undangannya, tapi dengan catatan tidak menimbulkan
fitnah, serta dengan tetap memperhatikan hal-hal yang wajib dia tutup.”
Ada dua catatan yang diberikan oleh Al-Hafizh sehubungan dengan pembolehan
wanita melayani suami dan tamu undangan, yaitu tidak menimbulkan fitnah serta
dengan tetap memperhatikan hal-hal wajib dia tutup. Dua hal inilah barangkali
yang sulit dijaga sehingga membuat sebagian dari kita bersikeras tidak mau
menampakkan diri sama sekali di hadapan para undangan –yang terdiri dari wanita
dan laki-laki– lalu ada kesan bahwa menampakkan diri ketika walimah adalah tidak
Kado Pernikahan 126
boleh. Padahal untuk melayani undangan laki-laki saja dibolehkan, asal memenuhi
dua ketentuan sebagaimana disebutkan oleh Al-Hafiz Ibnu Hajar.
Wallahu A’lam.
Masalah ini perlu saya kemukakan kepada Anda atas dua alasan. Pertama, saya
melihat sikap tidak mau menampakkan diri sama sekali mulai merebak, sehingga
kadang-kadang menimbulkan “fitnah” di masyarakat. Jika sikap itu dikarenakan tidak
bisa memenuhi dua ketentuan dari Al-Hafizh, maka yang demikian itu insya-Allah
akan membawa kebaikan. Apalagi kalau bisa menjelaskan kepada tamu dengan cara
yang baik. Kedua, saya menyampaikan disebabkan oleh kekhawatiran saya bahwa hal
ini dipandang haram. Sikap ini saya dasarkan pada peristiwa ketika Sayyidina ‘Ali
karamallahu wajhahu minum sambil berdiri seraya mengatakan kepada khalayak
tentang dibolehkannya minum sambil berdiri. Selengkapnya tentang peristiwa Sayyidina
‘Ali ini bisa Anda baca pada bab Keindahan Suami-istri.
Begitulah. Semoga penjelasan ini bermanfaat dan membawa kebaikan bagi kita,
dunia dan akhirat. Selebihnya, karena walimah sudah selesai, saya hanya bisa menitip
doa semoga pernikahan Anda penuh barakah. Doa yang maksudnya sama dengan doa
Anda tatkala mengecup ubun-ubun istri di malam zafaf:
Khath Arab
Barakallahu likulli waahidin minnaa fii shaahibihi.
Semoga Allah membarakahi masing-masing di antara kita terhadap teman
hidupnya.
Ya Allah Ya Rahim, barakahilah pernikahan orang-orang yang mengharapkan
barakah-Mu. Allahumma amin.
Ehmm, karena tamu-tamu sudah pulang ke rumah masing-masing dan burungburung
juga sudah kembali ke sarangnya, maka jangan lupa: malam zafaf Anda telah
tiba. Di kamar pengantin, istri Anda telah lama menunggu. Maka jangan biarkan ia
gelisah karena Anda tak kunjung datang untuk menghabiskan malam bahagia dan
penuh barakah (mudah-mudahan. Allahumma amin).
Tapi sabar dulu. Sebelum memasuki malam zafaf, apa yang sudah Anda ketahui
tentang malam yang penuh cerita? Bagaimana agar malam zafaf terlewatkan dengan
baik, dan bukannya meninggalkan cerita duka dan benih kekecewaan? Ada ilmunya.
Mudah-mudahan Allah menjadikan tulisan berikut ini bermanfaat dan penuh barakah
bagi kita semua, terutama bagi Anda yang akan memasuki malam zafaf.
Dan agar Anda tak terlalu gelisah, inilah pembahasan tentang malam zafaf itu.
Silakan mencermati.
Kado Pernikahan 127
Memasuki Malam Zafaf
Masa sesudah akad nikah adalah saat yang peka. Hari itu seorang jejaka baru saja
menjadi suami, dan seorang gadis memulai kehidupannya sebagai istri. Perasaan
mereka sangat sensitif ketika pertama kali bertemu dan berdekatan. Ada salah
tingkah, tapi ada perasaan ingin dekat. Ada rasa bahagia, tapi tak sedikit
canggungnya. Agak takut, tapi juga agak terbuka.
Malam zafaf memang malam yang peka. Kekecewaan di malam ini, bisa
membawa pengaruh bagi kehidupan selanjutnya. Kebahagiaan atau sentuhan perasaan
yang dalam sangat membantu keduanya untuk hidup bersama menuju keluarga
barakah. Keindahan di malam zafaf menjadi jalan untuk saling menerima, saling
percaya dan rasa cinta yang diliputi kerinduan-kerinduan halus. Adapun salah tingkah
dan canggung, itu adalah rahmat Allah Ta’ala. Maha Besar Allah dengan segala
rahmat-Nya. Insya-Allah ini akan kita bicarakan nanti.
Lalu, apakah malam zafaf itu? Inilah malam ketika seorang wanita pertama kali
memasuki rumah suaminya setelah ia dinikahkan. Ini adalah malam ketika ia pertama
kali berdekatan dengan suami dalam satu kamar –yang meskipun luas, rasanya sempit
saja. Sederhananya, malam zafaf adalah malam pemboyongan istri ke kamar
suaminya. Pada masa sekarang, malam zafaf adalah malam ketika pertama kali
mereka bermalam bersama.
Yang tidak sederhana adalah bagaimana menghabiskan malam zafaf itu. Yang
demikian ini agar Anda dapat menikmati keindahan agung sebagai suami-istri.
Mudah-mudahan dengan demikian malam zafaf Anda akan penuh barakah. Sehingga
hari-hari berikutnya Anda merasakan ketenteraman jiwa (sakinah), kecintaan yang
tulus (mawaddah) dan rahmah.
Ada beberapa hal yang diajarkan oleh agama kita agar pengantin baru
memperoleh kenikmatan yang mesra di malam zafaf. Jika Anda akan memasuki
malam zafaf, kesampingkan dulu salah tingkah Anda. Mari kita simak beberapa hal
yang mudah-mudahan dapat membawa rumahtangga Anda penuh rasa cinta dan
harmonis (ulfah).
Kelengkapan Zafaf
Pengantin baru perlu melakukan beberapa persiapan sehingga malam zafaf
terlaksana dengan penuh barakah dan keindahan yang tak terlupakan. Persiapan ini
meliputi fisik, atribut-atribut kebendaan, maupun persiapan psikis dan ruhiyyah.
Persiapan-persiapan fisik inilah yang saya sebut sebagai kelengkapan zafaf, sematamata
agar tulisan ini hanya dibaca oleh mereka yang telah memerlukan.
Seorang laki-laki maupun wanita perlu memperhatikan kelengkapan zafaf ini.
Mudah-mudahan Allah melimpahkan barakah bagi kedua mempelai di malam
pertama mereka.
Kado Pernikahan 128
Kelengkapan Laki-laki
Seorang lelaki, kata Ustadz Abduh Ghalib Ahmad ‘Isa, hendaknya berhias
dengan menghilangkan bulu ketiak, mencukur rambut kemaluan, membersihkan
janggutnya, menggunting kukunya, mandi dengan air dan sabun, dan memakai
pakaian yang baru jika berkemampuan. Jika tidak, maka hendaklah ia memakai
pakaian yang bersih.
Seorang lelaki dianjurkan untuk berhias di malam itu. Sebab, hubungan seksual
di malam itu mempunyai kesan yang sangat dalam untuk jangka waktu yang sangat
lama, kata Mahmud Al-Shabbagh. ‘Aisyah r.a. pernah ditanya, “Pekerjaan apa yang
mula-mula dilakukan oleh Nabi pada saat beliau memasuki rumahnya?” ‘Aisyah
menjawab, “Sikat gigi.” (HR Muslim).
Ada kemungkinan, kata Al-Shabbagh, bahwa Nabi Muhammad Saw. Melakukan
hal itu untuk menyambut istri beliau dengan ciuman. Alangkah manisnya jika seorang
suami mencium istrinya bila hendak meninggalkan rumahnya pada pagi hari, dan jika
bertemu lagi dengan istrinya pada sore harinya, agar tetap awet muda.
Sebelum memasuki malam zafaf, seorang laki-laki hendaknya memotong
kumisnya dan merapikan jenggotnya. Jenggot bukan untuk dicukur, karena
memanjangkan jenggot merupakan sunnah. Sedang wewangian akan
menyempurnakan kelengkapan fisik sehingga lebih indah bagi Anda berdua. Insya-
Allah.
Kelengkapan Wanita
Wanita hendaknya melakukan beberapa hal untuk memasuki malam zafaf.
Wanita hendaknya memotong kuku-kukunya terutama kuku jemari tangan. Yang
demikian ini agar tidak menjadikan malam zafaf kurang mengenakkan di ujungnya,
karena ketika wanita mencapai puncak kenikmatan dalam berhubungan intim, wanita
banyak mengenakan jari-jemari tangannya pada suami dengan cengkeraman yang
kuat.
Mengenai rambut, wanita hendaknya dalam keadaan bersih ketika memasuki
malam zafaf. Ia telah mencukur rambut ketiaknya sehingga bersih. Juga mencukur
rambut kemaluannya1. Yang demikian ini termasuk perkara-perkara sunnah.
Diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah, ia berkata, “Kami pernah bersama-sama
Nabi Saw. dalam suatu perang. Pada saat kami telah selesai, kami bergegas
menunggangi unta yang lambat jalannya, sehingga aku tersusul oleh seorang
penunggang dari belakangku. Lalu aku menoleh, dan tiba-tiba aku bertemu dengan
Rasulullah Saw. Beliau bertanya, ‘Apa yang membuatmu tergesa-gesa?’
Aku menjawab, ‘Baru saja aku menikah (menjadi pengantin).’
Beliau bertanya, ‘Gadis atau janda yang engkau nikahi?’
Aku menjawab, ‘Janda!’
Kado Pernikahan 129
Nabi bersabda, ‘Hendaklah engkau menikah dengan seorang gadis agar engkau
bisa bermain dengannya dan ia bisa bermain denganmu.’
Jabir berkata, ‘Maka pada saat kami tiba, kami berangkat untuk masuk.’
Beliau lantas berkata, ‘Bersabarlah! Masuklah kalian pada waktu malam atau
waktu Isya’ agar wanita yang rambutnya kusut bisa menyisirnya dan wanita yang
ditinggal pergi dapat mencukur bulu kemaluannya.’” (HR Bukhari).
Rasulullah Saw. bersabda, “Lima perkara dari fithrah; mencukur bulu kemaluan,
berkhitan, menggunting kumis, mencabuti bulu ketiak, dan memotong kuku.” (HR
Jama’ah).
Dari Anas bin Malik r.a., berkata, “Telah dijangkakan waktu untuk kami
terhadap urusan menggunting kumis, memotong kuku, mencabuti bulu ketiak,
mencukur bulu ari-ari2, yakni jangan lebih dari empat puluh hari sekali.” (HR
Muslim dan Ibnu Majah).
Inilah perkara-perkara sunnah yang berkenaan dengan kebersihan.
Melaksanakannya insya-Allah akan dirahmati. Sehingga kita mendapatkan
kemanisannya kelak setelah hari perhitungan. Apalagi untuk malam zafaf. Insya-
Allah ada hikmah yang sangat besar di dalamnya. Sebagian kecil dari hikmah itu
adalah agar di malam zafaf itu pengantin wanita memiliki askhanu aqbalan.
Apa yang dimaksud dengan askhanu aqbalan? Askhanu aqbalan adalah lebih
hangatnya vagina pada seorang wanita. Sebagian sahabat Nabi menganjurkan kita
agar tetap menikahi gadis-gadis karena lebih hangat vaginanya (askhanu aqbalan).
Mereka lebih hangat dibanding janda. Dan seorang gadis dapat mencapai yang lebih
hangat lagi dengan mencukur rambut kemaluannya sehingga bersih.
Dalam sebuah hadis disebutkan,
Khath Arab
“Kawinilah oleh kalian perawan sebab perawan itu lebih segar mulutnya, lebih
subur rahimnya, lebih hangat vaginanya, dan lebih rela dengan nafkah yang sedikit.”
(HR Abu Na’im melalui Ibnu Umar r.a. Periksa Mukhtarul Ahaadits).
Manfaat mencukur rambut kemaluan bagi wanita, agar ia lebih dapat terdorong
gairahnya untuk menikmati hubungan seksual pertama bersama suaminya. Sementara
suaminya belum begitu ia kenal. Kalaupun sebelumnya sempat mengenal, tak pernah
sedekat ini. Sehingga ada salah tingkah, canggung, sekaligus perasaan malu
bercampur rindu dan takut.
Kalau gairahnya tumbuh dan perasaannya terbangkitkan, insya-Allah malam
zafaf akan menjadi malam yang sangat mengesankan dan sulit terlupakan. Adapun
bagi laki-laki, bersihnya kemaluan wanita dan askhanu-aqbalan dapat membuatnya
lebih bersemangat sekaligus memudahkannya melaksanakan tugas sakralnya dengan
Kado Pernikahan 130
baik, sekalipun ia masih gugup dan berkeringat cemas. Mudahmudahan mereka
memperoleh kenikmatan yang sempurna dan penuh barakah. Mudah-mudahan dari
pertemuan pertama di malam zafaf itu lahir keturunan yang memberi bobot kepada
bumi dengan kalimat laa ilaha illaLlah.
Malam itu pengantin wanita juga perlu memakai wangi-wangian, agar malam
zafafnya dipenuhi malaikat rahmat dan menjadikan suami terkesan karena bau yang
pertama kali tercium dari istrinya adalah yang sedap. Wewangian ini terutama dipakai
pada daerah-daerah lipatan, yaitu lipatan telinga, lipatan jari-jemari, ma’athif (antara
leher dan geraham), kening, lipatan payudara serta kemaluan, yaitu pada dindingdindingnya
serta permukaannya, bila perlu. Khusus pada daerah lipatan, kalau pun
tidak sempat memberi wewangian, cukuplah dalam keadaan bersih.
Dari ‘Aisyah r.a., berkata, “Sepuluh perkara dari fithrah; menggunting kumis,
menurunkan sedikit jenggot, bersikat gigi, berkumur-kumur dan menghisap air ke
dalam hidung, memotong kuku, membasuh lipatan-lipatan anak jari, lipatan-lipatan
telinga, mencabuti bulu ketiak, mencukur bulu-bulu air, beristinja, dan saya telah lupa
yang kesepuluh, mungkin berkumur-kumur.” (HR Ahmad, Muslim, An-Nasa’i dan
At-Tirmidzi).
Dalam sebuah hadis shahih ‘Aisyah menceritakan kepada kita tentang
wewangian wanita. Katanya, “Kami keluar bersama Nabi Saw. ke Makkah. Maka
kami ikatkan pada dahi pembalut yang diberi wewangian ketika kami berihram.
Ketika salah seorang dari kami berkeringat dan mengalir di wajahnya, lalu Nabi
Saw. melihatnya, maka beliau tidak melarangnya.” (HR Abu Dawud, shahih).
Dari Umainah binti Rafiqah, bahwa istri-istri Nabi Saw. membuat pembalutpembalut
yang di dalamnya terdapat wars dan za’faran, lalu mereka mengikatkan
pada bagian bawah rambut mereka dari dahi mereka, sebelum mereka berihram.
Kemudian mereka berihram dalam keadaan seperti itu. (HR Ath-Thabrani)3.
Mengharumkan kemaluan setelah membersihkan dengan kapas, terdapat pada
tuntunan bersuci dari haid. Di malam zafaf, ada baiknya wanita memasukinya dalam
keadaan telah memberi wewangian pada kemaluannya.
‘Aisyah menerangkan bahwa Asma’ bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang
mandi haid. Nabi menjawab, “Hendaklah seseorang kamu mengambil air beserta daun
bidara, lalu bersuci dengan sebaik-baiknya. Kemudian sesudah itu, hendaklah
menyiramkan air atas kepalanya dan menggosok-gosoknya, hingga sampailah air ke
pangkal rambutnya. Sesudah itu, baru menuangkan air ke dalamnya. Sesudah itu,
hendaklah ia mengambil sepotong kapas yang sudah dikasturikan (diberi minyak
wangi), lalu ia membersihkan diri dengan dia.”
Kala itu Asma’ bertanya, “Bagaimana ia membersihkan diri dengan kapas yang
dikasturikan itu, ya Rasulullah?”
Nabi menjawab, “Subhanallah, kau bersuci dengan itu.”
Kado Pernikahan 131
Kala itu ‘Aisyah dengan suara yang halus berkata, “Kau menggosok-gosokkan
dengan dia tempat-tempat bekas darah (pada dinding kemaluan) yang telah kotor
dengan darah haid.”
Dan Asma’ bertanya lagi tentang mandi janabah. Maka Nabi menjawab,
“Hendaklah ia mengambil air, lalu bersuci dengan sebaik-baiknya. Kemudian barulah
ia menuangkan air atas kepala dengan menggosok-gosokkan kepalanya sehingga air
itu sampai ke pangkal rambutnya (ke tulang kepala). Sesudah itu barulah ia
menuangkan air atas badannya.”
Di akhir pembicaraan, ‘Aisyah berkata, “Sebaik-baik wanita ialah wanita
Anshar. Mereka tidak malu bertanya tentang hal-hal agama.” (HR Muslim, shahih).
Berkenaan dengan berhias dan wewangian bagi wanita, ada baiknya kita
mengingat hadis dari Abu Hurairah.
Khath Arab
Wewangian lelaki adalah yang tampak baunya dan tersembunyi warnanya. Dan
perhiasan wanita adalah apa yang tampak warnanya dan tersembunyi baunya. (HR
An-Nasa’i dan At-Tirmidzi. Muhammad Nashiruddin Al-Albani menilai hadis
yang dikeluarkan At-Tirmidzi sebagai hadis shahih).
Perhiasan seorang lelaki adalah yang tampak baunya dan tersembunyi warnanya.
Ini adalah perhiasan yang terpuji bagi laki-laki. Sedang bagi wanita, perhiasan yang
ter-puji adalah yang tampak warnanya dan tersembunyi baunya. Maksud perkataan ini
adalah, wewangian yang dipakai seorang wanita tidak tercium harumnya oleh orang
lain kecuali dengan berdekatan betul. Dan tidak ada laki-laki yang diperbolehkan
untuk berdekatan dengan seorang wanita dengan kedekatan yang rapat kecuali
suaminya. Wallahu A’lam bishawab.
Kelak ketika tak ada mata yang melihat kecuali mata suaminya, wanita boleh
memakai ghumrah (pemerah pipi dari minyak za’faran). Juga boleh menggunakan
perhiasan lain. Wanita-wanita dewasa dapat menghias pengantin wanita sehingga
menjadi wanita tercantik dan paling anggun di malam itu, sebagaimana para wanita
dulu juga menghias ‘Aisyah sebelum dipertemukan dengan Rasulullah.
Selain itu, wanita ada baiknya bercelak. Dari Ibnu ‘Abbas r.a., berkata, “Nabi
Saw. bersabda, ‘Hendaklah kamu selalu bercelak, karena celak itu menumbuhkan
bulu mata, menghilangkan kotoran-kotoran pada mata dan membersihkan
penglihatan’.” (HR Ath-Thabrani).
Tapi terlarang baginya untuk mencukur alisnya. Mencukur alis merupakan salah
satu cara berhias untuk memperoleh kesan mata lebih sayu. Mata yang terkesan
terlalu lebar –menurut pemilik mata bersangkutan– dapat diubah kesannya menjadi
lebih sipit dengan cara mencukur sebagian alis. Tetapi Rasulullah melarang cara ini.
Kado Pernikahan 132
Nabi Saw. melaknat cara ini. Karena itu, tidak ada tempat bagi wanita untuk
mempercantik diri dengan mencukur alis. Kata Ibnu Mas’ud r.a. :
Khath Arab
Rasulullah Saw. melaknati perempuan yang membuat tahi lalat, perempuan yang
minta dibuatkan tahi lalat, perempuan yang menipiskan alis mata dan perempuan
yang mengikir giginya supaya menjadi baik yang mengubah ciptaan Allah. Kemudian
ada seorang perempuan yang bertanya kepadanya tentang itu. Maka beliau berkata,
“Bagaimana aku tidak melaknati orang yang dilaknati oleh Rasulullah Saw.,
sedangkan di dalam kitab Allah, Allah Ta’ala berfirman, “Apa yang diberikan Rasul
kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka
tinggalkanlah.”
Di malam itu, wanita juga boleh menggunakan cincin untuk berhias. Masih ada
pembahasan lain yang lebih khusus berkenaan dengan persiapan untuk melakukan
hubungan intim. Insya-Allah kita akan membicarakan dengan tenang masalah ini
pada bab Keindahan Suami-istri. Adapun untuk memasuki malam zafaf, insya-Allah
pembahasan ini telah cukup.
Kelengkapan Tambahan
Ada kelengkapan tambahan yang dapat dilakukan oleh suami. Sebelum
memasuki malam zafaf, suami bisa menata tempat tidur dengan baik. Ia menutupinya
dengan sprei yang bersih. Sprei yang baru diseterika insya-Allah lebih baik, karena
lebih memberikan kenyamanan dan kehangatan. Juga, suami dapat memberi
wewangian pada permukaan spreinya sehingga harum dan sedap.
Pada masa sekarang, malam pertama umumnya di rumah orangtua istri. Karena
itu, sebaiknya istri yang menata tempat tidur dan memberikan sprei yang hangat.
Seorang wanita insya-Allah dapat memilih parfum untuk tempat tidurnya yang pas,
tidak terlalu harum dan tidak menyengat baunya. Ia bisa memilih bau-bau yang
lembut, jika memungkinkan. Adapun kalau sulit dilakukan, sprei yang bersih telah
cukup.
Berkenaan dengan pakaian pada malam zafaf, seorang lelaki hendaknya tetap
menjaga agar pakaian yang dikenakan tidak memperlihatkan aurat. Sebab yang
demikian itu makruh, kata Abduh Ghalib Ahmad ‘Isa menjelaskan. Ia bisa
mengenakan pakaian yang menarik, tetapi tetap sederhana.
Pengantin wanita bisa mengenakan pakaian-pakaian yang bagus dan menarik,
sehingga ia terlihat anggun di malam itu. Wanita juga bisa mempertimbangkan untuk
menggunakan pakaian yang tidak menyulitkan tugas suami. Mungkin suami Anda
termasuk yang masih canggung dan rikuh.
Kado Pernikahan 133
Mengajak Istri Shalat Bersama
Ada saat-saat untuk merasakan keindahan. Ada saat-saat untuk menghayati
kebesaran Tuhan Yang Telah Men-ciptakan. Sangat besar kasih-sayang Allah kepada
kita. Dan hari ini, Allah mengaruniakan kepada kita seorang sahabat, penyayang,
pelindung, pengasih dan pemberi ketenteraman. Di saat inilah kita perlu mengingat
kebesaran Allah dan mensyukurinya.
Malam ini adalah malam pertama untuk memasuki malam-malam berikutnya
sebagai suami-istri. Hari ini ada-lah hari pertama untuk melangkah ke hari-hari
berikutnya yang panjang. Mudah-mudahan kita dapat tetap bersama-sama sampai
kelak hari perhitungan di hadapan mahkamah Allah.
Maka, alangkah baiknya jika malam ini kita awali dengan shalat sunnah bersama.
Kita mulai kehidupan kita sebagai suami-istri dengan menyebut-nyebut nama-Nya
dan menundukkan diri di hadapan-Nya. Kita memohon pertolongan kepada-Nya. Kita
memohon perlindungan-Nya dari segala keburukan, yang tampak oleh kita maupun
yang tidak tampak. Mudah-mudahan Allah melimpahkan barakah atas malam
pertama kita dan malam-malam berikutnya. Mudah-mudahan Allah mengaruniakan
kepada kita dari pertemuan di malam ini keturunan yang penuh barakah, keturunan
yang dapat menjadi syafa’at bagi kita kelak di yaumil-hisab.
Ketika malam zafaf tiba, ada baiknya engkau memasuki kamar pengantin dalam
keadaan berwudhu. Sehingga ketika suamimu masuk, engkau dapat mengikuti shalat
di belakangnya. Shalat dua raka’at untuk memohon agar jalinan perasaan (al-’athifah)
berupa rasa kasih dan sayang antara engkau dan suamimu dapat berkembang dan
mengakar kuat di jantung hatimu. Sedang benih-benih kebencian dapat dimatikan
sebelum tumbuh.
Mudah-mudahan pula, akan dipenuhi Allah dengan barakah-Nya. Barakah bagi
Anda berdua maupun barakah bagi keluarga Anda, baik dari pihak istri maupun dari
pihak suami.
Sesungguhnya, sebaik-baik pernikahan adalah yang paling besar barakah-Nya.
Karena itu, marilah kita awali malam zafaf ini dengan shalat dua raka’at. Apabila aku
telah bertakbir, maka ikutilah dengan takbir di belakangku.
Sesungguhnya, shalat bersama dua rakaat bagi pengantin baru, dapat menjauhkan
keduanya dari perasaan benci. Saat-saat awal memang penuh keindahan. Tetapi di
saat-saat awal pula, benih-benih kebencian mudah tumbuh. Ketidakpercayaan mudah
muncul di hati masing-masing. Dan dengan shalat dua raka’at, insya-Allah keburukan
itu menjauh dengan rahmat Allah.
Telah diriwayatkan dari Syaikh Syaqiq, ia berkata, “Datanglah seorang lelaki
bernama Abu Huraiz, lalu ia berkata, “Sesungguhnya aku menikah dengan
perempuan gadis, dan aku merasa khawatir ia membenciku”.
Maka ‘Abdullah bin Mas’ud r.a. berkata,
Kado Pernikahan 134
Sesungguhnya rasa kasih itu dari Allah, sedang kebencian itu dari setan dimana
ia berkeinginan untuk membencikan kepada kalian pada apa yang telah Allah
halalkan bagimu. Maka apabila istrimu datang kepadamu, maka perintahlah agar ia
shalat di belakangmu dua raka’at, dan berdo’alah Anda, “Ya Allah barakahilah
bagiku dalam keluargaku, dan berilah barakah mereka padaku. Ya Allah, kumpulkan
antara kami apa yang Engkau kumpulkan dengan kebaikan, dan pisahkan antara
Kami jika Engkau memisahkan menuju kebaikan”. (Ditakhrij oleh Ibnu Syaibah).
Ada doa-doa lain yang bisa dipanjatkan ketika itu. Ada yang berupa rangkaian
doa untuk memohon barakah dengan cinta kasih dan penerimaan istri atas diri kita.
Sesudahnya dilanjutkan dengan doa memohon keturunan yang bertakwa. Kemudian
segera diikuti dengan mengajak istri mengecap kemesraan bersama. Tentang ini,
Anda bisa mencari di berbagai sumber. Insya-Allah ada banyak sumber yang bisa
Anda rujuk untuk doa sesudah shalat bersama.
Tetapi, sebelum shalat, ada doa yang sebaiknya tidak Anda abaikan. Ketika
pertama kali menemui istri di malam perkawinannya, suami disunatkan menyebut
asma’ Allah. Lalu memegang nashiyahnya pada permulaan menjumpainya, kata Imam
An-Nawawi, dan mengucapkan doa berikut:
Semoga Allah membarakahi masing-masing di antara kita terhadap teman hidupnya.
Doa ini diucapkan dengan memegang dan mengecup nashiyah istri. Apa
nashiyah itu? An-nashiyah adalah rambut yang tumbuh di bagian depan kepala.
Makna yang dimaksud ialah ubun-ubun, baik yang ada rambutnya ataupun tidak.
Dalil memegang ubun-ubun di atas ialah hadis Abu Dawud dan Nasa’i serta Abu
Ya’la Al-Maushuli, melalui Amr ibnu Syu’aib, dari ayahnya dari kakeknya secara
marfu’ dengan adanya sanad ini. Demikian keterangan yang saya ambil dari Al-
Adzkaar Imam An-Nawawi.
Kemudian dilanjutkan dengan doa lain, misalnya yang diriwayatkan oleh Imam
Bukhari, Abu Dawud, Ibnu Majah dan Ibnu Sinni dalam hadis yang shahih:
Khath Arab
Apabila salah seorang dari kamu menikahi seorang perempuan, maka hendaklah
ia memegang ubun-ubunnya, membaca basmalah dan memanjatkan doa memohon
barakah, serta mengucapkan doa, “Ya Allah, sesungguhnya aku mohon kepada-Mu
kebaikannya dan kebaikan wataknya. Dan aku mohon perlindungan-Mu dari
kejahatannya dan kejahatan wataknya.
Kalau engkau sudah mengucapkan doa, maka sekarang engkau bisa bergegas
shalat bersama istrimu. Sebelum mengajaknya melakukan kebersamaan, ajaklah
untuk beristighfar. Ini adalah kesempatan untuk memperbaiki diri dari kesalahankesalahan
dan memulai kehidupan baru dengan sesuatu yang lebih baik. Dengan hati
dan niat yang lebih baik.
Kado Pernikahan 135
Wallahu A’lam bishawab.
Masalah Kita
Shalat bersama di malam zafaf (secara umum di hari pertama setelah akad
nikah) sangat baik dilakukan untuk memohon barakah dan ulfah (keharmonisan)
kepada Allah Ta’ala, sehingga tidak ada kebencian yang tersisa di hati kita.
Masalahnya, rangkaian acara setelah akad kadang demikian panjangnya dan langsung
bersambung dengan walimah. Rangkaian acara yang panjang kadang demikian
melelahkan, sehingga suami-istri yang baru menikah itu tidak berkesempatan untuk
melaksanakan shalat bersama dua rakaat. Alhasil, shalat bersama dua rakaat tidak bisa
dilangsungkan di hari pertama.
Nah, kalau begitu, apa yang harus Anda lakukan?
Makanan Kecil Pembuka
Ketika suami mendatangi istrinya pada malam zafaf, kata Abduh Ghalib Ahmad
‘Isa, maka hendaknya ia tersenyum kepada istrinya dengan wajah yang manis sambil
menyampaikan salam penghormatan kepadanya dengan ucapan: Assalamu’alaikum
wa rahmatullahi wa barakatuh. Semoga kesejahteraan atasmu rahmat Allah dan
barakah-Nya.
Dalam kaitannya dengan ini, telah diriwayatkan hadis dari Anas r.a. bahwa ia
berkata, Rasulullah Saw. telah bersabda kepada saya,
Khath Arab
Wahai Anakku, jika engkau datang pada keluargamu, maka ucapkan salam,
maka akan menjadikan kebarakahan atasmu dan atas keluargamu (penghuni
rumahmu). (HR At-Tirmidzi, dan ia berkata, “Ini hadis hasan lagi shahih).
Pada malam zafaf ini, suami hendaknya bersikap lemah lembut dan mengajaknya
berbicara dari hati ke hati dengan perkataan yang halus dan menyenangkan. Ini insya-
Allah akan mencairkan kekakuan. Kalaupun wajah masih gugup dan tangan masih
gemetar, rasa cinta dan kedamaian berada di dekat suami mulai terasa bergetar di
dada.
Perkataan yang halus dan menyenangkan ini diikuti dengan sikap penuh kasihsayang
ketika membuka malam zafaf dengan segelas susu atau sedikit makanan kecil
yang manis-manis. Di malam zafaf ini, segelas susu berdua bukanlah retorika bahasa
agar tulisan ini terasa indah. Tetapi demikianlah contoh yang sampai kepada kita.
Segelas susu berdua di awal pertemuan dapat menghapus kekakuan di antara
kedua mempelai. Ada kemesraan dan kelembutan yang tumbuh. Ada jalinan perasaan
Kado Pernikahan 136
yang mulai terajut. Ada sikap kikuk mencair pelahan ketika Anda berdua meminum
dari gelas yang sama. Insya-Allah.
Saya kira pembicaraan kita tentang segelas susu berdua cukup sampai di sini.
Silakan Anda melanjutkan sendiri dengan menyeduh segelas susu untuk malam zafaf
Anda kelak. Selebihnya, mari kita dengarkan cerita dari Asma’ binti Yazid bin Sakan:
Khath Arab
Aku menghias ‘Aisyah untuk Rasulullah Saw., lalu aku datang kepadanya.
Kemudian aku memanggil beliau supaya memandang ‘Aisyah secara jelas. Beliau
kemudian datang di sampingnya. Selanjutnya didatangkan sebuah wadah besar berisi
susu. Beliau meminumnya. Lalu Nabi memberikan kepada ‘Aisyah. Ketika itu
‘Aisyah menundukkan kepalanya dan merasa malu.
Asma’ berkata, “Kemudian aku membentaknya dan berkata kepadanya,
‘Terimalah dari tangan Nabi Saw.”
Asma’ berkata lagi, “Lalu ia menerimanya dan meminumnya sedikit.” Kemudian
Nabi bersabda kepadanya, “Berilah temanmu itu.” (HR Ahmad).
Apakah Sekarang Saat yang Tepat?
Salah satu keindahan yang berhak dirasakan oleh suami-istri adalah saat ketika
mereka telah bersatu dalam kemesraan yang dalam. Mereka mencapai kenikmatan
yang belum pernah terasakan sebelumnya ketika melakukan hubungan seks. Inilah
keindahan dan sekaligus kenikmatan yang oleh Allah dijanjikan pahala besar di sisi-
Nya. Bagi Anda pahala shalat Dhuha sampai pahala anak laki-laki yang gugur di
medan perang ketika melakukan itu kepada istri.
Tetapi apakah sekarang saat yang tepat untuk maksud tersebut? Bukankah
suami-istri masih rikuh dan gugup ketika bertemu? Apakah malam zafaf tidak
sebaiknya dihabiskan dengan bincang- bincang saja agar tumbuh keakraban dan
perasaan dekat? Baru beberapa malam lagi dapat mengajak istri untuk maksud
tersebut.
Sebagian informasi yang disampaikan dalam beberapa pembicaraan memang
menyebutkan, hubungan intim ketika baru pertama kali bertemu cenderung tidak bisa
mengantarkan kepada puncak kenikmatan (orgasme). Tetapi pembicaraan tentang
orgasme sering hanya bersifat fisik biologis saja. Padahal ada kebahagiaan dan
keindahan di atas kenikmatan biologis belaka.
Lihatlah wanita melahirkan, secara biologis mereka sakit. Mereka secara fisik
mengalami perobekan. Tetapi dengarkan betapa bahagianya mereka. Kelelahan dan
nyeri akibat proses persalinan, seakan tak ada bekasnya begitu anak yang dinantinanti
lahir.
Kado Pernikahan 137
Hubungan Anda berdua insya-Allah juga demikian. Jika kerinduan Anda tidak
sekedar kerinduan biologis, insya-Allah Anda akan merasakan betapa indah malam
itu, meskipun harus salah tingkah dan gugup. Justru, salah tingkah dan gugup bisa
memberi kebahagiaan tersendiri yang membuat malam zafaf tidak pernah terlupakan.
Ada hal lain. Sebagian informasi tentang keringnya hubungan intim di malam
pertama, sejauh yang saya ketahui tidak memiliki dasar yang dapat dipercaya secara
ilmiah. Argumen qila wa qila (kabarnya konon katanya) tidak bisa diterima sebagai
hukum ilmiah.
Selain itu, melakukan hubungan intim di malam zafaf bukan sekedar sebagai
pelampiasan dorongan seks terhadap lawan jenis. Ada yang lebih tinggi dari itu. Di
atas dorongan biologis, ada dorongan cinta terhadap lawan jenis. Di atas cinta ada
kasih-sayang yang lebih tulus. Di atas kasih ada dorongan ruhiyyah, dorongan untuk
mencapai kesucian dan keutamaan ukhrawi. Masing-masing dorongan memiliki
keindahannya sendiri. Jika engkau menunduk karena besarnya rasa cinta dan sayang
pada suami, maka kehadirannya saja sudah membuatmu bahagia. Sedang sentuhannya
semakin membuatmu tidak bisa berkata apa-apa. Insya-Allah.
Pada malam zafaf, suami-istri yang baru menikah insya-Allah berada dalam
keadaan hati yang paling bersih dan paling baik persangkaannya kepada Allah.
Mereka berada dalam keadaan hati yang lapang, jiwa yang tenang serta muatan
ruhiyyah yang tinggi. Keadaan ini tidak selalu bisa dicapai di malam-malam
selanjutnya. Manusia berada dalam keadaan hati yang paling bersih, niat yang paling
suci dan kesadarannya tentang kebesaran Allah yang paling mendalam hanyalah
sa’atan-sa’atan (sesaat-sesaat). Tidak setiap waktu kita bisa mencapai niat yang
sangat suci dan persangkaan kepada Allah yang paling baik.
Ketika kita dalam keadaan sangat merasakan betapa agungnya Allah dan niat
yang betul-betul mengharapkan pertolongan dan ridha-Nya, insya-Allah akan tumbuh
di rahimmu anak yang takwa lagi suci. Anak yang penuh barakah dan dibarakahi.
Mereka lahir untuk memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah.
Mereka lahir atas kekuasaan dan keputusan Allah Yang Maha Suci, diikuti niat yang
suci serta persangkaan yang baik pada bapak-ibunya ketika melakukan hubungan suci
suami-istri.
Jadi jika memungkinkan untuk melakukan di malam itu, maka melaksanakannya
insya-Allah lebih baik dan lebih besar barakah-Nya. Meskipun gugup dan masih
sangat salah tingkah. Kalaupun tidak, meniatkan untuk mendatangi karena mengharap
ridha dan barakah-Nya insya-Allah sudah tercatat sebagai kemuliaan. Selain itu,
mendatangi istri untuk maksud tersebut di malam zafaf juga sebagai ungkapan syukur
atas karunia Allah Yang Maha Penyayang.
Hubungan seks di malam ini lebih dimaksudkan untuk mencapai barakah.
Adapun kalau Anda telah mempunyai dorongan yang meluap-luap, yang demikian ini
adalah rahmat Allah sebagai rizqi bagi Anda dan istri Anda. Kita memohon kepada
Allah mudah-mudahan rizqi yang dikaruniakan Allah kepada kita di malam zafaf ini
Kado Pernikahan 138
dipenuhi dengan barakah-Nya dan atas perantara itu Allah menjauhkan kita dari siksa
api neraka.
Rizqi ketika melakukan kemesraan bersama, meliputi beberapa tingkatan.
Pertama, rizqi dimampukan untuk melakukan hubungan intim secara halal. Kedua,
rizqi diberi kenikmatan yang ada di dalam jima’. Ketiga, rizqi diberi pahala dan
kemuliaan karena hubungan seks yang kita lakukan, dari pahala shalat Dhuha sampai
dengan pahala seorang anak laki-laki yang terbunuh dalam peperangan fi sabilillah.
Dan Allah Maha Kuasa untuk melipatgandakan dan meninggikan lagi pahala serta
barakah jima’ yang dilakukan oleh suami-istri sesuai dengan niatnya.
Masih ada tingkatan-tingkatan rizqi lainnya dalam hu-bungan intim suami-istri,
khususnya di malam zafaf. Salah satunya adalah rizqi berupa anak yang dilahirkan
dari hu-bungan intim di malam itu. Sebaik-baik rizqi adalah yang paling besar
barakah-Nya. Dan pada malam zafaf insya-Allah kita berada dalam keadaan hati dan
jiwa yang paling siap untuk menerima karunia ruhiyyah. Pada malam zafaf insya-
Allah kita berada dalam niat paling bersih, pengharapan terbaik, dan prasangka
kepada Allah yang paling bersih. Karena itu, melaksanakan kemesraan suami-istri di
malam zafaf insya-Allah merupakan kemuliaan yang utama. Insya-Allah dari malam
zafaf ini lahir anak-anak yang menjadi syafa’at bagi orangtuanya di hari kiamat
dengan seizin Allah. Anak-anak yang hukma-shabiyyan rabbi-radhiyyan (sejak kecil
memiliki kearifan dan diridhai Tuhan). Anak-anak yang memberi bobot kepada bumi
dengan kalimat laa ilaha illaLlah.
Islam memberikan tuntutan kepada kita ketika memasuki malam zafaf adalah
agar suami-istri yang baru menikah dapat segera memperoleh kenikmatan hubungan
intim. Ibarat puasa, segerakanlah berbuka ketika maghrib tiba. Yang demikian ini
lebih besar barakah dan ridha-Nya.
Wallahu A’lam bishawab.
Ada yang bisa kita renungkan untuk kita jadikan sebagai cermin ketika
membicarakan masalah melakukan hubungan intim dan rizqi yang ada di dalamnya.
Salah satu teladan kita adalah Umar bin Khaththab, seorang sahabat Nabi shallallahu
‘alaihi wasallam yang termasuk khulafaur-rasyidin.
Umar bin Khaththab r.a. mengingatkan dengan mencontohkan dirinya, “Sungguh
aku memaksakan diri bersetubuh dengan harapan Allah akan mengaruniakan dariku
makhluk yang akan bertasbih dan mengingat-Nya.”
Umar r.a. juga menganjurkan, “Perbanyak anak, karena kalian tidak tahu dari
anak yang mana kalian mendapatkan rizqi.”
Jadi kalau memungkinkan, mendatangi istri di malam zafaf insya-Allah lebih
utama dan lebih besar barakah-Nya. Sedang istri bisa mengingatkan suami tentang
niat. Adapun kalau suami tampak masih ragu, istri bisa menyemangati dengan caracara
yang baik, halus dan mengesankan suaminya. Semoga Allah meridhai usaha
Anda.
Kado Pernikahan 139
Rasulullah Saw. bersabda, “Nikah itu sunnahku. Siapa yang tidak mau
menerapkan sunnahku, sudah tentu ia bukan dari golonganku. Maka budayakanlah
perkawinan, karena aku bangga dengan banyaknya bilanganmu lebih dari umat-umat
lain di hari kiamat.” (HR Ibnu Majah).
Nah, mari kita tetapkan niat untuk memberikan kesenangan kepada istri di
malam pertama. Mudah-mudahan Allah mengaruniai dengan kebersihan hati,
memperbaiki akhlak kita sesudahnya, dan mensucikan niat. Semoga pertemuan kita
saat ini penuh barakah dan dibarakahi. Allahum-ma amin.
Tetapi sekalipun Anda sebaiknya bersegera mendatangi istri untuk melakukan
apa yang lazim dilakukan oleh orang yang sudah menikah, Anda juga perlu
memperhatikan kesiapan dan perasaan istri. Jika Anda tetap memaksakan untuk
hubungan intim, sementara istri berada dalam ketidaksiapan dan ketakutan, malam
pertama Anda bisa meninggalkan kesan yang mengerikan, bukan membahagiakan.
Karena itulah, barangkali ada baiknya Anda jawab pertanyaan Ukasyah Abdul
Mannan Al-Thayyibi Hasan ‘Asur (namanya memang panjang sekali) dalam bukunya
Etika & Nasehat Malam Pertama. Salah satu bab di buku itu diberi judul berupa
pertanyaan, “Malam Pertama, Mengerikan atau Membahagiakan?”
Jika Anda ingin malam zafaf Anda tidak berakhir dengan kesedihan yang
mengerikan, maka Anda perlu mendekati istri dengan cara yang baik dan lembut agar
ia siap. Sesudahnya, Anda bisa melakukan apa yang seharusnya Anda lakukan.
Urusan Berkenaan dengan Pakaian
Setelah kecupan di kening ketika berdoa, shalat dua raka’at bersama-sama,
meminum susu segelas berdua –kalau bersedia bisa meminum di bekas bibir istri
pada mulut gelas– dan menjalin kedekatan dengan sikap lembut serta pembicaraan
yang halus, sekarang kita bisa menjalin kedekatan yang lebih dalam lagi. Sebelum
suami membuka aurat dan istri membuka auratnya, Abduh Ghalib Ahmad ‘Isa
mengingatkan agar kita masing-masing memanjatkan doa kepada Tuhan.
Ada doa yang diajarkan Nabi Saw.:
Allahumma jannibnasy-syaithaana wa jannibisy-syaithana maa razaqtanaa.
Dengan menyebut nama Allah. Ya Allah, jauhkanlah kami dari syaithan dan
jauhkanlah syaithan dari apa yang Engkau rezekikan kepada kami.
Setelah memanjatkan doa dengan permohonan yang sungguh-sungguh,
pengantin pria dapat melepaskan pakaiannya. Demikian juga pengantin wanita dapat
melepaskan pakaiannya. Anda dapat melepas pakaian seluruhnya dan kemudian
menutupi keadaan Anda berdua dengan selimut. Tetapi yang lebih utama adalah
melepaskan sedikit demi sedikit.
Melepaskan sedikit demi sedikit dapat membuat suami lebih tertarik dan
semangatnya tumbuh. Tetapi mudahkanlah suami untuk mendapatkan apa-apa yang
ingin dimaksudkan. Jangan menyulitkan, apalagi ketika perasaannya sudah
Kado Pernikahan 140
terbangkitkan. Anda yang tahu bagaimana menggoda suami. Anda juga bisa
membantu suami melepaskan pakaian, dan suami juga bisa membantu istrinya
melepas pakaian.
Ketika suami-istri melepas pakaian, sebaiknya suami aktif mengajak bergurau,
seperti bermain, memeluk, dan mencium. Demikian nasehat Ustadz ‘Abduh Ghalib
Ah-mad ‘Isa, seorang ulama di Khartoum.
Rasulullah Saw. bersabda,
Khath Arab
Janganlah salah seorang dari kalian mengumpuli istrinya seperti binatang
mengumpuli. Tetapi agar ada utusan antara kedua. Maka ditanyakan, “Apakah yang
dimaksud utusan itu?” Beliau bersabda, “Mencium dan bercanda.” (HR Ad-
Dailami).
Bercanda
Hubungan intim hendaknya dilakukan dengan tenang dan sabar. Tidak tergesagesa.
Apalagi di malam zafaf, ketika istri baru pertama kalinya membuka aurat di
hadapan suami. Karena itu, jangan terlalu panas (tapi juga jangan terlalu dingin).
Di malam zafaf, seorang suami hendaknya melakukan persenggamaan secara
perlahan-lahan dan sedikit demi sedikit. Sikap terburu-buru dapat membuat istri takut
sehingga cenderung menarik diri secara psikis. Sikap tenang dan sabar, insya-Allah
lebih dekat kepada maslahat dan kebahagiaan agung, meskipun suami harus
menempuh jalan beberapa kali agar bisa melaksanakan maksudnya. Itulah sebabnya,
sebelum memasuki malam zafaf istri ada baiknya mempersiapkan kelengkapan
zafafnya agar tercapai kenikmatan yang mengesankan.
Ibnu Qayyim mengatakan, “Setiap kenikmatan yang membantu terwujudnya
kenikmatan di hari akhir adalah kenikmatan yang dicintai dan diridhai oleh Allah
Swt. Pencipta kenikmatan itu akan merasakan kenikmatan dalam dua segi. Pertama,
perbuatan tersebut menyampaikan dirinya kepada ridha Allah Swt. Selain itu, akan
datang pula kepadanya nikmat-nikmat lain yang lebih sempurna.”
Ketika mengajak untuk menghabiskan malam zafaf dengan kenikmatan yang
diridhai Allah, suami dapat memberitahukan kepada istrinya bahwa ia tidak akan
tergesa-gesa. Ia ingin menghabiskan malam zafaf dengan tenang secara bersamasama.
Dan ini diberitahukan kepada istri sebelum sama-sama melepas pakaian
ataupun pada permulaannya. Yang demikian ini insya-Allah akan menumbuhkan rasa
cinta istri kepada suami serta perasaan tenteram ketika berada di dekatnya. Sebab,
Kado Pernikahan 141
seorang suami yang mencintai istrinya dengan kecintaan yang kuat akan berusaha
untuk memperhatikan perasaan istrinya.
Ajaklah istri untuk bercanda dan bergurau dulu sebelum Anda melakukan
persetubuhan. Sehingga istri merasa senang, perasaannya terhadap hubungan intim
terbangkitkan, lalu menumbuhkan kesiapan padanya untuk melakukan itu bersama
Anda dalam kenikmatan yang sempurna. Ketika perasaannya terbangkitkan dan
cintanya kepada suami berkembang, istri bisa lebih terbuka. Ia tidak terhalang oleh
rasa malunya.
Mendatangi istri tanpa menyenangkannya terlebih dulu, termasuk kelemahan
bagi seorang suami. Rasulullah Saw. mengingatkan,
Khath Arab
Tiga hal yang termasuk kelemahan suami. Beliau menghitung darinya: Dari
seorang suami mendekati budak perempuannya atau istrinya kemudian ia
mengumpulinya sebelum mengajak bercanda kepadanya dan menyenangkannya. Ia
mengumpulinya kemudian ia memperoleh hajatnya dari istrinya itu sebelum ia (istri
atau budak perempuannya) memperoleh hajatnya.
Katakan, keindahan-keindahan serta rasa bahagia yang ingin Anda sampaikan
kepada istri. Begitu juga istri, dapat menyampaikan perasaannya yang sedang mekar
kepada suami. Mudah-mudahan Anda dapat meresapi ketenteraman yang ada di
antara Anda berdua. Bukankah Anda adalah pakaian suami Anda, dan suami adalah
pakaian bagi Anda? Pakaian itu memberi perlindungan, rasa aman, ketenteraman dan
kesenangan.

