Tesis:

BAB I

PENDAHULUAN

 

A.   Latar Belakang Masalah

Indonesia sebagai salah satu negara yang sedang berkembang, pada saat ini sedang giat-giatnya melakukan pengembangan program pendidikan. Pendidikan yang sudah dilaksanakan Pemerintah Indonesia bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan bangsa sesuai dengan apa yang dikemukakan di Undang-undang Dasar 1945. Secara teori pendidikan  sudah ada kemajuan namun pada kenyatannya program pendidikan tersebut belum bisa menjadikan Indonesia maju.

Menganlisis kondisi pendidikan di Indonesia, kualitas hasil dari proses pembelajaran khususnya dalam pelajaran IPA belum meningkat. Ada beberapa sebab yang dalam hal ini terjadi diantaranya adalah kesulitan dalam mengajarkan pengetahuan pada siswa, hal ini disebabkan karena kondisi siswa dan kemampuan guru dalam mengajarkan bahan pelajaran IPA kurang optimal baik di dalam membuat desain pembelajaran dan penggunaan strategi pembelajaran juga media pembelajaran yang kurang sesuai dengan kebutuhan siswa SMP.

Karakteristik siswa SMP beragam, diantaranya adalah siswa memiliki ketidak mampuan dalam berpikir abstrak dan mudah lupa, ada pula siswa yang mampu berpikir abstrak dan tidak mudah lupa, oleh sebab itu maka dalam mengajarkan materi pelajaran IPA ada yang langsung pada tahap pembelajaran konsep dan ada yang tidak langsung pada tahap pembelajaran konsep. Dimana proses pembelajaran yang secara langsung harus dilakukan secara bertahap, dari mulai abstrak, semi konkrit dan konkrit, atau mengajarkan materi pelajaran IPA tidak langsung pada tahap pembelajaran secara abstrak, tetapi harus bertahap dari mulai tahap konkrit, semi konkrit dan abstrak yang harus disertai dengan alat peraga yang sesuai dengan materi pembelajaran. Semua itu dengan tujuan untuk mempermudah pemahaman mereka terhadap materi yang diajarkan, dan tidak kalah pentingnya bahwa dalam menyusun materi pembelajaranpun harus sesuai dengan kebutuhan siswa SMP.

Pelajaran IPA merupakan materi pembelajaran yang sifatnya cenderung konkrit, dan sedikit abstrak yang memerlukan media-media pembelajaran dalam memahaminya, namun tidak berarti dalam mengajarkan konsep-konsep yang ada dalam materi pengajaran IPA tidak bisa menggunakan contoh-contoh yang konkrit untuk membantu siswa memahaminya. Oleh karena itu contoh-contoh yang bersifat konkrit yang bisa dimanipulasi oleh siswa SMP sangat membantu keberhasilan pembelajaran dalam mata pelajaran IPA.

Penyajian materi pembelajaran pada tahap semi konkrit adalah, yang mana penyajian materi pembelajaran dibantu dengan alat peraga yang berupa gambar-gambar, video, dan lain sebagainya. Tahap abstrak dengan melalui tahap konkrit, pada tahap ini penyajian materi pembelajaran dibantu dengan alat peraga yang sifatnya konkrit atau benda yang nyata ataupun berbentuk model yang bisa dimanipulasi yang mana penyajian materi pembelajaran langsung bersifat abstrak, contohnya kalau materi pembelajaran mengenai ekosistem, langsung menggunakan gambar ekosistem kebun misalnya. Tahapan-tahapan pembelajaran ini harus dilalui oleh siswa untuk memudahkan memahami konsep-konsep ekosistem.

Penerapan konsep-konsep ekosistem di bidang pertanian, perkebunan sangat diperlukan untuk mengembalikan fungsi-fungsi tanah yang rusak dan menjaga tanah-tanah yang rusak serta tanah yang baru dibuka agar tercapai produksi setinggi-tingginya secara lestari. Ekosistem secara garis besar dibedakan menjadi 2, yaitu ekosistem darat dan ekosistem perairan. Ekosistem perairan dibedakan atas ekosistem air tawar dan air laut. Ekosistem darat dibedakan atas bioma gurun, bioma padang rumput, bioma hutan basah, bioma hutan gugur, bioma taiga, dan bioma tundra.

Aplikasi dan perkembangan konsep-konsep ekosistem merupakan suatu interaksi yang kompleks dan memiliki penyusun yang beragam. Di bumi ada bermacam-macam ekosistem. Perkembangan ekosistem terlihat dengan adanya perubahan-perubahan pada populasi mendorong perubahan pada komunitas. Perubahan-perubahan yang terjadi menyebabkan ekosistem berubah. Perubahan ekosistem akan berakhir setelah terjadi keseimbangan ekosistem. Keadaan ini merupakan klimaks dari ekosistem. Apabila pada kondisi seimbang datang gangguan dari luar, keseimbangan ini dapat berubah, dan perubahan yang terjadi akan selalu mendorong terbentuknya keseimbangan baru

Pentingnya pengetahuan konsep-konsep ekosistem diterapkan pada pendidikan formal. Agar para siswa dapat berperan dan berpikir divergen terhadap penciptaan ekosistem yang seimbang.

Ekosistem terbentuk oleh komponen hidup dan tak hidup di suatu tempat yang berinteraksi membentuk suatu kesatuan yang teratur. Keteraturan itu terjadi oleh adanya arus materi dan energi yang terkendalikan oleh arus informasi antara komponen dalam ekosistem itu. Masing-masing komponen itu mempunyai fungsi atau relung. Selama masing-masing komponen itu melakukan fungsinya dan bekerja sama dengan baik, keteraturan ekosistem itu pun terjaga.

Keteraturan ekosistem menunjukkan, ekosistem tersebut ada dalam suatu keseimbangan tertentu. Keseimbangan itu tidaklah bersifat statis, melainkan dinamis. Ia selalu berubah-ubah. kadang-kadang perubahan itu besar, kadang-kadang kecil. Perubahan itu dapat terjadi secara alamiah, maupun sebagai akibat perbuatan manusia.

Kondisi semua ekosistem selalu dihadapkan dengan berbagai permasalahan yang terjadi disepanjang kehidupan. Penyebab utama terletak pada pola pikir manusianya, dimana sebagian norma-norma yang ada dan berkembang dalam masyarakat yang tidak mencerminkan sifat rasional dan bertanggung jawab sebagai warga masyarakat dalam kependudukan dan lingkungan hidup. Seseorang yang tidak mempunyai pengetahuan tentang lingkungan hidup, dalam berpikir dan bertindak tidak mempetimbangkan aspek dari konsep-konsep ekosistem. Hal itu bisa dilihat dari tindakan eksploitasi hutan dengan tanpa mempertimbangkan dampaknya. Masalah utama pada ekosistem darat, misalnya dalam biodiversitas yang mengalami penurunan keanekaragaman hayati yang diakibatkan oleh pencemaran lingkungan hidup hayati dan membuka hutan secara sewenang-wenang untuk pemukiman, pabrik dll. Sementara Lingkungan hidup adalah tempat untuk lestarinya keanekaragaman hayati meliputi hutan, air, tanah, udara, dan laut. Pencemaran dan kerusakan lingkungan hayati (ekosistem) serta berpikir konvergen terhadap fungsi dan keberadaan Sumber Daya Alam merupakan penyebab turunnya keanekaragaman hayati.

Pelajaran ekosistem di Indonesia disampaikan melalui jalur pendidikan formal tepatnya pendidikan lingkungan yang terintegrasi dalam pelajaran IPA sejak tahun 1982, yang sekarang berganti nama mata pelajarannya menjadi IPA Terpadu, sehingga pelajaran konsep-konsep ekosistem terintegrasi pula pada pelajaran IPA Terpadu sejak tahun 2004 pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP), seperti keragaman pada sistem organisasi kehidupan mulai dari tingkat sel sampai organisme. Bagi siswa SMP pelajaran ekosistem masih dirasakan berat mengingat penyampaian materi IPA Terpadu sebagian besar masih dengan cara menghafal. Pengetahuan konsep-konsep ekosistem lebih memberikan tekanan pada siswa bagaimana berpikir divergen mereka terhadap konsep-konsep ekosistem, karena berpikir divergen tidak hanya ditentukan oleh penjelasan objek secara teoritis saja tapi juga oleh penjelasan objek ke lapangan langsung. Dengan berpikir divergen dapat menolong manusia untuk mengetahui kaitannya dengan berbagai hal dan bidang penelaahan yang lainnya. Tidak ada pengetahuan yang lepas sama sekali dari ilmu pengetahuan yang lain. Dalam proses kegiatan belajar dan mengajar mengenai materi ekosistem siswa diharapkan mengetahui akan pentingnya pengetahuan konsep-konsep ekosistem dengan tujuan untuk membangun kelestarian ekosistem bagi kehidupan manusia, pemeliharaan kualitas ekosistem berdasarkan konsep-konsep ekosistem, dan siswa dapat berperan langsung melaksanakan pengelolaan lingkungan hidup. Hal ini harus didasarkan atas pengetahuan konsep-konsep ekosistem dan pemupukan pengetahuan sejak dini tentang tempat dan peranan manusia dalam lingkungannya.

Di dalam proses Kegiatan belajar dan mengajar, guru harus mempunyai pendekatan pembelajaran, agar siswa dapat memahami materi yang disampaikan oleh guru dan membentuk pola pikir divergen bagi siswa, sehingga siswa mampu menangkap pembelajaran dan mampu menghubungkan objek nyata yang ada dalam pikirannya. Dengan begitu siswa dapat memunculkan kreativitas-kreativitas dari daya pikir yang divergen.

Sebagai contoh adalah sekolah SMPN 135 Jakarta, yang menerapkan strategi pembelajaran yang sama tiap tahun pelajarannya pada konsep-konsep ekosistem dengan strategi model pembelajaran diskusi dan sesekali eksperimen langsung kelapangan sekitar halaman sekolah. Strategi belajar yang diterapkan harus disesuaikan dengan keadaan dan kondisi siswa, tanpa harus menginduk pada strategi-strategi yang ada, yang tidak memberikan perubahan pengetahuan siswa, karena karakter siswa berbeda-beda motivasi belajarnya. Perlu ada inovasi yang sesuai dengan kondisi sekarang, dimana siswa sebelum belajar langsung ke lapangan harus diarahkan tahapan-tahapannya secara konsep dan praktis yang dapat diukur keberhasilannya.

Berdasarkan dari pemikiran tersebut, maka perlu ada semacam strategi pembelajaran yang mampu memperluas pengetahuan dengan menghubungkan pembelajaran dengan objek nyata yang ada dalam pemikiran siswa, untuk menumbuhkan pola pikir divergen terhadap konsep-konsep ekosistem

Di dalam kurikulum tingkat satuan pendidikan (KTSP) tahun 2004, pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam, telah dilaksanakan hampir 6 tahun, ternyata belum sepenuhnya berhasil mempengaruhi pola pikir masyarakat, padahal kurikulum sudah sesuai dengan kebutuhan dan bahkan kurikulum tahun 1994 tentang pendidikan lingkungan sudah dilaksanakan, tapi masih belum juga mempengaruhi pola pikir masyarakat terhadap pelestarian lingkungan ekosistemnya. Hal ini berarti menunjukkan bahwa tujuan pendidikan lingkungan untuk mempertahankan dan pemulihan ekosistem yang baik belum tercapai, artinya informasi pembelajaran yang disampaikan oleh guru belum diterima dengan baik oleh siswa. Umumnya guru melaksanakan kegiatan pembelajaran dalam kelas berupa umpan balik dari peserta didik, umpan balik yang dilakukan guru bermacam-macam cara, seperti dengan bertanya, meminta tanggapan, menyuruh melakukan kegiatan, mengerjakan tugas, presentasi, observasi kelapangan, dan menjelaskan kembali sesuatu yang dipelajari kepada semua peserta didik. Hanya saja untuk mengetahui umpan balik itu guru cenderung lebih memperhatikan wajah dari peserta didik. Guru mengetahui bahwa siswa memahami informasi pembelajaran yang disampaikan oleh guru, peserta didik terlihat seperti berminat, mengangguk, memperhatikan wajah guru dan terdiam dengan duduk rapih, maka guru sering mengambil kesimpulan itulah umpan balik yang menunjukkan informasi pembelajaran yang disampaikan diterima baik oleh peserta didik.

Berdasarkan fenomena tersebut di atas, maka dalam proses pembelajaran ekosistem dibutuhkan suatu perangkat strategi pembelajaran sebagai alternatif yang bisa memberi kesempatan menumbuhkan dan meningkatkan berpikir divergen terhadap ekosistem pada pengetahuan siswa dalam proses pembelajaran di kelas. Strategi  pembelajaran di kelas biasanya dilakukan secara versus deduktif dimana guru memberikan informasi pembelajaran secara meluas dan memberikan proses penalaran yang bermula dari keadaan umum ke keadaan khusus sebagai strategi pengajaran yang bermula dengan menyajikan aturan, prinsip umum, dan diikuti dengan contoh-contoh khusus atau penerapan aturan prinsip umum ke keadaan khusus. Pembelajaran secara sistematis memotivasi peserta didik dengan rasa ingin tahu lebih besar, dapat menarik peserta didik belajar lebih mendalam lagi tentang kosep-konsep ekosistem yang dipelajari. Para pakar menyatakan bahwa peserta didik akan lebih mudah mengingat apa yang dipelajarinya bila melihat objeknya secara langsung kejadiannya, jika dibandingkan dengan mendapatkan informasi secara verbal.

Pendekatan lain seperti versus induktif layak untuk diterapkan dimana siswa mengeksplor pemikirannya sendiri dan memberi kesempatan peserta didik untuk mencari dan menemukan hasil dari observasi serta menekankan pada pengamatan dahulu, lalu menarik kesimpulan berdasarkan pengamatan tersebut atau pendekatan pengambilan kesimpulan dari khusus menjadi umum..

Oleh karena itu, pada penelitian ini digunakan 2 strategi pembelajaran yaitu strategi versus deduktif dan versus induktif untuk melihat pengaruhnya yang terbaik dalam meningkatkan pengetahuan konsep-konsep ekosisem, bagi siswa yang cenderung berpikir divergen.

Dari uraian di atas, maka perlu dikaji faktor-faktor internal  siswa. Faktor-faktor internal yang dimaksud seperti berpikir divergen terhadap konsep-konsep ekosistem, pengetahuan ekosistem kebun dan faktor eksternal adalah strategi pembelajaran.

1.    Identifikasi Masalah

Untuk mendapatkan alternatif pemecahan permasalahan pengetahuan tentang konsep-konsep ekosistem, maka perlu dilakukan pengkajian terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan tentang konsep-konsep ekosistem. Pengkajian tersebut merupakan siklus evaluasi dari berbagai aktifitas yang sudah dilakukan sebelumnya atau menyelenggarakan kajian baru sesuai dengan perubahan yang terjadi, khususnya perubahan kriteria kebutuhan akan pengetahuan oleh siswa tentang konsep-konsep ekosistem. Kriteria kebutuhan pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem adalah tersedianya pengetahuan untuk masa depan mereka. Penentuan faktor mana yang harus di dahulukan berdasarkan pada skala prioritas kebutuhan yang dihadapi.

Pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem merupakan salah satu variabel yang penting dalam upaya memperoleh hasil yang maksimal. Pengetahuan merupakan dasar dari pemahaman, sikap dan perilaku manusia. Dengan meningkatnya pengetahuan maka diharapkan pemahaman, sikap, dan perilaku siswa terhadap konsep-konsep ekosistem juga meningkat.

Dalam penelitian ini pengetahuan siswa lebih difokuskan pada masalah tentang konsep-konsep ekosistem. berberdasarkan latar belakang masalah di atas, dapatlah diidentifikasi beberapa masalah, antara lain: Apakah para guru IPA sudah mempunyai pengetahuan yang memadai tentang konsep-konsep ekosistem ? Apakah tersedia sumber belajar yang memadai di sekolah ? Seberapa jauhkah pelajaran konsep-konsep ekosistem yang selama ini diikuti oleh peserta didik dapat membentuk pengetahuan konsep-konsep ekosistem ? Apakah strategi pembelajaran memberi hasil belajar yang berbeda pada peserta didik ? Apakah lingkungan peserta didik mempengaruhi motivasi peserta didik dalam belajar konsep-konsep ekosistem ? Apakah dengan pengetahuan konsep-konsep ekosistem yang baik dapat membentuk berpikir divergen peserta didik terhadap ekosistem kebun?

 

B.   Pembatasan Masalah

Karena keterbatasan waktu, kemampuan, dan dana yang penulis miliki, maka penulis membatasi penelitian ini hanya pada strategi pembelajaran dan berpikir divergen dalam pengaruhnya terhadap pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem.

Strategi pembelajaran merupakan salah satu kunci penentu iklim pembelajaran yang kondusif, karena dengan strategi pembelajaran yang baik proses pembelajaran dapat berlangsung dengan baik pula. Dengan strategi pembelajaran yang baik, guru dan siswa dapat menikmati suasana pembelajaran yang dapat meningkatkan kinerja guru dan meningkatkan pengetahuan siswa. Meskipun setiap elemen dalam proses pembelajaran memiliki persepsi dan penilaian yang berbeda atas strategi pembelajaran yang dilaksanakan selama proses pembelajaran berlangsung.

Disamping strategi pembelajaran, berpikir divergen juga mempengaruhi pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem, yang akan mendorong mereka untuk mengikuti proses pembelajaran dengan baik, yang pada akhirnya akan meningkatkan pengetahuan mereka tentang konsep-konsep ekosistem.

C.   Perumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi dan batasan masalah yang diajukan, maka ditinjau dari strategi pembelajaran dan berpikir divergen, permasalahan dalam penelitian ini dirumuskan sebagai berikut :

1.    Apakah terdapat perbedaan pengetahuan konsep-konsep ekosistem antara siswa  yang diajarkan dengan strategi pembelajaran deduktif dengan siswa yang diajarkan dengan strategi pembelajaran induktif ?

2.    Apakah terdapat perbedaan pengetahuan konsep-konsep ekosistem antara siswa yang diajarkan dengan strategi pembelajaran deduktif dengan siswa yang diajarkan dengan strategi pembelajaran induktif, bagi siswa yang memiliki berpikir divergen tinggi terhadap konsep-konsep ekosistem ?

3.    Apakah terdapat perbedaan pengetahuan konsep-konsep ekosistem antara siswa yang diajarkan dengan strategi pembelajaran deduktif dengan siswa yang diajarkan dengan strategi pembelajaran induktif, bagi siswa yang memiliki berpikir divergen rendah terhadap konsep-konsep ekosistem ?

4.    Apakah terdapat pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran dan berpikir divergen terhadap konsep-konsep ekosistem pada pengetahuan konsep-konsep ekosistem ?

 D.   Manfaat  Penelitian

Penelitian ini secara teoretis diharapkan berguna dalam menghasilkan suatu program pendidikan dalam usaha meningkatkan pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem untuk membentuk sikap dan perilaku yang bertanggung jawab terhdap lingkungan hidupnya. Karena siswa yang memiliki pengetahuan tentang konsep-konsep ekosistem, akan menjadi inovator-inovator bagi siswa yang lainnya. Disamping itu penelitian ini juga diharapkan berguna bagi dinas pendidikan Kota Jakarta sebagai dasar pengembangan keilmuan, khususnya pengembangan program pendidikan kependudukan dan lingkungan hidup, baik melalui jalur sekolah maupun luar sekolah.

Secara praktis, penelitian ini diharapkan berguna bagi para para siswa, guru, sekolah dan lembaga-lembaga pendidikan lainnya yang bergerak dalam bidang pendidikan lingkungan hidup.

Memberi informasi pada pihak sekolah mengenai berpikir divergen siswa terhadap konsep-konsep ekosistem berkaitan dengan pengetahuan ekosistem kebun.

Dari segi teoritis, penelitian ini dapat digunakan sebagai suatu landasan penelitian lanjutan, khususnya untuk variabel yang diteliti, maupun mengungkapkan variabel-variabel yang lebih kompleks yang dapat mempengaruhi pengetahuan dan berpikir yang dimiliki siswa terkait dengan konsep ekosistem.

Dari segi praktis. Penelitian ini dapat memberikan gambaran dan mengembangkan pengetahuan di dalam proses pembelajaran Biologi, terutama difokuskan tentang pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem. Melalui penerapan strategi pembelajaran versus induktif dan versus deduktif. Dan diharapkan hambatan dan keterbatasan yang selama ini di alami oleh guru dan siswa itu sendiri dalam proses pembelajaran bisa teratasi. Pengetahuan siswa yang diharapkan dapat memperhatikan dan ikut berpartisipasi dalam rangka menerapkan konsep ekosistem yang tepat. Semoga penelitian ini dapat diterapkan dalam proses pembelajaran pendidikan Biologi.

BAB II

KAJIAN TEORETIK, KERANGKA BERPIKIR

DAN PERUMUSAN HIPOTESIS PENELITIAN

 

A.   Deskripsi Teoretik

1.    Pengetahuan Siswa tentang Konsep-konsep Ekosistem

a.    Pengetahuan

Pengetahuan pada hakikatnya merupakan segenap apa yang kita ketahui tentang suatu objek tertentu, termasuk didalamnya ilmu[1]. Jadi ilmu merupakan bagian dari pengetahuan yang diketahui manusia. Oleh karena itu pengetahuan merupakan sumber jawaban bagi berbagai masalah yang muncul dalam kehidupan[2]. Setiap jenis pengetahuan mempunyai ciri yang sfesifik, mengenai apa (ontologi), bagaimana (epistemologi) dan untuk apa (aksiologi) pengetahuan tersebut disusun[3].

Bloom mengklasifikasikan aspek pengetahuan dalam tiga kelompok yang dirinci dari Sembilan aspek yaitu 1) pengetahuan mengenai hal-hal yang bersifat khusus meliputi: istilah dan fakta, 2) pengetahuan tentang cara untuk menangani masalah-masalah khusus meliputi: kebiasaan, kecenderungan, klasifikasi, kategori, metode, dan (3) pengetahuan tentang kaidah yang universal meliputi: prinsip teori dan struktur[4].

Adapun pengetahuan dari revisi dari Bloom terbagi menjadi 4 tipe pengetahuan, yaitu : 1). Faktual (berdasarkan fakta-fakta sesungguhnya), 2). Konseptual (berkaitan dengan konsepsi atau pengertian), 3). Procedural (berdasarkan dengan pelaksanaan), 4). Metakognitif.

Tentang kaidah yang universal pengklasifikasian pengetahuan yang dikemukakan oleh Bloom pada hakikatnya didasarkan pada kawasan pengetahuan yang terorganisisr dalam pikiran.

Pengetahuan tersebut dapat digunakan sebagai informasi terhadap berbagai kegiatan, informasi yang terorganisir dalam tubuh dimaksudkan untuk menghubungkan diantara fakta dan hal-hal umum yang pada kenyataannya seseorang yang mempunyai informasi akan memiliki perasaan istimewa dalam bekerja[5]. Dengan bekal pengetahuan seseorang akan memiliki arti dalam hidupnya maka harus dieksperimentasikan dalam kehidupan, bagi seseorang cara terbaik untuk menjelaskan kebenaran suatu pengetahuan yang dimiliki. Untuk itu seseorang yang memiliki pengetahuan akan lebih baik dan bermanfaat pengetahuannya bila dalam kegiatan sesuai

dengan pekerjaannya untuk selanjutnya memperoleh pengetahuan yang baru.

Dan hal ini juga diasumsikan bahwa pengetahuan dikonstruksikan dengan mentransformasikan, mengorganisasikan, dan mereorganisasikan pengetahuan sebelumnya. Pengetahuan bukan cermin dunia luar, meskipun pengalaman mempengaruhi pemikiran dan pemikiran mempengaruhi pengetahuan[6].

Dalam hubungannya dengan konsep-konsep ekosistem, maka konsep mengenai ekosistem kebun dapat digambarkan dengan tata cara perawatan, penggunaan proses, energi guna menghindarkan dan mengurangi timbulnya kerusakan ekosistem.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan Pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem adalah segala ingatan yang mencakup dimensi pengetahuan yang mencakup terminologi, fakta, konversi/kebiasaan, trend dan sekuensi, klasifikasi dan kategori, kriteria, metodologi, prinsip dan generalisasi, serta teori dan struktur dengan indikator mengenai konsep-konsep ekosistem, yaitu jaring-jaring kehidupan (web of life), unsur biotik dan abiotik, aliran energi.

b.    Konsep-konsep Ekosistem

 Ekosistem dapat dikenal dalam pelajaran IPA, ekosistem merupakan bagian dari ekologi  Istilah ekologi berasal dari kata oikos artinya rumah dan secara luas berarti rumah tangga alam dan dari kata logos yang definisinya adalah ilmu[7]. Ekologi pertama kali diperkenalkan oleh Ernest Haeckal, seorang ahli Biologi Jerman Barat pada tahun 1860-an, dan istilah ekosistem  pertama-tama diusulkan oleh A.G Tansley dalam tahun 1935[8]. Sehingga, secara harfiah ekologi adalah salah satu cabang Biologi yang mempelajari segala sesuatu tentang rumah tangga alam atau ilmu yang mempelajari hubungan antara makhluk hidup dengan lingkungan di sekitarnya[9]. Kesatuan antara komunitas dengan lingkungan abiotiknya disebut ekosistem. Halaman rumah, akuarium, kebun dan kolam merupakan ekosistem kecil sedangkan gurun dan hutan merupakan ekosistem besar. Ekosistem besar terdiri atas beberapa ekosistem kecil dan setiap ekosistem kecil terdiri atas beberapa ekosistem yang lebih kecil lagi.

Menurut D. Chiraz, ekosistem yang seimbang yaitu ekosistem yang walaupun telah mengalami perubahan dari waktu ke waktu, tetapi kondisinya secara keseluruhan kurang lebih sama, misalnya satu spesies selalu terdapat setiap tahun atau besar populasinya kurang lebih sama[10]. Apabila keseimbangan di dalam ekosistem tidak terganggu, maka selama itu kehidupan akan berlangsung dengan baik.

Ekosistem adalah satuan fungsional dasar dalam ekologi karena memasukkan organisme (komunitas-komunitas) biotik maupun lingkungan abiotik, masing-masing mempengaruhi sifat-sifat yang lainnya dan keduanya perlu untuk pemeliharaan kehidupan seperti yang kita miliki di atas bumi ini. Ekosistem dapat dengan baik dianalisis menurut berbagai segi diantaranya: 1) alur energi, 2) rantai-rantai makanan, 3) pola-pola keanekaragaman dalam waktu dan ruang, 4) daur-daur makanan (biogeokimia), 5) perkembangan dan evolusi, 6) pengendalian (cybernetics)[11].

Lebih jauh, Odum mengutarakan definisi ekosistem sebagai suatu kesatuan yang mencakup semua organisme (yakni komunitas) di dalam suatu daerah yang saling mempengaruhi dengan lingkungan fisiknya sehingga arus energi mengarah ke struktur makanan, keanekaragaman biotik, dan daur-daur bahan atau materi yang jelas (yakni pertukaran materi antara bagian-bagian yang hidup dan yang tak hidup) di dalam sistem[12].

2.   Berpikir Divergen terhadap Konsep-konsep Ekosistem

a. Berpikir Divergen

Berpikir melibatkan kegiatan memanipulasi dan mentransformasi informasi dalam memori. Kita berpikir untuk membentuk konsep, menalar, berpikir secara kritis, divergen, membuat keputusan, berpikir secara kreatif, dan memecahkan masalah. Siswa dapat berpikir mengenai hal-hal yang konkrit, dapat memikirkan subjek yang lebih abstrak, dapat berpikir mengenai masa lampau dan masa depan, dapat berpikir mengenai kenyataan dan fantasi[13].

Menurut (Michael dalam Santrock, 2009:21), mengemukakan bahwa berpikir divergen yaitu pemikiran yang menghasilkan banyak jawaban terhadap pertanyaan yang sama dan yang lebih merupakan karakteristik kreativitas[14].

Menurut Treffinger dalam Semiawan, Belajar berpikir divergen menjadikan anak-anak bertindak lebih efektif, karena pemantapan sasaran-sasaran untuk mencapai ini terkait dengan suatu pemikiran masa depan yang merupakan pengembangan peluang untuk mengatasi permasalahan yang belum atau tidak dapat diantisipasikan, dan bisa memiliki pengaruh besar dalam kehidupan[15].

Belajar berpikir divergen dapat ditingkatkan, karena memiliki ciri kewajaran. Menurut  penjabaran Treffinger, berpikir divergen lebih banyak teruraikan dalam bentuk kemampuan dengan fungsi-fungsinya yang bercirikan originalitas, kelancaran, keluwesan, perluasan, kognisi dan ingatan.

Berpikir divergen tidak terlepas dari pengembangan ranah afektif, dan dimiliki oleh ketiga tingkat yaitu rasio, emosi, intuisi, sensing. Dimana suatu pikir rasional yang dapat diukur dan dikembangkan melalui berbagai latihan yang direncanakan secara sadar, dengan kondisi emosional yang mempunya pengaruh kuat dan menuntut kesadaran diri serta proses aktualisasi. Dan juga suatu kondisi kesadaran yang lebih tinggi, bukan saja dari akal rasional, tetapi justru diperoleh (digali) dari ketidaksadaran, dan menjadi suatu firasat yang dapat ditingkatkan mencapai kecerahan (enlightment). Serta kondisi bakat khusus yang menciptakan hasil baru yang merupakan inspirasi yang mungkin didengar atau dilihat dari orang lain[16]

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa Berpikir Divergen siswa adalah kemampuan siswa dalam dimensi tes verbal dan gambar yang mencakup indikator kelancaran (fluency), keluwesan (fleksibility), keaslian (originality), dan keelaborasian (elaboration) mengenai konsep-konsep ekosistem.

b.    Ekosistem Kebun

Ekosistem adalah suatu sistem ekologi yang terbentuk oleh hubungan timbal balik tak terpisahkan antara makhluk hidup dengan lingkungannya[17]. Ekosistem bisa dikatakan juga suatu tatanan kesatuan secara utuh dan menyeluruh antara segenap unsur lingkungan hidup yang saling mempengaruhi. Ekosistem merupakan penggabungan dari setiap unit biosistem yang melibatkan interaksi timbal balik antara organisme dan lingkungan fisik sehingga aliran energi menuju kepada suatu struktur biotik tertentu dan terjadi suatu siklus materi antara organisme dan anorganisme. Matahari sebagai sumber dari semua energi yang ada.

Dalam ekosistem, organisme dalam komunitas berkembang bersama-sama dengan lingkungan fisik sebagai suatu sistem. Organisme akan beradaptasi dengan lingkungan fisik, sebaliknya organisme juga mempengaruhi lingkungan fisik untuk keperluan hidup. Semua komponen tersebut berada pada suatu tempat dan berinteraksi membentuk suatu kesatuan ekosistem yang teratur. Komponen-komponen pembentuk ekosistem adalah: Abiotik atau komponen tak hidup adalah komponen fisik dan kimia yang merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungan tempat hidup. Sebagian besar komponen abiotik bervariasi dalam ruang dan waktunya. Komponen abiotik dapat berupa bahan organik, senyawa anorganik, dan faktor yang mempengaruhi distribusi organisme, yaitu: suhu. air, garam, cahaya, matahari, tanah, batu, dan iklim.

Komponen autotrof terdiri dari organisme yang dapat membuat makanannya sendiri dari bahan anorganik dengan bantuan energi seperti sinar matahari (fotoautotrof) dan bahan kimia (kemoautotrof). Komponen autotrof berperan sebagai produsen. Yang tergolong autotrof adalah tumbuhan berklorofil[18].

Komponen heterotrof terdiri dari organisme yang memanfaatkan bahan-bahan organik yang disediakan oleh organisme lain sebagai makanannya. Komponen heterotrof disebut juga konsumen makro (fagotrof) karena makanan yang dimakan berukuran lebih kecil. Yang tergolong heterotrof adalah manusia, hewan, jamur, dan mikroba.

Pengurai atau dekomposer adalah organisme yang menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme mati. Pengurai disebut juga konsumen makro (sapotrof) karena makanan yang dimakan berukuran lebih besar. Organisme pengurai menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan melepaskan bahan-bahan yang sederhana yang dapat digunakan kembali oleh produsen. Yang tergolong pengurai adalah bakteri dan jamur. Ada pula pengurai yang disebut detritivor, yaitu hewan pengurai yang memakan sisa-sisa bahan organik, contohnya adalah kutu kayu. Tipe dekomposisi ada tiga, yaitu: 1) aerobik : oksigen adalah penerima elektron / oksidan. 2) anaerobik : oksigen tidak terlibat. Bahan organik sebagai penerima elektron /oksidan, 3) fermentasi : anaerobik namun bahan organik yang teroksidasi juga sebagai penerima elektron.

Energi yang dihasilkan mengalir dariprodusen ke konsumen. Dengan demikian di dalam ekosistem terjadi pertukaran energi yang mengalir dari satu sumber ke sumber lainnya. Pertukaran dan aliran energi itu mengikuti hukum itu mengikuti hukum termodinamika yang menyatakan bahwa energi itu tidak dapat diciptakan dan dihancurkan[19]. Energi hanya berubah bentuk dari bentuk kimia (makanan dalam bentuk karbohidrat gula) menjadi energi kinetik (gerak untuk berjalan, melompat, makan, dan sebagainya). Dengan paparan ini bahwa alam telah mengatur keseimbangannya tanpa adanya campur tangan manusia.

Ekosistem kebun dibentuk oleh faktor biotik (hidup) seperti tumbuhan (jagung atau, gulma yang banyak macamnya), hewan (cacing tanah, semut, mikroba, dll) dan faktor/komponen abiotik (tidak hidup) seperti tanah, cahaya, air, suhu, kelembaban, batuan. Artinya ekosistem kebun di bentuk oleh komunitas tumbuhan dan hewan yang khas terdapat di kebun dan faktor lingkungan yang juga khas untuk daerah kebun seperti tanah yang tidak terlalu kering dan tidak berair seperti sawah.

Berdasarkan deskripsi teori di atas, maka sintesis dari ekosistem kebun adalah kesatuan ruang yang terdapat beraneka ragam makhluk biotik dan abiotik yang saling berinteraksi dan mempengaruhi secara universal, dengan adanya hubungan yang harmonis antara komponen biotik dan abiotiknya, maka secara bertahap akan tercipta suatu ekosistem kebun yang seimbang.

3.   Strategi Pembelajaran

a. Pengertian Strategi Pembelajaran

Konsep strategi biasanya disamakan dengan metode, dan tekhnik, diantara ketiga konsep tersebut memiliki perbedaaan secara essensial. Dimana, metode pembelajaran didefinisikan sebagai cara yang digunakan guru yang berfungsi sebagai alat untuk mencapai tujuan pembelajaran yang bersifat prosedural, berisi tahapan tertentu, sedangkan tekhnik adalah cara/jalan, alat atau media yang digunakan bersifat implementatif[20].

Beberapa pendapat tentang strategi pembelajaran diantaranya (Kozna dalam Uno, 2007; 1) secara umum menjelaskan bahwa strategi pembelajaran dapat diartikan sebagai setiap kegiatan yang dipilih, yaitu yang dapat memberikan fasilitas atau bantuan kepada peserta didik menuju tercapainya tujuan pembelajaran tertentu.

(Gerlach dan Ely dalam Uno, 2007:1) bahwa strategi pembelajaran merupakan cara-cara yang dipilih untuk menyampaikan metode pembelajaran dalam lingkungan pembelajaran tertentu.

(Dick dan Carey dalam Uno, 2007;1) strategi pembelajaan terdiri atas seluruh komponen materi pembelajaran dan prosedur atau tahapan kegiatan belajar yang digunakan oleh guru dalam rangka membantu peserta didik mencapai tujuan pembelajaran tertentu. Terdapat lima komponen strategi pembelajaran, yaitu (1) kegiatan pembelajaran pendahuluan, (2) penyampaian informasi, (3) partisipasi peserta didik, (4) tes, dan (5) kegiatan lanjutan.

(Gropper dalam Uno, 2007;1) mengatakan bahwa strategi pembelajaran merupakan pemilihan atas berbagai jenis latihan tertentu yang sesuai dengan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai[21], sehingga terjadi perubahan perilaku ke arah yang lebih baik. Dalam interaksi tersebut banyak sekali faktor yang mempengaruhinya, baik faktor internal yang datang dari dalam diri individu, maupun faktor eksternal yang datang dari lingkungannya. Dalam pembelajaran, tugas guru yang paling utama adalah mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan perilaku bagi peserta didik. Umumnya pelaksanaan pembelajaran mencakup tiga hal: pre test, proses dan post tes[22].

Pembelajaran pada hakekatnya adalah proses interaksi antara peserta didik dengan lingkungannya.

Dapat disimpulkan dari pendapat para ahli di atas bahwa strategi pembelajaran harus mengandung penjelasan tentang metode/prosedur dan teknik yang digunakan  selama proses pembelajaran berlangsung. Strategi pembelajaran mengandung arti yang lebih luas dari metode dan teknik. Artinya metode/prosedur dan teknik pembelajaran merupakan bagian dari strategi pembelajaran.

Gagne berpendapat bahwa sistem pembelajaran adalah suatu set peristiwa yang mempengaruhi siswa sehingga terjadi proses belajar. Suatu set peristiwa itu dapat digerakkan oleh pengajar sehingga disebut pengajaran, dapat juga digerakkan oleh siswa sendiri dengan menggunakan buku, gambar program televisi, atau kombinasi berbagai media[23].

c.    Strategi Pembelajaran

Strategi pembelajaran adalah cara-cara yang digunakan oleh pengajar untuk memilih kegiatan belajar yang akan digunakan selama proses pembelajaran. Pemilihan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan situasi dan kondisi, sumber belajar, kebutuhan dan karakteristik peserta didik yang dihadapi dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran tertentu[24]

Menurut Smit, dkk. Strategi pembelajaran yaitu mengacu pada metode-metode yang para siswa gunakan untuk belajar. Berkisar dari teknik-teknik memperbaiki memori agar bisa lebih baik dalam belajar atau memperkirakan strategi-strategi dalam menghadapi ujian[25]

Gagne  dalam Smith mengemukakan Sembilan langkah dalam pembelajaran yang meliputi 1) mendapatkan perhatian, 2) menginformasikan pembelajar sasaran yang akan dituju 3) menstimulasi ingatan mengenai prasyarat pembelajaran 4) menghadirkan materi baru 5) memberikan panduan pembelajaran 6) mendapatkan prestasi 7) memberikan umpan balik tentang yang benar 8) memperkirakan prestasi dan 9) memperluas ingatan dan memori[26].

Selain itu Gagne dalam Smith, mengajukan bahwa pembelajaran adalah seperti sebuah proses membangun yang memanfaatkan sebuah hierarki keterampilan yang meningkat kompleksitasnya. Dia juga mengidentifikasi lima kategori pembelajaran yang utama: 1) informasi verbal 2) keterampilan intelektual 3) strategi kognitif 4) keterampilan motoris, dan 5) sikap[27].

b. 1. Strategi Pembelajaran Deduktif

Strategi pembelajaran deduktif terdiri dari lima tahap: (1) guru mulai dengan kaidah-kaidah konsep (conceot rule) atau pernyataan yang mana dalam pembelajaran diupayakan untuk pembuktiannya, (2) guru memberikan contoh-contoh yang menunjukkan pembuktian dari konsep, (3) guru memberikan pertanyaan kepada siswa untuk mendapatkan atribut/ciri dan bukan esensi dari konsep-konsep, (5) siswa memberikan beberapa kategori dari contoh yang diberikan oleh guru[28].