“Wanita yang terbaik di antara kamu
ialah yang membuang perisai malu
ketika ia membuka baju untuk suaminya,
dan memasang perisai malu
ketika ia berpakaian lagi.”

O ya, jangan lupa nasehat Kanun al-Idrisi al-Hasani, penulis kitab Qurratul
‘Uyun fin Nikah Syar’i wa Adabihi. Dalam kitabnya itu, Kanun mengingatkan agar
Anda tidak lupa meletakkan bantal di bawah –maaf– pantat istri. Yang demikian ini
adalah untuk kebaikan Anda berdua sehingga malam zafaf terlewatkan dengan indah
dan meninggalkan kenangan yang mengesankan.
Kado Pernikahan 142
Sekali lagi saya ingatkan Anda soal bantal ini. Kelihatannya sepele, tapi dari
masalah-masalah yang sampai kepada saya ternyata tidak semua orang tahu nasehat
Kanun Al-Idrisi ini. Soal mengapa Anda perlu memakai bantal, silakan baca sendiri di
kitab Qurratul ‘Uyun. Atau, Anda bisa ikut pengajiannya setiap bulan Ramadhan di
berbagai musholla dan masjid di Jombang, Jawa Timur.
Salah Tingkah Itu Rahmat
Ada yang bertanya kepada saya tentang salah tingkah dan canggung, bagaimana
menghilangkannya? Mengapa saya harus merasa rikuh?
Saya menjawab, salah tingkah itu rahmat. Ini adalah rahmat yang perlu
disyukuri. Ada keindahan-keindahan yang Anda dapatkan ketika salah tingkah. Salah
satu manfaat salah tingkah, Anda tidak saling menuntut ketika pertama kali
melakukan kemesraan bersama di malam zafaf. Anda justru merasa ingin melakukan
yang menyenangkan teman hidup Anda. Anda tidak ingin melukainya. Nah, di sinilah
insya-Allah Anda akan merasakan betapa salah tingkah itu rahmat yang tidak perlu
ditakuti, justru disyukuri.
Begitu.

Semangat suami bisa surut karena istri
yang bersikap dingin. Sebaliknya,
seorang suami yang sulit bangkit
dapat menjadi suami yang penuh kehangatan
karena istrinya…

Selanjutnya, Istri Hendaknya Tidak Malu
Al-Khara’ithy mengatakan, “Ammarmah bin Watsi-mah memberitahu kami,
bapakku memberitahuku, dia berkata, “Abdullah bin Rabi’ah adalah orang yang
terkenal di kalangan orang-orang Quraisy sebagai orang yang baik dan selalu menjaga
kehormatan dirinya. Penisnya tidak bisa ereksi. Sementara orang-orang Quraisy tidak
pernah ada yang memberi kesaksian tentang kebaikan atau keburukannya dalam
masalah ini. Dia pernah menikahi seorang wanita. Tapi hanya beberapa waktu
berselang, istrinya lari darinya dan kembali ke keluarganya lagi. Begitu seterusnya.
Lalu Zainab binti Umar bin Salamah bertanya, “Mengapa para wanita itu lari dari
anak pamannya?”
Ada yang menjawab, “Karena wanita-wanita yang pernah menjadi istrinya tak
mampu membuatnya mampu melaksanakan tugas sebagai suami.”
Kado Pernikahan 143
“Tak ada yang menghalangiku untuk membuatnya bangkit,” kata Zainab,
“Demi Allah, saya adalah wanita berperawakan besar dan bergairah.”
Maka akhirnya Zainab menikah dengannya, kata Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah,
selalu sabar meladeninya dan akhirnya mereka dikaruniai enam anak.
Semangat suami bisa surut karena istri yang bersikap dingin dan menahan
tangannya dari cengkeraman yang mesra kepada suami. Sikap dingin adakalanya
karena rasa malu yang menguasai, sementara ia sebenarnya berkeinginan untuk
memperoleh kehangatan cinta dari suaminya. Tapi seperti minuman hangat yang
didekatkan pada segelas es, gairah dan kemesraan suami bisa surut oleh dinginnya
sikap istri dalam menanggapi usapan sayang dan kecupan cinta suaminya.
Sebaliknya, seorang suami yang sulit terbangkitkan hasratnya dapat menjadi
laki-laki yang penuh kehangatan karena istri yang tahu bagaimana menumbuhkan
ketertarikan suami kepada dirinya saat melakukan hubungan intim. Rasa malu tidak
menghalanginya untuk memberikan kebahagiaan pada suaminya, dan merasakan
keindahan berdekatan dengan suami. Karena keindahan dalam berhubungan intim
merupakan kenikmatan yang dicintai dan diridhai Allah. Insya-Allah, seorang istri
yang mau menggairahkan suaminya akan memperoleh ridha dan barakah-Nya.
Mudah-mudahan Allah memberikan kebahagiaan kepada Anda; kebahagiaan ketika
melakukan hubungan intim bersama suami, kebahagiaan ketika menjalani kehidupan
rumah tangga sehari-hari, kebahagiaan ketika Allah menitipkan benih suami di rahim
Anda, kebahagiaan ketika bayi Anda mengisap ASI yang menjadi bagian dari diri
Anda sendiri, dan terutama kebahagiaan ketika bertemu dengan Allah. Allahumma
amin.
Benarlah nasehat Sayyidina Muhammad Al-Baqir kepada kaum wanita. Beliau
mengatakan, “Wanita yang terbaik di antara kamu ialah yang membuang perisai
malu ketika ia membuka baju untuk suaminya, dan memasang perisai malu ketika ia
berpakaian lagi.”
Seorang suami akan merasa semakin sayang ketika istri mampu membangkitkan
semangatnya ketika sama-sama menanggalkan pakaian. Dan ia merasakan cinta
semakin mendalam disertai kebahagiaan dan keinginan untuk memberikan
ketenteraman ketika ada rona merah di wajah istri setelah ia menutupi tubuhnya
dengan pakaian kembali. Inilah sebagian di antara rahasia-rahasia.
Berbicara Dari Hati Ke Hati
Setelah mencapai kenikmatan puncak dari istri Anda, dan urat-urat telah
melemah, tunggulah istri untuk mencapai ketenangan kembali. Jangan cepat-cepat
meninggalkannya, karena yang demikian ini termasuk salah satu kelemahan laki-laki
sebagaimana kita simak pada hadis terdahulu. Usapan pelan yang mesra dan kecupan
lembut di kening masih ada yang mengharapkan. Kalau Anda berdua telah mencapai
ketenangan yang membahagiakan, suami dapat membantu istrinya untuk mengenakan
pakaiannya kembali. Tetapi jika istri tampak sangat malu, Anda dapat
Kado Pernikahan 144
membiarkannya dengan memberikan perlindungan. Ketika seorang istri mencapai
puncak kenikmatan (orgasme), ada semburat merah di wajah yang menyertai.
Sesudah itu ia merasa malu sekali terhadap suaminya. Apalagi ini untuk pertama
kalinya ia terbuka terhadap lawan jenis.
Sayangilah istri Anda. Ajaklah ia berbicara dari hati ke hati dalam suasana yang
lebih tenang. Dengarkan apa yang ingin ia sampaikan; perasaannya, kebahagiaannya,
harapan-harapannya, dan mungkin juga sedikit kekhawatirannya sekaligus
keinginannya untuk mendapatkan suami yang memberi perlindungan, rasa aman,
ketenteraman, ikatan batin dan penerimaan.
Anda dapat membicarakan masalah-masalah ringan untuk beberapa saat. Kalau
di antara perasaan bahagia itu istri sempat merasakan perasaan takut kehilangan, atau
kekhawatiran apakah ia bisa menjadi istri sebagaimana yang Anda harapkan, atau ada
pengharapan-pengharapan, maka biarkanlah dada Anda menjadi tempat istri
merebahkan kegelisahannya. Berikan keteduhan padanya beberapa saat.
Sesudah tenang, Anda bisa bersuci dari hadas besar. Tetapi jika Anda ingin
mengulangi sekali lagi atau istri masih merasakan kerinduan, cukuplah seorang suami
berwudhu dan membersihkan apa yang menjadi bagiannya sebelum melakukannya
lagi. Adapun kalau Anda memilih untuk mandi ketika akan mengulangi, yang
demikian ini lebih utama dan insya-Allah lebih mendatangkan kebahagiaan bagi istri.
Tetapi berwudhu saja telah mencukupi. Mandi jika terlalu lama justru dapat
memadamkan kerinduan istri.
Mandi Janabah Bersama
Ada kewajiban sesudah jima’. Masing-masing wajib mandi janabah untuk
mensucikan diri dari hadas besar. Anda dapat melakukannya sendiri-sendiri, tapi bisa
juga mandi bersama-sama dalam satu bak agar keindahan dan kemesraan pada malam
zafaf dapat lebih sempurna. Mudah-mudahan jalinan perasaan (al-’athifah) di antara
Anda terikat lebih kuat. Semoga jalinan perasaan itu penuh barakah dan dibarakahi.
Anda masih bisa bermain-main kecil, bercanda bersama istri ketika mandi
janabah. ‘Aisyah r.a. mengatakan, “Aku pernah mandi jinabat bersama-sama
Rasulullah Saw. dari satu bejana. Tangan kami berulang-ulang ke dalamnya.”
(Muttafaq ‘alaih). Ibnu Hibban menambah, “Dan tangan kami bertemu di
dalamnya.”
Selain untuk lebih menyempurnakan kemesraan dan keakraban, kesempatan
mandi jinabat juga merupakan kesempatan pertama untuk melakukan amal shalih.
Barangkali ada yang masih belum mengerti cara mandi, Anda bisa mengingatkan
dengan penuh kasih-sayang dan perhatian. Semoga Allah meridhai dan memberikan
barakah atas niat Anda.
Kado Pernikahan 145
Masih Ada Kehangatan
Masih ada kehangatan yang tersisa untuk menuju peraduan malam yang indah.
Kerlingan mata dan pembicaraan singkat yang pendek bisa mengantarkan Anda ke
peraduan sebelum menutup malam zafaf dengan doa dan memanjatkan rasa syukur
kepada Allah. Semoga apa yang menjadi rizqi Anda di malam ini, bisa menjadi rizqi
yang penuh barakah di waktu-waktu berikutnya hingga hari kiamat. Semoga dari
keindahan di malam zafaf, akan tumbuh di rahim istri keturunan yang penuh barakah,
keturunan yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah.
Setelah mengucapkan doa, terkatuplah mata pelahan-lahan. Sedangkan tangan
dengan tangan masih bisa saling menggenggam. Ada ketenteraman di sana. Insya-
Allah.
Khath Arab
Barakallahu likulli waahidin minkumaa fii shaahibihi wa jama’a bainakumaa fii
khairin.
Semoga Allah membarakahi masing-masing Anda berdua terhadap teman hidup
Anda, dan menghimpunkan Anda berdua dalam kebaikan.
Allahumma amin.
Catatan Kaki:
1. Membersihkan rambut-rambut yang tumbuh pada daerah kemaluan, baik pada
laki-laki maupun perempuan, lazim disebut dengan istilah istihdaad. Istihdaad
boleh dilakukan dengan menggunting atau memotong habis dan dengan
mencabutnya, atau dengan cara melumurinya dengan obat perontok rambut.
Tetapi lebih utama dengan cara mencukur, membersihkan dengan menggunakan
pisau cukur. Demikian penjelasan dari Muhammad ‘Athiyah Khumais dalam
Fiqih Wanita tentang Thaharah. Saat ini banyak tersedia pisau cukur yang
higienis, praktis, aman dan nyaman. Syekh Ibnu Daqiqil ‘Aid mengatakan,
“Sebagian mereka cenderung menguatkan wanita mencukur, karena dengan
cara mencabut dapat merusak kulit. Hal itu dikuatkan pula oleh Imam Nawawi
dan lain-lain dengan katanya: Menurut Sunnah, mencukur bulu ari-ari dengan
pisau cukur, itulah yang lebih baik bagi laki-laki dan perempuan.”
2. Yang dimaksud dengan bulu ari-ari adalah rambut yang tumbuh pada bagian
atas zakar laki-laki dan yang tumbuh di sekitar vagina (faraj) perempuan.
Demikian penjelasan Muhammad ‘Athiyah Khumais.
3. Abdul Halim Abu Syuqqah menjelaskan, Ath-Thabrani menjelaskan dalam Al-
Kabir dan di dalamnya terdapat Haki-mah binti Umaimah. Ibnu Juraij
meriwayatkan darinya, tetapi tak seorang pun berbicara tentangnya. Abu Dawud
berhujjah dengan riwayatnya, dan sisa rijalnya adalah rijal shahih.
Kado Pernikahan 146
Bab 10
Masa-masa Pengantin Baru
asa pengantin baru barangkali sama pentingnya dengan malam pertama.
Masa ini istri Anda sangat sensitif. Perasaannya sangat peka. Apalagi
kalau ia masih gadis. Begitu juga suami, sekalipun perasaan laki-laki
konon tak sehalus perasaan wanita, ia akan peka. Karena keduanya sangat sensitif,
maka ibarat negatif film yang belum dicuci, ia mudah terbakar. Kalau terbakar,
hanguslah potret yang telah dibidik dengan sangat hati-hati itu.
Masa ini memang sangat peka. Kehancuran ikatan suci pernikahan, kadang
bermula dari masa-masa pengantin baru yang tak terlewati dengan baik. Apalagi jika
salah satu atau keduanya telah membawa perasaan yang negatif ketika memasuki
pernikahan, goresan luka yang perih akan mudah terjadi. Di sinilah kita melihat lebih
dalam lagi hikmah di balik pesan Nabi Saw. agar memurahkan mahar dan
memudahkan nikah. Di sinilah kita melihat bahwa hikmah di balik pesan-pesan Nabi
tak cukup jika hanya ditulis dalam satu bab panjang seperti pada bab “Di Manakah
Wanita-wanita Barakah Itu?”. Di sinilah kita melihat bahwa masa-masa ketika proses
sedang berlangsung terasa sangat penting.
Tetapi karena akad nikah telah berlangsung dan malam zafaf telah lewat, maka
marilah kita teruskan pembicaraan kita tentang masa-masa pengantin baru. Soal
indahnya masa yang penuh cerita ini, tak perlu saya tulis. Anda sudah tahu sendiri.
Lagi pula indahnya masa pengantin baru itu lebih enak dialami daripada dipelajari.
Karena itu lebih baik kita memahami masalah-masalah yang lebih penting berkenaan
dengan masa pengantin baru ini.
M
Kado Pernikahan 147
Pertama, jangan lupa menemani istri Anda. Sediakan waktu khusus untuknya.
Lebih-lebih jika ini merupakan pernikahan kedua dalam rangka matsna (poligami),
maka Anda perlu sekali memperhatikan. Jangan abaikan haknya untuk tinggal
bersama Anda dan menghabiskan masa-masa yang khusus untuk Anda berdua itu.
Tentang berapa lama Anda harus tinggal bersama istri Anda ini, mari kita simak Anas
(bin Malik) r.a. riwayat Abu Qilabah yang berkata:
Khath Arab
Termasuk sunnah bagi (seseorang) jika menikahi (lagi) seorang gadis, setelah
dia mempunyai istri, dia bermukim padanya selama tujuh hari, lalu mengadakan
pembagian. Apabila menikahi seorang janda, dia berhak untuk bermukim padanya
selama tiga hari (tiga malam), kemudian barulah mengadakan pembagian (waktu).
(Selanjutnya) Abu Qilabah berkata, “Jika aku mau, pasti aku mengatakan bahwa
Anas r.a. memarfu’kan berita (atsar) tersebut kepada Rasulullah Saw.” (HR
Bukhari).
Selama masa pengantin baru ini, sebaiknya suami lebih banyak menghabiskan
waktu untuk menemani istri, sehingga istri memiliki kesempatan untuk mulai belajar
bertaba’ul (mengurus dan melayani) kepada suami dengan baik dan sesuai dengan
suami. Sebaliknya, suami bisa belajar mengenal istri. Yang dimaksud dengan
mengenal istri boleh jadi berkait-erat dengan persoalan-persoalan psikis, termasuk
yang bersangkutan dengan bagaimana ia dibesarkan keluarganya, sehingga suami
dapat memahami perbedaan sikap istri dan menerima apa yang bisa diterima. Tetapi
mengenal istri boleh jadi bersangkutan dengan hal-hal yang kelihatan kecil dan
sepele, misalnya makanan kesukaan istri.
Berkenaan dengan masalah yang disebut terakhir ini, boleh jadi sebagian orang
menganggap sepele (ah, rumah tangga kok cuma ngurusi soal makanan). Tetapi
menyepelekan masalah yang sepele ini, bisa memicu ketidakpuasan suami-istri.
Mereka merasa diabaikan. Jika ini terus berlanjut, percekcokan bisa timbul.
Pentingnya memperhatikan persoalan yang dianggap sepele itu tidak berarti
melupakan soal-soal yang lebih penting. Sebab di atas itu semua, masalah yang paling
berpengaruh memang orientasi. Pernikahan Hari Moekti adalah contoh yang tepat
untuk menggambarkan bahwa orientasi masing-masing sangat mempengaruhi
kebahagiaan pernikahan. Ketika Kang Hari masih menjadi rocker, pernikahannya
sering diwarnai ketidakpuasan dan ketegangan-ketegangan. Akan tetapi setelah
menemukan Islam, mereka mendapati keluarganya penuh kebahagiaan.1
Salah satu masalah penting yang perlu dicatat dari perjalanan keluarga Hari
Moekti adalah soal perubahan orientasi keluarga yang ikut mempengaruhi
kebahagiaan pernikahan mereka. Ketika Kang Hari telah menemukan Islam, ia
menemukan cara pandang yang sama sekali baru tentang istri, tentang bagaimana
Kado Pernikahan 148
bersikap dan memuliakan istri, tentang bagaimana memandang kehidupan, serta
tentang tujuan hidup yang semuanya berpulang kepada Allah.2
Wallahu A’lam bishawab. Semoga kita berkesempatan untuk menemukan Islam
sebelum kita meninggal.
Singkat cerita, masa pengantin baru sangat peka. Dan seperti yang dinasehatkan
oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, tergantung pribadi masingmasing
untuk memperoleh kemuliaannya.

… Di sinilah kita melihat lebih dalam lagi
hikmah di balik pesan Nabi Saw.
agar memurahkan mahar dan memudahkan nikah.
Di sinilah kita melihat
hikmah di balik pesan-pesan Nabi ….