Pembelajaran deduktif bertolak dari aksioma atau rumus umum untuk kemudian diterapkan dalam situasi-situasi khusus. Strategi yang sering diterapkan di sekolah pada umumnya strategi pembelajaran deduktif, ketika rumus atau aksioma itu lebih sering dihafalkan daripada diterapkan.

Berpikir deduktif menunjang berpikir divergen, dimana berpikir divergen sebenarnya tidak ada satu jawaban tunggal, siswa diminta berbagai jawaban[29].

b.2. Strategi Pembelajaran Induktif

Model pembelajaran induktif dipelopori oleh Taba dal Uno, model yang di desain untuk meningkatkan kemampuan berpikir. Membangun model ini dengan strategi yang didasarkan atas tiga asumsi, yaitu: 1) Proses  berpikir dapat dipelajari. Mengajar seperti yang digunakan oleh Taba berarti membantu siswa mengembangkan kemampuan berpikir induktif melalui latihan (practice), 2) proses berpikir dengan urutan yang sah menurut aturan’. Postulat Taba bahwa untuk menguasai satu keterampilan tertentu sebelumnya, dan urutan ini tidak bisa dibalik[30].

Strategi pembelajaran induktif merupakan strategi pembelajaran yang dikembangkan untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam mengolah informasi dan berpikir kreatif. Dimana siswa belajar mengorganisasikan fakta ke dalam suatu sistem konsep, yaitu (a) menghubung-hubungkan data yang diperoleh satu sama lain serta membuat kesimpulan berdasarkan hubungan-hubungan tersebut, (b) menarik kesimpulan berdasarkan fakta-fakta yang diketahuinya dalam rangka membangun hipotesis, dan (c) memprediksi dan memperjelas suatu fenomena tertentu. Guru dalam hal ini membantu proses internalisasi dan konseptualisasi berdasarkan informasi tersebut.

Menurut Uno Strategi pembelajaran induktif mengarahkan siswa untuk berpikir secara induktif yang memerlukan strategi khusus dalam proses pencapaiannya. Ada tiga strategi cara mengajarkannya, pertama adalah pembentukan konsep (concept formation) sebagai strategi dasar; kedua interpretasi data (data interpretation) dan ketiga adalah penerapan prinsip (application of principles)[31].

Pembelajaran induktif dimulai dengan contoh-contoh untuk memahami suatu konsep, dengan tujuan supaya siswa dapat mengidentifikasi, membedakan, kemudian menginterpretasi, mengeneralisasi dan akhirnya mengambil kesimpulan. Untuk memahami kesimpulan ditunjukkan contoh-contoh lain untuk pembuktiannya. Strategi pembelajaran induktif adalah suatu kegiatan belajar mengajar, dimana guru bertugas memfasilitasi siswa untuk menemukan suatu kesimpulan sebagai aplikasi hasil belajar melalui strategi pembentukan konsep, interpretasi data dan aplikasi prinsip pembelajaran induktif dalam pembelajaran adalah salah satu strategi yang berorientasi pada paham bahwa belajar pada dasarnya adalah pengembangan intelektual.

Pengembangan intelektual seseorang akan berkembang melalui dua cara yaitu: “secara induktif dan deduktif”. Dalam pendekatan induktif pembahasan dimulai dengan fakta-fakta atau data-data, konsep teori yang telah diuji berkali-kali kemudian disusun ke atas menjadi suatu generalisasi kemudian ke hal yang khusus.

Tahapan-tahapan model induktif dari Taba dalam Uno mempunyai strategi-strategi: pembentukan konsep, interpretasi data dan aplikasi prinsip sebagai berikut:

Tabel 1 : Tahapan-tahapan model Induktif[32]

Strategi Pertama: Pembentukan Konsep
Tahap Pertama Tahap Kedua Tahap Ketiga
Mengidentifikasi dan menyebutkan data satu persatu. Data yang relevan dimasukkan ke dalam topik atau masalah Mengelompokkan data ke dalam kategori yang sejenis Mengembangkan label-label dari setiap kategori
Strategi Kedua: Interpretasi Data
Tahap Pertama Tahap Kedua Tahap Ketiga
Mengidentifikasi dimensi-dimensi yang saling berhubungan Menjelaskan dimensi-dimensi yang saling berhubungan Membuat inferensi atau kesimpulan
Strategi Ketiga: Aplikasi Prinsip
Tahap Pertama Tahap Kedua Tahap Ketiga
Memprediksi akibat, menjelaskan fenomena yang tidak lumrah dan melakukan hipotesis Menjelaskan dan atau mendukung hipotesis Menguji perkiraan

Dalam pembelajaran induktif penyajiannya terbagi atas lima tahap, yaitu: (1) fase pengenalan pelajaran; (2) fase open-ended; (3) fase konvergen; (4) fase penutup; (5) fase aplikasi.

Berpikir induktif biasanya dipertentangkan dengan berpikir deduktif dan beranjak dari satu atau beberapa pengamatan atau pengalaman konkrit untuk mencapai suatu hukum atau ketentuan umum[33].

Contoh sederhana dari pembelajaran induktif adalah menentukan jumlah tumbuhan pada ekosistem kebun (guru menggunakan konsep ekosistem darat, yang mana guru memberikan contoh langsung kelapangan). Dari contoh-contoh ekosistem darat  yang diberikan, ternyata tumbuhan-tumbuhan yang ada di darat banyak beragam jenisnya. Siswa dapat mengambil kesimpulan bahwa jumlah tumbuhan yang ada di kebun lebih sedikit dari jumlah tumbuhan di ekosistem darat umumnya.

B.   Penelitian yang Relevan

Penelitian tentang Strategi pembelajaran

Strategi pembelajaran dapat secara efektif untuk meningkatkan pengetahuan siswa tentang lingkungan dengan mempertimbangkan tingkat peta kognitif yang dimiliki oleh siswa. Pada kelompok siswa yang memiliki peta kognitif tinggi lebih tepat digunakan strategi pembelajaran pemecahan masalah, sedangkan pada kelompok siswa yang memiliki peta kognitif rendah lebih tepat digunakan strategi pembelajaran kooperatif.

Berangkat dari proposisi bahwa belajar adalah proses pemaknaan informasi baru. Belajar adalah penyusunan pengetahuan dari pengalaman kongkrit, aktivitas kolaboratif, dan refleksi serta interpretasi. Sebaiknya guru merubah paradigma dalam strategi pembelajaran dalam pendidikan lingkungan hidup yakni dari behavioristik ke konstruktivistik.

C.   Kerangka Berpikir

Pengajaran IPA merupakan pengajaran yang lebih memerlukan pemikiran konkrit dari pada pemikiran abstrak, tetapi ada beberapa bagian dari pengajaran IPA yang dimulai dengan konsep-konsep secara konkrit dari lingkungan siswa berada, contohnya tentang ekosistem kebun, untuk menerangkan ekosistem kebun guru dapat mengajar mulai dari contoh-contoh yang ada di lingkungan siswa berada. Kemudian dari contoh-contoh ekosistem kebun di lingkungan sekitar siswa dicari persamaan dan perbedaan untuk dikelompokkan. Misalnya dengan melihat contoh-contoh kemudian melihat persamaan dan perbedaannya ekosistem perairan dan daratan, siswa dapat memilih dan mengelompokkan macam-macam tumbuhan yang hidup di daratan dan tumbuhan di perairan.

Strategi pembelajaran induktif adalah strategi pembelajaran yang memadukan strategi pembelajaran induktif dan deduktif. Pembelajaran diawali secara induktif dengan memberikan sejumlah contoh agar siswa mengidentifikasi, menginterpretasi data, kemudian membuat kesimpulan.

Secara deduktif, setelah siswa mampu mendefinisikan atau menggeneralisasikan dapat memberikan contoh atau non contoh serta dapat membuktikannya.

1.    Perbedaan Pengaruh Pengetahuan Konsep-konsep Ekosistem pada Peserta Didik Antara yang Diajar Strategi Pembelajaran Deduktif dengan Induktif

Faktor yang sangat mempengaruhi pengetahuan konsep-konsep ekosistem siswa adalah penggunaan strategi yang tepat sebagaimana tujuan pembelajaran yang ingin dicapai dan keberadaan kondisi lingkungan sekolah tersebut. Strategi yang digunakan harus mampu menempatkan siswa sebagai subyek didik, sehingga dapat mendorong dan memberi rangsangan pada siswa untuk berpikir secara kritis dan analitis serta melatih siswa agar trampil, kreatif, dalam menemukan dan memecahkan masalah. Apabila cara tersebut dapat dilaksanakan maka akan meningkatkan pengetahuan siswa serta mengurangi rasa jenuh terhadap materi pelajaran  konsep-konsep ekosistem. Strategi deduktif merupakan salah satu strategi yang dapat diterapkan untuk mencapai hal tersebut.

Dengan strategi deduktif akan memberi peluang kepada siswa untuk belajar mengembangkan potensi intelektualnya dalam kegiatan yang disusunnya untuk menemukan sesuatu yang baru. Siswa terdorong untuk bertindak secara aktif.

Dari uraian di atas dapat diduga bahwa strategi pembelajaran deduktif lebih tinggi daripada strategi pembelajaran induktif.

2.    Perbedaan Pengaruh Pengetahaun Konsep-konsep Ekosistem pada Peserta Didik Antara Yang Diajar Strategi Pembelajaran Deduktif dengan Induktif bagi Peserta Didik yang Memiliki Berpikir Divergen Tinggi

Pengaruh berpikir divergen tinggi dan rendah pada pemahaman konsep-konsep ekosistem dapat diukur melalui karakter pengetahuan siswa terhadap ekosistem kebun. Untuk kelompok siswa yang memiliki berpikir divergen tinggi umumnya akan memiliki karakteristik mencerminkan adanya kepekaan pandangan, berusaha memberi manfaat bagi lingkungan serta dalam menentukan penilaian dengan menggunakan pertimbangan rasional, sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai dengan maksimal. Sebaliknya siswa yang memiliki berpikir divergen rendah akan merasa kesulitan dalam memecahkan masalah dan menemukan hal-hal yang baru secara terarahkan.

Dengan demikian patut diduga bahwa pemahaman konsep-konsep ekosistem lebih baik bagi siswa yang memiliki berpikir divergen tinggi daripada siswa yang memiliki berpikir divergen rendah.

3.    Perbedaan Pengaruh Pengetahuan Konsep-konsep Ekosistem siswa antara yang diajar dengan strategi deduktif dan strategi induktif untuk kelompok siswa yang berpikir divergen rendah

Siswa yang mempunyai berpikir divergen rendah akan merasa kesulitan bila diajar dengan strategi versus deduktif. Karena strategi ini menuntut pola pikir yang sistematis. Bagi siswa yang berpikir divergen rendah akan dihadapkan pada kendala yang cukup serius disebabkan kurangnya kemampuan dalam memecahkan masalah dan menemukan hal-hal yang baru.

Sebaliknya, dengan menggunakan strategi deduktif bagi siswa yang memiliki berpikir divergen tinggi akan lebih mudah mengikuti pelajaran. Karena cukup dengan datang, diam, duduk, dengar, catat dan hafal para siswa sudah mendapatkan materi yang dibutuhkan, dan merasa lebih senang mengikuti pelajaran, sebab guru memberikan pengarahan yang sistematis yang sebelumnya sudah dirancang dalam Rancangan Proses Pembelajaran (RPP).

Dengan demikian patut diduga bahwa pengetahuan konsep-konsep ekosistem siswa dengan berpikir divergen tinggi yang diajar dengan strategi deduktif lebih tinggi daripada yang diajar dengan strategi induktif.

4.    Pengaruh Interaksi antara Strategi Pembelajaran dan Berpikir Divergen  terhadap Ekosistem Kebun pada Pengetahuan Konsep-konsep Ekosistem

Bagi siswa yang mempunyai berpikir divergen tinggi akan lebih mudah terlibat dengan pembelajaran yang menggunakan strategi deduktif. Dalam hal ini siswa yang mempunyai berpikir divergen tinggi lebih percaya diri, bertanggung jawab, selalu menggunakan pertimbangan rasional dalam mengambil keputusan  dan menyelesaikan masalah. Apabila mereka diberikan pembelajaran dengan strategi deduktif, maka akan memberi pengaruh yang besar pada peningkatan pengetahuan konsep-konsep ekosistem, dan mereka kurang tepat jika diberikan pembelajaran dengan menggunakan strategi induktif.

Di sisi lain, bagi siswa dengan berpikir rendah lebih suka terlibat dalam proses belajar mengajar yang tidak terlalu menuntut banyak pola pikir yang sistematis dan mengikuti pengarahan dari guru oleh siswa. Oleh karena itu mereka lebih tepat bila diajar dengan induktif.

Jadi dapat disimpulkan bahwa siswa yang mempunyai berpikir tinggi lebih tepat menggunakan pembelajaran dengan strategi deduktif. Sebaliknya dengan berpikir divergen rendah lebih tepat mengikuti pembelajaran dengan menggunakan strategi induktif.

Berdasarkan uraian di atas, patut diduga bahwa interaksi antara strategi pembelajaran dengan berpikir divergen terhadap ekosistem kebun memberikan perbedaan pengaruh besar pada ekosistem .

D.   Perumusan Hipotesis Penelitian

Berdasarkan pada deskripsi teoritis dan kerangka berpikir yang telah diajukan pada bagian terdahulu, maka dapat diajukan hipotesis penelitian sebagai berikut :

1. Secara keseluruhan pemahaman konsep-konsep ekosistem bagi siswa yang menggunakan pembelajaran dengan strategi deduktif lebih baik daripada siswa yang menggunakan pembelajaran melalui strategi induktif

2. Untuk siswa dengan berpikir divergen tinggi terhadap ekosistem, pengetahuan konsep-konsep ekosistem menggunakan strategi deduktif lebih baik dibandingkan dengan belajar menggunakan strategi induktif

3. Untuk siswa dengan berpikir divergen tinggi terhadap ekosistem kebun, pengetahuan konsep-konsep ekosistem dengan menggunakan strategi deduktif lebih buruk dari pada yang menggunakan strategi induktif

4. Terdapat pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran dan berpikir divergen terhadap ekosistem pada pengetahuan konsep-konsep ekosistem.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

 

A.   Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memperoleh data empiris tentang penggunaan strategi pembelajaran deduktif dan induktif pada konsep-konsep ekosistem..

Secara operasional penelitian ini bertujuan memperoleh data untuk mengetahui :

1.    Pengaruh strategi pembelajaran dengan strategi deduktif dan induktif secara keseluruhan terhadap pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem.

2.    Pengaruh strategi pembelajaran dengan strategi deduktif dan induktif bagi yang memiliki berpikir divergen tinggi terhadap pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem.

3.    Pengaruh strategi pembelajaran dengan strategi deduktif dan induktif bagi yang memiliki berpikir divergen rendah terhadap pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem.

4.    Pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran dan berpikir divergen terhadap pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem.

B.   Tempat Penelitian

Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 135 Jakarta Timur. Beberapa alasan yang mendasari pemilihan tempat penelitian di atas didasarkan pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut : (a) tersedianya sampel siswa, karena siswa di SMPN 135 Jakarta cukup padat (b) di sekolah tersebut terdapat pekarangan yang cukup luas, sehingga sesuai dengan kebutuhan dengan pengetahuan yang diperlukan (c) untuk menggalakkan pemberdayaan lahan kosong dengan berbagai macam ekosistem untuk menciptakan kelestarian lingkungan hidup.

C.   Waktu Penelitian

Waktu penelitian dilaksanakan selama 3 bulan yaitu dari bulan April – Juni. Pelaksanaan penelitian selama 6 minggu, dengan frekuensi 2 kali dalam seminggu pada siang hari setiap hari senin dan hari selasa. Jumlah pertemuan seluruhnya adalah12 kali pertemuan, ditambah 2 pertemuan untuk tes akhir. Dimana setiap pertemuan berlangsung selama dua jam pelajaran (90 menit). Sedangkan uji coba instrumen dilaksanakan pada tanggal 29 April 2007 di SMP Negeri 135 Jakarta.

D.   Metode dan Desain Penelitian.

Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode eksperimen dengan variabel terikat pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem. Variabel bebas perlakuan adalah strategi pembelajaran yang terdiri atas strategi deduktif dan induktif. Sedangkan variabel bebas atribut adalah berpikir divergen tinggi dan rendah.

Adapun desain penelitian yang digunakan adalah faktorial sederhana (simple factorial design) 2 x 2 dengan matrik rancangan eksperimen yang diadaptasi dari John W. Best[34] yang ditunjukkan pada tabel 1.1 berikut :

Tabel 1.1

Tabel 1.1 Desain Treatmen by Level

      Jenis StrategiBerpikir Divergen Pembelajaran Deduktif

(A1)

Pembelajaran

Induktif

(A2)

Berpikir Divergen Siswa Kelompok Tinggi  (B1) A1B1 A2B1
Berpikir Divergen siswa Kelompok Rendah (B2) A1B2 A2B2

Keterangan :

A1B1   : Kelompok siswa yang memiliki berpikir divergen tinggi dengan perlakuan startegi deduktif

A2B1    : Kelompok siswa yang memiliki berpikir divergen tinggi dengan perlakuan startegi induktif

A1B2   : Kelompok siswa yang memiliki berpikir divergen rendah dengan perlakuan startegi deduktif

A2B2   : Kelompok siswa yang memiliki berpikir divergen rendah dengan perlakuan startegi induktif

Rancangan faktorial adalah unit-unit eksperimen dikelompokkan ke dalam sel sedemikian rupa secara acak, sehingga unit-unit eksperimen dalam setiap sel relatif bersifat homogen. Sampel ditempatkan secara acak sederhana ke setiap unit-unit eksperimen dalam setiap sel.

Ketiga variabel penelitian dibandingkan dalam satu rancangan penelitian seperti yang digambarkan pada Tabel 1.1 di atas. Data yang diperoleh melalui instrumen penelitian, digunakan untuk memeriksa kemungkinan adanya perbedaan antar variabel karena adanya perlakuan dengan mengadakan pengontrolan terhadap variabel lain yang akan mempengaruhi variabel-variabel yang sedang diteliti.

Untuk memperoleh keyakinan bahwa rancangan ekperimen yang telah dipilih cukup memadai dalam pengujian hipotesis dan hasil-hasil penelitian yang diperoleh dapat digeneralisasikan ke populasi, maka dilakukan langkah-langkah pengendalian atau pengontrolan terhadap sejumlah unsur atau variabel yang dapat mengancam validitas eksperimen, baik validitas internal maupun validitas eksternal ekperimen.

1.    Kontrol Validitas Internal

Validitas internal adalah pengendalian terhadap variabel-variabel yang dapat menimbulkan interpretasi ini terhadap penelitian. Variabel-variabel yang sering menjadi ancaman terhadap validitas internal tersebut harus dikendalikan. Apabila tidak dikebdalikan, maka dapat menimbulkan kesalahan dalam penafsiran, sebagai akibat perlakuan. Adapun variabel-variabel yang mempengaruhi validitas internal adalah sebagai berikut :

a.    Pengaruh Instrumen

Penggunaan instrumen pengukuran yang tidak valid dan reliabel akan berpengaruh terhadap validitas internal. Perubahan dalam alat ukur dan pelaksanaan tes akan dapat mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan dalam hasil yang diperoleh. Untuk mengatasi hal tersebut dilakukan ujicoba instrumen untuk mengetahui keajegan dan kesahihannya.

b.    Kehilangan Peserta

Untuk mengatasi kemungkinan kehilangan peserta (siswa) eksperimen misalnya malas, putus ditengah jalan atau sakit, maka dilakukan dengan secara terus menerus diberikan semangat dan dikontrol kehadirannya secara ketat melalui absensi sejak awal hingga berakhirnya kegiatan eksperimen.

2.    Kontrol Validitas Eksternal

Pengontrolan terhadap validitas eksternal dimaksudkan untuk memperoleh hasil eksperimen yang representatif untuk digeneralisasikan pada populasi, yang diaplikasikan pada subjek, setting, dan waktu yang berbeda. Untuk keperluan tersebut dilakukan pengontrolan terhadap validitas populasi dan validitas ekologi.

a.    Validitas populasi

Validitas populasi merupakan pengontrolan terhadap populasi dari subjek penelitian yang diharapkan dapat memiliki akibat yang sama dengan yang dialami oleh sampel penelitian. Untuk itu maka validitas populasi dikontrol dengan jalan : 1) menetapkan sampel sesuai dengan karakteristik populasi, yakni dengan cara mengambil siswa kelas VII di SMP negeri 135 Jakarta yang belum pernah mengikuti kegiatan pembelajaran dengan startegi deduktif dan induktif, 2) pengambilan sampel dilakukan melalui pemilihan secara acak serta memberikan hak yang sama kepada sampel untuk mendapatkan perlakuan penelitian.

b.    Validitas Ekologi

Validitas ekologi dikontrol agar hasil penelitian dapat digeneralisasikan kepada kondisi dan lingkungan yang lain. Pengontrolan terhadap validitas ekologi ditempuh dengan cara : 1) Menyusun program pembelajaran dengan jelas, terstruktur dan sistematis; 2) pemilihan kelas yang dekat dengan perkarangan sekolah sehingga memungkinkan pemberian perlakuan dapat dilakukan dengan lebih leluasa; 3) pelaksanaan eksperimen dikontrol dengan memberikan perlakuan yang sama kepada kedua kelompok sampel, kecuali penerapan strategi pembelajaran yang digunakan; dan 4) pemilihan guru ditempuh dengan cara memilih guru yang sebelumnya telah dibekali pengetahuan tentang materi yang akan diberikan.

 

70 siswa

35 orang siswa deduktif                35 orang siswa nduktif

Acak

Acak

          Jenis Strategi Berpikir Divergen  

Deduktif

(A1)

 

Induktif

(A2)

Berpikir Divergen siswa kelompok tinggi  (B1) A1B1 A2B1
Berpikir Divergen siswa kelompok rendah (B2) A1B2 A2B2

 

Tabel 1.2. Distribusi sampel pada tiap kelas menurut perlakuan

Sebelum pengolahan data hasil tes pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem, terlabih dahulu mengolah data dari tes mengenai berpikir divergen untuk masing-masing kelompok. Setelah tes diberi skor, kemudian dari masing-masing kelompok skor tes berpikir divergen tersebut diurut dari skor terbesar sampai skor terkecil untuk selanjutnya dibagi menjadi dua subkelompok yaitu subkelompok berpikir divergen tinggi dan subkelompok berpikir rendah. Untuk subkelompok berpikir divergen diambil sebanyak 33 % dari skor yang tertinggi dan untuk subkelompok berpikir divergen rendah diambil sebanyak 33 % dari skor yang terendah, sehingga diperoleh 10 orang untuk masing-masing subkelompok[35].

Alasan dipilihnya siswa sebagai objek penelitian, karena para siswa merupakan generasi penerus yang akan menjadikan lingkungan baik atau tidaknya. Siswa SMP kelas VII yang masih mudah untuk belajar dan dikendalikan serta dididik biasanya akan mudah tanggap dalam mempelajari ekosistem di dalam lingkungan sekolah. Oleh karena itu pengetahuan siswa perlu ditingkatkan melalui program pembelajaran di dalam lingkungan sekolah.

E.   Variabel Perlakuan

Variabel dalam penelitian ini dibedakan atas variabel terikat (variabel terpengaruh) dan variabel bebas (variabel yang mempengaruhi). Variabel terikat adalah pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem dan variabel bebas terdiri dari variabel bebas perlakuan dan variabel bebas atribut. Variabel bebas perlakuan adalah strategi pembelajaran yang berupa strategi versus deduktif dan strategi versus induktif, sedangkan variabel atribut adalah berpikir divergen yang dibedakan atas berpikir divergen tinggi dan berpikir divergen rendah.

F.    Perlakuan Penelitian

Perlakuan penelitian adalah pelaksanaan eksperimen dalam bentuk pembelajaran  tentang pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem dengan strategi pembelajaran versus deduktif dan versus induktif. Materi pembelajaran yang diberikan terdiri dari 3 topik tentang konsep-konsep ekosistem, yaitu : 1) Jaring-jaring kehidupan (Web of Life) 2) Unsur biotik dan abiotik 3) Aliran Energi. Ketiga topik tersebut diberikan selama 12 kali pertemuan, setiap pertemuan selama 45 menit.

G.   Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian disusun berdasarkan definisi operasional tiap variabel yang tersedia. Dari definisi operasional diperoleh dimensi dan indikator dari tiap variabel, dan dari tiap indikator yang tersedia dibuat kisi-kisi sebagai dasar penyususunan butir pertanyaan dalam instrumen.

Instrumen yang disediakan dalam penelitian ini ada dua, yaitu: instrumen untuk mengungkap informasi tentang pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem dan instrumen untuk mengungkap informasi tentang berpikir divergen.

1.    Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem

a.    Definisi Konseptual

Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan Pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem adalah segala ingatan yang mencakup dimensi pengetahuan yang meliputi terminologi, fakta, konversi/kebiasaan, trend dan sekuensi, klasifikasi dan kategori, kriteria, metodologi, prinsip dan generalisasi, serta teori dan struktur dengan indikator mengenai konsep-konsep ekosistem, yaitu jaring-jaring kehidupan (web of life), unsur biotik dan abiotik, aliran energi.

b.    Definisi Operasional

Pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem adalah segala ingatan yang mencakup dimensi pengetahuan yang meliputi terminologi, fakta, konversi/kebiasaan, trend dan sekuensi, klasifikasi dan kategori, kriteria, metodologi, prinsip dan generalisasi, serta teori dan struktur dengan indikator mengenai konsep-konsep ekosistem, yaitu jaring-jaring kehidupan (web of life), unsur biotik dan abiotik, aliran energi.

Selanjutnya untuk setiap subyek yang menjawab benar diberi skor satu dan subyek yang menjawab salah diberi skor nol, yang diukur dengan multipple choice (pilihan ganda).

c.    Bentuk Instrumen

Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data tentang pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem, yaitu tes objektif dalam bentuk pilhan ganda (multipple choice). Mengingat respondennya siswa kelas VII, maka penggunaan istilah-istilah asing diterjemahkan pula ke dalam istilah bahasa lokal, sehingga dapat mengurangi kesalahan menterjemahkan kalimat.

d.    Kisi-kisi Instrumen

Kisi-kisi instrumen tes pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem disusun berdasarkan definisi konseptual yang didalamnya memuat dimensi pengetahuan yang diukur dari aspek-aspek materi tentang konsep-konsep ekosistem sebagai objek pengetahuan seperti dalam Tabel 1.3 berikut :

Tabel 1.3

Kisi-kisi Instrumen Tes Pengetahuan Siswa tentang Konsep-konsep Ekosistem

No             KonsepEkosistemDimensiPengetahuan Jaring-jaring kehidupan

(web of life)

Unsur biotik dan abiotik Aliran energi
1 Terminologi 2 2 1
2 Fakta 2 2 1
3 Konversi/kebiasaan 1 1 2
4 Trend dan sekuensi 1 2 1
5 Klasifikasi dan kategori 2 2 1
6 Kriteria 1 2 1
7 Metodologi 1 2 1
8 Prinsip dan generalisasi 2 1 2
9 Teori dan struktur 1 2 1
Jumlah 13 16 11
Jumlah Total 40

e.    Hasil Uji Coba Instrumen

Uji kesahihan dan keterandalan instrumen penelitian dilakukan sebelum instrumen penelitian digunakan sebagai alat untuk mengungkap data-data yang diperlukan.

Uji coba instrumen penelitian dilaksanakan pada bulan April 2011 pada siswa SMP N 135 Jakarta, dengan jumlah responden sebanyak 28 orang. Hasil pengolahan uji coba tersebut dengan menggunakan Microsoft Exel, diperoleh :

1.    Validitas Instrumen

Menurut Sugiyono, data dikatakan valid apabila terdapat kesamaan antara data yang terkumpul dengan data yang sesungguhnya terjadi pada obyek yang diteliti[36]. Untuk itu diperlukan pengujian untuk memeriksa kesahihan suatu instrumen, apakah mampu mengungkap data yang dikehendaki atau tidak. Uji validitas yang diperlukan adalah uji validitas konstruk dan validitas isi.

Validitas konstruk diperiksa dengan penialian para ahli, sedangkan validitas isi menunjuk kepada sifat dari isi dan spessifikasi yang peneliti gunakan untuk merumuskan isi. Sejauhmana instrumen sesuai dengan pandangan responden, bagaimana responden memahaminya, dan bagaimana responden memahaminya, dan bagaimana jumlah item pertanyaan atau pernyataan dalam instrumen menggambarkan atau mewakili isi yang akan dinilai. Biasanya, validitas isi sudah cukup memenuhi persyaratan untuk menguji validitas suatu instrumen.

Mengukur validitas isi digunakan metode internal konsistemsi, yaitu mengukur besarnya korelasi antara skor butir dengan skor total pertanyaan dan atau pernyataan, untuk mengukur validitas instrumen tes digunakan rumus korelasi biserial titik.

Diterima tidaknya suatu butir item instrumen tes ditentukan oleh besarnya harga rtabel dan besarnya harga rkritis dari tabel pada α = 0,01. Jika rtabel > rkritis,  maka butir item dinyatakan sahih atau valid.

Validitas instrumen pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem dihitung dengan korelasi antara tiap butir dengan skor semua butir pertanyaan, dari perhitungan yang dilakukan diperoleh 32 pertanyaan sahih atau valid karena harga rtabel > rkritis untuk tiap butir pertanyaan.

Berdasarkan hasil perhitungan validitas instrumen penelitian diatas, maka ditetapkan jumlah pertanyaan dalam instrumen pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem sebanyak 32 pertanyaan. Untuk perhitungan nilai validitas dapat dilihat pada lampiran 3a.

  1. 2.    Reliabilitas Instrumen Penelitian

Kesahihan saja tidak cukup untuk melayakkan suatu instrumen untuk menghasilkan data yang layak digunakan dalam penarikan kesimpulan. Instrumen yang dibuat harus memiliki stabilitas, artinya instrumen tersebut harus digunakan kapan saja dan kepada siapa saja dalam suatu populasi, serta menghasilkan data yang stabil atau tidak berubah-ubah.

Menurut Sugiyono, pengujian reliabilitas instrumen dapat dilakukan secara eksternal maupun internal. Secara eksternal pengujian dapat dilakukan dengan test-retest (stability), equivalent, dan gabungan keduanya. Secara internal reliabilitas instrumen dapat diuji dengan menganalisis konsistemsi butir-butir yang ada pada instrumen  dengan teknik tertentu[37]. Bila reliabilitas instrumen penelitian tinggi, maka kemungkinan kesalahan data yang dikupulkan rendah, akurasi dan stabilitas data tinggi. Untuk mengukur reliabilitas instrumen tes digunakan rumus KR-20. Pemilihan KR-20 didasarkan pada asumsi bahwa tingkat kesukaran pertanyaan tidak sama. Hasil perhitungan reliabilitas instrumen Pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem (32 butir pertanyaan) sebesar 0,8028; dengan demikian instrumen tersebut memiliki reliabilitas yang tinggi sehingga layak digunakan untuk mengumpulkan data data penelitian ini. Untuk perhitungan nilai reliabilitas dapat dilihat pada lampira 3a.

3.    Instrumen Berpikir Divergen

a.    Definisi Konseptual

Berpikir Divergen siswa adalah kemampuan siswa dalam dimensi tes verbal dan gambar yang mencakup indikator kelancaran (fluency), keluwesan (fleksibility), keaslian (originality), dan keelaborasian (elaboration) mengenai konsep-konsep ekosistem.

b.    Definisi Operasional

Berpikir Divergen siswa adalah hasil yang diperoleh siswa setelah mengisi instrumen kuesioner untuk mengetahui skor berpikir divergen siswa dengan indikator sebagai berikut: berpikir lancar (fluency), keluwesan (fleksibility), keaslian (originality), dan elaborasi (elaboration).

Skor tentang berpikir divergen siswa diperoleh dengan menggunakan instrumen kuesioner verbal dan gambar. Penskoran untuk setiap indikator diatas mempergunakan skala 0 – 4 dengan 5 pilihan (options). Untuk indikator kelancaran; skor 4 = sangat lancar, 3 = cukup lancar, 2 = kurang lancar, 1 = tidak lancar, 0 = tidak menjawab. Untuk indikator keluwesan; skor 4 = sangat luwes, 3 = cukup luwes, 2 = kurang luwes, 1 = tidak luwes, 0 = tidak menjawab.untuk indikator keaslian; skor 4 = sangat asli, 3 = cukup asli, 2 = kurang asli, 1 = tidak asli, 0 = tidak menjawab. Dan untuk indikator keelaborasian; skor 4 = sangat elaborasi, 3 = cukup elaborasi, 2 = kurang elaborasi, 1 = tidak elaborasi, 0 = tidak menjawab.

Waktu yang diberikan untuk setiap soalnya adalah 3 menit dengan tujuan untuk melihat keakuratan jawaban dari peserta didik.

c.    Instrumen Berpikir Divergen

 

Tabel 1.4

Kisi-kisi Penyusunan Instrumen Tes Berpikir Divergen

 

No

Dimensi Berpikir Divergen  

Indikator

 

No soal

 

 

 

1

verbala.    Kelancaranb.    Keluwesanc.    Keaslian

d.    keelaborasian

a.    Siswa mampu berpikir lancar tentang komponen-komponen ekosistemb.    Siswa mampu berpikir luwes mengenai ekosistem darat dan airc.    Siswa mampu berpikir asli tentang berbagai macam tingkah laku organisme dalam suatu ekosistem

d.    Siswa mampu berpikir elaborasi tentang biotik dan abiotik dalam suatu ekosistem

1, 3, 8, 4, 7

16, 18, 10, 12, 21

2, 5, 9

6, 22, 26, 29, 31

 

 

 

2

Gambara.    Kelancaranb.    Keluwesanc.    Keaslian

[

d.    keelaborasian

a.    Siswa mampu berpikir lancar mengenai jenis-jenis ekosistemb.    Siswa mampu berpikir luwes tentang kejadian dilingkungan sekitar makhluk hidupc.    Siswa mampu berpikir asli mengenai ekosistem alami dan buatan

d.    Siswa mampu berpikir elaborasi tentang manfaat ekosistem

11, 17, 28, 32, 14

13, 24, 30, 20, 34

15, 19

23, 25, 27, 33, 35

  Jumlah 35

d. Hasil Ujicoba Instrumen Penelitian

1. Validitas Instrumen Penelitian

Diterima tidaknya suatu butir item instrumen tes ditentukan oleh besarnya harga rtabel dan besarnya harga rkritis dari tabel pada α = 0,01. Jika rtabel > rkritis,  maka butir item dinyatakan sahih atau valid.

Validitas instrumen pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem dihitung dengan korelasi antara tiap butir dengan skor semua butir pertanyaan, dari perhitungan yang dilakukan diperoleh 30 pertanyaan sahih atau valid karena harga rtabel > rkritis untuk tiap butir pertanyaan.

Berdasarkan hasil perhitungan validitas instrumen penelitian diatas, maka ditetapkan jumlah pertanyaan dalam instrumen pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem sebanyak 30 pertanyaan. Untuk perhitungan nilai validitas dapat dilihat pada lampiran 3b.

  1. 2.    Reliabilitas Instrumen Penelitian

Kesahihan saja tidak cukup untuk melayakkan suatu instrumen untuk menghasilkan data yang layak digunakan dalam penarikan kesimpulan. Instrumen yang dibuat harus memiliki stabilitas, artinya instrumen tersebut harus digunakan kapan saja dan kepada siapa saja dalam suatu populasi, serta menghasilkan data yang stabil atau tidak berubah-ubah.

Menurut Sugiyono, pengujian reliabilitas instrumen dapat dilakukan secara eksternal maupun internal. Secara eksternal pengujian dapat dilakukan dengan test-retest (stability), equivalent, dan gabungan keduanya. Secara internal reliabilitas instrumen dapat diuji dengan menganalisis konsistemsi butir-butir yang ada pada instrumen  dengan teknik tertentu[38]. Bila reliabilitas instrumen penelitian tinggi, maka kemungkinan kesalahan data yang dikupulkan rendah, akurasi dan stabilitas data tinggi. Untuk mengukur reliabilitas instrumen tes digunakan rumus KR-20. Pemilihan KR-20 didasarkan pada asumsi bahwa tingkat kesukaran pertanyaan tidak sama. Hasil perhitungan reliabilitas instrumen Pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem (32 butir pertanyaan) sebesar 0,93927; dengan demikian instrumen tersebut memiliki reliabilitas yang tinggi sehingga layak digunakan untuk mengumpulkan data data penelitian ini. Untuk perhitungan nilai reliabilitas dapat dilihat pada lampira 3b.

H.   PELAKSANAAN EKSPERIMEN

Tahapan  pelaksanaan eksperimen dari penelitian ini dibagi menjadi dua tahap, yaitu tahap persiapan dan tahap pelaksanaan.

1.    Tahap Persiapan (Lampiran 1c)

a.    Menyusun Materi pembelajaran/modul (Lampiran 1d)

b.    Menyusun satuan acara pembelajaran (lampiran 1a dan 1b)

c.    Menyusun kisi-kisi instrumen

d.    Membuat instrumen yang berupa tes (Lampiran 2a dan Lampiran 2b)

e.    Melaksanakan ujicoba instrumen dan mengolahnya (Lampiran 3a dan 3b)

f.     Menentukan peserta pembelajaran (sampel), dengan langkah-langkah sebagai berikut :

Untuk menentukan perlakuan terhadap siswa dari kelas VII mana yang diberi perlakuan pembelajaran dengan strategi versus deduktif dilakukan dengan acak sederhana yaitu dengan pengundian (seperti telah dijelaskan pada bagian populasi dan teknik pengambilan sampel).

Setelah penentuan peserta program pembelajaran selesai dilaksanakan yaitu dengan acak sederhana, selanjutnya dilaksanakan program pembelajaran dengan rincian jadual seperti terdapat pada lampiran 1d.

2.    Tahap Pelaksanaan

a.    Melaksanakan program pembelajaran di tempat yang telah disediakan. Adapun langkah-langkah untuk tiap strategi adalah sebagai berikut :

1). Pelaksanaan strategi pembelajaran versus deduktif adalah sebagai berikut :

a). Pendahuluan

Guru menyampaikan tujuan dan menyemangati peserta pembelajaran

b). Penyajian Informasi atau materi

guru mulai dengan kaidah-kaidah konsep (conceot rule) atau pernyataan yang mana dalam pembelajaran diupayakan untuk pembuktiannya

c). Guru memberikan contoh-contoh yang menunjukkan pembuktian dari konsep

d). Guru memberikan pertanyaan kepada siswa untuk mendapatkan atribut/ciri dan bukan esensi dari konsep-konsep

e). Siswa memberikan beberapa kategori dari contoh yang diberikan oleh guru.