Lalu apa yang bisa kita lakukan pada masa-masa pengantin baru? Wallahu A’lam
bishawab. Selebihnya, ada beberapa hal yang ingin saya sampaikan kepada Anda.
Mudah-mudahan ada manfaatnya.
Belajar Mendampingi Suami
Anda barangkali geli dengan sub judul ini. Tetapi kita menghadapi kenyataan
bahwa para wanita usia nikah di zaman kita umumnya tidak memperoleh pendidikan
memadai tentang bagaimana mendampingi suami. Sama halnya dengan suami mereka
yang pada umumnya tidak sempat mendapat pendidikan tentang bagaimana menjadi
suami sebagaimana yang diterima oleh orangtua mereka dulu. Sebabnya sederhana,
sebagian besar dari generasi usia nikah maupun keluarga baru di zaman kita
umumnya menghabiskan masa kecil hingga masa dewasa di sekolah-sekolah formal
saja. Mereka tidak memperoleh pengalaman dan pendidikan mengenai peran-peran
sosial maupun peran keluarga dari lingkungan, katakanlah dari masjid dan pesantren.
Bahkan, mereka juga tidak mendapatkan pengalaman itu dari keluarga –komunitas
terdekat yang sebenarnya paling memungkinkan untuk memberi pengalaman kepada
anak.
Jika pada generasi orangtua, suami-istri memasuki pernikahan dengan membawa
bekal ilmu berumah-tangga yang mereka peroleh dari pesantren atau mushalla, maka
pada generasi kita tidak seperti itu. Kita memasuki pernikahan dengan tangan kosong;
Kado Pernikahan 149
sebagian nyaris tanpa bekal, kecuali ijazah diploma atau kursus MS Excel. Jika tidak,
kita membawa bekal sertifikat seminar menjelang pernikahan –yang tidak cukup
untuk memberi gambaran kepada kita tentang bagaimana berumah tangga, khususnya
mendampingi suami. Adapun bagaimana bersikap kepada suami ketika sedang marah,
bagaimana meredam emosi suami, bagaimana memberi sentuhan yang
membangkitkan gairah istri ketika suami mempunyai keinginan besar sementara istri
sedang dingin-dinginnya, dan soal-soal semacamnya, kita nyaris tidak tahu. Saya
sendiri baru tahu bahwa di pesantren ada literatur (sekaligus pengajiannya) tentang
urusan yang saya sebut terakhir itu ketika saya sudah menikah. Sampai sekarang saya
belum mengetahui isi kitabnya secara persis. Saya hanya mendengar penjelasan dari
seorang gus (putra kiai) tentang isi kitab yang membahas soal itu ketika menyarankan
kepada saya untuk mempelajari, sehingga bisa melengkapi pembahasan tentang jima’
pada buku Mencapai Pernikahan Barakah.
Kembali ke persoalan mendampingi suami, ada baiknya kita mendengar nasehat
dari Al-Khasyat, “Mendampingi suami merupakan sebuah proses belajar. Kecocokan
perasaan harus melalui beberapa tahapan, entah membutuhkan waktu lama atau relatif
singkat dari ‘usaha dan kesalahan’.”
Persoalan yang lebih penting dalam mendampingi suami adalah keinginan yang
tulus, bukan keterampilan memasak atau menjahit sebelum Anda menikah. Kata Al-
Khasyat, “Sebelum ini seorang istri perlu memiliki keinginan tulus untuk memahami
suaminya, dan berusaha secara terus-menerus untuk merealisasikan kecocokan dan
keharmonisan dengan suaminya sedikit demi sedikit, dibarengi dengan kesabaran,
kelembutan, dan ketekunan dalam menghindari berbagai sebab permusuhan, serta
menjauhi sebab-sebab perselisihan, dan menciptakan suasana yang sesuai dengan
perkembangan semangat kasih-sayang dan cinta-kasih.”
“Adalah mustahil,” kata Al-Khasyat lebih lanjut, “bila kelembutan dan
keharmonisan dapat diraih tanpa kemauan dari pihak suami maupun istri untuk
menghilangkan sebagian tingkah laku dan beberapa kebiasaan yang lalu.”
Seperti yang telah kita dengar dari Al-Khasyat, yang kita perlukan agar bisa
mendampingi suami adalah keinginan yang tulus. Istilah ini sangat indah dan
barangkali sangat sering Anda dengar. Tetapi apakah keinginan yang tulus itu? Apa
yang dapat menandakan kita tulus atau tidak?
Wallahu A’lam bishawab. Silakan Anda cari jawabnya dengan bertanya kepada
diri Anda sendiri.
Sementara Anda mencari jawabnya, mari kita melanjutkan pembicaraan kita
kepada persepsi. Secara sederhana, bagaimana Anda mempersepsi sesuatu sama
halnya dengan bagaimana Anda memandang. Jika Anda memakai kacamata merah,
maka apa pun yang Anda lihat akan tampak ada warna merahnya. Daun yang hijau
dan bunga yang putih pun akan tampak kemerah-merahan.
Selain itu, pengalaman dan pengetahuan Anda juga mempengaruhi. Orang Jawa
Timur akan berbinar-binar melihat rujak cingur yang hitam pekat bumbunya dan
Kado Pernikahan 150
menebar bau petis campur terasi (Ouw, sedapnya). Air liurnya akan segera mengucur
sehingga tak sabar lagi untuk segera menikmati. Tetapi orang lain, akan segera
bergidik. Jijik. Jangankan untuk memakannya, melihat orang lain makan saja rasanya
tengkuk sudah geli. Iihh, makanan kok hitam begitu. Baunya nusuk-nusuk lagi…!
Singkatnya, persepsi dipengaruhi oleh zhan (prasangka) Anda, sebagaimana
warna kacamata mempengaruhi penglihatan kita terhadap benda-benda yang kita
lihat. Selain itu, persepsi kita dipengaruhi oleh pengalaman, ilmu, dan juga kondisi
psikis kita saat itu. Jika Anda sedang marah sekali, Anda akan mudah melakukan
kesalahan dalam menafsiri perkataan orang lain, termasuk perkataan suami atau istri
Anda. Ini satu contoh.
Lalu apa perlunya kita berdiskusi soal persepsi dengan pembicaraan kita
mengenai masa pengantin baru? Untuk menjawab pertanyaan ini, sekali lagi mari kita
ingat bahwa masa pengantin baru adalah masa yang sangat peka. Keindahan malam
zafaf dan kebahagiaan masa pengantin baru bisa berantakan karena persepsi kita tidak
baik. Akibatnya, kita mudah menaruh “kecurigaan” manakala kita menjumpai hal-hal
yang tidak mengenakkan. Ini dapat menjadi sebab munculnya bibit perselisihan yang
bersifat latent (tersembunyi).3
Karena itu, pengantin baru perlu belajar menjaga persepsi terhadap apa yang
dilakukan oleh suami atau istrinya. Jika tidak, bersama keindahan itu akan tumbuh
penyakit yang dapat meledak sewaktu-waktu ketika masa pengantin baru telah lewat.
Ada hal lain yang kita butuhkan di masa pengantin baru, yaitu penerimaan yang
tulus. Penerimaan dari kedua pihak. Bukan suami saja atau istri saja. Sederhana
bukan? Ya, sederhana. Sangat sederhana menuliskannya. Jauh lebih sederhana
daripada mengamalkannya.
Merintis Kebiasaan Yang Baik
Allah menyempurnakan setengah agama kita ketika kita dikaruniai kekuatan
untuk menikah. Kemudian kita disuruh menyempurnakan yang setengahnya. Salah
satu yang bisa kita lakukan untuk menyempurnakan setengah dari agama kita adalah
dengan merintis kebiasaan yang baik dan saling mengingatkan tentang watak (khuluq)
serta perilaku yang tidak baik. Sebagian dari kita mungkin memiliki perilaku buruk
yang tidak diketahuinya, kecuali dengan bantuan orang lain, termasuk suaminya
sendiri.
Berkenaan dengan merintis kebiasaan yang baik ini, ada sebuah hadis yang dapat
kita renungkan:
Kado Pernikahan 151
Khath Arab
“Barangsiapa yang menetapkan sunnah-hasanah (kebiasaan yang baik) lalu ia
diamalkan, maka ia mendapat pahala seperti orang yang mengerjakannya tanpa
dikurangi sedikit pun.
Dan barangsiapa yang menetapkan dalam Islam satu sunnah sayyi’ah
(kebiasaan yang buruk) lalu ada yang mengamalkannya, maka ia memperoleh dosa
seperti yang mengerjakannya tersebut tanpa dikurangi sedikit pun.” (HR Muslim).
Kebiasaan baik yang kita rintis di rumah kita bisa jadi menyangkut ibadah
mahdhah seperti shalat, bisa jadi berkenaan dengan perilaku kita kepada keluarga atau
perilaku kita terhadap tetangga atau lebih luas lagi. Yang jelas, bisa merintis sunnah
hasanah atau tidak, sebaiknya suami isteri berusaha untuk mengurangi perilakuperilaku
yang buruk. Syukur kalau bisa saling belajar melihat kekurangan masingmasing
dan kemudian menyadarinya, bukan menjadikannya untuk berapologi. Syukur
pula kalau bisa memperbaiki kekurangan-kekurangan sehingga menjadi kebaikan.
Saya tidak berpanjang-panjang dengan masalah sunnah hasanah ini. Saya grogi
membahasnya. Karena itu, marilah kita beralih kepada tema kita yang lain, yakni
mengenai mengurangi keburukan dan memperbaiki kekurangan. Mudah-mudahan
dengan pertolongan Allah, keluarga kita akan barakah dan selamat dan fitnah dunia
maupun fitnah akhirat. Mudah-mudahan dengan pertolongan Allah, anak-anak kita
dapat lebih memikirkan ummat Muhammad dibanding orangtuanya atas sebab kita
berusaha memperbaiki sebagian kekurangan kita.
Hambatan besar yang mungkin muncul ketika kita ingin menjadikan rumah kita
sebagai tempat untuk saling memperbaiki kekurangan, adalah seperti yang pernah
dilukiskan oleh Imam Al-Ghazali dalam kitab Ihya’ ‘Ulumuddin pada pembahasan
tentang penyakit hati. Ia berkata, “Akan tetapi, biasanya kita justru menyibukkan diri
dengan mencari-cari jawaban untuk menunjukkan kepada orang itu bahwa ia sendiri
juga menyandang cacat-cacat seperti itu. Lalu kita akan berkata kepadanya: ‘Anda
sendiri juga melakukan begini… dan begitu….’ Dan sikap permusuhan seperti itu
pasti menghalangi kita daripada memanfaatkan nasehatnya.”
Seperti kata Al-Ghazali, adakalanya kita berkata saat diingatkan, “Habis, Mas
kemarin juga begitu.”
Atau kalimat lain yang mirip dengan itu, misalnya, “Ah, Mas nyuruh bangun
awal. Mas sendiri susah dibangunkan. Bagaimana mau shalat malam kalau tidur
terus?”
Contoh lain yang semakna dengan itu masih banyak. Silakan Anda cari sendiri.
Atau, silakan Anda ingat-ingat apakah dalam hidup Anda pernah mengucapkan
Kado Pernikahan 152
kalimat-kalimat yang seperti itu manakala Anda diingatkan oleh suami Anda (atau
suami diingatkan oleh isterinya). Atau, Anda sering mengucapkannya? Jika ya, maka
ingatlah bahwa sesungguhnya suami Anda bukan Nabi yang Allah
mema’shumkannya, sehingga ia terjaga dari melakukan kesalahan. Ia juga bukan
tergolong sahabat Nabi –yang sekalipun tidak ma’shum, tetapi Allah meridhai mereka
dan mengampuni kesalahannya. Ia adalah manusia biasa, sangat biasa. Sehingga
terbuka kemungkinan melakukan kesalahan, sekalipun ia sangat menginginkan
kebaikan. Sederhananya, ia mungkin sering tidur tanpa bangun malam, meskipun
berkali-kali ia mengatakan ingin shalat malam.
Mari kita perhatikan hadis ini:
Khath Arab
“Allah merahmati seseorang yang bangun pada malam hari lalu menunaikan
shalat. Dia bangunkan istrinya dan jika istri enggan, maka dia percikkan air ke
wajahnya. Dan Allah merahmati seorang wanita yang bangun malam hari untuk
menunaikan shalat. Dia bangunkan suaminya dan apabila suaminya enggan, maka
dia percikkan air ke wajahnya.” (HR Abu Dawud, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan
yang lainnya. Ibnu Hibban dan Al-Hakim menshahihkan hadis ini. Syaikh
Muhammad Nashiruddin Al-Albani berpendapat, hadis ini hasan).
Atau mari kita simak hadis ini:
Khath Arab
Dari Abu Darda’ r.a., dari Nabi Saw., beliau bersabda, “Tiga (orang), Allah
mencintai mereka, tersenyum kepada mereka dan merasa gembira dengan mereka.
Pertama, orang yang apabila suatu golongan menghadapi serbuan maka ia
berperang sendirian semata-mata karena Allah ‘Azza wa Jalla, maka ia terbunuh
atau ditolong oleh Allah ‘Azza wa Jalla dan dicukupi-Nya lalu Allah berfirman
(kepada para malaikat, “Lihatlah hamba-Ku ini bagaimana dia bershabar karena-Ku
dengan (mengorbankan) dirinya.”
Kedua, orang yang memiliki istri cantik dan kasur empuk lagi bagus, kemudian
ia bangun (melakukan shalat) malam, maka Allah berfirman, “Ia meninggalkan
syahwatnya dan mengingat-Ku. Padahal kalau suka ia tidur saja.”
Kado Pernikahan 153
Ketiga, orang yang apabila dalam perjalanan (safar) bersama dengan
rombongan lalu di saat itu begadang malam kemudian tidur, ia bangun waktu sahur
dalam keadaan susah dan senang.” (HR Thabrani dengan sanad hasan. Al-
Haitsami berkata, “Para perawinya terpercaya.” Menurut Syaikh Muhammad
Nashiruddin Al-Albani, hadis ini hasan).
Hadis-hadis ini tidak berbicara tentang sifat suami sebagai manusia biasa. Dan
saya pun tidak bermaksud untuk menjelaskan kepada Anda makna dari dua hadis
tersebut karena saya belum berhak menjelaskan. Tetapi melalui hadis ini saya ingin
berbincang-bincang dengan Anda bahwa suatu saat barangkali Anda yang
memercikkan air ke wajahnya, dan di saat lain Anda yang susah dibangunkan
sehingga suami perlu memercikkan air ke wajah Anda. Suatu saat Anda yang perlu
mengingatkan suami ketika ia melakukan kesalahan atau mengucapkan kalimatkalimat
yang merusak. Tetapi di saat lain boleh jadi suamilah yang harus
mengingatkan Anda karena Anda melakukan kesalahan atau mengucapkan kalimat
yang tidak baik; kesalahan yang sama seperti yang pernah dilakukan oleh suami
Anda.
Jika Anda menerima peringatan dan nasehat suami, sementara suami pun
demikian, maka insya-Allah dari rumah Anda akan terbit cahaya yang menerangi dan
memberi kesejukan bagi sekeliling. Paling tidak bagi orang yang mendiami rumah
Anda. Tetapi jika Anda berkata “Uuh, Mas juga sering begitu”, maka kisah romantis
tentang pernikahan penuh barakah selesai sampai di sini. Ia akan merasa terhalang
secara psikis untuk mengingatkan Anda dengan segera di saat ia menjumpai Anda
melakukan kesalahan. Yang paling mudah ia lakukan kemudian adalah marah dan
menyalahkan. Kalau ini terus berlanjut, berarti Anda berdua telah jatuh dalam
coercive communication (komunikasi memaksa). Selengkapnya tentang coercive
communication ini bisa Anda simak pada bab Komunikasi Suami-Istri di jendela tiga
buku ini.

Seperti kata Al-Ghazali,
saat diingatkan adakalanya kita berkata,
“Habis, Mas kemarin juga begitu.”

Dan Istri Pun Hamil
Masa pengantin baru, barangkali terasa belum lewat ketika istri Anda muntahmuntah
di pagi hari. Ketika Anda mendekat, ia menepis Anda. Di saat Anda
membutuhkan seorang teman untuk berbincang santai, ia malah berangkat tidur dan
enggan bangun. Belakangan periksa, ternyata ia telah positif mengandung.
Kado Pernikahan 154
Sebagian orang terkejut dengan masa nyidam. Apalagi kalau mereka sama-sama
tidak mengerti bahwa perubahan situasi emosi yang drastis itu disebabkan oleh
datangnya kehamilan, percekcokan bisa tersulut dengan cepat sebagaimana api yang
membakar rumput kering. Akibatnya, hubungan suami dengan istri akan renggang.
Masing-masing menyimpan perasaan yang tidak mengenakkan.
Datangnya kehamilan dan masa nyidam itu adakalanya pada bulan ketiga
pernikahan, adakalanya dua tahun kemudian. Akan tetapi tidak menutup
kemungkinan istri sudah mengandung setelah satu bulan menikah.
Nah, jika Anda masih menginginkan suasana pengantin baru, apa yang sebaiknya
Anda lakukan bersama istri Anda yang mulai mengandung?
Silakan Anda jawab sendiri. Mumpung masih pengantin baru.
Catatan Kaki:
1. Ustadz Hari Moekti sempat menceritakan pengalaman-nya berumah tangga
pada kesempatan acara bedah buku “Seni Dalam Pandangan Islam” karya
Abdurrahman Al-Baghdadi di Fakultas Sastra UGM. Cerita serupa juga
dikemukakan ketika menjadi pembicara pada seminar Memaksimalkan
Kecerdasan Anak yang diselenggarakan oleh Unpas, Bandung awal Juli lalu.
2. Soal bagaimana perubahan pandangan itu mengubah juga kehidupan
pernikahannya, lebih baik Anda bertanya langsung kepada Ustadz Hari Moekti
sehingga memperoleh penjelasan yang lebih baik dan lebih jernih. Di atas
segala-galanya, tentu saja hanya Allah ‘Azza wa Jalla sumber segala
kebahagiaan dan Dia-lah yang memberi kebahagiaan kepada siapa pun yang Dia
Kehendaki. Wallahu A’lam bishawab.
3. Bibit perselisihan bersifat latent (tersembunyi) karena pada masa ini
keindahan sebagai pengantin baru menutupi berbagai “ketidaksesuaian
kecil”. Di sinilah permaafan dan permakluman dibutuhkan agar hal yang
tidak mengenakkan tidak menjadi bibit perselisihan yang sewaktu-waktu bisa
meledak. Setelah masa pengantin baru usai, rumah tangga masih penuh
kesejukan. Rumah terasa lapang dan damai, meskipun secara fisik sempit.
Masalahnya, persoalan hubungan antara suami dan istri tidak sesederhana
menuliskan kata permaafan dan permakluman.
Kado Pernikahan 155
Bab 11
Tinggal di Mana
Setelah Menikah?
Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu
bertempat tinggal menurut kemampuanmu…”
(Al-Qur’an 65: 6)
etelah menikah, suami mempunyai kewajiban untuk menyediakan
tempat tinggal bagi istri sesuai dengan kemampuannya. Para Imam
Mazhab1 sepakat, dengan beberapa perbedaan kecil, bahwa seorang
suami wajib menempatkan istri di tempat tinggal yang layak. Sehingga
istri terjaga kehormatannya dan merasakan kedamaian dalam kehidupan
berumahtangga bersama suami.
Kalau suami mempunyai kewajiban untuk menyediakan tempat tinggal yang
memberikan kedamaian, rasa aman dan privacy2 bagi istri, maka secara seimbang istri
mempunyai kewajiban untuk tinggal di tempat yang telah disediakan oleh suaminya.
Kewajiban untuk tinggal di rumah suami, betapa pun sederhananya tempat tinggal itu,
merupakan ketetapan syari’at. Syari’at menjadikan kewajiban sang istri itu sebagai
salah satu hak laki-laki yang menjadi suaminya. Suami berhak menuntut istrinya agar
tinggal di rumah dan tidak meninggalkannya, kata Dr. Musa Kamil menjelaskan.
Sekarang, ketika Anda telah mengikat perjanjian berat (mitsaqan ghalizha)
bersama istri, pikirkanlah di mana Anda tinggal. Kalau sekarang Anda dihadapkan
pada beberapa kemungkinan tempat tinggal, Anda bisa mempertimbangkan maslahat
dan madharat pada masing-masing tempat dengan tetap mengingat bahwa
menyediakan tempat tinggal bagi istri merupakan kewajiban Anda.
S
Kado Pernikahan 156
Masalah ini juga bisa Anda musyawarahkan dengan istri, wanita yang insya-
Allah telah mengikhlaskan kesetiaan dan kasih-sayangnya untuk mendampingi Anda
sepanjang hidupnya. Apakah sebaiknya Anda tinggal di rumah kontrakan sederhana,
kredit rumah KPR/BTN, membangun sendiri rumah tinggal secara berangsur-angsur,
atau memenuhi permintaan mertua untuk tinggal bersama mereka?
TINGGAL DI RUMAH SENDIRI
Ada kelebihannya tinggal di rumah sendiri, baik kontrakan maupun hak milik,
bagi mereka yang baru saja membangun rumah-tangga. Dengan tempat tinggal yang
terpisah sehingga kita bisa mengatur sendiri roda rumah-tangga, kita bisa belajar
secara lebih leluasa untuk saling mengenal, memahami secara lebih baik dan
sekaligus membina kepekaan. Ketika suami-istri merasakan peluh perjuangan dalam
meletakkan fondasi keluarga, insya-Allah akan dapat mengokohkan arah dan misi
perkawinan. Perkawinan melahirkan kekuatan jiwa pada masing-masing anggotanya,
kecuali jika masing-masing tidak memiliki kedewasaan yang cukup. Darinya lahir
orang-orang yang memiliki kejelasan arah dan keberanian berjuang. Inilah yang
dibutuhkan untuk masa depan masyarakat yang lebih mulia.
Sepanjang sejarah, orang-orang besar yang membawa kemuliaan bagi umat
manusia lahir dari keluarga yang memiliki kekuatan jiwa. Jiwalah yang menyimpan
kekuatan dan kekayaan. Jiwa yang besar dan kokoh mampu mencairkan gununggunung
batu yang keras. Tetapi, jiwa yang kerdil justru menyembunyikan kelemahan
di balik apa-apa yang tampak sebagai kekuatan. Lihatlah Baghdad setelah masa
Nizamul Mulk lewat. Bangsa yang besar dengan sejumlah kemajuan peradaban itu,
segera jatuh dan habis oleh serangan Tartar yang waktu itu masih belum berbudaya.
Dan dengan tempat tinggal yang terpisah dari orang lain, insya-Allah kita bisa
lebih menghayati bagaimana membangun kekuatan jiwa untuk membentuk orientasi
yang kokoh. Dalam rumah sederhana yang kita atur sendiri kita mempunyai
kesempatan untuk menguati dan melengkapi. Melengkapi secara fisik dengan
perabot-perabot rumah-tangga yang diperlukan, maupun melengkapi secara psikis
dengan hati yang menerima, jiwa yang rela dan kesediaan untuk berjuang bersamasama.
Jika kita mau menengok sejenak ke masa Rasulullah Saw dan para sahabat, kita
melihat bahwa keluarga-keluarga yang baru saja terbentuk memulai kehidupan
berumah-tangga dalam rumah yang terpisah dari orangtua. Fathimah putri
Rasulullah, tinggal di rumah sederhana bersama suaminya Ali bin Abi Thalib dengan
perabot rumah tangga yang dibeli dari sebagian mahar. Padahal mahar yang diterima
Fathimah dari Ali bin Abi Thalib tidak terlalu besar untuk ukuran waktu itu maupun
untuk ukuran waktu sekarang. Barangkali keseluruhan yang dikeluarkan untuk kepentingan
tersebut tidak lebih besar dibanding sebuah prosesi perkawinan yang sangat
sederhana di negeri kita yang jarang lahir orang besar ini. Wallahu A’lam bishawab.
Kado Pernikahan 157
Ketika menikah, Ali tidak memiliki sebuah rumah yang akan ditempati untuk
hidup berumah-tangga. Fathimah meminta sebuah rumah pada ayahnya, kata
‘Abdurrahman Asy-Syarqawi dalam buku Muhammad Sang Pembebas. Tapi ayahnya
menolak keras permintaannya. Lalu datanglah seorang laki-laki kaya dari kalangan
Anshor yang bermaksud untuk memberikan sebuah rumah yang mungil di antara
rumah yang dimilikinya pada kedua suami-istri yang masih muda belia. Ali dan
Fathimah tidak mau menerima pemberian laki-laki tersebut. Akan tapi laki-laki itu
bersumpah tak akan memasuki rumah itu selama-lamanya. Laki-laki itu tetap bersikap
keras untuk memberikan rumahnya, hingga akhirnya Muhammad Saw. membolehkan
mereka berdua menerima pemberian itu dengan cara jual-beli. Tidak dengan cara
hibah.
Begitu Fathimah putri Rasulullah dan Sayyidina Ali membangun rumahtangganya.
Bagaimana dengan pengantin baru lainnya? Mari kita tengok Asma’ binti
Abu Bakar yang baru saja menikah dengan Az-Zubair. Ayahnya adalah seorang
pedagang kaya yang sukses (kelak kita mengenalnya sebagai khalifah Rasulullah
yang pertama). Ketika mengungsi ke Yatsrib, Abu Bakar membawa kekayaan yang
bernilai empat puluh ribu dirham Makkah, ukuran yang sangat besar waktu itu. Abu
Bakar memang sangat kaya waktu itu. Tetapi bagaimana dengan keluarga Asma’ binti
Abu Bakar dengan Az-Zubair?
Mari kita dengar penuturan Asma’ binti Abu Bakar:
“Az-Zubair mengawiniku,” kata Asma’, “Di bumi ini dia tidak memiliki harta
atau hamba atau apapun kecuali unta dan kudanya. Akulah yang memberi makan
kudanya, menimba air, menjahit timba airnya (yang terbuat dari kulit) serta membuat
adonan…. Aku juga biasa mengangkut biji kurma dari tanah Az-Zubair yang
diserahkan kepadanya oleh Rasulullah Saw. di atas kepalaku. Tanah itu jauhnya kirakira
dua pertiga farsakh (2 mil)… hingga Abu Bakar mengirimkan seorang pelayan
kepadaku setelah itu untuk menggantikanku mengurusi kuda. Dengan demikian seolah-
olah dia memerdekakanku.” (HR Bukhari dan Muslim).
Salah satu manfaat tinggal di rumah sendiri, baik kontrakan maupun hak milik,
adalah istri bisa berusaha melepaskan ikatan-ikatan keluarganya3 untuk memulai satu
warna kehidupan rumah-tangga yang baru bersama suaminya. Ia belajar mengatur
rumah-tangga sekaligus menyelami pikiran, semangat, dan perasaan suaminya.
Sehingga ia bisa betul-betul mengenal suaminya dengan baik. Ini sangat penting bagi
kelangsungan kehidupan rumah-tangga yang sejuk dan penuh kasih-sayang sesuai
dengan keunikan pribadi masing-masing, sejauh tidak melanggar batas-batas agama.
Kondisi ini merupakan fondasi untuk mendidik anak setelah mereka
mendapatkan amanah tersebut dari Allah Swt. Cita-cita melahirkan keturunan yang
memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah sulit untuk tercapai
jika kedua orangtua anak itu belum memiliki bekal jiwa yang mantap dan kokoh.
Bagaimana orangtua harus memberikan pendidikan yang akan menumbuhkan
syaja’ah (keberanian), iffah (kemampuan menahan diri), dan izzah (harga diri) jika
Kado Pernikahan 158
orang tuanya masih berkubang dengan kurangnya kehangatan dalam hubungan
suami-istri?
Wallahu A’lam bishawab wastaghfirullahal ‘azhim.
Dalam rumah-tangga kita menginginkan kedamaian. Kita mengharapkan suasana
keluarga sakinah mawaddah wa rahmah, sehingga masing- masing anggota keluarga
merasakan rumah mereka sebagai tempat peristirahatan yang memberikan keteduhan
jiwa, kelapangan dan kedamaian. Tetapi adalanya keluarga yang baru belajar
berumah-tangga harus mengalami benturan-benturan sampai menyebabkan mereka
saling mendiamkan.
Situasi semacam ini tidak perlu terjadi. Tetapi adakalanya, situasi konflik yang
lahir karena masing-masing masih kurang mampu menyesuaikan diri, “menuntut”
sikap khusus yang tidak memungkinkan ketika mereka tinggal dalam satu rumah
dengan orangtua atau mertua. Alhasil, mereka harus tampil dengan topeng manis di
depan anggota keluarga lainnya tanpa ada pengendapan masalah secara jernih.
Akibatnya, mereka mengalami konflik-konflik tersembunyi. Na’udzubillahi min
dzalik. Allahu A’lam bishawab.
Saya kira cukup sampai di sini pembicaraan kita tentang manfaat tinggal di
rumah sendiri. Masih ada manfaat lain, yaitu suami-istri bisa belajar bertaba’ul
dengan lebih baik serta lebih memungkinkan terbentuk kedekatan yang lebih erat
antara suami dan istri. Tetapi saya kira lebih baik kita membicarakan beberapa hal
yang perlu kita perhatikan kalau kita akhirnya memutuskan untuk mengontrak rumah.
Adapun bagi Anda yang telah memiliki rumah hak milik, bisa langsung menyimak
bab berikutnya Saat Tepat untuk Berhias. Atau, Anda bisa mempertimbangkan untuk
tinggal bersama orangtua. Tentang ini insya-Allah akan kita bicarakan di bagian akhir
bab ini.
Catatan Ketika Mengontrak Rumah
Sewa-menyewa rumah termasuk salah satu kegiatan muamalah yang
memerlukan perjanjian tertulis. Dalam hukum positif, akta sewa sangat penting untuk
memberi jaminan hukum terhadap transaksi yang terjadi antara penyewa dengan
pihak yang menyewakan sehingga tidak ada pihak yang dirugikan. Baik secara
perdata maupun pidana.
Persoalan ini penting untuk Anda perhatikan, terutama ketika perjanjian sewa
berlaku untuk jangka waktu beberapa tahun dimana selama masa itu banyak
perubahan dan kemajuan yang mungkin terjadi. Anda perlu membuat perjanjian
tertulis yang memiliki kedudukan di hadapan hukum, sehingga Anda maupun pihak
yang menyewakan dituntut untuk memenuhi ketentuan-ketentuan yang berlaku antar
kedua pihak. Pelanggaran atas ketentuan yang disepakati bersama dapat berimplikasi
hukum. Sebaliknya, Anda juga akan memperoleh jaminan hukum karena segala
Kado Pernikahan 159
bentuk tindakan pemilik rumah yang menciderai kesepakatan bersama dapat
mendatangkan sanksi hukum.
Keluarga muda kadang harus menghadapi berbagai masalah karena
ketidaksiapan ketika pemilik rumah secara sepihak menciderai perjanjian, sementara
penyewa tidak bisa berbuat apa-apa karena tidak ada akta perjanjian yang memiliki
kekuatan hukum. Mereka harus panik ketika pemilik rumah mengambil tindakan
sepihak, misalnya dengan menaikkan harga secara tiba-tiba dan harus dipenuhi dalam
tempo yang singkat semata sebagai strategi untuk mengeruk keuntungan secara
sewenang-wenang. Mereka harus kalut karena tidak siap dalam banyak hal.
Ketidaksiapan psikis untuk pindah, ketidaksiapan finansial untuk membayar atau
mencari kontrakan baru, ketidaksiapan sosial untuk secara tiba-tiba menghadapi
masyarakat yang berbeda, ketidaksiapan dalam masalah pendidikan anak-anak yang
juga berarti proses adaptasi ulang yang mendadak serta ketidaksiapan lainnya yang
riskan. Cukup mahal yang harus dibayar atas berbagai ketidaksiapan, terutama yang
harus dibayar oleh anak bagi perkembangan dan pertumbuhannya di masa-masa
berikutnya. Kepribadian anak bisa menjadi fragile (seperti barang yang mudah pecah)
jika peristiwa semacam ini sering terjadi. Kecuali jika Anda mampu menjadi ibu
seperti Khadijah istri Rasulullah.
Keadaan semacam ini tidak hanya bisa membahayakan kondisi psikis anak.
Orangtua pun bisa mengalami masalah berkenaan dengan interaksi sosial maupun
interaksi antar anggota keluarga. Keadaan tempat tinggal yang tidak stabil dan selalu
dihadapkan pada sejumlah kecemasan untuk melakukan penyesuaian diri kembali
secara total akibat tindakan sepihak, dapat mengubah orientasi keluarga. Sehingga
mereka menjadi pribadi-pribadi yang sulit berempati kepada orang lain, sekaligus
mengembangkan sikap-sikap egois. Mereka juga bisa mengembangkan orientasiorientasi
materialis atau bahkan ketidakpercayaan pada akhlak-akhlak suci. Ini
merupakan predisposisi untuk tumbuhnya ideologi-ideologi yang bertentangan
dengan watak suci aqidah Islam.
Ideologi ini bisa jadi tumbuh sebagai sikap hidup sehari-hari sekalipun mereka
tetap merasa Islam sebagai pandang-an dunianya yang otentik. Bisa jadi secara sadar
mereka mengalami perubahan pandangan. Yang pertama sebagai pandangan dunia
aktual saja, sedang yang kedua menjadi pandangan dunia aktual sekaligus tekstual.4
Karena itu, Anda perlu memperhatikan betul masalah-masalah penting yang
berkenaan dengan sewa-menyewa rumah, baik berkenaan dengan aspek hukum
maupun as-pek psikis dan pendidikan. Perjanjian sewa-menyewa secara tertulis yang
memiliki kekuatan hukum perlu Anda perhatikan sekalipun Anda melakukan
transaksi (muamalah) dengan sesama muslim. Apalagi jika Anda berniat melakukan
sewa selama beberapa tahun sementara bea sewa tidak dapat Anda penuhi sekaligus
dalam satu kali pembayaran.
Masalah Anak Ketika Pindah
Kado Pernikahan 160
Keluarga-keluarga muda di masa sekarang semakin banyak yang tinggal di
rumah-rumah kontrakan sampai mereka mempunyai beberapa anak. Bahkan
adakalanya mereka masih tinggal di rumah kontrakan ketika anak-anak mereka sudah
memasuki usia sekolah dasar maupun menengah pertama. Tidak jarang mereka harus
berpindah-pindah karena berbagai alasan, sejak dari pencideraan akad sewa-menyewa
secara sepihak oleh pemilik rumah sampai dengan tuntutan pekerjaan yang
mengharuskan sering berpindah.
Setiap perpindahan ke tempat tinggal baru menuntut penyesuaian diri kembali
secara drastis. Apalagi jika rumah baru yang akan ditempati berada di lokasi yang
sama sekali asing. Tidak ada orang yang telah dikenal sebelumnya.
Keadaan ini dapat menimbulkan masalah, terutama bagi anak usia TK ataupun
awal SD. Karena itu, orangtua perlu mempersiapkan mental anak jauh-jauh hari
sebelum pindah. Kecuali jika Anda terpaksa pindah secara mendadak atau anak Anda
masih bayi (kalau ini, ibunya yang perlu mempersiapkan diri).
Orangtua perlu memberitahukan rencana kepindahan kepada anak beberapa
minggu sebelumnya. Syukur bisa satu atau dua bulan sebelumnya. Selama masa itu,
orangtua bisa memberi gambaran tentang tempat tinggal yang baru dan apa saja yang
bisa dilakukan di sana. Orangtua juga bisa menceritakan mengenai berbagai hal yang
“dapat” menjadi nilai lebih dari tempat tinggal yang baru sehingga menggerakkan
keinginan anak untuk pindah. Ini akan sangat membantu anak untuk mengurangi
stress dan perasaan terasing karena berpisah dari kawan-kawan bermainnya setelah
berpindah.
Keterlibatan orangtua untuk membantu anaknya melakukan penyesuaian diri
sangat diperlukan. Di saat-saat anak masih terasa terasing, orangtua perlu menjadi
kawan yang akrab dan hangat bagi anak-anaknya sehingga mereka tetap bisa
berkembang secara baik. Jika Anda mampu menjadi sahabat yang baik bagi anakanak
Anda, bisa jadi saat-saat seperti ini merupakan kesempatan bagi Anda untuk bisa
menyelami anak Anda secara lebih mendalam dan akrab. Sehingga Anda mengenal
betul anak Anda, dan anak merasa hormat sekaligus sayang terhadap Anda. Ini
membantu Anda menjadi orangtua yang efektif.
Untuk menuju ke arah sana, orangtua dapat melibatkan anak-anak untuk pindah
tempat tinggal sekaligus melakukan penyesuaian diri. Ini dilakukan sejak masa belum
pindah, ketika sedang pindah, sampai dengan awal-awal menjalani kehidupan di
tempat tinggal yang baru. Yang disebut terakhir ini misalnya menemani anak untuk
memperoleh kesempatan bergaul dengan teman sebaya, tanpa menjadikan anak
terhambat proses sosialisasinya. Maksudnya, keterlibatan orangtua jangan sampai
menjadikan teman-teman anak tidak bisa berekspresi sebagai anak-anak karena rikuh
terhadap Anda.
Contoh lain adalah berkenaan dengan proses penyesuaian diri dengan sekolah
yang baru. Orangtua bisa membantu anak melakukan sosialisasi dengan
mengantarkan anak ke sekolah. Membantu anak melakukan penyesuaian diri dan
sosialisasi ini juga bisa Anda lakukan dengan menanyakan perkembangan anak di
Kado Pernikahan 161
sekolah yang baru maupun mengajak anak mengkomunikasikan pengalamanpengalaman
serta perasaannya dalam penyesuaian diri dan bergaul dengan teman
barunya.
Sekali waktu Anda juga bisa memaklumi kebutuhan anak untuk bertemu dengan
teman-teman lamanya di tempat tinggal Anda yang dulu. Anda justru bisa mengajak
anak silaturrahmi ke tetangga-tetangga lama jika memungkinkan.
TINGGAL BERSAMA ORANGTUA
Adakalanya keluarga muda memilih tinggal bersama orangtua, bukan di rumah
kontrakan atau bahkan rumah sendiri. Sebagian memilih tinggal bersama mertua
karena desakan orangtua atau sanak kerabat istri. Sebagian karena desakan ekonomi,
sehingga lebih baik dana yang terbatas dialokasikan untuk kepentingan-kepentingan
lain yang maslahat daripada membayar sewa rumah. Sebagian lagi karena dorongan
untuk berbakti kepada orangtua. Ada juga yang ingin menyenangkan istri dengan
berbagai alasan. Dan mungkin juga ada yang tinggal bersama mertua karena masalah
ini menjadi syarat nikah dari istri ketika suami mengajukan keinginannya untuk
menikahi. Khusus yang terakhir ini, saya tidak membahas di bab ini. Silakan Anda
melihat kembali pada bab “Dimanakah Wanita-wanita Barakah Itu?” di jendela
pertama buku kita ini.
Ada kelebihannya tinggal bersama mertua atau orang-tua5. Mereka telah
memiliki pengalaman hidup yang banyak, sehingga insya-Allah telah cukup arif
untuk memahami masalah-masalah suami-istri yang baru menikah. Mereka dapat
memberi bimbingan kepada anak dan menantunya, sehingga mereka dapat
membangun keluarga dengan kondisi yang lebih baik. Mereka juga bisa memberikan
bantuan-bantuan kepada rumah tangga anaknya, tanpa menjadikan fondasi rumah
tangga anaknya lemah. Sebab kebaikan dapat melemahkan manusia. Al-ihsanu
yu’jizul insan.
Ada sebuah ungkapan yang dinisbahkan kepada Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib6.
Katanya, “Ajaklah bermusyawarah orang yang sudah tua karena mereka telah banyak
pengalaman. Dan mintailah pendapat yang masih muda karena mereka masih jernih.”
Dalam keadaan demikian, tinggal bersama orangtua atau mertua di masa awalawal
menikah bisa justru lebih dekat kepada kemaslahatan. Mereka dapat
membimbing Anda bagaimana menjalankan kehidupan berumah tangga, tanpa
mencampuri perkara-perkara yang mestinya memang diserahkan kepada Anda sendiri
untuk menentukan. Mereka dapat mengarahkan bagaimana Anda harus menjadi suami
dan istri Anda harus mendampingi Anda, tanpa menjadikan Anda berdua mengalami
ketegangan dan konflik-konflik psikis.
Orangtua yang bagus agamanya, insya-Allah dapat bertindak demikian. Mereka
tahu apa yang menjadi hak menantu atas mertua. Juga, mereka insya-Allah dapat
Kado Pernikahan 162
memahami batas-batas kewajiban seorang menantu. Hak menantu atas mertua antara
lain “pembelaan” ketika menghadapi konflik.
Sejauh yang saya pahami, Islam menggariskan bahwa mertua merupakan
pembela bagi menantu ketika menengahi masalah. Mereka membela menantunya,
bukan anaknya. Mereka merupakan sumber rasa aman bagi menantu sekaligus
membantu dalam proses ishlah (perbaikan hubungan) ketika masalah yang ada pada
mereka tidak dapat diselesaikan sendiri. Sekalipun demikian, tentu saja mereka tetap
dituntut untuk adil terhadap anaknya sendiri maupun menantu.
Jadi, orangtua suami merupakan “pembela” sekaligus sumber rasa aman bagi
istri. Sementara orangtua istri merupakan “pembela” bagi suami. Bukan sebaliknya,
menjadi sumber ketegangan dan perasaan tertekan karena adanya berbagai tuntutan
yang ditujukan kepada menantunya.
Ketegangan dan konflik psikis ini rentan muncul ketika orangtua atau saudarasaudara
perempuan suami sudah memiliki sikap “seharusnya seorang istri itu
sikapnya begini atau begitu”. Ketika sikap semacam ini muncul, yang terjadi adalah
pihak keluarga suami mengembangkan tuntutan-tuntutan psikis terhadap istri. Padahal
ketika seseorang memiliki tuntutan psikis untuk memperoleh perlakuan dari orang
lain, ia akan berkurang kepekaannya terhadap kebaikan yang ada.
Masalah ini riskan, terutama jika terdapat dua hal. Pertama, tidak terbangun
komunikasi yang baik antara suami dan istri. Kurang bagusnya komunikasi bisa jadi
karena mereka mengalami kekalutan emosi, sehingga cenderung melihat masalah
dengan satu arah. Bisa jadi karena belum matangnya kedua pihak, terutama suami,
sehingga menghasilkan komunikasi yang cenderung koersif (memaksa)7.
Kedua, orangtua memiliki prasangka yang kurang baik tentang iktikad
menantunya, sehingga dapat menjadi self-fulfilling prophecy (nubuwwah yang
dipenuhi sendiri). Ini bisa membawa ke persoalan psikis yang akumulatif. Orang tua
tetap mengingat “kesalahan-kesalahan” menantunya yang terjadi di masa lalu.
Ada berbagai hal yang dapat menyebabkan terjadinya kondisi yang demikian,
khususnya dampak akumulatif. Salah satunya yang cukup rentan adalah kebiasaan
untuk saling menceritakan kekecewaan dan secara bersama-sama mengembangkan
sikap minor. Dalam keadaan demikian, masing-masing pihak tidak berusaha untuk
memberikan interpretasi terbaik terhadap sikap atau perkataan pihak lain.
Tentang ini, Rasulullah Saw. mengingatkan, “Jika engkau mendengar sesuatu
yang mungkin diucapkan oleh saudaramu, berikan interpretasi yang terbaik sampai
engkau tidak dapat menemukan alasan untuk melakukannya.”
Ketika Imam Ahmad ibn Hanbal ditanya mengenai hadis ini, beliau berkata,
“Carilah alasan untuknya dengan mengatakan mungkin dia berkata begini, atau
mungkin maksudnya begini.”
Kado Pernikahan 163
Saya tidak berani meneruskan pembicaraan tentang masalah ini. Hanya kepada
Allah kita berharap, mudah-mudahan Allah memperbaiki lisan kita dan menjaminkan
bagi kita beserta keturunan kita keselamatan dunia akhirat. Allahumma amin.
Selain masalah komunikasi, terutama jika tidak ada budaya tabayyun
(mengklarifikasi informasi), ada beberapa hal yang bisa menyebabkan munculnya
konflik. Konflik ini mungkin bersifat internal, mungkin bersifat eksternal.
Konflik internal lebih bersifat beban psikis. Mereka mengalami konflik batin,
tetapi tidak sampai muncul ke permukaan sehingga tidak menimbulkan pertengkaran.
Namun demikian masalah semacam ini dapat muncul dalam bentuk lain, misalnya
sikap mereka atau salah satu di antara mereka terhadap orang lain. Bisa juga sikap
mereka terhadap anak.
Sebagian sistem perkawinan juga potensial menimbulkan masalah. Hanya saja,
pembicaraan tentang masalah ini perlu tempat khusus agar cukup leluasa untuk
mendalami. Saat ini cukuplah saya garis bawahi bahwa sejauh pemahaman saya,
Islam menetapkan prinsip kesederhanaan dan kemudahan. Sederhana dalam proses,
sederhana dalam pelaksanaan. Mudah dalam proses, mudah dalam pelaksanaan.
Sejauh memenuhi ketentuan minimal; ada kedua mempelai, ada wali, ada saksi, dan
ada mahar, cukuplah. Selanjutnya, suami dapat melaksanakan walimah –meskipun
hanya dengan seekor kambing– setelah memboyong istrinya ke rumah.
Beberapa hal yang bisa menjadi sumber masalah, antara lain:
Anak yang Diharapkan
Ada anak yang sangat diharapkan oleh keluarga dan sanak saudara. Ia menjadi
orang yang dibanggakan. Ia menjadi orang yang diperhatikan dan didengarkan.
Keluarga merasa kurang lengkap kalau ia tidak hadir dalam acara yang khas keluarga.
Anak yang diharapkan bisa juga karena keluarga bertumpu kepadanya untuk
melanjutkan garis kehormatan keluarga; untuk melanjutkan klan keluarga –apa pun
istilahnya.
Posisi sebagai anak yang diharapkan dapat menjadikan istri pilihannya lebih
mudah diterima dan dipahami oleh keluarga. Keluarga memberi dukungan yang
penuh dan tulus kepada menantunya, sehingga memudahkan dia dalam penyesuaian
diri. Bisa juga sebaliknya, keluarga bias dengan sikapnya terhadap orang yang
sekarang menjadi suami Anda. Keluarga biasa memperlakukannya sebagai porselen
antik, sehingga mereka mengharapkan Anda memperlakukan suami (juga
keluarganya, barangkali) sebagai porselen antik. Padahal Anda dan suami
menghendaki pola interaksi yang berbeda.
Kado Pernikahan 164
Keluarga yang Menuntut
Sikap menuntut kadang menimbulkan masalah. Ini terutama jika tidak diimbangi
dengan kelapangan hati bahwa setiap orang memiliki sejarah hidup dan sejarah
keluarga sendiri. Setiap orang memiliki pengalaman hidup yang berbeda. Setiap orang
tumbuh dan berkembang dalam keluarga yang berbeda-beda keadaannya maupun
kerangka sikapnya. Pola berpikir antara dua orang bersaudara saja bisa berbeda.
Sikap menuntut yang tidak diimbangi dengan penerimaan tentang keunikan
perkembangan setiap manusia, menyebabkan keluarga tidak mau mengerti mengenai
proses belajar. Mereka menuntut menantunya untuk bisa bersikap dan berperilaku
sesuai “standar nilai keluarga” dengan tidak memberi permakluman bahwa untuk itu
orang membutuhkan waktu. Waktu untuk belajar, waktu untuk menyesuaikan diri,
dan waktu untuk mensinkronkan nilai-nilai yang ada dalam dirinya.
Di sinilah perlu komunikasi yang baik. Setiap kita wajar memiliki tuntutan. Yang
kita perlukan adalah mempertemukan tuntutan-tuntutan itu agar tidak menjadi
benturan yang keras.
Saudara Perempuan Serumah
Salah satu hal yang riskan ketika saudara perempuan serumah dengan istri adalah
pembandingan. Saudara perempuan membandingkan dengan apa yang ideal
menurutnya terhadap iparnya; membandingkan dirinya atau bahkan ibu dan kerabat
dengan iparnya. Masalah juga bisa muncul jika saudara perempuan memiliki
kecemburuan terhadap iparnya karena “telah mengambil” perhatian saudaranya.
Masalah ini ketika disimak kadang terasa lucu. Akan tetapi, peristiwa semacam
ini acapkali memang terjadi. Meskipun demikian, tentu saja Anda jangan
menggeneralisir sehingga menyamaratakan. Kehadiran saudara perempuan serumah
kadang malah sangat positif karena mau memahami, mendampingi, membimbing ipar
dalam memahami suaminya. Ini memudahkan istri mengenali dan menyesuaikan diri
dengan suaminya.
***
Insya-Allah benturan-benturan tidak akan terjadi seandainya keluarga
memahami agama, sehingga mereka menghormati kedudukan menantu dan saudara
ipar dalam rumah serta memahami batas-batas hak dan kewajiban. Benturan kadang
muncul karena tuntutan maupun penilaian didasarkan pada standar nilai pribadi yang
kadang tidak jelas ukurannya.
Selain itu, peran suami dalam menyelaraskan sikap keluarga dengan istrinya
sangat banyak menentukan. Misalnya berkenaan dengan kecemburuan saudara
perempuannya, ia dapat menetralisir sejak awal.
Kado Pernikahan 165
Pada akhirnya, memang kedewasaan sikap dari kita yang banyak menentukan.
Masalahnya, apakah kita selama ini telah cukup dewasa dalam mengarifi kehidupan
kita? Itulah!
PRIORITAS TEMPAT TINGGAL
Setelah menikah, maka yang harus ditaati pertama kali oleh seorang suami
adalah orangtua, terutama ibunya. Sedang bagi istri, yang pertama kali harus dipatuhi
adalah suaminya. Suami berkewajiban menyediakan tempat tinggal bagi istri. Sebagai
imbangan, istri harus bersedia bertempat tinggal di mana pun, sejauh suami tidak
menjerumuskan dengan menempatkannya pada lingkungan yang rusak dan penuh
kefasikan (naudzubillahi min dzalik).
Kalau suatu saat mereka dihadapkan pada pilihan untuk tinggal bersama
orangtua agar bisa berkhidmat kepada mereka, sedangkan orangtua dari kedua belah
pihak menghendaki, maka yang perlu diprioritaskan pertama kali adalah orangtua
suami. Sesudah itu, baru orangtua istri. Meskipun demikian, jalan musyawarah adalah
lebih baik, sehingga tercapai kemaslahatan bersama.
Ada hukum. Ada kearifan (tanpa merusak hukum).
Sampai di sini pembahasan kita tentang tempat tinggal. Semoga bermanfaat.
Semoga Allah Swt. memberikan barakah dan ampunan-Nya. Allahumma amin.
Catatan Kaki:
1. Periksa misalnya dalam buku Suami-Istri Islami karya Dr. Musa Kamil terbitan
Remaja Rosdakarya, Bandung, 1997.
2. Penjagaan terhadap privacy istri ini terutama menonjol pada pandangan mazhab
Hanafi. Menurut mazhab Hanafi, suami harus menyediakan tempat tinggal
untuk istrinya di satu rumah yang terpisah, tidak ada seorang pun keluarganya di
situ, kecuali yang dikehendaki oleh istrinya.
3. Melepaskan ikatan keluarga tidak dalam pengertian mengurangi silaturrahmi,
apalagi sampai memutus. Melepaskan ikatan keluarga berarti melepaskan pola
berumahtangga sebagaimana yang diterimanya dalam keluarga orangtua, untuk
kemudian bisa memulai pola kehidupan berumahtangga sebagaimana
dikehendaki oleh kedua pihak: suami dan istri. Semoga dengan demikian, lebih
mudah mencapai keharmonisan dan kekukuhan. Wallahu A’lam bishawab.
Kado Pernikahan 166
4. Pembahasan mengenai pandangan-dunia aktual dan pandangan-dunia tekstual
silakan lihat pada buku Mendidik Anak menuju Taklif (Pustaka Pelajar,
Yogyakarta, 1996).
5. Dalam bab ini, jika saya menyebut kata mertua dan orangtua secara bersamaan,
maka kata mertua berarti orangtua istri. Sedang kata orangtua berarti orangtua
suami. Ini karena yang berkewajiban menyediakan tempat tinggal adalah suami,
sehingga pembicaraan ini seakan-akan saya tujukan kepada suami. Meskipun
sesungguhnya juga perlu dibaca oleh istri karena istri juga bisa ikut memberi
pertimbangan.
6. Saya belum menemukan sumber tertulis apakah qaul (pendapat, nasehat) ini
memang berasal dari beliau r.a. atau tidak. Karena itu saya tidak memastikan
bahwa qaul ini berasal dari beliau. Meskipun demikian dari isinya, insya-Allah
kita bisa mengambil beberapa pelajaran yang bermanfaat.
7. Coercive-communication adalah pola komunikasi yang memberi efek perasaan
dipaksa atau terpaksa pada orang yang diajak berkomunikasi. Pembahasan lebih
lanjut tentang coercive communication bisa Anda baca pada bab Komunikasi
Suami-Istri di jendela ketiga buku ini.
Kado Pernikahan 167
Bab 12
Saat Tepat untuk Berhias
bdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu biasa membaca Al-Qur’an, kata
Al-Qasim bin Abdurrahman. Jika sudah selesai membaca dia bertanya,
“Mana orang-orang yang masih bujangan?” Kemudian ia berkata lagi,
“Mendekatlah ke sini, kemudian katakan, ‘Ya Allah anugerahilah aku
seorang wanita yang apabila kupandang dia membuatku senang, jika kusuruh dia
menurutiku, dan jika aku meninggalkannya dia menjaga dirinya dan hartaku’.”
Adalah kebahagiaan seorang laki-laki ketika Allah menganugerahkan kepadanya
seorang istri yang apabila ia memandangnya, ia merasa semakin sayang. Kepenatan
selama di luar rumah, terkikis ketika memandang wajah istri yang tercinta.
Kesenangan-kesenangan di luar, tak menjadikan suami merasa jengah di rumah.
Sebab surga ada di rumahnya. Baiti jannati. Rumahku surgaku.
Kebahagiaan ini lahir dari istri yang apabila suami memandangnya, membuat
suami semakin bertambah kuat jalinan perasaannya (‘athifah). Wajah istri adalah
keteduhan, telaga yang memberi kesejukan ketika suami mengalami kegerahan.
Barangkali ungkapan Sayyidina Ali bin Abi Thalib karamallahu wajhahu tentang
istrinya, Fathimah binti Rasulullah, merupakan gambaran sempurna tentang istri yang
apabila dipandang membuat suami merasa semakin sayang. Kata Sayyidina Ali,
“Ketika aku memandangnya, hilanglah kesusahan dan kesedihanku.”
Lalu apakah yang ada pada diri seorang istri, sehingga ketika suami
memandangnya semakin besar rasa sayangnya? Konon, seorang laki-laki akan mudah
terkesan oleh kecantikan wajah. Sempurnalah kebahagiaan seorang laki-laki jika ia
mempunyai istri yang wajahnya cantik memikat.
A
Kado Pernikahan 168
Tetapi asumsi ini segera dibantah oleh dua hal. Pertama, bantahan berupa faktafakta.
Kedua, bantahan as-Sunnah dari Rasulullah Muhammad Saw.
Konon, Christina Onassis mempunyai wajah yang sangat cantik. Ia juga
memiliki kekayaan yang sangat besar. Mendiang ayahnya meninggalkan harta
warisan yang berlimpah, antara lain kapal pesiar pribadi dan pulau milik pribadi juga.
Telah beberapa kali menikah, tetapi Christina harus menghadapi kenyataan pahit.
Seluruh pernikahannya berakhir dengan kekecewaan. Terakhir, ia menutup kisah
hidupnya dengan satu keputusan: bunuh diri.
Christina memiliki kecantikan wajah yang memikat. Banyak laki-laki yang
mengaguminya. Tetapi perkawinannya tak pernah lama. Mereka yang dulu sangat
mengaguminya, menyudahi perkawinan Christina dengan bercerai. Kecantikan wajah
tidak membuat suaminya semakin sayang ketika memandangnya. Jalinan perasaan
(‘athifah) antara Christina dan suami-suaminya tidak semakin kuat.
Kasus Christina memberi pelajaran bagi kita bahwa bukan kecantikan wajah
secara fisik yang dapat membuat suami semakin sayang ketika memandangnya. Ada
yang bersifat psikis, atau lebih tepatnya lebih bersifat qalbiyyah.
Christina Onassis tidak sendirian. Ada kasus-kasus lain, baik yang mencuat ke
permukaan maupun tidak. Tetapi bukan bagian kita saat ini untuk mengkompilasi
kasus-kasus seperti yang dialami oleh putri Onassis ini. Cukuplah kasus Christina
Onassis sebagai bantahan pertama. Rasa cinta dan ‘athifah (jalinan perasaan) bukan
tumbuh dari wajah yang mempesona.

“Engkau tak mungkin
dapat mencukupi kebutuhan semua orang
dengan hartamu;
karenanya, cukupilah mereka semua
dengan wajahmu yang gembira
dan watak yang baik.”

Dalam bentuk sederhana, kita mendapati di sekeliling kita bahwa orang lebih
mudah tersentuh hatinya oleh keramahan dan kelembutan daripada keelokan wajah.
Sikap yang baik meluluhkan hati manusia sehingga di hatinya tumbuh kasih-sayang.
Sedang kecantikan wajah segera sirna pesonanya ketika ia menampakkan sikap
kurang bersahabat, keras hati, dan meninggikan diri. Allahu A’lam bishawab.
Dari bantahan pertama yang berupa fakta, marilah kita memeriksa bantahan
kedua, yaitu hadis Nabi Muham-mad Saw. Rasulullah al-ma’shum pernah bersabda,
Kado Pernikahan 169
“Janganlah kamu menikahi seorang wanita karena kecantikannya, mungkin saja
kecantikannya itu membuatnya hina. Janganlah kamu menikahi seorang wanita
karena hartanya, mungkin saja harta itu membuatnya melampaui batas. Akan tetapi
nikahilah seorang wanita karena agamanya. Sebab, seorang budak wanita yang
shaleh, meskipun buruk wajahnya, adalah lebih utama.” (HR Ibnu Majah).
Ada lagi hadis yang sangat populer di kalangan kita tentang kriteria wanita yang
akan dinikahi. Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah Saw. bersabda, “Biasanya wanita
dikawini karena empat (hal): karena hartanya, karena kebangsawanannya, karena
kecantikannya, dan karena agamanya (akhlaknya). Maka pilihlah yang beragama
(berakhlak) semoga beruntung usahamu.” (HR Bukhari & Muslim).
Lalu, apakah hadis-hadis tersebut tidak bertentangan dengan sebuah hadis yang
diriwayatkan oleh Al-Khathib? Al-Khathib meriwayatkan sebuah hadis yang
berbunyi, “Memandang wajah yang tampan atau cantik dapat menjernihkan mata,
sedangkan memandang wajah yang jelek mengakibatkan wajah masam dan
cemberut.”
Sebelum berbicara lebih lanjut, mari kita dengarkan penjelasan pakar hadis
zaman ini, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani. Dalam Silsilah Hadits Dha’if
dan Maudhu’, Al-Albani menyatakan bahwa hadis itu maudhu’. Palsu. Dengan
demikian sama sekali tidak tidak bisa dipakai sebagai argumentasi (hujjah) yang
dapat diterima.
Al-Albani lebih lanjut menegaskan, “Umumnya perawi ini meriwayatkan haditshadits
munkar, bahkan saya yakin bahwa dialah yang memalsu hadits ini. Demikian
pernyataan Ibnu Adi.”
Ada hadis-hadis serupa dengan ini, tetapi kedudukannya juga maudhu’ (palsu).
Karena itu, saya kira saya tidak perlu menambahkan di sini. Cukuplah penjelasan
tentang kemaudhu’an satu hadis di atas sebagai penguat bahwa kesejukan ketika
memandang sehingga perasaan ini semakin sayang, letaknya bukan pada keelokan
rupa secara zahir. Ada yang lebih bersifat bathiniyyah. Lebih bersifat psikis. Lebih
lanjut tentang masalah ini bisa Anda baca pada bab Ada Keindahan Yang Lebih
Besar.
Sekalipun demikian, perhatian terhadap kecantikan yang bersifat psikis
hendaknya tidak melalaikan wanita untuk merawat kecantikan fisiknya. Seorang
wanita shalihah insya-Allah akan merawat kecantikannya dan berdandan untuk
suaminya, justru karena rasa sayangnya yang sangat besar terhadap suami dan
terutama karena kesadarannya tentang kewajiban untuk menjadikan pandangan mata
suaminya sejuk ketika memandangnya. Dengan demikian suami tak tergerak untuk
memandang yang lain. Ia mencukupkan diri dengan hanya memandang istrinya.
Saya jadi teringat kepada sebuah hadis Nabi. Dari Anas radhiyallahu ‘anhu, Ad-
Dailami meriwayatkan bahwa Nabi Saw. bersabda, “Sebaik-baik istri kamu ialah
yang menjaga diri lagi pandai membangkitkan syahwat, yaitu keras menjaga
kehormatannya, pandai membangkitkan syahwat suaminya.”
Kado Pernikahan 170
Muhammad Utsman al-Khasyat menulis di dalam buku Muslimah Ideal Di Mata
Pria tentang penampilan fisik bagi wanita. Kata al-Khasyat, “Setiap wanita sangat
membutuhkan penampilan fisik. Ia juga mesti bertingkah-laku wanita dan berusaha
menampakkan kelembutan dan daya tariknya. Wanita seperti ini menunjukkan
penghormatan kepada kewanitaannya dan memperlihatkan keinginannya untuk
menarik perhatian suaminya.”
Seorang istri shalihah yang mencintai suaminya akan berusaha merawat
kecantikannya untuk menyejukkan pandangan mata suami, sehingga tidak
memandang wanita ajnabi yang bukan haknya. Ia berhias ketika di rumah, dan tidak
melakukannya ketika keluar rumah. Di saat ia berada di samping suaminya, ia bisa
memakai parfum yang menghangatkan penciuman suami. Tetapi tidak memakainya
ketika keluar, karena untuk ke masjid saja ia harus membersihkannya sampai tak
tercium baunya kalau pada saat itu ia sedang berparfum.
Lebih lanjut silakan periksa kembali bab Memasuki Malam Zafaf pada
pembahasan tentang sebaik-baik perhiasan bagi laki-laki dan perempuan.
Berhias bagi seorang istri untuk suaminya termasuk perbuatan yang mempunyai
nilai ‘ibadah. Demikian juga bagi suami, sunnah berhias bagi istrinya sekalipun ada
perbedaan antara berhias bagi laki-laki dan berhias bagi wanita. Mengharumi tubuh
merupakan salah satu sunnah dalam berhias bagi seorang laki-laki.
Rasulullah Saw., kata Muhammad Abdul Halim Hamid dalam buku Bagaimana
Membahagiakan Istri (Citra Islami Press, Solo, 1996), adalah orang yang paling
wangi baunya. Beliau mencintai wewangian dan memerintahkan sahabat-sahabatnya
untuk memakainya. Bau wewangian juga merupakan faktor penguat ikatan cinta
suami-istri dan menjauhkan dari rasa sebal.
Wallahu A’lam bishawab.
Seorang istri bisa berhias untuk suaminya kapan saja, sejauh tidak menyebabkan
kewajibannya terlalaikan. Tetapi ada tiga waktu yang insya-Allah tepat untuk berhias,
yaitu ketika suami akan pergi, ketika suami pulang, dan ketika berangkat ke
pembaringan. Tiga waktu ini memberi kesan khusus bagi suami, sehingga lebih
berarti dibanding waktu lain kecuali saat berjima’ dan saat suami sedang manja.
Wallahu A’lam.
Ketika Suami Akan Pergi
Pada awal berumah-tangga, seorang istri mungkin bisa berhias secara sempurna.
Tetapi ketika anak sudah banyak, agaknya repot bagi istri untuk berhias secara
sempurna setiap pagi ketika akan melepas suaminya berangkat bekerja. Urusan
dengan anak, terutama ketika anak masih balita, cukup menyita waktu dan perhatian.
Sekalipun demikian, hendaklah istri bisa menyisakan waktu untuk berhias bagi
Kado Pernikahan 171
suaminya agar ketika suami berangkat yang terakhir dilihatnya adalah wajah istri
yang cantik dan menyejukkan.
Berhias ketika suami akan berangkat kerja, tidak mesti harus mempercantik diri
dengan alat kosmetik. Di saat sangat repot mengurusi anak, agaknya menjaga
kebersihan muka yang berseri-seri telah cukup untuk merawat jalinan perasaan suami
kepada Anda. Ini terutama ketika Anda menemaninya di meja makan, saat-saat yang
berarti bagi suami sebelum berangkat kerja.
Suasana di meja makan, kata Muhammad Abdul Halim Hamid, dapat digunakan
untuk menunjukkan rasa kasih-sayang, demikian juga ketika Rasulullah Saw. sedang
menyantap hidangan dengan istrinya. Ia mengambilkan makanan, menyuapkannya
dan demikian pula sebaliknya. Ia meminum di tempat istrinya dan demikian pula sang
istri berbuat yang sama. Begitu Muhammad Abdul Halim Hamid menulis di bukunya.
Dari Aisyah r.a., ia berkata, “Suatu saat ketika saya haid saya minum dengan
gelas Rasulullah Saw., kemudian beliau meminum di tempat saya meletakkan mulut.
Ketika saya haid dan tubuh saya berkeringat, saya memberikan gelas kepada
Rasulullah dan beliau meminumnya di tempat mana saya meminum.” (HR Muslim).
Sekali lagi, dalam kehidupan sehari-hari istri Anda mungkin tidak bisa berhias
dengan sempurna setiap Anda akan berangkat kerja karena banyaknya kesibukan
yang harus ia jalani sebagai istri, ibu dan kepala rumah-tangga (sedang Anda sebagai
kepala keluarga). Apalagi jika anak sudah banyak, sebagian masih kecil dan
membutuhkan banyak perhatian. Sedangkan yang ada dalam kandungan sudah
mencapai usia tujuh bulan.
Ia mungkin tidak sempat memakai ghumrah (pemerah pipi dari za’faran),
padahal Anda termasuk suami yang menyukai melihat wajah istri yang memerah
lembut. Dan Anda pun termasuk suami yang mengharapkan dapat merasakan aroma
mewangi ketika mengecup istri menjelang berangkat kerja atau pergi jauh.
Ia mungkin juga tidak sempat untuk memberi khidhab (pewarna telapak tangan),
jika sebelumnya ia biasa memakai untuk Anda. Ia juga tidak mempercantik dirinya
dengan sesuatu yang sangat Anda sukai. Semua itu bukan karena cintanya kepada
Anda telah berkurang. Tetapi karena besarnya perhatian dan tanggung jawab istri
Anda terhadap anak-anak. Dalam hal ini, Anda perlu memahami dan menerima istri
Anda.
Ada satu catatan. Pagi hari merupakan stressful-time (waktu yang paling mudah
menimbulkan stres) bagi hampir semua anggota keluarga, terutama keluarga yang
tidak memiliki pembantu. Apalagi pada masa sekarang, ketika pendidikan anak
umumnya diserahkan kepada lembaga pendidikan formal, sejak dari TK (bahkan
play-group) sampai dengan SLTA, stres “pagi hari” lebih mudah muncul. Ibu sibuk
memandikan si kecil yang baru menginjak usia satu setengah tahun sambil tetap
menjaga agar nasinya tidak hangus. Sementara kakaknya yang usia 5 tahun bersiapsiap
untuk pergi ke TK bersama kakaknya yang akan belajar di SD. Belum lagi harus
mengurusi Anda yang kadang juga meminta perhatian hampir sama besarnya dengan
Kado Pernikahan 172
anak yang sudah duduk di SMP. Praktis, istri tidak bisa setiap hari berhias secara
sempurna.
Meskipun demikian, seorang istri ada baiknya untuk tetap mengusahakan agar
dapat kelihatan berseri-seri ketika menemani suami makan dan melepasnya pergi.
Menata rambut secara sederhana (kalau di hadapan suami kan nggak apa-apa
melepas jilbab) dan membersihkan muka sekedarnya dengan air (tanpa lotion
pembersih muka), cukuplah. Asal tidak awut-awutan. Apalagi kalau setiap pagi
begitu.
Adapun kalau Anda ingin membahagiakan suami dengan berhias secara
sempurna, maka yang demikian ini lebih baik. Insya-Allah pandangan mata suami
Anda akan lebih terjaga, sehingga hatinya juga ikut terjaga. Tetapi Anda tetap perlu
memperhatikan siapa suami Anda. Sebab Anda berhias untuk suami Anda seorang.
Sebagian suami senang melihat istri yang memakai kosmetik. Sebagian ada yang
senang kalau istrinya polos. Tidak menggunakan alat-alat kosmetik apa pun meskipun
hanya untuk di rumah. Bahkan bedak pun tidak, karena kecantikan memancar dari
jiwa. Sebagian senang melihat istrinya memakai ghumrah (pemerah pipi) dan lipstik
saat di rumah. Tetapi ada juga yang tidak suka kalau istrinya memakai lipstik karena
merasa seronok.
Nah, Anda perlu memperhatikan masalah-masalah se-macam ini disamping
memperhatikan kesukaan Anda sendiri. Biarlah sekali waktu suami Anda tertegun
ketika melihat Anda.
Masih ada satu catatan lagi. Seorang istri hendaknya menjaga diri agar tidak
berlebihan dalam berhias, baik dalam pemakaian alat kosmetika dan perhiasan
maupun waktu yang dihabiskan untuk berhias. Terkadang ada wanita yang karena
kurang percaya diri atau karena kecenderungan untuk mengagumi kecantikan dirinya
secara berlebihan, menjadikan dirinya tidak dapat mengendalikan keinginan untuk
menggunakan berbagai alat kosmetik. Begitu juga terhadap mode-mode pakaian,
tidak terkecuali busana muslimah. Juga, terkadang ada wanita yang senang berlamalama
mematut diri di depan cermin untuk berhias. Begitu lamanya ia berhias sampai
ia tertegun kagum memandang dirinya. Sementara suami bosan menunggu dan
sampai menyebabkan dirinya merasa jengkel.
Hal semacam ini perlu dihindari oleh seorang istri shalihah. Berhias untuk suami
itu baik. Berhias itu fithrah. Apalagi bagi seorang wanita. Ia bisa memperoleh
kebahagiaan di dalamnya. Tetapi ia harus memperhatikan agar tidak sampai
berlebihan. Selebihnya, bagi Anda yang ingin membaca lebih jauh silakan periksa
buku Muslimah Ideal Di Mata Pria karya Muhammad Utsman al-Khasyat.
Sebaliknya, seorang suami juga perlu belajar memahami istrinya. Kalau Anda
cukup lima atau sepuluh menit saja untuk berhias, maka tidak demikian untuk istri
Anda. Perawatan tubuh pada laki-laki berbeda dengan wanita. Kecenderungan
alamiah maupun proses belajar antara Anda dan istri Anda juga berbeda. Jumlah
penampang penghasil bau badan juga berbeda. Wanita memiliki apocrine yang
Kado Pernikahan 173
menghasilkan bau badan khasnya, 70% lebih banyak dibanding laki-laki, meskipun
ada sebagian laki-laki yang apocrinenya cukup besar.
Jadi pahamilah istri Anda kalau ia membutuhkan waktu yang lebih banyak untuk
berhias. Terimalah istri Anda. Insya-Allah Anda akan mendapati istri Anda semakin
sayang kepada Anda. Dan Anda pun merasa semakin sayang ketika memandang
wajahnya yang bersih dan bola matanya yang memancarkan rasa cinta dan kerinduan
halus kepada Anda.
Ketika Suami Pulang
“Engkau,” kata Rasulullah Saw., “tak mungkin dapat mencukupi kebutuhan
semua orang dengan hartamu; karenanya, cukupilah mereka semua dengan wajahmu
yang gembira dan watak yang baik.” (HR Al-Hakim dalam Mustadrak).
Rumah bukan hanya rumah, kata Ruqayyah Waris Maqsood. Rumah adalah
tempat berlindung, tempat yang memberikan ketenteraman, kedamaian, tempat
berbagai hal, dan tempat rizki. Ketenteraman dan keteduhan jiwa bagi istri. Juga
tempat suami menemukan ketenangan. Rumah adalah surga bagi penghuninya
(mudah-mudahan Allah menjadikan rumah kita termasuk yang demikian. Amin).
Ketika seorang suami mengalami kepenatan selama di luar rumah, terutama
kepenatan-kepenatan yang bersifat psikis, maka ia mendapatkan kegairahan dan
semangat baru ketika bertemu dengan istrinya di rumah. Sambutan yang hangat
disertai senyum mesra dan pandangan mata yang menampakkan kerinduan,
meluluhkan rasa capek dan mungkin juga gumpalan-gumpalan emosi di luar rumah.
Apalagi jika suami sedang menghadapi pekerjaan yang memeras energi psikis, maka
yang dapat menyejukkannya adalah wajah yang gembira dan watak yang baik. Begitu
pelajaran yang bisa kita tarik dari hadis riwayat Al-Hakim di awal sub bab ini. Atau
pada saat tertentu suami harus mencari pangkuan istri untuk menemukan kedamaian
ketika merebahkan kepalanya. Suatu ketika mungkin Anda akan benar-benar
menjumpai suami Anda berharap bisa merebahkan kepalanya di pangkuan Anda
(sebagaimana, Anda akan mencari dada suami di saat ada air mata yang harus
ditumpahkan dan luapan perasaan yang ingin Anda bagi tanpa dinyatakan secara
lisan).
Inilah salah satu manfaat perkawinan yang barakah: menghidupkan kembali
semangat dan kekuatan saat bertemu istri di rumah. Imam Al-Ghazali menulis, “Salah
satu manfaat perkawinan adalah kenikmatan mempunyai pendamping dan
memandangnya dan dengan berbagi kegembiraan bersamanya membuat hati
disegarkan kembali dan diperkuat untuk mengabdi kepada Allah; karena jiwa
cenderung mengalami kebosanan dan cenderung untuk mengelak kewajiban sebagai
sesuatu yang tak wajar. Jika jiwa dipaksa untuk melakukan sesuatu yang tak
disukainya, maka ia akan mengeluh dan mundur, tetapi jika dihidupkan kembali
Kado Pernikahan 174
dengan kesenangan dari waktu ke waktu maka ia akan memperoleh kekuatan dan
semangat baru.”
Sempurnalah perkawinan dan kebahagiaan yang dirasakan ketika rumah
memberi kedamaian dan penuh kasih-sayang (sehingga anak-anak kelak tak ingin lari
dari rumah). Sempurnalah kebahagiaan ketika suami semakin sayang setiap
memandang wajah istrinya yang semata wayang.
“Tiga kunci kebahagiaan seorang laki-laki,” kata Rasulullah Saw., “istri
shalihah yang jika dipandang membuatmu semakin sayang dan jika kamu pergi
membuatmu merasa aman, dia bisa menjaga kehormatan dirinya dan hartamu;
kendaraan yang baik yang bisa mengantar ke mana kamu pergi; dan rumah yang
damai yang penuh kasih-sayang. Tiga perkara yang membuatnya sengsara adalah
istri yang tidak membuatmu bahagia jika dipandang dan tidak bisa menjaga lidahnya
juga tidak bisa membuatmu merasa aman jika kamu pergi karena tidak bisa menjaga
kehormatan diri dan hartamu; kendaraan rusak yang jika dipakai hanya membuatmu
lelah namun jika kamu tinggalkan tidak bisa mengantarmu pergi; dan rumah yang
sempit yang tidak kamu temukan kedamaian di dalamnya.”
Di saat suami pulang dari bepergian (terutama bepergian jauh), istri diharapkan
dapat menyambutnya dengan kegembiraan wajah, kehangatan senyuman, dan diri
dalam keadaan berhias. Barangkali, dibanding berhias saat suami akan pergi, berhias
ketika suami pulang jauh lebih besar maslahat dan manfaatnya. Kepercayaan dan rasa
cinta yang mendalam, bisa disuburkan dari sini. Kepercayaan dan rasa sayang suami
kepada istri, juga kepercayaan dan kesetiaan istri kepada suami, insya-Allah akan
berkembang dari sini.
Begitu pentingnya berhias dan menampakkan kehangatan sikap ketika suami
pulang, sehingga Rasulullah Saw. melarang suami pulang mendadak di malam hari
agar istri berkesempatan untuk membersihkan diri dan merapikan dandanan terlebih
dulu. Yang demikian ini juga dimaksudkan agar kepulangan suami yang
mengagetkan, tidak menumbuhkan bibit rasa tidak suka dalam diri istri terhadap
suami.
Khath Arab
Dari Jabir r.a., sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda, “Bila salah seorang
dari kalian bepergian untuk waktu lama, janganlah pulang menemui istri pada
malam hari.” (Muttafaqun ‘alaih).
Mengapa suami yang habis bepergian jauh untuk waktu yang lama tidak
diperkenankan pulang mendadak? Ada tujuannya. Dari Jabir r.a., Rasulullah Saw.
bersabda:
Kado Pernikahan 175
Khath Arab
“Apabila kamu datang dari bepergian, janganlah kembali kepada istrimu pada
malam hari, agar ia dapat mencukur rambut kemaluannya lebih dulu dan merapikan
dandanannya serta lakukanlah jima’.” (HR Imam yang Lima kecuali An-Nasa’i).
Berhias semenarik mungkin ketika suami pulang dari bepergian jauh, apalagi jika
seminggu tidak pulang, barangkali lebih mudah dilakukan istri. Tanpa diminta pun,
istri insya-Allah akan menyambut suaminya dengan penuh kecantikan dan
kehangatan. Perasaan kangen yang besar dan cinta yang meluap, akan menjadikan
pertemuan dengan suami begitu berarti. Inilah saatnya istri menyambut suami dengan
dandanan yang rapi, kening yang harum dan (maaf) kemaluan yang tercukur bersih
rambutnya.
Kata Rasulullah Saw., “Sebaik-baik istri kamu ialah yang menjaga diri lagi
pandai membangkitkan syahwat, (yakni) keras menjaga kehormatan kemaluannya,
pandai membangkitkan syahwat suaminya.” (HR Ad-Dailami dari Anas r.a.).
Tapi istri barangkali tidak bisa selalu menyambut suami dengan dandanan
sempurna setiap hari. Mungkin hari itu ia kelelahan karena banyaknya pekerjaan
rumah-tangga yang menumpuk, si kecil yang rewel seperti bapaknya (he hmmm) dan
tamu bulanan yang datang beserta sindrom menstruasinya yang menyebabkan istri
mudah letih. Mungkin hari itu ia lagi teringat orangtua dan saudara-saudaranya yang
sudah lama tak berjumpa. Begitu kangennya dengan orang-orang yang ia cintai
(meskipun ia sangat mencintai Anda), sehingga ia menjadi lamban. Dan ia tak sempat
berhias ketika menyambut kedatangan Anda.
Hal-hal semacam ini perlu Anda pahami. Tanpa kesediaan untuk memahami,
keindahan rumah-tangga sulit tercapai. Nasehat Ruqayyah Waris Maqsood mengenai
masalah ini patut kita simak. Jika seorang laki-laki tiba di rumah lebih awal dari
biasanya, kata Ruqayyah, sebaiknya ia menunggu, sehingga istri yang belum
berpakaian secara layak mempunyai waktu untuk merapikan diri.
Sekali waktu, mungkin istri tidak bersikap seperti yang Anda kehendaki. Padahal
saat itu Anda ingin sekali melihat istri Anda tampak anggun dan menyenangkan.
Anda juga ingin sekali mencium aroma wangi dari ma’athif (antara leher dan
geraham) istri Anda tersayang.
Kado Pernikahan 176

“Sebaik-baik istri kamu ialah yang menjaga diri
lagi pandai membangkitkan syahwat,
yaitu keras menjaga kehormatannya,
pandai membangkitkan syahwat suaminya.”