2). Pelaksanaan strategi pembelajaran versus deduktif adalah sebagai berikut :

a). Tahap pertama (Pembentukan konsep)

1). Guru menyampaikan tujuan dan menyemangati peserta pembelajaran

2). Guru memulai dengan mengarahkan siswa untuk mengidentifikasi dan menyebutkan contoh data satu persatu. Data yang relevan dimasukkan ke dalam topik atau masalah

3). Mengelompokkan data ke dalam kategori yang sejenis

4). Mengemabangkan label-label dari setiap kategori

b). Tahap kedua (Interpretasi Data)

1). Guru mengarahkan siswa untuk mengidentifikasi dimensi-dimensi yang saling berhubungan

2). Menjelaskan dan atau mendukung hipotesis

3). Membuat inferensi atau kesimpulan

c). Tahap ketiga (Aplikasi Prinsip)

1). Guru mengarahkan siswa untuk memprediksi akibat, menjelaskan fenomena yang tidak lumrah dan melakukan hipotesis

2). Menjelaskan dan atau mendukung hipotesis

3). Menguji perkiraan

b. Setelah program pembelajaran selesai, kepada para siswa diberikan tes pengetahuan dan tes berpikir divergen dengan instrumen yang telah dibuat untuk mengukur pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem dan berpikir divergen.

c. Memberi skor terhadap hasil tes dari peserta pembelajaran sehingga diperoleh data

d. Mengolah data tes berpikir divergen untuk membagi tiap kelompok menjadi dua kelompok, yaitu subkelompok berpikir divergen tinggi dan subkelompok divergen rendah dari masing-masing kelompok pembelajaran (kelompok pembelajaran dengan strategi versus deduktif dan kelompok pembelajaran dengan strategi versus induktif).

I.      Teknik Pengumpulan Data

Variabel penelitian terdiri atas variable dependen dan variabel independen. Variabel dependen dalam penelitian ini adalah pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem dan variabel independen adalah strategi pembelajaran sebagai variabel bebas perlakuan yang terdiri atas strategi deduktif dan induktif, dan berpikir divergen sebagai variabel bebas atribut yang terdiri atas berpikir tinggi dan berpikir divergen rendah.

Perlakuan penelitian adalah pelaksanaan dari eksperimen dalam bentuk pembelajaran melalui strategi deduktif dan strategi induktif pada dua kelompok eksperimen. Perlakuan dalam bentuk pembelajaran dilakukan selama 12 kali pertemuan. Jenis data yang dikumpulkan dalam penelitian ini adalah pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem dan data tentang berpikir divergen.

Data yang berkaitan dengan pengetahuan tentang konsep-konsep ekosistem diperoleh melalui tes yang dilakukan setelah diberikan perlakuan pembelajaran selama 12 kali pertemuan dengan alokasi waktu setiap kali pertemuan adalah 90 menit (2 jam pelajaran). Sedangkan data yang berkenaan dengan berpikir divergen siswa diperoleh melalui tes yang juga dilakukan setelah diberikan perlakuan pembelajaran.

J.    Teknik Analisa Data

Untuk menguji hipotesis penelitian dan memperkirakan besarnya perbedaan antara variabel, digunakan analisa varians. Agar analisis varians dapat digunakan, maka persyaratan analisis harus dipenuhi. Persyaratan analisis adalah bahwa data harus diambil secara acak, variabel-variabel harus independen, data-data penelitian yang diperoleh harus berdistribusi normal, dan semua variansnya homogen.

Langkah-langkah analisa data yang dilakukan adalah :

1.    Menguji normalitas data dengan menggunakan uji Liliefors

2.    Menguji homogentitas varians dengan menggunakan uji Bartlett, dan

3.    Menguji perbedaan-perbedaan yang terjadi antar variabel yang disebabkan adanya perlakuan dengan menggunakan analisis varians (ANAVA) dan diuji lanjut dengan menggunakan uji Tuckey[39] karena jumlah anggota dalam setiap sel sama.

Hipotesis statistik yang diuji dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Hipotesis Pertama :

Ho ; μA1 = μA2

H1 ;  μA1 > μA2

Keterangan :

μA1 :rerata skor pengetahuan kelompok deduktif

μA2 : rerata skor pengetahuan kelompok induktif

2. Hipotesis kedua :

Ho : Interaksi A x B = 0

H1 : Interaksi A x B ≠ 0

Keterangan :

A : rerata skor strategi pembelajaran

B : rerata skor berpikir divergen

3.Hipotesis ketiga :

Ho : μA1B1 = μA2B1

H1 : μA1B1 < μA2B1

Keterangan :

μA1B1 : rerata skor pengetahuan kelompok deduktif yang memiliki berpikir divergen tinggi

μA2B1 : rerata skor pengetahuan kelompok induktif yang memiliki berpikir divergen tinggi

4. Hipotesis keempat :

Ho : μA2B2 = μA1B2

H1 : μA2B2 > μA1B2

keterangan :

μA1B2 : rerata skor pengetahuan kelompok deduktif yang memiliki berpikir divergen rendah

μA2B2 : rerata skor pengetahuan kelompok induktif yang memiliki berpikir divergen rendah

BAB IV

HASIL PENELITIAN

 

Bab ini akan menguraikan hasil pelaksanaan eksperimen yang telah dilakukan, terutama yang berkaitan dengan deskripsi data setiap variabel, seperti jumlah sampel, jumlah skor, rata-rata skor, jumlah kuadrat skor, modus, dan median. Selain itu akan diuraikan pula hasil pengujian persyaratan analisis serta hasil pengujian hipotesis dan pembahasannya sebagai akhir dari bab ini.

  1. A.   Deskripsi Data Hasil Penelitian

Pelaksanaan eksperimen penelitian ini dilaksanakan selama 3 bulan, yang mana setelah pelaksanaan eksperimen tersebut kepada para siswa diberikan tes pengetahuan tentang konsep-konsep ekosistem dan angket tentang berpikir divergen siswa.

Pelaksanaan eksperimen mengenai strategi pembelajaran tentang konsep-konsep ekosistem diberikan pada dua kelompok besar, yaitu kelompok yang diberi strategi pembelajaran deduktif dan kelompok yang diberi strategi pembelajaran versus induktif. Kelompok deduktif dibedakan menjadi subkelompok yang memiliki berpikir divergen tinggi dan subkelompok yang memiliki berpikir divergen rendah. Begitu pula dengan kelompok induktif, terdiri dari subkelompok yang memiliki berpikir divergen tinggi dan subkelompok yang memiliki berpikir divergen rendah.

Sebelum dilakukan analisis, terlebih dahulu data pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem dideskripsikan. Data pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem diperoleh dari skor yang diperoleh para siswa, yang diukur dengan menggunakan instrumen tes pengetahuan tentang konsep-konsep ekosistem.

Tabel 1.5

Rangkuman Hasil Perhitungan Nilai n, X, SD, ∑X, dan ∑X2

 

     Strategi Pembelajaran  Berpikir Divergen  

 

 

 

 

 

Deduktif

 

Induktif

 

 

 

Jumlah

 

 

 

Tinggi

n = 10X = 84,6SD = 5,62∑X = 846

∑X2 = 715716

n = 10X = 84,6SD = 5,64∑X = 848

∑X2 = 712336

n = 20X = 84,5SD = 5,48∑X = 1690

∑X2 = 2856100

 

 

Rendah

n = 10X = 57,7SD = 4,16∑X = 577

∑X2 = 332929

n = 10X = 57,8SD = 4,58∑X = 578

∑X2 = 334084

n = 20X = 57,75SD = 5,48∑X = 1155

∑X2 =1334025

 

 

Jumlah

n = 30X = 71,15SD =14,61∑X = 1423

∑X2 = 2024929

n = 30X = 71,1SD = 14,53∑X = 1422

∑X2 = 2022084

∑XT= 28454190125

Keterangan :

n          = banyaknya sampel setiap kelompok perlakuan

X         = rata-rata skor pengetahuan tentang konsep-konsep ekosistem

SD      = standar deviasi (simpangan baku)

∑X       = jumlah skor tiap kelompok perlakuan

∑X2       = jumlah kuadrat skor tiap kelompok perlakuan

Perincian deskripsi data pengetahuan tentang konsep-konsep ekosistem tersebut disajikan dalam kelompok penelitian sebagai berikut :

  1. Pengetahuan siswa dari kelompok yang diberi pembelajaran dengan strategi deduktif secara keseluruhan.
  2. Pengetahuan siswa dari kelompok yang diberi pembelajaran dengan strategi induktif secara keseluruhan.
  3. Pengetahuan siswa dari kelompok yang memiliki berpikir divergen tinggi secara keseluruhan.
  4. Pengetahuan siswa dari kelompok yang memiliki berpikir divergen rendah secara keseluruhan.
  5. Pengetahuan siswa dari kelompok yang diberi pembelajaran dengan strategi deduktif yang memiliki berpikir divergen tinggi.
  6. Pengetahuan siswa dari kelompok yang diberi pembelajaran dengan strategi deduktif yang memiliki berpikir divergen rendah.
  7. Pengetahuan siswa dari kelompok yang diberi pembelajaran strategi deduktif yang memiliki berpikir divergen tinggi.
  8. Pengetahuan siswa dari kelompok yang diberi pembelajaran strategi induktif yang memiliki berpikir divergen rendah.

Data pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem disajikan dalam rangkuman sebagai tampak tabel berikut.

Uraian berikut akan dibahas deskripsi data kelompok deduktif dan kelompok induktif beserta keempat subkelompoknya.

  1. 1.    Berpikir divergen siswa

Setelah selesai mengikuti pembelajaran tentang konsep-konsep ekosistem, kepada siswa pembelajaran selanjutnya diberikan tes berpikir divergen untuk mengungkap berpikir mereka apakah tinggi ataukah rendah. Hasilnya dapat dilihat pada lampiran 1 dan lampiran 2.

  1. a.    Berpikir Divergen Tinggi dari Siswa yang diberi Pembelajaran dengan strategi Deduktif

Berdasarkan data yang diperoleh dari pengolahan tes berpikir divergen, diperoleh jumlah skor 846 dengan skor maksimum 95 dan skor minimum 79 sehingga diperoleh rentang 16: rata-rata 84,6; simpangan baku 5,62; varians 31,6; modus 81; dan median 82 seperti terlihat pada tabel 1.

Berdasarkan deskripsi data, maka dapat disimpulkan bahwa berpikir divergen siswa mencapai jumlah skor 846 dalam rentang 16 (95 – 79) data tersebut dapat diwakili oleh harga rata-rata sebesar 84,6; kebanyakan siswa memperoleh skor 81 dengan skor tengah 82 yang artinya 50 % dari siswa tersebut memperoleh skor tertinggi 82 dan 50 % lagi memperoleh skor terendah 82.

Tabel 1. 6

Statistik Berpikir Divergen Siswa

Divergen Tinggi

Strategi Deduktif

Divergen Tinggi

Strategi Induktif

N 10 10
Rata-rata 84,6 57,7
Median 82 57,5
Modus 81 63
Simpangan baku 5,62 4,16
Varians 31,6 17,3
Range 16 11
Minimum 79 52
Maksimum 95 63
Jumlah 474,82 325,70
  1. b.    Berpikir Divergen Rendah dari Siswa yang diberi Pembelajaran dengan Strategi Deduktif

Berdasarkan data yang diperoleh dari pengolahan tes berpikir divergen, diperoleh jumlah skor 325,70 dengan skor maksimum 63 dan skor minimum 52 sehingga diperoleh rentang 11; rata-rata 57,7; simpangan baku 4,16; varians 17,3; modus 63; dan median 57,5 seperti terlihat pada tabel 2 di atas.

Berdasarkan deskripsi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa berpikir siswa mencapai jumlah skor 325,70 dalam rentang skor 11 (62 – 52) data tersebut dapat diwakili oleh harga rata-rata sebesar 57,7; kebanyakan siswa memperoleh skor 63 dengan skor tengah 57,5 yang artinya 50 % dari siswatersebut memperoleh skor tertinggi 57,7 dan 50 % lagi memperoleh skor terendah 57,7.

  1. c.    Berpikir Divergen Tinggi dari Siswa yang diberi Pembelajaran dengan Strategi Induktif

Berdasarkan data yang diperoleh dari pengolahan tes berpikir divergen, diperoleh jumlah skor 848 dengan skor maksimum 95 dan skor minimum 78 sehingga diperoleh rentang 17; rata-rata 84,4; simpangan baku5,64; varians 31,82; modus 83; dan median 83 seperti terlihat pada tabel 3 berikut.

Tabel 1.7

Statistik Berpikir Divergen Siswa

Divergen Tinggi

Strategi Induktif

Divergen Rendah

Strategi Induktif

N 10 10
Rata-rata 84,4 57,8
Median 83 57,5
Modus 83 63
Simpangan baku 5,64 4,58
Varians 31,82 21.06
Range 17 13
Minimum 78 51
Maksimum 95 64
Jumlah 477,86 331,95

Berdasarkan deskripsi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa berpikir siswa mencapai jumlah skor 477,86 dalam rentang skor 17 (95 – 78) data tersebut dapat diwakili oleh harga rata-rata sebesar 84,4; kebanyakan siswa memperoleh skor 83 dengan skor tengah 83 yang artinya 50 % dari siswatersebut memperoleh skor tertinggi 83 dan 50 % lagi memperoleh skor terendah 83.

  1. d.    Berpikir Divergen Rendah dari Siswa yang diberi Pembelajaran dengan Strategi Induktif

Berdasarkan data yang diperoleh dari pengolahan tes berpikir divergen, diperoleh jumlah skor 331,95 dengan skor maksimum 64 dan skor minimum 51 sehingga diperoleh rentang 13; rata-rata 57,8; simpangan baku 4,58; varians 21,06; modus 63; dan median 57,5 seperti terlihat pada tabel 3 di atas.

Berdasarkan deskripsi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa berpikir siswa mencapai jumlah skor 331,95 dalam rentang skor 13 (64 – 51) data tersebut dapat diwakili oleh harga rata-rata sebesar 57,8; kebanyakan siswa memperoleh skor 63 dengan skor tengah 57,5 yang artinya 50 % dari siswa tersebut memperoleh skor tertinggi 57,7 dan 50 % lagi memperoleh skor terendah 57,7.

  1. 2.    Pengetahuan Siswa tentang Konsep-konsep Ekosistem
  2. a.    Pengetahuan Siswa tentang Konsep-konsep Ekosistem Strategi Deduktif Secara Keseluruhan

Siswa yang termasuk ke dalam kelompok deduktif berasal dari kelas VII1 dan VII2. Setelah pelaksanaan eksperimen (program pembelajaran) selesai, kepada peserta diberikan tes mengenai pengetahuan tentang konsep-konsep ekosistem sesuai dengan materi yang diberikan dalam pembelajaran.

Tabel 1.8

Statistik Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem

N 20
Rata-rata 18,52
Median 18,5
Modus 22
Simpangan baku 6,69
Varians 44,78
Range 22
Minimum 8
Maksimum 30
Jumlah 190,5029

Berdasarkan data yang dikumpulkan mengenai pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem[40], jumlah skor sebesar 190,5029 dengan skor minimum 8 dan skor maksimum 30 sehingga diperoleh rentang skor 22; rata-rata skor sebesar 18,52; simpangan baku 6,69; varians 44,78; modus 22; dan median 18,5. Distribusi frekuensi dan histogramnya dapat dilihat pada Tabel 1.8, Tabel 1.9, dan gambar 1.

Tabel 1.9

Daftar Distribusi Frekuensi Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem

 

No Interval Kelas Frekuensi Batas Kelas Frekuensi
Bawah Atas Absolute Relatif (%)
1 8 – 12 4 7,5 12,5 4 20
2 13 – 17 6 12,5 17,5 10 30
3 18 – 22 4 17,5 22,5 14 20
4 23 – 28 4 22,5 28,5 19 20
5 29 – 30 2 28,5 30,5 20 10
Jumlah 20 100

 

Gambar 1

Histogram Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem

Berdasarkan deskripsi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem mencapai jumlah skor 190,5029 dalam rentang skor 22 (30 – 8), data tersebut dapat diwakili oleh harga rata-rata sebesar 18,52 dimana kebanyakan siswa memperoleh skor  22 dengan skor tengah 18,5; yang berarti bahwa 50 % dari siswa tersebut memperoleh skor terendah 18,5 dan 50 % lagi skor tertinggi 18,5 %.

  1. b.    Pengetahuan Siswa tentang Konsep-konsep Ekosistem Strategi Induktif Secara Keseluruhan

Siswa yang termasuk ke dalam kelompok induktif berasal dari kelas VII1 dan VII2. Setelah pelaksanaan eksperimen (program pembelajaran) selesai, kepada peserta diberikan tes mengenai pengetahuan tentang konsep-konsep ekosistem sesuai dengan materi yang diberikan dalam pembelajaran.

Tabel 1.10

Statistik Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem

N 20
Rata-rata 18,25
Median 18
Modus 14
Simpangan baku 6,527
Varians 42,61
Range 19
Minimum 9
Maksimum 28
Jumlah 175,3967

Berdasarkan data yang dikumpulkan mengenai pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem[41], jumlah skor sebesar 175,3967 dengan skor minimum 9 dan skor maksimum 28 sehingga diperoleh rentang skor 19; rata-rata skor sebesar 18,25; simpangan baku 6,527; varians 42,61; modus 14; dan median 18. Distribusi frekuensi dan histogramnya dapat dilihat pada Tabel 1.10, Tabel 1.11, dan gambar 2.

Tabel 1.11

Daftar Distribusi Frekuensi Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem

 

No Interval Kelas Frekuensi Batas Kelas Frekuensi
Bawah Atas Absolut Relatif (%)
1 8 – 12 5 7,5 12,5 5 25
2 13 – 17 5 12,5 17,5 10 25
3 18 – 22 2 17,5 22,5 12 10
4 23 – 28 7 22,5 28,5 19 35
5 29 – 30 1 28,5 30,5 20 5
Jumlah 20 100

Gambar 2

Histogram Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem

 

Berdasarkan deskripsi di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem mencapai jumlah skor 175,3967 dalam rentang skor 19 (28 – 9), data tersebut dapat diwakili oleh harga rata-rata sebesar 18,25 dimana kebanyakan siswa memperoleh skor  14 dengan skor tengah 18; yang berarti bahwa 50 % dari siswa tersebut memperoleh skor terendah 18 dan 50 % lagi skor tertinggi 18 %.

  1. c.    Pengetahuan Siswa tentang Konsep-konsep Ekosistem yang Memiliki Berpikir Divergen Tinggi Secara keseluruhan

Berdasarkan data yang dikumpulkan mengenai pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem yang memiliki berpikir divergen tinggi secara keseluruhan[42], jumlah skor sebesar 181,83 dengan skor minimum 8 dan skor maksimum 29 sehingga diperoleh rentang skor 21; rata-rata skor sebesar 19,15; simpangan baku 5,97; varians 35,71; modus 22; dan median 21. Distribusi frekueansi dan histogramnya dapat dilihat pada tabel 1.12, tabel 1.13, dan gambar 3.

Tabel 1.12

Statistik Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem

 

N 20
Rata-rata 19,15
Median 21
Modus 22
Simpangan baku 5,97
Varians 35,71
Range 21
Minimum 8
Maksimum 29
Jumlah 181,83

Tabel 1.13

Daftar Distribusi Frekuensi Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem

 

 

No

 

Interval Kelas

 

Frekuensi

Batas Kelas Frekuensi
Bawah Atas Absolute Relatif (%)
1 8 – 12 3 7,5 12,5 3 15
2 13 – 17 5 12,5 17,5 8 25
3 18 – 22 5 17,5 22,5 13 20
4 23 – 28 6 22,5 28,5 19 30
5 29 – 30 1 28,5 30,5 20 5
Jumlah 20 100

Berdasarkan deskripsi data di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengetahuan siswa mencapai jumlah skor 181,83 dalam rentang skor 21 (29 – 8), data tersebut dapat diwakili oleh harga rata-rata sebesar 19,15 dimana kebanyakan siswa memperoleh skor 22 dengan skor tengah 21; yang berarti bahwa 50 % dari siswa memperoleh skor terendah 21 dan 50 % lagi memperoleh skor tertinggi 21. Jika dilihat dari histogram yang diperoleh dari harga rata-rata, median, dan modus dapat disimpulkan bahwa kurvanya adalah negatif.

 

Gambar 3

Histogram Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem yang Memiliki Berpikir Divergen Tinggi secara Keseluruhan

 

  1. d.    Pengetahuan Siswa tentang Konsep-konsep Ekosistem yang Memiliki Berpikir Divergen Rendah Secara keseluruhan

Berdasarkan data yang dikumpulkan mengenai pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem yang memiliki berpikir divergen tinggi secara keseluruhan[43], jumlah skor sebesar 160,85 dengan skor minimum 8 dan skor maksimum 30 sehingga diperoleh rentang skor 21; rata-rata skor sebesar 18,7; simpangan baku 6,08; varians 37,06; modus 22; dan median 17. Distribusi frekuensi dan histogramnya dapat dilihat pada tabel 1.14, tabel 1.15, dan gambar 4.

Tabel 1.14

Statistik Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem

N 20
Rata-rata 18,7
Median 17
Modus 22
Simpangan baku 6,08
Varians 37,06
Range 21
Minimum 9
Maksimum 30
Jumlah 160,85

 

Tabel 1.15

Daftar Distribusi Frekuensi Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem

No Interval Kelas Frekuensi Batas Kelas Frekuensi
Bawah Atas Absolute Relatif (%)
1 8 – 12 3 7,5 12,5 3 15
2 13 – 17 7 12,5 17,5 10 35
3 18 – 22 4 17,5 22,5 14 20
4 23 – 28 5 22,5 28,5 19 25
5 29 – 30 1 28,5 30,5 20 5
Jumlah 20 100

Berdasarkan deskripsi data di atas, maka dapat disimpulkan bahwa pengetahuan siswa mencapai jumlah skor 160,85 dalam rentang skor 21 (30 – 9), data tersebut dapat diwakili oleh harga rata-rata sebesar 18,7 dimana kebanyakan siswa memperoleh skor 22 dengan skor tengah 17; yang berarti bahwa 50 % dari siswa memperoleh skor terendah 17 dan 50 % lagi memperoleh skor tertinggi 17. Jika dilihat dari histogram yang diperoleh dari harga rata-rata, median, dan modus dapat disimpulkan bahwa kurvanya adalah positif.

Gambar 4

Histogram Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem yang Memiliki Berpikir Divergen Rendah secara Keseluruhan

  1. e.    Pengetahuan Siswa tentang Konsep-konsep Ekosistem Strategi Deduktif yang Memiliki Berpikir Divergen Tinggi

Setelah pelaksanaan eksperimen (program pembelajaran) selesai, siswa diberi tes mengenai pengetahuan tentang konsep-konsep ekosistem sesuai dengan materi yang diberikan. Dari data yang dikumpulkan mengenai pengetahuan siswa kelompok versus deduktif yang memiliki berpikir divergen tinggi[44], jumlah skor sebesar 169,48 dengan skor minimum 15 dan skor maksimum 30 sehingga diperoleh rentang skor 15; rata-rata skor sebesar 17,9; simpangan baku 6,04; varians 36,54; modus 22 dan median 17. Distribusi frekuensi dan histogramnya dapat dilihat pada tabel 16, tabel 17, dan gambar 5.

Berdasarkan deskripsi data, maka dapat disimpulkan bahwa pengetahuan siswa tentang konsep-koonsep ekosistem mencapai jumlah skor 169,48 dalam rentang skor 15 (30 – 15), data tersebut dapat diwakili oleh harga rata-rata sebesar 17,9 dimana kebanyakan siswa memperoleh skor 17 dengan skor tengah 17,9; yang berarti bahwa 50 % dari siswa memperoleh skor terendah 17,9 dan 50 % lagi memperoleh skor tertinggi 17,9 %. Jika dilihat dari histogram yang diperoleh dan harga rata-rata, median, dan modus dapat disimpulkan bahwa kurvanya adalah negatif.

Tabel 1.16

Statistik Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem

N 10
Rata-rata 17,9
Median 17
Modus 22
Simpangan baku 6,04
Varians 36,54
Range 15
Minimum 15
Maksimum 30
Jumlah 169,48

Tabel 1.17

Daftar Distribusi Frekuensi Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem

No Interval Kelas Frekuensi Batas Kelas Frekuensi
Bawah Atas Absolute Relatif (%)
1 8 – 14 3 7,5 14,5 3 30
2 15 – 21 3 12,5 21,5 6 30
3 22 – 29 4 17,5 29,5 10 40
Jumlah 20 100

Gambar 5

Histogram Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem Kelompok Deduktif yang Memiliki Berpikir Divergen Tinggi

 

  1. f.     Pengetahuan Siswa tentang Konsep-konsep Ekosistem Strategi Induktif yang Memiliki Berpikir Divergen Tinggi

Dari data yang dikumpulkan mengenai pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem kelompok versus Induktif yang memiliki berpikir divergen rendah[45], jumlah skor sebesar 174,72 dengan skor minimum 11 dan skor maksimum 28 sehingga diperoleh rentang skor 17; rata-rata skor sebesar 20,4; simpangan baku 5,94; varians 35,37; modus 24; dan median 20,4. Distribusi frekuensi dan histogramnya dapat dilihat pada tabel 1.1, tabel 1. 18, dan gambar 6.

Tabel 1.18

Statistik Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem

 

N 10
Rata-rata 20,4
Median 23
Modus 24
Simpangan baku 5,94
Varians 35,37
Range 11
Minimum 28
Maksimum 17
Jumlah 174,72

Tabel 1.19

Daftar Distribusi Frekuensi Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem

 

No Interval Kelas Frekuensi Batas Kelas Frekuensi
Bawah Atas Absolute Relatif (%)
1 11 – 14 3 10,5 14,5 3 30
2 15 – 18 0 14,5 18,5 3 0
3 19 – 22 1 18,5 22,5 4 10
4 23 – 25 5 22,5 25,5 9 50
5 26 – 28 1 25,5 28,5 10 10
Jumlah 10 100

Gambar 6

Histogram Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem

Kelompok Induktif yang Memiliki Berpikir Divergen Tinggi

  1. g.    Pengetahuan Siswa tentang Konsep-konsep Ekosistem Strategi Deduktif yang Memiliki Berpikir Divergen Rendah

Dari data yang dikumpulkan mengenai pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem kelompok versus deduktif yang memiliki berpikir divergen rendah[46], jumlah skor sebesar 177,9046 dengan skor minimum 11 dan skor maksimum 30 sehingga diperoleh rentang skor 19; rata-rata skor sebesar 20; simpangan baku 6,18; varians 38,22; modus 22; dan median 21,5. Distribusi frekuensi dan histogramnya dapat dilihat pada tabel 20, tabel 21, dan gambar 7.

Tabel 1.20

Statistik Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem

N 10
Rata-rata 20
Median 21,5
Modus 22
Simpangan baku 6,18
Varians 38,22
Range 19
Minimum 11
Maksimum 30
Jumlah 177,9046

Tabel 1.21

Daftar Distribusi Frekuensi Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem

 

No Interval Kelas Frekuensi Batas Kelas Frekuensi
Bawah Atas Absolute Relatif (%)
1 11 – 16 4 10,5 16,5 3 40
2 17 – 22 3 16,5 22,5 7 30
3 23 – 28 2 22,5 28,5 9 20
4 29 – 30 1 28,5 30,5 10 10
Jumlah 10 100

Berdasarkan deskripsi data, maka dapat disimpulkan bahwa pengetahuan siswa tentang konsep-koonsep ekosistem mencapai jumlah skor 177,9046 dalam rentang skor 19 (30 – 11), data tersebut dapat diwakili oleh harga rata-rata sebesar 20 dimana kebanyakan siswa memperoleh skor 22 dengan skor tengah 21,5; yang berarti bahwa 50 % dari siswa memperoleh skor terendah 21,5 dan 50 % lagi memperoleh skor tertinggi 21,5 %. Jika dilihat dari histogram yang diperoleh dan harga rata-rata, median, dan modus dapat disimpulkan bahwa kurvanya adalah positif.

Gambar 7

Histogram Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem

Kelompok Deduktif yang Memiliki Berpikir Divergen Rendah

 

  1. h.    Pengetahuan Siswa tentang Konsep-konsep Ekosistem Strategi Induktif yang Memiliki Berpikir Divergen Rendah

Dari data yang dikumpulkan mengenai pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem kelompok versus Induktif yang memiliki berpikir divergen rendah[47], jumlah skor sebesar 155,68 dengan skor minimum 9 dan skor maksimum 28 sehingga diperoleh rentang skor 19; rata-rata skor sebesar 17,4; simpangan baku 6,02; varians 36,26; modus 15; dan median 15. Distribusi frekuensi dan histogramnya dapat dilihat pada tabel 22, tabel 23, dan gambar 8.

Tabel 22

Statistik Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem

N 10
Rata-rata 17,4
Median 15
Modus 15
Simpangan baku 6,02
Varians 36,26
Range 19
Minimum 9
Maksimum 28
Jumlah 155,68

 

Tabel 23.

Daftar Distribusi Frekuensi Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem

No Interval Kelas Frekuensi Batas Kelas Frekuensi
Bawah Atas Absolute Relatif (%)
1 9 – 13 2 8,5 13,5 2 20
2 14 – 18 5 13,5 18,5 7 50
3 19 – 23 1 19,5 23,5 8 10
4 24 – 28 2 23,5 28,5 10 20
Jumlah 10 100

Berdasarkan deskripsi data, maka dapat disimpulkan bahwa pengetahuan siswa tentang konsep-koonsep ekosistem mencapai jumlah skor 155,68 dalam rentang skor 19 (28 – 9), data tersebut dapat diwakili oleh harga rata-rata sebesar 17,4 dimana kebanyakan siswa memperoleh skor 15 dengan skor tengah 15; yang berarti bahwa 50 % dari siswa memperoleh skor terendah 15 dan 50 % lagi memperoleh skor tertinggi 15. Jika dilihat dari histogram yang diperoleh dan harga rata-rata, median, dan modus dapat disimpulkan bahwa kurvanya adalah positif.

Gambar 8

Histogram Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem

Kelompok Induktif yang Memiliki Berpikir Divergen Rendah

 

  1. B.   Pengujian Persyaratan Analisis

Sebelum Pengujian hipotesis dilaksanakan, terlebih dahulu dilakukan uji persyaratan analisis. Adapun pengujian persyaratan analisis yang dilakukan meliputi:

  1. 1.    Uji Normalitas

Uji normalitas dilakukan dengan manual, yaitu dengan menggunakan uji Liliefors pada α = 5%. Adapun hasilnya adalah sebagai berikut.

  1. a.  Pengetahuan Siswa tentang Konsep-konsep Ekosistem Strategi Deduktif secara Keseluruhan

Data yang diperoleh mengenai pengetahuan siswa yang memperoleh pembelajaran dengan strategi deduktif, dengan data statistik seperti telah diuraikan di atas, uji normalitas yang digunakan adalah uji Lilieforse. Uji normalitas dilakukan pada taraf signifikansi (α) 5% dengan df = 20, sehingga diperoleh nilai kritis (Ltabel) = 0,190.

H0        : Lhitung > Ltabel, artinya data berdistribusi normal

H1        : Lhitung < Ltabel, artinya data tidak berdistribusi normal

Setelah dihitung diperoleh hasil sebagai berikut Lhitung = 0,889242, sehingga jika dibandingkan dengan Ltabel ternyata Lhitung > Ltabel, artinya H0 diterima. Kesimpulannya adalah data sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

  1. b.  Pengetahuan Siswa tentang Konsep-konsep Ekosistem Strategi Induktif secara Keseluruhan

Data yang diperoleh mengenai pengetahuan siswa yang memperoleh pembelajaran dengan strategi induktif, dengan data statistik seperti telah diuraikan di atas, ui normalitas yang digunakan adalah uji Liliefors. Uji normalitas dilakukan pada taraf signifikansi (α) 5% dengan df = 20 sehingga diperoleh nilai kritis (Ltabel) = 0,190. Kriteria pengujian:

H0 : Lhitung > Ltabel, artinya data berdistribusi normal

H1 : Lhitung < Ltabel, artinya data tidak berdistribusi normal

Setelah dihitung diperoleh hasil sebagai berikut, Lhitung = 0,677599. Sehingga jika dibandingkan dengan Ltabel ternyata Lhitung > Ltabel, artinya H0 diterima. Kesimpulannya adalah data sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

  1. c.    Pengetahuan Siswa tentang Konsep-konsep Ekosistem yang Memiliki Berpikir Divergen Tinggi secara Keseluruhan

Data yang diperoleh mengenai pengetahuan siswa yang memperoleh pembelajaran dengan strategi deduktif, dengan data statistik seperti telah diuraikan di atas, uji normalitas yang digunakan adalah uji Liliefors. Uji normalitas dilakukan pada taraf signifikansi (α) 5% dengan df = 20, sehingga diperoleh nilai kritis (Ltabel) = 0,190.      Kriteria pengujian:

H0 : Lhitung > Ltabel, artinya data berdistribusi normal

H1 : Lhitung < Ltabel, artinya data tidak berdistribusi normal

Sehingga dihitung diperoleh hasil sebagai berikut, Lhitung = 0,850349, sehingga jika dibandingkan dengan Ltabel ternyata Lhitung > Ltabel, artinya H0 diterima. Kesimpulannya adalah data sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

  1. d.    Pengetahuan Siswa tentang Konsep-konsep Ekosistem yang Memiliki Berpikir Divergen Rendah secara Keseluruhan

Data yang diperoleh mengenai pengetahuan siswa yang memperoleh pembelajaran dengan strategi deduktif, dengan data statistik seperti telah diuraikan diatas, uji normalitas yang digunakan adalah uji Liliefors. Uji normalitas dilakukan  pada taraf signifikansi( 5% dengan df = 20 sehingga diperoleh nilai kritis (Ltabel) = 0,190.

Kriteria pengujian:

H0 : Lhitung > Ltabel, artinya data berdistribusi normal

H1 : Lhitung < Ltabel, artinya data tidak berdistribusi normal

Setelah dihitung  berikut hasil sebagai berikut, Lhitung = 0,868282.

Sehingga, jika dibandingkan dengan Ltabel ternyata Lhitung > Ltabel,artinya H0 diterima. Kesimpulannya adalah data sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

  1. e.  Pengetahuan Siswa Tentang Sampah Strategi Deduktif yang Memiliki Berpikir Divergen Tinggi.

Data yang diperoleh mengenai pengetahuan siswa yang memperoleh pembelajaran dengan strategi deduktif, dengan data statistik seperti telah diuraikan diatas, uji normalitas yang digunakan adalah uji Liliefors. Uji normalitas dilakukan  pada taraf signifikansi( 5% dengan df = 20 sehingga diperoleh nilai kritis (Ltabel) = 0,258.

Kriteria pengujian:

H0 : Lhitung > Ltabel, artinya data berdistribusi normal

H1 : Lhitung < Ltabel, artinya data tidak berdistribusi normal

Setelah dihitung  berikut hasil sebagai berikut, Lhitung = 0,8664.

Sehingga, jika dibandingkan dengan Ltabel ternyata Lhitung > Ltabel,artinya H0 diterima. Kesimpulannya adalah data sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

  1. f.    Pengetahuan SiswaTentang Sampah Strategi Induktif yang Memiliki Berpikir Divergen Tinggi .

Data yang diperoleh mengenai pengetahuan siswa yang memperoleh pembelajaran dengan strategi induktif tinggi, dengan data statistik seperti telah diuraikan diatas, uji normalitas yang digunakan adalah uji Liliefors. Uji normalitas dilakukan  pada taraf signifikansi( 5% dengan df = 20 sehingga diperoleh nilai kritis (Ltabel) = 0,258.

Kriteria pengujian:

H0 : Lhitung > Ltabel, artinya data berdistribusi normal

H1 : Lhitung < Ltabel, artinya data tidak berdistribusi normal

Setelah dihitung  berikut hasil sebagai berikut, Lhitung = 0,8664.

Sehingga, jika dibandingkan dengan Ltabel ternyata Lhitung > Ltabel,artinya H0 diterima. Kesimpulannya adalah data sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

  1. g.  Pengetahuan SiswaTentang Sampah Strategi Deduktif yang Memiliki Berpikir Divergen Rendah .

Data yang diperoleh mengenai pengetahuan siswa yang memperoleh pembelajaran dengan strategi deduktif rendah, dengan data statistik seperti telah diuraikan diatas, uji normalitas yang digunakan adalah uji Liliefors. Uji normalitas dilakukan  pada taraf signifikansi( 5% dengan df = 20 sehingga diperoleh nilai kritis (Ltabel) = 0,258.

Kriteria pengujian:

H0 : Lhitung > Ltabel, artinya data berdistribusi normal

H1 : Lhitung < Ltabel, artinya data tidak berdistribusi normal

Setelah dihitung  berikut hasil sebagai berikut, Lhitung = 0,8049.

Sehingga, jika dibandingkan dengan Ltabel ternyata Lhitung > Ltabel,artinya H0 diterima. Kesimpulannya adalah data sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

  1. h.  Pengetahuan SiswaTentang Sampah Strategi Induktif yang Memiliki Berpikir Divergen Rendah .

Data yang diperoleh mengenai pengetahuan siswa yang memperoleh pembelajaran dengan strategi induktif rendah, dengan data statistik seperti telah diuraikan diatas, uji normalitas yang digunakan adalah uji Liliefors. Uji normalitas dilakukan  pada taraf signifikansi( 5% dengan df = 10 sehingga diperoleh nilai kritis (Ltabel) = 0,258.

Kriteria pengujian:

H0 : Lhitung > Ltabel, artinya data berdistribusi normal

H1 : Lhitung < Ltabel, artinya data tidak berdistribusi normal

Setelah dihitung  berikut hasil sebagai berikut, Lhitung = 0,944.

Sehingga, jika dibandingkan dengan Ltabel ternyata Lhitung > Ltabel,artinya H0 diterima. Kesimpulannya adalah data sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

Tabel 24

Rangkuman Hasil Uji Normalitas

 

Kelompok N Lhitung Ltabel

α = 0,05

Kesimpulan
1

2

3

4

5

6

7

8

20

20

20

20

10

10

10

10

0,57092

0,677599

0,850349

0,868282

0,8664

0,8049

0,8599

0,698

0,190

0,190

0,190

0,190

0,258

0,258

0,258

0,258

Normal

Normal

Normal

Normal

Normal

Normal

Normal

Normal

Keterangan :

Kelompok 1 = Kelompok siswa yang diberi pembelajaran dengan  strategi deduktif secara keseluruhan

Kelompok 2 = Kelompok siswa yang diberi pembelajaran dengan  strategi induktif secara keseluruhan

Kelompok 3 = Kelompok siswa yang memiliki berpikir divergen tinggi secara keseluruhan

Kelompok 4 = Kelompok siswa yang memiliki berpikir divergen rendah secara keseluruhan

Kelompok 5 = Kelompok siswa yang diberi pembelajarani dengan strategi deduktif dan memiliki berpikir divergen tinggi

Kelompok 6 = Kelompok siswa yang diberi pembelajaran dengan strategi induktif dan memiliki berpikir divergen tinggi

Kelompok 7 = Kelompok siswa yang diberi pembelajaran dengan strategi deduktif dan memiliki berpikir divergen rendah

Kelompok 8 = Kelompok siswa yang diberi pembelajaran dengan strategi induktif dan memiliki berpikir divergen rendah

  1. 2.    Uji Homogenitas

Berdasarkan data statistik yang diperoleh seperti telah diuraikan di muka, maka selanjutnya dilakukan uji homogenitas dengan taraf signifikansi (α) 5 % dan derajat kebebasan (df) 3, dengan kriteria pengujian :

Jika  2hitung <  2tabel, maka semua varians homogen

Jika  2hitung >  2tabel, maka semua varians tidak homogen

Dari perhitungan yang dilakukan, diperoleh hasil sebagai berikut[48]:

Karena  2hitung = 2,56 sedangkan   2tabel = 7,81; maka  2hitung <  2tabel, maka berarti semua varians homogen.