Jika suatu saat Anda mengalami, dengarkan nasehat Ruqayyah Waris Maqsood.
Kata Ruqayyah, “Jangan merasa bersedih karena istri Anda tidak bersikap seperti
yang Anda kehendaki. Bicaralah! ‘Sayang, aku senang sekali kalau kau mengenakan
baju yang bersih dan parfum untukku seorang. Aku tahu kau merasa lelah hari ini,
tetapi jika kau mau melakukannya untuk menyenangkan hatiku, aku tahu kau masih
menyayangiku’.”
“Perhatikanlah kata-kata penting pernyataan Anda,” kata Ruqayyah
mengingatkan, “ungkapkan kekecewaan Anda, akuilah kerja keras dan pengorbanan
mereka, nyatakan kebutuhan Anda akan cinta dan kehormatan –dan lihatlah
hasilnya.”
Ketika Suami Harus Pulang Mendadak
Salah satu saat yang penting lainnya adalah saat datangnya fitnah, kata
Muhammad Abdul Halim Hamid, yaitu ketika seorang istri merasakan perubahan
jiwa pada diri suaminya yang diakibatkan oleh pengaruh para pesolek jalanan yang
menggoda. Maka hendaklah ia segera berdandan secantik mungkin. Hal ini dilakukan
untuk memagarinya dari fitnah nafsu dan menghindarkan matanya dari melirik wanita
lain.
Ada saatnya ketika pulang menemui istri menjadi keharusan. Mungkin tidak
lama setelah suami Anda berangkat kerja. Mungkin ketika suami Anda sedang
bepergian santai untuk menikmati suasana. Dan ia tiba-tiba pulang menemui Anda
karena mengingat nasehat Rasulullah Mu-hammad Saw., “Jika salah seorang di
antara kamu melihat wanita cantik dan hatinya menjadi cenderung kepada wanita
itu, maka ia harus langsung pulang dan menemui istrinya dan mendatanginya di
tempat tidur supaya ia terhindar dari pikiran yang kotor.” (HR Muslim).
Maka jika suatu saat suami Anda pulang mendadak dan mengajak Anda untuk
melakukan jima’, berbahagialah. Karena suami Anda memelihara cinta dan
kesetiaannya kepada Anda. Suami Anda masih menjaga agama dan kehormatan
Kado Pernikahan 177
seksualnya. Rasa cintanya kepada Anda mencegah dia dari membiarkan pikirannya
terkotori oleh fantasi yang bukan-bukan.
Karena itu, jika suatu ketika suami Anda harus pulang mendadak untuk
memperoleh kehangatan dari Anda, segeralah membersihkan diri dan merapikan
dandanan. Mintalah suami Anda untuk menunggu Anda berhias sejenak dengan sikap
yang mesra, hangat dan menggemaskan. Atau, kalau suami Anda tidak sabar untuk
memandangi wajah Anda, biarlah ia tertegun memandangi Anda ketika berhias. Akan
tetapi kalau suami Anda tidak sabar menunggu Anda berhias, maka Anda lebih
bijaksana. Jangan biarkan ia kecewa karena hasratnya tersendat beberapa saat. Dorongan
seks laki-laki memang berbeda dengan dorongan seks wanita!
Ekspresi keinginan untuk melakukan hubungan seks antara Anda dan suami
Anda memang berbeda!
Khath Arab
Dari Abu Ali Thalaq bin Ali r.a., sesungguhnya Ra-sulullah Saw. bersabda,
“Apabila seorang suami mengajak istrinya, maka penuhilah segera meskipun ia
sedang berada di dapur.” (HR Tirmidzi dan Ibnu Hibban).
Abdullah bin Mas’ud r.a. mengatakan bahwa dia mendengar Rasulullah Saw.
bersabda,
Khath Arab
“Seorang istri yang diajak oleh suaminya ke tempat tidurnya, tetapi dia
menangguhkannya hingga suaminya tidur, maka istri tersebut dalam keadaan
laknat.”
Begitulah. Maka ketika suami Anda harus pulang mendadak demi
menyelamatkan agama, kehormatan seksnya, serta kesetiaan cintanya kepada Anda,
segeralah menyambut suami Anda dengan kehangatan yang lain daripada hari-hari
biasanya. Tunjukkanlah kerinduan Anda kepadanya dan tatapan mata cinta yang
menggemaskan, sehingga ia semakin kuat hasratnya. Atau, (kalau anak-anak tak
melihat) berikan kecupan hangat yang menggairahkan dan kemanjaan yang
membuatnya dekat dengan Anda.
Kado Pernikahan 178
“Sebaik-baik istri kamu,” kata Rasulullah Saw., “ialah yang menjaga diri lagi
pandai membangkitkan syahwat, (yakni) keras menjaga kehormatan kemaluannya,
pandai membangkitkan syahwat suaminya.” (HR Dailami dari Anas r.a.).
Sesudah itu, segeralah berhias secantik mungkin hanya untuk suami Anda
seorang. Kalau perlu Anda bisa memakai ghumrah untuk mengharumkan pipi
sekaligus menjadikannya bersemu merah. Anda juga bisa memakai pengharum
kening dan nashiyah (ubun-ubun) sekaligus menjadi-annya tampak menarik. Pakailah
gaun yang paling menyenangkan suami. Sebagian suami akan merasa begitu bahagia
ketika melihat istrinya menggunakan gaun tertentu. Ia begitu terkesan olehnya.
Berhiaslah secantik mungkin. Tetapi jangan terlalu lama mematut di depan
cermin, sehingga menjadikan suami Anda kesal menunggu. Apalagi ia pulang
mendadak untuk menemui Anda karena desakan untuk menjaga kehormatan seks dan
kesetiaan cintanya!
O ya, jangan lupa wewangian yang menghangatkan semangat. Berilah
wewangian pada daerah-daerah lipatan, yaitu lipatan telinga, lipatan jari-jemari,
ma’athif (antara leher dan geraham), ketiak, lipatan payudara serta kemaluan (kalau
sempat). Atau, Anda juga bisa memberi wewangian pada tempat-tempat yang Anda
harapkan suami bersemangat mengecupnya. Sebagian istri, sangat menikmati usapan
dan kecupan pada tempat-tempat tertentu dibanding bagian lain tubuhnya.
Jika Anda masih menyimpan wewangian yang Anda pakai pada malam pertama,
Anda bisa memakainya sekarang sehingga perasaannya semakin terbangkitkan dan
mengingatkan pada keagungan jima’ di malam pertama. Jadikanlah saat ini seperti
malam pertama atau lebih indah lagi. Semoga Allah memberikan kenikmatan yang
paling besar barakahnya pada jima’ yang Anda lakukan saat ini. Semoga Allah
semakin menguatkan jalinan perasaan (‘athifah) antara Anda dan suami Anda
sehingga mencapai ulfah (keharmonisan). Dan semoga, kelak Anda berdua
memperoleh keutamaan di akhirat disebabkan oleh besarnya keinginan Anda untuk
membantu suami melaksanakan perintah Rasulullah Muhammad al-ma’shum, yaitu
segera pulang dan mengajak istri berjima’ ketika hatinya tergoda di tengah perjalanan.
Mudah-mudahan dari sini Allah memberikan keturunan yang memberi bobot kepada
bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah (ya Allah, karuniakanlah kepada kami
keturunan yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah).
Sebagai penutup sub judul ini cukuplah saya tandaskan, jadikanlah diri Anda
sebagai istri yang paling pandai membangkitkan syahwat suami ketika ia harus
pulang mendadak menemui Anda.
Ketika Berangkat Ke Pembaringan
Umamah binti Al-Harits pernah berwasiat kepada putrinya ketika menikah
dengan Raja Kendah. Ada sepuluh nasehat yang diberikan. Salah satunya adalah
nasehat untuk memeriksa urusan makan dan tidur suami. Karena, kata Umamah,
Kado Pernikahan 179
sesungguhnya panasnya lapar begitu membakar, dan kurangnya tidur memicu
kemarahan.
Saya tidak tertarik untuk membahas bagaimana kurangnya tidur dapat
menyebabkan seseorang mudah tersulut kemarahannya (padahal ketika marah,
pikiran orang jarang yang jernih). Saya lebih tertarik untuk mengajak Anda
mengetahui bagaimana berhias akan menjadikan suami Anda merasa lebih sejuk dan
teduh ketika berdekatan dengan Anda di pembaringan. Sedang Anda pun insya-Allah
akan merasakan ketenteraman berada dalam satu selimut dengannya.
Banyak suami maupun istri yang senang untuk berintim-intim ketika berangkat
tidur, meskipun tidak melakukan jima’. Mereka bercakap-cakap ringan menjalin
keakraban sebelum menutup mata dengan do’a. Sebagian senang membicarakan
masalah-masalah ringan dalam keluarga, tentang harapannya terhadap anak misalnya.
Sebagian suka apabila suami atau istri mengajak berbicara tentang diri mereka,
sehingga mereka merasa memperoleh perhatian dari orang yang dicintai dan
mencintainya.
Sebagian suami (juga istri) berkeinginan untuk saling berintim-intim ketika
berangkat ke pembaringan. Sebagian berkeinginan untuk menjalin keakraban dengan
kedekatan fisik: berpegangan tangan, mengusap rambut istri, mengecup kening atau
sekedar mengusap-usap pergelangan tangan. Kadang ini dilanjutkan dengan
bercumbu dan jima’. Tetapi kadang mereka menutupnya dengan tidur lelap yang
nikmat.
Di antara para suami, ada juga yang berkeinginan agar istrinya menggunakan
pakaian-pakaian yang menarik dan seksi ketika beristirahat di tempat tidur. Ia senang
kalau istrinya mau memakai pakaian dalam saja1 dan bertingkah laku manja saat
berdekatan di pembaringan, meskipun ia ketat terhadap hijab istri saat di luar. Dan ini
merupakan perkara yang boleh saja dilakukan. Wallahu A’lam bishawab.
Allah Swt. telah mengisyaratkan tentang waktu-waktu aurat, waktu ketika Anda
bisa menanggalkan pakaian luar. Apalagi buat suami Anda. Firman Allah:
“Wahai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak yang kamu miliki
dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu meminta izin kepadamu tiga kali
(dalam satu hari), yaitu sebelum shalat subuh, ketika kamu menanggalkan pakaian
(luar)mu di tengah hari, dan sesudah shalat isya’. Itulah tiga aurat bagi kamu.” (QS.
An-Nuur: 58).
Begitu pentingnya berhias saat berangkat ke pembaringan bersama suami,
sampai-sampai Syaikh Muhammad bin Umar an-Nawawi al-Bantani menulis dalam
bukunya, Uquudullujain, “Seorang istri wajib memiliki rasa malu (membiasakan) di
hadapan suaminya dan menyedikitkan pertengkaran dengannya. Wajib merendahkan
pandangannya di hadapan suaminya, menaati perintahnya, tidak berbicara ketika
suaminya sedang berbicara dan wajib berdiri (menyambut) ketika suaminya datang
dari perjalanan atau dari mana saja. Demikian pula ketika suaminya berangkat dari
rumah, memperlihatkan rasa cinta ketika dekat suami dan memperlihatkan
Kado Pernikahan 180
kegembiraan ketika melihat suami. Wajib menyerahkan dirinya kepada suami ketika
hendak tidur dan memakai wewangian hanya untuk suami, harus memakai wangiwangian
pada mulutnya dengan misik atau lainnya yang wangi. Mengenakan pakaian
yang bersih dan rapi, dan selalu mengenakan perhiasan di hadapan suami serta tidak
memakai wewangian ketika suami tidak ada.”
Tentu saja berhias ketika berangkat ke pembaringan berbeda dengan berhias di
waktu-waktu lain. Anda tak perlu memakai ghumrah atau lipstik, apalagi kalau Anda
biasa tidur dengan lampu dimatikan. Cukuplah wewangian dan kebersihan tubuh.
Kecuali jika Anda akan melakukan jima’. Atau, barangkali suami Anda sedang manja
saat itu.
Selama berada di tempat tidur, keinginan untuk berintim-intim dan mendapat
perhatian bisa jadi bukan dari suami. Seorang istri boleh saja meminta perhatian dan
kehangatan belaian suami. Jika suami kurang bisa menangkap isyarat keinginan Anda
untuk memperoleh perhatiannya, bantulah ia untuk memahami keinginan Anda
dengan menyampaikan maksud Anda secara lisan. Katakanlah, “Mas, aku kangen
sekali padamu.” (padahal Anda bertemu setiap hari). Atau katakan secara lebih jelas
jika ia belum menangkap maksud Anda. Bagaimana mengungkapkannya? Saya kira
Anda lebih mengenal suami Anda dibanding saya.
Dalam masalah ini, Ruqayyah Waris Maqsood mengingatkan kepada para suami.
Kata Ruqayyah, “Jika seorang laki-laki bersikeras menolak untuk mengabulkan
permohonan istrinya untuk diberi perhatian, ia harus menyadari bahwa nantinya di
hari pengadilan ia akan mendapatkan pertanyaan yang sulit dijawab. Buku catatannya
akan dibuka untuk mengungkapkan segala perbuatannya, betapapun memalukannya
itu! Mungkin ia telah merasa sebagai Muslim yang terbaik, tanpa menyadari
kebenaran nasehat dari ajaran Rasulullah Saw.: “Yang terbaik di antara kalian adalah
yang terbaik kepada istri dan keluarganya.” Bayangkanlah kekagetannya pada akhir
kehidupan agama dengan shalat dan perbuatan baik, ketika mendapati bahwa
sebenarnya Anda telah bersalah dengan bersikap kejam terhadap istri di tahun-tahun
itu, dan kini dipanggil untuk mempertanggungjawabkannya!”
Rasulullah Saw. bersabda:
“Ada dua dosa yang akan disegerakan Allah siksanya di dunia ini juga, yaitu albaghyu
dan durhaka kepada orangtua.” (HR Turmudzi, Bukhari dan Thabrani).
Al-baghyu, kata K.H. Jalaluddin Rakhmat, adalah berbuat sewenang-wenang,
berbuat zalim dan menganiaya orang lain. Dan al-baghyu yang paling dimurkai Allah
ialah berbuat zalim terhadap istri sendiri. Termasuk al-baghyu ialah menelantarkan
istri, menyakiti hatinya, merampas kehangatan cintanya, merendahkan
kehormatannya, mengabaikannya dalam mengambil keputusan, dan mencabut haknya
untuk memperoleh kebahagiaan hidup bersama Anda. Karena itulah, kata Kang Jalal,
Rasulullah Saw. mengukur tinggi-rendahnya martabat seorang laki-laki dari cara ia
bergaul dengan istrinya. Nabi Saw. bersabda:
Kado Pernikahan 181
“Tidak memuliakan wanita kecuali laki-laki yang mulia. Tidak merendahkan
wanita kecuali laki-laki yang rendah juga.”
Karena itu, wahai istriku, ingatkanlah aku jika aku ternyata telah menyakiti
hatimu atau merampas kehangatan cinta yang menjadi hakmu dariku, sementara aku
tidak menyadari. Maafkanlah suamimu karena tidak peka terhadap kerinduanmu
untuk memperoleh kehangatan dan perhatian. Sampaikanlah apa yang menjadi
kerinduan dan keinginanmu agar suamimu dapat menunjukkan perhatian yang
menyejukkanmu. Yang demikian ini juga agar tidak ada fitnah yang bisa mendekat
kepadamu maupun kepadaku. Insya-Allah.
Bicaralah, Sayang, agar aku mengerti.
‘Alaa kulli hal, kepada sidang pembaca silakan memeriksa kembali tulisan ini.
Apa-apa yang salah, itu semata karena kesalahan dan kekurangan saya. Ingatkan
dengan cara yang ma’ruf agar saya lebih terbuka dan dapat menerima. Adapun kalau
ada yang benar, itu semata karena hidayah Allah ‘Azza wa Jalla. Mudah-mudahan kita
bisa menerapkan semampu kita.
Ya Allah, tolonglah kami. Berikanlah barakah atas kami dan bagi kami.
Allahumma amin.
Catatan Kaki:
1. Ada dua pengertian tentang pakaian dalam. Pertama, secara umum masyarakat
mengartikan pakaian dalam adalah sejenis celana dalam, BH, kaos dalam dan
rok dalam. Kedua, pakaian dalam berarti pakaian yang dipakai setelah pakaian
dalam menurut pengertian umum sebelum jubah dan jilbab. Pakaian dalam pada
tulisan ini mencakup kedua pengertian tersebut.
Kado Pernikahan 182
Bab 13
Sentuhan Mesra Saat
Berdua
Malam kian larut dan diselimuti kegelapan
Telah sekian lama kekasih tiada kucumbu
Demi Allah, bila tidak karena-Mu yang kuingat
Niscaya ranjang ini berguncang keras
Tetapi wahai Tuhanku, rasa malu telah menghalangiku
Dan suamiku lebih mulia
untuk kendaraannya diinjak orang
uatu ketika saya menerima surat dari sebuah kota di Jawa Tengah. Isinya
berupa keluhan sekaligus pertanyaan. Seorang istri mengeluhkan, suaminya
jarang sekali mengajak berjima’. Padahal keinginan untuk dicumbu suami
demikian besar. Kadang ingin bicara kepada suami agar memberi kehangatan
padanya, tapi tak tahu bagaimana mengungkapkannya. Ia malu dan takut. Nah,
apakah yang sebaiknya dilakukan oleh seorang istri muslimah?
Dari kota yang sama, ada lagi istri yang bermasalah. Kalau yang pertama
mengeluh setengah bertanya bagaimana suaminya agar lebih sering mengajak jima’,
maka akhwat kita ini berbeda lagi. Yang menjadi kebingungannya justru bagaimana
menghadapi kemauan suami yang begitu tinggi. Perut sudah besar karena usia
kehamilan yang semakin bertambah, tetapi keinginan suami untuk bermesraan dan
melakukan jima’ tidak berkurang.
S
Kado Pernikahan 183
Masalah hubungan seks merupakan tema penting yang sering menjadi
pembahasan para ulama terdahulu. Ada berbagai kitab karya ulama kita yang secara
luas mengupas berbagai segi kehidupan seks antara suami dan istri, baik dalam satu
kitab tersendiri yang membahas masalah hubungan seks secara rinci dan mendalam
maupun sebagai bagian dari pembahasan mengenai agama secara keseluruhan.
Berbeda dengan berbagai agama lain (juga interpretasi dari sebagian orang Islam
yang belum banyak menyelami ajaran Islam), hubungan seks suami-istri dipandang
sebagai bagian dari kesucian agama. Bahkan, Allah Swt. memberi pahala kepada
suami-istri yang melakukan persetubuhan (jima’).
Rasulullah Saw. pernah bersabda,
“Sesungguhnya seorang suami yang memandang istrinya dan istrinya pun
memandangnya (dengan syahwat), maka Allah akan memandang dua insan tersebut
dengan pandangan rahmat. Dan jika suami itu memegang telapak tangan istrinya
dengan maksud mencumbunya atau menjima’nya, maka dosa-dosa kedua insan itu
akan berjatuhan dari sela-sela jemarinya.” (H.R. Maisarah bin Ali dan Imam
Rafi’i dari Abu Said al-Khudri).
Sudah sama-sama dimaklumi, kata Ibnu Qoyyim Al-Jauziyyah, bahwa cinta
orang yang bisa merasakan sesuatu yang sesuai dengan harapannya dan dia tidak
sabar lagi untuk menikmatinya, lebih kuat dari cinta orang yang belum merasakannya.
Bahkan jiwanya akan tersapih darinya.
Cinta yang terjalin antara suami-istri dan cinta yang tumbuh setelah mereka
bersetubuh, kata Ibnu Qoyyim lebih lanjut, lebih besar dari cinta sebelumnya.
Merupakan penyebab yang lazim jika nafsu hati bercampur dengan kenikmatan
pandangan mata. Jika mata sudah bisa memandang, maka hati semakin bernafsu. Jika
badan beradu badan, maka nafsu hati, kenikmatan mata dan kelezatan berkumpul
menjadi satu. Jika hal-hal itu tidak terpenuhi, maka kerinduan akan semakin
menggelora, sebagaimana yang dikatakan dalam sebuah syair:
“Kerinduan semakin melecut suatu waktu
jika jarak sebelumnya semakin berdekatan.”
Oleh karena itu, masih kata Ibnu Qoyyim, penderitaan terasa semakin berlipat
bagi orang yang pernah melihat kekasihnya atau bersanding dengannya, lalu tiba-tiba
keduanya harus berpisah. Penderitaan wanita jauh lebih terasa jika pernah merasakan
madunya laki-laki, terlebih lagi jika ia baru pertama itu merasakannya. Sehingga
hampir-hampir dia tak kuasa menahannya. Aiman bin Huzaim berkata:
“Tiada lagi resah saat bersanding wanita
resah itu hadir saat berjauhan dengannya.”
Kebutuhan untuk memperoleh kehangatan dan pelukan sayang dari kekasih,
tampak lebih halus pada wanita. Kalau seorang laki-laki cenderung lebih impulsif
(meskipun tidak sepenuhnya impulsif), maka wanita merasakannya dengan proses
yang lebih mendalam. Ia merindukan dengan keterlibatan emosi yang penuh,
Kado Pernikahan 184
sehingga ketika kekasih tercinta lama tak mencumbu, dia akan sangat menderita.
Kalau tak ada rasa takut kepada Allah dan kesetiaan cinta kepada suami tercinta, tepi
ranjangnya bisa terguncang oleh laki-laki lain.
Inilah yang pernah ditakutkan oleh seorang wanita Arab ketika hatinya tak kuat
menahan rindu untuk bercumbu dengan kekasih di atas ranjang yang suci. Di saat
malam semakin sepi dan dingin, ia merintih di balik pintu rumahnya yang terkunci
rapat:
Malam kian larut dan diselimuti kegelapan
Telah sekian lama kekasih tak kucumbu
Demi Allah,
bila tidak karena-Mu yang kuingat
niscaya ranjang ini berguncang keras
Tetapi wahai Tuhanku,
rasa malu telah menghalangiku
Dan suamiku lebih mulia
untuk kendaraannya diinjak orang
Alangkah sepinya malam kalau di saat mata akan terpejam, tak ada suami yang
mengajaknya berbicara. Kehangatan berdampingan dengannya akan menjadi beku
kalau kekasih tak pernah mencandai.
Kelak ketika ia pernah mencicipi madu suaminya, jiwanya akan tersapih kalau
suami lama tak menyentuhnya. Malam-malam akan terasa panjang. Hati gelisah tak
menemukan ketenangan. Jari-jemari pun terasa dingin dan kaku karena tak ada
kekasih yang mencumbu. Padahal telah ada suami yang wajib memberi kehangatan
seks padanya.
Saya teringat kepada perkatan Hindun binti Al-Muhallab. Kata Hindun, “Saya
tidak melihat sesuatu yang lebih berharga bagi wanita yang baik maupun yang buruk
selain perbuatan mengikuti laki-laki yang bisa mendatangkan ketenangan bagi
dirinya. Berapa banyak orang yang diharapkan bisa mendatangkan ketenangan, tapi
justru tak ada gunanya. Dalam keadaan seperti apapun ketenangan jauh lebih
dibutuhkan.”
Jima’ dengan suami dapat melahirkan ketenangan pada jiwa yang membutuhkan.
Kebutuhan istri untuk berjima’ memang tidak seekspresif suami. Istri juga relatif
lebih mampu menahan gejolak seksnya. Berbeda dengan suami yang cenderung lebih
impulsif dan tidak dapat menunda hasratnya. Ini antara lain bisa kita lihat dari hadishadis
yang memperingatkan istri agar tidak menunda kebutuhan seks suami. Bahkan
ada hadis yang menyuruh seorang suami untuk cepat-cepat pulang menemui istri dan
mengajaknya berjima’ ketika syahwatnya tergoda saat melihat wanita di perjalanan.
Kado Pernikahan 185
Tetapi hasrat istri yang tampak lebih tenang itu lebih kuat pengaruhnya. Sebab
ketika sama-sama mencapai kenikmatan puncak, istri merasakan kenikmatan yang
jauh lebih besar dibanding suami. Seorang istri bisa mencapai multi-orgasme
(kenikmatan puncak yang berulang-ulang) dalam satu kali jima’. Tetapi suami tidak
bisa demikian. Lebih jelasnya, nanti silakan periksa Mukhtarul Ahaadits. Ada hadis
yang menerangkan masalah ini.
Sebagai tambahan, cukuplah penjelasan Ibnu Umar sebagaimana disebutkan oleh
Ath-Thabrani dalam Al-Mu’jamul Ausath1. Kata Ibnu Umar, “Kelebihan yang ada di
antara kenikmatan wanita dan kenikmatan laki-laki, bagaikan goresan jarum di debu.
Hanya saja Allah menutupi para wanita dengan rasa malu.”
Begitu dalamnya kenikmatan yang mampu dicapai oleh seorang istri, sehingga
dialah yang paling merasakan kerinduan kalau berbulan-bulan tak ada kesempatan
untuk berjima’ dengan kekasih. Kata Ibnu Qoyyim, “Penderitaan wanita jauh lebih
terasa jika pernah merasakan madunya laki-laki, terlebih lagi jika dia baru pertama
itu merasakannya.”2
Tetapi (segala puji bagi Allah Yang Maha Sempurna), Allah telah memberi
keseimbangan. Allah meletakkan dorongan untuk berhubungan seks pada diri seorang
wanita sebagai kebutuhan psikis, bersumber dari kedalaman perasaan dan emosinya.
Ia merasakan kebutuhan untuk berjima’ secara perlahan-lahan, tidak meledak-ledak
sebagaimana laki-laki sehingga harus segera dipenuhi (sebagai gambaran Anda dapat
membaca hadis-hadis berkenaan dengan jima’).

Hanya dengan cara inilah
insya-Allah kita memperoleh ketenteraman
dan kebahagiaan terdalam hari kiamat.
Begitu kita melihatnya sebagai kekurangan dan kelemahan, maka terbukalah
pintu kekecewaan kepada teman hidup kita.

Sekalipun demikian, seorang suami tidak boleh mengabaikan kebutuhan istri
untuk memperoleh kehangatan jima’. Jika istri harus memenuhi kebutuhan seks Anda
sekalipun ia saat itu sedang memasak di dapur, maka istri pun mempunyai kebutuhan
seks yang harus dipenuhi oleh suami. Jumhur ulama’ menyatakan, melakukan jima’
bagi seorang suami hukumnya wajib, kecuali jika ada halangan.
Ada perbedaan pendapat soal rentang waktu yang dapat ditoleransi. Sebagian
ulama menyatakan paling lama enam bulan sekali suami harus memenuhi kebutuhan
istri untuk berjima’. Sebagian lainnya berpendapat empat bulan sekali.
Kado Pernikahan 186
Imam Ahmad berpendapat paling lama empat bulan, karena Allah menentukan
masa ini untuk sahaya. Bila seorang suami pergi dan tidak ada halangan untuk pulang,
maka ia diberi waktu enam bulan. Ketika Imam Ahmad ditanya, berapa lama seorang
suami boleh pergi meninggalkan istrinya, Imam Ahmad menjawab enam bulan. Dan
kalau suami tidak mau pulang, maka hakim memisahkan keduanya.
Ibnu Hazm lebih ketat lagi. Kata Ibnu Hazm, “Wajib seorang suami menjima’
istrinya minimal sekali setiap masa suci bila hal itu mampu dilakukan. Apabila tidak
demikian, maka ia telah bermaksiat kepada Allah SWT.”
Firman Allah:
“…. apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang
diperintahkan Allah kepadamu….” (QS Al-Baqarah: 222).
Bahkan Hujjatul Islam, Imam Al-Ghazali, menasehatkan agar suami menjima’
istri empat hari sekali demi menjaga ketenangan istri. Imam Al-Ghazali menulis
dalam Ihya’ ‘Ulumuddin, “Sebaiknya ia mendatangi istrinya sekali setiap empat
malam. Yang demikian itu lebih adil mengingat jumlah wanita yang boleh
dinikahinya sekaligus ialah empat orang. Karena itu, boleh saja ia menunda
waktunya sampai sebatas ini. Kendatipun demikian, hendaknya ia menambah atau
mengurangi sesuai dengan kebutuhan istri. Hal ini terutama mengingat bahwa upaya
membentengi istri dan gejolak nafsu syahwatnya merupakan kewajiban seorang
suami.”
Jika seorang suami melupakan kewajibannya untuk memenuhi kebutuhan seks
istri sehingga istri mengalami penderitaan batin yang panjang, keretakan rumahtangga
bisa terjadi. Muhammad Abdul Halim Hamid mengingatkan, “Setiap amal
yang diwajibkan Allah pasti mengandung kebajikan yang banyak. Barang siapa
menyia-nyiakannya, maka akan datanglah berbagai musibah.”
“Oleh karena itu,” kata Muhammad Abdul Halim Hamid lebih jauh,
“barangsiapa yang mengabaikan kewajiban jima’ akibatnya berbahaya bagi istri. Ia
akan merasa tertekan dan gelisah. Dengan demikian berarti tak dapat merasakan
kenikmatan dan kebahagiaan.”
Suami bisa jadi telah jatuh ke dalam al-baghyu apabila ia menelantarkan
kebutuhan jima’ istrinya. Ia berbuat sewenang-wenang dan zalim tanpa ia sadari.
Padahal al-baghyu termasuk perbuatan yang disegerakan siksanya di dunia dan
akhirat. Wallahu A’lam bishawab.
Astaghfirullahal ‘adzim.
Laki-laki dan Perempuan Memang Beda
Laki-laki dan perempuan memang beda. Allah menciptakan perbedaan di antara
mereka, termasuk dalam dorongan untuk berjima’. Segala puji bagi Allah ‘Azza wa
Kado Pernikahan 187
Jalla. Tidaklah Dia menciptakan perbedaan melainkan ada kebaikan di dalamnya.
Maka, mudah-mudahan kita termasuk yang memperoleh sebesar-besar kebaikan atas
perbedaan tersebut. Semoga mengantar kita kepada kebahagiaan dan kenikmatan
yang penuh barakah fid dunya wal akhirah.
Hasrat berjima’ pada laki-laki banyak berkaitan dengan fisiologinya, berkenaan
dengan fungsi biologis fisiknya. Penimbunan sel-sel sperma dan air mani dalam
rongga air mani secara teratur, merangsangnya untuk melakukan hubungan seks.
Ketika rongga air mani penuh, maka hasrat untuk berjima’ muncul dan butuh segera
untuk terpenuhi. Ia akan gelisah jika tidak segera terpenuhi, misalnya karena istri
menunda-nunda ketika diajak bercinta di atas tempat tidur.
Berbeda dengan laki-laki, hasrat untuk berjima’ pada wanita lebih banyak
bersumber dari kebutuhan psikisnya untuk memperoleh kehangatan dan kemesraan
dari orang yang dicintainya. Secara fisik tidak ada sesuatu yang menimbun sehingga
memunculkan dorongan untuk segera melakukan jima’. Secara fisik tidak ada sesuatu
yang memaksanya untuk berjima’ dan apabila tidak segera dipenuhi akan
mengakibatkan kegelisahan. Birahinya lebih banyak terbangkitkan oleh perasaan dan
kebutuhan psikisnya. Jika ia merasa dicintai, dikagumi dan dihargai oleh suaminya,
maka gairahnya dapat terbangkitkan untuk secara fisik berhubungan intim dengannya.
Tentu saja penjelasan ini tidak cukup. Pembicaraan tentang sumber dorongan
berjima’ lebih banyak berhubungan dengan sifat pemenuhan kebutuhan untuk
berjima’ antara suami dan istri. Laki-laki membutuhkan pemenuhan yang lebih segera
dibanding wanita. Perintah Rasulullah Saw. kepada suami untuk segera pulang dan
mengajak istri-nya berjima’ ketika syahwatnya tergoda oleh wanita di jalan, memberi
gambaran betapa pentingnya segera memenuhi kebutuhan seks bagi seorang laki-laki.
Insya-Allah yang demikian ini lebih maslahat. Wallahu A’lam bishawab.
Barangkali berangkat dari sini, kita mendapati perbedaan nasehat dari
Muhammad Abdul Halim Hamid ketika berbicara tentang jima’. Kepada suami,
Abdul Halim mengingatkan bahwa ada kewajiban untuk menjima’ istri, kemu-dian
menyebutkan rentang waktu paling lama seorang wanita dapat menahan gejolak
seksnya. Tetapi kepada istri, Ab-dul Halim mengingatkan, hak suami yang ada pada
istri adalah mendapatkan pemenuhan segera, apabila istri diajak untuk itu (jima’).
Pemenuhan segera seorang istri atas ajakan suaminya ini sesungguhnya dapat
menciptakan rasa bahagia baginya. Karena dengan begitu seorang suami dapat
menjaga kehormatan dirinya, memenuhi kebutuhan biologisnya, sekaligus melindungi
masyarakat dari perbuatan kotor dan munkar.”
Rasulullah Saw. mengingatkan, “Apabila seorang suami mengajak istrinya,
maka penuhilah segera meskipun ia sedang berada di dapur.” (HR. Tirmidzi dan
Ibnu Hibban).
Maha Suci Allah Yang Di Tangan-Nya terletak rahasia penciptaan. Seorang lakilaki
mudah terangsang gairah jima’nya dan bisa segera melakukannya setelah
membayangkan sejenak tanpa memerlukan persiapan-persiapan pendahuluan. Ia juga
Kado Pernikahan 188
mudah terbangkitkan oleh kecantikan dan kesegaran. Karena itu, jangan menceritakan
kecantikan seorang wanita kepada suami Anda seolah-olah ia menyaksikan sendiri
(selengkapnya baca bab Biarlah Engkau yang Tercantik Di Hatiku). Juga, jangan
melupakan berhias untuk suami Anda tersayang. Apalagi kalau sewaktu-waktu ia
harus pulang mendadak, berikanlah kecantikan, kesegaran dan kehangatan Anda yang
paling sempurna (masih ingat Saat Tepat untuk Berhias, kan?).
Maha Suci Allah. Jika seorang laki-laki mudah terbangkitkan oleh kecantikan
dan kesegaran, maka seorang wanita baru akan terangsang gairah jima’nya ketika
suami menge-cup dan mencumbunya dengan penuh kecintaan.3 Istri juga perlu
mendengar kata-kata rayuan dari suami agar gairahnya terbangkitkan, sehingga
bartholin yang ada dalam farj-nya menjadikan siap untuk didatangi. Inilah yang lebih
penting bagi seorang istri –cumbu rayu– daripada sekedar bertemunya dua khitan.
Kata Imam Al-Ghazali, “Dan hendaknya ia mendahuluinya dengan rayuan, belaian,
ciuman, dan sebagainya.”
Imam As-Suyuti mengingatkan para suami dengan cara yang lebih lembut.
Beliau mendo’akan:
Semoga Allah memberikan kemuliaan dan
keselamatan yang abadi
kepada mereka yang mengetahui
cara yang baik untuk menepuk pipi
yang lembut,
untuk membelai pinggang yang ramping,
untuk memasuki farj terindah
dengan terampil!
Di sinilah kadang timbul masalah. Suami merasa sudah melakukan hubungan
seks, sementara istri baru mulai bangkit gairahnya. Sehingga ketika suami mencapai
kenikmatan puncak, istri baru berada dalam perjalanan. Tak mudah menyesuaikan
dua karakter jima’ yang berbeda. Tetapi Rasulullah Saw. telah memberi tuntunan,
“Apabila seorang dari kalian bersetubuh dengan istrinya, hendaklah
menyempurnakannya. Apabila hajatnya telah selesai, janganlah ia mempercepat
(meninggalkan) istrinya itu hingga selesai pula hajatnya.” (HR. Abdur Razzaq dan
Abu Ya’la dari Anas).
Rasulullah Saw. juga mengingatkan:
“Apabila salah seorang dari kalian bersetubuh dengan istrinya, janganlah
menyingkir hingga hajat istrinya selesai sebagaimana ia senang selesai (dengan)
hajatnya.” (HR. Ibnu ‘Adiy dari Ibnu Abbas).
Ada perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki bisa mencapai orgasme
dalam waktu 5 atau 10 menit. Sementara wanita membutuhkan waktu yang lebih lama
Kado Pernikahan 189
untuk bisa mencapai puncak kenikmatan. Dalam perbedaan inilah ada kesempatan
untuk saling belajar, saling menerima, saling memaafkan sekaligus ada ladang amal
shalih di dalamnya. Tanpa itu, yang muncul hanyalah keretakan dan keteganganketegangan
psikis. Ego yang paling nampak.
O ya, hampir lupa. Sekalipun dorongan berjima’ pada wanita lebih berakar pada
kebutuhan psikis, tetapi perubahan-perubahan hormonal karena adanya menstruasi
setiap bulan juga mempengaruhi. Dari pasang surutnya perubahan yang sering ia
alami selama menstruasi, kadang wanita merasakan gairah yang sangat kuat untuk
melakukan hubungan seksual hingga mencapai puncak kenikmatan. Tetapi kadangkadang
keinginannya untuk berjima’ sangat lemah. Kedua hal ini bisa berlangsung
selama beberapa hari, bisa juga hanya sebentar.
‘Alaa kulli hal, perbedaan antara laki-laki dan perempuan memang ada.
Perbedaan itu tidak menunjukkan kelemahan di satu pihak, dan kelebihan di pihak
lain. Perbedaan itu tidak berarti kekurangan dan ketidaksempurnaan. Allah Swt. telah
menciptakan dengan sebaik-baik bentuk. Ia ciptakan perbedaan sebagai
kesempurnaan dan jalan untuk mencapai barakah yang paling besar. Hanya dengan
cara inilah insya-Allah kita memperoleh ketenteraman dan kebahagiaan terdalam
hingga kelak di yaumil-qiyamah. Begitu kita melihatnya sebagai kekurangan dan
kelemahan, maka terbukalah pintu kekecewaan kepada teman hidup kita. Terbukalah
pintu untuk merasa lebih tinggi dan paling banyak berbuat. Ini akan mempersempit
pintu sakinah, mawaddah wa rahmah.
Maha Besar Allah yang telah menciptakan perbedaan. Tidaklah Allah
menciptakan segala sesuatu (termasuk karakter seks yang berbeda) dengan sia-sia.
Maha Suci Allah, semoga kita dijauhkan dari siksa api neraka.
Tak ada cela dalam perbedaan yang diciptakan Allah. Semoga kita termasuk
orang-orang yang mensyukuri dan meraih kebahagiaan tertinggi di samping-Nya.
Semoga barakah dan diridhai Allah setiap jima’ kita. Allahumma amin.
Mandi Jinabah
Seorang wanita pernah bercerita, masalah yang kadang membuatnya malas
melayani keinginan suami adalah mandi wajib sesudah jima’. Kadang-kadang ia
dihinggapi rasa enggan kalau harus mengurai rambut dan membersihkannya dengan
shampoo. Belum lagi rambut tidak mudah kering. Sehingga ketika suami mengajak
berjima’, kadang muncul gejala mual-mual serasa mau muntah (nausea).
Munculnya nausea (mual-mual) atau bahkan muntah (vomiting), sebenarnya
merupakan reaksi psikis akibat keengganan terhadap sesuatu yang berhubungan
dengan jima’. Keengganan untuk mengurai rambut dan mengeramasi sesudah
melakukan jima’, merupakan salah satu perkara yang bisa memunculkan nausea.
Kado Pernikahan 190
Wajar memang jika sebagian wanita mengalami masalah ini. Apalagi kalau
suaminya termasuk laki-laki yang tinggi kebutuhan jima’nya, sehingga istri harus
mandi wajib setiap hari atau bahkan dua kali sehari. Tetapi ini sebenarnya tidak perlu
terjadi andaikan ia mengetahui bahwa Islam memberikan keringanan terhadap
masalah ini.
Mandi junub sehabis jima’ wajib dilakukan oleh wanita, sebagaimana ia wajib
mandi ketika haid atau nifasnya selesai. Tetapi Anda tidak harus membuka dan
mengurai rambut ketika mandi wajib sehabis jima’. Allah dan Rasul-Nya telah
meringankan Anda. Dandanan rambut Anda yang indah tidak perlu Anda acak-acak
dengan mengeramasi, kecuali jika Anda memang ingin keramas. Cukuplah
menuangkan air di atas kepala Anda tiga kali (baca Box 6.1. Kaifiyah Mandi
Wajib).
Khath Arab
Ummu Salamah bertanya, “Wahai Rasulullah, saya seorang perempuan yang
berambut panjang dan bersanggul. Apakah saya harus membuka (mengurai) rambut
saya yang disanggul untuk mandi haid dan janabat?” Rasulullah Saw. menjawab,
“Tidak, cukup bagimu menuangkan air di atas kepalamu tiga kali cidukan, kemudian
siramlah badanmu dengan air. Dengan begitu engkau telah bersih.” (HR. Muslim).
Mandi junub sebaiknya disegerakan. Tetapi jika malam terlalu dingin atau tangan
terlalu berat untuk melepas kehangatan, Anda bisa menunda mandi jinabah. Cukuplah
Anda berwudhu seperti wudhu untuk shalat sebelum Anda tidur. Nanti sesudah
bangun, Anda bisa melakukan mandi junub sendirian atau bersama suami dalam satu
bak mandi. Jadi, Anda mandi junub sekaligus mandi pagi.
Ibnu Umar pernah bertanya kepada Rasulullah Saw., “Bolehkah salah seorang
dari kami tidur dalam keadaan junub (hadas besar)?”
“Ya,” jawab beliau, “jika ia telah berwudhu.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Riwayat lain bahkan meringankan ketentuan ini, sehingga seseorang bisa tidur
sehabis berjima’ tanpa melakukan wudhu terlebih dulu. Hal ini berdasarkan
keterangan Aisyah r.a. sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Abu Daud, Tirmidzi dan
Ibnu Majah bahwa “adakalanya Rasulullah Saw. tidur dalam keadaan junub sebelum
beliau menyentuh air.”
Alhasil, janganlah kewajiban mandi junub membuat Anda enggan melayani
keinginan suami untuk bercinta di atas tempat tidur, setelah mengetahui kemudahan
yang diberikan Islam.
Kado Pernikahan 191
Semoga sesudah ini tak ada masalah karena keengganan mandi junub. Adapun
kalau Anda tidak berat dan tidak ada kesulitan, Anda bisa menyegerakan mandi
junub.
Box. 6.1. Kaifiyah Mandi Wajib
Ada beberapa hadis yang menerangkan mengenai kaifiyah (tata cara)
mandi wajib. Ibnu Syaibah meriwayatkan sebuah hadis, “Bukalah rambutmu
dan mandilah, yakni dalam haid.”
Hadis ini juga ditakhrij oleh Ibnu Majah dari jalur Ibnu Syaibah dan Ali
bin Muhammad. Menurut Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, hadis ini
sanadnya shahih menurut syarat Asy-Syaikhani. Menurut keduanya, kata
Syaikh Al-Albani dalam Silsilah Hadis Shahih, hadis ini berkaitan dengan
kisah ‘Aisyah sewaktu haid dalam haji Wada’ dan Nabi Saw. berkata
kepadanya, “Bukalah kepalamu, sisirlah, dan tahanlah dari umrahmu!”
Hadis ini tidak bertentangan dengan hadis yang diriwayatkan oleh Abu
Zubair dari Ubaid bin Umair yang menceritakan: Telah sampai kepada ‘Aisyah
bahwa Abdullah bin Amr memerintahkan kaum wanita ketika mandi supaya
membuka kepalanya. Maka Aisyah berkata, “Alangkah mengherankan sekali
Ibnu Amr ini. Ia memerintahkan agar mereka mencukur rambut kepalanya?
Sesungguhnya aku biasa mandi dengan Rasulullah dari satu bejana dan aku
tidak menambah siraman atas kepalaku dengan tiga siraman.”
Hadis ini ditakhrij oleh Imam Muslim, Ibnu Abi Syaibah, Al-Baihaqi serta
Imam Ahmad. Menurut Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, antara
kedua hadis di atas tidak ada pertentangan karena dua hal sebagai berikut:
Pertama, hadis pertama lebih shahih daripada hadis yang belakangan. Karena
hadis yang belakangan ini meskipun ditakhrij oleh Imam Muslim, tetapi Abu
Zubair adalah mudallis.
Kedua, hadis yang pertama berlaku untuk kasus haid. Sedangkan hadis
yang belakangan ini berlaku untuk kasus jinabat (mandi junub), sehingga
keduanya bisa dikompromikan. Jadi dikatakan wajib membuka (rambut)
sewaktu haid, bukan mandi junub. Demikian menurut Imam Ahmad dan ulama
salaf lain. “Penyatuan ini adalah lebih tepat,” kata Syaikh Al-Albani
menambahkan.
Kado Pernikahan 192
Istri juga memiliki kebutuhan
Telah kita bicarakan bahwa suami mempunyai kewajiban untuk berhubungan
seks dengan istri, termasuk mengenai batas waktu minimal yang dapat ditoleransi.
Suami harus memperhatikan bahwa istri juga mempunyai kebutuhan untuk
bersetubuh. Sekarang kita akan membicarakan kembali masalah ini. Tetapi kita tidak
membicarakan masalah ini dalam kedudukannya sebagai kewajiban. Ada sesuatu
yang lain ketika suami-istri melakukan jima’. Ada sedekah pada hati yang
merindukan ketika suami mengajak istrinya bersetubuh.
Ketika jiwa terlalu lama menantikan belaian cinta dari suami, air mata bisa
mengalir karena tidak kuat menahan rasa sepi yang mencekam. Sementara tidak ada
kekasih yang menguak hasratnya.
Inilah yang pernah diceritakan oleh Al-Abbas bin Hi-syam Al-Kalby. Ia
menuturkan bahwa Abdul-Malik bin Marwan mengirim pasukan perang ke Yaman
dan mereka menetap di sana hingga beberapa tahun lamanya. Suatu malam ketika
sedang berada di Damaskus, Abdul-Malik bin Marwan berkata, “Demi Allah, malam
ini saya akan menelusuri kota Damaskus untuk mendengar apa komentar orang-orang
tentang pasukan yang kukirim untuk berperang yang terdiri dari kaum laki-laki,
hingga harta mereka menjadi melimpah.”
Tatkala sedang berada di sebuah lorong, tiba-tiba Abdul-Malik bin Marwan
mendengar suara wanita yang sedang mendirikan shalat. Dia mencuri dengar. Ketika
wanita itu beranjak ke tempat tidurnya, ia berkata, “Ya Allah yang telah menjalankan
onta-onta yang cantik, menurunkan kitab-kitab dan menganugerahkan keinginan, aku
memohon kepada-Mu untuk mengembalikan suami yang saat ini tidak ada di
sampingku, sehingga dia bisa menguak hasratku dan aku menjadi senang karenanya.
Aku memohon kepada-Mu agar Engkau menetapkan keputusan antara diriku dan
Abdul-Malik bin Marwan yang telah memisahkan kami.”
Lalu wanita itu berucap:
Malam ini terasa panjang dengan
air mata yang mengalir
hatiku terasa kelu karena derita yang mendera
Kutahan derita malam ini sambil
menghitung bintang
cinta membuat hati terasa terpotong-potong
jika di sana ada bintang yang menghilang
mataku berpendar mencari
bintang yang datang
seandainya tidak kuingat jalinan
Kado Pernikahan 193
di antara kami
akan kudapatkan hati ini
memberontak tak terkendali
Setiap kekasih tentu mengingat kekasihnya
pertemuan setiap hari yang diharapkannya
Ya Allah, ringankanlah
kerinduan yang mendera
do’a dipanjatkan dan Engkau mendengarnya
kupanjatkan sepotong do’a setiap waktu
karena keinginan yangmenyeruak
di dalam diriku
Abdul-Malik bertanya pada pengawalnya, “Tahukah kamu, rumah siapakah ini?”
“Ya, saya tahu. Ini adalah rumah Yazid bin Sinan.”
“Siapakah wanita yang berada di dalamnya?”
“Istrinya.”
Ada yang bisa kita petik dari kisah ini. Kerinduan yang tak menemukan
muaranya, dapat menjadikan hati ingin memberontak. Kalau saja tak ada iman yang
dipegang dan jalinan yang diingat, cinta yang ada di hati bisa terguncang. Dan ini bisa
membawa kepada fitnah yang besar.
Benarlah kata-kata Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah. Menurut Ibnu Qayyim,
persetubuhan yang dihalalkan bisa menambah cinta, jika memang hal itu dikehendaki
orang yang dicintai. “Jika dia sudah mencicipi kenikmatan percintaan dan
persetubuhan,” kata Ibnu Qayyim menambahkan, “keinginannya untuk merasakan
lagi justru semakin menggebu, jauh lebih menggebu daripada sebelum dia
merasakannya.”
Hal semacam ini juga terjadi pada istri. Apalagi Allah telah memberinya
dorongan syahwat yang jauh lebih besar dibanding laki-laki. Hanya Allah telah
menutupinya dengan rasa malu.
Di sinilah perlu komunikasi yang baik antara suami dan istri. Kalau suami sudah
lama tidak menyentuh Anda, maka Anda dapat mengingatkannya agar memberikan
kehangatan di atas tempat tidur. Anda bisa mengingatkan secara langsung dengan
mengungkapkan keinginan Anda. Bisa juga menyampaikan secara halus. Jika di
masa-masa pengantin baru Anda berdua bisa membentuk ungkapan yang baik untuk
menyatakan keinginan berjima’, insya-Allah akan lebih baik. Tetapi, tentu saja
Kado Pernikahan 194
banyak cara yang bisa Anda pakai agar lebih menyentuh perasaannya sehingga ia
semakin sayang. Bukan tersinggung.
Wallahu A’lam bishawab. Astaghfirullahal ‘adzim.
Insya-Allah Tuhan Yang Maha Pengasih akan mencatat apa yang Anda lakukan
sebagai kebaikan jika Anda mengingatkan suami karena ingin mencegahnya dari
kesalahan. Mencegahnya agar tidak melalaikan kewajiban untuk memuaskan gejolak
syahwat Anda. Juga mencegah agar diri Anda tidak terjatuh ke dalam perbuatan dosa
karena kurangnya sentuhan suami.
Wallahu A’lam bishawab.
Dalam sebuah hadis disebutkan:
“Tidak diperbolehkan bagi seorang istri memasukkan seseorang yang tidak
disukai suaminya ke dalam rumah-tangganya…. Ia tidak boleh menolak suaminya di
tempat tidur. Ia tidak boleh mendiamkannya. Jika suami bersalah, istri boleh
menegurnya hingga ia merasa puas. Jika suami menerima tegurannya dengan baik
dan benar, maka tegurannya itu akan diterima oleh Allah, sedang jika suami tidak
suka pada teguran istrinya, maka tegurannya itu tetap akan diterima oleh Allah
bagaimanapun juga.” (HR. Al-Hakim).
Ketika mengingatkan suami agar mendatangi istri empat hari sekali, Imam Al-
Ghazali menulis, “Kendatipun demikian hendaknya ia menambah atau mengurangi
sesuai dengan kebutuhan istri. Hal ini terutama mengingat bahwa upaya membentengi
istri dari gejolak nafsu syahwatnya merupakan kewajiban seorang suami.”
Tetapi tidak setiap suami dapat menangkap keinginan istri, sekalipun istri sudah
menunjukkan secara samar hasratnya untuk berjima’. Apalagi kalau istri tidak
menampakkan tanda-tanda keinginannya. Karena itu istri perlu menyampaikan
kerinduannya (selain dengan membangkitkan gairah suami) jika tidak adanya jima’
dapat membuatnya kecewa dan frustasi. Hal ini untuk membentengi iman dan
menjaga kehormatan kemaluan. Insya-Allah ini merupakan sikap yang mulia.4
Peringatan Ruqayyah Waris Maqsood tentang masalah ini patut diperhatikan.
Kata Ruqayyah, “Jika seorang laki-laki bersikeras menolak untuk mengabulkan
permohonan istrinya untuk diberi perhatian, ia harus menyadari bahwa nantinya di
hari pengadilan ia akan mendapatkan pertanyaan yang sulit dijawab. Buku catatannya
akan dibuka untuk mengungkapkan segala perbuatannya, betapa pun memalukannya
itu! Mungkin ia telah merasa sebagai Muslim yang terbaik, tanpa menyadari
kebenaran nasehat dari ajaran Rasulullah Saw.: “Yang terbaik di antara kalian adalah
yang terbaik kepada istri dan keluarganya.” Bayangkanlah kekagetannya pada akhir
kehidupan agama de-ngan shalat dan perbuatan baik, ketika mendapati bahwa
sebenarnya Anda telah bersalah dengan bersikap kejam terhadap istri di tahun-tahun
itu, dan kini dipanggil untuk mempertanggungjawabkannya!”
Kalau seorang suami datang memberikan kehangatan seksual kepada istri (begitu
pula istri kepada suami) maka Allah mencatatkan pahala sedekah bagi mereka.
Kado Pernikahan 195
Rasulullah Saw. bersabda, “Dalam hubungan intim yang kamu lakukan di antara
kamu ada sedekah.”
Para sahabat menanggapi, “Wahai Rasulullah, ketika salah seorang di antara
kami memuaskan gairah seksualnya, apakah ia akan mendapat pahala untuk itu?”
Dan Beliau menjawab, “Tidakkah kamu berpikir bahwa jika ia melakukannya
secara tidak sah ia akan mendapat dosa? Dengan demikian, jika ia melakukannya
secara sah, ia akan mendapat pahala.” (HR. Muslim).
Hadis ini, kata Ruqayyah Waris Maqsood, hanya berarti jika perbuatan seksual
dilakukan jauh di atas tingkat hewani semata-mata. Apakah hal menakjubkan yang
mengubah seks menjadi sedekah, yang menjadikannya sebagai masalah pahala atau
dosa dari Allah? Yaitu dengan menjadikan kehidupan seks seseorang lebih dari
sekedar hubungan fisik biasa; yaitu dengan niatan untuk mendapat ridha Allah dengan
cara bersikap perhatian terhadap pasangannya. Seorang suami yang tak dapat
memahami hal ini tidak akan mendapatkan penghormatan dari istrinya.
Wallahu A’lam bishawab.
Tak selalu mudah memahami apa yang disukai istri ketika berjima’. Kadang ada
suami yang merasa sudah memuaskan kebutuhan jima’ istrinya, tetapi istri tidak
merasakannya. Hal ini antara lain disebabkan oleh perbedaan karakteristik seks antara
laki-laki dan perempuan sebagaimana kita sebut terdahulu. Bagi laki-laki, jima’ lebih
berpusat pada bertemunya dua kemaluan. Padahal bagi wanita, itu “hanyalah”
pelengkap ketika farji sudah siap untuk menerima. Artinya, perlu ada yang lain, yaitu
percumbuan dan ungkapan kata-kata cinta yang merayu dari suaminya.
Dalam hal ini istri perlu membantu suami agar dapat memberikan kepuasan
padanya. Kalau ada bagian-bagian tertentu tubuhnya yang terasa sakit atau risih
ketika diusap atau dibelai-belai, ia perlu mengemukakan kepada suaminya (kecuali
yang ia bisa belajar menikmati). Ia bisa menunjukkan bagian mana yang ia merasa
paling senang kalau dicumbu suaminya, sehingga ia memperoleh kenikmatan. Ia perlu
menyampaikan hal-hal semacam ini dengan cara yang tepat agar suami dapat
menerima dan memperbaiki diri. Bukan merasa tidak mampu.
Selebihnya, adalah kesediaan untuk saling menerima dan memaafkan
kekurangan-kekurangan yang ada pada kekasihnya.
Ada hal lain. Istri bukanlah seonggok bantal guling yang dingin dan kaku ketika
berjima’. Ia juga perlu berperan untuk menjadikan jima’ lebih indah. Gairahkanlah
suami Anda, antara lain dengan menunjukkan gairah Anda kepadanya di atas tempat
tidur. Kata Ibnu Qutaybah, “Semakin besar gairah seorang wanita, semakin besar
pula gairah laki-laki padanya.”
Kalau Anda pandai membangkitkan gairahnya, insya-Allah ia akan lebih tertarik
untuk mencumbu Anda. Ia akan lebih mampu menjadikan Anda terangsang, karena
ketika semangatnya tumbuh, ia akan lebih mudah menyatakan perasaan cintanya
kepada Anda. Tangannya akan lebih ringan untuk membelai dan bermain-main
Kado Pernikahan 196
dengan Anda (sementara Anda butuh permainan pendahuluan untuk bisa terangsang).
Insya-Allah yang demikian akan menjadikan Allah ridha dan memandang Anda
berdua dengan pandangan rahmat.
Berkenaan dengan ini, marilah kita ingat kembali nasehat Rasulullah Saw.
(semoga kita tetap bershalawat kepadanya). Kata Rasulullah Saw., “Sebaik-baik istri
kamu ialah yang menjaga diri lagi pandai membangkitkan syahwat, (yakni) keras
menjaga kehormatan kemaluannya, pandai membangkitkan syahwat suaminya.”
(HR. Dailami dari Anas r.a.).
Sebaliknya, seorang suami hendaknya juga memperhatikan agar tidak terburuburu
ketika melakukan persetubuhan. Hendaknya ia mengajak istrinya bermain dulu.
Jangan langsung menyenggamainya karena ini akan menyakitkan istri. Sakit secara
fisik karena bartholin yang ada dalam vaginanya belum mengeluarkan pelumas.5
Sakit secara psikis karena kecewa dan frustasi. Apalagi kalau suami segera
meninggalkan istri sesudah berjima’, padahal istri baru terangsang saat itu.
Kecuplah istri Anda untuk mengawali jima’. Ciuman yang penuh kerinduan akan
membangkitkan birahi wanita. Banyak wanita yang merasa senang ketika beberapa
bagian tubuhnya dicium agak lama. Wanita juga lebih mudah terangsang apabila
suami memberikan belaian yang hangat sebelum menjima’. Klitoris (al-badhar)
termasuk bagian yang sensitif.
Berkenaan dengan ciuman ini, Imam Al-Zabidi menasehatkan, “Ciuman ini tidak
hanya mencakup pipi dan bibir saja, tetapi suami harus membelai dada serta semua
bagian tubuh istrinya.”
Ciuman, cumbuan, dan kata-kata cinta insya-Allah bisa mengantar istri Anda
untuk mencapai kenikmatan puncak, disamping Anda sendiri insya-Allah akan
merasakan kenikmatan yang lebih indah. Ciuman tidak hanya ke pipi dan bibir.
Genggaman tidak hanya pada pergelangan tangannya.
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah pernah menasehatkan agar persetubuhan bisa
mencapai puncak kenikmatan. Kata Ibnu Qayyim, “Mata memperoleh kenikmatan
dengan memandang kekasih, telinga mendengar perkataannya, hidung mencium
aromanya, mulut mengecupnya dan tangan mengelusnya. Setiap anggota badan
mendapat bagian kenikmatan yang dituntutnya. Jika ada satu anggota badan tidak
mendapatkan bagiannya, maka jiwa terus akan menuntutnya dan tidak merasa tenang
kecuali setelah mendapatkannya. Maka dari itu wanita juga disebut sakan
(ketenteraman), karena jiwa merasa tenteram jika bersanding dengannya. Allah Swt.
berfirman,
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untuk kalian
istri-istri dari jenis kalian sendiri, supaya kalian merasa cenderung dan merasa
tenteram kepadanya.” (Ar-Ruum: 21).”
“Maka dari itu,” kata Ibnu Qayyim menambahkan, “Allah melebihkan jima’
pada siang hari daripada jima’ pada malam hari, karena alasan yang sifatnya naluri,
Kado Pernikahan 197
yaitu karena biasanya indera menjadi pasif pada malam hari dan menuntut untuk
diistirahatkan.”
Pendapat senada juga dikemukakan oleh Ruqayyah Waris Maqsood. Ia menulis,
“Baik untuk diingat bahwa dalam beberapa masyarakat Islam, waktu terbaik untuk
seks bukanlah pada malam hari tetapi pada waktu istirahat siang hari. Ia tak mudah
dilakukan kalau Anda bekerja sejak pagi hingga sore hari! Tetapi mungkin sesekali,
Anda bisa masuk kamar satu jam lebih awal dari biasanya. Adalah hal yang
menyebalkan bagi seorang istri jika satu-satunya perhatian yang diterimanya adalah
“pemberitahuan” yang tiba-tiba tentang keinginan seks suaminya.”
Tetapi sebagian ulama berpendapat lain. Jima’ sebaik-nya dilakukan pada malam
hari, apalagi bagi pengantin yang baru pertama kali melakukan “tugas sakralnya”.
Lepas dari itu tidak ada batasan kapan suami-istri melakukan jima’, kecuali larangan
berjima’ di siang hari pada bulan Ramadhan. Petunjuk-petunjuk dari As-Sunnah lebih
menekankan pemenuhan segera ketika suami bangkit nafsu syahwatnya, serta tidak
cepat-cepat menyudahi agar istri juga bisa ikut merasakan kenikmatan hubungan
intim.
Wallahu A’lam.

Pembahasan lebih rinci mengenai bagaimana mencumbu istri, melakukan jima’
serta berbagai hal yang berhubungan dengan itu, dapat Anda periksa di berbagai
sumber. Literatur keislaman telah kaya dengan pembahasan mengenai masalah ini,
meskipun ada yang lebih tepat disebut seksologi Arab daripada Islam. Tetapi
pembahasan yang telah disumbangkan melalui literatur klasik telah memberi
sumbangan yang sangat berharga.
Pengajian-pengajian di pesantren atau lingkungan yang berdekatan dengan
pesantren, sering mengambil masalah ini sebagai pembahasan rutin. Sebagian daerah
di Jombang misalnya, mengadakan pengajian dengan tema ini setiap sore selama
bulan Ramadhan.
Maka Dalam Jima’ Ada Kemuliaan
Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu biasa memaksakan dirinya berjima’. Ia
menuturkan, “Sungguh aku memaksakan diri bersetubuh dengan harapan Allah akan
mengaruniakan dariku makhluk yang akan bertasbih dan mengingat-Nya.”
Tasabbub (membuat sebab) atau jima’ dalam rangka ingin mempunyai anak,
merupakan tindakan yang disukai Allah. Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu
merupakan salah satu contoh. Ia seorang sahabat utama Rasulullah Saw.. Ia
Kado Pernikahan 198
bertasabbub disebabkan oleh keinginan untuk mempunyai anak yang bertasbih dan
mengingat-Nya.
Syaikh Muhammad bin Umar An-Nawawi Al-Bantani menjelaskan, melakukan
jima’ dengan upaya melahirkan keturunan merupakan bentuk pendekatan kepada
Allah dari empat segi, yaitu:
1. Menegakkan mahabbah (kecintaan) kepada Allah dalam upaya melahirkan
keturunan dengan maksud melestarikan keberadaan manusia.
2. Mencari kecintaan Rasulullah Saw. sebab memperbanyak keturunan merupakan
kebanggaannya.
3. Mencari kebarakahan dengan do’a anak shalih pada saat kedua orangtuanya
meninggal dunia.
4. Mencari syafa’at (pertolongan) dengan meninggalnya anak yang masih kecil bagi
kedua orangtuanya.
Di satu sisi, kemampuan untuk melaksanakan kebaikan yang disengaja, insya-
Allah telah memberikan kebahagiaan tersendiri, di luar kenyataan bahwa Allah
memang telah menyediakan kebahagiaan ketika suami-istri berjima’. Dorongan untuk
mencapai kebaikan dapat menumbuhkan perasaan yang baik ketika bisa
melaksanakan. Barangkali inilah sebabnya keluarga yang memiliki satu misi suci
relatif tak terdengar keluhannya dalam masalah ini (semoga Allah menanamkan misi
dalam hati kita dan keluarga kita. Allahumma amin).
Ibnu Qayyim Al-Jauziyyah menulis, “Dalam jima’ terdapat puncak kenikmatan,
puncak kasih-sayang terhadap kekasih tercinta, pahala, shadaqah, kesenangan jiwa,
hilangnya pikiran-pikiran yang kotor, hilangnya ketegangan, badan terasa ringan dan
bertambah sehat dan bisa melampiaskan cumbuan. Jika jima’ itu sengaja dilakukan
untuk suatu kebaikan, melampiaskan kasih-sayang, kerinduan, kesenangan dan
mengharapkan pahala, maka itulah kenikmatan yang tidak bisa ditandingi kenikmatan
macam apa pun. Terlebih lagi jika persetubuhan itu dilakukan hingga mencapai
puncak orgasme.”
Alhasil, ada dua kenikmatan yang insya-Allah kita cerap saat berjima’ kalau niat
kita baik. Paling tidak, ada satu kenikmatan yang kita reguk jika persetubuhan tak
sempat mencapai orgasme. Masalahnya, apakah niat kita sudah baik? Ini yang saya
tidak berani menjawab.
MENGGAIRAHKAN SUAMI
Dalam sebuah seminar kemuslimahan di Yogyakarta, seorang peserta
menyampaikan masalahnya. Setiap suami menginginkan, ia selalu melayani. Tetapi
ketika ia menghendaki kemesraan, suami sering tidak siap untuk berjima’. Alhasil ia
Kado Pernikahan 199
harus memendam kekecewaan dan kejengkelan karena suami tidak memberi
kehangatan yang ia minta. Padahal ia sangat membutuhkan.
Laki-laki dan perempuan memang berbeda karakteristik seksnya. Seorang
perempuan bisa melayani keinginan syahwat suaminya kapan saja, sekalipun ia tidak
siap. Ekstremnya, ketika sedang tidak memiliki gairah syahwat pun perempuan bisa
melakukan jima’ dengan suaminya. Tetapi tidak demikian dengan laki-laki. Secara
fisik, hanya dalam keadaan tertentu ia bisa memenuhi hasrat istrinya. Dan ini banyak
dipengaruhi oleh kondisi psikis.

“Tidak ada yang lebih menjamin
kebahagiaan hidup berumah tangga,
dan tidak ada yang lebih menjamin
utuhnya kejantanan dan keikhlasan suami,
daripada pengalaman dan pengetahuan istri
mengenai seni bercinta….”
Demikian kata Al-Khasyat.