Tabel 25

Ringkasan Hasil Perhitungan Uji Homogenitas

 

Kelompok Varians Varians Gabungan  2hitung  2tabel Kesimpulan
1

2

3

4

0,007

0,004

0,026

0,008

0,011 2,56 7,81 Homogen

Keterangan :

Kelompok 1 = Kelompok siswa yang diberi pembelajaran dengan strategi deduktif dan memiliki berpikir divergen tinggi

Kelompok 2 = Kelompok siswa yang diberi pembelajaran dengan strategi induktif dan memiliki berpikir divergen tinggi

Kelompok 3 = Kelompok siswa yang diberi pembelajaran dengan strategi deduktif dan memiliki berpikir divergen rendah

Kelompok 4 = Kelompok siswa yang diberi pembelajaran dengan strategi induktif dan memiliki berpikir divergen rendah

  1. C.   Pengujian Hipotesis

Setelah pengujian persyaratan terpenuhi, selanjutnya dilakukan pengujian hipotesis statistik dengan menggunakan Analisis Varians (ANAVA) dua jalur, pada taraf signifikansi α = 0,05 dilanjutkan dengan Uji Tuckey.

Analisis varians dua jalur ini digunakan untuk menguji pengaruh utama (main effect) dan interaksi (interaksi effect) variabel bebas strategi pembelajaran dan berpikir divergen terhadap variable terikat pengetahuan siswa tenting konsep-konsep ekosistem. Selanjutnya rangkuman hasil perhitungan analisis data dengan ANAVA dan jalur dapat dilihat pada table berikut.

 

 

 

 

 

 

 

 

Tabel 25

Analisa Varians Untuk Perbedaan

Pengetahuan Siswa tentang Konsep-konsep Ekosistem

 

Sumber

VariansJKaDfbRJKcFhitungFtabel0,050,01Antar Kelompok

Dalam

Kelompok1581,89

2074105,343

355297

59260,1531,7

-4,107,56Dalam

Kelompok (A)

Dalam Baris (B

Interaksi (AxB)5051,66

5416,55

5423,681

1

1

5051,66

5416,66

5423,6810,8*

10,81**

10,83**3,104,94

Total

2105889,12

38

Keterangan :

a : Jumlah kuadrat

b : derajat kebebasan

c : rata – rata jumlah kuadrat

* : signifikan

**: sangat signifikan

  1. 1.    Perbedaan Pengetahuan Siswa tentang Konsep-konsep Ekosistem antara yang Diberi Pembelajaran Strategi Deduktif dan yang Diberi Strategi Induktif secara Keseluruhan

Dari data penelitian didapatkan harga rata-rata pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem yang diberi pembelajaran dengan strategi deduktif adalah 18,95[49] dengan simpangan baku 6,04 . sedangkan harga rata-rata pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem yang diberi pembelajaran dengan strategi versus induktif adalah 19,04[50] dengan simpangan baku 6,02.

Analisis varians (ANAVA) untuk perbedaan antara pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem diberi pembelajaran dengan strategi deduktif dan pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem strategi induktif secara keseluruhan memberikan gambaran sebagai berikut.

Berdasarkan Tabel 21 dapat diketahui bahwa harga Fhitung sebesar 10,8. Harga tersebut lebih besar dari harga Ftabel untuk α = 5 % sebesar 3,10 , ini berarti Fhitung > Ftabel yaitu 10,8 > 3,10 sehingga hasil analisis varians tersebut menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem yang diberi pembelajaran dengan strategi deduktif dengan strategi versus induktif pada taraf signifikasi α =0,05. Hal ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan terdapat perbedaan pengetahuan siswa tentang konsep-konsep yang diberi pembelajaran dengan strategi deduktif dan strategi induktif.

Hal ini berarti bahwa hipotesis penelitian diterima dan hipotesis nol ditolak. Dengan demikian hasil penelitian menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem yang diberi pembelajaran dengan strategi deduktif dengan yang diberi pembelajaran strategi induktif.

  1. 2.    Perbedaan Pengetahuan Siswa tentang Konsep-konsep Ekosistem antara yang Diberi Pembelajaran Strategi Deduktif dan yang Diberi Strategi Induktif secara Keseluruhan Bagi yang Memiliki Berpikir Divergen Tinggi

Dari data penelitian didapatkan harga rata-rata pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem yang diberi pembelajaran dengan strategi induktif adalah 17,9[51] dengan simpangan baku 6,04. Sedangkan harga rata-rata pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem yang diberi pembelajaran dengan strategi induktif adalah 20,4[52] dengan simpangan baku 5,94.

Analisis varians (ANAVA) untuk perbedaan antara pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem diberi pembelajaran dengan strategi deduktif dan pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem strategi induktif secara keseluruhan memberikan gambaran sebagai berikut.

Berdasarkan Tabel 21 dapat diketahui bahwa harga Fhitung sebesar 31,7. Harga tersebut lebih besar dari harga Ftabel untuk α = 1 % sebesar 4,10 , ini berarti Fhitung > Ftabel yaitu 31,7 > 4,10 sehingga hasil analisis varians tersebut menyimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem yang diberi pembelajaran dengan strategi deduktif dengan strategi induktif pada taraf signifikasi α =0,01. Hal ini menunjukkan bahwa secara keseluruhan terdapat perbedaan pengetahuan siswa tentang konsep-konsep yang diberi pembelajaran dengan strategi deduktif dan strategi induktif.

  1. 3.    Bagi yang Memiliki Berpikir Divergen Rendah, Pengetahuan Siswa tentang Konsep-konsep Ekosistem antara yang Diberi Pembelajaran dengan Strategi Induktif Lebih Baik Daripada yang Diberi Pembelajaran dengan Strategi Deduktif

Dari data penelitian didapatkan harga rata-rata pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem yang diberi pembelajaran dengan strategi deduktif yang memiliki motivasi rendah  adalah 20[53] dengan simpangan baku 6,18 . Sedangkan harga rata-rata pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem yang diberi pembelajaran dengan strategi induktif adalah 17,4[54] dengan simpangan baku 6,02.

Dengan demikian hipotesis nol (H0) yang menyatakan bahwa rata-rata skor pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem bagi yang memiliki berpikir divergen rendah yang diberi pembelajaran dengan strategi deduktif tidak berbeda dengan yang diberi pembelajaran dengan induktif ditolak. Artinya terdapat perbedaan pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem yang berarti antara yang diberi pembelajaran dengan strategi deduktif dan yang diberi pembelajaran strategi induktif bagi yang memiliki berpikir divergen rendah.

  1. 4.    Pengaruh Interaksi antara Strategi Pembelajaran dan Berpikir Divergen terhadap Pengetahuan Siswa tentang Konsep-konsep Ekosistem

Analisis Varians (ANAVA) seperti tampak pada tabel 25 di atas, untuk pengaruh interaksi antara lain strategi pembelajaran dan berpikir divergen terhadap pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem memberikan gambaran sebagai berikut.

Berdasarkan tabel 25 di atas, dapat diketahui bahwa harga Fhitung untuk pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran dan berpikir divergen sebesar 10,83; harga tersebut lebih besar dari harga Ftabel untuk α = 1 % sebesar 4,94. Hal ini berarti Fhitung > Ftabel yaitu 10,83 > 4,94 sehingga hasil analisis varians tersebut menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh interaksi yang sangat signifikan antara strategi pembelajaran dan berpikir divergen terhadap pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem pada taraf signifikansi α = 0,01 %.

Terdapat pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran dan berpikir divergen terhadap pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem dapat dilihat pada gambar 9 berikut.

Versus Deduktif                                           Versus Induktif

 

Gambar 9

Pengaruh Interaksi Antara Strategi Pembelajaran dan Berpikir Divergen terhadap Pengetahuan Siswa tentang Konsep-konsep Ekosistem

 

Berdasarkan gambar di atas, dapat disimpulkan bahwa untuk siswa yang memiliki berpikir divergen tinggi strategi versus deduktif lebih efektif () daripada strategi induktif (). Tetapi sebaliknya untuk siswa yang memiliki berpikir divergen rendah strategi induktif lebih efektif () daripada strategi deduktif (). Berdasarkan hasil tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh interaksi yang sangat signifikan antara strategi pembelajaran dan berpikir divergen terhadap pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem yang dihasilkan dari uji ANAVA di atas.

Karena adanya interaksi, maka perlu dilakukan uji lanjut. Teknik yang digunakan untuk uji lanjut adalah analisis Tuckey. Yujuan dilakukan uji lanjut adalah :

  1. Untuk mengetahui pengetahuan siswa kelompok mana yang lebih baik antara yang diberi pembelajaran dengan strategi deduktif dan strategi induktif secara keseluruhan.
  2. Untuk mengetahui pengetahuan siswa kelompok mana yang lebih baik antara yang diberi pembelajaran dengan strategi deduktif dan strategi induktif, bagi yang memiliki berpikir tinggi.
  3. Untuk mengetahui pengetahuan siswa kelompok mana yang lebih baik antara yang diberi pembelajaran dengan strategi deduktif dan strategi induktif, bagi yang memiliki berpikir rendah.

Ringkasan perhitungan tahap lanjut dengan uji Tuckey, seperti tampak pada tabel berikut.

No Dibandingkan Fhitung
1 A dengan B 5,00*
2 1 dengan 2 4,20**
3 4 dengan 3 4,07**

Berdasarkan hasil analisis tahap lanjut dengan menggunakan uji Tuckey seperti tampak pada table di atas, menunjukkan bahwa: Pertama,  dari hasil uji lanjut diperoleh harga Qhitung 5,00 lebih besar dari Qtabel 3,97, berarti Qhitung (5,00) lebih besar dari Qtabel (3,97) atau (Qhitung 5,00 > Qtabel 3,97). Dengan demikian hipotesis pertama yang menyatakan bahwa pengetahuan siswa yang diberi pembelajaran dengan strategi deduktif lebih baik daripada yang diberi pembelajaran dengan strategi induktif dapat diterima.

Hal ini karena rata-rata skor pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem dengan strategi deduktif yaitu  lebih tinggi dibandingkan dengan pengetahuan siswa tentang konsep-konsep dengan strategi induktif yaitu  Kesimpulan, hipotesis yang menyatakan “secara keseluruhan pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem” telah teruji kebenarannya atau diterima, karena didukung oleh data yang ada, dan sesuai dengan kajian teori dan kerangka berpikir yang telah dikemukakn di depan.

Kedua, berdasarkan hasil uji lanjut dengan menggunakan uji Tuckey pada taraf α = 0,05 dari hasil uji lanjut diperoleh harga Qhitung 4,20 lebih besar dari Qtabel 3,22, berarti Qhitung (4,20) lebih besar dari Qtabel (3,22) atau (Qhitung 4,20 > Qtabel 3,22). Dengan demikian hipotesis kedua yang menyatakan bahwa pengetahuan siswa yang diberi pembelajaran dengan strategi deduktif lebih baik daripada yang diberi pembelajaran dengan strategi induktif dapat diterima.

Hal ini karena rata-rata skor pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem dengan strategi deduktif yaitu  lebih tinggi dibandingkan dengan pengetahuan siswa tentang konsep-konsep dengan strategi induktif yaitu  Kesimpulan, hipotesis yang menyatakan “Bagi yang memiliki berpikir tinggi pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem yang diberi pembelajaran dengan strategi deduktif lebih baik daripada yang diberi pembelajaran dengan strategi s induktif” telah teruji kebenarannya atau diterima, karena didukung oleh data yang ada, dan sesuai dengan kajian teori dan kerangka berpikir yang telah dikemukakan di depan.

Ketiga, berdasarkan hasil analisis tahap lanjut dengan menggunakan uji Tuckey seperti tampak pada tabel di atas, menunjukkan bahwa dari hasil uji lanjut diperoleh harga Qhitung 4,07 lebih besar dari Qtabel 3,97, berarti Qhitung (4,07) lebih besar dari Qtabel (3,97) atau (Qhitung 4,07 > Qtabel 3,97). Dengan demikian hipotesis ketiga yang menyatakan bahwa pengetahuan siswa yang memiliki  berpikir divergen rendah, diberi pembelajaran dengan strategi induktif  lebih baik daripada yang diberi pembelajaran dengan strategi deduktif dapat diterima.

Hal ini karena rata-rata skor pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem dengan strategi induktif yaitu  lebih tinggi dibandingkan dengan pengetahuan siswa tentang konsep-konsep dengan strategi deduktif yaitu  Kesimpulan, hipotesis yang menyatakan “Bagi yang memiliki berpikir divergen rendah, pengetahuan siswa tentangg konsep-konsep ekosistem yang diberi pembelajaran dengan strategi induktif lebih baik daripada yang diberi pembelajaran dengan strategi deduktif” telah teruji kebenarannya atau diterima, karena didukung oleh data yang ada, dan sesuai dengan kajian teori dan kerangka berpikir yang telah dikemukakan di depan.

  1. D.   Pembahasan Hasil Penelitian

Program pembelajaran tentang konsep-konsep ekosistem yang diberikan kepada siswa dengan jumlah peserta pembelajaran seluruhnya sebanyak 70 orang yang dibagi ke dalam dua kelompok besar sesuai dengan strategi pembelajaran yang digunakan. Kemudian setelah program pembelajaran selesai tiap kelompok besar tersebut dibagi lagi menjadi dua subkelompok berdasarkan berpikir divergennya.

Hampir semua siswa  kelas VII1 dan VII2  di SMP N 135 Jakarta, tidak memiliki pengetahuan tentang ekosistem khususnya tentang konsep-konsep ekosistem darat, baik ekosistem buatan maupun ekosistem alami, sehingga keberadaan lingkungan sekolah tidak dipedulikan sehingga menghasilkan sesuatu peningkatan kesehatan lingkungan yang lebih menyegarkan. Akibatnya ruang belajar sekolah siswa terasa panas tidak memberikan kenyamanan pembelajaran.

Berdasarkan informasi dan tinjauan langsung ke lapangan dan dengan mempertimbangkan program sekolah tentang terciptanya linkungan pembelajaran yang efektif dan nyaman, maka disusunlah program strategi pembelajaran. Program strategi pembelajaran yang dilaksanakan dalam penelitian ini meliputi materi tentang : jarring-jaring kehidupan (web of life), unsure biotic dan abiotik serta aliran energi.

Berdasarkan hasil penelitian seperti yang telah diuraikan di atas, diperoleh beberapa temuan yang dpat didiskusikan sebagai berikut.

  1. 1.    Secara Keseluruhan, Pengetahuan Siswa tentang Konsep-konsep Ekosistem yang Diberi Pembelajaran Dengan Strategi Deduktif Lebih Baik Daripada yang Diberi Pembelajaran dengan Strategi Induktif

Secara teoritis hal ini dapat dijelaskan sebagai berikut: pengetahuan adalah suatu hasil dari proses tindakan manusia dengan melibatkan seluruh keyakinan yang berupa kesadaran dalam menghadapi objek yang ingin dikenal. Atau secara secara sederhana dapat dikatakan bahwa pengetahuan adalah hasil dari proses mengenal karena adanya hubungan antara subjek yang sadar dan objek yang ingin dikenal. Di dalam pemerolehannya melibatkan proses belajar. Proses belajar adalah proses yang membuat suatu informasi mengenai lingkungannya yang diperoleh melalui proses perceptual menjadi punya arti dan makna bagi proses pemilihan tindakan. Proses belajar dapat membuat seseorang merubah perilakunya atau hasil belajarnya. Hasil belajar, yang salah satunya berupa pengetahuan, dapat diperkaya melalui pengalaman.

Sasaran pendidikan lingkungan hidup baik di sekolah maupun di luar sekolah formal maupun informal harus diarahkan pada aspek-aspek kesadaran, pengetahuan, sikap, keterampilan, kemampuan evaluasi, dan partisipasi. Aspek pengetahuan yang dimaksud adalah membekali individu dan atau kelompok siswa dengan pengetahuan dasar mengenal totalitas lingkungan, permasalahan serta peranan dan tanggung jawab manusia.

Pengetahuan seseorang dan atau siswa dipengaruhi oleh berbagai faktor eksternal maupun internal. Di dalam eksperimen yang penulis lakukan, faktor eksternal dikontrol atau dikendalikan keberadaannya. Jika perlu digunakan asumsi-asumsi, akan tetapi faktor internal yang ada di dalam individu tidak dapat dikontrol tetapi harus diukur. Untuk mengetahui perbedaan pengetahuan tentang konsep-konsep ekosistem dari siswa, maka perlu dilakukan pengontrolan terhadap berbagai variabel yang diperkirakan mempengaruhinya, yang paling besar diantaranya pengalaman, perhatian, dan harapan. Pada waktu dilakukan pembelajaran dengan strategi deduktif, maka faktor internal seperti adanya kesistematisan bahasan yang ditangkap, kenyamanan belajar dipandang sangat menentukan terhadap peningkatan pengetahuan siswa sasaran. Karena siswa yang berada di kelas itu diasumsikan homogen, sehingga hubungan dan komunikasi diantara siswa dan guru sudah sangat erat dan baik, maka pengaruh pemberian pembelajaran dengan strategi deduktif oleh guru yang telah diberi penataran sebelumnya serta dibekali dengan perangkat pendukung yang diperlukan, akan mendapat informasi sesuai dengan pesan yang diberikan oleh guru. Sehingga kelompok ini memiliki pengetahuan yang lebih baik (rata-rata yang diperoleh sebesar 19,4) dibandingkan dengan kelompok siswa yang diberi pembelajaran dengan menggunakan strategi induktif, dimana didalam kegiatan pembelajaran dengan strategi induktif dijejali pengetahuan baru tanpa menghiraukan kemampuan dan dorongan yang dimiliki oleh peserta pembelajaran.

Berdasarkan ciri, suasana, hubungan, dan komunikasi yang terjadi pada strategi deduktif dan strategi induktif serta rata-rata skor pengetahuan yang diperoleh kedua kelompok itu, maka pengetahuan siswa yang diberi pembelajaran strategi deduktif lebih tinggi daripada pengetahuan siswa yang diberi pembelajaran dengan strategi induktif. Hal itu terjadi karena pada waktu proses pembelajaran timbul rasa kenyamanan dalam belajar dan alur materi yang sistematis dari guru. Sehingga pengetahuan siswa yang diberikan dengan strategi deduktif  lebih baik dibandingkan dengan pengethauan siswa dengan strategi induktif. Dengan demikian pengetahuan siswa antara yang diberi pembelajaran dengan dengan strategi deduktif lebih baik daripada yang diberi pembelajaran dengan strategi induktif.

  1. 2.    Bagi yang Memiliki Berpikir Divergen Tinggi, Pengetahuan Siswa tentang Konsep-konsep Ekosistem antara yang Diberi Pembelajaran dengan Strategi Deduktif Lebih Baik Daripada yang Diberi Pembelajaran dengan Strategi Induktif

Proses difusi dan penerimaan terhadap suatu paket inovasi yang ditawarkan oleh guru mealului komunikasi langsung dapat merubah sikap dan motivasi individu, dalam penelitian ini siswa, yang terjadi secara langsung pula. Ada beberapa hal yang berpengaruh jika hal ini dilakukan yakni mengenai pesan atau massage, komunikator, dan komunikasi.

Pesan merupakan materi yang akan diberikan kepada siswa dengan harapan siswa yang akan diberikan tersebut dapat diterima dengan baik, sehingga paket inovasi yang ditawarkan atau disampaikan tersebut dapat mengganti pandangan atau pendapat lama sehingga dapat mengubah berpikir divergen peserta. Pesan yang berupa pengetahuan tentang konsep-konsep ekosistem  dalam penelitian ini dikemas dalam bentuk modul. Modul tersebut kemudian dipelajari oleh komunikator yang dalam hal ini adalah guru. Pesan yang telah difahami oleh komunikator kemudian disampaikan kepada siswa sasaran melalui pertemuan formal.

Selain pesan komunikator, komunikasi juga berperan dalam penyampaian informasi. Suatu pesan atau materi yang sama tetapi yang membawakannya berbeda akan terdapat perbedaan dalam penguasaan materi tersebut. Karena itu komunikator memegang peranan penting dalam meningkatkan komunikasi berpikir divergen secara langsung. Keadaan komunikasi juga perlu diketahui jika komunikasi ingin berjalan lancer. ada beberapa hal yang perlu ditawarkan oleh komunikator dari komunikasi untuk meningkatkan berpikir divergennya., diantaranya kemampuan berpikir luwes, orisinil, asli, elaborasi, dan sebagainya.

Individu atau siswa yang memiliki berpikir divergen tinggi memperlihatkan minat yang besar dan perhatian yang penuh terhadap tugas-tugas belajar yang diikuti. Mereka sebanyak mungkin energi fisik maupun psikis terhadap pembelajaran, tanpa mengenal perasaan bosan apalagi menyerah.

Penggunaan strategi pembelajaran yang tepat bagi siswa  yang mempunyai berpikir divergen tinggi makin mempertinggi berpikir divergennya, sehingga akan meningkatkan pengetahuannya. Pembelajaran yang diberikan dengan strategi versus deduktif memberikan kesempatan seluas-luasnya kepada siswa yang berpikir divergen tinggi untuk menggunakan seluruh potensinya dan seluruh alat inderanya untuk menguasai materi yang disampaikan. Rasa ingin tahu mereka yang tinggi dapat terpuaskan dengan komunikasi yang baik antara para siswa dikelompoknya secara langsung yaitu pada waktu berlangsungnya pembelajaran antar kelompok. Hal ini terbukti dengan rata-rata 20,4. Tetapi pembelajaran yang diberikan dengan strategi induktif, rasa ingin tahu mereka yang tinggi tidak dapat terpuaskan sepenuhnya karena keterbatasan yang ada dalam strategi pembelajaran tersebut. Dimana komunikator atau guru meberikan sedikit arahan dalam program pembelajaran, sedangkan siswa harus berpikir semampunya untuk menemukan sebuah kesimpulan tanpa diberikan arahan yang sistematis dalam proses pembelajaran. Sehingga ikatan antara guru dan siswa, demikian antara siswa kurang erat, atau juga komunikasi antar guru dan siswa demikian juga antara siswa tidak berlangsung dengan baik. Hal ini terbukti dengan rata-rata skor 17,9.

Berdasarkan suasana, komunikasi, dan semangat serta rasa membutuhkan pada siswa yang telah diberikan pembelajaran dengan strategi deduktif dan strategi induktif serta rata-rata skor pengetahuan yang diperoleh kedua kelompok itu, maka pengetahuan siswa yang diberi pembelajaran dengan strategi versus deduktif yang memiliki berpikir divergen tinggi lebih baik daripada pengetahuan siswa yang diberi pembelajaran dengan strategi versus induktif. Hal tersebut terjadi karena dorongan  dan rasa membutuhkan yang timbul dalam diri siswa yang diberi pembelajaran dengan strategi deduktif lebih baik dan terpuaskan dibandingkan dengan siswa yang diberi pembelajaran dengan strategi induktif. Dengan demikian bagi yang memiliki berpikir divergen tinggi, pengetahuan siswa yang diberi pembelajaran dengan strategi deduktif lebih baik daripada yang diberi pembelajaran dengan strategi induktif.

  1. 3.    Bagi yang Memiliki Berpikir Divergen Rendah, Pengetahuan Siswa tentang Konsep-konsep Ekosistem antara yang Diberi Pembelajaran dengan Strategi Induktif Lebih Baik Daripada yang Diberi Pembelajaran dengan Strategi Deduktif

Seorang guru mempunyai bermacam-macam tugas yang harus dilakukan dalam tugasnya. Namun tugas yang paling utama dan terpenting yang menjadi tanggung jawab guru adalah memajukan, merangsang, dan membimbing proses belajar siswa.  Segala usaha yang menuju ke arah itu harus direncanakan dan dilaksanakan dengan baik. Guru yang efektif dalam menjalankan tugasnya adalah guru yang berhasil menjadikan siswanya berpikir divergen dalam belajar. Oleh karena itu untuk efektif dalam pembelajaran, seorang guru harus berusaha memahami berpikir divergen siswa dan mengembangkan berpikir divergennya itu seoptimal mungkin.

Para ahli behavioristik berpendapat bahwa berpikir divergen banyak ditentukan oleh lingkungan. komunikator  yang dalam penelitian ini adalah guru merupakan lingkungan yang paling berperan di dalam proses belajar atau pembelajaran. Ada sebagian guru yang merasa bahwa tugas guru hanyalah mengajar, bukan menimbulkan minat terhadap apa yang mereka ajarkan atau sampaikan. Para guru seperti ini, menghasbiskan sebagian besar waktu mereka semata-mata hanya sekedar menuangkan materi pelajaran kepada para siswanya. Mereka tidak peduli apakah materi yang mereka sampaikan diterima oleh siswa untuk dijadikan sebagai miliknya atau tidak. Mereka tidak memperhatikan apakah materi yang mereka sampaikan bermanfaat dan mempengaruhi tingkah laku atau perkembangan siswa kea rah yang positif atau negatif.  Guru-guru seperti ini tidak menyadari bahwa para siswa yang tidak berminat tidak akan menerima materi dengan baik, dalam penelitian ini seperti yang telah dilakukan para siswa yang mempunyai motivasi rendah. Mereka memperlihatkan keengganan, cepat bosan dan berusaha menghindar dari kegiatan belajar, lebih banyak bersantai, dan mudah terpecah perhatiannya dari tugas-tugas yang telah ditentukan atau diberikan. Karena itu untuk meningkatkan berpikir divergen mereka perlu terlebih dahulu ditarik perhatiannya, yaitu diantaranya dengan penggunaan strategi pembelajaran yang baik dan menarik.

Apabila berpikir divergen siswa pada waktu proses pembelajaran diperhatikan, maka harus menjadi bahan pertimbangan bagi guru dalam melakukan pembelajarannya. Karena rendahnya berpikir divergen  dari peserta pembelajaran, guru dari kelompok yang diberi pembelajaran dengan strategi versus induktif akan lebih berhati-hati dalam melaksanakan tugasnya daripada guru dari kelompok yang diberi pembelajaran dengan strategi versus deduktif. Akibat dari perlakuan tersebut maka hasil pembelajaran dari kelompok induktif yang memiliki berpikir divergen rendah (rata-rata skor pengetahuan yang diperoleh sebesar 19,7) lebih baik daripada hasil pembelajaran dari kelompok deduktif yang memiliki berpikir divergen yang rendah (rata-rata skor pengetahuan yang diperoleh sebesar 17,4) .

Berdasarkan pada dasar pembentukan kelompok, komunikasi, dan semangat serta perlakuan guru  pada kelompok induktif dan kelompok versus deduktif serta rata-rata skor pengetahuan yang diperoleh dari kedua kelompok itu, maka pembelajaran siswa yang diberi dengan strategi induktif yang memiliki berpikir divergen rendah lebih tinggi daripada pengetahuan siswa yang diberi pembelajaran dengan strategi deduktif yang memiliki berpikir divergen rendah. Hal tersebut terjadi karena guru pada strategi induktif lebih berhati-hati  dalam menyampaikan materi pembelajarannya, akibatnya hasil yang diperoleh kelompok induktif  lebih baik dibandingkan dengan kelompok deduktif bagi peserta yang memiliki berpikir divergen yang rendah. Dengan demikian bagi yang memiliki berpikir divergen yang rendah, pengetahuan siswa yang diberi pembelajaran dengan strategi induktif lebih baik daripada yang diberi pembelajaran dengan strategi deduktif.

  1. 4.    Pengaruh Interaksi antara Strategi Pembelajaran dan Berpikir Divergen terhadap Pengetahuan Siswa tentang Konsep-konsep Ekosistem

Pengaruh kombinasi antara strategi pembelajaran dan berpikir divergen ternyata menunjukkan perbedaan pengaruh terhadap rata-rata pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem. Berturut-turut dari yang paling memberikan pengaruh paling tinggi adalah pertama dengan pembelajaran dengan strategi deduktif dengan berpikir divergen tinggi, kedua pembelajaran dengan strategi induktif dengan berpikir divergen rendah, ketiga pembelajaran dengan strategi versus induktif dengan berpikir divergen tinggi, keempat pembelajaran dengan strategi versus deduktif dengan berpikir divergen rendah. Ini berarti pengaruh yang pertama terbesar diberikan oleh strategi pembelajaran versus deduktif dengan berpikir divergen tinggi. Selanjutnya pengaruh kedua yang terbesar diberikan oleh strategi pembelajaran induktif dengan berpikir divergen yang rendah.

Berdasarkan uraian di atas, maka program pembelajaran akan berhasil dengan baik apabila para siswa yang memiliki berpikir divergen tinggi diberi pembelajaran dengan strategi deduktif, dan sebaliknya untuk siswa pembelajaran yang memiliki berpikir divergen rendah sebaliknya diberi pembelajaran dengan strategi induktif. Dengan demikian terdapat pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran dan berpikir divergen terhadap pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem.

  1. E.   Keterbatasan Penelitian

Berbagai upaya telah dilakukan dalam pelaksanaan penelitian ini, namun masih saja terdapat beberapa faktor yang sulit dikendalikan. Penelitian ini memiliki keterbatasan-keterbatasan tertentu. Selanjutnya di bawah ini akan dijelaskan beberapa keterbatasan, diantaranya adalah sebagai berikut.

Pertama, penelitian ini hanya dilakukan di di SMP N 135 Jakarta dengan jumlah sampel 70 orang siswa-siswi kelas VII1 dan kelas VII2. Jumlah sampel termasuk kecil, hal ini akan mempengaruhi hasil penelitian dan perhitungan analisis data serta pengambilan kesimpulan. Oleh karena itu penelitian ini tidak dapat digeneralisasikan terhadap kelompok yang sangat besar, sehingga perlu dilakukan sejenis dengan jumlah sampel dan cakupan kelas yang lebih luas.

Kedua, waktu pelaksanaan penelitian atau eksperimennya yang singkat, yaitu selama dua bulan dan setiap pertemuan terbatas yaitu hanya 2 jam pelajaran. Seandainya waktu pelaksanaan dan waktu pertemuan lebih lama sangat dimungkinkan akan memberikan hasil yang lebih baik lagi.

Ketiga, masih banyak materi program pembelajaran yang diberikan kurang atau tidak dimengerti oleh peserta pembelajaran disebabkan banyaknya istilah-istilah yang baru mereka terima dan berasal dari istilah bahasa asing dan bahasa latin sehingga perlu penjelasan lebih lanjut.

BAB V

KESIMPULAN, IMPLIKASI, DAN SARAN

 

  1. A.   KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis data dan uji hipotesis, maka penelitian ini menghasilkan beberapa temuan utama dalam masalah pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem dan temuan tambahan yang berkaitan dengan pelaksanaan pembelajaran serta berkaitan dengan strategi pembelajaran yang digunakan. Adapun temuan uji hipotesis penelitian adalah sebagai berikut.

  1. 1.    Secara Keseluruhan, Pengetahuan Siswa Tentang konsep-konsep Ekosistem Yang Diberi Pembelajaran Dengan Strategi Deduktif Lebih Baik Daripada Yang Diberi Pembelajaran Dengan Strategi Induktif

 

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penggunaan strategi versus deduktif dalam proses pembelajaran dapat meningkatkan pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem. Secara teoretis, peningkatan pengetahuan dimungkinkan Karena karakteristik yang dimiliki oleh strategi deduktif. Karakteristik tersebut adalah semua peserta pembelajaran selalu memecahkan masalah secara sistematis yang diajukan kepada mereka dan memiliki komitmen untuk berusaha memecahkan masalah. Sehingga menimbulkan semangat yang dapat menjalin interaksi dan komunikasi yang baik diantara para siswa dan diantara siswa dan guru. Akibat dari interaksi dan komunikasi yang baik tersebut, para siswa tidak akan cepat bosan dan lelah untuk mengikuti segala kegiatan dan menerima tugas apapun yang diberikan selama pembelajaran berlangsung. Mereka akan mencurahkan seluruh perhatiannya untuk peningkatan pengetahuannya.

Sedangkan karakteristik yang dimiliki oleh strategi induktif adalah guru cenderung membiarkan siswanya untuk mencari kesimpulan dari kegiatan pembelajaran. Akibatnya para peserta pembelajaran kurang terarahkan secara sistematis dan tidak berusaha untuk berpikir sendiri untuk menemukan isi dari pembelajaran yang mereka terima. Sehingga interaksi dan komunikasi diantara siswa pembelajar dan diantara guru dan siswa tidak terjalin dan berjalan dengan efektif dan lancar. Akibatnya para siswa dengan cepat merasa bosan dan tidak terlalu peduli dengan kepentingan temannya.

Berdasarkan karakteristik yang membedakan kedua strategi di atas, maka hasil penelitianmembuktikan bahwa strategi deduktif lebih efektif daripada strategi versus induktif dalam meningkatkan pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem.

  1. 2.    Bagi Yang Memiliki Berpikir Divergen Tinggi, Pengetahuan Siswa Tentang konsep-konsep Ekosistem Yang Diberi Pembelajaran Dengan Strategi Deduktif Lebih Baik Daripada Yang Diberi Pembelajaran Dengan Strategi Induktif

 

Selain dari strategi pembelajaran yang diterapkan kepada peserta pembelajaran, pengetahuan siswa tersebut juga didasarkan pada tingkat berpikir divergen tentang ekosistem. Dari hasil penelitian yang dilaksanakan, ternyata tingkat berpikir divergen turut menentukan keberhasilan program pembelajaran  yaitu mempengaruhi peningkatan pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem.

Tingkat berpikir divergen siswa dibedakan menjadi dua tingkat, yaitu berpikir divergen tinggi dan berpikir divergen rendah. Siswa yang memiliki berpikir divergen tinggi dibedakan lagi menjadi dua, yaitu kelompok yang diberi pembelajaran dengan strategi deduktif dan kelompok yang diberi pembelajaran dengan strategi induktif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor siswa tentang konsep-konsep ekosistem memiliki berpikir divergen tinggi dan diberi pembelajaran dengan strategi deduktif lebih baik daripada rata-rata skor pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem yang memiliki berpikir divergen tinggi dan diberi program pembelajaran dengan strategi induktif. Hal ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem dengan strategi deduktif diperlukan peserta yang memiliki berpikir divergen tinggi, guna mendukung proses pembelajaran yang dilaksanakan.

  1. 3.    Bagi Yang Memiliki Berpikir Divergen Rendah, Pengetahuan Siswa Tentang konsep-konsep Ekosistem Yang Diberi Pembelajaran Dengan Strategi Induktif Lebih Baik Daripada Yang Diberi Pembelajaran Dengan Strategi Deduktif

 

Siswa yang memiliki berpikir divergen rendah dibedakan lagi menjadi dua, yaitu kelompok yang diberi pembelajaran dengan strategi deduktif dan kelompok yang diberi pembelajaran dengan strategi induktif.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata skor siswa tentang konsep-konsep ekosistem memiliki berpikir divergen rendah dan diberi pembelajaran dengan strategi versus induktif lebih baik daripada rata-rata skor pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem yang memiliki berpikir divergen rendah dan diberi program pembelajaran dengan strategi deduktif. Hal ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem dengan strategi induktif dapat dilakukan kepada peserta yang memiliki berpikir divergen rendah, guna mendukung proses pembelajaran yang dilaksanakan.

  1. 4.    Pengaruh Interaksi Antara Strategi Pembelajaran Dan Berpikir Divergen Terhadap pengetahuan Siswa Tentang Konsep-konsep Ekosistem

Dari berbagai temuan di atas, dapat disimpulkan bahwa untuk meningkatkan pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem perlu dilakukan kegiatan program pembelajaran. Adapun penyampaian materi pembelajaran dapat dilakukan dengan menggunakan strategi deduktif dan strategi induktif.

Disamping strategi pembelajaran yang digunakan dalam kegiatan pembelajaran, juga berpikir divergen siswa-siswa harus diperhatikan karena tingkat tingkat berpikir divergen turut menentukan strategi mana yang harus digunakan.

  1. B.   IMPLIKASI

Peningkatan masalah pengetahuan tentang konsep-konsep ekosistem tidak hanya merupakan tanggung jawab sekolah saja tetapi juga menjadi tanggung jawab warga belajar SMP N 135 jakarta. Upaya peningkatan yang telah dilaksanakan selama ini oleh pihak sekolah adalah dengan mengembangkan kurikulum, memberikan penyuluhan kepada seluruh dewan guru untuk memperluas lahan hijau dan menjaga kelangsungan ekosistem di dalamnya, tetapi belum dilaksanakan maksimal karena keadaan ekosistem darat khususnya ekosistem kebun yang sangat terbatas lahannya sehingga suasana ruang kelas terasa panas dan menimbulkan berbagai masalah lain terutama yang berkaitan dengan lingkungan. Oleh karena itu diperlukan upaya lain untuk menangani masalah tersebut. Langkah-langkah yang perlu diambil pihak sekolah adalah dengan mengatasi segala kendala yang dihadapi berkaitan dengan ekosistem tersebut, yaitu :

  1. Mengembangkan kurikulum pembelajaran yang lebih mengacu pada psikologis peserta pembelajaran, karena output pembelajaran yang baik adalah dimana peserta pembelajaran mampu mengaplikasikan atas apa yang telah diterima
  2. Membuat pengembangan strategi pembelajaran yang lebih menyentuh dan merangsang siswa untuk melakukan pembelajaran yang lebih aktif, kreatif, inovatif dan sistematis.
  3. Menambah dukungan berupa fasilitas alami maupun buatan dari pihak sekolah untuk menciptakan suasana pembelajaran yang menyenangkan.
  4. Memperluas lahan ekosistem darat, supaya udara sejuk bisa terasa ke seluruh ruang pembelajaran untuk menciptakan suasana nyaman dalam proses kegiatan belajar mengajar
  5. Menambah penanaman pohon-pohon tahunan dan tanaman-tanaman lainnya untuk menambah kesegaran lingkungan sekolah juga berfungsi untuk menyerap air hujan, sehingga akan mendukung suasana pembelajaran yang sejuk.
  6. Menyediakan tempat sampah organik dan an organik lebih merata di setiap ruangan, agar tidak dibuang dimana saja yang akan menyebabkan terganggunya keseimbangan ekosistem

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis, maka berikut akan diuraikan implikasi dari hasil penelitian yang diperoleh, yaitu :

  1. 1.    Secara Keseluruhan, Pengetahuan Siswa Tentang konsep-konsep Ekosistem Yang Diberi Pembelajaran Dengan Strategi Deduktif Lebih Baik Daripada Yang Diberi Pembelajaran Dengan Strategi Induktif

 

Pada umumnya siswa belum memiliki pengetahuan tentang konsep-konsep ekosistem, khususnya lagi mengenai unsur biotik dan a biotik yang seharusnya berada di dalam ekosistem kebun sebagai sumber tumbuhnya ekosistem. Akibatnya ekosistem tidak dipedulikan kelestariannya sehingga tidak menimbulkan efek yang baik untuk lingkungan sekolah

Pengetahuan tentang konsep-konsep ekosistem yang diperlukan siswa tersebut dapat diperoleh dengan melalui program pembelajaran yang dapat dilakukan baik oleh pihak sekolah mulai dari siswa formal, informal maupun non formal di luar sekolah.

Program pembelajaran yang dilaksanakan dalam rangka pemberian pengetahuan tentang konsep-konsep ekosistem dapat dilakukan oleh orang-orang tertentu yang memahami materi tersebut, yaitu seorang guru yang sebelumnya mendapat pembekalan terlebih dahulu. Adapun strategi yang digunakan dalam pelaksanaan pembelajaran tersebut adalah strategi deduktif dan induktif.

Berdasarkan karakteristik yang dimiliki oleh kedua strategi di atas, maka program pembelajaran dapat dilaksanakan dan akan berhasil dengan baik apabila program pembelajaran tersebut dilaksanakan dengan strategi deduktif.