Potensi seks suami memang merupakan masalah umum suami-istri. Tidak lama
setelah menikah, seorang ikhwan pernah bertanya kepada saya jamu atau ramuan apa
yang dapat menguatkan syahwatnya ketika bersama istri. Secara berseloroh saya
sempat menyebutkan bumbu masakan yang dapat menguatkan syahwat. Konon begitu
kabarnya. Ada juga pil yang menguatkan sesuatu yang ada pada suami. Tetapi di
antara pil kuat atau obat perangsang, ada yang secara jangka panjang berdampak
negatif, antara lain terhadap ginjal. Di samping itu, bisa secara langsung
mengakibatkan lemahnya kesanggupan seks suami setelah sekian lama
mengkonsumsi.
Sebenarnya, insya-Allah suami tidak perlu menggunakan pil jika istri mampu
membangkitkan gairah suami. Kata Ibnu Qutaybah, “Semakin besar gairah seorang
wanita, semakin besar pula gairah laki-laki kepadanya.”
Menurut riwayat, Rasulullah Saw. juga pernah bersabda tentang masalah ini.
Kata Rasulullah, “Sebaik-baik istri kamu ialah yang menjaga diri lagi pandai
membangkitkan syahwat, (yakni) keras menjaga kehormatan kemaluannya, pandai
membangkitkan syahwat suaminya.” (HR. Dailami dari Anas r.a.).
Berkenaan dengan masalah ini, ada baiknya kita mendengar kisah Abdullah bin
Rabi’ah. Dia adalah orang yang terkenal di kalangan orang-orang Quraisy sebagai
Kado Pernikahan 200
orang yang baik dan selalu menjaga kehormatan dirinya. Penisnya tidak bisa ereksi.
Sementara orang-orang Quraisy tidak pernah ada yang memberi kesaksian tentang
kebaikan dan keburukannya dalam masalah ini. Dia pernah menikahi seorang wanita.
Tapi hanya beberapa waktu berselang, istrinya lari darinya dan kembali ke
keluarganya lagi. Begitu seterusnya sampai suatu ketika Zainab binti Umar bin Salamah
berkata, “Mengapa para wanita lari dari anak pamannya?”
Ada yang menjawab, “Karena wanita-wanita yang pernah menjadi istrinya tidak
mampu membuatnya melaksanakan tugas sebagai suami.”
Zainab kemudian berkata:
“Tak ada yang menghalangiku untuk membuatnya bangkit. Demi Allah, saya
adalah wanita yang berperawakan besar dan bergairah.”
Maka Zainab menikah dengannya, selalu sabar meladeninya dan akhirnya
mereka dikaruniai enam anak.
Kisah Abdullah bin Rabi’ah dengan Zainab binti Umar ini memberi pelajaran
yang menarik. Impotensi yang cukup berat bisa tersembuhkan karena istri yang
bergairah dan pandai membangkitkan gairah seks suaminya. Abdullah bin Rabi’ah
bahkan bukan sekedar sembuh dari impotensi. Tidak lahir enam orang anak kalau
mereka tidak aktif ber-tasabbub. Wallahu A’lam bishawab.
Istri yang mengenal suaminya, insya-Allah akan mampu membangkitkan
syahwat suaminya sehingga lebih puas ketika berjima’. Tentang bagaimana
menggairahkan suami, saya kira Anda lebih tahu. Tetapi ada beberapa hal yang
mungkin dapat Anda perhatikan. Selengkapnya bisa Anda simak poin-poin berikut.
Mudah-mudahan ada manfaat-nya bagi Anda untuk menghangatkan kembali
hubungan Anda bersama suami:
Membuang Rasa Malu
Malu merupakan perhiasan orang-orang beriman. Rasulullah Muhammad Saw.
dikenal sebagai orang yang sangat pemalu, begitu pemalunya sehingga diibaratkan
seperti wanita pingitan. Utsman bin Affan, khalifah ketiga sekaligus menantu
Rasulullah juga seorang pemalu. Sifat malu memang perhiasan orang-orang beriman
(seberapa besarkah sifat malu kita?).
Tetapi ada saatnya membuang rasa malu adalah lebih baik. Seorang istri
sebaiknya membuang rasa malu ketika telah membuka pakaiannya di depan suami
dan segera mengenakan kembali setelah jima’ selesai, saat ia kembali bergaul
bersama orang lain yang ada di rumahnya.
Wallahu A’lam bishawab.
Kado Pernikahan 201
Imam Muhammad Al-Baqir menasehatkan, “Wanita yang terbaik di antara
kamu ialah yang membuang perisai malu ketika ia membuka bajunya untuk
suaminya, dan memasang perisai malu ketika ia berpakaian lagi.”
Bilal bin Abi Bardah, kata Ibnu Asakir, suatu hari berkata kepada majelisnya,
“Siapakah wanita yang paling mencintai suaminya?” Orang-orang dalam majelis itu
segera bergeming. Lalu Ishaq bin ‘Abdillah bin Harits an-Naufali maju dan berkata,
“Telah datang orang yang akan memberitahukannya kepada kalian!”
Mereka pun menanyakan masalah hal itu.
Ia menjawab, “Yaitu wanita pemalu yang berusaha menghilangkan rasa
malunya kepada suaminya.”
Ia lalu melantunkan bait syair berikut ini:
Wanita-wanita itu selalu mencurahkan cintanya
sewaktu suaminya tidak ada di sisinya.
Dan bila suami mereka telah kembali,
wanita itu menghilangkan rasa malunya.6
Seorang suami akan semakin sayang kepada istri yang mampu membangkitkan
semangatnya ketika sama-sama menanggalkan pakaian. Dan ia merasakan cinta
semakin mendalam disertai kebahagiaan dan keinginan untuk memberikan
ketenteraman ketika ada rona merah di wajah istri setelah ia kembali menutupi
tubuhnya dengan pakaian. Inilah sebagian di antara rahasia-rahasia. Insya-Allah.
Majid Sulaiman Daudin mengingatkan, keindahan perasaan adalah pakaian bagi
pasangan suami-istri. Sama sekali tidak berdosa bagi mereka berdua untuk saling
bermesraan dan bercumbu rayu mengungkap perasaan-perasaannya dalam bentuk
kata-kata maupun sikap yang disukai.
Sikap suami-istri yang melepas pakaian ketika melakukan hubungan seksual,
atau hanya sedang bercumbu berdua saja di dalam kamar, tidaklah bertentangan
dengan sunnah. Namun tetap, kata Daudin, hendaknya mereka tidak melakukan
hubungan seksual tanpa busana atau tanpa kain penutup.
Selanjutnya Sulaiman Daudin menerangkan, “Sesungguhnya figur seorang
wanita muslim dalam kehidupan rumah tangganya haruslah cukup memiliki rasa malu
saat ditinggal suaminya atau di depan sang suami ketika ada orang ketiga di
rumahnya. Rasa malu seperti itu sangat dianjurkan. Namun, jika suami dan istri
sedang berduaan perasaan malu seperti itu harus ditanggalkan, terutama jika sedang
menuju proses hubungan seksual. Bagaimanapun proses tersebut merupakan
perjalanan yang mampu menjauhkan pasangan suami-istri dari kenistaan atau melihat
sesuatu yang tidak dihalalkan oleh Allah. Oleh karena itu, mereka tidak terlarang
melampiaskan segala keinginannya atau menyegarkan jiwanya dengan cara yang
disukai tanpa merasa bersalah.”
Kado Pernikahan 202
Penulis kitab Qurratul ‘Uyun –kitab klasik pengantar seksologi yang banyak
dibaca di pesantren– bahkan menyatakan bodoh suami-istri yang berjima’ dengan
masih ada kain yang melekat di balik selimutnya. Suami-istri hendaknya melepaskan
setiap kain yang melekat ketika berjima’, sehingga tidak ada yang menghalangi
tercapainya kenikmatan yang sempurna bagi suami-istri. Cukuplah selimut yang
menutup mereka.
Wallahu A’lam bishawab.
‘Alaa kulli hal, seorang istri hendaknya memahami bagaimana mencapai
kenikmatan dan memuaskan suami ketika sedang melakukan keintiman. “Tidak ada
yang lebih menjamin kebahagiaan hidup berumah tangga, dan tidak ada yang lebih
menjamin utuhnya kejantanan dan keikhlasan suami, daripada pengalaman dan
pengetahuan istri mengenai seni bercinta. Kasih sayang yang tercurah di malam hari
akan memperteguh kebahagiaan di siang hari,” demikian kata Al-Khasyat.
Istri hendaknya tidak menjadi mitra yang pasif ketika sedang berjima’ bersama
suami. Istri hendaknya memainkan peran aktif. Jika Anda dingin seperti es, air panas
pun akan menjadi dingin ketika berdekatan dengan Anda. Sebaliknya, jika Anda
bergairah, insya-Allah Anda akan mendapati suami Anda berada di sisi Anda dengan
penuh cinta. Seperti kata Ibnu Qutaybah, “Semakin besar gairah seorang wanita,
semakin besar pula gairah laki-laki kepadanya”.
Allah Telah Menghalalkan
Suatu ketika, Sayyidina Ali radhiyallahu ‘anhu sengaja berdiri di hadapan
penduduk Kufah. Kemudian ia meminum sisa air yang digunakan untuk mencuci
muka sambil berdiri. Kemudian beliau berkata, “Sebagian orang tidak menyukai
minum sambil berdiri, padahal Nabi Saw. pernah melakukan seperti apa yang telah
aku lakukan ini.” (HR. Bukhari).
Ketika memberi syarah (komentar) terhadap hadis ini, Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-
Asqalani berkata dalam Fathul-Bari, “Dalam hadis tersebut terdapat beberapa
pelajaran yang bermanfaat, di antaranya adalah jika orang ‘alim melihat manusia
menjauhi sesuatu, padahal dia tahu bahwa hal itu diperbolehkan dalam agama,
hendaklah dia menjelaskan apa yang benar karena dikhawatirkan berlarut-larut
sehingga manusia menyangkanya haram. Artinya, jika kondisinya seperti itu yang
dikhawatirkan, hendaklah salah seorang yang mengetahui segera memberi tahu
hukumnya, sekalipun tidak diminta, dan jika ditanya, sudah pasti dia harus
menjawabnya.”
Rasulullah Saw. mengingatkan, “Orang yang mengharamkan yang halal sama
dengan orang yang menghalalkan yang haram.” (HR. Ath-Thabrani. Para
perawinya adalah perawi-perawi hadis shahih, kata Hafizh Haitsami).
Kado Pernikahan 203
Sesungguhnya, telah sempurna kebijakan Allah atas apa-apa yang dihukumkan-
Nya, baik mengenai apa yang dihalalkan maupun yang diharamkan. Adapun kalau
kita tidak mengambil apa yang dihalalkan tanpa mengharamkannya, maka yang
demikian ini insya-Allah termasuk keleluasaan yang diberikan kepada kita. Kita tidak
berdosa karenanya. Wallahu A’lam bishawab.

Suami-istri boleh telanjang
dan melihat kemaluan,
tetapi lebih sopan kalau saling menutupi
seperti yang dilakukan
Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib.

Memandang aurat istri termasuk perkara yang dihalalkan. Allah telah
menghalalkan seorang suami untuk melihat aurat istri seluruhnya. Konsensus (ijma’)
ulama-ulama terdahulu telah menegaskan kebolehannya. Nanti silakan periksa
Ensiklopedi Ijma’ (Pustaka Firdaus) terjemahan KHA. Mustofa Bisri dan KH. Sahal
Mahfudz pada entri aurat.
Ijma’ ini ditegaskan lagi oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah. Ketika ditanya
tentang laki-laki apabila melihat kepada seluruh tubuh istrinya, dan meraba-rabanya
hingga kemaluannya, ia menjawab, “Tidak haram.”
Ketika ditanya apakah boleh suami-istri telanjang dan melihat kemaluan yang
lain, M. Mutawalli Sya’rawi menjawab, “Boleh, tetapi lebih sopan kalau saling
menutupi seperti yang dilakukan Sayyidina Ali bin Abi Thalib karamallahu
wajhahu.”
Jawaban Sya’rawi ini tidak menunjuk kepada keharaman memandang aurat istri.
Sya’rawi tetap menunjukkan kehalalan sambil pada saat yang sama mengemukakan
adab. Dalam hal ini perlu dibedakan antara ketentuan hukum dengan adab. Masalah
ini perlu saya kemukakan karena saya mendengar sebagian orang telah memandang
haram apa yang telah dihalalkan oleh Allah ini. Juga, saya tergerak untuk menuliskan
ini ketika saya mendengar adanya kemadharatan yang dilakukan oleh sebagian orang
karena tidak adanya pengetahuan bahwa hal ini, yaitu melihat kemaluan istri dan
merasakannya, dibolehkan.
Saya teringat kepada Ustadz Abdul Hakim Abdats dalam kuliahnya tentang
derajat hadis. Ketika menerangkan mengenai contoh-contoh hadis dha’if (lemah) dan
maudhu’ (palsu), beliau sampai kepada hadis-hadis yang melarang suami melihat
kamaluan istri sesudah memberitahukan kedudukan hadisnya, Ustadz Abdul Hakim
Kado Pernikahan 204
Abdats mengatakan, “Allah telah halalkan. Maka halallah seluruhnya. Halal dilihat,
halal disentuh, halal dirasa, dan seterusnya.”7
Anggapan tentang haramnya suami-istri saling melihat aurat, antara lain
berangkat dari sebuah hadis:
Khath Arab
“Apabila seorang dari kalian melakukan persetubuhan, maka janganlah melihat
kemaluan karena yang demikian dapat mengakibatkan kebutaan. Dan jangan pula
memperbanyak pembicaraan karena dapat mengakibatkan kebisuan.”
Menurut Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani, hadis ini maudhu’ (palsu)
dan diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dengan sanad dari Uzdi, dari Ibrahim bin
Muhammad bin Yusuf al-Firyabi, dari Muhammad bin Abdur Rahman at-Tastiri, dari
Abu Hurairah r.a.
Ibrahim, kata Al-Uzdi, adalah tidak diperhitungkan. Sedang menurut Al-Albani,
kelemahan hadis ini karena Muhammad bin Abdur Rahman mengutarakan sanadnya
secara tunggal, di samping ia banyak mengutarakan riwayat-riwayat munkar.
Ada hadis lain yang mirip dengan ini, yaitu yang berbunyi:
Khath Arab
“Apabila seorang dari kalian menjima’ istri atau budak wanitanya, maka jangan
melihat kemaluannya, karena yang demikian dapat menyebabkan kebutaan.”
Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnul Jauzi dalam kitab al-Maudhu’at dari riwayat
Ibnu Adi dengan sanad dari Hi-syam bin Khalif, dari Buqyah, dari Ibnu Juraij, dari
Atha’, dari Ibnu Abbas r.a.. Begitu Syaikh Muhammad Nashirud-din Al-Albani
menerangkan.

Hadis tersebut dengan jelas menunjukkan
kebolehan suami-istri saling melihat kemaluan masing-masing,
baik dalam keadaan mandi bersama atau ketika bersetubuh.
(Muhammad Nashiruddin Al-Albani)

Kado Pernikahan 205
Mengenai hadis ini, Al-Albani menyatakan bahwa hadis ini maudhu’. Palsu.
Artinya, Nabi tidak pernah mengatakan yang demikian ini, sehingga tidak bisa
dipakai untuk istidlal (pengambilan dalil) hukum haram atau makruhnya memandang
aurat istri. Masih ada hadis-hadis lain yang berkenaan dengan hal ini, tetapi
kedudukannya juga lemah sehingga tidak perlu kita tambahkan di sini.
Penilaian terhadap hadis ini dapat kita tambahkan dengan mengutip tulisan
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam bukunya Silsilah Hadits Dha’if dan
Maudhu’. Al-Albani menulis bahwa Ibnul Jauzi berkata, “Menurut Ibnu Hibban,
Buqyah dahulunya suka meriwayatkan dari para pendusta dan suka mencampur aduk
perawi sanad, banyak mempunyai kitab sahib dhu’afa dalam meriwayatkan hadis.
Riwayat ini boleh jadi merupakan salah satu yang diriwayatkan dari sanad yang
dha’if, yaitu Ibnu Juraij, kemudian ditadliskan (campur aduk). Hadis ini adalah maudhu’.”
Penilaian di atas, kata Al-Albani menambahkan, dari segi sanadnya. Adapun dari
segi maknanya, ia bertentangan dengan hadis shahih yang ada dalam Shahihain dan
Ashabus Sunan lainnya, yang menyebutkan bahwa Aisyah r.a. mandi bersama dengan
Rasulullah Saw. dengan bergantian gayungnya, dan bahkan disebutkan saling
berebutan gayung. Hadis tersebut dengan jelas menunjukkan kebolehan suami-istri
saling melihat kemaluan masing-masing, baik dalam keadaan mandi bersama atau
ketika bersetubuh.
Yang lebih menguatkan hal ini, tegas Al-Albani, adalah riwayat Ibnu Hibban dari
sanad Sulaiman bin Musa bahwa ia ditanya tentang suami melihat kemaluan istrinya,
maka ia menjawab, “Aku tanyakan kepada Atha, maka ia menjawab, ‘Aku tanyakan
kepada Aisyah r.a., maka ia menjawab seraya menyebutkan hadis.’”
Ibnu Hajar, pensyarah Shahih Bukhari paling otoritatif sampai saat ini,
mengomentari dengan satu perkataan singkat, “Inilah nash tentang pembolehan
seorang suami melihat kemaluan istrinya, atau sebaliknya, yakni istri melihat kemaluan
suami.”
Jadi, tidak ada halangan bagi Anda untuk melihat kemaluan pasangan hidup
Anda begitu akad nikah diucapkan. Allah telah halalkan persetubuhan bagi Anda,
maka halallah apa-apa yang dengannya Anda bertasabbub. Halal untuk dilihat, halal
untuk disentuh, halal untuk diraba, halal untuk dirasa, dan seterusnya. Demikian kita
mengingat kembali penjelasan Abdul Hakim Abdats.
Seorang istri boleh melihat apa yang ada pada suaminya. Dan seorang suami juga
boleh memandang perhiasan istrinya. Melihat kemaluan dapat menghangatkan
kembali gairah suami yang sedang menurun. Seorang suami yang dingin dapat
digairahkan syahwatnya dengan memberinya kesempatan untuk melihat, memandang
maupun menyentuh kemaluan istri. Kata Al-Razi, memandang adalah obat
perangsang birahi yang begitu hebat sehingga rangsangan yang ditimbulkannya tidak
tertahankan.
Kado Pernikahan 206
“Jika wanita itu halal bagi laki-laki, maka laki-laki itu boleh melihat semua
bagian tubuhnya,” kata Al-Zabidi.
Sedang Khuraisi mengemukakan, “Seorang suami diperbolehkan melihat
kemaluan istrinya.”
Bahkan ketika ada orang bertanya, “Bolehkah seseorang mencium vagina
istrinya?”, Imam Abul-Hasan Al-Kazhim mengatakan “Tidak ada masalah.”
Masih banyak sumber dan argumen yang menunjukkan kebolehan. Sebagian
kitab yang melarang, juga tidak menyatakan sebagai larangan syar’i. Ketika Qurratul
‘Uyun melarang suami untuk mendatangi istri dalam posisi miring, penulisnya tidak
melarang secara syar’i. Tetapi hanya pertimbangan kesehatan agar pinggang tidak
sakit. Begitu menikah, suami-istri berhak untuk merasakan keindahan dari tubuh
teman hidupnya, kecuali menjima’ dubur. Menjima’ dubur adalah terlarang.
Demikianlah, saya perlu menerangkan masalah ini agar apa yang dibolehkan
agama tidak sampai dianggap haram. Mengharamkan yang halal, dapat mendatangkan
madharat (kerugian) dan mafsadat (kerusakan) yang besar di belakang hari. Setiap
perkara yang besar bermula dari yang kecil. Adapun kalau Anda tidak menyukai,
misalnya karena alasan adab, maka yang demikian insya-Allah termasuk keleluasaan
bagi Anda sejauh tidak mengharamkan.
Wallahu A’lam bishawab. Astaghfirullahal ‘adzim.
Sebaliknya, seorang suami juga perlu memahami istrinya. Sekalipun halal
memandang kemaluan istri, Anda perlu memperhatikan kesiapan dan perasaannya.
Apalagi pada awal-awal menikah ketika ia merasa belum betul-betul menjadi bagian
dari diri Anda. Ketika ia merasa masih agak asing terhadap Anda karena dulu Anda
adalah orang lain, maka yang ia perlukan adalah kehalusan dan kelembutan. Sikap
kasar dan tergesa-gesa ketika meminta istri mengizinkan Anda melihatnya, dapat
membuatnya menarik diri secara psikis. Tetapi jika Anda dapat mendekati dengan
kelembutan dan kasih-sayang, insya-Allah ia justru dipenuhi dengan perasaan cinta
dan kerelaan terhadap Anda. Allahumma amin.
Suami bisa jadi tergerak hatinya untuk melihat ketika sedang berjima’. Bisa juga
Anda saling melihat sesudah melakukan jima’. Mudah-mudahan yang demikian ini
dapat menjadikan istri mencapai kenikmatan yang lebih indah karena suami tidak
buru-buru tidur, padahal istri masih ingin ada pembicaraan dan cumbuan yang hangat.
Suami biasanya cepat mengantuk setelah mencapai orgasme, kecuali jika ia berusaha
keras untuk menyenangkan istrinya karena mengingat hadis Nabi, “Apabila salah
seorang dari kalian bersebadan dengan istrinya, hendaklah menyempurnakannya
(istrinya). Jika ia mendahului istrinya, janganlah mempercepat (meninggalkan)
istrinya itu.” (HR. Abu Ya’la dari Anas).
Astaghfirullahal ‘adzim. Semoga Allah menjauhkan kita dari fitnah. Allahumma
amin.
Kado Pernikahan 207
Sebagai penutup pembahasan tentang masalah ini (semoga Allah mengampuni
kita), mari kita dengarkan penegasan Ruqayyah Waris Maqsood, seorang muslimah
dari Inggris yang menikah dengan orang Pakistan. Dalam bukunya Mengantar
Remaja Ke Surga, Ruqayyah menjelaskan kepada para suami agar tidak merasa jijik
terhadap apa yang ada pada istrinya. Ia menulis, “Wanita buang air kecil dari saluran
yang benar-benar berbeda dengan tempat yang digunakan untuk hubungan seksual.
Adalah hal yang benar-benar diperbolehkan bagi seorang suami untuk menyentuh
vagina (dan klitoris) istrinya, dan tidak menyentuhnya dari tempat keluarnya air
kencing. Rasulullah Saw. menganjurkan untuk mencukur secara teratur rambutrambut
yang tumbuh di kemaluan. Ini merupakan pekerjaan yang sulit bagi wanita,
tetapi lebih disukai demi kebersihan dan membangkitkan daya tarik seksual bagi
pasangan.”
“Jika wanita mandi sebelum mengadakan hubungan intim, dan mungkin
mengenakan parfum kesayangan,” kata Ruqayyah lebih lanjut, “tetapi suami tetap
menganggap istri kotor, maka itu berarti ia telah bersikap mengabaikan, dan secara
zalim mengecam ciptaan dan tujuan Allah, dan melalaikan tugasnya.”
Nah.
Berkenaan dengan hikmah mencukur rambut kemaluan dan memakai wewangian
bagi wanita, bisa Anda simak kembali bab Memasuki Malam Zafaf. Selebihnya mari
kita periksa sub judul berikut ini.
Pakaian dan Parfum Istri
Allah telah memberi keleluasaan bagi kita pada tiga waktu aurat untuk
menanggalkan pakaian luar. Saat-saat ini (sebelum shalat subuh, tengah hari dan
sesudah shalat isya’) memberi ruang privacy (kerahasiaan) bagi kita. Kita diajarkan
untuk membiasakan orang-orang di sekeliling kita, bahkan termasuk anak kita yang
belum baligh, untuk meminta izin kalau mereka ingin memasuki kamar kita.
Pada waktu-waktu ini, suami-istri boleh mengenakan pakaian yang seandainya
dilihat orang lain mengakibatkan dosa, tetapi menyenangkan bagi pasangannya dan
insya-Allah menjadikan Allah merahmati Anda. Di antara para suami ada yang
senang jika istrinya mengenakan pakaian-pakaian menarik ketika beristirahat di
tempat tidur. Ia ingin agar istri memakai pakaian dalam saja dan bertingkah laku
manja saat berdekatan di pembaringan. Adapun kalau sudah di luar, ia akan bersikap
tegas karena seorang muslimah memang seharusnya mengenakan busana yang
menutup auratnya dengan benar.
Sebagian suami, demikian juga istri, berkeinginan untuk saling berintim-intim
ketika berangkat ke pembaringan. Sebagian berkeinginan untuk menjalin keakraban
dengan kedekatan fisik tanpa melakukan jima’; berpegangan tangan, mengusap
rambut, mengecup kening dan saling memandang dengan rasa sayang. Adakalanya
kedekatan fisik berarti jima’.
Kado Pernikahan 208
Keinginan untuk menciptakan keakraban, khususnya berkenaan dengan jima’
antara lain tumbuh karena kepandaian istri dalam mengenakan pakaian dan aroma
mewangi dari parfum pilihannya. Rangsangan ini mendorong suami untuk melakukan
percumbuan –satu hal yang menyenangkan istri– sebelum berjima’.
Pemakaian parfum bagi istri insya-Allah juga mendatangkan kemaslahatan bagi
kedua pihak, terutama istri. Ada tempat-tempat yang dapat membangkitkan birahi istri
apabila suami mengecupnya dalam-dalam. Dan pemakaian parfum pada tempattempat
itu membimbing suami untuk mencumbu dengan penuh kecintaan dan
semangat.
Kalau begitu, seorang istri muslimah dituntut untuk glamour? Tentu saja tidak.
Anda juga perlu membatasi diri, di samping mengingatkan suami untuk tidak
berlebihan.

Membentengi istri dari gejolak nafsu syahwatnya
merupakan kewajiban seorang suami.
Tetapi ada baiknya istri juga memahami
cara membangkitkan gairah seks suami.