  1. 2.    Bagi Yang Memiliki Berpikir Divergen Tinggi, Pengetahuan Siswa Tentang konsep-konsep Ekosistem Yang Diberi Pembelajaran Dengan Strategi Deduktif Lebih Baik Daripada Yang Diberi Pembelajaran Dengan Strategi Induktif

 

Keberhasilan suatu program pembelajaran dalam rangka pemberian pengetahuan tentang sampah bagi siswa di sekitar SMP N 135 jakarta, selain ditentukan oleh jenis strategi pembelajaran yang diterapkan juga dipengaruhi oleh tingkat berpikir divergen siswa.

Berpikir divergen yang merupakan dorongan yang timbul dalam diri seseorang, sehingga siswa tersebut mau melakukan sesuatu dengan baik, tekun, tidak cepat bosan karena keinginan yang mendorong dirinya sangat kuat guna mencapai sesuatu yang diharapkannya.

Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka penerapan strategi pembelajaran deduktif yang memiliki karakteristik bahwa terjadi komunikasi yang baik dan adanya tanggung jawab yang besar untuk kemajuan kelompok dari semua peserta pembelajaran, ditunjang oleh berpikir divergen yang tinggi dari para pesertanya, akan memberikan hasil yang lebih baik daripada program pembelajaran yang menerapkan strategi induktif.

  1. 3.    Bagi Yang Memiliki Berpikir Divergen Rendah, Pengetahuan Siswa Tentang konsep-konsep Ekosistem Yang Diberi Pembelajaran Dengan Strategi Induktif Lebih Baik Daripada Yang Diberi Pembelajaran Dengan Strategi Deduktif

Seperti halnya dengan siswa peserta program pembelajaran yang memiliki berpikir divergen tinggi, siswa yang memiliki berpikir divergen rendah pun mempengaruhi keberhasilan program pembelajaran.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem yang memiliki berpikir divergen rendah antara yang diberi pembelajaran dengan strategi deduktif dan diberi pembelajaran dengan strategi induktif.

Untuk pelaksanaan program pembelajarannya yang siswanya memiliki berpikir divergen rendah, akan lebih baik dan berhasil dengan lebih efektif apabila diterapkan strategi pembelajaran induktif. Hal ini dimungkinkan karena untuk pelaksanaan program pembelajaran bagi siswa yang memiliki berpikir divergen rendah tidak memerlukan hubungan dan komunikasi yang terlalu baik antara guru dan siswa. Sebab selama kegiatan pembelajaran yang berlangsung guru memberikan arahan yang singkat kepada siswa dalam proses pembelajaran tersebut dan siswa dibiarkan untuk mencari kesimpulan sendiri tanpa ada arahan yang detail dari guru.

  1. 4.    Pengaruh Interaksi Antara Strategi Pembelajaran Dan Berpikir Divergen Terhadap pengetahuan Siswa Tentang Konsep-konsep Ekosistem

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan, dapat diketahui bahwa terdapat pengaruh interaksi antara strategi pembelajaran yang digunakan dengan berpikir divergen terhadap pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem. Hasil ini menunjukkan bahwa untuk meningkatkan pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem melalui program pembelajaran dapat dilakukan dengan strategi pembelajaran deduktif dan strategi pembelajaran induktif. Di samping itu, tingkat berpikir divergen juga mempengaruhi peningkatan pengetahuan peserta pembelajaran. Oleh sebab itu, penerapan strategi pembelajaran harus disesuaikan dengan tingkat berpikir divergennya.

Bagi siswa yang memiliki berpikir divergen tinggi, dapat menggunakan strategi pembelajaran deduktif. Sedangkan bagi siswa yang memiliki berpikir divergen rendah, dapat menggunakan strategi pembelajaran induktif.

  1. C.   SARAN

Berdasarkan hasil penelitian, kesimpulan, dan implikasi yang telah dikemukakan di atas, maka beberapa saran akan disampaikan sebagai berikut :

  1. Strategi pembelajaran dalam pembelajaran yang dilaksanakan merupakan faktor yang sangat berpengaruh dan menentukan terhadap peningkatan pengetahuan siswa di SMP N 135 jakarta tentang konsep-konsep ekosistem. Maka dalam pelaksanaan program pembelajaran tentang konsep-konsep ekosistem bagi siswa SMP N 135 jakarta, disarankan untuk menerapkan strategi pembelajaran versus deduktif bagi yang memiliki berpikir divergen tinggi.
  2. Pihak sekolah diharapkan dapat melaksanakan program pembelajaran penerapan mengenai konsep-konsep ekosistem dengan memperluas lahan hijau terbuka dan menambah jumlah pohon dan tanaman, sehingga siswa dapat melakukan pelestarian ekosistem di sekitar lingkungan sekolah untuk menciptakan suasana pembelajaran yang nyaman.
  3. Hendaknya pihak sekolah memberikan himbauan kepada para guru untuk mendukung program pembelajaran tersebut, karena keberhasilan pembelajaran salah satunya ditentukan oleh situasi dan kondisi sekolah
  4. Kepada para siswa yang terdahulu mengikuti program pembelajaran hendaknya menjadikan dirinya sebagai contoh pelopor dan menyampaikan pengetahuannya kepada siswa lainnya, sehingga pengetahuan tersebut dapat menyentuh dan terangsang kepada seluruh siswa di SMP N 135 jakarta.
  5. Peran guru sebagai pelaksana dan pengelola program pembelajaran perlu untuk ditingkatkan, sedangkan fasilitas yang sudah ada perlu dikembangkan dan dipelihara untuk keberhasilan pembelajaran.
  6. Pemilihan dan penentuan guru sebagai agen perubahan perlu dilakukan dengan cukup selektif, terutama dalam hal pengetahuan dan keterampilannya. Hendaknya dipilih orang memiliki wawasan pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan masalah yang hendak disampaikan, baik untuk strategi pembelajaran deduktif maupun untuk strategi induktif.
  7. Penelitian ini hanya dilakukan untuk mengukur pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem. Program pembelajaran tentang konsep-konsep ekosistem ini merupakan suatu inovasi, oleh sebab itu penelitian yang sejenis perlu dilakukan guna pengembangan digunakannya inovasi tentang konsep-konsep ekosistem tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

 

Best, Research in Education, New Delhi : Prentice Hall of India Private Limited, 1982.

Bloom (ed), Taxonomy Of Educational Objektives, London : Longman LTD. 1979.

Chiras, Environmental Sciens: Action for a Sustainable Future , Redwood City: The Benjamin cummings Publishing Company. 1991.

Gagne, Principles of instructional Design, New York: Holt, Rinehart and Wiston, 1979.

Mulyasa, Kurikulum Berbasis Kompetensi. Konsep, Karakteristik, dan Implementasi, Bandung : Rosda, 2004.

Odum,  Ecology, Amerika : The University Georgia, 1966.

Odum, Fundamentals of Ecology Tokyo: Toppan Compan, 1971.

Odum, Dasar-dasar Ekologi Edisi Ketiga, Yogyakarta : gadjah Mada University Press, 1993.

Russel dkk, Instructional Media and The new Technology of Instruction, New York : Mc Millan Publishing Company, 1989)

Santrock, Educational Psychology, Salemba Humanika: University of Texas at Dallas, 2009.

Suriasumantri, Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar populer,  Jakarta : Sinar Harapan Pustaka, 1996.

Sudjana, Metode Statistik, Bandung: Tarsito, 1996.

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta, 2006

Soemarwoto, Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan ,Jakarta: Djambatan, 2004.

Semiawan, Persfektif pendidikan Anak Berbakat, Jakarta : Rasindo: Gramedia Widiasarana Indonesia, 1997.

Semiawan, Kreativitas Keberbakatan, Mengapa, Apa, dan Bagaimana, Jakarta : Indeks: Jakarta, 2010.

Smith, dkk, Teori Pembelajaran dan Pengajaran , Jogjakarta : Mirza media Pustaka, 2009.

Uno, Model Pembelajaran (Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif), Jakarta ; Bumi Aksara, 2007.

Woolfolk, Educational Psychology Active Learning Edition, Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2009.

DAFTAR ISI

PERSETUJUAN KOMISI PEMBIMBING

KATA PENGANTAR …………………………………………………….

DAFTAR ISI ………………………………………………………………

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang masalah …………………………………………….
  2. Identifikasi Masalah ………………………………………………….
  3. Pembatasan Masalah ………………………………………………..
  4. Perumusan Masalah …………………………………………………
  5. Kegunaan Penelitian …………………………………………………

BAB II KAJIAN TEORETIK, KERANGKA BERPIKIR DAN PENGAJUAN HIPOTESIS

  1. Landasan Teoretik ……………………………………………………
  2. Pengetahuan Siswa tentang Konsep-konsep Ekosistem ……
  3. Berpikir Divergen terhadap konsep-konsep Ekosistem ………
  4. Strategi Pembelajaran ……………………………………………
    1. Strategi Pembelajaran Versus Deduktif ……………………
    2. Strategi Pembelajaran Versus Induktif …………………….
  5. Penelitian yang Relevan …………………………………………….
  6. Kerangka Berpikir ……………………………………………………..
  7. Perumusan Hipotesis penelitian …………………………………….

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

  1. Tujuan Penelitian …………………………………………………….
  2. Tempat …………………………………………………………………
  3. Waktu Penelitian ………………………………………………………
  4. Metode dan Desain Penelitian ……………………………………..
  5. Populasi dan sampling ………………………………………………
  6. Variabel Perlakuan ……………………………………………………
  7. Perlakuan Penelitian …………………………………………………
  8. Instrumen Penelitian ………………………………………………….
  9. Pelaksanaan Eksperimen ……………………………………………
  10. Tekhnik Pengumpulan Data ………………………………………….
  11. Tekhnik Analisis Data …………………………………………………
  12. Hipotesis Statistik ……………………………………………………..

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………

i

ii

1

10

12

13

14

15

15

21

26

30

31

36

36

41

43

44

44

45

50

53

54

54

76

79

80

81

83

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puja puji serta rasa syukur kepada Sang Penguasa alam semesta Allah SWT,  sholawat serta salam terlimpah curah kepada revolusioner Islam sedunia suri tauladan sepanjang masa habibana wanabiyana Rasulullah SAW, akhirnya penulis dapat menyelesaikan proposal perbaikan penelitian ini  yang berjudul “Pengaruh Strategi Pembelajaran dan Berpikir Divergen Terhadap Pengetahuan Siswa Tentang Konsep-konsep Ekosistem“.

Penulis ucapkan terima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu, mudah-mudahan proposal perbaikan ini dapat bermanfaat untuk penulis khususnya dan bagi pembaca umumnya.

   29 April 2011

 

                                                                                Penulis

 

 

 

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN DAN BERPIKIR DIVERGEN TERHADAP PENGETAHUAN SISWA TENTANG KONSEP-KONSEP EKOSISTEM

 

(Suatu Eksperimen pada Siswa SMP Negeri 135 Jakarta, 2011)

 

THE EFFECT OF EXTENSION STRATEGY AND THE THINKING DIVERGEN ON THE STUDENT’S KNOWLEDGE ABOUT ECOSISTEM CONCEPT’S

(A Quasi Experiment at the Public Junior High School – 135 Jakarta, 2011)

Ani Marlina

 

Abstract

The objective of this research in the find out the effect of extension strategy and the thinking divergen on the student’s knowledge about ecosystem concept’s. the strategy used was a quasi-experiment of 2 x 2 factorial design on the grade-VII students of Public Junior High School – 135 Jakarta. The sampel 0f 70 students were used, which they were divided in group. The results showed as follows; (1) there is a significant difference between the students knowledge about environment that was taught with inductif strategy with the students taught with the deductif strategy, (2) there is an interaction found between instructional strategy and thinking divergen on the student’s knowledge about ecosistem concept’s, (3) the studenst group that prossess high thinking divergen, their knowledge about ecosystem concept’s is higher with the problem solving strategy than with deductif strategy, and (4) the low level of thinking divergen student’s, their knowledge about ecosystem concept’s is better by deductif strategy than the inductif strategy. From the research, the conclusion is that the deductif strategy can be effective to increase the level of the knowledge about ecosystem concept’s by consideration their thingking divergen.

 

Keywords: Knowledge about ecosystem concept’s, thingking divergen, deductif strategy, extention strategy

LEMBAR PENYATAAN

Saya menyatakan dengan sesungguhnya bahwa Tesis yang saya susun sebagai syarat untuk memperoleh gelar Magister dari Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta seluruhnya merupakan hasil karya saya sendiri.

Adapun bagian-bagian tertentu dalam penulisan Tesis yang saya kutip dari hasil karya orang lain telah dituliskan sumbernya secara jelas sesuai norma, kaidah, dan etika penulisan ilmiah.

Apabila dikemudian hari ditemukan seluruh atau sebagian Tesis ini bukan hasil karya saya sendiri atau adanya plagiat dalam bagian-bagian tertentu, saya bersedia menerima sanksi pencabutan gelar akademik yang saya sandang dan sanks-sanksi lainnya sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku.

Jakarta,          Juli 2011

Ani Marlina

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puja puji serta rasa syukur kepada Sang Penguasa alam semesta Allah SWT,  sholawat serta salam terlimpah curah kepada revolusioner Islam sedunia suri tauladan sepanjang masa habibana wanabiyana Rasulullah SAW, akhirnya penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan Tesis yang berjudul “Pengaruh Strategi Pembelajaran dan Berpikir Divergen Terhadap Pengetahuan Siswa Tentang Konsep-konsep Ekosistem“. (Studi Eksperimen pada Siswa-siswi di SMP Negeri 135 jakarta).

Tesis ini ditulis untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam mendapatkan Gelar Magister pada Program Studi Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta

Penulisan Tesis ini tidak mungkin selesai tanpa bantuan dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan penghargaan yang setinggi-tingginya serta ucapan terima kasih terutama kepada :

Pertama, Prof. I Made Putrawan dan Dr. Suwirman Nuryadin, M.Pd., selaku komisi pembimbing, yang mana dalam kesibukannya sehari-hari beliau telah banyak membantu dan dengan tidak bosan-bosannya memberikan bimbingan, nasihat, pengarahan, dan dorongan sehingga penulisan tesis ini dapat selesai.

Kedua, Rektor Universitas Negeri Jakarta, Prof. Dr. Bedjo Sujanto, M.Pd., Direktur Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, Prof. Dr. Dja’ali, Ketua Program Studi Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup, Prof. Dr. Nadiroh, M.Pd., beserta seluruh dosen yang telah membina, membimbing, serta member bekal yang berharga selama perkuliahan. Demikian pula ucapan terima kasih kepada seluruh staf administrasi PPs Universitas Negeri Jakarta yang telah banyak memberikan bantuan selama studi.

Ketiga, kepada ketua Sekolah Tinggi Keguruan dan Ilmu Pendidikan (STKIP) Garut, Direktur Institute for Education Reform (IEF) Universitas Paramadina Bapak Utomo Dananjaya, Institute for The Study of Religion and Philosopy Prof. Dr. Dawam Rahardjo, yang telah memberikan bimbingan dan arahan serta dorongan kepada penulis sampai selesainya penulisan tesis ini.

Keempat, Kepala SMP Negeri 135 Jakarta Dra. Hj. Umiyati AS, M.Pd., yang telah memberi izin dan bantuannya, kepada seluruh guru terutama ibu Suryati, S.Pd., yang tidak lelah memberikan bantuannya untuk menyelesaikan proses penelitian dan para staf serta kepada seluruh warga belajar SMP Negeri 135 Jakarta yang telah bersedia mengikuti program pembelajaran yang dilaksanakan penulis.

Kelima, kepada orang tua, adik kakak, saudara-saudara semua yang telah memberikan dorongan semangat dan pengertian penuh selama penulis belajar di PPs UNJ dan dalam penyelesaian penulisan tesis ini

Keenam, kepada Kanda Jamal Firdaus, A. Md., S.E., yang tak henti-hentinya memberikan support baik secara materil maupun spiritual, beserta kepada seluruh keluarganya yang selalu memberikan semangat dan do’a sehingga penulis tetap semangat dalam menyelesaikan penulisan tesis ini.

Ketujuh, kepada kawan-kawan sekelas S2 PKLH semua, Forum Wacana UNJ Periode 2010-2011 di bawah kepemimpinan Bapak. Muni Ika, M.Pd. beserta jajarannya, terutama sahabat terbaikku yang  selalu bersama dalam keadaan suka dan duka Megayana Ahmad serta Ihsyaluddin alias Ical  juga bunda Herawati, kawan-kawan Badan Pengelola Latihan Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (BPL PB HMI) Periode 2010-2012,  yang selalu memberikan semangat  dan saling menyemangati untuk penyelesaian tesis ini.

Akhirnya, penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu yang telah memberikan bantuan sehingga penulis dapat menyelesaikan tesis ini.

Semoga pengorbanan semua pihak mendapat rahmat dan balasan yang setimpal dari Allah SWT, dan hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangsih dalam memecahkan masalah-masalah pendidikan yang berkenaan dengan pengelolaan ekosistem.

Jakarta,         Juli 2011

                                                                                             Ani Marlina

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

                                                                                                                         Halaman

JUDUL ………………………………………………………………………….

ABSTRACT…………………………………………………………………….

LEMBAR PERSETUJUAN …………………………………………………..

LEMBAR PERNYATAAN ……………………………………………………

KATA PENGANTAR ………………………………………………………….

DAFTAR ISI ……………………………………………………………………

DAFTAR GAMBAR ……………………………………………………………

DAFTAR TABEL ………………………………………………………………

DAFTAR LAMPIRAN …………………………………………………………

 

BAB I PENDAHULUAN

  1. Latar belakang Masalah ………………………………………………
  2. Identifikasi Masalah ……………………………………………………
  3. Pembatasan Masalah …………………………………………………
  4. Perumusan Masalah ………………………………………………….
  5. Manfaat Penelitian ……………………………………………………..

 

BAB II DESKRIPSI TEORETIK, KERANGKA BERPIKIR, DAN    HIPOTESIS PENELITIAN

  1. Deskripsi Teoretik ……………………………………………………..
    1. Pengetahuan Siswa Tentang Konsep-konsep Ekosistem …..
    2. Berpikir Divergen ………………………………………………….
    3. Strategi Pembelajaran ……………………………………………
    4. Penelitian Yang Relevan …………………………………………….
      1. Penelitian tentang strategi pembelajaran ………………………
      2. Kerangka Berpikir ……………………………………………………..
        1. Perbedaan Pengetahuan Siswa tentang Konsep-konsep Ekosistem antara yang Diberi Pembelajaran dengan strategi Versus Deduktif dengan Strategi Versus Induktif ……………..
        2. Perbedaan Pengetahuan Siswa yang Memiliki Berpikir Divergen Tinggi antara yang Diberi Pembelajaran dengan strategi Versus Deduktif dengan Strategi Versus Induktif …….
        3. Perbedaan Pengetahuan Siswa yang Memiliki Berpikir Divergen Rendah antara yang Diberi Pembelajaran dengan strategi Versus Deduktif dengan Strategi Versus Induktif …….
        4. Pengaruh Interaksi antara yang strategi Pembelajaran dan Berpikir Divergen terhadap pengetahuan Siswa tentang Konsep-konsep Ekosistem ……………………………………….
        5. Hipotesis Penelitian ……………………………………………………

 

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

  1. Tujuan Penelitian ………………………………………………………
  2. Tempat Penelitian …………………………………………………
  3. Waktu Penelitian …………………………………………………..
  4. Metode dan Desain penelitian ……………………………………….
    1. Kontrol Validitas Internal ………………………………………….
    2. Kontrol Validitas Eksternal ………………………………………..
    3. Variabel Perlakuan …………………………………………………….
    4. Perlakuan Penelitian ………………………………………………….
    5. Instrumen Penelitian ………………………………………………….
      1. Pengetahuan Siswa tentang Konsep-konsep Ekosistem …….
      2. Berpikir Divergen …………………………………………………..
      3. Pelaksanaan Eksperimen …………………………………………….
      4. Teknik Pengumpulan Data …………………………………………..
      5. Teknik Analisa Data ……………………………………………………

BAB IV HASIL PENELITIAN

  1. Deskripsi Data …………………………………………………………
    1. Berpikir Divergen ………………………………………………….
    2. Pengetahuan Siswa tentang Konsep-konsep Ekosistem ……
    3. Pengujian Prasyarat Analisis …………………………………………
      1. Uji Normalitas ………………………………………………………
      2. Uji Homogenitas ……………………………………………………
      3. Pengujian Hipotesis …………………………………………………..
        1. Perbedaan Pengetahuan Siswa tentang Konsep-konsep ekosistem yang diberi Pembelajaran dengan Strategi Deduktif dengan yang Diberi Pembelajaran dengan Strategi Induktif ……………………………………………………………………….
        2. Bagi yang memiliki Berpikir Divergen Tinggi, Perbedaan Pengetahuan Siswa tentang Konsep-konsep Ekosistem yang Diberi Pembelajaran dengan Strategi Induktif …………………
        3. Bagi yang memiliki Berpikir Divergen rendah, Perbedaan Pengetahuan Siswa tentang Konsep-konsep Ekosistem yang Diberi Pembelajaran dengan Strategi Deduktif ………………..
        4. Pengaruh Interaksi antara Strategi Pembelajaran dan Berpikir Divergen terhadap Pengetahuan Siswa tentang Konsep-konsep Ekosistem …………………………………………………
        5. Pembahasan Hasil Penelitian ……………………………………….
        6. Keterbatasan Penelitian ………………………………………………

BAB V KESIMPULAN, IMPLIKASI DAN SARAN

  1. Kesimpulan …………………………………………………………….
  2. Implikasi …………………………………………………………………
  3. Saran ……………………………………………………………………

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………………….

 

 

 

 

 

 

DAFTAR GAMBAR

Nomor                                                                                                             Halaman

  1. Histogram Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem …….
  1. Histogram Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem Strategi Deduktif  …………………………………………………………
  1. Histogram Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem Berpikir Divergen Tinggi secara keseluruhan   ……………………..
  1. Histogram Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem Berpikir Divergen Rendah  ……………………………………………
  1. Histogram Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem Strategi versus Deduktif Berpikir Divergen Tinggi  …………………..
  1. Histogram Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem Strategi Versus Induktif Berpikir Divergen Tinggi …………………….
  1. Histogram Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem Strategi Versus Deduktif Berpikir Divergen Rendah …………………
  1. Histogram Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem Strategi Versus Induktif Berpikir Divergen Rendah ………………….
  1. Pengaruh Interaksi antara Strategi Pembelajaran dan Berpikir Divergen …………………………………………………………………..

DAFTAR TABEL

Nomor                                                                                                            Halaman

1.1 Desain Eksperimen Faktorial 2 x 2 …………………………………….

1.2 Distribusi sampel pada tiap kelas menurut perlakuan ……………….

1.3  Kisi-kisi Instrumen tes pengetahuan siswa tentang konsep-konsep ekosistem  …………………………………………………………………

1.4 Kisi-kisi Instrumen Berpikir Divergen ………………………………….

1.5 Rangkuman Hasil Perhitungan …………………………………………

1.6 Data Statistik Berpikir Divergen Rendah  …………………………………

1.7 Data Statistik Berpikir Divergen Tinggi  ……………………………………

1.8 Data Statistik Pengetahuan tentang konsep-konsep Ekosistem …..

1.9  Distribusi Frekuensi Pengetahuan tentang konsep-konsep Ekosistem …………………………………………………………………

1.10      Statistik Pengetahuan versus induktif secara keseluruhan……..

1.11       Distribusi Frekuensi Pengetahuan tentang konsep-konsep Ekosistem versus induktif secara keseluruhan …………………..

1.12       Statistik pengetahuan berpikir divergen tinggi …………………..

1.13       Distribusi Frekuensi Pengetahuan tentang konsep-konsep Ekosistem berpikir divergen tinggi …………………………………

1.14       Statistik Pengetahuan Berpikir Divergen Rendah ……………….

1.15       Daftar Distribusi Pengetahuan Berpikir Divergen Rendah …….

1.16       Statistik Pengetahuan Berpikir Divergen Tinggi ……………….

1.17       Distribusi Frekuensi Pengetahuan Versus Deduktif yang memiliki Berpikir Divergen tinggi ………………………………….

1.18       Statistik Pengetahuan tentang konsep-konsep ekosistem startegi versus induktif berpikir divergen tinggi …………………

1.19       Distribusi Pengetahuan tentang konsep-konsep ekosistem startegi versus induktif berpikir divergen tinggi ………………..

1.20       Statistik Pengetahuan tentang konsep-konsep ekosistem startegi versus deduktif berpikir divergen rendah ………………

1.21       Distribusi Pengetahuan tentang konsep-konsep ekosistem startegi versus deduktif berpikir divergen rendah ………………..

1.22       Statistik Pengetahuan tentang konsep-konsep ekosistem startegi versus induktif berpikir divergen rendah ………………

1.23       Distribusi Pengetahuan tentang konsep-konsep ekosistem startegi versus deduktif berpikir divergen rendah ………………..

1.24       Rangkuman Hasil Uji Normalitas ………………………………….

1.25       Ringkasan Hasil Perhitungan Uji Homogenitas ………………..

1.26       ANAVA Pengetahuan konsep-konsep Ekosistem ………………

LAMPIRAN – LAMPIRAN

Lampiran 1c

Jadwal Kegiatan pembelajaran tentang Konsep-konsep Ekosistem

No Bulan/

MingguPertemuan keKegiatan

1April/ IV Persiapan :

-       Perizinan

-       Alat, bahan materi, tempat

2

Mei/

I

II

III

IV

1,2

3,4

5,6

7,8

-       Jaring-jaring kehidupan, komponen-komponen ekosistem, dan piramida makanan

-       Rantai-rantai makanan dan organism autotrof dan heterotrof

-       Pola interaksi organism dan contoh-contohnya

-       Keseimbangan ekosistem dalam kehidupan sehari-hari

-       Unsur-unsur biotic dan abiotik

3Juni/

I

II

9,110

11,12

-       Simbiosis mutualisme, parasitisme, komensalime

-       Aliran energi

-       Siklus materi4III Tes

Catatan :

  1. Hari Pembelajaran        : Senin dan Selasa
  2. Waktu                               : 12.30 – 14.00 (Strategi versus deduktif)

15.00 –16. 30 (Strategi versus induktif)

Lampiran 4. Skor Berpikir Divergen Siswa

Kelompok yang diberi Pembelajaran dengan Strategi Versus Deduktif Keseluruhan

No. Responden Skor Berpikir Divergen
1 75
2 60
3 81
4 64
5 64
6 58
7 83
8 76
9 53
10 66
11 80
12 75
13 54
14 57
15 77
16 84
17 63
18 66
No. Responden Skor Berpikir Divergen
19 71
20 75
21 63
22 81
23 70
24 69
25 52
26 62
27 70
28 55
29 77
30 79
31 75
32 91
33 95
34 81
35 91

 

Lampiran 5. Skor Berpikir Divergen Siswa

Kelompok yang diberi Pembelajaran dengan Strategi Versus Induktif Keseluruhan

No. Responden Skor Berpikir Divergen
1 75
2 60
3 81
4 64
5 64
6 58
7 83
8 74
9 53
10 66
11 80
12 75
13 54
14 57
15 75
16 83
17 63
18 66
No. Responden Skor Berpikir Divergen
19 71
20 76
21 64
22 82
23 78
24 70
25 51
26 63
27 71
28 55
29 77
30 79
31 76
32 87
33 95
34 83
35 93

Lampiran 6. Skor Berpikir Divergen Siswa

Kelompok yang diberi Pembelajaran dengan Strategi Versus Deduktif Keseluruhan

No. Responden Skor Berpikir Divergen
1 95
2 91
3 91
4 84
5 83
6 81
7 81
8 81
9 80
10 79
No. Responden Skor Berpikir Divergen
1 52
2 53
3 54
4 55
5 57
6 58
7 60
8 62
9 63
10 63

Lampiran 7. Skor Berpikir Divergen Siswa

Kelompok yang diberi Pembelajaran dengan Strategi Versus Induktif Keseluruhan

No. Responden Skor Berpikir Divergen
1 95
2 93
3 87
4 83
5 83
6 83
7 82
8 81
9 79
10 78
No. Responden Skor Berpikir Divergen
1 51
2 53
3 54
4 55
5 57
6 58
7 60
8 63
9 63
10 64

Lampiran 8. Data Skor pengetahuan Siswa tentang Konsep-konsep Ekosistem yang diberi Pembelajaran dengan Strategi Versus Deduktif

No Responden Tingkat Motivasi Skor Pengetahuan
1 Tinggi 29
2 Tinggi 8
3 Tinggi 13
4 Tinggi 14
5 Tinggi 15
6 Tinggi 22
7 Tinggi 19
8 Tinggi 22
9 Tinggi 15
10 Tinggi 22
11 Rendah 30
12 Rendah 22
13 Rendah 22
14 Rendah 27
15 Rendah 21
16 Rendah 16
17 Rendah 16
18 Rendah 12
19 Rendah 11
20 Rendah 23

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran 9. Data Skor pengetahuan Siswa tentang Konsep-konsep Ekosistem yang diberi Pembelajaran dengan Strategi Versus Induktif

No Responden Tingkat Motivasi Skor Pengetahuan
1 Tinggi 24
2 Tinggi 28
3 Tinggi 12
4 Tinggi 25
5 Tinggi 11
6 Tinggi 14
7 Tinggi 24
8 Tinggi 20
9 Tinggi 23
10 Tinggi 23
11 Rendah 28
12 Rendah 23
13 Rendah 15
14 Rendah 25
15 Rendah 15
16 Rendah 13
17 Rendah 18
18 Rendah 14
19 Rendah 14
20 Rendah 9

Lampiran 10

Uji Normalitas Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem

Strategi Versus Induktif Berpikir Divergen Tinggi

Kriteria Pengujian:

Lhitung > Ltabel, artinya data berdistribusi normal

Lhitung < Ltabel, artinya data tidak berdistribusi normal

= 17,9                      s = 6,86

xi zi F(zi) S(zi) IF(zi)-S(zi)I
29 1,8377 0,9664 0,1 0,8664
8 -1,639 0,0516 0,2 -0,1484
13 -0,8112 0,209 0,3 -0,091
14 -0,6456 0,2611 0,4 -0,1389
15 -0,4801 0,3156 0,5 -0,1844
22 0,6788 0,7468 0,6 0,1466
19 0,1821 0,5714 0,7 -0,1286
22 0,6788 0,7468 0,8 -0,0532
15 -0,4801 0,3156 0,9 -0,5844
22 0,6788 0,7468 1 -0,3212

Dari tabel di atas dapat diperoleh :

Lhitung = 0,8664; sedangkan dengan α = 5 % dan df = 10 diperoleh Ltabel = 0,258. Sehingga dapat disimpulkan Lhitung > Ltabel, artinya sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

Lampiran 11 

Uji Normalitas Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem

Strategi Versus Deduktif Berpikir Divergen Rendah

 

Kriteria Pengujian:

Lhitung > Ltabel, artinya data berdistribusi normal

Lhitung < Ltabel, artinya data tidak berdistribusi normal

= 20             s = 6,1824

xi zi F(zi) S(zi) IF(zi)-S(zi)I
30 2,0033 0,9049 0,1 0,8049
22 0,6788 0,05675 0,2 0,3675
27 1,5066 0,09066 0,3 0,6066
21 0,5132 0,5636 0,4 0,1636
16 -0,3145 0,2611 0,5 -0,2389
12 -0,9768 0,055 0,6 -0,545
11 -1,1423 0,0737 0,7 -0,6263
23 0,8443 0,6844 0,8 -0,1156
22 0,6788 0,5675 0,9 -0,3325
16 -0,3145 0,2611 1 -0,7389

Dari tabel di atas dapat diperoleh :

Lhitung = 0,8049; sedangkan dengan α = 5 % dan df = 10 diperoleh Ltabel = 0,258. Sehingga dapat disimpulkan Lhitung > Ltabel, artinya sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

Lampiran 12

Uji Normalitas Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem

Strategi Versus Deduktif Berpikir Divergen Tinggi

Kriteria Pengujian:

Lhitung > Ltabel, artinya data berdistribusi normal

Lhitung < Ltabel, artinya data tidak berdistribusi normal

= 20,4          s = 5,94

xi zi F(zi) S(zi) IF(zi)-S(zi)I
24 0,606 0,07258 0,1 0,6258
28 1,2794 0,0898 0,2 0,698
12 -1,4141 0,0793 0,3 -0,2207
25 0,7744 0,07794 0,4 0,3794
11 -1,5824 0,0571 0,5 -0,4429
14 -1,0673 -0,3077 0,6 -0,9077
20 -0,0673 0,4761 0,7 -0,2239
23 0,4377 0,6664 0,8 -0,1336
24 0,606 0,7258 0,9 -0,1742
23 0,4377 0,6664 1 -0,3336

Dari tabel di atas dapat diperoleh :

Lhitung = 0,698; sedangkan dengan α = 5 % dan df = 10 diperoleh Ltabel = 0,258. Sehingga dapat disimpulkan Lhitung < Ltabel, artinya sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

 

Lampiran 13

Uji Normalitas Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem

Strategi Versus Induktif Berpikir Divergen Rendah

Kriteria Pengujian:

Lhitung > Ltabel, artinya data berdistribusi normal

Lhitung < Ltabel, artinya data tidak berdistribusi normal

= 17,4          s = 6,02

xi zi F(zi) S(zi) IF(zi)-S(zi)I
28 1,7549 0,9599 0,1 0,8599
23 0,093 0,89 0,2 0,069
15 -0,3986 0,1014 0,3 -0,1186
25 1,2582 0,8944 0,4 0,0944
13 -0,7284 -0,2284 0,5 -0,7284
18 -0,099 0,599 0,6 -0,001
14 0,5647 -0,0647 0,7 -0,7647
9 -1,3907 -0,8907 0,8 -1,6907
15 -0,3986 0,1014 0,9 -0,7986
14 -0,5647 -0,0647 1 -1,0647

Dari tabel di atas dapat diperoleh :

Lhitung = 0,8599; sedangkan dengan α = 5 % dan df = 10 diperoleh Ltabel = 0,258. Sehingga dapat disimpulkan Lhitung > Ltabel, artinya sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

Lampiran 14

Uji Normalitas Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem

Strategi Versus Induktif

 

Kriteria Pengujian:

Lhitung > Ltabel, artinya data berdistribusi normal

Lhitung < Ltabel, artinya data tidak berdistribusi normal

= 18,95        s = 6,04

xi zi F(zi) S(zi) IF(zi)-S(zi)I
29 2,2988 0,989242 0,1 0,889242
8 -0,7183 0,236286 0,2 0,02
13 0 0,5 0,3 0,157092
14 0,1436 0,557092 0,4 0,113059
15 0,2873 0,613059 0,5 0,0302012
22 1,2931 0,902012 0,6 0,105656
19 0,862 0,805656 0,7 0,0192707
30 2,4425 0,992707 0,8 0,077858
27 2,0114 0,977858 0,9 -0,125196
21 1,1494 0,874804 1 -0,433198
16 0,4311 0,666802 1,1 -0,757092
12 -0,1436 0,442908 1,2 -0,913059
11 -0,2873 0,386941 1,3 -0,475402
23 1,4367 0,924598 1,4 -0,886695
15 0,2873 0,613059 1,5 -0,933198
16 0,4311 0,666802 1,6 -797986
22 1,2931 0,902012 1,7 -0,897968
22 1,2931 0,902012 1,8 -0,897968
22 1,2931 0,902012 1,9 -0,997988
22 1,2931 0,902012 2 -1,097988

Dari tabel di atas dapat diperoleh :

Lhitung = 0,889242; sedangkan dengan α = 5 % dan df = 10 diperoleh Ltabel = 0,190. Sehingga dapat disimpulkan Lhitung > Ltabel, artinya sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

Lampiran 15

Uji Normalitas Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem

Strategi Versus Deduktif

Kriteria Pengujian:

Lhitung > Ltabel, artinya data berdistribusi normal

Lhitung < Ltabel, artinya data tidak berdistribusi normal

= 19,4          s = 6,02

Xi zi F(zi) S(zi) IF(zi)-S(zi)I
24 0,76411 0,777599 0,1 0,677599
28 0,2389 0,594408 0,2 0,394408
12 -1,2251 0,110269 0,3 -0,189731
25 -0,7308 0,232451 0,4 -0,17549
11 -1,3907 0,082158 0,5 -0,417842
14 -0,894 0,185661 0,6 -0,414339
24 0,76411 0,777599 0,7 0,077599
20 0,0993 0,53955 0,8 -0,26045
23 0,598 0,72508 0,9 -0,17492
23 0,598 0,72508 1 -0,27492
28 0,2389 0,594408 1,1 -0,5055
23 0,598 0,72508 1,2 -0,47492
15 -0,7284 0,233184 1,3 -1,0668
25 0,9271 0,823063 1,4 -0,5769
15 -0,7284 0,233184 1,5 -1,26668
13 -1,0596 0,144663 1,6 -1,455337
18 -0,2317 0,408386 1,7 -1,2916
14 -0,894 0,185661 1,8 -1,6143
14 -0,894 0,185661 1,9 -1,714339
9 -1,7275 0,042039 2 -1,957961

Dari tabel di atas dapat diperoleh :

Lhitung =0,677599; sedangkan dengan α = 5 % dan df = 10 diperoleh Ltabel = 0,190. Sehingga dapat disimpulkan Lhitung > Ltabel, artinya sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

Lampiran 16

Uji Normalitas Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem

Berpikir Divergen Tinggi

Kriteria Pengujian:

Lhitung > Ltabel, artinya data berdistribusi normal

Lhitung < Ltabel, artinya data tidak berdistribusi normal

= 19,15        s = 5,97

xi zi F(zi) S(zi) IF(zi)-S(zi)I
29 1,648246277 0,950349 0,1 0,850349
8 -1,865781319 0,031036 0,2 -0,168964
13 -1,029108082 0,151714 0,3 -0,1482856
14 -0,861773434 0,194406 0,4 -0,2055939
15 -0,694438787 0,243704 0,5 -0,2562965
22 0,476903745 0,683285 0,6 0,0832847
19 -0,025100197 0,489988 0,7 -0,2100125
22 -0,363636364 0,358065 0,8 -0,4419352
15 -0,318181818 0,375174 0,9 -0,5248265
22 0,476903745 0,683285 1 -0,3167153
24 0,81157304 0,791482 1,1 -0,3085183
28 1,48091163 0,930685 1,2 -0,2693151
12 -1,196442729 0,115762 1,3 -1,1842381
25 0,978907688 0,836187 1,4 -0,5638128
11 -1,363777377 0,086319 1,5 -1,4136812
14 -0,861773434 0,194406 1,6 -1,4055939
24 0,81157304 0,791482 1,7 -0,9085183
20 0,14223445 0,556553 1,8 -1,2434474
23 0,644238393 0,74029 1,9 -1,1597104
23 0,644238393 0,74029 2 -1,2597104

Dari tabel di atas dapat diperoleh :

Lhitung = 0,850349; sedangkan dengan α = 5 % dan df = 10 diperoleh Ltabel = 0,190.  Sehingga dapat disimpulkan Lhitung > Ltabel, artinya sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

Lampiran 17

Uji Normalitas Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem

Berpikir Divergen Rendah

Kriteria Pengujian:

Lhitung > Ltabel, artinya data berdistribusi normal

Lhitung < Ltabel, artinya data tidak berdistribusi normal

= 18,7          s = 6,08

xi zi F(zi) S(zi) IF(zi)-S(zi)I
30 1,856125057 0,968282 0,1 0,868282
22 0,54205422 0,706109 0,2 0,506109
22 0,54205422 0,706109 0,3 0,406109
27 1,363348493 0,913614 0,4 0,513614
21 0,377795366 0,647209 0,5 0,1472087
16 -0,443498907 0,328702 0,6 -0,2712975
16 -0,443498907 0,328702 0,7 -0,3712975
12 -1,100534326 0,13555 0,8 -0,6644503
11 -1,26479318 0,102973 0,9 -0,7970273
23 0,706313075 0,760003 1 -0,2399967
28 1,527607348 0,936695 1,1 -0,163305
23 0,706313075 0,760003 1,2 -0,4399967
15 -0,607757762 0,271674 1,3 -1,0283259
25 1,034830784 0,849626 1,4 -0,550374
15 -0,607757762 0,271674 1,5 -1,2283259
13 -0,936275471 0,174566 1,6 -1,4254343
18 -0,114981198 0,45423 1,7 -1,24577
14 -0,772016617 0,220052 1,8 -1,5799477
14 -0,772016617 0,220052 1,9 -1,6799477
9 -1,59331089 0,055545 2 -1,9444548

Dari tabel di atas dapat diperoleh :

Lhitung = 0,868282, sedangkan dengan α = 5 % dan df = 10 diperoleh Ltabel = 0,190. Sehingga dapat disimpulkan Lhitung > Ltabel, artinya sampel berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

Lampiran 18

Uji Homogenitas Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem

Kriteria Pengujian :

X2hitung < X2tabel, maka semua varians homogen

X2hitung > X2tabel, maka semua varians tidak homogen

Kelompok ni S21 (ni-1) (ni-1). S21 Log S21 (ni-1).Log
A 10 0,007 9 0,063 2,15 19,35
B 10 0,004 9 0,036 2,39 21,51
C 10 0,026 9 0,234 1,58 14,22
D 10 0,008 9 0,072 2,09 18,81
Jumlah 36 0,405   73,89
  1. Menghitung Varians Gabungan :

S2gab = ∑(ni-1)S2  = 0,405  = 0,011

∑(ni-1)           36

  1. Menghitung Nilai Bartlett :

B = (Log Sgabungan). ∑ (ni-1) = Log 0,01 x 36 = 70,50

  1. Menghitung nilai X2hitung :

5,95 {B-∑ (ni-1).Log S21 = 5,95 (70,05 – 73,89) = 5,95 – 3,39 = 2,56

  1. Menentukan X2tabel :

Df = k – 1 = 4 – 1 = 3

X2tabel = X2(1-α) (df) = X2(1-95) (3) = 7,81

Berdasarkan hasil perhitungan di atas, diperoleh X2hitung= 2,56 dan  X2tabel = 7,81; sehingga X2hitung < X2tabel maka dapat disimpulkan bahwa semua varians adalah homogen.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran 19

Uji Hipotesis dengan ANAVA

      Strategi

Pembelajaran

Berpikir Divergen

Versus Deduktif

Versus Induktif

Jumlah

Tinggi

= 84,9

∑X = 846

∑X2= 715716 = 84,4

∑X = 844

∑X2= 712336 = 169,3

∑X = 1690

∑X2= 1428052

Rendah

= 57,7

∑X = 577

∑X2= 332929 = 57,8

∑X = 578

∑X2= 334084 = 115,5

∑X = 1155

∑X2= 667013

Jumlah

= 142,6

∑X = 1423

∑X2= 1048645 = 142,2

∑X = 1422

∑X2= 1046420∑XT = 2845

∑X2T= 2095065

JKT  = 2T – (2T) = 2095065 – (2845)2

                                         N                                               40

= 2095056 – 5058,7656 = 208997,23

JKAK = ∑[(XA)2 + (XB)2 + (XC)2 + (XA)2] – (XA)2

                        nA         nB          nC         nD         n

= ∑[(846)2 + (844)2 + (577)2 + (570)2] – (2845)2

                        10          10         10          10            10

= (7157,16 + 7123,36 + 3329,29 + 3340,84 ) – 5058,76

= 20950,65 – 5058,76

= 1589189

JKDK = JKT – JKAK = 2089997,23 – 158189 = 1431

JKK   = ∑[(∑XAC)2 + (∑XBD)2 ] – (∑XT)2

                        nAC             nBD           N

= ∑[(1462)2 + (1421)2 ] – (2845)2

                           20             20            40

= (5062,32 + 5048,10) – 5058,76

= 10110,42 – 5058,76

=  505166

JKb   = ∑[(∑XAB)2 + (∑XCD)2 ] – (∑XT)2

                        nAB             nCD           NT

= ∑[(1690)2 + (1155)2 ] – (2845)2

                         20              20            40

= (7140,25 + 3335,06) – 5058,76

= 10475,31 – 5058,76

= 541655

JKINT       = JKAK – (JKK- JKb)

= 15891,89 – (5051,66 + 5416,55)

= 15891,89 – 10468,21

= 542368

Hasil perhitungan-perhitungan di atas kemudian dimasukkan ke dalam table ANAVA sebagai berikut :

Sumber

Varians

JK df RJK Fhitung Ftabel
0,05 0,01
Antar Kelompok

Dalam

Kelompok

JKAK

 

 

JKDK

(A+B-1)

(n-A-B)

JKAK/ RJKDK

JKDK/df

RJKAK/ RJKDK
Dalam

Kelompok (A)

Dalam Baris (B

Interaksi (AxB)

JKA

 

JKB

 

 

JKAB

(A-1)

(B-1)

(A-1)x (B-1)

JKA/df

JKB/ RJKDK

JKAB/ RJKDK

RJKA/ RJKDK

RJKB/ RJKDK

RJKAB/ RJKDK

Total JKT (n-1)
Antar Kelompok

Dalam

Kelompok

158189

50086

3

35

5297

1431

31,7

-

4,10 7,56
Dalam

Kelompok (A)

Dalam Baris (B

Interaksi (AxB)

505166

541655

542368

1

1

1

5051,66

5416,66

5423,68

10,8*

10,81**

10,83**

3,10 4,94
Total 2105889,12 38

 

                       

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran 20

 

Uji Tuckey untuk Pengetahuan tentang Konsep-konsep Ekosistem

Antar Sel

  1. Hipotesis

H0 : μ1 – μ2 = 0

H0 : μ1 – μ2 # 0

  1. Kriteria Pengujian :

Terima H0 Jika Fhitung > Ftabel

Terima H0 Jika Fhitung < Ftabel

  1. Data Sampel
Rata – rata n
18,95 (Sel Versus Deduktif) 20
19,4 (Sel Versus Induktif) 20
20 (1) 10
20,4 (4) 10
17,9 (2) 10
17,4 (3) 10
  1. Menghitung Harga Fhitung (Q) :

S =   =  = 71,55

QAB =  =  = 5,00

S   =   =  = 143,1

Q1 =  =  = 3,50

Q2 =  =  = 2,48

Ringkasan Hasil mencari Fhitung

No Dibandingkan Fhitung
1 A dengan B 5,00
2 1 dengan 2 4,20
3 4 dengan 3 4,08
  1. Menghitung Ftabel pada α = 5 % dengan dk1 =35 dan dk2 = 4 :

Ftabel = F(0,05)(35)(4) = 3,97

Ftabel = F(0,01)(35)(4) = 3,22

  1. Menguji Hipotesis

Jika dilihat dari tabel ringkasan di atas, terlihat bahwa perbedaan yang sangat signifikan dipenuhi oleh seluruh perbandingan yang dicari, yaitu antara ∑XA dengan ∑XB ; ∑X1, dengan ∑X2 dan ∑X4 dengan ∑X3 ; sehingga dapat disimpulkan bahwa rata-rata yang paling tinggi adalah rata-rata untuk kelompok pertama, yaitu kelompok yang diberi pembelajaran dengan strategi versus deduktif dan memiliki berpikir divergen yang tinggi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

RIWAYAT HIDUP

Ani Marlina, lahir di Garut, tanggal 09 Oktober 1985, merupakan anak ke satu dari pasangan Bapak. A’en Rosadi (Alm) dan Ibu Wiwin. Menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar Negeri II Leuwigoong Garut pada Tahun 1997, SMP Negeri I Leuwigoong Garut pada Tahun 2000, SMU Negeri 1 Leuwigoong Garut pada Tahun 2003, dan Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) STKIP Garut pada tahun 2007. Pada tahun 2009 melanjutkan studi S2 di Program Studi Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH) di Universitas Negeri Jakarta (UNJ), dan menyelesaikan studi pada Tahun 2011.

Mulai bekerja pada Tahun 2004 di SMP Negeri 5 Garut sampai dengan Tahun 2008 sebagai Pelatih ekstrakurikuler Paskibra. Pada tahun 2007 sampai dengan 2009 di SMP Negeri I Leuwigoong sebagai guru IPS Geografi, Tekhnologi Informasi dan Komputer (TIK), dan Bahasa Indonesia. Pada Tahun 2010 di SMP Islam Putra Assafi’iyah sebagai guru IPA dan Tahun 2011 bekerja di SMA Al-Hikmah sebagai guru Kimia dan Fisika sampai dengan sekarang.

PENGARUH STRATEGI PEMBELAJARAN DAN BERPIKIR DIVERGEN TERHADAP PENGETAHUAN SISWA TENTANG KONSEP-KONSEP EKOSISTEM

EKSPERIMEN DI SMP NEGERI 135 JAKARTA

ANI MARLINA

No. Reg: 7416090224

Program Studi: Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup

Tesis yang Ditulis untuk Memenuhi Sebagai Persyaratan untuk Mendapatkan Gelar Magister

PROGRAM PASCASARJANA

UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA

2011


[1]Jujun Suriasumantri, Filsafat Ilmu, Sebuah Pengantar populer, (Jakarta :Sinar Harapan Pustaka, 1996), p. 104

[2] Ibid., p.104-105

[3]Ibid., p105

[4] Orin W Anderson nad David R Krathwohl, Taxonomi for Learning Teaching and Assesing,  (New York: Addison Wesley Longman, Inc, 2001), pp. 27

[5] Benjamin S Bloom. Evaluation to Improve Learning. (New York: McGrow-Hill, 1981), pp. 158

[6] Anita Woolfolk, Educational Psychology Active Learning Edition, terjemahan (Boston Arlington Street 75, Allyn and Bacon, 2008), p. 149

[7] Eugene P. Odum. Ecology (The University of Georgia, America, 1966). p.3

[8] Eugene P. Odum. Dasar-dasar Ekologi Edisi ketiga  (Gadjah University Press, Yogyakarta, 1993). p.11.

[9] Otto Soemarwoto. Ekologi Lingkungan Hidup dan Pembangunan (Djambatan, 2004).p.22

[10] Daniel D Chiras. Environmental Sciens: Action for a Sustainable Future (Redwood City: The Benjamin cummings Publishing Company. Inc., 1991).p.77

[11] Eugene P Odum. Dasar-dasar  Ekologi. (Gadjah Mada Universitas Press, 1993).p.10

[12] Eugene P Odum, Fundamentals of Ecology (Tokyo: Toppan Compan, 1971), p.

[13] Conny Semiawan. Persfektif pendidikan Anak Berbakat. (Rasindo: Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta, 1997).p.63.

[14] John W. Santrock. Educational psychology. (Salemba Humanika: University of Texas at Dallas, 2009).p 21.

[15] Conny Semiawan. Persfektif pendidikan Anak Berbakat. (Rasindo: Gramedia Widiasarana Indonesia, Jakarta, 1997).p.62.

[16] Conny R Semiawan. Kreativitas Keberbakatan, Apa, mengapa, dan Bagaimana (Indeks: Jakarta, 2010). p. 33.

[17] Eugene P Odum. Dasar-dasar Ekologi Edisi Ketiga. (gadjah Mada University Press, 1993).p 11.

[18] Ibid., p.10.

[19] Ibid.,p.11

[20] Hamzah B Uno, 2007. Model Pembelajaran. Jakarta ; Bumi Aksara. p. 2.

[21] Hamzah B Uno, 2007. Model Pembelajaran. Jakarta ; Bumi Aksara. p. 1

[22] Ibid., p.2.

[23] Robert M. Gagne, Principles of instructional Design (New York: Holt, Rinehart and Wiston, 1979), p.19

[24] Hamzah B Uno. Model Pembelajaran (Menciptakan Proses Belajar Mengajar yang Kreatif dan Efektif). (Bumi Aksara, Jakarta, 2007).p.3

[25] Mark K Smith, dkk, Teori Pembelajaran dan Pengajaran (Jogjakarta:Mirza media Pustaka, 2009), p. 12

[26] Mark K Smith, dkk, Teori Pembelajaran dan Pengajaran (Jogjakarta:Mirza media Pustaka, 2009), p. 121.

[27] Mark K Smith, dkk, Teori Pembelajaran dan Pengajaran (Jogjakarta:Mirza media Pustaka, 2009), p. 120.

[28] Hamzah B Uno, 2007. Model Pembelajaran. Jakarta ; Bumi Aksara. p. 11

[29] Conny Semiawan. Persfektif pendidikan Anak Berbakat. (Jakarta: Gramedia, 1997), p. 122

[30] Hamzah B Uno, 2007. Model Pembelajaran. Jakarta ; Bumi Aksara. p. 12

[31] Hamzah B Uno, 2007. Model Pembelajaran. Jakarta ; Bumi Aksara. p. 12

[32] Hamzah B Uno, 2007. Model Pembelajaran. Jakarta ; Bumi Aksara. p. 11-12

[33] Conny Semiawan. Persfektif pendidikan Anak Berbakat. (Jakarta: Gramedia, 1997), p. 122

[34] John W Best, Research in Education (New Delhi: Prentice Hall of India Private Limited, 1982), p. 71

[35] Sudjana, Metoda Statistik, (Bandung: Tarsito, 2005), p. 161

[36] Sugiyono, Statistika untuk Penelitian, Alfabeta, Bandung, p. 348

[37] Ibid., p.354

[38] Ibid., p.354

[39] Sudjana., metoda statistika, (Bandung: Tarsito) p. 302

[40] Data Lengkap dapat dilihat dalam Lampiran 4

[41] Data Lengkap dapat dilihat dalam Lampiran 5

[42] Data lengkap dapat dilihat dalam lampiran 6

[43] Data lengkap dapat dilihat dalam lampiran 7

[44]  Data Lengkap dapat dilihat dalam Lampiran 8

[45] Data Lengkap dapat dilihat dalam Lampiran 8

[46] Data Lengkap dapat dilihat dalam Lampiran 9

[47] Data Lengkap dapat dilihat dalam Lampiran 9

[48]  Perhitungan Lengkap dapat dilihat pada Lampiran 10

[49] Lihat Deskripsi Data Lampiran 11

[50] Lihat Deskripsi Data Lampiran 12

[51] Lihat Deskripsi Data Lampiran 13

[52] Lihat Deskripsi Data Lampiran 14

[53] Lihat Deskripsi Data Lampiran 15

[54] Lihat Deskripsi Data Lampiran 16

PEMBIMBING I : Prof. Dr. I Made Putrawan

PEMBIMBING II  : Dr. Suwirman Nuryadin, M.Pd.

SKRIPSI

BAB I

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk di Kabupaten Garut, maka semakin banyak pula permasalahan lingkungan yang timbul. Pemakaian sumber daya alam untuk mencukupi kebutuhan hidupnya telah menimbulkan dampak negatif, salah satunya yaitu timbulnya limbah sebagai akibat dari sisa aktivitas yang dilakukan manusia.

Adanya limbah ini menyebabkan kesehatan lingkungan menjadi terganggu, terutama terhadap kesehatan manusia, khususnya masyarakat Sukaregang. Banyak penyakit yang timbul karena adanya pencemaran ini. Salah satu contohnya yaitu penyakit yang ditimbulkan oleh adanya limbah proses pembuatan kulit, selain menyebabkan penyakit kulit seperti gatal-gatal, koreng, gangguan pernapasan, limbah kulit ini juga  menyebabkan lingkungan menjadi kotor dan tercemar. Akibatnya keindahan lingkungan  di sekitarnya menjadi berkurang dan masyarakat  yang berada di daerah tersebut menjadi tidak nyaman dan rawan penyakit.

Kabupaten Garut merupakan suatu wilayah  yang bisa dikatakan sebagai daerah yang sedang berkembang. Produk-produk pakaian, tas, sepatu sudah sebagian besar menggunakan mesin-mesin yang berteknologi canggih, misalnya adanya pabrik yang hampir 75 % menggunakan tenaga mesin. Bahkan pabrik sudah bisa masuk kedaerah-daerah pedalaman.  Namun pada umumnya pabrik-pabrik didirikan di daerah strategis (perkotaan). Salah satunya yaitu pabrik kulit yang ada di daerah Sukaregang, yang dalam prosesnya 75 % menggunakan tenaga mesin. Dengan keberadaan pabrik ini masyarakat bisa memanfaatkan kemudahan dalam memperoleh produk yang dihasilkan tanpa harus mencari dengan jarak  yang jauh. Namun berdasarkan hasil pengamatan di lapangan, ternyata terlihat  limbah-limbah pengolahan kulit yang dialirkan ke sungai-sungai kecil yang mengotori dan mencemari hampir di seluruh sungai-sungai dekat rumah masyarakat di daerah Sukaregang. Meskipun limbah tersebut sebelum dibuang diolah terlebih dahulu dan ada pembendungan limbah, namun tetap saja perlu perhatian lingkungan dan kewaspadaan lingkungan masyarakat setempat. Limbah kulit yang terbuang ini, akibat dari kurang memadainya sarana dan prasarana pabrik dalam setiap pengolahannya untuk menampung limbahnya.

Masyarakat merasa terganggu dengan pembuangan limbah ini, karena menimbulkan efek negatif terhadap lingkungan, tetapi masyarakat tidak bisa melakukan apa-apa. Hal ini karena ketidakpahaman terhadap cara penghindaran limbah yang mengganggu sanitasi lingkungan, akibatnya proses pembuangan limbah pun tidak ada alternatif lain kecuali ke sungai-sungai kecil.

Berkaitan dengan hal tersebut, penulis tertarik untuk mengadakan penelitian tentang hubungan antara tingkat pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan dengan sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang.

Dengan adanya penelitian langsung kepada masyarakat Sukaregang dan pihak pengelola pabrik diharapkan dapat mendapatkan titik temu dari dampak negatif yang meresahkan masyarakat dari adanya limbah ini. Sehingga mendapatkan solusi lingkungan yang bersih meskipun pabrik kulit tersebut terus berproduksi dan yang paling mendasar adalah hubungan sosial, psikologi  masyarakat  dan pengelola pabrik tetap harmonis.

B.     Rumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dikemukakan di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah  Bagaimanakah hubungan pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan dengan sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang Garut ?

Untuk lebih memperjelas permasalahan di atas penulis menjabarkan  rumusan masalah tersebut ke dalam beberapa pertanyaan penelitian berikut :

1.      Bagaimanakah pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan ?

2.      Bagaimanakah sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang Kabupaten Garut ?

3.      Apakah terdapat hubungan yang signifikan antara pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan  dengan sikap masyarakat  terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang Garut ?

C.    Batasan Masalah

Untuk lebih mengarahkan supaya tidak terlalu meluas, maka perlu dilakukan pembatasan masalah. Adapun permasalahan yang diteliti adalah sebagai berikut :

1.      Pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan diukur dengan menggunakan angket

2.      Penelitian dilakukan pada masyarakat di daerah Sukaregang RW 12 Kabupaten Garut

3.      Sikap masayarakat terhadap limbah  pabrik kulit di Sukaregang menunjukan bagaimana sikap masyarakat dalam menjaga  dan memelihara lingkungan  dari berbagai gangguan yang dapat menyebabkan terganggunya lingkungan

4.      Penelitian dilakukan pada tanggal 24 April sampai dengan tanggal 25 Mei Tahun 2007

D.    Tujuan Penelitian

Adapun tujuan dari penelitian ini adalah :

  1. Untuk memperoleh informasi tentang pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan
  2. Untuk mendapatkan informasi tentang sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang Garut
  3. Untuk mendapatkan informasi tentang hubungan antara pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan dengan sikapnya terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang Garut.

E.     Manfaat Penelitian

Sesuai dengan permasalahan yang sedang diteliti, maka diharapkan dari hasil penelitian ini dapat bermanfaat :

1.       Bagi Penulis

Dapat menambah wawasan, khususnya tentang pemahaman masyarakat mengenai sanitasi lingkungan dan sikapnya terhadap limbah pabrik kulit  Sukaregang Garut.

2.      Bagi Masyarakat

Diharapkan dengan pemahaman terhadap sanitasi lingkungan terjadi perubahan sikap yang lebih baik dalam menjaga kesehatan lingkungan khususnya dalam menjaga kesehatan serta  kebersihan lingkungan rumahnya sendiri.

3.      Bagi Pemerintah Setempat

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada pemerintah  setempat dalam upaya  lebih memperhatikan  dan memberikan penekanan  terhadap pemahaman masyarakat dalam masalah sanitasi lingkungan  supaya terjadi perubahan sikap masyarakat dalam menjaga lingkungannya.

F.     Hipotesis

Berdasarkan hal di atas peneliti mengemukakan hipotesis sebagai berikut : Terdapat hubungan  yang signifikan antara pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan  dengan sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang Garut.


BAB II

TINJAUAN PEMAHAMAN MASYARAKAT TENTANG SANITASI LINGKUNGAN DENGAN SIKAP MASYARAKAT TERHADAP LIMBAH PABRIK KULIT DI SUKAREGANG GARUT

A.    Pemahaman  Masyarakat Tentang Sanitasi Lingkungan

1.      Pengertian Pemahaman

Seseorang dikatakan paham benar terhadap segala sesuatu apabila orang tersebut mengerti benar tentang sesuatu, dalam arti orang itu mampu menjelaskan tentang konsep tersebut. Menurut Purwanto (dalam Kurniati A, 2005:5) Pemahaman atau komprehensi adalah tingkat kemampuan yang mengharapkan mampu memahami arti atau konsep, situasi, serta fakta yang diketahuinya.

Pemahaman yang berasal dari kata paham artinya mengerti benar. Dikatakan paham terhadap segala sesuatu apabila orang tersebut mengerti benar terhadap sesuatu hal (Purwadarminta,1976:694).

Apabila masyarakat sudah memahami sesuatu khususnya mengenai sanitasi lingkungan  maka dia akan mampu mengemukakan  apa-apa yang telah dipelajarinya  dengan kata-kata sendiri. Dengan memahami sesuatu, seseorang dalam masyarakat akan mampu memberikan pandangan dan mampu melihat sesuatu dari berbagai segi.

Dengan pemahaman maka aplikasi dalam pemeliharaan lingkungan akan terwujud dengan baik. Apalagi penghindaran dari limbah pabrik yang hasil prosesnya di buang ke sungai-sungai kecil. Meskipun dalam pembuangan limbah tersebut sudah diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke sungai-sungai kecil, masyarakat harus tetap waspada dan menjaga lingkungan dari zat-zat limbah yang beracun.

2.      Pemahaman Masyarakat terhadap Sanitasi Lingkungan

Lingkungan sebagai tempat keberlangsungan hidup makhluk hidup. Lingkungan merupakan tempat berlangsungnya kehidupan manusia, hewan dan tumbuhan setiap hari yang membutuhkan  berbagai macam kebutuhan  pribadi mulai dari kebutuhan tubuh, pemeliharaan diri, pemukiman dan pemeliharaan lingkungan, yang kesemua itu  perlu upaya dan aplikasi yang penuh agar kebutuhan hidup dapat teratasi tanpa hambatan.

Soemarwoto (2001:53), mengemukakan bahwa sifat lingkungan hidup ditentukan oleh bermacam-macam faktor. Pertama, oleh jenis dan jumlah masing-masing jenis unsur lingkungan hidupnya: udara untuk pernapasannya, air untuk minum, keperluan rumah tangga dan kebutuhan lain, tumbuhan dan hewan  untuk makanan, tenaga dan kesenangan, serta lahan untuk tempat tinggal dan produksi pertanian. Manusia tanpa lingkungan hidupnya adalah suatu abstraksi belaka.

Mutu lingkungan hidup sangatlah penting karena ia merupakan dasar dan pedoman untuk mencapai  tujuan pengelolaan lingkungan. Mutu lingkungan hanyalah dikaitkan dengan masalah lingkungan, misalnya pencemaran, erosi dan banjir. Mutu yang baik yaitu membuat orang kerasan  hidup dalam lingkungan tersebut, perasaan kerasan itu disebabkan karena orang mendapatkan rezeki yang cukup, iklim dan faktor alamiah lainnya yang sesuai dengan masyarakat  yang cocok pula dengan  lingkungan sekitarnya.

Berdasarkan uraian diatas mutu lingkungan dapatlah diartikan sebagai kondisi lingkungan  dalam hubungannya dengan mutu hidup. Makin tinggi derajat mutu hidup dalam suatu lingkungan tertentu, makin tinggi pula derajat mutu lingkungan tersebut dan sebaliknya. Karena mutu hidup tergantung dari derajat pemenuhan  kebutuhan dasar.

Dengan mengaitkan mutu lingkungan  dengan derajat pemenuhan kebutuhan dasar, berarti lingkungan itu merupakan sumber daya maka manusia sebagai pemelihara harus berkorban diri untuk mempertahankan kelangsungan hidup jenis yang disebut altruisme.

1)      Kebutuhan Hidup Manusia

Berdasarkan sifatnya, kebutuhan hidup manusia dapat dikategorikan menjadi kebutuhan hidup material dan kebutuhan hidup non material. Kebutuhan hidup material antara lain adalah air, udara, makanan, sandang, rumah hingga transportasi serta perlengkapan fisik lain. Adapun kebutuhan manusia yang bersifat non material antara lain adalah kebutuhan akan rasa aman, rasa kasih sayang, pengakuan atas eksistensinya, pendidikan serta sistem nilai dan nata-pranata dalam masyarakatnya.

Soemarwoto (1985:55) membagi kebutuhan dasar manusia menjadi 3 golongan yang tersusun menurut hirarki sebagai berikut : kebutuhan dasar untuk kelangsungan hidup hayati, kebutuhan dasar untuk kelangsungan hidup  manusiawi dan kebutuhan untuk memilih.

Ketiga kebutuhan tersebut mempunyai bobot dan jenjang yang berbeda sesuai dengan tingkat kebudayaan dan kesejahteraan manusia.

1.      Air

Air merupakan kebutuhan dasar yang penting karena tubuh makhluk hidup 60 – 75 % terdiri atas air. Dalam tubuh air berperanan reaksi-reaksi kimia sebagai pelarut zat yang sangat baik  dan memungkinkan terjadinya transportasi materi. Fungsi lain dari air dalam tubuh adalah sebagai sarana untuk mengeluarkan sisa metabolisme. Dalam kehidupaman masyarakat manusia, air bermanfaat pula untuk keperluan mandi, cuci dan proses industri, pertanian dan kagiatan lainnya. Pada kegiatan tersebut memerlukan kualitas dan jumlah air yang berbeda.

2.      Udara

Manusia memerlukan udara terutama dalam proses respirasi karena udara mengandung  kurang lebih 20 %. Oksigen ini akhirnya digunakan dalam proses respirasi sel guna memperoleh energi. Udara yang diperlukan manusia harus memenuhi jumlah dan kualitas tertentu. Udara yang tercemar debu serta zat dan gas-gas dalam konsentrasi tinggi akan mengganggu kesehatan manusia.

3.      Rumah dan sanitasinya

Berbeda dengan makhluk hidup lainnya, manusia memerlukan rumah yang sangat bervariasi antara individu yang satu dengan yang lainnya, rumah selain berfungsi sebagai tempat tinggal juga berfungsi sebagai  tempat berlindung. Didalam rumahnya manusia terlindung dari musuhnya atau gangguan-gangguan fisik lain, misalnya sengatan matahari, hujan dan angin kencang.

Kriteria rumah sehat adalah :

-          Mempunyai sistem pengadaan air bersih

-          Tersedianya fasilitas untuk mandi

-          Memiliki sistem pembuangan limbah yang baik

-          Tersedianya tempat pembuangan kotoran ( kakus )

-          Mempunyai ruang yang seimbang dengan jumlah penghuninya

-          Situasi dalam rumah dan lingkungannya harus tenang dan bersih

2)      Peranan Manusia dalam Lingkungan Hidup

1.      Sebagai pengeksplotasi yang dapat mengakibatkan punahnya beberapa biota dan menciutnya sumber daya alam

2.      Sebagai perombak yaitu merombak ekosistem alami menjadi ekosistem binaan dan dengan mengubah profil permukaan bumi

3.      Sebagai pengotor karena membuang limbah ke lingkungan sehingga     terjadi pencemaran

4.      Sebagai penyebab evolusi domestikasi organisme serta penyebarannya

5.      Sebagai pembina lingkungan  dengan mengusahakan kelestarian lingkungan serta mengelolanya secara bijaksana

Peran manusia dalam mengolah lingkungannya telah menimbulkan gejala-gejala memprihatinkan.

Masalah-masalah lain yang dikemukakan  Ward dan Dubois (dalam Kalligis, 1994:172) antara lain adalah :

1.      Pengurasan kekayaan alam yang berlangsung dalam kadar yang mencemaskan kelestarian pemanfaatannya

2.      Pencemaran lingkungan yang meluas secara global

3.      Gejala-gejala meningkatnya pengangguran, menurunnya penyediaan bahan dasar dan energi, pengembangan sumber daya alam  dan benturannya terhadap lingkungan hidup, mengetatnya kesempatan pendidikan dan kesempatan kerja.

3)      Limbah

Ada 3 macam limbah, yakni limbah cair, padat dan udara. Khususnya limbah cair, pengotoran terhadap air dapat disebabkan oleh berbagai macam air limbah itu sendiri.

Untuk menentukan derajat pengotoran air limbah  ada beberapa cara, yakni:

1.      Mengukur adanya E. Coli untuk setiap milimiter (ml) air limbah, yang diukur ialah  bahan pengotor yang bersifat organis

2.      Mengukur “Suspendid Solid” (benda melayang) yang biasanya dinyatakan dalam ppm

3.      Mengukur zat-zat yang mengendap dalam air limbah yang dinyatakan dalam ppm

4.      Mengukur kadar O2 yang larut yang dinyatakan dalam ppm, pengukuran kadar O2 yang larut ini  dianggap pokok, karena dengan diketahuinya kadar O2 dapat ditentukan apakah air tersebut dapat ditentukan  apakah air tersebut dapat dipakai untuk kehidupan, misalnya memelihara ikan, tumbuhan dsb.

Cara mengukur kadar oksigen dalam air limbah ada beberapa cara yang dikenal yaitu :

a.      Chemical Oxygen Demand ( COD )

Jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan-bahan organik yang  terdapat  di dalam secara sempurna. Prinsip kerjanya ialah dengan mengambil contoh air dan kemudian ditambahkan  larutan oksidator (K2CrO7) yang akan mengoksidasi bahan-bahan organik yang terdapat dalam air. Kelebihan zat oksidator ini diukur kembali selisih harganya adalah yang terpakai untuk mengoksidasi bahan-bahan organik yang terdapat dalam air limbah.

b.      Biochemical Oxygen Demand (BOD)

Ialah jumlah oksigen yang dibutuhkan untuk mengoksidasi bahan-bahan organik yang terdapat di dalam air  secara sempurna yang memakai ukuran proses biokimia yang terjadi didalam  larutan air limbah.

c.        Demand of Oxygen (DO)

Pada dasarnya sama dengan kedua cara pemeriksaaan diatas, hanya saja dimasukan larutan kalium permanganat 10 % pada temperatur 270C selama 4 jam.

Pencemaran dapat terjadi  secara alami, misalnya gunung galunggung yang meletus menimbulkan pencemaran udara dan air  tetapi dapat terjadi akibat aktivitas manusia.

Pada hakekatnya antara aktifitas manusia dan timbulnya pencemaran terdapat hubungan , melingkar berbentuk siklus.

Stimulus dari lingkungan

 

Pencemaran                                                                         manusia beradaptasi

 

 

Bahan pencemar                                 pengembangan teknologi

                          

1.      Polutan fisik, misalnya pecahan keramik, pecahan botol, besi tua yang fisiknya mencemarkan lingkungan

2.      Polutan kimiawi berbentuk senyawa kimia, baik senyawa sintetis maupun senyawa alami yang karena konsentrasinya cukup tinggi dapat menimbulkan pencemaran, misalnya gas CO2, SO2, logam Pb dan merkuri

3.      Polutan Biologis adalah polutan   yang berbentuk makhluk hidup yang dapat menimbulkan  pencemaran, misalnya bakteri E.Coli, tumbuhan gulma dsb.

Sumber utama limbah padat industri ; (a) limbah padat proses industri (b) limbah padat hasil pengolahan  emisi udara.

Limbah padat (tidak beracun) kantor dan sumber kecil lainnya yang sukar diidentifikasi dan dihitung sendiri, tidak termasuk dalam kategori ini. Biasanya limbah semacam ini diambil bersama dengan  sampah domestik/rumah tangga dan termasuk dalam faktor  beban limbah  padat dari kota.

Industri yang mengolah limbah cairnya sendiri dapat menghasilkan limbah padat, yang umumnya berbentuk endapan. Endapan ini biasanya bersifat racun, sehingga pengumpulan  dan pembuangan  perlu mendapat  perhatian yang khusus. Mungkin  pengolahan limbah cairnya  akan menghasilkan endapan, yang pembuangannya menjadi masalah, terutama pembuangannya ke sungai-sungai kecil dekat lingkungan masyarakat yang dampaknya dapat menyebabkan terganggunya kesehatan dan kenyamanan lingkungan rumah sehingga bagi masyarakat yang tidak dapat beradaptasi  dengan menjaga serta memelihara lingkungan rumah maka akan terjadi efek negatif bagi kesehatan badan  dan lingkungan rumah.

4)      Sanitasi Lingkungan

Lingkungan merupakan suatu tempat yang paling utama dalam kelangsungan makhluk hidup untuk dapat berinteraksi saling mempengaruhi antara makhluk hidup dengan makhluk tak hidup yang kesemua itu perlu adanya penunjang sarana dan prasarana yang sehat dari mulai keadaaan sampai dengan perilaku untuk mencapai kenyamanan dalam hidup.

Hal di atas sesuai dengan yang terdapat dalam Undang-undang No.4 Tahun 1982 BAB I Pasal 1 (Prihantoro,1989:2) yaitu : “Lingkungan hidup adalah  kesatuan ruang dengan semua benda, daya. keadaan, dan makhluk hidup, termasuk didalamnya  manusia dan perilakunya yang mempengaruhi kelangsungan  perikehidupan  dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya”.

Manusia dalam melangsungkan kehidupannya butuh makan minum dan kebutuhan lainnya yang sangat penting sekali untuk mencapai kesejahteraan. Dan hal itu manusia tidak bisa sendirian dan tak mungkin bisa bertahan dalam memenuhi kebutuhannya hanya menggantungkan pada manusia saja tetapi manusia membutuhkan makhluk hidup lain yaitu hewan, tumbuhan, benda-benda tak hidup/jasad renik dalam artian saling melengkapi, maka kebutuhan manusia akan mencapai kesejahteraan.

Hal ini sesuai dengan pendapat Soemarwoto (2001:51). bahwa“Lingkungan yaitu manusia hidup  di bumi tidak sendirian, melainkan bersama makhluk lain yaitu tumbuhan , hewan dan tumbuhan serta jasad renik”

Lingkungan yang sehat maka akan mewujudkan manusia yang sehat pula jika lingkungan itu dirawat dan sanitasinya dioptimalkan dengan adanya saluran air yang bersih tidak tersendat sampah lingkungan rumah yang indah sejuk tanpa sampah maka penyakit pun tidak akan muncul, sebaliknya jika manusia malas dalam upaya perawatan lingkungan maka akan menimbulkan berbagai penyakit, iklim yang penat. Hal ini sesuai dengan pendapat Kalligis, (1994:34). bahwa:“Lingkungan pada hakikatnya adalah suatu kondisi  atau keadaan lingkungan yang optimum  sehingga berpengaruh  positif terhadap  terwujudnya status kesehatan  yang optimum pula”

Pemeliharaan lingkungan tidak hanya bagian luar rumah atau lingkungan saja tetapi perawatan diripun harus secara terus menerus karena kalau perawatan diri sudah dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari maka dalam perawatan lingkunganpun dapat di realisasikan, jika manusia sudah bisa merawat diri dan lingkungan, maka pemikirannya akan dapat terkonsentrasi dalam pemenuhan kebutuhan lain misalnya dalam mata pencaharian, hubungan sosial dengan manusia lainnya sehingga kesejahteraan dalam berbagai asfek akan terwujud. Hal di atas sesuai dengan pendapat Entjang (2000:37), bahwa :“Sanitasi lingkungan adalah pengawasan lingkungan fisik, biologis, sosial, dan ekonomi yang mempengaruhi kesehatan manusia, dimana lingkungan yang berguna  ditingkatkan dan diperbanyak  sedangkan yang  merugikan diperbaiki dan dihilangkan”

Ketika manusia sudah bisa memenuhi kebutuhan hidupnya dalam berbagai asfek, maka manusia harus mempertahankan kebiasan dalam pemeliharaan lingkungan tersebut dalam artian harus ada pengawasan secara teratur terhadap lingkungan dan pencegahan  agar pada suatu hari tidak timbul suatu penyakit. Hal ini sesuai dengan pendapat, Daryanto (2004:135-137), bahwa:“Sanitasai ialah usaha kesehatan masyarakat yang menitikberatkan kepada pengawasan  terhadap berbagai  faktor lingkungan  yang mempengaruhi derajat kesehatan manusia, jadi lebih mengutamakan usaha pencegahan terhadap berbagai  faktor lingkungan sedemikian rupa sehingga munculnya penyakit  dapat dihindari”.

Dalam memelihara lingkungan  manusia harus mempunyai ilmunya agar dalam melakukan perawatan dapat dilakukan secara benar dan sistematis. Hal ini sesuai dengan pendapat Soeriatmadja (1976:20) bahwa :“Ilmu lingkungan mengintegrasikan  berbagai ilmu yang mempelajari hubungan antara jasad hidup (termasuk manusia) dengan lingkungannya, didalamnya  berbagai  disiplin ilmu seperti  sosiologi, epidemiologi, kesehatan masyarakat, planologi, geografi, ekonomi, meteorology, hidrologi, pertanian, kehutanan, peternakan sekaligus dipandang dalam  suatu ruang lingkup serta persepektif yang luas dan saling berkaitan”

Lingkungan akan nyaman dan indah tergantung dari upaya manusia dalama pengawasan dan pencegahannya, jika semua itu sudah dapat di laksanakan maka tidak hanya manusia yang merasakan ketentraman hewan dan tumbuhan juga dapat tumbuh dan berkembang dengan baik dan akan memberikan kontribusi yang dapat menguntungkan manusia karena lingkungan tempat beradanya berbagai macam benda hidup dan tak hidup yang sangat kumplit. Hal ini sesuai dengan pendapat Djamal (2003:5) bahwa:“Lingkungan adalah suatu sistem kompleks yang berada di luar individu yang mempengaruhi pertumbuhan  dan perkembangan organisme”

Kesejahteraan manusia dalam lingkungannya harus bisa menyesuaikan atau berdaptasi jangan sampai terlarut dalam melakukan aktivitas-aktivitas yang nantinya akan menimbulkan hal negatif, maka dalam memelihara lingkungan harus betul-betul dipikirkan  aktivitas yang akan menimbulkan dampak negatif dan posifnya agar nantinya dapat mendapatkan solusi ketika terjadi ketidak seimbangan terhadap lingkungan dan makhluk hidup. Hal diatas sesuai dengan pendapat Suratmo (2002: 57), yaitu :“Lingkungan ialah suatu telaahan secara garis besar tentang rencana kegiatan yang akan dilaksanakan, rona lingkungan tempat kegiatan, kemungkinana timbulnya  dampak lingkungan  oleh kegiatan tersebut  dan rencana kegiatan  pengendalian dampak negatifnya”

Setelah melihat rumusan yang telah dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan  bahwa sanitasi lingkungan berkaitan dengan pengupayaan yang mengutamakan kesehatan dan kesejahteraan manusia pada suatu lingkungan terutama lingkungan rumah, halaman rumah yang setiap hari berinteraksi dengan manusia.

5)      Limbah Pabrik

Dalam suatu lingkungan masyarakat dewasa ini banyak home-home industri yang efektifitasnya sangat negatif bagi lingkungan yaitu dalam pembuangan limbah yang tidak sedikit dibuang tanpa ada pengolahan limbah terlebih dahulu sehingga dapat menimbulkan kerugian bagi manusia tidak hanya sungai-sungai yang mengalami kerusakan tetapi tumbuhan di sekitar sungai tersebut juga mengalami dampak negatifnya. Hal ini sesuai dengan pendapat Daryanto (2004:73-75), yaitu :“Limbah adalah benda atau zat yang mengandung  berbagai zat  bersifat membahayakan  kehidupan manusia dan hewan  dan umumnya muncul karena hasil perbuatan manusia  termasuk dari industrialisasi”

Limbah dapat ditemukan dimana saja yaitu di tempat-tempat berdirinya suatu home-home industri atau pabrik-pabrik yang umumnya menggunakan tenaga mesin sehingga dampaknya bagi lingkungan sekitar berdirinya industri  tersebut, dan hal itu tentu saja merugikan masyarakat setempat. Hal di atas sesuai dengan pendapat Djajadiningrat dan Harsono (1998:15), bahwa:“Limbah adalah suatu zat yang dihasilkan dari berbagai jenis kegiatan penyebab pencemaran  yang dapat dijumpai di suatu areal studi”

Pembuangan limbah yang berbentuk cair sangat respek sekali terhadap lingkungan karena selain menyerap dalam tanah juga dapat menimbulkan penyakit kulit jika limbahnya di buang ke saluran-saluran air seperti sungai-sungai dekat perumahan penduduk karena cairannya itu mengandung zat-zat yang membahayakan. Hal ini sesuai dengan pendapat Kalligis (1994:36), bahwa:“Air limbah/air buangan ialah sisa-sisa air yang dibuang, bisa berasal dari rumah tangga, industri, maupun tempat-tempat umum lainnya. Umumnya mengandung bahan-bahan yang membahayakan lingkungan”

Setelah melihat rumusan yang telah dikemukakan di atas, maka dapat disimpulkan  bahwa limbah yaitu sisa-sisa atau buangan zat-zat  dan bahan-bahan yang tidak dapat dimanfaatkan  lagi yang apabila  tidak diolah lagi limbah tersebut maka akan terjadi pencemaran yang sangat membahayakan  bagi lingkungan.

B.     Tinjauan tentang Sikap

1.      Pengertian tentang Sikap

Sikap merupakan faktor psikologi yang terdapat pada diri individu yang dapat mendorong timbulnya tingkah laku seseorang. Sikap ini dapat menentukan bagaimana individu bereaksi terhadap situasi atau objek-objek tertentu yang dihadapinya. Menurut Purwanto (2000:141), “ Sikap atau dengan yang dalam Bahasa Inggris di sebut dengan istilah attitude adalah suatu cara bereaksi terhadap suatu perangsang “ atau kata lain adalah suatu kecenderungan untuk bereaksi dengan cara tertentu terhadap suatu perangsang atau situasi yang dihadapi.

Konsep sikap merupakan salah satu konsep sentral dalam psikologi sosial. Dimana tindak lanjut masyarakat untuk melakukan suatu respon dengan perilaku yang berbeda-beda. Dengan sikap, maka seseorang akan bisa mendapatkan pedoman dalam mengaplikasikan tindakannya. Akan tetapi menurut Sulistiawati (2004:19), tidak semua perilaku seseorang akan sesuai  dengan sikapnya, kadang-kadang seseorang harus melakukan sesuatu hal yang memang sangat bertentangan dengan sikap sebenarnya.

Hal diatas menunjukan bahwa ketidaksesuaian sikap dengan perbuatan yang meliputi cara-cara yang ada berdasarkan suka dan tidak suka masyarakat terhadap lingkungan dapat terjadi.

Sikap merupakan hal yang identik  dengan perilaku seseorang, karenanya perilaku seseorang dapat dilihat dari sikapnya, tetapi perilaku yang ditampilkan seseorang belum tentu menunjukan sikapnya.

Alkitson dan kawan-kawan (2001:22), menyatakan tentang kecenderungan sikap dalam prediksi perilaku, yaitu : Pada umumnya sikap cenderung memprediksi perilaku, jika (a) kuat dan konsisten; (b) berdasarkan pengalaman langsung seseorang;(c) secara spesifik berhubungan dengan perilaku yang diprediksikan.

Sikap masyarakat terhadap pemeliharaan dan penjagaan lingkungan, merupakan akibat dari pengetahuan dan pemahaman yang diperolehnya dari hasil pendidikan yang telah diperoleh, akan ditandai dengan adanya perubahan sikap.

Perubahan ini diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat yang memahami bahwa pengaruh pengolahan produksi kulit  yaitu limbahnya yang dibuang ke sungai-sungai kecil dekat rumah-rumah akan menyebabkan perubahan lingkungan. Limbah setiap menit atau bahkan detik terus mengalir ke sungai-sungai kecil dekat rumah-rumah.

2.      Pengukuran Sikap

Sikap merupakan salah satu aspek yang paling penting dalam diri manusia, karena itu perlu penelitian yang  menyelidiki tentang sikap. Untuk itu dibutuhkan cara untuk dapat mengukur sikap seseorang.

Nasution (1996:109) mengemukakan bahwa “secara umum dikenal pengukuran proyektif pengukuran objektif. Pengukuran proyektif ialah  dengan memberikan suatu stimulus kepada seseorang misalnya dalam bentuk gambar yang bersangkutan membuat penafsiran  sendiri tentang stimulus  yang dilihatnya. Pengukuran objektif caranya  ialah dengan memberikan  stimulus dengan memberikan stimulus dalam bentuk tulisan  yang terperinci, dan diharapkan yang bersangkutan  akan memilih salah satu  alternatif jawaban  yang terbaik menurut perasaannya. Dalam pengukuran skala sikap  ada bermacam-macam, yaitu skala Likert, skala Thurstones, skala pilihan berganda, skala Guttman dan lain-lain.

Dalam proses penelitian ini  jenis skala sikap yang digunakan  adalah skala Likert. Skala Likert yaitu pengukuran sikap yang dibuat  dengan menampilkan pernyataan terlebih dahulu, kemudian diikuti dengan menampilkan  beberapa alternatif pilihan yang sama untuk setiap soalnya. Pernyataan yang digunakan dalam skala Likert  berbentuk pernyataan positif dan pernyataan negatif. Alternatif pilihan  untuk setiap soal, yaitu SS = Sangat Setuju, S = Setuju, T = Tidak Tahu, TS = Tidak Setuju,      STS = Sangat Tidak Setuju.


BAB III

METODE PENELITIAN

 

A.    Definisi Operasional

1.      Pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan adalah pengetahuan yang diperoleh selama pembelajaran formal, informal dan non formal, pada konsep lingkungan khususnya tentang limbah pabrik kulit. Pemahaman ini diukur dengan menggunakan tes angket.

2.      Sikap masyarakat dalam menjaga lingkungan adalah bagaimana sikap masyarakat dalam menjaga dan memelihara lingkungannya dari berbagai gangguan yang akan mengakibatkan terganggunya lingkungan. Sikap ini diukur dengan menggunakan instrumen skala sikap.

B.     Metode Penelitian

  1. Metode penelitian

Metode penelitian yang dipakai dalam penelitian ini adalah metode penelitian  korelasional, yaitu suatu metode untuk mngetahui ada tidaknya hubungan antara tingkat pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan dengan sikap masyarakat terhadap limbah pabrik Sukaregang Garut dalam bentuk koefesian korelasi.

Dengan menggunakan metode ini, penulis bertujuan untuk memberikan deskripsi secara sistematis, aktual dan akurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan fenomena yang terjadi sekarang, juga berupaya untuk menggunakan ada tidaknya hubungan  antara pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan  dengan sikapnya  terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang Garut.

Ada dua variabel dalam penelitian ini, yaitu variabel bebas  dan variabel terikat. Variabel bebasnya adalah pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan, sedangkan yang menjadi variabel terikatnya adalah sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang.

Pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan menunjukan bagaimana masyarakat memahami sanitasi lingkungan secara teoritis yang diukur dengan menggunakan tes pemahaman angket, sedangkan yang dimaksud dengan sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit  di Sukaregang adalah salah satu upaya untuk mengetahui sikap masyarakat terhadap sanitasi lingkungan.

Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain korelasional yang dapat digambarkan dalam bentuk bagan sebagai berikut:

X                                                             Y

Keterangan: X adalah Variabel bebas, yaitu pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan. Sedangkan Y adalah Variabel terikat, yaitu sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang Garut.

C.    Tempat dan waktu Penelitian

Yang menjadi tempat penelitian adalah RW 12 Sukaregang Garut, dan waktu penelitian dimulai pada bulan April sampai dengan bulan Mei Tahun 2007.

D.    Populasi dan sampel

1.      Populasi

Yang menjadi populasi pada penelitian ini adalah seluruh masyarakat Sukaregang di RW 12 sebanyak 139 Kepala Keluarga (KK), karena di RW ini sebagian besar terdapat pabrik kulit.

2.      Sampel

Untuk mengambil sampel dari populasi itu, maka ditentukan dengan tekhnik sampling. Jumlah masyarakat yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah 30 Kepala Keluarga (KK) dari 139 KK.

E.     Instrumen Penelitian

Instrumen penelitian yang digunakan dalam penelitian ini ada 2 bentuk, yaitu :

  1. Tes pemahaman dengan angket tentang sanitasi lingkungan.

Kisi-kisi tes pemahaman antara lain :

 

 

 

Tabel 1.1 Kisi-kisi tes pemahaman

No Materi Nomor angket Jumlah
1 Pengolahan sampah 1, 2, 4, 8, 14, 17, 19, 27, 28 9
2 Pemeliharaan lingkungan 3, 5, 6, 7, 9, 10, 11, 12, 13, 15, 18, 20, 22, 23, 24, 25, 26, 29, 30 19
3 Kesehatan dan ketidakpedulian terhadap lingkungan 16, 21 2
Jumlah 30
  1. Tes sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang Garut dengan menggunakan skala Likert.

Kisi-kisi mengenai sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang Garut antara lain :

Tabel 1.2 Kisi-kisi pernyataan  sikap

No Materi Butir Pernyataan Jumlah
1 Sikap masyarakat dalam pemeliharaan lingkungan dari limbah 1, 5, 7, 8, 9,10, 11, 14, 15, 16, 18, 19, 20, 22, 23, 24, 25, 26, 27, 29, 30, 28 22
2 Manfaat lingkungan bersih dari limbah 2, 3, 4, 6, 12,. 21, 6
3 Dampak ketidakpedulian 13, 17 2
Jumlah 30

Guna menghasilkan instrumen yang benar-benar baik dan dapat menjamin keterukuran mengenai apa yang hendak diukur, maka terlebih dahulu dilakukan observasi dan penganalisisan terhadap instrumen yang digunakan dengan langkah-langkah sebagai berikut :

1.      Pengolahan Data

Data yang terkumpul dikelompokan kedalam dua skor yang terbentuk angka yaitu :

a.       Skor hasil pemahaman sebagai variabel bebas (x)

b.      Skor sikap sebagai variabel terikat (y)

2.      Prosedur Statistik

Uji Prasarat

1)      Uji normalitas data

Untuk menguji kenormalan data digunakan rumus ( Uji X2 ).

1.      Menentukan rentang

Data terbesar – data terkecil

2.      Menentukan banyak kelas

K = 1 + 3,3 log n

3.      Menentukan panjang kelas

P =

4.      Menentukan  dan S

5.      Membuat tabel frekuensi observasi dan ekspektasi serta menghitung nilai X2 hitung.

X2 hitung =

Penentuan kenormalan data dilakukan dengan membandingkan antara nilai korelasi yang dihasilkan dari perhitungan dengan nilai korelasi dari tabel yaitu pada tarap kepercayaan 95%  dengan kriteria keputusan sebagai berikut :

Jika X2 hitung < X2 tabel pada tarap kepercayaan 95 % maka data tersebut normal pada tarap kepercayaan 95%.

Berdasarkan hasil perhitungan kenormalitasan data, bahwa dari 30 butir angket tes pemahaman dan 30 angket tes sikap  berdistribusi normal.

Hasil pengujian terlampir.

2)      Menentukan Persamaan dan Linieritas Regresi(Sudjana,1996:312)

1.      Persamaan Regresi

Rumus persamaan regresi adalah :

Y = a  + bx

Dengan :

a =

b =

2.      Linieritas Regresi

3)      Uji Korelasi

Bila   kedua sampel berdistribusi normal dan regresinya linier, maka dilakukan pengujian dengan menggunakan uji korelasi product moment. (Arikunto, Suharsimi, 2005:75)

Langkah-langkah pengujiannya adalah : (Suharsimi, 2005:75)

1.      Mencari nilai r dengan rumus :

rxy =

Keterangan :

rxy = Koefesien korelasi antara variabel x dan variabel y, dua variabel yang dikorelasikan.

2.      Menentukan derajat kebebasan

3.      Menentukan nilai t dari daftar dengan = 0,05

4.      Kriteria pengujian dilakukan dengan menguji nilai r hitung  dengan rtabel. Apabila rhitung  lebih dari r tabel   maka kedua variabel memiliki hubungan yang signifikan.

F.     Prosedur  Penelitian

Ada 3 tahapan dalam prosedur penelitian ini, yaitu :

1.      Tahap persiapan

Sebelum melakukan penelitian, ada beberapa hal yang perlu dipersiapkan oleh peneliti, yaitu :

a.       Membuat proposal penelitian

b.      Pengajuan proposal untuk mendapatkan pengesahan dari Dewan Bimbingan Skripsi (DBS)

c.       Seminar Proposal

d.      Surat Keputusan (SK) dosen pembimbing dari Ketua STKIP

e.       Surat izin dari Direktur Pabrik Kulit Sukaregang yang akan dijadikan penelitian.

2.      Tahap Pelaksanaan

Peneliti melakukan  penelitian ini ditempat yang telah ditentukan, yaitu melakukan pengumpulan data.

3.      Tahap Penelitian

Peneliti melakukan pengolahan data hasil penelitian.

4.      Prosedur Analisis Data

Setelah data terkumpul, maka dilakukan tahap pengolahan data, yang tahapannya adalah sebagai berikut :

1)      Pemberian nilai pada tes pemahaman

2)      Pemberian skor pada skala sikap masyarakat

3)      Analisis pengolahan data dengan langkah-langkah sebagai berikut :

a)Pengolahan data

Data yang terkumpul dikelompokkan ke dalam dua skor yang berbentuk angka  yaitu :

1.      Skor hasil pemahaman sebagai variabel bebas ( X )

2.      Skor Sikap sebagai variabel terikat ( Y )

b)      Prosedur Statistik

Uji Prasyarat

1.      Uji Normalitas data

2.      Menentukan Persamaan dan Linieritas Regresi   (Sudjana,1996:312)

a)      Persamaan regresi

Rumus persamaan regresi adalah :

Y = a  + bx

Dengan :

a =

b =

b)     Linieritas Regresi

3.      Uji Korelasi

Bila   kedua sampel berdistribusi normal dan regresinya linier, maka dilakukan pengujian dengan menggunakan uji korelasi product moment. (Arikunto, Suharsimi, 2005:75)

Langkah-langkah pengujiannya adalah : (Arikunto, Suharsimi, 2005:75)

Mencari nilai r dengan rumus :

rxy =

Keterangan :

rxy = Koefesien korelasi antara variabel x dan variabel y, dua variabel yang dikorelasikan.

Menentukan derajat kebebasan

5.      Menentukan nilai t dari daftar dengan = 0,05

6.      Kriteria pengujian dilakukan dengan menguji nilai r hitung  dengan rtabel. Apabila rhitung  lebih besar dari r tabel  maka kedua variabel memiliki hubungan yang signifikan.

7.      Menentukan kriteria  (Suharsimi, 1997:260)

Tabel 1.3 Interpretasi nilai r

Besarnya nilai r Interpretasi
0,800 – 1,00 Tinggi
0,600 – 0,800 Cukup
0,400 – 0,600 Agak rendah
0,200 – 0,400 Rendah
0,000 – 0,200 Sangat rendah (tak berkorelasi)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

 

A.    Hasil Penelitian

Berdasarkan hasil pengumpulan data yang dilakukan, maka dapat dikemukakan hasil penelitian sebagai berikut :

1.      Tingkat pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan.

Merupakan satu permasalahan yang harus diketahui dengan jelas, mengingat pemahaman tersebut merupakan salah satu variabel dalam penelitian ini.

Berdasarkan data yang terkumpul diketahui bahwa nilai tertinggi yang diperoleh masyarakat adalah 100 dan terendah adalah 43. sedangkan nilai rata-rata yang dicapai oleh masyarakat hanya sebesar 78,36. Hal ini menunjukan  bahwa tingkat pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan cukup baik  sesuai yang diharapkan.

2.      Sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang.

Variabel lain yang menjadi permasalahan dalam penelitian ini adalah sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit  di Sukaregang. Sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang dimaksudkan sebagai suatu sikap yang mampu menyelaraskan, menyeimbangkan serta menerapkan pengetahuan yang diperoleh terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang dalam kehidupan sehari-hari.

Untuk mengetahui sikap masyarakat  Sukaregang Garut terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang, penulis menganalisis jawaban  dari angket dengan ketentuan kriteria sebagai berikut :

Jumlah item pernyataan 30 item pernyataan, dan nilai skala pengukuran terbesar = 5, sedangkan skala pengukuran terkecil = 1, sehingga diperoleh nilai ideal yang diharapkan terbesar adalah 100, dan jumlah terkecil 30, sehingga diperoleh klasifikasi kriteria penilaian persentase sebagai berikut: (Suharsimi, 1997 : 251)

Tabel 1.4

Kriteria Penilaian

 

No SKOR KRITERIA PENGUKURAN
1 80 – 100 Baik Sekali
2 66 – 79 Baik
3 56 – 65 Cukup
4 40 – 55 Kurang
5 30 – 39 Gagal

Berdasarkan kriteria tersebut, dapat dikemukakan bahwa sikap masyarakat Sukaregang terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang adalah baik, hal ini ditunjukan dengan skor rata-rata yang diperoleh masyarakat sebesar 77,6. Secara individual sikap masyarakat Sukaregang Garut terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang ada yang mencapai kriteria baik sekali yaitu dengan nilai 93, dan sikap yang paling rendah dicapai sebesar 63 yang menunjukan sikap cukup.

3.      Hubungan pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan dengan sikap masyarakat terhadap  limbah pabrik kulit di Sukaregang Garut.

Dalam upaya mengetahui, meyakini dan membuktikan ada tidaknya korelasi atau hubungan antara pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan dengan sikapnya terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang dilakukan dengan pengujian statistik. Beberapa langkah yang dilakukan  dalam pengujian statistik ini antara lain :

a.       Pengujian Data ( Uji Prasyarat )

Uji prasyarat yang dilakukan antara lain uji normalitas data dan uji linieritas data. Hasil kedua pengujian tersebut dapat disarikan sebagai berikut :

1)      Uji normalitas data

a)      Pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan

Hasil pengujian terhadap normalitas data pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan dengan menggunakan uji Chi Kuadrat, dapat diamati pada tabel berikut :

Tabel 1.5

Hasil Uji Normalitas Data  Variabel Pemahaman

Masyarakat tentang Sanitasi Lingkungan

DK 2 Hitung 2Daftar 0,95 (3) Keputusan
3 4,63 7,81 Normal

Dari tabel uji normalitas pada variabel pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan  di atas, diperoleh  2 Hitung = 4,63dan 2Daftar 0,95 (2) = 7,81. dari hasil tersebut  ternyata 2hitung 0,95 (3) <2Daftar 0,95 (3), hal ini menunjukah bahwa data pada variable pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkunagan berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

b)      Uji normalitas data sikap masyarakat terhadap limbah  pabrik kulit di Sukaregang.

Sedangkan hasil pengujian terhadap data sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang, dengan menggunakan cara yang sama seperti pengujian normalitas data pemahaman, diperoleh hasil seperti pada tabulasi berikut.

           Tabel 1.6

Hasil Uji Normalitas Data  Variabel Sikap

Masyarakat terhadap Limbah Pabrik Kulit di  Sukaregang

 

DK 2 Hitung 2Daftar 0,95 (3) Keputusan
3 4,82 7,81 Normal

Dari tabel uji normalitas pada variabel pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan  di atas, diperoleh  2 Hitung = 4,82dan 2Daftar 0,95 (3) = 7,81. Dari hasil tersebut  ternyata 2hitung 0,95 (3) <2Daftar 0,95 (3), hal ini menunjukan bahwa data pada variabel sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang berasal dari populasi yang berdistribusi normal.

2)      Linieritas

Uji linieritas dimaksudkan untuk mengetahui tingkat kesejajaran antara 2 variabel  yaitu antara tingkat pemahman tentang sanitasi lingkungan dengan sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang. Untuk mengetahui hal tersebut, uji linieritas ini diawali dengan penentuan persamaan linieritas regresi yang penulis paparkan pada tabel berikut .

   Tabel 1.7

Hasil Uji Linieritas Regresi

 

 

KETERANGAN

NILAI
Pemahaman ( X ) Sikap( Y )
Persamaan regresi

Dbtc

Dbkk

F tc

F tabel

Y = 80,53 + 0,002 X

10

18

0,42

2,41

Dari tabulasi di atas tampak bahwa Fhitung = 0,42 < F 0,05 (Dbtc/Dbkk) = 2,41 , maka regresi disebut linier. Hal ini sesuai dengan kriteria Nurgana (1985:62) bahwa jika Fhitung <Fdaftar linieritas regresi dikatakan linier.

Karena hasil perhitungan uji normalitas dan linieritas data berdistribusi normal dan linier, maka data penelitian ini memenuhi syarat analisis koefesien korelasi ( r ).

b.      Pengujian Hipotesis

Berdasarkan uji prasyarat tersebut, maka uji hipotesis yang dilakukan adalah uji korelasi. Berdasarkan hasil perhitungan, diketahui bahwa nilai r ( korelasi ) yang dihasilkan sebesar 0,15. Nilai korelasi tersebut merupakan korelasi yang sangat rendah. Artinya antara pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan dengan sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang mempunyai korelasi yang sangat rendah.

Di samping itu untuk mengetahui besarnya pengaruh yang ditimbulkan oleh pemahaman tentang sanitasi lingkungan terhadap sikap masyarakat dihitung dengan koefesien determinasi. Hasil perhitungan menunjukan bahwa nilai koefesien determinasi kedua variabel tersebut adalah 22,5 %. Artinya 22,5 % sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang akan ditentukan oleh tingkat pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan, sedangkan 77,5 % lagi ditentukan oleh pengaruh lain.

B.     Pembahasan

Berdasarkan hasil analisis pada bagian sebelumnya, diketahui bahwa tingkat pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan dengan nilai baik, yaitu mencapai nilai rata-rata sebesar 78,36. Hal ini disebabkan berbagai faktor. Salah satunya yang terpenting sebagai komponen input atau input device yang baik. Sarana input atau masukan yang baik ini disebabkan pula karena secara spesifik pengetahuan sanitasi lingkungan didapat oleh semua lapisan masyarakat.

Di samping itu pemahaman masyarakat tentang suatu konsep, sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor itu bisa berasal dari dalam dirinya sendiri maupun dari luar. Disini kita akan kemukakan beberapa faktor yang sangat berpengaruh terhadap pemahaman masyarakat tentang suatu konsep tertentu khususnya tentang lingkungan.

Karakteristik masyarakat merupakan salah satu faktor penting yang pengaruhnya sangat signifikan terhadap pemahaman masyarakat akan suatu konsep tertentu. Karakteristik masyarakat ini merujuk kepada faktor-faktor yang ada di dalam diri masyarakat tersebut. Seperti kita ketahui, bahwa faktor-faktor yang ada di dalam diri individu masyarakat tersebut ini merupakan modal bagi masyarakat yang akan memberikan motivasi dan menstimulir dalam pelaksanaan proses aplikasi sanitasi lingkungan. tetapi tidak menutup kemungkinan kalau itu akan menjadi faktor penghambat.

Faktor-faktor yang terdapat di dalam diri masyarakat yang bisa meningkatkan terhadap pemahaman masyarakat akan suatu konsep tertentu, yaitu : luasnya kemampuan (intelektual) masyarakat, minat dan motivasinya baik, sikap yang positif terhadap lingkungan dan sanitasinya, kebiasaan hidup yang teratur yaitu dengan melalaikan kewajiban dan menganggap perlu suatu pekerjaan, dan cukup matang dan siap untuk terjun secara kontinyu dalam pemeliharaan lingkungan.

Faktor selanjutnya yang sangat menunjang terhadap pemahaman masyarakat tentang suatu konsep tertentu adalah berasal dari sarana yang tersedia atau yang disebut sebagai instrumental input. Faktor-faktor yang merupakan sarana penunjang ini bisa menjadi salah satu faktor yang menyebabkan meningkatnya pemahaman masyarakat akan suatu konsep tertentu.

Faktor-faktor yang menyebabkan meningkatnya pemahaman masyarakat akan suatu konsep tertentu yang berasal dari memadainya sarana penunjang, yaitu : tersedianya alat-alat kebersihan, lokasi yang cukup luas dalam aliran sungai, saling berdempetannya rumah-rumah antar masyarakat sehingga pemeliharaan kebersihan misalnya tempat sampah selalu tersedia tiap rumah dan tidak saling mengandalkan sehingga tempat tinggal terlihat selalu bersih, cukup menguasai dalam penjagaan lingkungan dari kerusakan, beberapa sifat pribadi yang menguntungkan atau menunjang terhadap kewajiban perananya sebagai masyarakat yang sehat.

Selanjutnya faktor yang sangat berpengaruh terhadap pemahaman masyarakat dikenal sebagai masukan lingkungan. Faktor ini secara langsung ataupun tidak langsung bisa mempengaruhi terhadap peran dari masukan instrumen yang memproses masukan mentah ( masyarakat ).

Faktor-faktor yang termasuk ke dalam faktor lingkungan ini, yang meningkatnya pemahaman tentang pengetahuan masyarakat yaitu:

-          Di lingkungan rumah : udara yang sehat dan mendukung untuk memelihara  kebersihan serta daya dukung fasilitas kebersihan yang baik atau tersedia.

-          Di lingkungan masyarakat : tersedia tempat yang luas untuk saluran air sungai/selokan untuk kelancaran pembuangan limbah limbah.

Kedua komponen yang telah dikemukakan di atas, mempunyai pengaruh yang sangat signifikan terhadap proses pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan dalam suatu konsep tertentu. Karena itu kita bisa menganggap mudah terhadap komponen yang telah diungkapkan di atas.

Di samping itu setelah melihat dari pengukuran sikap terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang, di sana diketahui akan kecenderungan masyarakat yang bersikap positif dan kecenderungan masyarakat yang bersikap negatif. Akan tetapi secara umum sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang dikategorikan baik. Hal ini ditunjukan dengan rata-rata sikap masyarakat sebesar 77,6. Kondisi sikap masyarakat yang kurang baik ini tentunya dipengaruhi oleh beberapa faktor.

Sikap masyarakat terbentuk akibat adanya interaksi yang dialami oleh masyarakat tersebut. Dalam suatu interaksi tentunya akan terjadi suatu proses pengaruh mempengaruhi terhadap sesama. Dalam suatu interaksi sosial, masyarakat akan bereaksi dengan membentuk suatu pola sikap tertentu yang tentunya disesuaikan dengan kondisi objek yang sedang dihadapi. Di sini akan dikemukakan beberapa faktor yang mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap sikap yang biasa diekspresikan oleh masyarakat.

Pandangan pribadi. Setiap kejadian ataupun peristiwa yang menimpa masyarakat  akan sangat berpengaruh terhadap pola sikap yang akan dibentuk dalam diri masyarakat tersebut. Suatu reaksi ataupun tanggapan yang diekspresikan oleh masyarakat akan menjadi dasar terbentuknya pola sikap masyarakat tersebut. Dan tentunya seseorang itu akan memberikan suatu tanggapan ataupun respon terhadap suatu peristiwa atau kejadian secara spesifik yang akan menjadi suatu pengalaman sendiri.

Tak dapat dipungkiri lagi kejadian yang dialami oleh manusia akibat tidak peduli terhadap lingkungan mengakibatkan keprihatinan yang sangat dalam bagi masyarakat.

Pengalaman yang dialami oleh seseorang itu akan membentuk suatu sikap yang negatif ataupun sikap yang positif dipengaruhi oleh beberapa faktor. Dan biasanya seseorang akan mempunyai kecenderungan untuk bersikap negatif, apabila dia tidak mempunyai pengalaman sama sekali akan suatu objek psikologis tertentu.

Pengalaman-pengalaman hidup, kejadian-kejadian yang dialami juga sangat berperan dalam menciptakan pemikiran seseorang, sehingga membentuk suatu paradigma yang melekat di dalam pikirannya. (Agustian, 2001 : 24). Sehingga tidak menutup kemungkinan jika seseorang itu akan terbentuk oleh lingkungan sosialnya sendiri. Baik atau buruknya sikap seseorang terhadap suatu objek tertentu tergantung dari lingkungan sosialnya, sehingga baik disadari maupun tidak disadari paradigma yang terbentuk akibat pengalaman itu akan menjadi tolak ukur bagi dirinya untuk menilai suatu objek tertentu.

Pengaruh orang lain yang dianggap penting, sikap seseorang (masyarakat) sangat dipengaruhi  oleh orang-orang di sekitarnya, misalnya ketika masyarakat yang satu membuang sampah ke selokan atau ke sungai maka perlahan-lahan masyarakat yang lainnyapun ikut-ikutan. Terutama orang-orang yang dianggap penting bagi dirinya. Orang-orang itu biasanya adalah para kepala keluarga/ anggota keluarga dewasa, teman dan masyarakat lainnya.

Seorang masyarakat akan memiliki kecenderungan untuk berafiliasi dengan orang-orang yang dianggap penting itu, sehingga dia akan memiliki sikap yang cenderung searah dengannya. Dan tidak menutup kemungkinan, sikap yang ditampilkan itu  bertujuan untuk menghindari  konflik dengan orang-orang dianggap penting tersebut.

Sikap yang terbentuk karena pengaruh orang yang dianggap penting oleh masyarakat dapat dilihat pula pada situasi dimana terdapat hubungan atasan-bawahan (Azwar, 2003:33). Seringkali sikap yang ditampilkan oleh masyarakat itu

Tanpa disadari terbentuk karena semata-mata di dasarkan pada suatu kepercayaan terhadap orang tersebut, atau bisa juga karena otoritas dari orang yang dianggap penting.

Pengaruh kebudayaan. Faktor ini tidak kalah pentingnya dalam membentuk pola sikap masyarakat. Seorang masyarakat akan memiliki kecenderungan untuk bersikap apatis dan bahkan mendukung suatu perilaku yang bertentangan dengan norma, apabila dia hidup di dalam lingkungan budaya yang lemah.

Suatu pola sikap yang mendapatkan reinforcement dari suatu masyarakat untuk sikap tersebut, tidak diperuntukan untuk sikap yang lain. Dan di sini kita bisa menyatakan bahwa sikap itu bersifat khusus sesuai dengan kondisi yang dihadapi atau kondisional.

Tanpa disadari kebudayaan akan berpengaruh terhadap sikap masyarakat dalam menghadapi suatu persoalan. Hanya individu yang memegang prinsip yang kuat  yang bisa lepas dari pengaruh ini walaupun tidak lepas seutuhnya.

Lembaga pendidikan dan lembaga agama.  Pendidikan serta lembaga agama sebagai suatu sistem mempunyai pengaruh dalam pembentukan sikap dikarenakan keduanya meletakan dasar pengertian dan konsep moral dalam diri individu (Azwar, 2003 : 35). Konsep moral dan ajaran agama sangat erat hubungannya dengan pembentukan sikap masyarakat. Hal ini disebabkan karena konsep moral dan ajaran agama itu akan melahirkan suatu sistem kepercayaan.

Faktor-faktor yang disebutkan diatas merupakan faktor-faktor yang sangat berpengaruh terhadap faktor pembentukan sikap seseorang. Dan tidak menutup kemungkinan kalau sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang, baik yang mempunyai kecenderunagn positif maupun yang mempunyai kecenderungan  negatif. Dipengaruhi oleh faktor-faktor yang telah disebutkan.

Bedasarkan uraian tersebut tampaknya merupakan hal yang wajar apabila terdapat korelasi atau hubungan yang signifikan antara pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan dengan sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang sebesar 0,15. Di samping itu pula merupakan hal yang logis pula apabila besarnya kontribusi atau pengaruh yang diakibatkan  pemahaman tentang sanitasi lingkungan  dengan sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang hanya 22,5% dan 77,5% lagi dipengaruhi oleh faktor lainnya. Hal ini disebabkan pemahaman hanya merupakan bagian terkecil dari beberapa asfek atau faktor yang dapat mempengaruhi sifat dan sikap dari seseorang masyarakat tersebut khususnya masyarakat di Sukaregang Garut.

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

 

A.    Kesimpulan

Pada bagian akhir laporan ini, berdasarkan hasil analisis dan pembahasan serta didasarkan pada permasalahan yang diungkapkan dalam penelitian ini, dapat ditarik beberapa kesimpulan antara lain :

Pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan di daerah Sukaregang Garut mencapai nilai rata-rata 78,36. Artinya perlu ada upaya yang maksimal dari seluruh komponen masyarakat dan pemerintah setempat dalam upaya meningkatkan kepeduliannya baik dalam hal sarana dan prasarana serta pengetahuan dan pemahaman  tentang sanitasi lingkungan masyarakat tersebut.

Sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang direspon kurang positif oleh masyarakat dalam arti masyarakat menunjukan sikap yang kurang positif terhadap limbah pabrik kulit. Kondisi ini ditunjukan dengan pencapaian rata-rata sikap masyarakat sebesar 77,6 yang menunjukan sikap yang kurang baik.

Pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan dengan sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang Garut berkorelasi positif dengan harga koefesien korelasi sebesar 0,15. Hal ini  menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan dengan sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang Garut, akan tetapi hubungannya sangat rendah. Besarnya kontribusi atau pengaruh yang ditimbulkan dari pemahaman tentang sanitasi lingkungan terhadap pembentukan sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang ditunjukan dengan koefesien determinasi sebesar 22,5 %. Prosentase tersebut menunjukan bahwa 22,5 % sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang, akan ditentukan oleh pemahamannya tentang sanitasi lingkungan, sedangkan 77,5 % lagi akan ditentukan oleh faktor lain.

Dalam penelitian ini hipotesis yang dikemukakan, dapat dibuktikan yaitu terdapat hubungan yang signifikan antara pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan dengan sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang Garut.

B.     Saran

Dari kesimpulan-kesimpulan yang diambil, dikemukakan saran-saran sebagai berikut :

1.      Sanitasi lingkungan, merupakan salah satu konsep yang penting untuk dikaji  secara mendalam, karena dalam realitas kehidupan lingkungan merupakan tempat berinteraksi yang penting dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Apabila pada lingkungan ini tidak dipelihara dan tidak dipedulikan maka akan mengganggu pula terhadap aktivitasnya.

2.       Guna lebih memberikan landasan yang kuat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang Garut, sebaiknya diimbangi dengan kesadaran masyarakat, pemerintah setempat, pengelola pabrik dalam kehidupan sehari-hari.

3.       Lingkungan akan sehat bila masyarakat dan seluruh elemen yang di dalamnya ikut melestarikan dan menjaga serta memperhatikan dampak positif dan negatifnya.

4.       Dalam pembuangan limbah/sampah rumah tangga sebaiknya antara sampah organik dan non organik dipisahkan tempat pembuangannya, agar mudah didaur ulang.

 

 

 


DAFTAR PUSTAKA

 

Alkitson, Dkk. (2001). Introducing to Psycology 11 th, ed. Terjemahan oleh Dr. Widjaya Kusuma. Jakarta :Interaksara Ghalia Indonesia.

 

Alkitson, RL. (2000). Introducing to Psycology 11 th, ed. Terjemahan oleh Dr. Widjaya Kusuma. Jakarta :Interaksara Ghalia Indonesia.

Arikunto, S. (1997). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Arikunto, S.(2005). Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.

Daryanto. (1999). Evaluasi Pendidikan (Komponen MKDK). Jakarta: Rineka Cipta

Djajadiningrat S.T, dan Harsono, Amir H.(1998). Penilaian Secara  cepat sumber-sumber  pencemaran air, tanah dan udara. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Djamal. (2003). Prinsip-prinsip ekologi dan Organisasi Ekosistem Komunitas dan Lingkungan Hidup. Jakarta:Bumi Aksara

Entjang, I. (2000). Ilmu Kesehatan Masyarakat. Bandung:PT Citra Aditya Bakti

Kalligis,dkk. (1994). Pendidikan Lingkungan Hidup. Jakarta:Depdikbud.

Kurniati, A. (2005). Pemahaman Konsep Gizi dan Kesehatan dengan Sikap terhadap Revisi Vitamin A. Skripsi sarjana: STKIP Garut

Nazir, M. (2003). Metode Penelitian:Jakarta.

Nasution, N. (1996). Evaluasi Proses dan Hasil Belajar IPA. Jakarta: Universitas Terbuka. Depdikbud

Prihantoro, L. (1989). Manusia dan lingkungan Hidup.Bandung:FP MIPA IKIP

Purwanto, N. (2000). Psikologi Pendidikan Remaja. Bandung:Rosda Karya.

Soemarwoto, O. (2001). EkologiLingkungan Hidup dan Pembangunan. Jakarta:Djambatan

Suratmo, G F. (2002). Analisis Mengenai Dampak Lingkungan.Yogyakarta: UGM

Soeriaatmadja. (1976). Ilmu Lingkungan.Bandung:ITB

Sudjana. (2005). Metoda Statistika.Bandung:Tarsito

Sudjana. (1992). Metoda Statistika.Bandung:Tarsito

Sulistiawati, E. (2004). Hubungan pemahaman siswa tentang mata dengan gangguannya terhadap sikap pemeliharaan mata. Skripsi sarjana: STKIP Garut


Lampiran 1

 

INSTRUMEN PENELITIAN

 

NAMA : ………………………

 

Berilah tanda silang (X) pada hurup a, b, c atau d, menurut pengetahuan anda masing-masing !