Mudah-mudahan Allah membarakahi pernikahan kita semua dan mengampuni
kesalahan-kesalahan yang kita lakukan. Semoga Allah memberikan kepada kita
keturunan yang memberi bobot kepada bumi dengan kalimat laa ilaaha illaLlah dan
dapat menjadi syafa’at bagi orangtuanya kelak di yaumil-hisab. Allahumma amin.
Ciptakan Suasana Dulu
Ada kalanya keinginan untuk berjima’ datang dari istri. Keinginan bisa muncul
di saat suami sedang bergairah, sehingga keduanya dapat melakukan jima’ yang
paling indah. Tetapi bisa jadi, permintaan istri untuk melakukan jima’ datang pada
saat suami sedang dingin sehingga tidak bisa menguak hasrat istrinya. Suami tidak
menjima’ istri, pada-hal istri sangat membutuhkan. Masalah inilah yang pernah
dikeluhkan oleh seorang peserta seminar keputrian di Yogyakarta sebagaimana saya
sebut pada bagian terdahulu.
Ada kalanya istri menginginkan ada yang menyentuh dirinya sebelum mata
terlelap tidur. Ia ingin suami mencumbu dan memberikan keintiman fisik tanpa jima’
saat bersama-sama di pembaringan, sedang mata belum mengantuk dan gairah sedang
Kado Pernikahan 209
bangun. Tetapi karena suami kecapekan, sementara keinginan itu demikian kuatnya,
ia menghabiskan malam itu dengan pelukan air mata yang mengering.
Membentengi istri dari gejolak nafsu syahwatnya merupakan kewajiban seorang
suami. Begitu Imam Al-Ghazali mengingatkan dalam Ihya’nya. Tetapi ada baiknya
istri juga memahami cara membangkitkan gairah seks suami. Meminjam kata-kata
Utsman al-Khasyat, seorang istri perlu memahami seni bercinta.
Jika Anda sedang bergejolak dan ingin ada sentuhan hangat dari kekasih,
ciptakan suasana kehangatan dan romantis antara Anda dengan suami terlebih dulu.
Anda tentu lebih mengerti bagaimana tersenyum kepadanya. Mudah-mudahan yang
demikian ini menjadikannya lebih siap. Kalau hari itu ia merencanakan kegiatan
sampai malam hari sehingga menyebabkannya kecapekan seperti beberapa hari
belakangan, mungkin ia bisa mengambil keputusan untuk pulang satu dua jam lebih
awal demi memenuhi kerinduan Anda. Atau ia akan menunda keberangkatannya
untuk mencurahkan kasih-sayangnya kepada Anda.
Atau Anda bisa menyampaikan keinginan ketika ia akan berangkat, “Mas…,
jangan pergi. Aku ingin engkau di sisiku.”
Bisa juga Anda menelponnya agar tidak pulang terlalu malam. Begitu. Saya kira
pembicaraan ini telah cukup.
Hanya Untuk Anda
Menurut riwayat, Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah mengatakan, “Bilamana
rambut seseorang bertambah, dorongan seksnya berkurang.”
Rambut yang dimaksud di sini adalah rambut yang tumbuh antara pusar dan
kemaluan. Semakin bertambah rambut seseorang pada bagian itu, semakin berkurang
dorongan seksnya. Meskipun harus diingat bahwa dorongan seks tidak hanya muncul
karena satu sebab.
Perkataan ini juga berarti, menghilangkan rambut pada area pusar dan kemaluan
dengan cara mencukurnya akan dapat menambah gairah. Gairah Anda ketika berjima’
dengan suami, maupun gairah suami terhadap Anda. Sehingga mencukur rambut
kemaluan bisa sebagai cara untuk membangkitkan birahi Anda sendiri maupun suami.
Mencukur rambut kemaluan dapat menjadikan vagina lebih hangat. Yang demikian
ini insya-Allah menjadikan jima’ Anda lebih nikmat dan menyenangkan.
Selengkapnya bisa Anda baca kembali uraian tentang ini pada bab Memasuki Malam
Zafaf di awal jendela dua buku ini.
Maka kalau suatu saat Anda merasa gairah Anda surut, barangkali Anda sudah
lama tidak mencukur rambut kemaluan Anda. Padahal telah lebih dari 40 hari –
jangka waktu terlama untuk mencukur rambut, memotong kuku, dan mencabuti bulu
ketiak. Begitu mestinya.
Kado Pernikahan 210
Tentang perkara ini ada yang perlu dijelaskan. Askhanu aqbalan (lebih
hangatnya vagina) baru akan tercapai kalau seseorang memotongnya secara bersih.
Bukan sekedar memangkasnya. Hal ini juga berlaku bagi suami. Mencukur rambut
dapat menjadikannya bergairah jika dilakukan hingga bersih. Bukan sekedar
mengurangi.
Wallahu A’lam.
Mencukur rambut secara teratur termasuk perkara yang disunnahkan oleh
Rasulullah Saw.. Kata Rasulullah Saw., “Lima perkara dari fithrah; mencukur bulu
kemaluan, berkhitan, menggunting kumis, mencabuti bulu ketiak, dan memotong
kuku.” (HR. Jama’ah).
Dari Anas bin Malik r.a., berkata, “Telah dijangkakan waktu untuk kami
terhadap urusan menggunting kumis, memotong kuku, mencabuti bulu ketiak,
mencukur bulu ari, yakni jangan lebih dari empat puluh hari sekali.” (HR. Muslim
dan Ibnu Majah).
Anda dapat mengingatkan suami tentang sunnah Rasulullah ini. Di luar
kenyataan bahwa hal ini bisa membangkitkan dorongan seks suami, yang lebih
penting lagi adalah bahwa ini merupakan perkara sunnah. Insya-Allah jika Anda
senantiasa mengingatkan suami, termasuk mandi di hari Jum’at, Allah akan ridha
terhadap Anda dan melimpahkan barakah ke dalam perkawinan Anda. Allahumma
amin.
Akhirnya, kita bisa menggarisbawahi bahwa seandainya Anda melakukan untuk
merangsang keinginan seks suami, maka yang demikian ini insya-Allah tetap
merupakan perbuatan yang dirahmati dan diridhai Allah. Sebab berjima’ dengan
suami yang sah adalah perkara yang diridhai Allah. Sedang hal-hal yang menjadi
“wasilah”nya, juga dipandang sebagai kebaikan yang diridhai Allah. Sebagaimana
kata Ibnu Qayyim ketika membahas masalah jima’, “Setiap kenikmatan yang
membantu terwujudnya kenikmatan di hari akhir adalah kenikmatan yang dicintai dan
diridhai oleh Allah Swt.. Pencipta kenikmatan itu akan merasakan kenikmatan dalam
dua segi. Pertama, perbuatan tersebut menyampaikan dirinya kepada ridha Allah Swt..
Selain itu, akan datang pula kepadanya nikmat-nikmat lain yang lebih sempurna.”
***
Rasulullah Saw. menganjurkan untuk mencukur secara teratur rambut-rambut
yang tumbuh di kemaluan. Ini merupakan pekerjaan yang sulit bagi wanita, tetapi
lebih disukai demi kebersihan dan membangkitkan daya tarik seksual bagi pasangan.
Begitu Ruqayyah mengingatkan.
Sulitnya mencukur rambut kemaluan bagi wanita, barangkali disebabkan
tempatnya yang tidak mudah dibersihkan dengan menggunakan pisau cukur biasa.
Kepekaan kulit juga mempengaruhi, sehingga banyak wanita yang enggan mencukur
Kado Pernikahan 211
rambut kemaluan. Ini berbeda dengan mencukur rambut ketiak yang relatif lebih
mudah dan tidak bikin risih.
Jika Anda termasuk yang mengalami masalah dengan pisau cukur yang tidak
sesuai, barangkali Anda bisa mempertimbangkan untuk memakai pisau cukur yang
khusus didesain untuk keperluan wanita. Tetapi kalau Anda bertanya bagaimana
mengatasi rasa risih karena mencukur rambut itu, saya tidak bisa menjawab.
Begitu. Mudah-mudahan uraian ini bermanfaat bagi Anda.
Aktif Secara Bijak
Ketika seorang sahabat memberi tahu Rasulullah bahwa ia baru saja menikah
dengan seorang janda, Rasulullah Saw. mengatakan, “Mengapa tidak gadis yang ia
dapat bermain denganmu dan engkau bermain dengannya, engkau menggigitnya dan
ia menggigitmu?” (HR. An-Na-sa’i).
Nabi Saw. juga pernah menasehatkan, “Hendaklah kalian kawin dengan gadis
karena ia lebih lembut mulutnya, lebih lengkap rahimnya, tidak berfikir untuk
berbuat serong, dan lebih menerima keadaan.” (HR. Ibnu Majah dan Al-Baihaqi
dari Uwaimir bin Saidah).
Berangkat dari hadis ini, Husein Muhammad Yusuf dalam buku Memilih Jodoh
dan Tata-cara Meminang dalam Islam (GIP, 1995) menerangkan, “Pernikahan
dengan seorang gadis lebih utama dari janda, karena dapat membuat hubungan lebih
erat, hati bersatu, bisa bercanda dan bersenang-senang. Bahkan Rasulullah Saw.
menerangkan kepada para sahabat suatu kenikmatan yang tidak akan dijumpai pada
janda. Kecupan pada lidah, bibir dan ciuman pada mulut istri yang masih gadis
mempunyai kesan dan kenikmatan tersendiri.”
Saling mencandai dan menggoda dengan godaan sayang dapat menambah
keindahan rumah-tangga. Ini bisa kita jumpai pada hadis yang lain lagi. Masih
berkenaan dengan kelebihan menikahi gadis.
Dari Jabir r.a., berkata, “Kami suatu saat bersama Nabi Saw. pada suatu
peperangan. Ketika kami pulang dan sudah dekat dengan Madinah, saya berkata
kepada Rasulullah Saw., “Ya Rasulullah, saya baru jadi pengantin.”
Rasulullah Saw. berkata, “Kamu sudah menikah?”
Saya menjawab, “Benar.”
Beliau Saw. bertanya lagi, “Dengan perawan atau janda?”
Saya menjawab, “Dengan janda.”
Bersabdalah Rasulul Saw., “Kenapa tidak dengan perawan sehingga engkau
bisa bercanda dengannya?”
Kado Pernikahan 212
Dalam riwayat lain, “Kenapa tidak dengan yang muda sehingga engkau bisa
menggodanya dan ia bisa menggodamu?”
Atau bersabda, “… sehingga engkau dapat tertawa dengannya dan ia tertawa
denganmu?”
(Muttafaqun ‘Alaihi).
Hadis-hadis ini antara lain menggambarkan keuntungan menikah dengan gadis
adalah bisa saling menggoda, bercanda, dan bahkan saling menggigit dengan gigitan
mesra. Istri penuh gairah dan menampakkan cinta kasihnya. Inilah yang insya-Allah
dapat mengantarkan kita mencapai kenikmatan surgawi. Sehingga perasaan suamiistri
menjadi hidup dan terbawa ke dalam kehidupan sehari-hari. Dan yang demikian
ini merupakan sifat-sifat bidadari di surga yang dijanjikan Allah Swt.. Mereka adalah
gadis yang sebaya usianya dan penuh cinta kasih. Artinya, mereka penuh kelembutan
dan gairah. Demikian antara lain maknanya sebagaimana dapat kita pahami dari
sebuah hadis Nabi Saw. yang diriwayatkan oleh Ath-Thabrany.
Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Saya berkata, “Ya
Rasulullah, jelaskanlah kepadaku firman Allah tentang bidadari-bidadari yang
bermata jeli.”
Beliau menjawab, “Bidadari yang kulitnya bersih, matanya jeli dan lebar,
rambutnya berkilau seperti sayap burung nazar.”
Saya berkata lagi, “Jelaskanlah kepadaku tentang firman Allah, ‘Laksana
mutiara yang tersimpan baik’.”8
Beliau menjawab, “Kebeningannya seperti kebeningan mutiara di kedalaman
lautan, tidak pernah tersentuh tangan manusia.”
Saya berkata lagi, “Ya Rasulullah, jelaskanlah kepada-ku firman Allah, ‘Di
dalam surga-surga itu ada bidadari-bidadari yang baik-baik lagi cantik-cantik’”9
Beliau menjawab, “Akhlaknya baik dan wajahnya cantik jelita.”
Saya berkata lagi, “Jelaskanlah kepadaku firman Allah, ‘Seakan-akan mereka
adalah telur (burung onta) yang tersimpan dengan baik’.”10
Beliau menjawab, “Kelembutannya seperti kelembutan kulit yang ada pada
bagian dalam telur dan terlindung kulit telur bagian luar, atau yang biasa disebut
putih telur.”
Saya berkata, “Ya Rasulullah, jelaskanlah kepadaku firman Allah, ‘Penuh cinta
lagi sebaya umurnya’.”11
Beliau menjawab, “Mereka adalah wanita-wanita yang meninggal di dunia pada
usia lanjut, dalam keadaan rabun dan beruban. Itulah yang dijadikan Allah tatkala
mereka sudah tahu, lalu Dia menjadikan mereka sebagai wanita-wanita gadis, penuh
cinta, bergairah, mengasihi dan umurnya sebaya.”
Kado Pernikahan 213
Saya bertanya, “Ya Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah
bidadari yang bermata jeli?”
Beliau menjawab, “Wanita-wanita dunia lebih utama daripada bidadaribidadari
yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang
tidak tampak.”
Saya bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?”
Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada
Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutera,
kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan,
sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, “Kami hidup
abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu
mendampingi dan tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah
bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami
memilikinya.”
Saya berkata, “Ya Rasulullah, salah seorang wanita di antara kami pernah
menikah dengan dua, tiga, atau empat laki-laki lalu dia meninggal dunia. Dia masuk
surga dan mereka pun masuk surga pula. Siapakah di antara laki-laki itu yang akan
menjadi suaminya di surga?”
Beliau menjawab, “Wahai Ummu Salamah, wanita itu disuruh memilih, lalu dia
pun memilih siapa di antara mereka yang akhlaknya paling bagus, lalu dia berkata,
‘Wahai Rabb-ku, sesungguhnya lelaki inilah yang paling baik akhlaknya tatkala
hidup bersamaku di dunia. Maka nikahkanlah aku dengannya’. Wahai Ummu
Salamah, akhlak yang baik itu akan pergi membawa dua kebaikan, dunia dan
akhirat.”12
Ketika menuliskan hadis ini dalam bukunya Taman Orang-orang Jatuh Cinta
dan Memendam Rindu, Ibnu Qayyim melanjutkan dengan pembahasan mengenai
kelebihannya kenikmatan bersetubuh dengan istri yang dinikahi ketika masih perawan
dan belum pernah merasakan persetubuhan sebelumnya. Ini menarik untuk disimak.
Tetapi pembahasan kita sekarang bukanlah mengenai masalah ini.
Masalah yang menjadi perhatian sekarang adalah, aktifnya seorang istri dengan
penuh kelembutan dan perasaan cinta, dapat menjadikan suami lebih bergairah.
Keaktifan merupakan sikap yang disukai oleh Islam. Islam memandang kecintaan
yang penuh sebagai sifat wanita ideal yang ada dalam surga.
“Hendaknya kaum wanita mengetahui bahwasanya tidak ada yang lebih
menyakitkan hati pria yang memiliki perasaan membara dalam pernikahan kecuali
dengan seorang wanita yang “dingin”, yang kurang memberikan reaksi pada
ungkapan perasaan suaminya,” kata Muhammad Utsman Al-Khasyat, “Beberapa
sensus menunjukkan bahwa sikap seperti ini dianggap sebagai faktor pemicu
timbulnya perceraian, rusaknya rumah tangga, serta hancurnya kendali diri.”
Kado Pernikahan 214
“Oleh karena itu,” kata Muhammad Utsman Al-Kha-syat melanjutkan,
“seharusnya setiap wanita yang tulus dan ikhlas memperhatikan kebahagiaan
suaminya agar berusaha keras melaksanakan segala sesuatu guna mewujudkan
keharmonisan seksual yang sempurna bersamanya.”
Keaktifan dan sikap yang penuh kecintaan ketika berjima’ dapat ditunjukkan
dengan kata-kata yang menimbulkan kerinduan, kerjapan mata, maupun ciuman
manja. Istri juga memberikan pijatan romantis di saat-saat berjima’. Sebagian di
antara cara memijat dapat meningkatkan birahi suami.
Wallahu A’lam bishawab. Astaghfirullahal ‘adzim.
Mandi Jinabah Bersama
Menggairahkan suami juga bisa dilakukan dengan mandi jinabah bersama setelah
melakukan jima’. Sehingga kenikmatan selama berjima’, semakin sempurna dengan
kedekatan dan canda di saat sedang mandi bersama.13 Ada kedekatan, ada penunaian
kewajiban agama untuk membersihkan diri dari hadas besar, ada canda, ada
kenikmatan dan ada keindahan di saat saling melihat, memandang dan melayani
hingga berangkat kembali ke kamar tidur bersama-sama. Di saat ini Anda masih bisa
menjalin kemesraan. Barangkali justru semakin mempererat jalinan perasaan di antara
Anda.
Semoga Allah mempersatukan Anda berdua hingga yaumil-akhir. Kalau ada
sebagian orang mengungkapkan, “Tak ada yang dapat memisahkan kita kecuali
kematian.”, maka jika keduanya mencapai pernikahan yang penuh barakah, keduaduanya
beriman kepada Allah, insya-Allah mereka akan dipersatukan oleh Allah ke
dalam surga-Nya. Sehingga tak ada yang dapat memisahkan mereka, sekalipun itu
kematian (semoga kita termasuk yang demikian).
Mandi bersama insya-Allah akan melengkapi kenikmatan yang masih kurang,
terutama bagi istri, jika sebelumnya belum mencapai kenikmatan yang paling
sempurna. Perasaan dicintai merupakan sesuatu yang sangat berharga bagi seorang
wanita. Dan tidak ada yang lebih indah kecuali perasaan dicintai oleh orang yang ia
cintai. Tak berbeda dengan kebahagiaan seorang laki-laki ketika ia merasa mendapat
penghormatan dari kekasihnya, istri yang telah dipinangnya dengan kalimat Allah di
waktu yang lalu.
Mandi bersama bagi pengantin yang baru menikah, insya-Allah akan dapat
mempererat cinta kasih antara keduanya. Mereka akan lebih mudah menemukan
keharmonisan (ulfah) dan pertautan hati. Rasa rikuh dan kekakuan akan lebih mudah
mencair. Sehingga keduanya dapat saling menemukan kecocokan dan keselarasan,
termasuk dalam masalah jima’.
Adakalanya istri merasa malu dan risih dengan payudaranya. Karena sekalipun
yang melihat adalah suaminya sendiri yang telah menikahinya secara sah, tetapi
Kado Pernikahan 215
sebelumnya ia adalah orang lain. Ini perlu diatasi dengan baik. Sikap yang tidak tepat
karena suami terburu-buru ingin mereguk kebebasan bersama, justru dapat
menjadikan istri menarik diri secara psikis. Ia tidak merasa dekat.
Jika Anda mendapati istri Anda demikian, padahal Anda ingin lebih dari itu,
nasehat Ruqayyah dapat Anda perhatikan. Kata Ruqayyah, “Ingat juga, jika istri
merasa malu dengan payudaranya, maka ia akan lebih malu terhadap daerah di
sekitar alat kelaminnya. Laki-laki yang mau mengatasi perasaan semacam itu pada
dirinya sendiri, dan perlahan-lahan menghilangkan rasa malu istrinya adalah salah
satu ciri seorang Muslim yang pandai dan berhasil.”
Kalau ia tidak bisa mengatasi rasa malu istrinya, tidak bisa lemah lembut dan
sabar ketika menguak rasa malu istri, maka ia sulit menjumpai pengalaman jima’
yang sempurna. Sulit merasakan kenikmatan surga, meminjam istilah Imam Al-
Ghazali, yang dicicipkan Allah di dunia.
Benarlah kata-kata Ruqayyah ketika menyinggung masalah laki-laki yang
sembarangan dan ceroboh dalam mengatasi rasa malu istri. Kalau para suami
menguak rasa malu istri dengan cara yang menyakitkan perasaan, “Akibatnya, mereka
tidak pernah menikmati pengalaman berhubungan intim dengan wanita yang benarbenar
penuh gairahnya,” kata Ruqayyah. Padahal, ‘Ketika gairah wanita sudah benarbenar
sempurna, ia tak dapat lagi mengendalikan gerakan-gerakannya yang penuh
semangat, yang dikenal sebagai qabd yang terjadi di dalam vagina. Sebagian laki-laki
tak pernah melihat keadaan ini –suatu tragedi yang menyedihkan dan sebenarnya tak
perlu terjadi,”
Menghilangkan rasa malu istri ketika telah membuka pakaian di hadapan suami,
perlu kelembutan dan kearifan.14 Perasaan wanita sangat peka. Jika ia masih sangat
pemalu saat jima’ di malam pertama, maka suami dapat menghilangkan perasaan itu
perlahan-lahan di saat tidak sedang melakukan jima’. Mandi janabah bersama
misalnya. Sehingga istri bisa lebih terbuka dan dapat lebih bersemangat saat
melakukan jima’ pada kesempatan berikutnya.
Alhasil, insya-Allah banyak sekali maslahat yang akan Anda peroleh jika Anda
melaksanakan sunnah mandi janabah bersama, terutama di masa-masa pengantin
baru. Masa awal-awal pengantin baru adalah saat yang penting. Anda dapat
memulainya di malam pertama. Masalahnya, malam pertama ada kalanya tidak
berarti zafaf (pemboyongan) istri ke rumah suami. Malam pertama di masa sekarang
sering berarti kesempatan untuk menikmati jima’ yang pertama kali di rumah mertua.
Jadinya, malu kan sama mertua kalau mau mandi janabah bersama? He hmm.
Tentu saja mandi jinabah bersama bukan hanya untuk pengantin baru. Anda bisa
melakukannya di saat-saat ada kesempatan. Meskipun pernikahan Anda sudah
membuahkan keturunan yang sekarang sudah saatnya menikah. Anda dapat meminta
suami menemani mandi jinabah untuk mempererat jalinan perasaan dan menyegarkan
kembali gairah suami terhadap Anda. Atau –tak harus mandi jinabah– Anda dapat
memintanya mandi bersama, atau Anda menemaninya di saat sedang mandi, untuk
Kado Pernikahan 216
kemudian melanjutkan dengan jima’. Ini insya-Allah dapat menjadikannya bergairah
ketika Anda membutuhkan, maupun ketika ia ingin sekali meluapkan rasa rindunya
setelah lama berada di perjalanan (selengkapnya baca sub bab Ketika Jima’ Menjadi
Keutamaan).
Menurut riwayat, Rasulullah Saw. biasa mandi bersama istrinya, Aisyah r.a.
Selengkapnya mari kita dengar penuturan Ummul Mukminin ‘Aisyah radhiyallahu
‘anha sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam shahih-nya:
Khath Arab
‘Aisyah berkata, “Saya mandi bersama-sama dengan Rasulullah Saw. dari satu
bejana. Beliau mendahului saya hingga saya berkata, ‘Tinggalkan saya, tinggalkan
saya’.” Waktu itu keduanya berjanabat. (HR. Muslim).
Di dalam hadis lain, Imam Ahmad, Abu Dawud, An-Nasa’i dan At-Tirmidzi
meriwayatkan:
Khath Arab
Dari Ibnu Abbas; ia berkata, “Salah seorang istri Nabi Saw. mandi dalam sebuah
bejana. Maka datanglah Nabi Saw. untuk berwudhu atau mandi dari bejana itu.
Namun istrinya menegur beliau, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya ini junub.”
Nabi menjawab, “Sesungguhnya air ini tidak ikut memuat janabat.” (HR. Ahmad,
Abu Dawud, An-Nasa’i, dan At-Tirmidzi).
Ummu Salamah juga pernah mengatakan:
Khath Arab
“Aku pernah mandi janabat bersama-sama Rasulullah Saw. dari satu bejana.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Jadi, tak ada halangan syar’i bagi Anda untuk mandi bersama. Baik dalam satu
kamar mandi maupun dalam satu bathtube (jika Anda punya). Semoga Allah
merahmati dan memberi kesempurnaan barakah kepada kita semua. Allahumma
amin.
Kado Pernikahan 217
Kebutuhan Wanita Lebih Bersifat Psikis
Kebutuhan dan kegairahan seks wanita lebih bersifat psikis daripada fisik. Ia
akan merasakan kegairahan dan kerelaan jika ia merasa dicintai oleh orang yang ia
cintai. Laki-laki sedikit berbeda.
Wallahu A’lam bishawab.
Ada hikmah di dalamnya. Ini yang dapat kita pikirkan.
***
Akhirnya, saya juga harus menjelaskan kepada Anda untuk melengkapi
pembahasan kita tentang menggairahkan suami. Selain peran istri yang besar dalam
membangkitkan gairah suaminya dan menjaganya agar tidak surut, suami juga perlu
memperhatikan hal-hal yang dapat menyebabkan hubungan intimnya menjadi
berantakan. Inilah jawaban saya atas pertanyaan yang pernah diajukan kepada saya
oleh seorang ikhwan yang baru menikah tentang ramuan yang dapat membangkitkan
syahwat, sebagaimana telah saya paparkan di muka.
Lebih lanjut marilah bersama-sama memahami soal ini dengan perumpaan
sederhana. Istri Anda di rumah (namanya istri ya di rumah), mungkin pernah
menggoreng kerupuk untuk teman lauk di kala Anda makan. Kalau istri Anda sering
menggoreng kerupuk, dia mesti tahu bedanya menggoreng kerupuk ketika minyak
belum panas, sedang panas, dan ketika terlalu panas karena api yang kelewat besar.
Kalau minyak belum begitu panas, kerupuk sulit mengembang. Sering dalamnya
tidak matang. Selain itu tidak bisa renyah. Lebih repot lagi kalau minyak goreng yang
dipakai kurang bagus, rasanya akan serik, merepotkan tenggorokan. Sedang kalau api
terlalu besar sehingga minyak goreng terlampau panas, kerupuk tidak mau
mengembang. Sebentar saja akan hangus. Padahal dalamnya belum matang.
Sama seperti menggoreng kerupuk, yang terbaik adalah kalau panasnya tepat dan
terkendali. Terlalu dingin, kerupuk tidak matang. Terlalu panas, kerupuk hangus
sebelum matang. Repot, kan?
Alhasil, semuanya ternyata berpulang pada pengendalian diri Anda. Susahnya,
ini yang banyak tidak diketahui orang, termasuk oleh saudara-saudara kita.
Berkenaan dengan pengendalian diri ini, ada satu kisah yang sangat menarik.
Ketika Sayyid Muhammad Al-Baqir menikah, banyak tamu yang datang untuk ikut
berbahagia atas peristiwa mulia ini. Ketika hari sudah malam dan tamu-tamu sudah
pada pulang, Sayyid Al-Baqir bermaksud mendatangi istrinya di kamar pengantin.
Tetapi di sana masih banyak kaum perempuan yang berkumpul, sehingga beliau
malu. Setelah ditunggu agak lama, perempuan-perempuan itu belum juga pergi.
Akhirnya beliau menyelinap ke kamar sebelah. Di sana beliau membaca kitab dan
menelaahnya. Beliau memang seorang ‘ulama yang sangat cinta terhadap ‘ilmu.
Kado Pernikahan 218
Begitu asyiknya menelaah kitab dan memikirkannya, sampai-sampai beliau tidak
tahu kalau perempuan-perempuan yang berkumpul di kamar pengantin sudah pergi.
Di kamar pengantin istrinya menunggu, tapi suaminya tak kunjung datang. Sementara
Sayyid Muhammad Al-Baqir semakin tenggelam dalam kitab yang dibacanya. Beliau
terus membacanya hingga tersadar hari sudah pagi ketika terdengar adzan Subuh.
Kisah Al-Marhum Sayyid Muhammad Al-Baqir ini memberi kita dua pelajaran
penting. Pertama, kecintaan yang sangat besar kepada ‘ilmu, dapat membuat kita
mampu terjaga semalam suntuk untuk membaca, kegiatan yang bagi sebagian orang
sangat membosankan dan monoton. Kedua, soal pengendalian diri yang sangat bagus,
sehingga di malam pertama pernikahan pun dapat menyibukkan diri dengan membaca
kitab secara serius. Kalau tak mempunyai pengendalian diri yang bagus, orang tak
bisa berkonsentrasi di waktu yang sangat menegangkan seperti itu.
Lalu, bagaimana dengan kita?
SAAT-SAAT YANG TEPAT
“Istri yang cerdas,” kata Muhammad Abdul Halim Hamid, “adalah istri yang
dapat memilih saat-saat yang tepat untuk membangkitkan gairah suami dan
menciptakan aktivitas jima’ yang indah.”
“Untuk itu, “ kata Muhammad Abdul Halim Hamid menambahkan, “maka
siapkanlah segala sesuatunya sedemikian rupa, sehingga menambah rasa suka cita
yang lebih dalam.”
Di bagian yang lain, ia juga menulis, “Suami yang cerdas melakukan jima’ pada
waktunya yang pas, sehingga semakin sempurna kenikmatan dan kebahagiaan yang
diraih.”
Sebelum melanjutkan pembicaraan mengenai saat-saat yang tepat untuk
berjima’, ada baiknya kita mengingat kembali peringatan-peringatan Rasulullah
mengenai pentingnya segera memenuhi panggilan suami untuk melakukan jima’.
“Demi Dzat yang jiwaku di tangan-Nya,” kata Rasulullah Saw., “tidaklah
seorang laki-laki mengajak istrinya ke tempat tidur, kemudian ia menolaknya kecuali
bahwa yang ada di langit marah kepadanya sehingga suaminya ridha kembali.”
(HR. Muttafaqun ‘Alaihi).
Dari Aththa’ bin Dinar Al-Hadzali berkata, Rasulullah Saw. bersabda, “Tiga
golongan yang tidak diterima shalatnya, kebaikannya tidak bisa naik ke atas langit
bahkan tidak melewati kepala-kepala mereka, (salah satunya adalah) seorang wanita
yang ketika diajak suaminya di malam hari ia menolaknya.” (HR. Ibnu Huzaimah).
Rasulullah Muhammad al-ma’shum juga menasehatkan:
Kado Pernikahan 219
Khath Arab
Dari Abu Ali Thalaq bin Ali r.a., sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda,
“Apabila seorang suami mengajak istrinya, maka penuhilah segera meskipun ia
sedang berada di dapur.” (HR. Tirmidzi dan Ibnu Hibban).
Hadis-hadis ini menunjukkan pentingnya segera memenuhi gairah syahwat
suami. Jika suami mengajaknya berjima’, sekalipun saat itu ia sedang memasak, maka
memenuhi ajakan suami untuk bercinta di atas tempat tidur lebih utama. Bahkan
melakukan puasa sunnah saja, akan tidak bernilai apa-apa jika suami tidak ridha
lantaran menghambat pemenuhan kebutuhan seksnya. Memenuhi keinginan suami
untuk bersetubuh dalam hal ini lebih mulia daripada melakukan ibadah puasa sunnah.
Sebagian suami memang memiliki dorongan seks yang besar, sehingga ia bisa
melakukan jima’ beberapa kali dalam sehari. Umar ibn Ubaydillah r.a., menurut
riwayat melakukan jima’ tujuh kali di malam pengantinnya ketika menikah dengan
Aisyah binti Thalhah r.a., kemenakan Ummul Mukminin ‘Aisyah r.a..15
Pembahasan mengenai saat-saat yang tepat, tidak berkait langsung dengan
kewajiban segera memenuhi keinginan seks suami. Saat-saat yang tepat lebih
berkenaan dengan bagaimana mencapai keindahan, keharmonisan, dan kenikmatan
yang lebih sempurna bagi pasangan dengan berusaha untuk melakukan jima’.
Kenikmatan jima’ yang sempurna akan melapangkan jiwa, menyegarkan pikiran,
meringankan badan, dan memberikan ketenteraman. Sehingga dapat menambah
keharmonisan, menjalin kembali kerukunan jika sempat keruh, dan –salah satu
hikmahnya– menjadikan suami lebih bersemangat ketika berkiprah di tengah
masyarakat.
Saat-saat yang tepat itu antara lain:
Malam-malam Bahagia
Jima’ dianjurkan dilakukan pada malam-malam bahagia, kata Abdul Halim
Hamid, seperti malam walimah kerabat dan handai tolan.
Suami maupun istri dapat saling mengingatkan pasangannya kepada kenangan
terindah di malam pertama, sehingga membangkitkan kerinduan dan rasa cinta yang
menggelora. Pada saat seperti ini, insya-Allah suami-istri sangat siap melakukan jima’
sehingga mencapai kebahagiaan tersendiri yang tidak setiap saat bisa diraih. Ada yang
lain dalam kebahagiaan kali ini.
Kado Pernikahan 220
Ketika Hati yang Berselisih Rukun Kembali
Kadang-kadang hati manusia tidak jernih. Ia mudah terbakar ketika mendengar
perkataan yang belum jelas kedudukannya, tanpa melakukan tabayyun terlebih dulu
untuk memeriksa kebenaran berita maupun kebenaran interpretasinya.
Kadang-kadang suami-istri mengalami ketegangan, sehingga komunikasi antara
keduanya menjadi beku. Dan ketika menyadari kekhilafan masing-masing, ada
keinginan untuk menghapus kesalahan dan mencairkan kembali kebekuan yang ada di
antara mereka.
Di saat seperti inilah, jima’ sangat baik untuk dilakukan dengan penuh kecintaan.
Jima’ menjadi pertanda penyerahan diri dan kerelaan hati untuk merajut kembali
sulaman cinta kasih berumah tangga. Jima’ menjadi kesempatan untuk menyatakan
ketulusan dan keinginan yang sungguh-sungguh untuk memperbaiki hubungan dan
memaafkan kekurangan-kekurangan pasangannya.
Saat Suami Menghadapi Cobaan
Kadangkala orang harus menghadapi kesulitan di luar rumah. Bisa jadi benturanbenturan
kecil karena adanya gesekan dengan orang lain, termasuk gesekan ideologis.
Bisa kesulitan di tempat kerja.
Di saat seperti ini, istri bisa cepat tanggap. Ia tidak membiarkan suaminya
menahan beban berat sendirian. Ia bisa menghiburnya. Ia memberi perhatian yang
sangat tulus –sesuatu yang begitu berharga bagi orang yang bermasalah. Ia
memberikan kecintaan yang tulus. Ia juga membangkitkan kerinduan suami,
menumbuhkan gairahnya untuk berjima’ dan kemudian melayaninya di atas tempat
tidur dengan gairah dan cinta kasih yang penuh.
Jika suami mampu mencapai kenikmatan yang sempurna karena istri pandai
membangkitkan gairah syahwatnya, ia akan merasakan kelegaan, kelapangan dan
merasa ada yang mendukungnya. Ini merupakan kekuatan psikis yang sangat besar
artinya untuk membuatnya tetap tegar dan kuat.
Jadi, hubungan intim di saat ini tidaklah sekedar pelampiasan kebutuhan
biologis. Ada yang lebih penting dari itu. Perasaan dicintai dan diterima.
Selain itu, ada yang masih bisa dilakukan oleh seorang istri ketika suami
menghadapi masalah. Ketika orang menghadapi beban berat, apakah itu berupa
perasaan bahagia yang teramat sangat ataukah ketegangan dan kesedihan, maka yang
ia butuhkan adalah seorang sahabat yang tulus dan mau mendengarkan dengan baik.
Ia membutuhkan pendengar yang baik; seorang yang mau mendengar sekaligus
menunjukkan perhatian. Dan yang seharusnya bisa demikian adalah istri.
Kado Pernikahan 221
Biarkanlah ia menumpahkan segala bebannya. Dengarkanlah semuanya. Tetapi
tidak pasif. Dengarkan dengan menunjukkan bahwa Anda memperhatikannya. Inilah
yang terpenting.
Anda juga bisa belajar untuk menentukan kapan sebaiknya Anda memberikan
pendapat dan meluruskan hal-hal yang kurang tepat. Kalau ia masih meluap-luap,
sebaiknya Anda menunda dulu sampai ia menumpahkan seluruh beban jiwanya.
Sesudah ia tenang, baru Anda bisa menyampaikan koreksi. Mungkin esok hari atau
ketika ia berbincang santai.
KETIKA JiMA’ MENJADI KEUTAMAAN
Setiap kali suami-istri melakukan jima’, Allah telah memberikan pahala bagi
mereka di surga kelak. Ketika seorang suami menjima’ istrinya, maka baginya
tercatat pahala shadaqah. Kapan saja suami-istri melakukan, sejauh tidak dalam
waktu yang terlarang (misal ketika istri haid), Allah menyediakan kebaikan bagi
mereka.
Di luar itu, ada jima’ yang insya-Allah lebih utama. Keutamaan ini karena Nabi
Saw. memberi anjuran untuk melakukannya. Insya-Allah jika kita melaksanakannya
karena mengharap syafa’at Rasulullah dan ingin memperoleh kemaslahatan yang ada
di dalamnya, Allah akan memberikan barakah dan ridha-Nya atas jima’ yang kita
lakukan hingga kelak kita menemuinya sebagai kemuliaan di akhirat. Allahumma
amin.
Ada dua waktu yang di dalamnya terdapat kemuliaan. Setidaknya, hanya inilah
yang saya ketahui. Pertama, ketika suami pulang dari bepergian jauh, terutama untuk
waktu yang cukup lama. Kedua, ketika suami pulang mendadak karena ia terangsang
birahinya saat berada di luar rumah.
Pertama,
Ketika Pulang dari Bepergian
Pulang dari bepergian jauh merupakan saat-saat mulia untuk melakukan jima’.
Rasulullah Saw. memberi tuntunan bagi suami dan istri mengenai jima’ setelah
pulang dari bepergian jauh, terutama jika perjalanan itu sampai memakan waktu
beberapa hari. Apalagi kalau sampai berminggu-minggu.
Seorang suami hendaknya bersegera mengajak istrinya berjima’ ketika sampai di
rumah. Salah satu hikmah melaksanakan sunnah berjima’ ketika pulang dari
bepergian adalah menghibur hati istri yang selama ditinggal di rumah harus
memendam kerinduan, harus menanggung sepi saat di pembaringan dan gelisah
karena menanti serta memikirkan keselamatan suami di perjalanan. Jima’ setelah
Kado Pernikahan 222
lama tidak bertemu dengan kekasih, insya-Allah akan membawa berbagai
kemaslahatan. Antara lain, ada rasa sayang yang semakin bertambah.
Hikmah lain menyegerakan jima’ setelah bepergian jauh adalah menghilangkan
kekeruhan hati dan mungkin juga syahwat suami, sehingga tak ada tempat lagi untuk
berkembang. Godaan-godaan syahwat dan benih-benih ketidakbaikan akan segera
terkikis ketika memperoleh kehangatan dari istri terkasih. Kehangatan yang berbeda
dengan saat-saat biasa.
Kadang-kadang masalah seperti ini diabaikan karena benih ketidakbaikan itu
begitu kecil. Barangkali tidak kelihatan. Tetapi benih yang kecil itu dapat tumbuh
besar dan menampakkan bentuknya 10 atau 20 tahun mendatang.
Bisa jadi memang tak ada penyakit hati yang sempat menyentuh suami maupun
istri. Tetapi tak ada jaminan bahwa setiap bepergian selalu aman dari penyakit hati,
baik bagi yang bepergian maupun bagi yang ditinggal. Karena itu, segera melakukan
jima’ dengan penuh keinginan setelah pulang, dapat menjadi usaha preventif. Lebih
penting dari itu, jima’ sesudah bepergian jauh merupakan sunnah Rasulullah Saw.. Di
dalamnya pasti ada kebaikan yang sangat besar. Kebaikan dunia maupun kebaikan
akhirat.
Begitu sebagian hikmah jima’ sesudah bepergian jauh. Barangkali itulah
sebabnya –Wallahu A’lam– maka tugas untuk mempersiapkan jima’ terletak pada
keduanya, baik suami maupun istri. Islam menganjurkan pada seorang istri untuk
berhias ketika menyambut kedatangan suami dan memberi kehangatan seks yang
paling sempurna. Ini dilakukan dengan, antara lain, mencukur rambut kemaluan
(masih ingat hikmahnya, bukan?).
Dalam sebuah hadis dinyatakan:
Khath Arab
Dari Jabir r.a., sesungguhnya Rasulullah Saw. bersabda, “Jika engkau datang
dari bepergian, janganlah kembali kepada istrimu pada malam hari, agar ia dapat
mencukur rambut kemaluannya lebih dulu dan merapikan dandanannya serta
lakukanlah jima’.” (HR. Khamsah kecuali An-Nasa’i).
Agar istri dapat bersiap-siap, suami sebaiknya memberi tahu terlebih dulu
kepulangannya sebelum ia sampai di rumah. Di masa lalu, ini dapat dilakukan dengan
menyuruh orang untuk mengabarkan. Tetapi pada masa sekarang, umumnya sudah
banyak yang memperoleh kemudahan dengan adanya fasilitas telepon.
Sebaiknya, suami juga tidak kembali ke rumah pada malam hari. Pada saat ini
mungkin istri sedang tidak siap. Apalagi jika ia sudah tidur nyenyak, pikirannya bisa
Kado Pernikahan 223
panik. Sehingga tidak bisa memberikan sambutan yang paling hangat. Justru bisa
sebaliknya, istri merasa jengkel.
Selain itu, Anda mungkin juga sangat lelah dan mengantuk di saat itu, sehingga
Anda tidak bisa lama menemani istri. Tidak bisa lama ketika merayu dan mencumbu
sebelum berjima’. Sesudah melakukan jima’, Anda mungkin sudah mengantuk
sehingga tidak sempat lagi untuk memberikan kecupan dan kemesraan kepada istri.
Padahal istri menghendaki masih ada kemesraan sesudah jima’. Tidak langsung
ditinggal tidur suaminya, sementara ia harus menyimpan kecewa.
Tetapi yang demikian ini barangkali tidak selalu bisa kita lakukan. Jika kita bisa
memperkirakan sebelumnya, kita bisa memberi tahu istri kapan kira-kira kita pulang.
Sehingga pada waktu tersebut istri mempersiapkan diri sekedarnya dan
menyempurnakan sesudah suami tiba.
Adapun kalau kita tidak sempat memberi tahu, maka kita bisa menunggu istri
untuk mempersiapkan diri terlebih dulu. Kalau kita terpaksa pulang malam, kita bisa
mengusahakan agar sampai di rumah tidak terlalu malam sehingga ada waktu untuk
mencandai istri. Tetapi jika terpaksa pulang cukup malam (sementara masjid
sekarang biasanya dikunci sehabis Isya’), maka Anda yang lebih tahu bagaimana
sebaiknya.
Istri yang cerdas akan menguak kerinduan suaminya. Ia memberi sambutan
hangat dan membangkitkan syahwat suami. Ia berhias dengan dandanan yang
menyenangkan. Ia memberi kemanjaan yang menggemaskan, tanpa kehilangan
kedewasaannya. Ia menarik minat suaminya dengan perkataan yang menyejukkan dan
kecupan yang penuh kasih-sayang.
“Kecupan yang dilakukan dengan penuh perasaan,” kata Muhammad Utsman Al-
Khasyat dalam buku Muslimah Ideal Di Mata Pria, “memberikan bukti yang tulus
bagi terwujudnya keharmonisan jasmani dan ruhani. Nilainya melebihi ribuan janji.
Selain memberikan tanda keharmonisan jasmani dan ruhani, kecupan juga
menjadikan hubungan seksual semakin mengasyikkan.”
“Pria tidak akan melupakan hal ini ketika melakukan hubungan seksual dengan
istrinya,” kata Al-Khasyat menandaskan, “Ia akan menganggap istrinya sebagai
wanita ideal jika memiliki kemampuan untuk mengekspresikan kerinduan melalui
ungkapan-ungkapan bibir dari kedua belah pihak. Wanita yang mengabaikan dan
tidak mau tahu tentang semuanya itu akan kehilangan pondasi keharmonisan rumah
tangga dan mendapatkan celaan dari semua pria.”
Wallahu A’lam.
Kado Pernikahan 224
Kedua,
Ketika Harus Pulang Mendadak
“Jika salah seorang di antara kamu melihat wanita cantik dan hatinya menjadi
cenderung kepada wanita itu,” kata Rasulullah Saw. menasehatkan, “maka ia harus
pulang dan menemui istrinya dan mendatanginya di tempat tidur supaya ia terhindar
dari pikiran yang kotor.” (HR. Muslim).
Suatu saat suami Anda mungkin akan pulang mendadak karena mengingat pesan
Rasulullah Saw.. Ia pulang tidak seperti biasanya. Baru satu atau dua jam
meninggalkan rumah, ia sudah kembali lagi dan meminta Anda untuk bercinta di
tempat tidur.
Di saat seperti ini, Anda barangkali tidak begitu siap. Mungkin juga Anda tidak
begitu bergairah karena sedang sibuk di dapur. Bau bumbu masak yang tak sedap saja
masih melekat.
Tapi, kesampingkan dulu masalah itu. Saat ini yang lebih utama adalah
menyambutnya dengan memberi pelayanan di atas tempat tidur sebaik-baiknya.
Biarkanlah kepuasan seksnya ia peroleh dari Anda, sehingga pikirannya tidak keruh
mengharapkan yang lain. Berbahagialah kalau suami Anda ternyata harus pulang
mendadak, sekalipun Anda tidak begitu siap, karena ini menandakan ia menjaga
agamanya, kehormatan seksnya, serta kesetiaan cintanya kepada Anda.
Dalam keadaan tertentu, suami juga mungkin tidak sempat mencumbu dan
merayu Anda sehingga Anda benar-benar terangsang ketika akan berjima’. Ia
mungkin melakukannya cuma sebentar sebelum Anda sempat merasakan birahi. Ia
buru-buru bersetubuh tanpa pemanasan yang cukup. Quickie istilahnya.
Maka jika suami ternyata melakukan quickie di saat pulang mendadak,
relakanlah. Insya-Allah masih ada kesempatan untuk jima’ yang lebih indah di lain
waktu. Atau, jika ia masih bergairah, Anda dapat memintanya untuk mengulang jima’
sehingga ia dapat menyempurnakannya untuk Anda. Antarkanlah ia untuk berwudhu.
Kemudian Anda bisa menjalin kemesraan kembali.
O ya, jangan lupa menutup pintu, jendela-jendela, kerai-kerai, dan tirai. Jagalah
agar tidak ada anak yang mendengar.16 Suara orangtua yang berjima’ bisa
mengganggu pikiran anak. Apalagi jika anak sampai melihatnya. Pengalaman primalscene
(melihat orang berjima’ pada masa kanak-kanak) dapat menimbulkan dampak
yang kurang baik.
Jangan lupa gantungkan dulu gagang telepon. Dering telepon saat berjima’ hanya
akan mengganggu. Biarlah saat ini hanya khusus untuk Anda berdua.
Satu lagi, bagaimana kalau Anda sedang haid? Tak ada halangan untuk melayani
suami. Jika ia harus pulang mendadak, Anda bisa ber-mubasyarah (bermesraan).
Suami boleh memperoleh kenikmatan dari tubuh istrinya, kecuali apa yang ada di
bawah pusar. Selain itu istri bisa membantu suami untuk beristimna’. Mengenai
Kado Pernikahan 225
masalah ini, nanti silakan baca sub judul Padahal Istri Sedang Haid di bab ini juga.
Nggak enak membicarakannya sekarang . . . .
JIMA’ SELAMA HAMIL
Sebagian literatur kesehatan yang membahas masalah kehamilan,
merekomendasikan agar suami-istri tidak melakukan hubungan intim selama trimester
(tiga bulan) pertama. Alasannya, jima’ pada trimester pertama dapat membahayakan
janin yang ada dalam kandungan. Tetapi, rekomendasi ini lemah. Pertama, tidak
banyak suami-istri yang mampu mengetahui kehamilan hingga beberapa minggu.
Mereka mengetahui bahwa istri sudah mengandung ketika kehamilan menginjak usia
8 atau 10 minggu. Selama masa tidak mengetahui, tidak ada hambatan untuk
melakukan hubungan seks. Dan ternyata tidak terjadi apa-apa.
Kedua, sejauh ini saya tidak melihat argumentasi medis yang betul-betul kuat
untuk kehamilan yang normal. Sehingga rekomendasi yang semacam ini tidak
mempunyai kekuatan untuk diikuti.
Kekhawatiran sebagian orang untuk berjima’ dengan istrinya ketika hamil, bukan
masalah baru. Sejak dulu orang sering mencemaskan. Dulu orang-orang Arab juga
tidak berani melakukan hal itu karena khawatir akan menimbulkan mudharat terhadap
anaknya. Kemudian Nabi Saw. menjelaskan kebolehannya. Judamah binti Wahb Al-
Asadiyyah r.a. menceritakan hadis berikut, bahwa Nabi Saw. pernah bersabda:
“Sesungguhnya aku hampir saja akan melarang ghilah (menyetubuhi istri yang
sedang menyusui) sebelum aku ingat bahwa orang-orang Rumawi dan Persia