 

1.      Jika ada sampah yang membusuk maka harus:

a. ditimbun
b. dibiarkan
c. dibuang ke selokan
d. dibuang ke kebun

2.      Jika ada sampah di dalam rumah berceceran apa yang di lakukan:

a. di biarkan
b. di lihat saja
c. di sapu dan di buang ke tempat sampah
d. di sapu saja

3.      Untuk menjaga lingkungan agar tetap sejuk, di lakukan dengan cara:

a. merawat tumbuh-tumbuhan di sekitar rumah
b. menyiramnya kalau ingat
c.membiarkan tanaman tumbuh dihalaman
d. menyemprotnya dengan pupuk setiap hari

4.      Agar tidak terjadi banjir selokan yang penuh sampah harus:

a. didiamkan
b. dijadikan tempat sampah
c. dialirkan ke sungai-sungai
d. dibersihkan

5.      Tanaman yang layu agar tetap subur untuk menyejukan suatu lingkungan sebaiknya:

a. di biarkan
b. di buang
c. di siram teratur
d. di panaskan

6.      Untuk menghindari bajir, rumah-rumah yang dekat dengan sungai maka harus:

a. pindah rumah
b. membiarkannya
c. menjaga sungai agar tetap bersih dari sampah
d. Sungai ditimbun dijadikan jalan

7.      Agar lingkungan rumah tetap baik dan sehat maka:

a. rumah harus terbuat dari tembok
b. rumah mempunyai halaman luas dan banyak tumbuhan
c. di sekelilingnya diberi pagar
d. harus masuk sinar matahari, mempunyai ventilasi udara yang cukup serta tersedia pembuangan sampah

8.      Bila daerah pemukiman terletak di dalam kota dekat sebuah aliran sungai atau selokan/kolam, maka pembuangan limbah tinja sebaiknya ke:

a. sungai
b. selokan
c. kolam
d. septic tank

9.      Melestarikan lingkungan dapat dilakukan dengan cara:

a. di buat toko-toko agar ramai
b. membuat tempat-tempat hiburan
c. menanam tumbuh-tumbuhan sebagai apotik hidup
d. menimbun sungai-sungai kecil sebagai jalan

10.  Tanaman paku-pakuan membantu menjernihkan air sehingga untuk menjaga perairan yang sehat maka sebaiknya harus;

a. dilestarikan agar tetap tumbuh
b. diganti dengan eceng gondok
c. dibuang saja
d. didganti dengan berbagai macam tumbuhan

11.  Agar lingkungan perairan tidak tercemar maka harus dilakukan:

a. penyemprotan gas pembasmi nyamuk 3 kali sehari
b. penanaman pohon-pohon besar
c. pembersihan sungai-sungai dan selokan dari sampah
d. pembuangan sampah ke sungai-sungai

12.  Salah satu upaya untuk menanggulangi pencemaran lingkungan adalah:

a. daur ulang sampah
b. pembuatan bak sampah
c. lokalisasi pembuangan sampah
d. menimbun sampah

13.  Agar lingkungan tidak gersang maka dilakuakan:

a. penyiraman halaman sebanyak-banyaknya
b. membuat selokan-selokan
c. pembuatan kolam
d. penghijauan  yang kontinyu (terus-menerus)

14.  Bila kita makan permen bungkusnya sebaiknya:

a. disimpan di saku
b. dibuang dimana saja
c. dibuang ke tempat sampah
d. disimpan di atas meja

15.  Jika aliran selokan sungai tersumbat sebaiknya:

a. dibiarkan
b. dibersihkan dan diperbaiki
c. dilaporkan ke RT
d. dilihat saja

16.   Agar tubuh tetap sehat dan terhindar dari penyakit maka lingkungan harus:

a. terpelihara dari berbagai polusi dan sampah
b. dibiarkan
c. dirubah menjadi taman kota
d. dijaga oleh petugas keamanan

17.  Tempat penampungan akhir pembuangan sampah dalam suatu lingkungan agar tidak mendatangkan bau busuk sebaiknya:

a. dibiarkan
b. dilihat saja
c. dilaporkan ke RW
d. dibakar atau ditimbun

18.  Agar permasalahan lingkungan dapat ditanggulangi secara tuntas dan terpadu, maka diperlukan:

a. pengetahuan jenis-jenis lingkungan
b. pengetahuan jenis-jenis lingkungan tumbuhan
c. pengetahuan jenis-jenis lingkungan hewan
d. pengetahuan jenis-jenis lingkungan manusia

19.  Tumpukan sampah organik di depan rumah sebaiknya:

a. dialirkan ke sungai
b. dibakar
c. dibuat kompos
d. dibiarkan

20.  Perbuatan yang kita lakukan untuk menjaga kesehatan lingkungan adalah:

a. menyimpan tanaman dalam pot di dalam rumah agar terasa sejuk
b. memelihara burung didalam rumah untuk kenyamanan dan hiburan
c. membuat kolam ikan untuk tempat penampungan limbah tinja sebagai makanan ikan
d. membuat rumah yang memiliki ventilasi yang baik

21.  Tindakan manusia yang dapat menurunkan daya dukung dan mutu lingkungan adalah:

a. budidaya ikan air tawar
b.membuka hutan untuk perladangan
c. melakukan penghijauan
d. membuat tanaman kota

22.  Untuk menjaga kesehatan lingkungan sebaiknya:

a. memelihara lingkungan darat
b. memelihara lingkungan air
c. memelihara lingkungan udara
d. memelihara lingkungan air, darat dan laut

23.  Agar udara lingkungan kualitasnya bagus maka perlu dilakukan:

a. mencabut tanaman –tanaman kecil diganti dengan tanaman besar
b. memperbayak tumbuhan hijau
c. pembuatan kolam-kolam agar lebih segar
d. memberantas tanaman-tanaman yang sudah ada agar lebih luas udara yang masuk

24.  Bila rumah kita berada di dekat lingkungan pabrik dan sumber air yang dipakai adalah galian sumur, maka agar sumur tidak terserapi air limbah pabrik, maka sumur sebaiknya:

a. bagian dalam sumur ditembok agar air mudah meresap kedalam sumur
b. bagian dalam dinding sumur sebaiknya ditembok bata tanpa harus diplester
c. bagian dalam dinding dibeton sedalam 1 meter
d. bagian dalam dinding dibeton sedalam 3 meter

25.  Agar tanaman tetap subur, maka bila menanam tumbuhan sebaiknya pada tanah:

a. berhumus
b. berpasir
c. berkapur
d. liat

26.  Agar tidak terjadi banjir pada saat hujan, selokan yang kecil sebaiknya:

a. diperluas
b. ditutup dengan tembok
c. biarkan saja
d. dijadikan tempat pembuangan

27.  Agar sampah di dalam rumah tidak menumpuk sebaiknya:

a. dibakar setiap hari
b. dibakar seminggu sekali
c. dibaker 1 bulan sekali
d. dibuang ke kebun

28.  Sampah-sampah berupa kaleng dan kaca sebaiknya:

a. ditimbun
b. dibakar
c. dibuang ke sungai
d. dikumpulkan di gudang

29.  Agar lingkungan rumah tidak kotor maka harus dibersihkan:

a. 2 kali sehari
b. setiap pagi dan sore
c. dibiarkan saja
d. menyuruh pembantu

30.  bila halaman rumah becek pada saat hujan maka harus:

a. dilapisi tanah
b. dilapisi abu
c. dilapisi bambu
d. dilapisi batu krikil/batu bata

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran 2

 

 

PERNYATAAN SIKAP

 

1.      Bacalah tiap pernyataan dengan cermat

2.      Tandai dengan ceklis (√) pada salah satu kolom jawaban yang dianggap apaling sesuai dengan sikap terhadap pernyatannya.

3.      Apabila terjadi kesalahan dalam memberikan tanda, coretlah (X) jawaban yang salah kemudian ceklislah jawaban yang benarnya.

4.      Keterangan  alternatif persepsi :

Keterangan :

SS              : Sangat Setuju

S                : Setuju

TT              : Tidak Tahu

TS              : Tidak Setuju

STS           : Sangat Tidak Setuju

NAMA : ……………………….

No Soal SS S TT TS STS
1 Lingkungan diciptakan Tuhan untuk kesejahteraan manusia, oleh karena itu pengelola pabrik diperbolehkan membuang limbah pabrik di alam ini  dengan sebebas-bebasnya.  
2 Pemanfaatan lingkungan yang sebesar-besarnya tanpa memperhatikan kelestariannya merupakan hal yang biasa, asalkan untuk kepentingan umum.
3 Aturan dan etika yang mengatur pengelolaan limbah pabrik mutlak diperlukan keberadaannya.

4

Hubungan terhadap manusia juga harus disertai dengan hubungan baik terhadap lingkungannya, terutama penghindaran lingkungan dari limbah pabrik kulit.5

Kebersihan lingkungan dari limbah pabrik merupakan tugas semua warga setempat.6

Dalam Al-Qur’an, selain mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, manusia dengan manusia juga mengatur manusia dengan lingkungan, terutama menjaga kebersihan lingkungan  dari limbah pabrik.7

Kegiatan kerja bakti membersihkan lingkungan dari limbah pabrik tidak perlu dilakukan  secara rutin, jika lingkungan sudah tercemar baru dilakukan kerja bakti. 

8

Sebenarnya memelihara kebersihan lingkungan  dari limbah pabrik cukup rumah masing-masing saja supaya adil.

9

Memelihara lingkungan dari limbah pabrik tidak perlu dilakukan karena hanya menambah pekerjaan saja.

10

Untuk mewujudkan kebersihan  lingkungan dari limbah pabrik diperlukan kerja sama semua pihak yang terkait.

11

Kegiatan kerja bakti membersihkan lingkungan dapat menambah keakraban antar anggota masyarakat.

12

Salah satu manfaat memelihara lingkungan dari limbah, udara di lingkungan menjadi sejuk, bersih dan segar.

13

Fenomena kerusakan lingkungan yang terjadi pada saat ini, lebih banyak disebabkan  oleh akibat perilaku manusia yang membuang limbah pabrik tanpa menghiraukan lingkungan.14

Membuang limbah pabrik dengan proses pengolahan limbah terlebih dahulu merupakan salah satu etika tentang kebersihan lingkungan.15

Sebenarnya memelihara  lingkungan dari limbah pabrik cukup di rumah masing-masing saja supaya adil16

Membuang limbah pabrik ke sungai tidak masalah, karena yang lainnyapun melakukannya.

17

Lingkungan rumah yang kita huni tidak perlu bersih, yang penting sehat dan terhindar dari limbah pabrik.

18

Limbah pabrik boleh dialirkan ke mana saja asalkan mudah membuangnya.

19

Saluran pembuangan di depan rumah kita harus bersih dari limbah pabrik tak peduli di depan rumah yang lain.20

Membersihkan saluran air (selokan/sungai) dari limbah pabrik tidak perlu oleh kita  karena sudah ada petugas kebersihan.

21

Setiap ruang pabrik harus memiliki fasilitas untuk mengalirkan limbah.22

Untuk memotivasi masyarakat supaya terbiasa memelihara kebersihan lingkungan dari limbah pabrik sebaiknya diadakan lomba kebersihan antar warga masyarakat 5 tahun sekali.23

Sewaktu-waktu perlu adanya kegiatan  yang melibatkan  semua warga masyarakat untuk membersihkan lingkungan dari limbah pabrik.24

Jika lingkungan bersih dari limbah maka terasa nyaman.25

Lingkungan rumah bersih dari limbah pabrik maka beraktifitas sehari-haripun terasa bosan26

Kerja bakti membersihkan lingkungan merupakan kegiatan yang melelahkan.27

limbah pabrik merupakan kewajiban kelurahan bukan kewajiban kita.

28

dipabrik harus disediakan tempat proses pengolahan limbah.

29

Setiap saluran air di lingkungan harus bersih dari limbah pabrik agar tidak menimbulkan  penyakit dan tak tercemar.30

Membersihkan lingkungan masyarakat dari limbah pabrik harus dimasukan ke dalam program kerja Bupati.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Lampiran 4

 

Wawancara untuk Direktur Pabrik Kulit :

 

No Pertanyaan Jawaban
1 Sudah berapa lama bapak menjadi pengelola pabrik kulit ? Sudah 25 tahun atau sejak dari  Tahun 1982
2 Latar belakang / sejarah berdirinya pabrik kulit ? Usaha ini merupakan warisan dari orang tua sejak tahun 1950 dan sepeninggal ayah saya usaha ini dilanjutkan oleh saya pada tahun 1982 setelah memutuskan keluar dari PNS sampai sekarang.
3 Apakah ada kendala yang menghambat dalam proses pengolahan produksi limbah pabrik kulit ini? Sejauh ini tidak ada karena untuk limbah sendiri ada proses pengolahannya.
4 Ada berapa jumlah pegawai di pabrik kulit ini ? Saat ini saya mempekerjakan 28 orang pegawai.
5 bahan baku apa saja yang diproses? Kulit sapi dan obat-obatan kimia misalnya Crom
6 Teknologi yang digunakan berapa jumlahnya dan berupa teknologi apa saja ? Yang jelas untuk mesin cukup kumplit, Perbadingannya sekitar 80% dari jumlah pegawai
7 Selama menjadi pimpinan pabrik kulit, apakah bapak pernah mengikuti pelatihan-pelatihan tentang proses pengolahan bahan produksi secara benar ? Tidak pernah
8 Bagaimana kondisi pabrik kulit sukaregang sekarang dilihat dari fasilitas ? Cukup kumplit
9 Pernahkah masyarakat mengeluh dengan adanya pabrik kulit ini ? Kalau di daerah ini tidak ada sedangkan untuk daerah hilir saya pernah mendengar ada
10 Apakah pembuangan limbah kulit tersebut melalui proses pengolahan terlebih dahulu ? Ya
11 Kemana tempat pembuangannya ? Ke sungai yag mengalir di daerah cigulampes, ciwalen dan Ahmad Yani
12 Menurut bapak bagaimana pemahaman masyarakat terhadap adanya pabrik kulit ini ? Mereka mengaharapakan supaya pabrik kulit ini bisa bertahan untuk membantu permasalahan ekonomi yang dihadapi oleh mereka.
13 Menurut bapak dampak apa yang terjadi apabila terkena racun limbah pabrik kulit ini ? Selama ini belum ada korban maupun penyakit yang diakibatakn oleh limbah dari pabrik ini.

 

Tabel 1.8 Data Hasil Penelitian

No Nama Hasil Tes Pemahaman Hasil  Skala sikap
1 Barkin Husen 80 72
2 Tedi N 93 79
3 Agus Akbar 90 77
4 Elly Mariani 93 63
5 Drajat Siswoyo 90 69
6 Endung 80 86
7 Lucky 73 87
8 Arif Saepudin 96 73
9 Welly Purnomo 86 92
10 Muhammad Toha 86 78
11 Dudi Arifin 73 80
12 Ade K 63 78
13 Yana 53 80
14 Omas Zarkasih 66 78
15 Eben 53 89
16 Ius 70 75
17 Yanio 70 77
18 Muslim 43 77
19 Odin 63 86
20 Nandang 66 77
21 Yayan 66 76
22 Upar 93 88
23 Emuh 86 81
24 Undang Saripudin 50 93
25 Yana Supriatna 100 90
26 Andi MR 90 85
27 Asep Nuryana 100 83
28 Muman 90 87
29 Arisandy 96 76
30 Dudung MI 93 79

Statistik

 

TES PEMAHAMAN SKALA SIKAP
N                  validMissing

Mean

Standar Deviasi

Variance

Range

Minimum

Maximum

Sum

300

78,36

15,92

253,4464

57

43

100

139,3849

300

77,6

4,71

22,1841

30

63

93

323,2541

 

Lampiran 5

 

UJI PRASYARAT

 

Uji Normalitas Data Tes Pemahaman Masyarakat tentang Sanitasi Lingkungan.

1.      Menentukan rentang

r  = data terbesar – data terkecil

r = 100 – 43

r = 57

2.      Menentukan banyak kelas interval

k = 1 + 3,3 log n

k = 1 + 3,3 log 30

k = 5,77  6

3.      Menentukan Panjang kelas interval

P =

P =

P = 9,5 10

4.      Menentukan  dan S

= 78,36

S = 15,92

 

 

5.      Frekuensi observasi dan ekspektasi serta nilai Chi kuadrat hitung

Tabel 1.9

Frekuensi observasi dan ekspektasi serta nilai Chi kuadrat hitung

 

Nilai Oi Batas kelas (bk) Z L Ei 2
43-52

53-62

63-72

73-82

83-92

93-100

2

2

7

4

7

8

42,5-52,5

52,5-62,5

62,5-72,5

72,5-82,5

82,5-92,5

92,5-100,5

-2,25&-1,62

-1,62-&-0,09

-0,09&-0,36

-0,36&0,26

0,26&0,88

0,88&1,39

0,0404

0,1084

0,1984

0,300

0,208

0,1064

1,212

3,253

5,952

9

6,24

6,126

0,54

0,48

0,18

2,77

0,09

0,57

Jumlah 4,63

6.      Menentukan nilai 2

2 =

2 =

2 = 0,54 + 0,48 + 0,18 + 2,77 + 0,09 + 0,57

2 = 4,63

db = k – 3

db = 6 – 3

db = 3

2 tabel (0,05) (3) = 7,81

2  hitung = 4,63

2 hitung < 2 tabel ( 4,63 < 7,81 ), kesimpulan data tes pemahaman berdistribusi  normal

Lampiran 6

Uji Normalitas Data Sikap Masyarakat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang Garut

1.      Menentukan rentang

r  = data terbesar – data terkecil

r = 93 – 63

r = 30

2.      Menentukan banyak kelas interval

k = 1 + 3,3 log n

k = 1 + 3,3 log 30

k = 5,77  6

3.      Menentukan Panjang kelas interval

P =

P =

P = 5

4.      Menentukan  dan S

= 77,6

S = 4,71

5.      Frekuensi observasi dan ekspektasi serta nilai Chi kuadrat hitung

 

 

 

 

 

 

Tabel 1.10

Frekuensi observasi dan ekspektasi serta nilai Chi kuadrat hitung

 

Nilai Oi Batas kelas (bk) Z L Ei 2
63-67

68-72

73-77

78-82

83-87

88-93

1

2

8

8

6

5

62,5-67,5

67,5-72,5

72,5-77,5

77,5-82,5

82,5-87,5

87,5-93,5

-3,20&-2,14

-2,14&-1,08

-1,08&-0,02

-0,02&1,04

1,04&2,10

2,10&3,37

0,015

0,4298

0,046

0,34

0,1687

0,31

0,465

3,717

10,557

10,284

5,061

9,525

0,61

0,79

0,61

0,50

0,17

2,14

Jumlah 4,82

6.      Menentukan nilai 2

2 =

2 =

2 = 0,61 + 0,79 + 0,61 + 0,50 + 0,17 + 2,14

2 = 4,82

db = k – 3

db = 6 – 3

db = 3

2 tabel (0,05) (3) = 7,81

2  hitung = 4,81

2 hitung < 2 tabel ( 4,81 < 7,81 ), kesimpulan data angket berdistribusi  normal.

Tabel 1.11

Persiapan Perhitungan Persamaan Regresi dan Linieritas Regresi

 

 

No X Y X2 Y2 XY
1 80 72 6400 5184 5760
2 93 79 8649 6241 7347
3 90 77 8100 5929 6930
4 93 63 8649 3969 5859
5 90 69 8100 4761 6210
6 80 86 6400 7396 6880
7 73 87 5329 7569 6351
8 96 73 9216 5329 7008
9 86 92 7396 8464 7912
10 86 78 7396 6084 6708
11 73 80 5329 6400 5840
12 63 78 3969 6084 4914
13 53 80 2809 7921 4240
14 66 78 4356 6084 5148
15 53 89 2809 7921 4717
16 70 75 4900 5625 5250
17 70 77 4900 5929 5390
18 43 77 1849 5929 3311
19 63 86 3969 7396 5418
20 66 77 4356 5929 5082
21 66 76 4356 5776 5016
22 93 88 8649 7744 8184
23 86 81 7396 6561 6966
24 50 93 2500 8649 4650
25 100 90 10000 8100 9000
26 90 85 8100 7225 7650
27 100 83 10000 6889 8300
28 90 87 8100 7569 7830
29 96 76 9216 5776 7296
30 93 79 8649 6241 7347
2351 2411 383694 196674 188514
N        = 30 X2   =383694
X = 2351 Y = 196674
Y = 2411 XY = 188514

 

 

Lampiran 7

Menentukan Persamaan dan Linieritas Regresi

1.      Persamaan Regresi

Rumus persamaan regresi adalah :

y =  a + bx

Dengan : a =

b =

Diketahui:

N        = 30 X2   = 383694
X = 2351 Y = 196674
Y = 2411 XY = 188514

a =

=

=

a  = 80,53

b =

=

=

b = 0,002

y = 80,53 + 0,002

2.      Linieritas Regresi

Langkah dalam pengujian linieritas regresi antara lain :

a.       Menghitung jumlah kuadrat regresi a

JKa =

JKa =

JKa  = 193764,03

b.      Menghitung jumlah kuadrat residu b terhadap a

Jk b/a = b

Jk b/a = 0,002

= 0,003

= 0,003

= 0,003 ( – 428,03)

Jk b/a = 0,85

c.       Menghitung Jumlah kuadrat residu

Jkr = – Jka-Jkb/a

Jkr = 196674 – 193763,18

Jkr = 2910,82

d.      Menghitung Koefesian Korelasi

a. rxy =

rxy =

rxy =

rxy =

rxy =

rxy =

rxy = 0,15

e.       Menentukan derajat kebebasan

Dk = 30 – 1

Dk = 29

f.       Menentukan nilai t dari daftar dengan   = 0,001

r (0,01:29) = 2,576

g.      Pengujian

ternyata : rhitung = 0,15 rtabel = 2,756

sehingga rhitung < r tabel  maka kedua variabel memiliki hubungan yang signifikan.

Tabel 1.12

Menghitung Jumlah kuadrat kekeliruan

X Y Y2 ()2
43 72 5184        
50 79 6241        
53 77 5929        
  63 3969 9898 19796 9947 49
63 69 4761        
  86 7396 12157 24314 12218 60
66 87 7569        
  73 5329        
  92 8464 21362 64086 21443 71
70 78 6084 12484 24968 12491 7
  80 6400        
73 78 6084        
  80 7921 14005 28010 14742 737
80 78 6084        
  89 7921 14005 28010 14013 737
86 75 5625        
  77 5929        
  77 5929 17483 34966 17493 10,4
90 86 7396        
  77 5929        
  76 5776        
  88 7744 26845 107380 26912 67,2
93 81 6561        
  93 8649        
  90 8100        
  85 7225 30535 122140 30611 76
96 83 6889        
  87 7569 14458 28916 14466 8,6
100 76 5776        
  79 6241 12017 24034 12024 7
  2446,2

 

JKkk =

JKkk = 5,94 + 7,29 + 14 + 7 + 737 + 737 + 10,4 + 67,2 + 76 + 8,6 + 7

JKkk = 2446,2

Menghitung jumlah kuadrat ketidakcocokan

JKtc = JKr - JKkk

JKtc = 2910,82 – 2446,2

JKtc = 464,62

Menghitung derajat kebebasan kekeliruan

dbkk = n-k

dbkk = 30-12

dbkk = 18

Menghitung derajat kebebasan ketidakcocokan

dbtc = k – 2

dbtc = 12 – 2

dbtc = 10

Menghitung rata-rata kuadrat kekeliruan

RKkk  = JKkk : dbkk

RKkk  = 2446,2 : 18

RKkk  = 135,9

Menghitung rata-rata ketidakcocokan

RKtc  = JKtc : dbtc

RKtc  =  464,62 : 8

RKtc  =  58,07

Menghitung nilai F ketidakcocokan

Ftc     =  RKtc : RKkk

Ftc     =  58,07 : 135,9

Ftc     =  0,42

Menghitung nilai F dari daftar

F 0,05 (dbtc/dbkk)

F 0,05 (10/18) = 2,41

Pemeriksaan linieritas regresi ternyata Ftc  atau Fhitung < F 0,05 (10/18) Ftabel  (0,42 < 2,41), maka regresi tersebut linier

Lampiran 8

Uji Keberartian

1.      Menghitung nilai t

t =

=

=

=

=

t= 0,80

2.      Menentukan nilai t dari daftar

Db = n-2

Db = 30 – 2

Db = 28

t tab= 2,761

t hitung > t tabel ( 0,80<2,761), maka hubungan antara pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan dengan sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang Garut tidak memiliki keberartian.

3.      Koefesien Determinasi

Kd =  r2 x 100 %

KD = (0,05)2 x 100 %

KD = 0,0025 x 100 %

KD = 22,5 %

Nilai KD sebesar 22,5 % berarti bahwa 22,5 % sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang Garut akan ditentukan oleh tingkat pemahamannya tentang sanitasi lingkungan

RIWAYAT HIDUP

 

Penulis dilahirkan di Garut pada tanggal 09 Oktober 1985, buah cinta dari pasangan A’en R. dan Wiwin. Penulis adalah anak kedua dari empat bersaudara seibu. Penulis menyelesaikan pendidikan dasar di SDN II Leuwigoong Garut pada tahun 1997, kemudian melanjutkan pendidikan SMPN  1 Leuwigoong Garut dan selesai pada tahun 2000, selanjutnya pendidikan menengah di tempuh di SMUN 1 Leuwigoong dan selesai pada tahun 2003, kemudian pada tahun 2004 melanjutkan pendidikan tinggi di STKIP Garut Jurusan MIPA Program Studi Pendidikan Biologi.

Organisasi yang diikuti penulis selama menjadi mahasiswa adalah Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), Koperasi Mahasiswa (KOPMA), Racana Wiyata Mandala, Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) IMAPENI, LPPM. Himpunan Mahasiswa Pendidikan Biologi (HIMADIKBIO), Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan Jaringan Islam Kampus (JARIK), (2003-2007).

Penulis menyelesaikan program sarjana pada tahun akademik 2006-2007 dengan judul skripsi “Hubungan Pemahaman Masyarakat tentang Sanitasi Lingkungan dengan Sikap Masyarakat terhadap Limbah Pabrik Kulit di Sukaregang“ di bawah bimbingan H. Asep Rohayat,  M.Pd. Dan Hj. Lida Amalia M.Si.

 

 

Renungan

Meski hari terus berganti dengan segala kesulitan dan kemudahan yang ada didalamya, namun masih saja ada kesulitan hidup yang keras dan sulit untuk ditaklukan hingga hidup terasa hina dan tak menjadi indah dibuatnya. Namun tetap saja aku jalani segalanya dengan jiwa yang tenang, aku mampu menanggung kehidupan yang sulit terpikulkan. Untung saja, aku masih memiliki jiwa yang mampu bersabar hingga tujuan hidup dapat diwujudkan meski banyak orang yang tak berdaya menghadapinya.

 

“ Tak ada Do’a mereka selain ucapan : Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami, baik yang kecil maupun besar, kuatkanlah diri kami, dan berilah pertolongan kepada kami untuk mengalahkan kaum yang kafir. Allah lalu memeberikan kepada mereka  balasan di dunia dan sebaik-baik pahala akhirat (surga)”. (Q.S Al-imron ayat 147:148).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ku persembahkan karya sederhana ini untuk:

Ayahanda yang tercinta, dan Mama, Nenek, Bibi dan Aa, kakaku Aan Widayanti serta adik-adiku tersayang Wida, Wati, Ersa.dan Rizky

Terimakasih atas segala Do’a, cinta, dorongan, beserta kasih sayangnya. Juga Dosen Pembimbing 2 Jajakillah atas arahanya serta kawan-kawannku yang senantiasa memeberikan motivasi.

DAFTAR TABEL

 

 

 

Nomor

1.1      Kisi-kisi Tes Pemahaman ………………………………..

1.2      Kisi-kisi Pernyataan Sikap ………………………………

1.3      Interpretasi Nilai r ……………………………………….

1.4      Kriteria Penilaian berdasarkan Skor …………………….

1.5      Hasil Uji Normalitas Data Variabel Pemahaman Masyarakat tentang Sanitasi Lingkungan …………………

1.6      Hasil Uji Normalitas Data Variabel Sikap Masyarakat terhadap Limbah Pabrik Kulit di Sukaregang …………….

1.7      Hasil Uji Linieritas Regresi ……………………………….

1.8      Data Hasil Penelitian ………………………………………

1.9      Frekuensi Observasi dan Ekspektasi serta Nilai Chi Kuadrat Hitung Pemahaman ……………………………

1.10  Frekuensi Observasi dan Ekspektasi serta Nilai Chi Kuadrat Hitung Sikap ……………………………………..

1.11  Persiapan Perhitungan Persamaan Regresi dan Linieritas Regresi ……………………………………………………

1.12  Menghitung Jumlah Kuadrat Kekeliruan …………………Halaman

28

28

34

36

37

38

39

64

66

68

69

75

 

 

 

DAFTAR GAMBAR

 

Mesin-mesin Pengolahan Kulit

Gambar  1

Gambar  2

Gambar  3

Gambar  4

Gambar  5

Gambar  6

Gambar  7

Gambar  8

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR LAMPIRAN

 

Lampiran  1  Instrumen Penelitian Pemahaman ………………………

Lampiran  2  Instrumen Penelitian Pernyataan Sikap …………………

Lampiran  3  Hasil Uji Instrumen Pemahaman dan Angket …………..

Lampiran  4  Wawancara Untuk Direktur Pabrik Kulit ……………….

Lampiran  5  Uji Praysarat Normalitas Data Tes Pemahaman …………

Lampiran  6  Uji Prasyarat Normalitas Data Sikap ……………………

Lampiran  7  Menentukan Persamaan dan Linieritas Regresi …………

Lampiran  8  Uji Keberartian …………………………………………..

Surat Keputusan (SK) Bimbingan

Lembar Persetujuan Judul dari DBS

Surat Izin Penelitian

Surat Telah Melaksanakan Penelitian

Lembar Bimbingan SkripsiHalaman

53

58

64

65

67

71

78

 

 

 

 


ABSTRAK

 

Penelitian ini berjudul “ Hubungan Pemahaman Masyarakat tentang Sanitasi Lingkungan dengan Sikap Masyarakat terhadap Limbah Pabrik Kulit di Sukaregang Garut.

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan mendeskripsikan tentang pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan, mengetahui dan mndeskripsikan sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang, serta untuk mengetahui dan mendeskripsikan hubungan antara pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan  dengan sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang Garut. Penelitian dilakukan di RW 12 Sukaregang Garut dengan menggunakan metode penelitian yaitu metode korelasional, dengan melibatkan satu variabel terikat dan satu variabel bebas. Jumlah sampel dalam penelitian ini adalah sebanyak 30 Kepala Keluarga. Instrumen yang digunakan sebagai alat pengumpul data berbentuk tes angket pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan dan skala sikap mengenai sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang Garut. Analisis yang digunakan adalah analisis korelasional dengan menggunakan taraf kepercayaan  = 0,05. Berdasarkan hasil analisis terhadap data yang terkumpul peneliti menarik beberapa kesimpulan yaitu: Pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan  di RW 12 Sukaregang hanya mencapai 78,36, artinya cukup baik, tapi perlu ada upaya peningkatan yang maksimal lagi dari seluruh komponen warga masyarakat dan pemerintah setempat dalam upaya meningkatkan hasil pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan  masyarakat tersebut. Sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang Garut direspon kurang  positif  oleh masyarakat  dalam arti masyarakat menunjukan  sikap yang kurang baik terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang . Kondisi ini ditunjukan  dengan pencapaian rata-rata sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang sebesar 77,6. Pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan dengan sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang berkorelasi positif dengan harga koefesien korelasi  sebesar 0,15. Hal ini menunjukan adanya hubungan yang signifikan antara pemahaman masyarakat tentang sanitasi lingkungan  dengan sikap masyarakat terhadap limbah pabrik kulit di Sukaregang.

KATA PENGANTAR

 

Dengan mengucapkan puja puji serta rasa syukur kepada Sang Penguasa alam semesta Allah SWT,  sholawat serta salam terlimpah curah kepada revolusioner Islam sedunia suri tauladan sepanjang masa habibana wanabiyana Rasulullah SAW, akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi ini  yang berjudul Hubungan Pemahaman Masyarakat tentang Sanitasai Lingkungan dengan Sikap Masyarakat terhadap Limbah Pabrik Kulit di Sukaregang Garut.

Skripsi ini merupakan  suatu syarat dalam menyelesaikan jenjang sarjana pendidikan pada jurusan Pendidikan Biologi STKIP Garut. Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terimakasih yang sedalam-dalamnya atas  bantuan, bimbingan dan petunjuk serta motivasi yang telah diberikan selama penulisan skripsi ini, yaitu kepada yang terhormat:

1.      Bapak H. Imid Hamid, Drs, M, Pd., selaku ketua STKIP Garut

2.      Bapak H. Enan Darmansyah, Drs. M.Pd., selaku ketua jurusan pendidikan Matematika dan IPA (MIPA).

3.      Ibu Hj. Lida Amalia, Dra., M.Si., selaku Ketua Pogram Studi Pendidikan Biologi, sekaligus sebagai pembimbing II dalam penyusunan skripsi ini yang telah memberikan arahan dan bimbingan kepada penulis.

4.      Bapak H. Asep Rohayat, M.Pd., sebagai pembimbing I dalam penyusunan skripsi ini yang telah memberikan bimbingan dan petunjuk-petunjuk dalam penyusunan skripsi ini.

5.      Bapak/Ibu Dosen Program Studi Pendidikan Biologi yang telah memberi bekal kepada penulis selama mengikuti perkuliahan.

6.      Bapak Ir. H. Ayub Affandi, sebagai Direktur Pabrik kulit ARSYA LEATHER Sukaregang yang telah memberikan izin kepada penulis untuk mengadakan penelitian di pabrik yang dipimpinnya.

7.      Seluruh Karyawan pabrik kulit ARSYA LEATHER, terimakasih atas bantuannya dan terima kasih pula atas waktunya untuk dapat diambil fose-fosenya.

8.      Seluruh masyarakat Sukaregang, khususnya masyarakat RW 12 yang telah memberikan kontribusi dalam penyusunan skripsi ini.

9.      Ayahanda tercinta yang selalu mengisi dan memotivasi dalam nurani untuk bisa berjuang dan melewati suka duka kehidupan. Mama dan Bapak yang telah membantu, Kakak, Aan Widayanti terima kasih atas nasehat-nasehatnya serta  adik-adikku, Wida (nong), Wati (Neng), Nenek Rukiah, Bibi Ticeu + Aa Erwin serta keponakan-keponakanku Ersa Lesmana dan Rizky Purnama Maulana, serta seluruh keluarga yang telah membantu dan memotivasi, terima kasih.

10.  Dicky, Citra, Aluk terimakasih banyak atas semua yang telah diberikan, motivasi dan nasehat-nasehatnya.

11.  Kang Asep Mulyani, S.Pd, yang telah memberikan inspirasi awal dan arahannya juga motivasinya dalam penyusunan skripsi ini, hatur nuhun pizan……moga sukses proses S2 – nya. Amin.

12.  Rekan-rekan mahasiswa seorganisasi, Paskibra/ka, Pramuka : Ai Rosmawati bareng A Yaya nya, Hasan. HMI : Jay, Eva+suaminya, Asri water stone, Teh Desi, Yuni+suaminya, Noneng bareng Imron nya, mpit, mira, siti beng2, Dwi Pijat, Nepot, Ratna Dora, Uli, Novi,Robi, Teh Imas, Kak Bambang I Alamsyah A,Md, P. SE, temen2 BEM 2007, IMAPENI, LPPM, HIMADIKBIO, KOPMA Sandi, Adinda, Jaringan Islam Kampus ( JARIK) Efey, dan Mas Ridho. Nuy, Yam, Ne2ng dan semua kawan-kawan yang tak bisa disebutkan satu persatu, terimakasih yach….

13.  Bapak Mustopa, S.Pd, Bapak Abdul Ghani B,A dan keluarga, terima kasih atas bantuannya sehingga penulis dapat menyelesaikan studi ini dengan  baik

Mudah-mudahan segala amal baik yang telah mereka berikan kepada penulis dapat balasan yang setimpal dari yang Esa, Sehingga berkat semua dukungan dari berbagai pihak penulis dapat menyelesaikan program Strata I. Akhirnya penulis berharap semoga karya sederhanaku ini dapat memberikan manfaat bagi kita. Amin.

 

Garut, 22 September 2007

Penulis


PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI

 

Dengan ini penulis menyatakan bahwa skripsi dengan judul “Hubungan Pemahaman Masyarakat tentang Sanitasi Lingkungan dengan Sikap Masyarakat terhadap Limbah Pabrik Kulit di Sukaregang”, tersebut beserta seluruh isinya benar-benar karya penulis sendiri, dan penulis tidak melakukan penjiplakan atau pengutipan dengan cara-cara yang tidak sesuai dengan etika keilmuaan yang berlaku dalam masyarakat keilmuan. Atas pernyataan ini penulis siap dikenai sanksi yang dijatuhkan kepada penulis jika dikemudian hari ditemukan pelanggaran terhadap etika keilmuan dalam karya tulis ini, atau ada klaim dari pihak lain terhadap keaslian karya penulis ini.

Garut,    September 2007

Yang membuat pernyataan,

                                                                Ani Marlina

                                                                 03541078

DAFTAR ISI

 

Halaman

KATA PENGANTAR …………………………………………………

DAFTAR ISI ……………………………………………………………

DAFTAR TABEL ……………………………………………………..

DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………..

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah……………………………………..

B. Rumusan Masalah dan Pertanyaan Penelitian ……………….

C. Batasan Masalah ……………………………………………..

D. Tujuan Penelitian ……………………………………………

E. Manfaat Penelitian……………………………………………

F. Hipotesis ……………………………………………………..

BAB II TINJAUAN PEMAHAMAN MASYARAKAT TENTANG SANITASI LINGKUNGAN DENGAN SIKAP MASYARAKAT TERHADAP LIMBAH PABRIK KULIT DI SUKAREGANG GARUT

A.  Pemahaman Masyarakat tentang Sanitasi Lingkungan ……

B.  Tinjauan tentang Sikap …………………………………….

BAB III  METODE PENELITIAN

A. Definisi operasional …………………………………………

B. Metode penelitian ……………………………………………

C. Tempat dan waktu penelitian …………………………………

D. Populasi dan sampel ……………………………………….

E.  Instrumen Penelitian ………………………………………

F.  Prosedur Penelitian…………………………………………

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A.  Hasil Penelitian …………………………………………….

B.  Pembahasan ………………………………………………..

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan …………………………………………………

B.  Saran …………………………………………………………

DAFTAR PUSTAKA ………………………………………………….

LAMPIRAN – LAMPIRAN

RIWAYAT HIDUP

 

 

 

i

iv

vi

vii

 

1

3

4

4

5

6

7

21

25

25

27

27

27

31

35

40

48

49

51

 

 

HUBUNGAN PEMAHAMAN MASYARAKAT TENTANG SANITASI LINGKUNGAN DENGAN SIKAP MASYARAKAT TERHADAP LIMBAH PABRIK KULIT DI SUKAREGANG GARUT

 

 

 

ANI MARLINA

NIM. 03541078

 

 

 

 

 

Disetujui dan disahkan oleh :

 

 

 

 

Pembimbing I

 

 

 

 

 

H. Asep Rohayat, M.Pd.

Pembimbing II

 

 

 

 

 

Hj. Lida Amalia, Dra. M,Si.

 

 

 

Mengetahui

 

 

Ketua STKIP Garut

 

 

 

 

 

H. Imid Hamid, Drs., M.Pd.

Ketua Jurusan Biologi

 

 

 

 

 

Hj. Lida Amalia, Dra. M,Si.

HUBUNGAN PEMAHAMAN MASYARAKAT TENTANG SANITASI LINGKUNGAN DENGAN SIKAP MASYARAKAT TERHADAP LIMBAH PABRIK KULIT DI SUKAREGANG GARUT

 

 

 

 

SKRIPSI

 

Diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Biologi

 

 

Oleh :

 

ANI MARLINA

03541078

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI

SEKOLAH TINGGI KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN GARUT

( STKIP ) – GARUT

2007